V : Vonis
Dari awal kita menikah, kita sudah membuat komitmen dari awal tentang anak. Aku telah mengatakan padamu jika aku tidak mau cepat-cepat tapi aku tidak ingin menundanya pula. Kau sendiri juga harus mengikuti kontrak dan bisa memiliki anak setelah setahun menikah. Setahun sudah lewat, dan kita masih baik-baik saja. Selama ini kita berhubungan tanpa menggunakan pengaman, bahkan dari awal kita menikah, hanya saja untuk mengikuti syarat yang ada di kontrak kita tidak terlalu sering melakukannya. Selepas dari kontrak, barulah kita bisa bebas berhubungan.
Selain alasan kontrak, tentu saja aku ingin menikmati saat-saat berdua denganmu. Melampaui batas yang tidak boleh dilanggar selama berpacaran. Aku juga ingin menikmati semua sifatmu, sifat-sifat yang mungkin tak terlihat selama berpacaran, sifat yang mungkin saja akan berubah setelah menikah. Nyatanya, kau tidak banyak berubah, aku menjadi semakin yakin akan melanjutkan rumah tangga kita dan ingin mengandung anakmu.
Pernikahan kita sudah lebih dari setahun, bahkan nyaris 1 tahun 6 bulan dan sudah sewajarnya jika aku mulai menampakan ciri-ciri hamil dan mulai merajut mimpimu –bahkan diawal-awal pernikahan kita walaupun kemungkinannya kecil–. 3 anak laki-laki dan 1 perempuan. Pernah sekali aku memekik kegirangan karena sudah 1 bulan aku tidak menstruasi, tetapi setelah aku memeriksa, hanya ada 1 garis yang tertera. Bulan berikutnya aku malah menstruasi nyaris 2 minggu. Mungkin efek kelelahan atau setres, entahlah.
Tapi, semakin lama aku semakin khawatir pula. Umurku sudah terlalu matang dan tak bisa dihentikan begitu juga dirimu, aku takut jika aku membiarkan saja semuanya. Aku khawatir jika aku malah punya anak diumurku yang sudah tua atau malah kubiarkan hal ini hingga menopause. Aku tidak tahu siapakah yang memiliki masalah diantara kita.
"Yeobo, kenapa aku belum hamil juga ya?"kataku didepan cermin, masih memakai bathrobe dan memegangi perutku
"Mungkin belum saatnya"jawabmu enteng, kau masih bermain game di ponselmu sambil berbaring ditempat tidur
"Oppa, aku serius. Aku takut seandainya aku tak bisa hamil"kataku membalikan badan kearahmu
"Kau mau periksa?"tanyamu, aku setuju tapi disisi lain aku juga khawatir, aku takut tak bisa menerima kenyataan
Rangkaian pemeriksaan telah aku jalani, begitupun dirimu. Aku selain takut, menanti detik-detik hasil yang diberikan dokter. Aku masih saja meremas-remas ujung rok-ku dan dirimu yang menyadari hal itu menggenggam tanganku dan memandang wajahku. Memberikan setitik harapan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tak lama dokter datang dan duduk di kursinya. Membuka sebuah map berisi laporan
"Setelah menjalani pemeriksaan. Tuan Choi Seungcheol baik-baik saja, dia normal. Bahkan spermanya cukup bagus. Nyonya Y/N juga semuanya bekerja dengan baik, hanya saja. Apakah sering mengalami nyeri ketika menstruasi?"ujar dokter tersebut menjelaskan, aku menelan ludahku ketika aku dilempari dengan pertanyaan itu
"Iya, aku sering mengalaminya. Bahkan beberapa kali membuatku tak bisa bekerja"
"Dugaan sementara, mungkin alasannya karena endometriosis. Tapi, kita tidak bisa menjamin karena hal itu, karena pada beberapa kasus, wanita yang positif memiliki endometriosis juga mudah punya anak. Mungkin juga karena kebiasaan. Apaka anda sering meminum kopi?, tidur larut malam mungkin, merokok, minum alkohol terlalu banyak"
"Ya, pekerjaan saya menuntut itu. Saya sering bertemu klien dan harus mengerjakan konsep hingga larut malam. Sering meminum kopi karena saya suka dan agar tidak mengantuk. Untuk merokok dan alkohol, saya tidak konsumsi keduanya"
"Bisa jadi karena itu. Tapi, kami khawatir jika ternyata saluran telur di rahim anda terlalu sempit sehingga sedikit sulit bagi sperma untuk melewatinya. Kita butuh pemeriksaan lebih lanjut"kata dokter, perasaanku hancur berantakan, bahkan aku tidak berani untuk melihatmu
.
Aku tidak berbicara apapun setelah kita keluar dari ruangan dokter, dokter memberikan resep obat yang mungkin saja bisa meningkatkan kesuburan. Aku tak berbicara apapun walau hanya kita berdua didalam mobil. Aku memilih bungkam dan melihat kearah jendela. Kau pun sama hal-nya, tidak membicarakan apapun dan fokus ke jalan. Aku tak tahu apa yang kau rasakan saat itu. Mungkin kau hanya tidak ingin membahasnya dulu karena takut jiwaku terguncang. Mungkin juga kau sangat kecewa karena kemungkinan kau memiliki anak sesuai keinginanmu menipis.
Aku menidurkan diriku begitu sampai di rumah. Aku masih saja memunggungimu. Aku tidak tidur, hanya merenung dan nyaris menangis. Kaupun tidak merespon apapun seperti biasanya membuatku kalut. Tiba-tiba saja kau bersiap dan pergi tanpa mengatakan apapun padaku setelah menerima sebuah telepon, aku tak tahu apakah itu dari manajer atau siapa. Saat itu kau pulang hingga larut, lebih larut dari biasanya membuatku semakin khawatir.
Aku merasa frustasi, kau tiba-tiba mendiamkanku. Tak ada lagi kata semangat yang keluar dari bibirmu, tak ada lagi kata-kata penenang yang selalu berhasil membuatku lupa akan segala kecemasan. Tak ada lagi ciuman selamat tinggal. Aku bingung ingin apa. Bahkan aku tak selera makan seharian karena aku sangat takut dengan keputusanmu disaat-saat seperti ini.
Aku dapat mendengar suara mobilmu yang memasuki pekarangan, aku tak menyambutmu seperti biasanya. Aku hanya belum siap mendengarkan keputusan darimu dan sebisa mungkin aku akan selalu menghindar. Ini sudah dini hari dan kau baru pulang. Aku memilih untuk berpura-pura tidur, masih diposisi yang sama membelakangi tempat kosong yang biasa kau tempati. Tak lama aku mendengar suara pintu kamar kita yang terbuka. Kau menghela nafasmu berat kemudain segera kekamar mandi. Entahlah, apakah kau mandi atau hanya sekedar mencuci muka dan menyikat gigi.
Aku pun dapat merasakan tempat kosong yang biasa kau tempati mulai bergerak. Aku mengira kau akan langsung tidur mengingat ini sudah dini hari dan besok aku yakin kau akan pergi pagi-pagi sekali untuk jadwal yang telah ditentukan.
"Sayang, aku tahu kau belum tidur"katamu, aku hanya diam saja dan melanjutkan kepura-puraanku. Kau membelai rambutku dengan lembut
"Sayang, berhentilah berpura-pura. Ayo kita bicara"katamu sekali lagi, akhirnya akupun mengalah dan duduk menghadapmu yang sedang bersandar di dashboard
"Aku..."katamu, aku tak mau mendengarnya sehingga aku memotong kata-katamu
"Oppa kecewa denganku kan?. Aku tidak bisa hamil oppa, oppa tidak mungkin memiliki 4 anak dariku. Aku tidak bisa memberikan oppa kebahagiaan, aku bukan wanita seutuhnya"kataku dengan berlinangan airmata
"Uljima"
"Oppa pasti sudah memutuskan sesuatu. Aku mengerti, oppa boleh menikah lagi atau oppa ingin menceraikanku. Aku sudah siap"kataku, kau hanya menatapku, memandangku penuh intimidasi
"Ya, aku sudah memutuskan. Aku sudah memutuskan setelah vonis dari dokter"katamu, jantungku semakin berdegub. Rasanya sakit sekali. Apakah ini adalah akhir dari kisah cinta kita?. Apakah ini akhir dari kebahagiaanku?. Apakah aku siap cintamu dibagi untuk wanita lain?. Apakah aku siap harus melihatmu bersama wanita lain dan aku juga harus akur dengannya?.
"Aku memutuskan kalau aku tidak akan meninggalkanmu, apalagi menduakanmu. Aku tidak kecewa padamu sayang, aku tidak marah jika kau belum hamil. Itu hanya vonis sementara, dokter bilang kau sehat. Kau hanya sedikit sulit untuk hamil, bukan berarti kau tak bisa hamil"katamu
"Tidak mungkin oppa, dari dulu aku selalu mengalami nyeri saat haid. Aku suka minum kopi, pekerjaanku sangat menguras tenaga, aku sering bergadang. Dan, saluran telur... sempit. Mau sampai kapan kau menungguku untuk hamil?"kataku, kita berdebat dengan hebatnya. Aku menangis dan kau marah karena aku mengatakan kata berpisah
"Lalu bagaimana denganku?. Kata member aku Dewa Minum, aku banyak minum Alkohol dan dinyatakan sehat. Itu masih vonis sementara sayang. Aku tidak peduli, apakah kau akan hamil dalam jangka waktu cepat atau lambat, atau bahkan mungkin kau tidak bisa hamil. Aku hanya ingin bersamamu, dan aku tidak mungkin meninggalkanmu disaat kau berada di titik terlemah seperti ini"jawabmu
"Tapi aku tak bisa memberimu keturunan!"kataku frustasi
"Kau bisa!"bentakmu
"Kita hanya butuh waktu dan usaha yang lebih besar. Kalau pun tak bisa juga, aku rela mengeluarkan banyak biaya untuk program bayi tabung. Ayo kita program kehamilan. Aku percaya kau bisa hamil sayang"katamu, aku terdiam. Kau mendekatiku dan memelukku
"Maafkan aku oppa. Aku tidak menjadi istri yang kau harapkan, maaf aku terlalu banyak meminum kopi, maaf aku terlalu sering bergadang, maaf aku terlalu memikirkan pekerjaan hingga aku lelah. Maaf atas semuanya"kataku masih terisak di dadamu, kaos yang kau pakai telah basah dengan airmataku. Kau mencium ujung kepalaku
"Tidak ada yang perlu disalahkan, kau tidak bersalah. Kau juga tidak mau seperti ini. Sekarang ayo kita jalankan program, kita mulai hidup lebih sehat. Aku percaya kau akan hamil"katamu, perlahan aku percaya padamu dan aku berjanji akan menjalani hidup yang lebih sehat dan tak lupa berusaha serta mengurangi pekerjaanku agar tidak terlalu lelah.
"Sayang, aku memilihmu bukan hanya karena aku ingin memiliki keturunan. Aku memilihmu bukan karena aku butuh menikah. Apa kau sudah lupa dengan semua perjuangan yang telah kita lewati sampai ke titik ini?. Aku sudah berjanji untuk tidak meninggalkanmu, aku telah memintamu dari orangtuamu. Alasan kita menikah adalah karena aku mencintaimu dan kau mencintaiku. Aku telah memilihmu dan berjanji dihadapan Tuhan akan selalu bersyukur apapun kekurangan dan kelebihanmu meskipun saat itu aku tidak tahu jika hal ini akan terjadi. Lalu, apakah cinta akan meninggalkanmu disaat kau berada di posisi terburuk?. Apakah aku harus mengingkari janji yang telah aku buat?. Aku hanya ingin dirimu, kau berhasil melengkapiku dengan segala kekuranganmu"katamu, aku terharu sangat terharu. Meskipun terdengar menggombal dan membual tapi aku sangat yakin bahwa ada kesungguhan disana
Lagi-lagi, kau mencium bibirku disaat-saat seperti ini. Kau melumatnya dengan penuh kelembutan, menyalurkan kata semuanya akan baik lewat ciuman itu. Menenangkan jiwaku yang kacau.
