Y : Yatim

Sudah beberapa bulan setelah pertengkaran hebat kita dimalam itu, pertengkaran setelah vonis bahwa aku akan sulit memiliki anak. Setelah pemeriksaan lebih lanjut, aku dinyatakan sehat dan tidak ada penyempitan di saluran telur. Hanya saja dokter sempat memberiku obat, penambah hormon atau apa, aku tidak paham. Tentu saja aku pun mulai hidup lebih sehat, kau mulai membatasi pekerjaanku jika itu sampai lewat tengah malam, tidak membiarkanku terlalu sering meminum kopi, melarangku bergadang dan beberapa hal lainnya.

Namun, hingga saat ini belum ada tanda-tanda kehidupan di rahimku. Aku rasa kau benar, butuh sedikit waktu. Sikapmu juga tak berubah dan semakin menyayangiku sehingga membuatku sedikit demi sedikit kehilangan rasa khawatirku.

Siang itu, aku baru saja pulang dari acara amal. Acara yang menggunakan team-ku sebagai penyelenggara. Aku sedikit kelelahan dan memilih duduk di ayunan yang ada dihalaman depan dan menaikan kakiku dengan bersila. Membaca sebuah buku yang baru aku beli beberapa hari lalu. Tiba-tiba saja, aku jadi teringat dengan anak-anak kecil yang datang di acara amal tadi. Penderita kanker, keterbelakangan mental, anak dari panti asuhan dan anak yatim. Semuanya membuatku sangat tersentuh, terlebih mereka yang terbatas pada fisiknya mencoba untuk menampilkan bakat di acara itu.

Satu hal yang membuatku benar-benar tak habis pikir. Melihat seorang bayi mungil yang tidak memiliki orangtua. Ada yang memang orangtuanya meninggal, ada pula yang karena ditelantarkan. Kenapa masih ada orang-orang yang menelantarkan anaknya sedangkan masih ada orang-orang sepertiku yang mengharapkan hamil dan memiliki anak. Aku menjadi termenung, aku juga ingin memberikan sedikit kasih sayang pada anak-anak itu.

Aku mendengar suara mesin mobilmu memasuki garasi, kau sudah pulang dan segera menghampiriku, mengecup kepalaku dari belakang kemudian duduk di tempat kosong disebelahku

"Oppa sudah pulang?"

"Iya, rekaman sudah selesai. Jadi aku bisa pulang. Kau sendiri?"

"Sebenarnya acara belum selesai, tapi aku ijin agar bisa pulang duluan. Aku merasa pusing sekali, dan tadi acaranya hanya tinggal membereskan saja, penutup dan berbenah. Aku tidak mau oppa marah lagi karena aku terlalu lelah"kataku, mengingat beberapa minggu yang lalu aku terlalu lelah sehingga membatalkan program hamil

"Kenapa kau tidak tidur saja?. Kenapa malah disini dan membaca buku?"tanyamu lagi, aku menyandarkan kepalaku pada dada bidangmu, kaki panjangmu menggoyang-goyangkan sedikit ayunan ini

"Tadi saat di acara..."kataku

Aku menceritakan semuanya padamu, kaupun mendengarkan sengan senang hati. Matamu hanya tertuju padaku, seolah aku akan pergi jika kau berpaling barang hanya sedetik.

"Jadi, kau ingin sesuatu?"tanyamu setelah aku menyelesaikan ceritaku

"Aku iba oppa. Bayi-bayi mungil itu, bagaimana mungkin orangtua mereka tega membuang mereka sedangkan aku disini berusaha untuk hamil"kataku, aku tahu pasti ada sebuah alasan konyol dibalik mereka yang menelantarkan anaknya. Hamil diluar nikah misalnya.

"Apa kau ingin datang ke salah satu panti asuhan itu?"tanyamu lagi, kau selalu paham dengan maksud pemikiranku

"Aku rasa iya, aku ingin memberikan mereka semua sedikit kebahagiaan. Mainan, selimut, baju, buku dan barang-barang lainnya. Aku ingin menggendong bayi yang rapuh itu"kataku

.

.

.

Beberapa hari setelah kejadian itu, kau mengajakku ke salah satu panti asuhan yang pernah datang ke acara amal yang aku tangani. Bagasi dan kursi penumpang penuh dengan perlengkapan yang telah kita beli. Kau dan grup-mu mungkin sering dan sudah menjadi anggota tetap untuk melakukan amal-amal seperti ini. Tapi kali ini, kau melakukan amal bersamaku. Tanpa kamera, pencitraan ataupun media.

Setelah kita memasuki halaman panti asuhan itu dan menemui pengurusnya. Kita dipertemukan dengan anak-anak yang mereka rawat. Rasanya senang sekali. Anak-anak itu langsung saja menyerbu segala keperluan yang baru saja kau turunkan. Tetapi perawat disana meminta anak-anak itu untuk tertib kemudian kita dapat membagikan semuanya dengan adil.

Satu harian ini, kita berencana akan menghabiskan waktu disini. Bermain dengan anak-anak ini, mengajari mereka, makan bersama dan aktivitas lainnya. Kau tampak mudah akrab dengan anak-anak disana, kau bermain bola dengan anak laki-laki dan tampak menyayangi anak perempuan. Beberapa anak yang memiliki rambut panjang, dengan senang hati aku menguncirnya. Tak lupa aku diberi kesempatan untuk merawat bayi mungil yang mencuri perhatianku sejak hari pertama aku melihatnya. Salah seorang perawat yang senantiasa merawat bayi itu memberikan aku sebuah kesempatan untuk menggendongnya setelah selesai memandikan dan memberinya susu.

"Apakah boleh?"tanyaku memastikan

"Tentu saja, letakkan kepalanya di dada kirimu. Bayi akan merasa tenang dengan irama detak jantung" kata perawat itu, aku menggendongnya sesuai instruksi. Bayi itu terlihat cegukan karena baru saja meminum sebotol susu.

"Tepuk-tepuk punggungnya pelan agar dia bersendawa"kata perawat itu lagi, aku menepuk-nepuk punggung ringkih itu

"Namanya Choi Sena. Bayi ini baru ditemukan didepan pintu panti tepat satu hari sebelum acara amal yang kau gelar. Saat itu, bayi ini kemungkinan besar baru lahir karena tali plasenta di pusarnya masih basah. Sebelum mengajakmu kesini, suamimu memberikan sebuah nama untuknya karena bayi ini belum mempunyai nama. Memberikan marganya kepada gadis cilik ini"jelas perawat itu, perlahan bayi ini menguap, terlihat mengantuk

"Nama yang indah untuk seorang bayi yang cantik"kataku sambil mengelus kening dan rambut halus di dahinya. Kemudian mengecup pipi bayi itu, Sena merasa terusik.

"Suamimu memang tidak mengatakan akan mengadopsi bayi ini. Hanya saja, atas namamu, suamimu ingin membiayai bayi ini hingga berumur legal, atau setidaknya hingga dia memiliki orangtua baru. Kau juga boleh sering-sering kesini untuk melihatnya, aku juga tidak akan melarang jika kelak bayi ini memanggil ayah dan ibu pada kalian"kata perawat itu, kini aku dapat melihat bayi itu telah tertidur dengan damai. Aku merasa bahagia sekali melihat bayi ini tidur dalam gendonganku

"Aku sudah mendengar dari suamimu. Dokter memvonis kau sulit hamil. Kata orang, jika kau mengakui seorang anak menjadi anakmu, mungkin itu bisa memancingmu untuk hamil. Aku juga berdoa, semoga kau segera hamil dan memiliki anak"kata perawat itu sambil mengusap-usap perutku

"Choi Sena, kau boleh memanggilku eomma. Setidaknya, sampai kau menemukan orangtua baru" kataku, kemudian menciumi bayi mungil ini

Tak kusadari, kau memandangiku dari radius yang tak terlalu jauh. Tersenyum ketika melihatku menggendong bayi ini. Aku mendekatimu, memamerkan bayi yang berhasil aku tidurkan ini. Setelahnya kau memberikan pengertian padaku.

"Maaf kita tak bisa mengadopsi bayi ini. Usia pernikahan kita belum cukup matang, dan kita belum terlalu berusaha untuk memiliki anak. Tapi setidaknya kita bisa merawat anak ini"katamu, aku cukup mengerti. Bahkan ada beberapa orang yang menunggu keturunan hingga bertahun-tahun

"Ya aku mengerti. Choi Sena, nama yang bagus"kataku

Setelah hari ini, aku jadi sering mengunjungi panti asuhan ini. Setidaknya sebulan sekali jika waktu luangku tidak banyak. Kadang aku kesini sendiri, kadang kau ikut menemani. Aku sangat menikmati bayi itu perlahan tumbuh semakin besar. Sembari aku berdoa supaya program kehamilan kita segera membuahkan hasil.