BAB IV : Just The Way You Are

Suatu malam aku terbangun tengah malam, aku melirik kearah meja nakas dan melihat jam digital yang masih menunjukan pukul 2 dini hari. Aku mencoba untuk tidur kembali, tapi aku tak bisa. Mungkin inilah efek meminum kopi sebelum tidur dan tadi aku tidur siang cukup lama karena mengingat beberapa hari belakangan aku harus mengurus event yang membuatku tak bisa beristirahat dengan cukup. Akhirnya malam ini aku tidak mengantuk sama sekali.

Aku melihat tirai jendela masih terbuka. Aku beranjak dari tempat tidur dan menutup tirai jendela agar tidak ada satu cahaya bulan yang masuk dan menyirami wajahmu sehingga mengganggu tidurmu. Aku ingin kau tidur dengan nyenyak karena kau pun sama lelahnya. Aku mungkin tidak bisa tidur dengan lampu kamar mati, tapi aku merasa aman karena denganmu.

Aku bukannya takut gelap, buktinya aku masih bisa tenang meskipun listrik padam. Tapi entah kenapa aku tidak bisa tidur jika kamar gelap. Kau sebenarnya menghargaiku yang tidak bisa tidur dengan lampu mati dan tidak keberatan dengan hal itu. Tapi, aku juga ingin menghargaimu dan perlahan membiasakan diri tidur dengan lampu mati. Aku juga sengaja membuat kamar tidak terlalu gelap meskipun lampu dimatikan, salah satu cara dengan memberikan tirai yang tidak terlalu tebal. Biasanya, kau menyempatkan diri menutup tirai jika aku lupa, mungkin tadi kau terlalu lelah sehingga kau langsung tidur saja setelah mengganti piyama.

Aku memutuskan untuk mengambil laptop, buku notes serta sebuah pensil sebelum aku kembali naik ke ranjang dan bersandar di dashboard. Aku ingin mengerjakan konten selanjutnya atau paling tidak menuliskan sesuatu. Aku bukan penulis handal, hanya seorang konten kreator biasa, tapi aku suka menulis dan mengeluarkan isi kepalaku lewat sebuah tulisan. Aku membaca ulang semua konten ataupun tulisan yang telah aku ketik di laptop. Tapi aku benar-benar buntu, aku hanya memandangi layar biru dan putih khas microsoft sembari berharap ada setitik ide yang muncul dan bisa aku ketikan disana, melanjutkan konten deadline untuk besok, melanjutkan cerita yang terbengkalai ataupun konsep untuk event selanjutnya.

Aku menghela nafas frustasi, tidak ada ide sama sekali. Sepertinya aku terkena Writers Block. Aku mematikan laptop dan meletakannya di nakas kemudian memeriksa ponsel. Tidak ada yang menarik. Aku kembali menidurkan diriku, namun kali ini menghadapmu. Kau kebetulan tidur miring menghadapku, entah kenapa aku bahagia melihatmu tidur. Salah satu tanganmu berada dibawah telinga, benar-benar kebiasaan tidur seorang Choi Seungcheol yang seperti bayi. Aku terkikik sendiri jika mengingat aku sering menggodamu dengan sebutan "bayi besarku".

Memandangi wajah damaimu saat tidur berhasil menciptakan ribuan inspirasi baru. Mungkin itu adalah salah satu alasan kenapa kita bersama dan aku mengatakan kau seorang inspirasi di janji pernikahanku. Rasa buntu dikepalaku terasa pergi entah kemana. Aku akan menuliskannya, kali ini aku tidak akan membuka laptop ataupun mengambil buku notes. Kadang, kata-kata lebih mudah dibayangkan lebih dulu daripada harus menuliskannya secara langsung.

Kembali aku memandangi wajahmu tanpa berkedip dan kurasakan setiap helaan nafasmu yang teratur saat tidur. Aku menghela nafasku sebelum menyusun ribuan kata yang berserakan menghantam ceruk kosong kepalaku.

Choi Seungcheol

Sebuah nama yang berarti Menang dengan Adil. Pria ini juga memilih sebuah nama yang memiliki arti kemenangan untuk nama panggungnya. Pria ini memiliki kulit yang putih seperti porselen. Dia tidak setampan Hansol ataupun mempunyai wajah manis seperti Joshua. Dia mungkin juga tidak jangkung seperti Mingyu ataupun semampai seperti Wonwoo tapi pria ini tidak sependek Jihoon. Aku merasa sangat pas jika harus bersebelahan dengannya.

Pria ini, berumur 26 saat aku bertemu dengannya, kemudian kami bertemu lagi 2 tahun kemudian setelah dia menyelesaikan wamil diumurnya yang ke 28. Kami menikah diumurnya yang ke 32, tak terasa kini dia telah menginjak umur 33. Satu tahun pernikahan telah berlalu. Waktu berjalan dengan sangat cepat. Dan aku tak mau melewatkan sedetikpun tanpamu.

Kami mungkin berbeda 5 tahun, tapi kami tidak menemukan masalah yang pelik tentang hal itu.

.

Tangan kananku menyisir surai hitammu yang terasa sangat halus. Aku rasa kulit kepala dan rambutmu mulai membaik karena tidak ada lagi rambut rontok akibat bleaching ataupun cat rambut yang berlebihan. Aku mengelus dahimu yang tampak berkerut meskipun kau tertidur. Sepertinya ada sesuatu yang menjadi beban pikiranmu lagi.

.

Pria ini, begitu banyak hal yang dipikulnya. Bahkan jika itu bukan masalahnya, baginya masalah member adalah masalahnya. Pria ini begitu keras kepala, dia tidak akan pernah mau mencampur masalahnya di dunia entertainmen dengan dirumah hingga beberapa kali aku membujuknya untuk membagi sedikit bebannya.

Pria ini penuh ambisi dan kobaran api semangat dalam jiwanya. Dia tak menyerah meskipun harus di trainee bertahun-tahun tanpa ada kepastian debut. Terkadang, aku menerka-nerka apa yang sebenarnya ada didalam kepala pria ini. Apakah dia hanya memikirkan permasalahan orang padahal dirinya juga memiliki banyak masalah?.

Bukan, pria ini hanya sedang menjalankan tanggungjawabnya sebagai seorang kakak, sebagai seorang leader. Percaya atau tidak, pria ini sebenarnya lemah dibalik ketegaran dan kekuatannya. Sesekali, jika beban yang dipikulnya terlalu berat, dia akan memelukku, menenggelamkan kepalanya di leher, dada atau bahkan perut. Pria ini selalu memikirkan masa depan, dia pernah berkata "Aku ingin mendapatkan seorang teman hidup yang bisa menjadi sandaran hidupku dan memahamiku".

.

Aku ingat betul saat itu dia mengatakannya saat kami berjalan-jalan ke Daegu menikmati sakura yang mekar sembari bergandengan tangan. Aku tentu saja masih berusaha menjadi pasangan hidup yang sesuai dengan keinginanmu. Jemariku menelusuri garis matamu. Menyentuh setiap bulu mata panjang yang membuatku sedikit iri.

.

Pria ini memiliki eyesmile yang menarik perhatian banyak orang, ditambah lagi mata besarnya itu memiliki bulu mata yang panjang serta alis yang tebal, meninggalkan kesan Timur Tengah –Arab– disana. Bukan salahnya jika dia tersenyum, mata itu mengantar sebuah pesona yang tak bisa ditolak fans-nya terlebih diriku. Bukan salahnya jika dia selalu menatap lawan bicaranya dengan intens dan penuh intimidasi. Bukan salahnya jika setiap kali aku menatap kedua mata itu aku jadi salah tingkah. Bukan salahnya juga jika kedua mata yang kusukai itu terpejam setiap kali kami berciuman.

.

Aku tersenyum, mata itu benar-benar bisa menghipnotisku. Aku tidak pernah sanggup memandang mata itu terlalu lama. Jemariku meluncur mulus di hidungmu. Aku menggesekan pelan hidungku pada hidungmu.

.

Pria ini sangat suka wewangian, aku bahkan tak mengingat berapa banyak parfum yang sudah dikoleksinya. Pria ini juga sangat senang jika aku menyemprotkan pengharum ruangan dikamar sebelum tidur meskipun sudah ada pengharum otomatis yang tergantung. Pria ini, dengan senang hati akan menciumi setiap jengkal rambutku yang baru dirawat, ataupun akan memuji masakanku setiap kali mencium aroma masakan yang kubuat.

.

Tanganku kembali meluncur ke bibirmu, bibir yang telah ratusan kali aku cicipi. Bibir yang dengan lancangnya mengambil ciuman pertamaku tanpa seizinku.

.

Saat itu kami sedang berada di Pohang untuk menikmati waktu luang. Kami sudah hampir satu tahun mengenal dan pria ini menyatakan perasaannya dengan cara yang konyol dan sama sekali tak romantis. Aku bahkan menganggap dirinya bergurau saat itu dan dia membalasnya dengan sebuah ciuman. Betapa nekad-nya pria ini mencium seorang gadis yang bahkan belum resmi menjadi pacarnya.

Pria ini terlalu perhatian dan memperlakukanku seperti kaca yang rapuh. Pria ini selalu mengkhawatirkan diriku yang mengurus event hingga tengah malam, menyediakan sedikit waktunya untuk menjemputku jika waktu sudah sangat larut. Pria yang lebih mengutamakan keselamatanku dan mengucapkan hati-hati setiap kali kami berpisah. Pria yang sangat protektif denganku, dia tidak akan membiarkanku memakai pakaian terbuka hanya dengan alasan dia tidak bersedia orang lain melihat tubuhku.

.

Tanganku mengelus pipimu, mengusap sebuah letak dimana lesung pipi milikmu yang telah kuhapal.

.

Pria ini, memiliki lesung pipi yang sangat menawan. Bukan salahnya jika setiap kali dirinya tersenyum, kedua pipinya akan membentuk sebuah lengkungan yang berhasil meningkatkan pesonanya berkali-kali lipat dan aku tak bisa menolaknya. Rahang pria ini sangat tegas, menambah kesan maskulin pada dirinya. Belakangan, berat badan pria ini bertambah sehingga pipinya sedikit chubby dari biasanya. Dan dia mulai merecoki hal itu dan ingin melakukan diet.

Aku tak habis pikir, bagaimana mungkin tubuh yang sudah bagus dan atletis seperti ini, menurutnya masih harus menjalani diet lagi.

.

Tanganku terus mengelus pipi itu hingga ketelinganya, menyibak beberapa helai rambut kebelakang telinga yang menutupi wajah damaimu dan menghalangi pemandanganku untuk menikmati wajahmu.

.

Pria ini adalah sosok pendengar yang baik, dia bersedia mendengar semua keluh kesah para member meskipun dia sendiri mungkin sedang berada dalam masalah. Pria ini tetap akan memberikan semangat, motivasi ataupun penyelesaian dalam setiap masalah yang orang ceritakan padanya. Dia pula tak keberatan menerima komentar orang lain atas dirinya. "Dengan komentar itu, aku akan menjadi lebih baik" katanya diiringi kobaran api semangat.

Pria yang dengan senang hati mendengarkan apapun kisahku meski seberapa lelahnya dia menghadapi hari. Pria ini selalu menyediakan telinganya untuk mendengarkan keluhanku. Meskipun aku menyampaikan keluhanku dengan marah, dia akan menyelesaikannya dengan kepala dingin. Pria ini juga senang mendengarku bernyanyi, meskipun suaraku tak sebagus diva Korea.

"Bernyanyilah untukku sayang, aku suka suaramu. Kau tahu, kadang aku menemukan ide untuk membuat lagu dari senandungmu"

Aku tak paham, apakah itu celaan atau bagaimana. Tapi pria ini tampak tak pernah protes ketika aku bersenandung saat memasak atau beres-beres. Bahkan kau juga sering tertawa mendengar rap konyolku, sebuah lagu rap yang dapat membelit lidahku.

.

Aku benar-benar mengagumi sikap pendengarmu itu, kau benar-benar sosok yang aku butuhkan. Tanganku kembali turun menyusuri lehermu. Sebuah kenangan yang terekam dengan baik diotakku berputar kembali.

.

Saat itu, hubungan kami belum diketahui media dan baru berjalan 1 tahun. Kakak laki-laki Seungcheol memutuskan untuk menikah dan kami datang tanpa khawatir akan ketahuan karena pernikahan yang digelar juga sangat tertutup dan privasi. Ketika resepsi, ada sebuah waktu dimana diadakan dansa, tentu saja setelah pengantin selesai berdansa. Tiba-tiba saja kau mengulurkan tangan kananmu dan mengajakku berdansa.

"Aku tidak bisa berdansa"kataku berusaha menolaknya secara halus

"Tapi kau biasa menari, kau adalah fans, aku sering melihatmu menarikan tarian idol Korea. Aku juga tidak pernah berdansa sebelumnya"jawabnya dengan senyuman, aku memutar bola mataku

"Tapi itu beda. Aku tidak biasa menggerakan tubuhku sesuai irama"kataku, kau malah menarik pinggangku kemudian menjawab

"Kau kira aku bisa?"dirinya menjawab dengan cengiran dan membawaku ke lantai dansa

"Oppa, aku akan menginjak kakimu"

"Tidak apa-apa"kata pria itu kemudian meletakan tangan kananku ke lehernya

"Aku akan tersandung dan membuat kita jatuh kelantai"

"Bukan masalah"

Sedetik kemudian pria ini berhasil membungkamku dengan dibawanya aku mengikuti alunan lagu. Dia bahkan memberikanku instruksi kemana aku harus melangkah, ini adalah dansa pertama kami. Pria ini benar-benar keras kepala, tak peduli seberapa banyak aku menginjak kakinya. Kami mungkin bukan pasangan dansa yang menarik banyak perhatian. Tapi ada sebuah hal tersirat yang sebenarnya dia ajarkan padaku. Mencoba dan pantang menyerah. Menghilangkan segala rasa takut untuk mencoba.

Setelahnya, aku banyak mencoba hal baru. Menawarkan diri menjadi konten kreator karena aku suka menulis, menawarkan design yang aku buat, menjadi leader dalam sebuah event, atau bahkan mencoba menjadi MC dalam sebuah event. Tentu saja dengan dukungannya. Aku jadi lebih berani dan percaya diri dalam mencoba segala hal.

.

Tanganku bergerilya turun hingga ke dadamu. Kau memakai piyama kesukaanmu. Aku membelikannya saat ulang tahunmu. Kau masih terlihat tampan meskipun dalam balutan baju tidur dan tanpa make-up. Tak heran banyak sekali gadis yang menjadi fans-mu. Aku juga merapatkan selimut hingga ke bahumu, selimut itu turun hingga kepinggang dan aku tahu kalau kau benci dingin.

.

Dada ini, tempat dimana aku harus bersandar jika aku merasa beban yang kupikul terlalu berat. Dada yang selalu pria ini sediakan padaku ketika waktunya tidur. Dada bidang yang selalu aku jadikan tempat untuk menangis. Pria ini diciptakan dengan dada kokoh yang bersedia melindungiku dari apapun.

Pria ini, menyimpan banyak hal yang sama sekali tak aku pahami. Beberapa diantaranya, dia mengakuinya sendiri dengan gestur maupun verbal. Pria ini bermaksud mengajakku untuk tinggal bersamanya setelah wisuda, mempersuntingku menjadi istrinya. Hanya saja aku tidak memahami maksudnya. Aku bahkan tak paham jika dia mengajakku berkencan. Pria ini mungkin tak pernah mengatakannya secara gamblang, tapi jika mengikuti saja apa yang telah disiapkannya, maka aku akan mengerti apa maksud sebenarnya.

Pria ini memiliki kebesaran hati yang luar biasa. Pria ini benar-benar rela berkorban untukku. Dia benci dingin, rhinitisnya akan kambuh jika di udara dingin. Tapi dia sering merelakan coat miliknya untukku agar aku terhindar dari dingin dan membiarkan dirinya tertusuk angin dingin hanya agar aku tetap hangat. Pria ini juga rela pakaiannya basah hanya demi melindungiku dari air hujan.

Pria ini kehilangan kewarasannya dan nekad berlari ke rumah sakit demi menerobos kemacetan hanya untuk melihatku di UGD yang sebenarnya tidak terluka sama sekali. Pria ini mungkin tidak pernah menggambarkan seberapa besar dia mencintaiku, dia juga tidak sesering itu mengatakan 'aku mencintaimu', dan aku tidak akan menanyakan hal itu karena dari sikapnya saja aku sudah bisa menilai.

Pria ini beberapa kali membuat uring-uringan. Dia mengatakan 'aku senang jika kau menemaniku di studio'. Kemudian dia melanjutkan 'tapi hatiku panas jika kau terlalu dekat dengan Joshua'. Kau tak mengatakan kau cemburu, tapi aku sudah paham. Karena memang begitulah pria, dia akan gengsi mengatakan dirinya cemburu

"Apakah oppa cemburu?"

"Tidak, siapa yang aku cemburui?"tanya pria itu dengan segelintir ekspresi tak bisa dijelaskan. Kau sendiri juga tidak yakin dengan jawabanmu. Kau mungkin hanya mengatakan 'aku tidak suka kau dekat dengan Joshua', tapi aku menyimpulkan kau cemburu.

.

Kau benci jika aku terlalu lama berbicara dengan Joshua atau terlalu menempel dengan Joshua ketika di dorm. Kau juga benci jika aku berbicara terlalu lama ditelpon dengan rekan kerja priaku. Kau juga tidak suka jika aku masih membalas pesan dan melihat akun sosial media mantan. Kau juga akan marah jika aku menelpon ataupun chat dengan sahabat laki-laki semasa kuliahku dulu.

Aku tertawa mengingat hal itu, tak menyangka tawa itu sedikit mengusik tidurmu. Kau bergerak sedikit dan membuatku cepat-cepat membungkam mulutku. Kemudian aku mendengar helaan nafas panjang yang teratur sebelum akhirnya kau nyenyak kembali.

"Maaf aku mengusik tidurmu"bisikku

Setelah itu, aku meraih tanganmu. Memandangi cincin nikah yang kau gunakan dijari manismu. Kemudian menciumi jemarimu sebelum akhirnya aku letakan dalam dekapanku.

.

Tangan ini melakukan banyak hal selama aku bersamanya. Urat-urat disana telah membuktikan betapa pekerja kerasnya pria ini. Dirinya tak pernah membolos seharipun dalam masa trainee-nya. Tangan itu mesti mencatat setiap pelajaran yang diterangkan oleh guru ketika dirinya di sekolah, kemudian tangan itu masih harus meracik kopi setiap kali dia bekerja di Cafe saat sebelum debut. Tangan itu masih harus tetap bekerja saat berada di studio, menari-nari diatas keyboard ataupun tuts pembuat lagu. Dan tetap bekerja menulis lirik meskipun dia sudah pulang dirumah dan saatnya istirahat.

Tangan yang harus menyenangkan hati fans hanya dengan memberikan tanda tangan maupun memegang tangan fans saat fansign. Menyalami setiap fans ketika konser dan masih harus tetap bekerja keras dengan memegang mic karena dengan itu fans bisa bahagia. 'Aku bahagia melihat fans tersenyum', itu adalah kata-kata yang benar-benar tulus untuk fans.

Namun...

Tangan itu tak melupakan fungsinya ketika bersamaku. Tangan itu senantiasa menggenggam tanganku ketika berjalan beriringan, jemari itu terasa pas dengan jemariku, mengisi kekosongan diantara sela-sela jari ini seolah tangan ini memang diciptakan untukku.

Tangan kokoh yang selalu sigap menangkap tubuhku yang limbung ataupun terhuyung ketika aku berjalan ataupun memakai hak tinggi.

Tangan itu memeluk tubuh ini dengan penuh kasih sayang ketika aku sedang menangis ataupun ketakutan. Tangan ini juga memelukku tatkala kami bertemu lagi setelah berpisah beberapa hari. Tangan ini juga rela menghangatkanku dengan pelukan hangatnya ketika aku kedinginan.

Tangan itu merangkulku bagaikan teman lama yang tak bersua.

Tangan yang bersedia memasakanku makanan dikala aku sakit ataupun ketika aku memintanya memasakan sesuatu untukku.

Tangan yang bersedia menggantikanku mengerjakan pekerjaan rumah dikala aku sakit dan nyeri haid.

Tangan yang akan senang hati memijatku ketika aku lelah ataupun mengobatiku dikala aku terluka.

Tangan itu mengajariku berdansa.

Tangan itu bersedia memayungiku dikala kami harus kehujanan saat diluar.

Tangan yang bersedia merentangkan coat yang dipakainya ketika hujan dan kami tidak membawa payung.

Tangan itu akan menghapus sisa makanan di bibirku ketika aku makan dengan berantakan.

Tangan kekar itu akan mengangkat tubuhku ke kamar setiap kali aku tertidur di sofa karena aku menunggumu pulang kerumah.

Tangan itu akan menyelimutiku setiap kali pria ini melihat aku tertidur tanpa selimut ataupun selimut yang kupakai turun hingga ke pinggang.

Tangan yang senang membelai rambutku dan membantuku mengurus rambut panjang ini dengan baik.

Tangan itu menyodorkan sebuket bunga baby breath di hari wisudaku, menyodorkan sebuah fortune cookie yang berisi cincin lamaran.

Tangan itu menghapus air mataku setiap kali aku menangis.

Dan...

Tangan itu yang sekali lagi harus mengapus airmata haru dipipiku di hari pernikahan kami kemudian membimbingku berjalan.

Sejauh yang kuingat, kenangan bersamamu adalah hal yang terindah. Dan aku belum bisa menemukan kebahagiaan lain yang dapat menggantikan dirimu, dan aku juga tidak berharap demikian. "Jangan berhenti (mencintaiku), aku tidak akan mengizinkanmu" itulah yang sering kau katakan padaku. Kata-kata itu seperti telah mengklaim bahwa aku ini adalah milikmu.

Tak jarang kita akan jatuh kedalam jurang kemarahan, kesalahpahaman, keraguan, kekecewaan, ketakutan, kesakitan, kesedihan. Namun setiap kali hal itu terjadi, kau akan mengulurkan tanganmu dan berkata "Ayo kita berjalan lagi". Dan hidupku tidak akan berhenti di satu titik. Bersamamu, aku akan melewati berbagai hal baru dan menyenangkan. Mereka akan berjalan seiring berjalannya waktu.

Dan kau tahu?, aku selalu merasa kau adalah novel paling bagus dimataku. Mencintaimu membuatku ingin segera melewatkan beberapa halaman hingga aku bisa sampai di bagian terbaik novel itu.

Tetapi...

Rasanya tak perlu.

Karena semua halaman yang kubaca terlalu menarik untuk dilewatkan barang satu katapun.

Akankah kisah ini berakhir?

Aku bertanya ada diriku sendiri. Membaca kembali setiap tulisan yang telah aku buat dan memastikan tak ada satupun yang tertinggal dari dirimu.

"Tidak" gumamku, aku menutup mataku karena rasa lelah dan bahagia yang bercampur mendera tubuhku. Kini aku mulai merasa sedikit mengantuk. Kulingkarkan tanganmu ke sekitar tubuhku dan kehangatan yang familiar langsung menyambutku. Aku menikmati wangi yang menguar dari tubuhmu, sebuah wangi yang telah menjadi candu tersendiri untukku. Kau bergerak sedikit dalam tidurmu, kemudian mendengkur pelan seraya mengeratkan pelukan ditanganmu.

Kisah ini tidak akan berakhir. Aku tidak ingin kisah ini berakhir. Kisah ini akan selalu berlanjut. Tak pernah berakhir.

.

.

To Be Continue...

.

.

Aku cuma mau bilang, kalau reader ada menemukan kesamaan pada FF lain di Part ini. Itu memang benar, jujur aku terinspirasi dari sebuah fanfiction di .com. Saat itu cast-nya Suho. Keseluruhan ff ini terinspirasi dari ff itu, tapi hanya bagian ini yang bener-bener mirip sama ff itu. Sedangkan bagian lain itu murni hasil pemikiran aku sendiri. Bagian ini juga enggak aku copas semuanya dari ff itu, aku perbaiki lagi dengan kata-kata aku sendiri alias REMAKE.

Meskipun begitu, aku mohon tetap hargai karya aku. Jangan lupa follow dan komen yaa^^

Oh iya, untuk umur. Author pake umur Korea ya.