BAB VI : Why I Love You?
Mungkin banyak orang yang bertanya-tanya kenapa aku bisa mencintaimu. Kenapa aku memilihmu sebagai idola dan kemudian menjadi istrimu sebagai bonus. Kau mungkin tidak setinggi Mingyu ataupun setampan Hansol, tidak semanis Joshua, tidak seimut Jihoon ataupun Soonyoung, suaramu mungkin tidak sebagus Seokmin. Suaramu mungkin tidak seberat Wonwoo, kau juga tidak sekonyol Seungkwan dan tidak stylish seperti Minghao . Kau mungkin tidak semenarik Jun ataupun sejenius Jeonghan dan kau juga tidak sejago Chan dalam menari.
Tapi itu bukan jadi alasan untukku berhenti menyukaimu, meskipun kau tidak sesempurna itu tapi aku masih memiliki milyaran alasan kenapa aku bisa mencintaimu.
Aku suka rambut halusmu, beberapa kali aku khawatir dengan kondisi rambutmu yang memburuk karena terlalu sering diwarnai dan diberikan efek bleaching.
Aku suka mata besarmu, dengan mata itu banyak orang-orang yang mengira aku menikahi turunan Arab –bagi yang tidak mengenal Seventeen–.
Aku kagum dengan telingamu yang selalu bersedia mendengarkan keluh kesah orang lain, terlebih diriku. Aku suka melihat telinga ini kosong tanpa piercing.
Aku suka lekukan lesung pipimu, aku juga punya satu di pipi kiriku.
Aku suka dengan setiap hembusan nafas yang keluar dari hidungmu, aku sering menikmati suara nafasmu yang teratur ketika kau sedang tidur.
Aku suka setiap ciuman yang kau berikan dari bibirmu.
Aku juga suka dengan senyumanmu, itu bisa melelehkan hati ribuan fans setiap kali kau tersenyum. Aku juga terpana setiap kali melihat senyumanmu.
Aku senang mendengar tawamu, karena kau seseorang yang sering berpikir dan stress, aku senang melihatmu tertawa. Terlebih ketika aku melemparkan lelucon padamu.
Kau memang tampan jika memakai make-up, tapi aku jauh lebih menyukai wajahmu yang polos tanpa make-up. Kau percaya?, dengan memakai make-up kau terlihat seperti orang Korea tulen –kadang seperti Barat–, tapi jika kau tanpa make-up, kau lebih terlihat seperti turunan Arab atau Turki.
Aku suka punggung kokohmu yang selalu bersedia menggendongku ketika kita lelah berolahraga ataupun saat aku terlalu mabuk atau bahkan terlalu lelah.
Aku suka bahumu, yang selalu bersedia menjadi sandaranku ketika aku terlalu lelah menghadapi hidup dan tempat paling nyaman untukku menangis.
Aku suka bersandar pada dadamu, tidurku akan sangat nyenyak jika aku berada disana. Aku juga suka mendengarkan irama detak jantungmu.
Deg deg deg
Aku bahkan menyukai irama detak jantungmu, dan selalu terngiang-ngiang di telingaku.
Aku suka dengan tanganmu yang selalu sigap melindungiku. Menggandeng tanganku ketika sedang berjalan seolah memberitahu kepada seluruh dunia bahwa aku adalah milikmu dan kau selalu siap untuk melindungiku kapanpun dan dimanapun.
Aku juga suka menjadikan paha kokohmu sebagai bantal ketika kita sedang menonton televisi.
Aku suka dengan aroma tubuhmu, dan itu akan selalu menjadi candu untukku. Lebih candu daripada ekstasi.
Aku suka dengan masakanmu, meskipun tak seenak masakan koki terkenal maupun bintang lima. Tapi, aku suka dengan makanan yang diciptakan dari tanganmu.
Aku suka sifatmu yang selalu ada kejutan. Aku bukan memujimu yang selalu memberiku hadiah, tapi kau selalu tak terduga. Aku tidak akan pernah tahu apa yang akan kau lakukan. Kau bisa tiba-tiba seperti bayi, kadang seperti anak kecil yang sedikit nakal dan tak bisa diam, kadang kau seperti masih remaja berumur belasan, dan kadang kau malah sangat dewasa. Dan aku selalu menantikan kejutan-kejutan yang ada pada setiap sikap dan sifatmu.
Aku menyukai apapun yang ada pada dirimu, apapun yang telah Tuhan ciptakan untukmu. Walaupun kau tak sempurna, tapi aku tetap mengagumimu dan menerima segala ketidaksempurnaanmu.
Sejujurnya, aku tak memiliki alasan pasti kenapa aku bisa mencintaimu. Rasa itu mengalir begitu saja setelah aku berusaha membuatnya mati. Nyatanya, dia masih hidup sampai sekarang dan semakin besar dan kini aku tidak akan membunuhnya. Aku bahagia karena rasa itu ada, aku bersyukur dulu rasa itu tidak mati setelah percobaanku untuk membunuhnya berulang-ulang, meskipun aku menyadari bahwa rasa ini dulu sempat tersembunyi, tertutupi oleh cinta-cinta konyol yang datang sebelum takdir mengantarkanku padamu.
Ya, aku akui. Aku juga pernah mencintai orang lain sebelum bertemu dirimu, sayangnya kisah itu selalu sama. Cinta bertepuk sebelah tangan dan akhirnya dirimu lagi yang mengobatinya. Mungkinkah ini yang dinamakan takdir?. Aku tak pernah cocok dengan orang-orang yang sempat aku cintai ataupun yang "katanya" mencintaiku. Semuanya hanya terasa seperti ilusi hingga aku benar-benar bertemu denganmu.
Terima kasih telah hadir di hidupku, Choi Seungcheol.
.
.
TBC
.
.
Kalau Caratdeul, khususnya yang ngebucinin , apa alasan kalian suka sama Coups?.
Jangan lupa follow dan komen yaa^^
