BAB VII : I Remember

Aku bukannya ingin mengungkit kesalahanmu. Hanya saja ku ingin orang-orang tahu bahwa kita juga memiliki masa-masa sulit. Bukan melulu diliputi kisah romantis yang selama ini kita punya. Awalnya aku tidak ingin mengingat dan tidak berniat menuliskan bab ini. Karena aku merasa ini adalah pertengkaran terhebat selama kita menikah.

Kau adalah artis terkenal dan juga public figure, apapun yang kau lakukan tentu saja akan menjadi sorotan media masa. Bahkan tanpa mengetahui apa alasanmu melakukannya, media kan menyebarkannya dengan cepat dan menggunakan perspektif serta imajinasi mereka sendiri, memancing tangan jahil netizen untuk berkomentar pada sebuah hal yang belum tentu dilakukan. Dating misalnya, terlibat skandal, narkoba dan sebagainya.

Sejauh yang aku kenal, kau hampir tidak pernah terlibat skandal sedikitpun. Kau benar-benar bagus dalam menutupi hal privasimu dan sebisa mungkin kau tidak terlibat dalam kegiatan yang menghasilan skandal dan kelak akan menghancurkan karirmu. Tapi saat itu, aku tak pernah habis pikir bagaimana mungkin skandal itu bisa terjadi padamu.

Bukan obat-obatan terlarang, bukan pula karena menabrak orang karena mabuk, apalagi bisnis prostitusi. Jika pun skandalmu itu, mungkin aku bisa memaafkanmu walau itu sulit. Skandal itu telah mempermainkan ikatan pernikahan kita, mencoreng janji pernikahan yang telah kau ucapkan didepan banyak orang. Wajahmu ada di seluruh media, dan agensimu sedang menyelidiki apakah itu kau atau bukan.

Aku bahkan tak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaanku, sehingga aku meminta ijin untuk pulang lebih awal. Aku tak bisa membendung airmataku. Foto yang tersebar itu menggores luka dihatiku setiap kali aku melihatnya. Aku sangat yakin itu adalah dirimu. Kau suamiku, dan aku tentu mengenalinya!. Aku juga yakin sekali itu bukan editan, bekerja sebagai konten kreator setidaknya membuatku terbiasa melihat foto editan atau bukan.

Dikatakan, kau selingkuh, melakukan pelecehan dan kekerasan. Opsi terakhir aku tidak percaya. Selama kita menikah, aku belum pernah mendapatkan bentakan darimu. Selama kita menikah, kau tidak pernah memukulku, aku tidak percaya kau melakukan kekerasan terhadap perempuan. Ditambah lagi aku sangat mengetahui kau dulu selalu melindungi perempuan yang di bully di SMA. Tetapi pelecehan dan perselingkuhan?. Ya Tuhan, aku tidak bisa menjamin. Ditambah lagi diawal pernikahan ketika bajumu wangi parfum wanita yang kau bilang itu adalah komposer baru. Kini aku tak percaya lagi!.

Bisa saja kau sudah bersengkongkol dengan Hansol dan Jihoon untuk menyembunyikan kebusukanmu. Tidak ada yang tahu. Aku tidak bisa bertemu denganmu, hatiku semakin sakit setiap kali melihat tatapan matamu. Mungkin aku akan pergi ke Daegu untuk mengadukan ini pada orangtua Seungcheol. Aku menuliskan surat untuknya dan menonaktifkan ponselku hingga perasaanku membaik.

Aku langsung disambut dengan pelukan hangat dari ibu Seungcheol begitu sampai dirumahnya, agaknya mereka telah mengetahui apa yang terjadi. Pelukan itu mengalahkanku, aku menumpahkan airmata yang sejak lama aku bendung. Aku menangis sejadi-jadinya, bahkan Seungmin oppa membantuku menenangkan diri. Setelah aku tenang, orangtua Seungcheol berbicara padaku. Terutama ayahmu, yang selama ini sangat dekat denganmu.

"Abeoji tidak tahu harus mengatakan apa tentang Seungcheol. Aku ini ayahnya, dan aku merasa gagal mendidiknya. Abeoji tidak pernah mencontohkan hal-hal seperti ini padanya"ujar ayah Seungcheol kemudian menghela nafas. Tiba-tiba Seungmin oppa datang menginterupsi

"Maaf mengganggu. Aku rasa Seungcheol ingin berbicara padamu Y/N-ah. Apa kau mematikan ponselmu?" tanya Seungmin oppa sembari menyodorkan ponselnya yang berdering dan tertera nama Seungcheolie disana

"Aku tidak mau berbicara dengannya oppa. Jangan katakan jika aku disini"jawabku, kemudian Seungmin oppa menjauh dan meninggalkan kami bertiga.

"Abeoji, untuk kekerasan. Aku rasa itu tidak benar, aku juga tidak bisa percaya 100% terhadap media. Selama kami pacaran bahkan hingga menikah. Sekalipun Seungcheol belum pernah memukulku, jangankan memukul, membentak saja dia tidak pernah. Tapi, perselingkuhan?. Aku tidak bisa abeoji" kataku, kepalaku kembali pusing mengingatnya.

"Eommoni paham bagaimana rasanya Y/N-ah. Tetapi polisi dan agensi masih menyelidiki. Tak bisakah kau memberikan Seungcheol kesempatan?. Biarkan Seungcheol menjelaskan semuanya"ucap ibu Seungcheol

"Chagiya, aku mohon jangan memaksanya"ucap ayah Seungcheol berusaha memberikan pengertian terhadap ibu Seungcheol

"Maaf jika abeoji membuatmu tersinggung. Sejujurnya, kami sudah tahu jika dokter memberikan vonis sementara bahwa kau sedikit sulit untuk hamil. Tetapi percayalah, Seungcheol bukan laki-laki yang akan meninggalkanmu hanya karena hal itu. Dia sendiri yang mengatakannya"ujar ayah Seungcheol

Sayangnya apapun yang dikatakan, entah kenapa hatiku terasa sekeras batu. Aku tidak percaya, aku bukan tidak percaya orangtua Seungcheol. Aku tidak percaya dengan apapun yang dikatakan Seungcheol ke orangtuanya. Terkadang mulut dan hati tidak bisa bersatu untuk mengatakan apa yang dirasakan. Bahkan Seungmin oppa juga berusaha memberitahuku tentang Seungcheol setelah aku selesai dengan orangtuanya. Namun kali ini hatiku digerogoti rasa egois.

Malam itu aku menginap dirumahmu, keesokannya. Pagi-pagi sekali, aku pamit. Aku bilang bahwa aku akan pulang dan membicarakan ini baik-baik padamu. Tetapi, aku berbohong, aku takut kau kesini dan menemukanku. Aku pulang ke negaraku, tetapi tidak kerumah orangtuaku. Aku yakin berita ini tidak akan sampai ketelinga mereka. Aku hanya butuh sendiri, aku butuh berpikir untuk memutuskan apa yang selanjutnya akan aku lakukan. Bahkan aku memakai penyamaran agar tidak ada media yang mengetahui diriku.

Aku pergi ke Jogjakarta, menetap di tempat yang kata orang-orang bisa membuat tenang. Hampir 2 minggu disana dan pada akhirnya jejakku tercium olehmu, padahal aku menyewa penginapan murah. Lebih sialnya lagi, orangtuaku sudah mengetahui semuanya karena kau sempat pulang kerumahku dulu untuk mencariku. Aku dapat melihat dirimu bukan seperti Seungcheol yang kukenal, kau lebih kurus dan pakaianmu sangat acak-acakan. Kantung matamu sangat tebal dan jangan lupakan rambut tipis disekitar dagu dan atas bibirmu, aku rasa kau sudah tidak mencukurnya lagi.

"Aku mohon, pulanglah bersamaku"katamu saat itu

"Tidak"jawabku tegas

"Apa kau lebih percaya dengan media daripada suamimu?. Aku akui, aku lah yang ada di foto itu!. Foto itu asli" kata-katamu berhasil membuat hatiku lebih hancur dari sebelumnya

"Tapi tidakkah kau percaya bahwa ceritanya bukan seperti itu?. Aku di jebak sayang"katamu sembali menggamit tanganku yang bebas

"Hentikan!. Jangan panggil aku sayang" kataku sambil menarik tanganku yang belum sempat kau sentuh. Kau paham diriku, jika aku sudah marah, kecewa, sakit hati, aku akan jadi orang yang sangat keras kepala dan sulit dibujuk.

"Y/N-ah. Polisi sudah memeriksaku, memeriksa perempuan itu juga dan mereka menyelidiki kasus ini juga. Bahkan agensi ikut menyelidikinya, aku belum dinyatakan bersalah. Berikan aku kesempatan. Jika aku memang bersalah dalam kasus ini. Aku pasti melakukan yang kau mau"katamu

"Jika kasus ini benar, aku ingin kau melepasku. Kembalikan aku seperti kau mengambilku dulu" jawabku memberikan penawaran

"Sayang..."

"Et et"potongku untuk menghentikanmu memanggilku dengan kata sayang.

"Y/N, aku tidak mau berpisah"ucapmu akhirnya

"Sudah aku katakan Choi Seungcheol, jika kau ingin menikah lagi atau kau tidak bisa menerimaku yang sulit hamil ini. Aku perbolehkan, tapi jangan dibelakangku!"kataku. Kau terlihat frustasi. Kau paham betul, jika sekali saja janji ataupun kepercayaanku dikhianati. Akan sulit bagiku memberikan kepercayaan lagi. Kau mengusak wajahmu.

"Baiklah, baik. Jika kasus ini benar, aku akan melepaskanmu. Tapi untuk sekarang, aku ingin kau pulang bersamaku. Separuh jiwaku hilang ketika melihatmu tak ada dirumah"katamu. Tetapi untuk kali ini, rayuanmu itu sama sekali tidak mempan untukku.

Akhirnya aku pulang bersamamu, tetapi tidak ada satupun kata berarti yang keluar dari bibirku. Aku terlalu malas berbicara, bahkan jika dipikir-pikir. Aku tidak ingin ikut pulang denganmu. Begitu sampai dirumah, aku tidak masuk kekamar yang biasanya kita tempati. Aku tidur disalah satu kamar kosong dan bahkan letaknya berjauhan dari kamar kita.

"Aku tidak mau tidur bersamamu, yang penting aku sudah kembali kan?"kataku, kau tidak bisa memaksaku kali ini

Sejujurnya, aku juga merasa kehilangan ketika tidak ada siapa-siapa disebelahku setiap kali aku membuka mata. Tetapi, mengingkari janji paling suci adalah hal yang tidak bisa dimaafkan. Di malam ketiga, aku merasa sangat bosan berada di rumah, ditambah lagi kau sudah pergi pagi-pagi sekali dan mungkin akan pulang sangat larut untuk menyelesaikan penyelidikan. Aku memutuskan untuk mencari udara segar di Sungai Han.

Aku tak tahu, apakah ini sebuah kebetulan atau memang aku belum di takdirkan untuk berpisah denganmu. Aku bertemu dengan Jihoon, dia duduk disebelahku dan mengajakku berbicara. Jihoon pun sama halnya, dia melepas penat disini.

"Aku tidak tahu bagaimana hubungan rumah tangga kalian selama ini. Tapi aku hanya ingin memberikan beberapa penyataan tentang Seungcheol. Aku sahabatnya, kami di trainee dalam waktu yang lama dan sekarang kami berada di grup yang sama selama bertahun-tahun. Kami saling kenal dari kami masih SMA dan sekarang dia sudah berumah tangga. Kami mengenal dari kami berumur belasan dan kini dia sudah berkepala 3. Kami juga bertemu setiap hari, jadi aku rasa sudah cukup bagiku untuk memberikan bukti padamu"ucap Jihoon sebagai pembuka

"Y/N-ah, selama aku mengenalnya. Aku belum pernah sekalipun melihat Seungcheol menjalin hubungan khusus dengan perempuan, aku kaget saat dia tiba-tiba membawamu ke media dan menyatakan akan menikah. Jujur, aku meragukan keputusannya, maaf jika kau tersinggung tetapi begitulah yang aku rasakan. Tetapi setelahnya, aku yakin bahwa Seungcheol memilihmu karena dia sudah memikirkan semuanya matang-matang. Selama ini, dia hanya ingin berteman dengan rookie ataupun senior. Seungcheol juga bukanlah laki-laki yang gampang memakai kekerasan. Sekarang aku tanya padamu, selama kalian berpacaran dulu. Apakah dia pernah melakukan pelecehan terhadapmu?"tanya Jihoon, memori di otakku kembali berputar

"Tidak, hanya sekedar mencium dan memegang tangan. Itu juga dilakukannya dengan seijinku" jawabku sekenanya

"Apakah dia pernah memukul?. Sejauh yang aku ingat, Seungcheol sangat mengistimewakan perempuan, dia tidak akan mau memukul perempuan. Bahkan dia menolong korban bullying di sekolahnya dulu"

"Jangankan memukul, membentak saja tidak pernah oppa. Dan untuk pemberitaan itu, aku tidak percaya pada media"jawabku lagi, kini pikiranku mulai terbuka

"Sejauh aku mengenal Seungcheol. Dia bukan pria yang dengan mudah membangun komitmen jika dia tidak bisa menjaganya. Dia juga bukan pria yang dengan gampang mengumbar janji jika dia tak mampu menepatinya. Dia adalah tipe pria yang setia. Beberapa bulan sebelum akhirnya dia mengungkapkan hubungan kalian ke publik. Aku sering menangkap dirinya sedang berpikir, melamun. Dia pasti sudah memikirkan matang-matang untuk memutuskan akan membawa kemana hubungan kalian ini. Sekarang aku tanya padamu, apakah kau pernah memergoki Seungcheol selingkuh dimasa pacaran dulu?"

Pertanyaan itu membuatku mau tak mau harus kembali mengingat-ingat lagi. Apa saja yang telah kita lalui. Kau memang tidak pernah melirik perempuan manapun. Sesibuk apapun dirimu, kau akan menghubungiku dan bahkan diwaktu-waktu tertentu datang menemuiku.

"Tidak, dia tidak pernah selingkuh. Tapi siapa yang tahu oppa?. Bisa saja dia punya simpanan dibelakangku dengan trainee atau bahkan dengan member girlgroup yang jauh lebih cantik dariku?" jawabku memberikan kemungkinan yang realistis kepada Jihoon

"Kau belum mengenal Seungcheol Y/N-ah. Beberapa kali, Seungcheol mendapatkan rumor bahwa dia dekat dengan member girlgroup ini, trainee itu, aktris ini. Kau tahu apa yang dilakukannya?. Dia membantah rumor-rumor itu, sesekali dia hanya diam tak menanggapi. Hingga akhirnya rumor-rumor itu tidak ada yang terbukti satupun hingga Seungcheol mengungkapkan hubungan kalian ke publik" ujar Jihoon

"Tidak ada yang tahu oppa. Dia bisa menyangkal, tapi tidak ada yang tahu kalau ternyata itu semua benar"kataku membantah

"Aku yang tahu. Seungcheol bahkan beberapa kali frustasi dengan rumor-rumor itu. Dia tampak takut dan aku tak tahu alasannya, kini aku yakin dia takut rumor itu menyakiti perasaanmu. Seungcheol bukan orang yang gegabah, dia tidak akan mungkin membuat sesuatu hal yang merugikan dirinya. Dia sangat berhati-hati dalam melangkah"jawab Jihoon

Aku tidak punya lagi bantahan, kepalaku jadi pusing. Sahabat tentu akan sangat mengenal siapa dirimu. Tapi untuk saat ini aku mengalami krisis kepercayaan. Aku tidak bisa mempercayai siapapun. Semua yang dikatakan Jihoon ada benarnya. Semuanya akan terlihat sejak berpacaran, bahkan seharusnya diawal menikah. Tapi ini?, tidak ada sikapmu yang berubah meski sedikit.

"Satu lagi. Apakah sikap Seungcheol belakangan ini berubah?. Menjadi tidak perhatian misalnya"tanya Jihoon. Pertahananku runtuh, sebuah kenyataan yang tidak aku sadari selama ini, dibutakan oleh amarah.

"Tidak. Seungcheol tidak berubah. Dia tetap Seungcheol yang aku kenal"kataku akhirnya

"Ketahuilah bahwa, jika pria selingkuh. Kemungkinan besar sikapnya akan berubah"ucap Jihoon

"Oppa apakah kau mengetahui sesuatu?"tanyaku, aku merasa Jihoon mengetahui sebuah kebenaran

"Iya, aku tahu satu hal sebelum hari dimana skandal ini tersebar. Tapi aku tidak mau menceritakannya Y/N. Tanyakan lah pada Seungcheol, kalian harus bicara"ucap Jihoon menutup penjelasannya

"Baiklah, aku harus kembali. Ini sudah melewati waktu yang aku janjikan dengan Baekho hyung"ujar Jihoon kemudian meninggalkanku

"Satu hal lagi. Seungcheol tak pernah memintaku untuk membelanya dihadapanmu. Aku hanya tidak mau kalian berpisah. Hanya kau lah perempuan yang menjadi semesta untuk Seungcheol. Jika kau butuh lebih banyak orang untuk menjadi saksi, ada 11 member lagi yang sudah sangat mengenal suamimu dan bersedia menjadi pembela dihadapanmu" ujar Jihoon sebelum akhirnya benar-benar pergi

Pikiranku semakin kalut. Keinginan untuk berpisah tetap ada, tetapi pikiran jernihku telah dibuka seutuhnya dengan Jihoon. Aku tidak tahu harus bagaimana. Hingga aku memutuskan untuk pulang karena ini sudah terlalu larut. Kau langsung memelukku begitu aku membuka pintu rumah.

"Aku kira kau pergi lagi"katamu, aku tak membalasmu. Tapi perlahan aku melepaskan pelukanmu dan beralih ke kamar. Kau mengikutiku

"Kau mungkin tidak akan percaya denganku lagi. Tetapi 3 hari lagi, semua kebenaran akan terungkap. Aku tidak akan mengatakan padamu bahwa aku benar, tetapi aku juga tidak akan mengatakan kalau aku salah. Biarkan kau mendengarkan semuanya dari pihak kepolisian" katamu sebelum akhirnya pergi dari kamar ini.

Saat ini kau bahkan sudah menyerah untuk membujukku agar mau bicara padamu. Aku menangis. Apa itu artinya?. Seungcheol bahkan tidak mengetahui hasilnya. Apakah ini akhir dari dongeng yang bahagia?. Aku belum siap, meskipun bibirku mengatakan ingin berpisah, tetapi hatiku masih ingin bersamamu. Aku belum rela jika harus melepaskanmu, tetapi hati ini juga terlalu sakit jika aku memilih bertahan.

Beberapa hari ini, kita memang tinggal satu atap. Tetapi seperti orang asing yang tidak mengenal. Tidak, akulah yang berbuat demikian. Hatiku terlalu sakit untuk menerimamu kembali menjadi suamiku. Sedangkan dirimu, tetap Seungcheol yang sama, mengkhawatirkan diriku karena setiap hari kau harus pergi pagi dan pulang larut malam demi memenuhi panggilan polisi, agensi bahkan pengacara. Padahal, seharusnya kaulah yan patut di khawatirkan, penampilanmu luar biasa kacau. Kau juga selalu menyisihkan waktumu untuk membuatkanku sarapan sebelum pergi.

Aku tidak tahu, aku tidak bisa memutuskan. Apakah aku harus memaafkanmu atau aku harus meninggalkanmu. Banyak sekali yang tidak menyukai hubungan kita, dan aku rasa ini adalah titik tertinggi dari level uji coba selama ini. Malam ini, aku pergi ke Apartemen. Menginap disana hingga berita pernyataan keluar. Aku ingin sendiri memikirkan semuanya, memikirkan perkataan Jihoon, perkataan Seungmin oppa dan bahkan perkataan orangtuamu.

Aku hanya ingin mengingat kembali janji pra-nikah kita agar aku bisa mengambil keputusan. Aku pergi ke Apartemenmu, tanpa membawa apapun. Hanya membawa uang secukupnya karena kita meninggalkan cukup banyak pakaian di Apartemen. Aku juga meninggalkanmu surat agar kau tidak perlu seperti orang gila karena mencariku.

Pagi hari aku di Apartemenmu, aku mendengar telepon masuk. Aku tidak mengangkatnya sehingga yang muncul hanya pesan suara. Sudah kuduga, itu pasti kau karena aku tidak membawa ponsel maupun dompet.

"Chagiya eum maksudku Y/N-ah, aku tahu kau ada disana. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu. Jika semua tuduhan yang di lemparkan padaku salah, hari itu juga aku akan menjemputmu. Tapi jika benar, aku menyerahkan semuanya padamu. Aku berkata seperti ini bukan karena aku tidak mencintaimu lagi, hanya saja aku sangat mengetahui dirimu. Kau tidak bisa memaafkan penghianatan. Aku melanggar sumpah nikahku dan perjanjian pra-nikah kita, itulah yang ada di pikiranmu. Tapi tidak seperti itu, aku tidak melanggar sumpahku sama sekali. Sebelum aku mengakhiri telepon ini, aku hanya ingin mengatakan kalau, memang benar akulah yang ada di foto itu. Tapi, semua tudingan yang diberikan tidak sepenuhnya benar. Aku pasti akan menceritakannya jika kau mau mendengarkan. Baiklah, aku sudahi telepon ini, percuma aku memberitahukanmu semuanya jika kepercayaanmu terhadapku tidak ada. Y/N-ah, apapun yang kau lakukan padaku, meskipun kau tidak mengacuhkanku, aku masih mencintaimu"

PIP

Janji pra-nikah. Iya, kita pernah menentukan komitmen sebelum pernikahan dilanjutkan. Salah satu yang paling aku tekankan adalah tentang penghianatan. Aku pernah mengatakan padamu, aku tidak mau di poligami. Aku tidak bisa memaafkan perselingkuhan, dan sejauh yang aku kenal, kau adalah laki-laki yang setia. Aku benar-benar syok ketika mendapatkan berita ini. 3 hari aku lewati dengan dihantui rasa gelisah dan bimbang. Bahkan tidurku pun tidak nyenyak dan sering terbangun berkali-kali di tengah malam. Aku sangat merindukanmu, aku kehilangan sosokmu yang selalu ada disampingku setiap kali aku membuka mata, tapi disisi lain aku sangat kecewa, aku sangat membencimu. Bahkan aku tidak mau menempati kamar yang dulu kita gunakan agar meminimalisir rasa kehilangan.

Hari dimana pengumuman itu tiba. Kepolisian menyatakan kau tidak bersalah, begitupun agensimu yang mengungkapkan semua kedok dari perempuan itu. Perempuan itu ternyata sasaeng yang terus membuntutimu. Berusaha membawamu kesebuah hotel namun kau menyadarinya dan memarahinya. Kau tidak melakukan kekerasan, hanya saja kau membanting ponsel, kamera serta alat penyadap yang digunakannya. Sasaeng itu tidak sendirian, dia bersama dengan temannya dan sengaja menjebakmu. Aku tidak bisa melihat wajah keduanya, karena mereka menggunakan masker dan berupaya menutupi wajahnya.

20 menit setelah berita di rilis. Kau datang ke Apartemen untuk menjemputku, kau langsung memelukku dan menciumi ujung kepalaku beberapa kali. Aku tak menolakmu, aku hanya diam. Aku bahagia dan lega ternyata semuanya salah, tetapi disisi lain aku masih marah. Aku tak paham kepada siapa diri ini marah?. Mungkin aku marah kepada diriku sendiri yang sudah kelewatan dan tidak mempercayaimu. Kau berbisik "Aku merindukanmu, aku tidak bersalah", berulang-ulang kau mengtakan seperti itu. Hingga akhirnya tangisanku pecah, tangisan yang sudah lama aku tahan sejak bertemu dengan Jihoon.

Aku meremas kaos yang kau pakai, memukul-mukul dada bidangmu. Perasaanku bercampur, aku tidak mengerti, aku menangis karena bahagia atau karena apa?. Kau mengikuti tubuhku yang merosot jatuh kelantai namun tetap memelukmu dan menangis histeris. Kita tetap seperti itu hingga tangisanku mereda. Kau tetap membiarkan aku memukuli dadamu, sebagai balasannya kau mendekapku semakin erat, mengelus rambutku dan menciumi ujung kepalaku. Semua hal baik pada dirimu kembali ke kepalaku lewat pelukan itu.

"Sayang, aku mohon maafkan aku. Jangan ajukan gugatan cerai padaku. Tak bisakah kau lihat aku seperti mayat hidup selama kau tinggal, hilang kewarasanku selama kau pergi"katamu disela isak tangisku yang mulai mereda

"Aku yang harusnya minta maaf oppa. Aku tidak mempercayai oppa. Seharusnya aku tahu kalau oppa tidak bersalah. Aku... aku.. hanya menyulitkan oppa hu..huu"kataku masih terisak

"Aniya~. Oppa tidak berhati-hati hingga membuat semua ini tertangkap kamera. Maaf oppa tak pernah mau membagi masalah oppa padamu sehingga hal ini terjadi"ucapmu

Aku berusaha mengatur nafasku yang tersenggal akibat tangisan, tak lupa menikmati setiap detak jantungmu yang sudah sangat aku rindukan. Menikmati aroma tubuh yang menguar dan menjadi candu untukku.

"Sayang, jika kau mau memercayai oppa lagi, jika kau mau menerima aku sebagai suamimu lagi. Aku berjanji, akan menceritakan lebih banyak hal padamu. Oppa tidak akan menutupi sebuah masalahpun yang datang menghampiri oppa. Bahkan oppa akan menceritakan kenapa dan bagaimana skandal ini bisa muncul. Kau boleh bertanya hal ini kepada pihak kepolisian, agensi, member atau siapapun yang mengetahui semua ini jika aku berbohong padamu"ujarmu berusaha membujukku

"Y/N-ah, mari kita lupakan ini. Kembalilah padaku, ayo kita buka lembaran baru"katamu lagi

Aku tak paham, masih saja ada sedikit hal yng membuatku enggan kembali padamu. Meskipun demikian, aku tetap kembali padamu. Kita kembali satu atap, satu kamar dan bahkan satu ranjang!. Hanya saja, semuanya terasa tak sama. Tidak seperti kehidupan rumah tangga kita sebelum skandal itu muncul. Aku merasa ada yang berbeda dan aku sangat yakin bahwa hanya aku yang merasa demikian karena aku telah membangun sebuah benteng kokoh agar aku tidak tersakiti lagi.

Perilakumu masih sama, tidak ada bedanya seperti sebelum skandal ini muncul. Bahkan sekarang menjadi jauh lebih perhatian. Satu-satunya hal yang membuat semuanya terasa berbeda adalah aku, aku masih trauma dan belum bisa menerimamu seutuhnya. Aku yakin hal itu juga menyiksamu, tetapi kau terus saja membuktikan bahwa semua yang telah terungkap adalah benar. Kau tidak bersalah.

Hampir seminggu hubungan kita menjadi dingin –akulah yang menciptakan aura seperti itu–. Aku tetap menjalankan kewajibanku sebagai istri –kecuali urusan ranjang– dan kau tidak memintaku juga. Kau pun tetap memakan masakanku, aku tetap mencuci bajumu dan sebagainya. Tapi kominunikasi kita sangat terbatas. Aku juga merasa seperti ada sebuah benteng yang menghalangi kita untuk berkomunikasi. Aku juga menyadari akulah yang membuat itu.

Sore itu, aku pergi ke Supermarket karena persediaan sudah menipis. Ketika sedang memilih ada seorang laki-laki yang memanggilku. Itu bukan Seungcheol. Tetapi...

"Joshua oppa?. Sedang apa disini?"tanyaku tepat setelah pria itu mendekatiku

"Biasa, anak-anak kurang ajar itu mengalahkanku dalam game dan aku harus membeli bahan-bahan untuk makan malam" jawab Joshua

"Anak-anak itu, masih saja jahil pada hyungnya. Tidak ingat umur"kataku diselingi tawa

Aku kembali memilih barang-barang yang akan kubeli. Joshua oppa tetap disana tanpa bergeming.

"Apakah oppa sudah selesai?. Kenapa tidak memilih barang?"tanyaku

"Bagaimana hubunganmu dengan Seungcheol?. Aku harap kalian sudah seperti dulu lagi dan melupakan skandal itu" tanya Joshua. Kata-kata itu bagaikan tombak untukku.

"Oppa, aku ingin bicara"

.

Selesai berbelanja, kami duduk disebuah cafe yang ada disekitar Supermarket. Aku ingin mengeluarkan uneg-unegku pada Joshua. Terlebih Joshua salah satu member yang paling dekat dengan Seungcheol. Aku harap masalah ini bisa selesai dengan segera.

"Ada apa?" tanya Joshua to the point. Aku meneguk ludahku, bingung ingin memulai pembicaraan darimana

"Masalah skandal itu belum selesai" kataku sebagai pembuka. Joshua tampak terkejut

"Bagaimana?. Seungcheol tidak bersalah Y/N-ah, polisi sudah membuktikan itu, pelaku telah ditangkap, agensi juga sudah mengkonfirmasi dan Jihoon. Dia adalah saksi hidup sebelum kejadian ini" jelas Joshua, aku menghela nafas

"Iya aku mengerti. Seungcheol oppa sudah menjemputku di apartemen hari itu dan langsung membawaku pulang. Dia meminta maaf padaku untuk sesuatu yang bukan salahnya. Tetapi, entah kenapa aku masih merasa ada sebuah hal yang mengganjal dihatiku. Aku tidak bisa menerima Seungcheol oppa seperti sediakala. Aku bersikap dingin belakangan ini dan dia berusaha untuk mencairkannya. Aku tak tahu harus bagaimana"kataku

"Kau egois Y/N-ah" kata Joshua singkat tetapi sangat menusuk ke hati. Aku diam saja dan ingin mendengarkan semuanya, Joshua menghela nafas sebelum melanjutkan kata-katanya

"Kau benar-benar egois. Kau tahu?, Seungcheol benar-benar seperti orang yang hilang kewarasannya karena kau pergi dan tidak ada kabar. Yang aku tahu, Seungcheol adalah orang yang profesional. Tapi karena kepergianmu, terlebih kau tidak ada kabar, dia benar-benar tidak bisa fokus. Dia sering lupa makan, jarang tidur, benar-benar seperti orang depresi. Dia sangat bahagia ketika mendapatkan informasi dimana kau berada. Dia tak peduli walaupun CEO melarangnya untuk pergi ataupun kepolisian akan memberikannya sanksi. Dia pergi demi menemuimu"

Memori itu berputar, hari dimana Seungcheol menemukanku. Dia pernah berkata "Setiap cinta pasti tahu dimana harus menemukan belahan jiwanya". Aku rasa memang benar adanya. Bahkan Seungcheol yang digambarkan Joshua saat itu sama seperti Seungcheol yang datang menjemputku.

"Setelah kau kembali, dia sangat berusaha memenangkan kasus itu. Dia tidak mau jika berita atau kesaksian palsu yang memenangkan kasus itu. Dia bahkan menangis saat kau mengancam akan menceraikannya. Kau harus tahu bahwa dibalik sikapnya yang terlihat kuat, Seungcheol adalah pria yang rapuh" jelas Joshua

Tentu aku tahu fakta itu. Joshua menyesap kopinya sebelum melanjutkan kalimatnya

"Seungcheol, aku merasa Seungcheol telah menurunkan egonya. Sangat menurunkan egonya. Dia bersedia melakukan apapun hanya demi kau kembali. Dia bahkan menerima setiap perilaku kasar dan dingin darimu belakangan ini tanpa harus membalasnya hanya agar kau memaafkannya. Seungcheol selalu diliputi perasaan bersalah selama hubungan kalian belum baik"kata Joshua

Aku hanya diam menunduk, aku baru menyadari bahwa aku sudah keterlaluan. Rasa cinta yang selama ini meliputi hubungan kami seperti hilang tertelan bumi hanya karena keegoisanku. Aku merasa menjadi orang jahat.

"Sejauh yang aku kenal. Seungcheol orang yang berpegang teguh pada janji. Jadi aku sangat yakin kalau Seungcheol bisa setia padamu. Berikanlah dia kesempatan Y/N-ah, terlebih dia tidak bersalah dan hal itu sudah terbukti. Anggaplah kejadian ini hanya ujian agar semakin menguatkan rumah tangga kalian. Aku pernah membaca, fase pernikahan seperti kalian ini memang sangan rentan. Disinilah komitmen kalian diuji, disinilah perbedaan sifat kalian bisa jadi masalah atau tidak. Dan Ingat!, sebuah Rumah tangga akan memiliki fasenya sendiri, hanya saja semua itu dari kalian sendiri. Mau berpegang teguh pada komitmen?, mau memberikan kepercayaan?. Kalian bisa melewati ini"ujar Joshua

Kata-kata Joshua benar-benar telah membakar api dalam jiwaku, diriku semakin yakin harus kembali pada Seungcheol.

"Seungcheol, sangat jarang mengumbar kemesraan kalian didepan publik. Tetapi aku tahu, tidak. Semua member tahu bahwa hanya kau satu-satunya wanita yang dicintainya" ujar Joshua lagi. Setelah kupikir-pikir benar juga. Seungcheol tak suka mengumbar kemesraan didepan kamera, tetapi dia memperlakukanku sangat manis saat berdua

"Lalu aku harus bagaimana oppa?"tanyaku menyerah

"Rumah tangga itu mirip sebuah tim. Aku harap kau memperhatikan Seventeen. Ketika kami memiliki masalah, akan ada orang yang meminta maaf agar masalah selesai, meskipun dia tidak bersalah. Seungcheol sudah melakukannya, sekarang kau hanya perlu menurukan egomu. Datanglah padanya dan minta maaf padanya. Aku yakin 100% Seungcheol sangat mencintaimu dan pasti akan memaafkanmu" jelas Joshua

"Lalu, bagaimana kalau tidak berhasil dan hubungan kami semakin sedingin es?" tanyaku lagi

"Percayalah padaku, ini akan berhasil. Diawal pasti akan terasa sulit, tetapi lama-kelamaan kalian akan menerima semuanya kembali" jelas Joshua lagi

Aku masih berusaha meresapi apa yang telah Joshua katakan. Memilah dan mengoreksi dengan perilakuku belakangan ini. Aku jadi merasa bersalah dengan Seungcheol. Tak seharusnya aku begini.

"Y/N-ah. Mingyu sudah menelponku. Aku harus kembali sekarang, kelihatannya mereka sudah kelaparan" kata Joshua diselingi tawa khas-nya. Aku ikut tersenyum, kemudian Joshua pergi meninggalkanku

.

Aku pulang pukul 7 malam. Perkataan Joshua benar-benar merasuki pikiranku. Aku duduk cukup lama di cafe untuk merenungi semua kesalahanku. Ya, aku akan memperbaiki hubungan kami. Aku tidak akan membiarkan rumah tangga ini hancur. Aku akan memasak makanan spesial dan makan malam bersama Seungcheol kemudian membicarakan hal ini.

Namun, aku harus mengurungkan niatku ketika melihatmu berada di dapur dan memasak. Bahkan beberapa hidangan sudah tersedia di meja makan.

"Ah Yeobo, kau sudah pulang?. Kau pasti belum makan kan?, aku juga. Aku memasak makan malam untukmu, ayo kita makan bersama" katamu kemudian kembali fokus pada gorenganmu

Aku menghambur kepelukanmu. Memelukmu dari belakang kemudian terisak sembari melepas kerinduan dan menikmati aroma tubuhmu yang telah menjadi candu. Aku tersentuh, bagaimana mungkin seseorang yang telah aku perlakukan dengan buruk belakangan ini massih bisa memperlakukan aku bagaikan ratu dan penuh kasih sayang.

"Hei, kenapa menangis?"tanyamu sembari mematikan kompor kemudian berbalik menghadapku

Kau menghapus airmataku kemudian menangkup pipiku. Aku memelukmu lagi, menumpahkan semua rasa egois lewat airmata. Meluapkan rasa rindu lewat isakan. Kau bahkan tak peduli jika kemeja yang kau pakai harus basah. Tanganku mengelus rambutku berupaya menenangkan.

"Oppa, maafkan aku. Aku jahat, aku egois, aku yang salah" ucapku akhirnya, masih dengan beruraian airmata

"Ssstt, kau tidak salah apa-apa sayang. Wajar jika kau tidak percaya pada oppa lagi"

"Aniya, oppa tidak bersalah. Oppa tidak berkhianat. Aku yang terlalu egois, aku sudah bersikap dingin pada oppa, aku tidak percaya pada suamiku sendiri" kataku

"Aku sudah memaafkanmu. Lalu, apakah kau memaafkanku juga?" tanyamu, aku hanya mengangguk

"Hahhh, pasti ada sesseorang yang sudah mengetuk pintu hatimu dan membuka pikiranmu" tebakmu

"Apa oppa menyuruh seseorang?" tanyaku penuh selidik

"Aniya. Aku sangat mengenalmu. Pasti ada yang berhasil merubah pikiranmu. Aku memasak kali ini karena aku ingin membujukmu lagi. Aku tak mau berpisah denganmu" jelasmu. Kau kembali memelukku, membelai rambutku dan mencium ujung kepalaku

"Yeobo, apapun yang terjadi kemarin dan hari ini, aku harap akan menjadi pelajaran buat kita. Ayo kita membuka lembaran baru yang lebih baik" katamu

Akhirnya kita makan malam bersama. Masakanmu jauh lebih variatif, aku yakin kau mencotek di internet. Mulai malam itu, hubungan kita membaik bahkan semakin mesra dan harmonis. Hubungan kita kembali seperti dulu dan perlahan kita melupakan skandal itu, melupakan apa yang sudah terjadi seolah tidak pernah terjadi sebelumnya.

Choi Seungcheol, suamiku.

Kedepannya, jika kita melewati hal-hal berat seperti ini lagi, atau mungkin jauh lebih berat. Berjanjilah kau bersedia melewatinya bersamaku.

Promise me?

.

.

TBC

.

.

Sejujurnya, author agak berat hati bikin bagian ini. Karena author gak berharap Seuncgheol terlibat skandal apapun. Jangan sampe lah pokoknya

Tapi berhubung ini ff, imagine pula, jangan terlalu baper ya chingu

Jangan lupa tinggalkan jejak^^