02. Detik-Detik

.

.

.

Sanggye-dong, Nowon-gu, South Korea. 03.40 pm

"Sejeong~ah kau tidak meneelpon Chanyeol menanyainya kapan akan datang?"

Suara cempreng khas ibu-ibu itu mengalun keras dari arah dapur, terdengar mendahului pemilik suara yang baru menit berikutnya terlihat menyembul ke ruang tamu. Baki berisi tatakan kue di tangannya. Dengan cekatan, wanita berusia akhir empat puluhan itu menatanya bersama gelas-gelas dan teko air yang sudah bersusun di atas meja. Di seberangnya, dua orang pria duduk santai sambil tertawa-tawa mengobrolkan politik Korea Selatan, sementara gadis bertubuh pendek yang dipanggil sedang sibuk melihat-lihat majalah yang menampilkan gaun-gaun pengantin sambil tengkurap di lantai.

"Park Sejeong!"

Gadis itu masih tidak menyahut, hingga Lee Youngmi menggeplak kepalanya.

"Appa!" ringis Sejeong setengah merengek. Setelah spontan menoleh, ia kemudian terpaksa menyengir dengan wajah sok polos ketika mendapati pelototan mengerikan ibundanya. "Haissh, aku sedang sibuk, Eomma, kau lihat kan? Suruh Yesung Oppa saja, lagipula buat apa buang-buang biaya telepon hanya untuk menghubungi pria tidak berguna itu?!"

"Sejeong," Yesung berdehem.

"Apa? Lagipula dia tidak pulang artinya lebih baik, dan kalau Eomma menginginkan anak laki-laki, Jongin Oppa bukankah jauh lebih baik? Kau jadi tidak perlu memberi makan tiang lampu yang bisanya hanya menyempitkan dunia dengan badan raksasanya itu, Eomma…," jelas Sejeong panjang lebar, tidak mengindahkan tatapan cukup mengerikan dari ketiga orang di depannya.

Ia mendadak tidak habis pikir, merasa aneh kenapa Yesung tidak membenarkan ucapannya atau membuat lelucon lain mengenai Chanyeol? Bukankah biasanya pria itu yang justru paling bersemangat untuk menyingkirkan Chanyeol dari rumah itu? Mereka sampai minum-minum untuk merayakan pengusiran Chanyeol ke Melbourne waktu itu.

Sejeong menatap tiga orang di hadapannya bergantian, rasa was-was mulai menyerangnya belakangan ketika pikirannya menyadari sesuatu, sesuatu yang rasanya paling ia khawatirkan untuk saat ini. Seperti ada kekuatan hitam yang aneh mencekat lehernya ketika ia mencoba memutarnya dan menoleh kebelakang, tempat dimana ia merasakan kehadiran seseorang lainnya.

Benar saja. Meski ia seringkali tidak peka, tapi feelingnya kali ini terbukti berguna. Meski tidak bisa membantu dirinya sama sekali. Pria jangkung itu menyeringai sinis di ujung sana, membuat Sejeong menelan ludahnya hati-hati.

"Chanyeol Oppa? Kau sudah pulang?" nada suara gadis itu otomatis berubah manis secara drastis

''

Jongin bergerak gelisah di atas tempat tidurnya. Otaknya memutar ulang percakapannya tadi siang dengan Kyungsoo. Dia sudah menolakmu bahkan sampai di titik batas pertahananmu, Jongin! Sadarlah! Menyerahlah! Rutuknya dalam hati. Sayangnya, menepis bayangan gadis sialan itu sama sulitnya seperti mencoba berhenti bernafas.

Ia memejamkan matanya rapat-rapat. Lagi-lagi satu pikiran lain yang sama dengan yang pernah datang lima menit lalu kembali mengganggunya. Gadis itu memang keras kepala. Sangat. Dan ia juga menempatkan gengsinya di atas puncak gunung Everest. Rasanya memang tidak mungkin ia akan menerima Jongin begitu saja. Tapi setiap menatap kepada kedalaman matanya yang sebulat kelereng, Jongin bisa saja bertanya-tanya tentang arti manik gadis itu yang terkadang menatapnya seolah tidak menginginkan Jongin pergi, meski tetap saja mulutnya justru mengatakan hal bertentangan.

Harapan lagi-lagi muncul, untuk kesekian kalinya. Berganti-ganti. Dan itu tak ayal membuat Jongin harus meremas rambutnya karena kesal pada pikiran sendiri. Ya Tuhan, dia hanya butuh sesuatu yang bisa membuatnya berhenti berpikir.

"HAH! Aku pasti sudah gila?!"

Jongin bukanlah dalam posisi keren—ia tampak kacau tingkat maksimal—saat pintu kamarnya berderit terbuka.

"Apa kabar, Kim Jongin?"

Jongin mengernyit. Suara berat, kalimat enteng yang merendahkan, rasanya sangat familiar. Ia bangkit duduk dalam sepesekian detik dan menolehkan kepala, mencoba mengenali seseorang di pintu. Tinggi, dengan rambut abu-abu terang. "Chanyeol?"

"Loey saja."

"Kau sedang di Korea."

Chanyeol mengendikkan bahu. "Teman-temanku selalu keseleo lidah setiap mencoba melafalkan nama itu dan berakhir dengan memanggilku Channel."

"Terserah," desis Jongin, merasa kekesalannya mendadak bertambah menjadi berlipat ganda. Ia hafal dengan benar bahwa sepupunya itu, anak dari pamannya, pria jangkung bernama Park Chanyeol itu memang selalu membawa aura yang membuat orang bisa saja mati sebal. Julukannya waktu kecil adalah 'Happy Virus." Tapi belakangan, seiring ia yang bertumbuh, bagi Jongin dia adalah 'Badmood Virus'.

Tanpa dipersilahkan, Chanyeol berjalan pelan memasuki kamar Jongin, sekilas ia mengedarkan pandangan ke sekitar, seperti petugas survei. Lalu dengan entengnya membaringkan diri di kasur yang menjadi tempat Jongin tidur tadi.

"Kau tidak menyambutku dengan ramah, tidak Jongin sekali," cibirnya seolah memanas-manasi, "apa ini yang disebut sindrom pra-nikah, huh?"

"Pra-nikah apanya!" Jongin mendengus, wajahnya yang terbiasa polos sekarang jujur menunjukkan ketidaksukaan pada olok-olokan itu. Ia kembali mengambil nafas berat.

Chanyeol menaikkan alis, memberikan Jongin tatapan menilai secara singkat. "Well, kupikir kau tidak terlihat menikmati ini, tidak seperti para wanita yang terlalu heboh di luar itu."

Jongin berhenti berpura-pura merapikan kasur. Ia menoleh untuk balas menatap pria itu, segera mendapati bayangannya sendiri yang tampak menyedihkan dari pantulan cermin tak jauh dari keberadaan Chanyeol.

Dari dulu, ia sudah tahu dengan benar bahwa Chanyeol itu adalah sepupunya yang paling menyebalkan, sekaligus paling pintar memahami. Semua orang mungkin terlalu tenggelam dalam euforia pernikahan perdana pria di keluarga ini setelah sekian lama. Pernikahan salah satu putra mahkota perusahaan. Pernikahan yang dilakukan dua teman bisnis untuk mempererat kerjasama mereka. Tidak masuk akal! Dan hanya Chanyeol yang bisa membacanya, yang menyadarinya, yang akhirnya dapat mengendus bahwa ada yang tidak beres dengan Jongin. Ia… seberapa patuhnya pun, sekali-sekali hati kecilnya berteriak menyuarakan apa yang benar-benar ia inginkan, dan hal itu bukanlah pernikahan ini, tidak sekarang dan tidak dengan gadis asing itu. Mendadak... ia merasa terlihat begitu lemah.

"Chanyeol," Jongin berdeham, siap menceritakan segala masalahnya. "Sebenarnya aku—"

Namun tiba-tiba saja tawa Chanyeol menggelegar, memenggal segala ucapannya. "Haha, nikmati saja, Hyung! Ini hanya sebuah pernikahan! Ayolah, semua orang menginginkannya!"

Hanya sebuah pernikahan, katanya? Hanya?! Apa sih, yang ada di otak anak itu? Apa kopi dan junkfood berminyak di Melbourne sana sudah membuat otaknya berkarat dan lupa sesakral apa sebuah pernikahan?

"Lagipula," Chanyeol mendudukkan diri di atas kasur, alisnya sekarang dinaikkan ketika matanya menemukan Jongin. "Lagipula bukannya enak, ya. Gagak hitammu jadi bisa menemukan sarang."

PLAK! Jongin menggeplaknya. Di kepala.

"MESUM! Lagipula burungku tidak sehitam itu!"

''

Namsan-dong Keumjeong-ku, Busan, South Korea.

February, 15th. 07.05 a.m

Mata yang kecil dan sipit sekarang terlihat jauh lebih besar, terimakasih pada softlens besar berwarna cokelat terangnya, eyeliner, serta sapuan eyeshadow gelap pada bagian bawah kelopak matanya. Hidungnya yang berujung bulat dipertegas. Bibirnya yang menyerupai anak anjing dipoles lipstik berwarna merah cherry. Sedikit blush-on disapukan pada kedua tulang pipi dan batang hidungnya.

Baekhyun menatap nanar pantulan dirinya di cermin. Seperti melihat orang lain. Ia yang biasanya hanya memakai bedak, sekarang melihat sosok dirinya dalam versi lebih cantik, lebih dewasa, lebih ... bercahaya. Dengan semua make up yang pas, tatanan rambut yang digelung sederhana, dengan hiasan bunga-bunga kecil diselipkan di antara helainnya.

Ia membuka mulutnya sedikit, antara senang dan bingung, dan lebih banyak tidak percaya. Tidak hanya karena ia terlihat begitu luar biasa, namun lebih karena ia masih kesulitan memercayai bahwa satu jam dari sekarang ia sudah akan berdiri di atas altar, mengucapkan janji dengan seorang pria yang tidak begitu ia kenal. Kedengaran seperti dongeng masa kecil. Berhari-hari ia meyakinkan diri bahwa ini hanya mimpi. Namun hari ini ia disadarkan bahwa ini nyata, bahwa gaun putih menawan itu memang benar melilit di tubuhnya, bahwa sebentar lagi kebebasan dan hak bermanja-manja pada ayah-ibu-nya akan otomatis tercabut, bahwa ia… akan menikah.

Kumohon ini mimpi saja, lirihnya sekali lagi.

Semuanya sudah beres sebenarnya, ia hanya perlu menunggu seseorang memanggilnya untuk bersiap-siap nanti ketika mobil pengantinnya sudah tiba menjemput.

"Segini tidak terlalu dingin, kan?'

Baekhyun menoleh pada penata riasnya, yang tampaknya barusaja menurunkan suhu ruangan agar Baekhyun tidak berkeringat dan menghancurkan make-upnya sendiri. Hal yang sulit karena Baekhyun dapat merasakan keringatkan berkumpul lebih karena gugup. Sama seperti penata rias sendiri yang mulai membuka kipasnya karena pengap.

"Mana sih, jemputan dari keluarga Park itu? Lama."

Baekhyun tidak menjawab. Omong-omong, ia akan menjadi menantu keluarga Park tapi menikah dengan pria bermarga Kim? Mudah saja. Ibunya Jongin, seorang wanita Park yang menikah dengan pria Kim, jadi dia seorang Kim dan masih bagian keluarga Park. Lagipula seingat Baekhyun ia hanya mengenal dua orang anak dalam marga Park, Yoora dan Sejeong, keduanya perempuan.

Gadis itu menggeleng pelan, tidak mau mempersulit pikirannya yang sedang kacau dengan urusan silsilah itu. Ia sedang menimbang-nimbang untuk mengabaikan rasa gugup dan malu-malunya untuk berjalan keluar menemui siapa saja yang bisa diajak bicara, atau diam dan membiarkan pikiran rumit terus berkonfrontasi di otaknya. Pilihan pertama rasanya lebih sehat, tapi sebelum ia melakukannya, ia sudah dapat merasakan sebuah lengan kokoh melingkari pundaknya, kelihatan terlalu mudah meraup bahu mungil gadis itu sepenuhnya. Baekhyun tersenyum, membiarkan Sehun menundukkan tubuh sedikit untuk memeluknya dari belakang dan menumpukan dagunya di pundak gadis itu.

"Nuna…" Pria itu tak bergeming, sepertinya memang tidak berniat untuk mengatakan sesuatu lebih lanjut, hanya menikmati posisi mereka sekarang.

"Kau terakhir melakukan ini padaku saat kau umur tujuh tahun, kau ingat? Setelahnya kau selalu mengejekku sebagai anak kecil," Baekhyun mendengus dengan nada bercanda, sindiran yang tepat sebenarnya.

"Kau memang kekanak-kanakkan, tidak pantas kupanggil nuna. Tapi hari ini saja, kau nuna-ku, biarkan seperti ini sebentar lagi, biarkan kau menjadi nuna-ku yang satu-satunya milikku untuk saat ini,"

Baekhyun membuka mulutnya tapi urung, tidak tahu harus berkata apa. Cukup aneh menghadapi Sehun yang tumben-tumbenan tampak murung, tampak posesif, tampak begitu… kehilangan.

"Aissh, kau itu bicara seperti aku akan dijemput malaikat kematian! Aku masih hidup besok, dan tentu saja aku masih nuna-mu!"

Di pantulan cermin, Sehun dapat melihat jelas kakaknya sedang mengerucutkan bibir kesal. Kebiaaannya. Orang-orang akan mengatainya manis dan menggemaskan, Sehun tidak suka itu, dia lebih seneng jika gadis ini hanya bersikap manis dengannya, melakukan aegyo hanya di hadapannya. Sekarang, tahu-tahu nunanya, gadis kesayangannya, sudah akan menikah.

"Nuna! Kau sudah akan menikah, berhenti bertingkah seperti anak kecil. Aissh, umurmu berapa? Mau kubuatkan susu?"

Sehun berkata dengan sarkasme tinggi, tentu saja. Tapi entah Baekhyun yang tidak peka atau tawaran itu begitu menggiurkan, ia mengangguk bersemangat. "Boleh! Yang rasa cokelat kalau ada. Kalau tidak vanila saja."

Sekarang, berganti Sehun yang menatapnya datar. "Menikah saja sana."

''

Detik terus berjalan mundur.

Tik. Tok. Tik. Tok.

Dan ia kehabisan waktu.

Jongin entah sudah terhitung berapa puluh kali mengitari ruangannya dan berakhir dengan merunduk menyedihkan di tepi kasur. Demi Tuhan ia butuh sesuatu yang menenangkan! Mandi air hangat? Ia sudah berendam di sana selama lebih dari dua jam dan sudah mengambil keputusan tepat untuk bangkit sebelum terserang flu atau yang lebih parah, kulitnya melumer. Waktunya tinggal satu jam. Yeah, satu jam lagi ia akan menikah, tinggal menunngu kedatangan penata rias yang katanya akan mendandaninya sedikit sekaligus membawakan tuksedo-nya. Satu jam lagi saja dan setelah itu ia tidak bisa mengharapkan keajaiban apapun lagi. Dalam kata lain, satu jam dari sekarang ia akan tamat.

Sial! Sial! SIAL! Sial sekali Kim Jongin. Ia hanya menginginkan gadis itu, gadis tomboy dan mengerikan yang parah itu; Kyungsoo.

Tuk. Tuk. Bunyi ketukan entah darimana, seperti bukan dari pintu.

Awalnya samar, Jongin menghiraukannya. Tidak sampai menit berikutnya, bunyi yang sama terdengar lagi, lebih keras. Jongin mengangkat kepalanya, mengarahkan matanya pada sumber suara yang ia duga dari jendela. Benar saja, detik itu juga ia segera menemukan seseorang tengah melempari kaca jendelanya dengan kerikil sebesar ibu jari. Astaga! Anak nakal mana lagi yang berniat membuat onar di sini?! Geramnya. Ia berjalan cepat menghampiri jendela untuk segera terlongo.

Gadis itu menatapnya dengan pandangan mengerikan yang khas, penuh intimidasi dan arogansi. Ia melipat tangan di dada dan mengetuk-ngetukkan ujung boots-nya ke tanah dengan tidak sabaran.

"Ajussi! Kau lelet sekali membuka jendela!"

"Sunshine?"

To Be Continued

PS: Agak lama, ya? Makanya banyakin votenya ehehe. Anyway adeknya Baekhyun kuganti jadi Sehun, karena perannya cukup krusial. Sementara adek Chanyeol, tadinya mau Miyawaki Sakura, tapi susah namanya Jepang. Jadi, Sejeong aja, karakternya menurutku cocok.

Sampai ketemu Minggu depan! Atau sebelumnya kalo sampai 40 review *digampar*