03. The Groom's Gone

.

.

.

"Sunshine?" seperti orang bodoh, Jongin berusaha meyakinkan diri bahwa ia tidak sedang berhalusinasi. Gadis di bawah jendelanya hanya bisa mendengkus kesal pada pria itu. Pria lelet dan tidak pernah becus ini, merepotkan saja.

"Aissh, cepatlah turun! Sudah tidak ada waktu!" teriaknya kesal.

"Hah?! T-turun?" Rahang Jongin jatuh. Dan perlu kesabaran ekstra bagi Kyungsoo untuk tidak meraih sepatunya dan melemparkannya pada mulut yang menganga sempurna itu.

"Lewat jendela, bisa 'kan?"

"Tapi… untuk apa?"

"Masih bertanya?!" Kyungsoo nyaris menjambak rambutnya sendiri karena frustasi. Ia cepat-cepat berbalik kembali ke atas motornya dan menstarter mesin. Jongin sejenak masih sempat terpana dengan gadis itu yang menaiki motor besar. Badan semungil itu, wajah seimut bayi itu ... bagaimana bisa?

"Cepatlah naik atau aku berubah pikiran!"

Rasanya tepat setelah Kyungsoo meneriakkan kalimat itu, ia bisa mendengar suara beban berat yang jatuh, kemudian merasakan bobot kendaraannya bertambah, Jongin sudah naik di belakangnya, menyisir rerumputan kering yang tersangkut di rambut.

"Kenapa kau bisa di sini?"

"Haruskah kau bertanya?!"

"Kita mau kemana?"

"Sebaiknya tutup mulutmu."

"B-bagaimana bisa kau… kupikir kau…"

"Ajussi! Diam atau aku akan menjungkir-balikkab motor ini dan membuatmu terlempar dengan gaya bebas," ucap Kyungsoo dingin, penuh penekanan, upaya terakhirnya menyudahi omong kosong ini. Ia merasa tidak perlu menjelaskan apapun. Sudah cukup ia akan merutuki diri nanti atas keputusan ini. Membawa lari pengantin pria? Ide yang terlalu buruk hasil sakit kepalanya semalam. Ah ya, bagus sekali. Bagaimana bisa seorang pria bertampang paman-paman mesum bernama panggilan 'Ajussi' itu bisa membuatnya pening semalam suntuk selama tiga hari berturut-turut?

"Eung…"

Kyungsoo mendengkus, pria di belakangnya itu seperti ingin mengatakan sesuatu tapi takut, alhasil ia hanya menggamit pundak Kyungsoo ragu-ragu. "Apalagi?!" gadis itu merasa ingin meledak.

"Helm?"

Yang benar saja?! Kyungsoo membuang nafasnya kasar. "For God sake! Aku yang menjamin kepalamu, anak rumahan!"

Kali ini Jongin menepati komitmennya untuk benar-benar diam, sebelum gadis ini terus-terusan berteriak dan justru membuat orang-orang yang tengah sibuk di ruang keluarga mendengar ini. Hanya melingkarkan tangannya di pinggang Kyungsoo saat gadis itu mulai akan meluncur.

"And PLEASE put your hands away before I cut them, Ajussi!" desisnya final.

''

Yesung berjongkok di depan akuarium yang menampilkan Michael—seekor kura-kura tua kesayangan Yesung—berpose sama sejak dua jam yang lalu, dan ajaibnya ia tampak betah sekali memandangi makhluk-semi-hidup itu. Tidak seperti orang-orang lainnya di ruangan yang sama, terutama Kim Ryeowook yang sibuk mondar-mandir seperti setrika. Menurutnya berjongkok tidak akan memakan begitu banyak tenaga secara percuma.

"Anak itu lelet sekali, bahkan kura-kura ku bisa berjalan lebih baik," desis pria itu akhirnya, menyuarakan segenap kegelisahan setiap kepala di ruangan itu.

Ryeowook melempar pantatnya ke sofa dan duduk tepat di sebelah Nyonya Park, Lee YoungMi. Ia lelah.

"Bibi! Apakah anak itu tersesat lagi? Demi Tuhan itu akan menjadi kejadian paling langka abad ini! Jarak dari ruang tamu ke kamar Jongin bukannya sepanjang Incheon ke Jeju tapi kenapa dia lama sekali?!" timpal Ryeowook, jelas kesal.

Anak yang dimaksud itu, yang lima belas menit lalu disuruh buru-buru menjemput Jongin karena upacara pernikahan akan berlangsung kurang dari satu jam lagi, akhirnya muncul kembali ke tempat seluruh keluarga berkumpul, wajahnya pucat seperti habis berenang di lautan lintah.

"Kau lamban sekali Sejeong-ah, acaranya sebentar lagi hampir mulai, para undangan sudah siap," giliran Yoora yang mengomel, ia beranjak dan menyelempangkan tasnya, siap beranjak saat itu juga. "Mana Jongin?"

Sejeong menelan ludah dengan payah, sebisa mungkin ia memutar otak menyusun kalimat paling baik agar tidak membuat kedua orang tuanya mengalami serangan jantung. "Itu… eung… aku sudah mencari Jongin Oppa, tapi… ia…,"

"Ia kabur sepertinya," Chanyeol yang baru menuruni tangga yang menjawabnya. Ia berjalan santai sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil.

Semua orang di ruangan itu menahan nafas, coba berpikir dengan benar sebelum akhirnya secara kompak menyerukan "APA?!"

''

"Ayolah Yeol~ hanya kau satu-satunya harapan kami!"

Yesung berbuat nekat, ia bahkan sampai memilih bersimpuh di depan Chanyeol dengan wajah terlalu memelas. Jika Chanyeol produser film dan Yesung sedang melakukan casting untuk peran suami teraniaya, Chanyeol akan mendaulatnya saat itu juga. Tapi ini bukan film dan ini membuat Chanyeol merasa mual dengan ekspresi itu.

"Silahkan buka internet jika kau tidak mengerti makna kata 'tidak'," balas Chanyeol menaikkan kadar sarkasme-nya dari jawaban pertama, kedua dan ketiga tadi.

"Chanyeol-ah! Mengertilah! Para undangan sudah datang dan kita tidak mungkin mengusir mereka, kau tidak mau memikirkan bagaimana malunya ayah, huh?!" kali ini Yoora yang mendesak, ia sudah sangat gusar memperhatikan ayahnya yang diam seperti patung sejak tadi dan ibunya yang bahkan sempat pingsan, sekarang berusaha ditenangkan oleh Sejeong di ujung ruangan.

"Dan kalian tidak memikirkanku? Aku. Tidak. Siap. Sama. Sekali." Chanyeol mengambil nafas. Ia mau tidak mau harus memandangi semua wajah yang sekarang menatap seperti menggantungkan seluruh saham perusahaan padanya. Bukan, bukan hanya saham, tapi hidup dan mati mereka. Nafas yang ia tarik cepat sekarang ia buang keras. "Ya Tuhan! Kenapa harus aku?!"

"Karena kau satu-satunya yang bisa Chanyeol. Kau satu-satunya anak laki-laki yang tersisa di keluarga ini." Yoora mulai tidak sabar.

"Yesung Hyeong?"

"Kau mau aku memiliki dua istri begitu? Atau kau ingin aku menceraikan kakak sepupumu dan menikahi gadis itu? aku bahkan tidak punya kaitan darah apa-apa denganmu, Park! Otakmu tertinggal di Melbourne ya?"

Oh deal, Chanyeol sendiri segera merutuki usulannya yang satu itu. Satu istri saja sulit bagi Yesung untuk membagi waktunya antara istri dan Michael─kura-kura kesayangannya. Kalau bisa, Yesung sebaiknya dapat istri setengah saja. Sekarang Ryeowook, wanita yang dinikahi Yesung setahun lalu memelototi Chanyeol seperti akan memakannya kapan saja.

"Kenapa tidak kau, Nuna, atau Sejeong saja?"

"Memangnya aku lesbian!" Yoora melemparkan kedua tangannya di udara, ia terlihat seperti mendekati batas ambang kegilaan. "Atau dengan Sehun begitu? Kau mau aku dituduh pedofilia atau ayah dijebloskan ke penjara karena kasus menikahkan anak dibawah umur. Mereka masih sekolah, ingat?" Yoora, setengah berdesis, setengah berteriak.

Chanyeol mengacak rambutnya lagi, kali ini frustasi. Ia tidak menemukan lagi alasan yang tepat, hanya saja ia tidak mungkin menyetujui ini. Ini terlalu kolot, apa yang akan teman-temannya katakan nanti jika tahu-tahu ia datang pada mereka membawa istri dan anak di pangkuan? Steve mungkin sudah akan mati tertawa.

"Kenapa harus ada pernikahan semacam itu? Kupikir itu hanya akan ada di drama yang kau tonton, Nuna."

Yoora menghela napas sama lelahnya dengan semua orang di sana. "Ini sudah benar-benar tidak bisa dibatalkan, Chanyeol-ah. Semua tamu bahkan sudah datang dan niscaya semua rekan Ayah bukan hanya akan mencibir tapi juga memutuskan hubungan karena kejadian memalukan ini. Kau tidak mengerti juga, huh?"

Butuh waktu lebih dari lima menit bagi Chanyeol untuk akhirnya bisa kembali bicara. Ia sibuk berpikir, dan percayalah ia belum bisa menemukan titik terangnya. Ia tidak ada urusannya dengan ini, tapi kenapa semua tiba-tiba dilimpahkan padanya?!

"Apa harus aku?" paraunya. "Terserah saja! Aku tidak bersedia dan tidak akan beranjak kemana-mana."

"Terserah kau saja Chanyeol-ah," Suara itu, semua mata kemudian menatap sumber suara. Itu suara berat milik Park Minhwan, ayahnya.

"Yeah, terserah kau saja Chanyeol, tapi kurasa itu terserahku juga jika besok-besok kau harus merelakan kartu-kartu kreditmu dan semua fasilitasmu. Sebaiknya siapkan dirimu juga untuk mendapat pekerjaan secepatnya, bagaimanapun kau perlu melunasi biaya kuliah, hutang-hutang serta sewa kamar setelah besok harus keluar dari rumah ini. Ah ya, sebaiknya kembalikan juga marga Park itu, bagaimana?" pria itu menatap Chanyeol dengan senyum dilembut-lembutkan, terlalu halus dan… Chanyeol hafal disinilah letak paling berbahayanya.

Chanyeol terdiam, tidak ada yang bisa ia lakukan selain merapal doa semoga bumi menelannya untuk saat ini. Tapi bumi pun sepertinya mendukung saja rencana pernikahan dadakan itu. Yoora yang melihat itu tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia segera melempar tuksedo untuk di kenakan Chanyeol dan menyeringai.

"Cepatlah Chanyeol baby~ kujamin kau akan menyesal dengan perdebatan bodoh ini melihat siapa perempuan yang akan kau nikahi nanti."

Yesung tertawa lebar dengan cemoohan Yoora barusan. Chanyeol melakukan ritual barunya lagi; mendelik dan mendengus. Bagaimanapun ia merasa perlu sekali menyemplungkan kepala besar ipar sialannya itu di akuarium dan menekannya selama sepuluh menit. Pria itu… pria setengah waras itulah yang dengan lancangnya mengusulkan ide terburuk sepanjang riwayat hidup Park Chanyeol. "Chanyeol saja yang menggantikan menikah," ucapnya lima belas menit yang lalu dengan sangat enteng. Ya ampun, tidak ada yang tahu betapa Chanyeol merasa meja terlalu ringan tiap ia berpikir ingin melemparnya kepada Yesung. Otak pria itu benar-benar musibah. Musibah maha besar!

"Ayolah Yeol~ kau hanya perlu menikah. Apa susahnya? Semua orang menginginkan itu."

Jadi, apa kira-kira yang lebih berat dari meja yang ada di ruangan itu? TV 32 inchi mereka, atau lemari sepatu?

''

Baekhyun meremas ujung gaunnya, menyalurkan sebagian rasa gugup di sana. Tangannya yang lain melingkar erat di lengan sang ayah yang dari tadi tidak bisa menghentikan senyumnya kepada para undangan, kepada pendeta, kepada altar putih berhias bunga-bunga.

Di depan pintu, di ujung karpet merah yang akan menuntun jalannya itu, Baekhyun harus membagi tugas tangannya karena sekarang ia harus membawa buket bunganya. Wangi Fressia memenuhi indera penciumannya sejak bunga itulah yang mendominasi bunga tangannya kini, walaupun sedikit terganggu dengan rasa sesak karena pacuan jantungnya. Jika saja ia diberi kesempatan untuk berpikir dan mengenal pria itu, mungkin tidak akan seburuk ini. Ia bahkan hanya pernah bertemu sekali dan tidak bicara apa-apa.

Wangi mawar memenuhi ruangan itu. Semua wajah tampak gembira. Hanya gadis itu yang merasa sesak dan kesulitan berpikir. Benar-benar. Sekarang alasan ia mencengkeram tangan ayahnya menjadi sebuah kebutuhan, ia bisa pingsan di tempat saat ini.

Gadis itu sekarang melihatnya, ia bisa melihat punggungnya yang tegap, tampak menarik. Eh? Tunggu! Tunggu! Kenapa rasanya pria itu bertambah tinggi beberapa senti dari yang bisa ia ingat? Rambutnya… ada yang berbeda. Seingatnya pria yang ia temui beberapa waktu lalu tidak memiliki rambut hitam, sedikit ikal, dan bukannya abu-abu terang.

Apa ... calon suaminya berubah tua dalam semalam?

Ia terus menyeret langkah diiringi gaunnya di atas karpet merah menuju seorang pendeta tua yang menunggunya di atas sebuah mimbar, tersenyum sangat ramah. Baekhyun masih berusaha mencuri tatap pada sosok pria di sampingnya. Sulit. Ditambah ia merasa harus bergidik terhadap aura-aura tidak nyaman yang mendadak melingkarinya. Jadi kemudian ia memutuskan untuk menunduk saja, memperhatikan ujung gaunnya yang tidak terpaut jauh dari sepatu pria itu. Pria itu… calon suaminya.

Astaga, bolehkah ia bangun dari mimpi ini dan menangis? Ia tahu tangan kecilnya gemetar dan dingin ketika ayahnya melepaskan tangan itu, menyerahkan pada seseorang yang berhak di sana. Sejenak seperti ada tegangan listrik yang mengaliri tubuhnya ketika merasakan telapak tangan hangat itu, menggenggamnya longgar. Membuat detak jantung gadis itu berpacu kacau. Sentuhan itu seperti virus canggih yang tiba-tiba merusak seluruh sistemnya. Tidak! Jangan gugup.

Ketika ia mendongak, yang pertama kali ia temukan adalah sebuah senyuman janggal. Yah, seumur hidup ia belum pernah melihat senyum tipis yang miring semengerikan itu. Dengan cepat Baekhyun sudah bisa menelusuri bagian wajahnya yang lain, hidungnya yang lurus, alisnya yang berkedut, matanya yang bulat namun mendominasi… dan perlu beberapa detik untuk menyadari sesuatu. Ia beralih menatap pendeta, lalu punggung ayahnya yang menjauh, para undangan, keluarganya yang berdiri di pojok ruangan. Kembali pada pria ini, menatapnya lekat-lekat.

"Permisi," suaranya mengecil dalam kegugupan. "Apa… aku salah masuk gereja?"

''

A/N: Ini naskah lama yang kuedit dan kayaknya bakal ditambah-tambah. Masih banyak kurangnya. Maafkeun ya~