BAB 4
.
.
.
Sejak awal aku tidak setuju dengan ide ini. Oke, jalani saja Chanyeol, untuk sementara hanya ini satu-satunya cara agar kau bisa bertahan hidup. Nanti kau masih bisa memikirkan cara lain untuk gadis sialan yang akan segera merebut status lajang milikku. Kira-kira kalimat itu yang sudah dirapal Chanyeol nyaris tiga puluh kali dalam kurun waktu satu jam terakhir.
Ia sudah berdiri di atas altar. Memejamkan mata dan berharap ini hanya mimpi buruknya yang keterlaluan konyol. Tidak mungkin 'kan? Kim Jongin keparat itu telah membawanya dalam lubang mengerikan ini. Satu dua langkah-langkah lambat mulai terdengar memenuhi telinganya, semakin dekat, ia dapat merasakannya. Ada gesekan anggun sepatu dengan lantai, lalu disusul seretan gaun. Gadis itu bergerak ke arahnya. Ia tidak siap, tidak akan! Seharusnya ia menoleh untuk melihat, tapi ia merasa terlalu pengecut untuk melakukannya. Baru ketika sebuah tangan besar menariknya, membawanya pada tangan yang jauh lebih mungil itu…. tangan yang dingin dan gemetar, dan terasa rapuh. Mendadak ia merasa tangannya kebas, seluruh tubuhnya juga, ia berhenti berpikir. Sensasi persentuhan itu rasanya berefek terlalu besar, jantungnya mendadak tidak normal sekarang. Tapi anehnya ia tidak melepasnya, justru mengeratkan genggamannya pada tangan yang rapuh itu, jemari yang ketika disentuhnya, ia seperti memiliki kewajiban untuk menjaganya baik-baik, karena jemari-jemari itu miliknya sekarang.
Chanyeol membuka mata detik itu juga, mendapati orang pertama yang bisa ia temukan adalah gadis itu. Rasanya seperti berada dalam dunia dongeng yang asing. Ia memaksakan tersenyum, melihat bolamata gadis itu membesar dengan cara yang menarik perhatian. Terlalu mudah. Gadis ini, entah bagaimana caranya, tapi ia merasa gadis ini akan terlalu mudah menarik perhatiannya, bahkan hanya dengan caranya membuka mata seperti itu.
Lalu ia segera menyadari gadis ini kebingungan.
"Permisi…. Apa aku salah gereja?"
Demi kura-kura Yesung, ia benar kan? Gadis ini…. bodoh ya? Gadis yang bodoh tapi tetap saja menarik.
Chanyeol menyeringai. Detik itu juga untuk pertama kali setelah berjam-jam ia merasa ... tidak menyesal dengan keadaan saat ini.
'ㅅ'
"Park Chanyeol, bersediakah kau menerima Byun Baekhyun, dengan di satukan oleh Tuhan tidak bisa dipisahkan oleh seorang manusia pun kecuali oleh kematian, bahwa kau juga akan menerima pasanganmu baik dalam susah maupun senang, baik dalam sakit maupun sehat, mencintainya sepanjang hidupmu?"
"Iya," jawab Chanyeol sekenanya yang berakhir dengan kesadaran bahwa beberapa mata tengah menatapnya horor, yang paling menyeramkan ada pada wanita yang menurunkan sebagian sifat-sifat buruk padanya, Ibunya. "Ah, Ya. Aku bersedia," ralatnya.
Pria itu balas mengangguk pelan sebelum memutar arah pandang kepada Baekhyun, "Byun Baekhyun, bersediakah kau menerima Park Chanyeol, dengan di satukan oleh Tuhan tidak bisa dipisahkan oleh seorang manusiapun kecuali oleh kematian, bahwa kau juga akan menerima pasanganmu baik dalam susah maupun senang, baik dalam sakit maupun sehat, mencintainya sepanjang hidupmu?"
Chanyeol mengikuti menatapnya, gadis itu sepertinya tidak sadar bahwa sang pendeta tengah berbicara padanya. Ia justru sibuk memperhatikan ujung gaunnya sambil mengerucutkan bibir. Sepertinya itu adalah hobinya, bertingkah imut. Chanyeol harus menyenggolnya untuk menyadarkan gadis itu. Ia tampak panik dan mengedarkan pandang sebentar. Astaga, bodoh sekali, pikir Chanyeol.
Gadis itu untuk sesaat tidak mengatakan apapun, membuat Chanyeol mau tidak mau menatapnya dengan raut sedikit… gelisah. Ia tidak menyukai ketika gadis itu diam dan tidak mengatakan apa-apa. Ayolah, 'iya' bukan kata yang sulit. Kemudian, senyumnya secara otomatis tertarik begitu melihat senyum di garis tipis bibir berwarna merah muda itu. Gadis itu mengangguk mantap, menyebabkan ada goyangan sedikit pada tatanan rambutnya, "aku bersedia"
Saat itu, Chanyeol tidak tahu, hanya saja, seperti ada gempa yang mengguncang dunianya sesaat. Gadis itu, terlalu sulit untuk diabaikan. Ia tidak tahu lagi apa yang diucapkan pendeta itu atau tepuk tangan riuh di seputarnya, pusat dunianya tiba-tiba saja sudah berpindah pada gadis itu. Gadis itu… gadis yang akan tetap di sisinya puluhan tahun mendatang, gadis yang akan pertama ia lihat ketika bangun dan terakhir ia lihat ketika akan tidur. Gadis yang… seharusnya ia rindukan setiap ia tidak sedang dirumah. Gadis ini, pengantinnya.
Suara-suara di sekitarnya menderu tidak jelas hingga "—Silahkan mencium pengantinmu,"
"NE?!"
Keduanya berpandangan, baru saja terpikir tentang hal yang satu itu. Dan itu… tidak mungkin 'kan? Ini bahkan kali pertama mereka saling tatap.
Chanyeol tahu, tubuh gadis itu menegang hebat ketika Chanyeol berusaha mempersempit jarak antara mereka. Baekhyun mundur selangkah kecil, membuat Chanyeol otomatis menyunggingkan senyum miringnya yang diartikan otak Baekhyun sebagai ancaman. Dengan sigap, tangan pria itu telah meraih pinggangnya, tangan lainnya menyusuri wajah Baekhyun, dari mulai pelipis lalu pelan-pelan bergerak seperti coba berkenalan pada pipi, kelopak mata dan organ lainnya.
"M-mau apa kau?" tanyanya, jelas sekali suaranya yang gugup, sialnya justru bergema sangat halus di telinga Chanyeol.
Baekhyun tercekat, napas pria itu hanya sejengkal dari wajahnya dan bahkan ia bisa mencium aroma sabun dari pria itu. Napasnya yang hangat memantul di kelopak matanya ketika ia mencoba mengerjap. Tuhan, rasanya membuka mata adalah pekerjaan yang sangat sulit sekarang. Semua orang tampak riuh dan antusias, ia samar-samar bisa menyadarinya setelah cukup lama disibukkan dengan perasaannya sendiri, perasaan seperti ada bom waktu yang dipasang di jantungnya.
Maka ketika gadis itu lengah, saat itulah ia tidak begitu menyadari ketika Chanyeol sudah menarik wajahnya untuk mendekat, bibir tebal itu terasa tidak pernah sedekat ini, ia tidak pernah berada dengan pria manapun dalam posisi seperti ini. Dan… Baekhyun memejamkan mata. Pasrah.
Basah. Lembab. Hangat. Tiga rasa itu yang berhasil ia simpulkan setelah beberapa detik tidak sanggup berpikir. Ia menelan ludahnya terlebih dahulu sebelum memutuskan membuka mata. Chanyeol menciumnya, di kening. Kejutan lainnya, saat membuka mata, maka sajian pemandangan yang dilihatnya adalah sesuatu yang agak aneh. Chanyeol tersenyum, simetris, manis, menimbulkan lesung pipi kecil. Disitulah letak anehnya. Manis, senyum itu tidak cocok dengan pria ini sama sekali.
'ㅅ'
Konsep pernikahan itu adalah pesta kebun. Sederhana, umum, biasa. Hanya ada sebagian kecil hal-hal aneh konyol, seperti misalnya Sejeong yang mati-matian menolak kamera,terutama karena pipinya telah belepotan kue tart. Dan entah sejak kapan kenalnya, Sehun yang mengetahui itu justru sibuk menenteng dan mengejar dengan kamera digital siap bidik di tangannya, tidak lupa senyum miring terus menempel di bibirnya.
"Demi Tuhan aku akan melaporkanmu pada Luhan!" jerit Sejeong sambil sebisa mungkin menutupi wajah dari berbagai sisi.
"Ayolah~ berikan satu pose terjelekmu untuk kuberikan pada Eunwoo sunbae," tawa pria itu seketika menyeruak lagi. Baekhyun sejenak mengernyit, mengira adiknya terlalu pendiam jadi adalah hal aneh jika Sehun bisa tertawa semengerikan itu.
Ia menggeleng, tidak mau ambil pusing. Lagipula rasanya hal yang bagus Sehun terlihat seceria itu, jadi ia kembali menyeret gaun putihnya pelan-pelan menuruni tangga gereja, menuju kebun. Bagaimanapun ia takut tersangkut gaun sendiri karena kecerobohannya. Melewati meja-meja kayu yang berpasangan dengan kursi-kursi kayu, Baekhyun terus mengurai senyum. Pernikahan seperti ini adalah impiannya, meski ia tidak pernah dapat membayangkan akan seperti apa pengantin prianya itu.
Di sudut, ia dapat melihat seorang dari keluarga Park yang diceritakan kedua orang tuanya sebagai makhluk paling absurd yang pernah ada tampak menikmati hidangannya di atas selembar karpet piknik. Kim Yesung, dengan sepiring lasagna di tangannya, tampak sangat normal dan tidak ada yang salah. Pria itu tampak sedang mengobrol ringan dengan gadis cantik yang ia kenal cukup baik, Park Yoora serta Lee Youngmi. Lee Youngmi mertuanya! Mendadak ia merasa tidak ingin melihat wanita itu dulu. Baekhyun sudah nyaris berbalik dan memaksa Chanyeol berbalik juga saat suara laknat itu ditujukan untuknya.
"MENANTUKU!"
Bukan Lee Youngmi, tapi ini lebih parah, Park Minhwan. Pria itu tampak bersemangat sekali ketika akhirnya berlari dramatis dan memeluk Baekhyun erat-erat. Gadis itu sesak napas, ia baru akan menyedot oksigen banyak-banyak ketika Lee Youngmi datang, memeluknya tak kalah erat, yang kemudian digilir dengan Yoora, Ryeowook, Yesung dan sepertinya seluruh keluarga besar Park. Mereka yang paling antusias atas pernikahan ini.
"Chanyeol-ah~, aigooo~ istrimu ini seperti boneka saja, ya?! Imut dan cantik sekali. Jagalah dengan baik, berhenti bersikap seperti anak kecil,sayangi dia,"
"Ayah, aku sudah menghafalnya. Kau mengatakan itu sudah tujuh belas kali," sahut Chanyeol cepat, dingin.
"Baekhyun-ah, tolong jaga Chanyeol kami. Dia ini—" Youngmi membuka mulut untuk menyambung pidato sang suami.
"Ayah, Ibu! Bisakah… tinggalkan kami? Bagaimanapun kami pengantin baru, perlu waktu untuk…,"
"Oh, tentu saja! Benar juga. Kalian perlu waktu berdua dan membuatkan kami cucu. Hahaha."
Sekarang keluarga itu tampak antusias tertawa dan bertepuk tangan heboh, Yesung bahkan sempat menutup telinga Sejeong yang dibalas dengan injakan di kakinya. Chanyeol hanya kembali mendengus dengan tampang dingin sebelum akhirnya menggenggam lengan Baekhyun erat dan menariknya dari gerombolan aneh, menyesal harus mengakui bahwa gerombolan aneh itu adalah keluarganya sendiri.
"Terimakasih." Baekhyun mengigit bibir.
Ia bisa bernapas dengan benar sekarang dan tidak perlu susah payah menyeret gaunnya lagi setelah Chanyeol menghentikan langkah mereka jauh dari kerumunan, dibalik tanaman hias yang dipangkas tinggi. Tidak akan ada yang mengganggu mereka di sini, dan Baekhyun bisa bernapas lega. Ia lelah sekali mengobrol.
"Jangan lega dulu, aku serius."
"Eh?"
"Aku serius soal meminta ijin tadi," ujarnya, menggantungkan kalimat dan tersenyum miring.
Detik itu juga Baekhyun tidak sempat menghindar, Chanyeol sudah menarik pinggangnya. Lagi. Baekhyun beringsut sebisanya ke belakang, tapi tangan pria itu tetap keras kepala mengejarnya, memaksa tubuhnya mendekat, mendekatkan wajahnya seenaknya sambil tersenyum miring.
Tidak ada yang bisa gadis itu lakukan karena tiba-tiba saja otaknya macet. Hal yang otomatis tubuhnya lakukan hanya memejamkan mata rapat-rapat, dan mungkin... berdoa.
Ia belum lagi membuka mata ketika mendengar kikik geli di dekat telinganya diiringi suara pria itu. "Ternyata benar, aku tidak akan bisa menemukan gadis sepertimu di Melbourne. Dasar bodoh."
Dan meski Baekhyun tidak melihat apapun selain kegelapan, ia yakin benar bahwa pria itu sedang menertawakannya.
'ㅅ'
"Sunshine, kita mau kemana?" Jongin coba menyamankan posisinya, memperbaiki remasan tangannya pada jaket yang sedang dikenakan Kyungsoo—menjadikan baju itu sebagai pegangan karena ia tidak mau mengambil resiko Kyungsoo mengamuk dan menurunkannya di jalan sekali lagi jika ia tetap nekat memeluk pinggang gadis itu—sambil juga mengelap keringat yang sesekali menetes di pelipisnya. Perjalanan lima jam itu lumayan melelahkan ternyata, dan Kyungsoo tetap belum memutuskan untuk sekedar singgah di kedai ramyeon atau apa saja yang menjual makanan untuk mengisi perut mereka.
"Gyeonggi-do," jawab gadis itu pendek di antara ributnya angin.
"HAH?! Untuk apa kesana?!"
"Kakekku. Kakekku tinggal di sana."
Jongin menelan ludahnya. Ia tidak pernah ke Gyeonggi-do sebelum ini, bahkan daerah-daerah yang ia tahu hanya terhitung Mokpo dan Seoul, dua tempat yang sempat ditinggalinya. Benar kata Kyungsoo, anak ini sungguh rumahan sekali.
Motor itu melaju terus dalam kecepatan yang tidak bisa dikatakan santai, setidaknya bagi Jongin, ia sempat berani bersumpah bahwa ia lebih memilih menaiki roller coaster sepuluh kali putaran daripada berada sepuluh menit lebih lama lagi di atas motor yang seperti sedang menawarkannya cara tercepat menggapai surga tersebut. Satu-satunya alasan yang membuat Jongin bertahan nyaris lima jam ini, adalah karena Kyungsoo. Karena gadis itu tampak menikmatinya. Karena gadis itu bahkan bersenandung sesekali meski suaranya jauh sekali dari penyanyi semacam IU atau Ailee, setidaknya ini suara satu-satunya yang ingin didengar Jongin setiap harinya. Karena saat ini ia bisa bersama gadis ini, tidak ada yang perlu ia khawatirkan lagi.
"Sudah sampai?" Jongin terlongo sebentar menatap sekeliling, ia tidak menemukan satu rumah yang tampak benar selain pohon-pohon dan sebuah kuil tua tak jauh dari tempat Kyungsoo meLoeyirkan motornya.
"Sial! Bensinnya habis, ini gara-gara kecerewetanmu, Ajussi!"
'ㅅ'
"Minumlah," pria tua berjanggut itu terkekeh ramah sambil menyodorkan dua gelas teh pada Jongin dan Kyungsoo. Setengah jam yang lalu pria itu memperkenalkan diri sebagai Yoo Jaesuk, orang yang mengabdikan sisa hidupnya untuk merawat kuil tua itu. Berikutnya ia mengajak Jongin dan Kyungsoo ke rumahnya yang terletak persis di belakang kuil, sederhana dan kecil karena ia mengaku tinggal seorang diri saja. Pantas saja jika ia kegirangan saat menemukan dua manusia ini.
"Aku cukup kaget karena sekarang jarang sekali orang mengunjungi kuil ini," celotehnya sambil membuka lemari dan mengeluarkan dua buah selimut tebal dari rak atas. "Anak muda sekarang tentu lebih memilih gereja, iya kan?"
"Ya?" Jongin nyaris tersedak ketika menyeruput tehnya. Ia menatap Kyungsoo yang menunjukkan wajah sama tidak mengertinya dengan omongan tidak jelas juntrungannya kakek itu. Dahinya sama berkerut bingung.
Kakek itu terkekeh lagi, hampir setiap waktu. "Jadi, katakan padaku, apa yang membawa kalian kemari? Apakah konsep sederhana dan mengembangkan budaya Hanguk? Atau… apa kalian sedang kabur karena tidak mendapat restu?"
"HAH?!"
Bergantian kakek itu yang mulai menatap mereka heran.
"Kalian kesini untuk menikah 'kan?"
'ㅅ'
A/N: Update duluan karena besok mau sibuk lomba Agustusan, wkwk.
