05. Malam Pertama

.

.

.

"Malam pertama?"

Baekhyun bergidik. Ia sudah puluhan kali bertanya pada cermin di hadapannya dan tidak menemukan jawaban apa-apa. Wajah di pantulan sana sama takutnya dengan apa yang ia rasakan sekarang. Obrolan yang ia lakukan dengan Yoora tadi benar-benar berhasil membuatnya migrain. Yoora mengatakan bahwa ia sudah menyediakan di dalam lemari kamar pengantin Baekhyun, gaun yang cantik dan layak. Layak? Baekhyun telah membongkarnya lemarinya sendiri dan dia bilang pakaian keterlaluan tipis nyaris transparan itu layak? Pakaian-pakaian itu tidak bisa menyembunyikan apa-apa!

Astaga! Astaga! Baekhyun menyalakan keran wastafel, mencuci wajahnya buru-buru untuk ke sekian kalinya, berharap dengan begitu otaknya bisa berpikir lebih jernih. Padahal tidak. Semua tambah kalut saja terutama ketika ia melihat jam dinding yang terpajang di pojok toilet dan menyadarkannya bahwa sekarang sudah nyaris pukul sepuluh malam. Sementara, ia nyaris tidak pernah tidur lewat dari jam sembilan. Matanya terlalu manja untuk mentolerir itu. Sekarang ia otomatis menguap, matanya menegrjap-ngerjap, mencuci wajah dengan air segar sedikit membantu tapi tidak banyak.

"Apa yang harus kulakukan? Apa aku akan tidur di toilet?" gumamnya putus asa.

Ia berjalan pelan—sangat pelan sampai tidak menimbulkan bunyi apapun di lantai—ke arah pintu toilet dan menempelkan telinganya di sana, coba menguping apa yang sedang Chanyeol lakukan. Tidak ada suara apa-apa. Baekhyun menghela napas, memutuskan untuk mengintip lewat lubang kunci. Lagi-lagi, tidak ada apa-apa selain kasur bertabur bunga yang rapi. Lalu kemana Chanyeol?

Mendadak Baekhyun merasa harus panik saat lubang kunci tempatnya mengintip berubah gelap total. Ia belum sempat membuat persiapan apa-apa bahkan untuk berdiri dengan benar saat sekonyong-konyong pintu itu terbuka dan Chanyeol berdiri persis di hadapannya. Ia meneguk ludah payah tapi belum berhasil bergerak. Masih dalam posisi itu, membungkuk pada Chanyeol, Baekhyun menatap marmer lantai dalam-dalam, berharap mereka bisa menyelamatkannya. Ia takut sekali menatap Chanyeol sekarang.

"Apa yang kau lakukan? Bangunlah, pabo~ya!"

"Ak-Aku ... Ah, aku hanya sedang melihat-lihat. Ubin kamar mandi di sini bagus, ya! Jadi ingin tidur di sini saja!"

Ketika ia memberanikan diri mendongak, Chanyeol masih di sana. Tidak tampak terpengaruh.

"K-kau ... mau tidur di sini juga?"

Sebagai jawaban, Chanyeol maju selangkah, lalu menarik bagian belakang jubah mandi Baekhyun, membuat gadis itu terseret-seret kembali ke kamar.

"Hyaaaaa! Hentikan, pabo-ssi!" jeritnya tidak sadar sambil memeluk kaki Chanyeol, cara yang ampuh untuk menghentikan langkah pria tidak berperasaan itu. Huh, sembarangan sekali seenak jidatnya menyeret orang dengan cara begitu!

Chanyeol berbalik tepat saat Baekhyun berhasil menegakkan tubuhnya yang tidak tinggi, membuat Chanyeol harus merendahkan pandangan untuk bisa menatap tepat gadis itu di manik matanya. "Apa? Kau panggil aku tadi apa? Pabo-ya!"

"Pabo-ssi!" Gadis itu tak kalah sengit, meski wajahnya tidak mendukung sama sekali. Matanya yang kecil dibulatkan dan bibirnya yang mengingatkan Chanyeol pada anak anjing mengerucut lucu. Hanya membuat Chanyeol ingin tertawa geli sampai bergulingan.

Tapi ia menahan sebisanya. Tatap membunuhnya tetap semengerikan yang orang bilang. Dan ia tidak segan-segan saat menarik gadis itu, menaikkannya dalam posisi terbalik ke punggungnya, mengambil langkah-langkah lebar lalu segera menghempaskan gadis itu ke kasurnya, kasur mereka.

Sejenak ia menikmati aroma fressia dan mawar yang bertaburan dimana-mana, nyaris di setiap sudut ruangan dan paling banyak di kasur itu. Tidak ada neon atau penerangan modern, bukan karena ibunya tidak bayar listrik, tapi mungkin sengaja dimatikan dan mereka hanya berbekal penerangan oleh banyak sekali lilin bersusun di sekitar. Mau membuat kebakaran ya?! Chanyeol mendengus sebal, merasa perlakuan ini begitu norak dan membuatnya mual. Pasti kerjaan trio cecunguk itu! Siapa lagi kalau bukan si cerewet Yoora, si setan kecil Sejeong dan si kepala besar aneh Yesung. Chanyeol berjanji akan membuat perhitungan dengan tiga manusia itu setelah ini.

Di lain sisi Chanyeol tidak bisa mengabaikan fakta bahwa ia menyukai ini, sedikit. Terlebih ketika melihat gadis itu panik dan cepat-cepat menutupi kaki bagian atasnya yang tersingkap. Dia pikir aku akan apa? Dia pikir aku monster?! umpatnya dalam hati.

Ah, sekalian saja ia kerjai.

"Kau sekarang istriku, jadi sebaiknya belajarlah menemani suami, hm?" Chanyeol menyeringai, tatapannya seperti maniak.

Baekhyun dapat merasakan tubuhnya turut berguncang saat kasur yang ia duduki kini ditimpa berat badan Chanyeol. Pria itu mencoba bergerak mendekatinya, merangkak, berada di atas tubuhnya. Chanyeol baru berhenti ketika sudah dalam posisi paing dekat yang memungkinkan. Bahkan napasnya yang berbau mint terasa kental saat pria itu semakin memperpendek jarak di antara wajah mereka.

Baekhyun memejamkan mata, tegang. Tubuhnya tertarik kebelakang mencoba menghindar, membuat Chanyeol menyeringai senang campur geli atas reaksi itu. Ia memutuskan untuk mencoba bermain-main sebentar. Menghembuskan napas hangatnya dengan sengaja di ceruk leher Baekhyun.

Dan sebelum Baekhyun pingsan di tempat, tangannya meraih dua benda hitam dari atas meja nakas di samping Baekhyun, melemparkannya ke pangkuan gadis itu.

"Temani aku bermain game! Seharian ini tadi melelahkan sekali!"

"G-game?"

''

"Dasar pria tua!"

Jongin mengulum senyum simpulnya ketika memperhatikan Kyungsoo yang sibuk menendang-nendang kerikil di sebuah jalan berbatuan konglomerat menuju kuil. Gadis itu merajuk sejak sore tadi dan belum mau kembali ke rumah kakek Yoo. Yah, apalagi kalau bukan pria tua itu yang terus meledeknya untuk menikah dengan makhluk bernama Kim Jongin itu. Yang benar saja! Memikirkan kemungkinan itu saja Kyungsoo sudah menolaknya mentah-mentah.

"Soo-ya! Kau mau sampai kapan berdiri di situ? Masuklah!"

Gadis itu berbalik, menatap Jongin dengan pandangan 'siapa-kau?' yang sadis sebelum akhirnya kembali menatap kesal pada kerikil di depannya.

Jongin menghampiri gadis itu, menarik tangannya. Gadis itu sempat memberontak namun tidak berbuat banyak ketika menyadari Jongin membawanya masuk ke dalam kuil selain memberi tatap membunuh lewat mata besarnya.

"Apa yang mau kau lakukan?"

Pria itu berlutut, memasang sikap berdoa. Menggenggam erat tangan Kyungsoo, membuat gadis itu kepayahan saat diam-diam mencoba melepaskan diri.

"Soo-ya, suatu hari nanti, menikahlah denganku."

"Jangan bermimpi, Ajussi!" geramnya.

"Aku mungkin tidak pintar, tidak tampan, tidak sangat kaya, dan berbagai kata tidak lainnya. Tapi setidaknya, aku yakin aku adalah pria yang paling berusaha mencintaimu sebaik mungkin setiap harinya."

Kyungsoo tidak bisa berbuat apa-apa saat pria itu menatapnya dengan pandangan yang menurutnya menjijikkan, tatap yang menurut Jongin adalah tatapan penuh cinta. Apapun itu, yang jelas sekarang Jongin tengah menatapnya lekat dan dia hanya berusaha mengalihkan fokus pada apasaja agar tidak terjebak pada kedalaman mata pria itu. Ia tahu, ada yang tidak beres dengan jantungnya yang sekarang berdebar hebat, dan ia tidak mau mengakuinya.

''

Chanyeol membuka matanya saat matahari yang menembus tirai jendela memantul di atas kelopak matanya, mengadaptasikan diri dengan sekitar lalu menyadari satu hal. Sekarang ia tidak sendiri lagi. Sekarang ada seorang gadis yang tidur di sisinya, bersamanya, dan akan bangun di sisinya pula.

Ia ingin menggeliat tapi menyadari Baekhyun yang masih bergelung di dadanya, menjadikan lengan atasnya sebagai bantal dan perutnya sebagai guling dengan mata terpejam rapat yang nyaman sekali, ia berpikir ulang dan mengurungkan niat itu.

Seingatnya, ketika gadis itu tampak tidak kuat melawan kantuk dan menolak melanjutkan permainan level berikutnya, gadis itu memilih pojok kasur paling ujung, sangat ujung sampai nyaris Chanyeol beranggapan ia bisa jatuh. Menjauh seolah Chanyeol adalah penderita kusta parah yang patut dihindari dengan jarak minimal dua meter. Yang benar saja! Semua gadis menginginkan berdekatan dengannya. Lalu, ketika bangun, tahu-tahu gadis ini sudah tanpa sadar memeluknya begitu erat. Diam-diam Chanyeol tersenyum tanpa sadar mendapati fakta itu.

Ia menghirup udara, menikmati oksigen yang sekarang bercampur aroma rambut Baekhyun, puncak kepalanya tepat berada di bawah dagu Chanyeol sehingga rasanya mustahil untuk tidak memasukkan aroma vanila ini ke indera penciumannya. Aroma vanila yang manis, yang membuatnya betah menghirup nafas panjang untuk kedua, ketiga dan seterusnya. Sedikit menyesal, kenapa ia tidak bangun lebih pagi agar bisa menghidu aroma manis ini lebih lama?

Tidak sampai semenit, ia sudah bisa merasakan gerakan gadis itu yang menggeliat pelan sambil menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti rengekan anak anjing. Gadis ini akan bangun. Dan ia akan melihatnya membuka mata, gadis itu juga, akan melihatnya sebagai orang pertama saat pertama kali membuka mata. Terdengar… menyenangkan.

"Eomma…," racaunya.

Chanyeol mengernyit, sedikit tertekan.

"Bercanda, ya? Kau mengira aku ibumu?!"

Gadis itu memundurkan tubuhnya sedikit demi menatap Chanyeol, mengerjap lambat, lalu dengan cepat melompat ke belakang dengan wajah takut.

"Aku ini suamimu, semoga ingatanmu cepat kembali," gumam Chanyeol sinis. Memasang wajah setan sebaik mungkin. Tidak, ia tidak mungkin berwajah manis apalagi mesum di depan bocah bodoh ini. Ia tidak ingin harga dirinya diinjak-injak seorang gadis seberbahaya ini.

"I-itu ... maaf…," Baekhyun menatapnya minta maaf, sebentar sebelum menunduk memperhatikan selimut di bawah tubuhnya.

Tidak telanjang. Syukurlah. Baekhyun tanpa sadar mengelus dadanya lega. Pemandangan yang, tentu saja tidak dapat dilewatkan Chanyeol. Semalaman Baekhyun tidur dengan jubah mandinya, menolak memakai satu dari sekian lingerie yang Yoora deretkan di lemari mereka. Tapi, Chanyeol bisa memberikannya pendapat berbeda.

"Tadi malam luar biasa sekali, Sayang," ucapnya lembut, menyentuh rambut Baekhyun dengan jari-jarinya.

Detik itu juga Baekhyun membeku. Chanyeol merapatkan bibir, menahan keras gelak agar tidak keluar dan merusak mainan barunya.

"A-apa maksudmu?"

"Apa maksudku? Ayolah. Tadi malam kau sangat," Chanyeol memberi jeda, seolah ia kehilangan kata untuk mendeskripsikannya. Tangannya bergerak-gerak berusaha menjelaskan. "Kau sangat ... liar."

Kedua mata bulat itu nyaris meninggalkan rongganya sekarang. Di detik yang sama, Chanyeol tidak dapat lagi menahan diri. Ia tertawa keras sekali sambil memukul-mukul kasur.

"Ya ampun! Kau polos sekali! Hahahaha!"

Di depannya, Baekhyun mencebik hebat. "Jadi kau mengerjaiku?! Jadi tadi itu hanya bohongan?!"

Perlu dua menit penuh bagi Chanyeol untuk reda dari tawanya. Senyum miring masih tertinggal di bibirnya ketika sekali lagi, ia mendekatkan wajah pada Baekhyun.

"Kenapa? Kecewa, ya? Tadi itu hanya sungguhan?" Jemari Chanyeol menyentuh pipinya. Pelan. Sangat pelan. Sementara bibirnya bergerak mendekati telinga Baekhyun. Gadis itu bergidik. "Kita bisa membuatnya jadi kenyataan sekarang, kalau kau mau," bisiknya.

"Y-yah! Dasar mesum!"

"Memangnya apa yang sedang kau pikirkan?" Chanyeol menarik diri, mengulum senyum terhibur. "Aku atau kau yang mesum, hm?"

Wajah Baekhyun telah memerah hebat sekarang. Cantik. Chanyeol suka. Mulai hari ini, menggoda Baekhyun akan jadi hobi barunya. Chanyeol mengangkat telunjuknya yang panjang dan menggunakan itu untuk menyentil kening Baekhyun.

"Buatkan aku sarapan," pintanya.

Pria itu tersenyum janggal lagi saat beranjak menuju kamar mandi. Entah apa yang lucu dari ide itu, ia hanya merasa… pasti menyenangkan dibuatkan sarapan khusus oleh orang yang sekareng menjadi milikmu, atau lebih tepat istrimu. Maka ia tidak lagi bisa menahan sneyumnya saat pintu kamar mandi ditutup, saat ia baru saja menyadari ada dua sikat gigi di sana, berdampingan dalam sebuah wadah. Dan ada dua handuk kecil, biru dan pink, berdampingan juga.

''

"Bagaimana malam kalian? Menyenangkan?"

Baekhyun tersedak. Chanyeol bersyukur karena ia baru saja menelan sarapannya. Sarapan yang mendadak sangat dinikmatinya menyadari istrinya berperan banyak dalam membuat ini. Tidak peduli enak tidaknya, ia merasa buta dengan rasa, bahkan jika gadis itu hanya memberinya kobokan, mungkin ia akan tetap meminumnya dengan girang.

Kembali pada topik, Sejeong mendelik pada Yesung yang menutup telinganya lagi. Sisanya, tuan Park dan istrinya serta anaknya yang paling tua, Park Yoora, serta Kim Ryeowook yang sibuk mengambil sesuatu di dapur otomatis tersenyum-senyum.

Chanyeol melirik gadis yang dari kemarin sudah resmi menjadi istrinya itu, ada rona merah yang kental di pipi gadis itu meski dari tadi ia menunduk dan mengacak-acak sarapannya. Selera makannya yang tadinya cukup bagus sekarang menurun tajam, gadis itu sekarang malah sibuk mengigiti bibirnya sendiri. Dia tidak bermaksud menumbalkan diri sendiri sebagai sarapan, kan?

Chanyeol menelan ludahnya menanggapi pandangan menggoda semua orang dirumahnya. Astaga, kenapa orang di rumah ini selain jago bergosip juga mesum? Ia berdeham. Bersumpah dan membeberkan fakta sebenarnya bahwa tidak ada hal menghebohkan apapun yang terjadi semalam hanya akan membuat semua orang menertawakannya dan mengeleng tidak percaya. Bagaimanapun dia adalah Chanyeol Loey Park yang tampan, kaya dan seksi.

"Tidurku nyenyak," jawabnya mencoba acuh.

Keluarga itu masih saja tersenyum-senyum.

"Tapi, tadi malam, jam dua pagi saat aku mencari air putih ke dapur, aku mendengar suara berisik di kamarmu," celetuk Yoora.

Chanyeol mengerang pelan. Astaga! Tentu saja karena tadi malam ia bermain game dengan Baekhyun sampai dini hari. Chanyeol cukup tersentuh dengan Baekhyun yang bersedia menemaninya dan kaget bahwa gadis itu cukup pandai bermain.

"Lihatlah, kantung mata kalian berdua sudah membuktikan semuanya," tambah Youngmi girang.

"Kami hanya main game."

"Nah kan! Akhirnya kau mengakuinya!" kali ini Yesung yang bahkan melompat dari kursinya karena terlalu bersemangat sambil masih saja menutupi telinga Sejeong, gadis itu masih meronta minta dilepaskan. "Wow, apakah semacam truth or dare yang seksi, atau monopoli dengan hukuman striptease, atau─"

"YAK! Ini tidak seperti yang kalian pikirkan!" sekarang Chanyeol bahkan sudah mengacak rambutnya karena frustasi. Tidak disangka-sangka ternyata keluarganya semuanya berpikiran sekotor itu. Dan Baekhyun yang memerah hebat tanpa mengatakan apa-apa semakin membuatnya frustrasi.

"Harusnya aku mengikuti jejak Jongin untuk keluar secepatnya dari rumah ini," gumamnya secara jelas, bermaksud menyindir yang bisa dikatakan gagal karena satu keluarga itu hanya tertawa-tawa senang saja.

Yoora menggamit lengan Chanyeol sambil mengerling kecil. "Tidak usah terlalu terburu-buru begitu. Kami mengerti kok bahwa kau sekarang hanya ingin tinggal berdua saja, makanya kami sudah menyiapkannya untuk kalian," ujarnya antusias, menggantung kalimat akhirnya agar Chanyeol penasaran. Dipikirnya pria itu sangat tidak sabar untuk berduaan saja dengan Baekhyun. Dan kenyataan itu menohok Chanyeol dalam-dalam, yang bisa ia lakukan kemudian hanya berusaha secuek dan setidak-berminat mungkin.

Yoora berpandangan kompak dengan Youngmi, ibunya, dan keduanya saling mengangguk dalam kepahaman. Youngmi merogoh kantungnya, mengeluarkan sesuatu dan menaruhnya di atas meja, menggesernya hingga sampai di depan Chanyeol.

"Ini… tiket bulan madu untuk kalian. Kami sudah menyuruh orang untuk menyediakan villa kita yang berada di sana. Kau tahu? Dulu ayah dan ibu juga berbulan madu di sana. Itu tempat paling romantis di dunia," tutur wanita itu hangat, sepertinya mengenang kembali moment-moment ketika ia menjadi pengantin baru tuan Park.

"Semoga bulan madu kalian juga menyenangkan!" senyumnya lebar.

Baekhyun menoleh cepat untuk menatapnya, dan kali ini, Chanyeol benar-benar tersedak.

.

.

.

A/N: Maaf guys aku nggak bikin NC. Nggak sanggup sama tanggung jawabnya. Berat!