Pagi hari selalu menjadi waktu yang sibuk di Seoul. Orang-orang memenuhi jalan dan berharap agar bisa segera sampai ke tujuan masing-masing. Tidak jauh berbeda dengan Tae Hyung yang tampak antusias memulai harinya, sisa pesta semalam masih memenuhi aliran darahnya.

Sneaker kesayangannya bergesekan dengan lantai marmer kotor yang dingin menimbulkan suara decitan yang terasa menyenangkan. Sepanjang perjalanan menuju ruangannya lelaki itu tak hentinya menyunggingkan senyuman khasnya. Hei, ia baru saja menyelesaikan salah satu tender penting dengan perusahaan besar bersama rekan terbaiknya dan mendapatkan banyak pujian dari atasannya, tidak ada alasan untuk memasang wajah masam di hari yang cerah seperti ini.

"Pagi, Sweetcheeks."

Erangan malas menjadi balasan sapaan manis Tae Hyung begitu ia sampai di ruangan yang ditempatinya bersama rekannya.

"Berhenti memanggilku dengan pet-name anehmu, Tae. Itu menjijikkan."

"Apa yang terjadi padamu?" Tae Hyung mengabaikan ucapan sebelumnya. "Ahh, efek mabuk semalam, eh? Don't blame me, I've warned you." Lanjutnya.

Tae Hyung memperhatikan penampilan temannya yang agak berantakan. Ada lingkaran hitam di sekitar kantung matanya, surai hitamnya tampak acak seolah tidak disisir sama sekali. Tae Hyung menghela napas sebelum meletakkan tasnya di atas meja dan beranjak keluar. Kurang dari sepuluh menit kemudian Tae Hyung kembali dengan kedua tangan menggenggam dua gelas kopi yang masih mengepulkan asap. Aromanya tampak menarik perhatian rekannya karena dalam sekejap ia langsung mengangkat kepalanya yang sebelumnya tenggelam diantara lengannya di atas meja.

"Kau memang yang terbaik. Thanks, mate."

Tae Hyung hanya memutar bola mata ketika rekannya meraih salah satu gelas kopi di tangannya. Ia bahkan belum mengatakan apapun, namun sepertinya itu tidak perlu karena rekannya bahkan sudah sibuk memasukkan sedikit demi sedikit cairan gelap itu ke dalam tenggorokannya.

"Setidaknya tunggu sampai aku menawarkannya sebelum kau meneguknya, Sialan."

Makian Tae Hyung dibalas dengan cengiran lebar.

"Untuk apa? Dari aromanya aku sudah tahu jika kau membelinya untukku. Kau tidak suka meminum kopi pahit, Tae." Ucapnya retoris seolah itu adalah hal paling wajar di dunia.

Tae Hyung mendengus, memutuskan dalam hati bahwa melihat layar komputernya yang perlahan mulai menyala jauh lebih baik dibandingkan dengan senyuman lebar sosok di sebelahnya.

"Aku membencimu dan hidungmu yang kelewat sensitif itu."

Jeon Jung Kook kemudian tertawa. Suaranya terdengar kekanakan dan memantul di dinding yang mengurung mereka. Namun tawa itu berubah menjadi desahan lelah yang membuat fokus Tae Hyung kembali padanya.

"Kau butuh istirahat, Man."

Jung Kook mengangguk mengiyakan. "Benar. Andai saja ada yang bisa menggantikanku di kantor aku akan dengan senang hati hibernasi selama sepuluh hari."

Tae Hyung memilih mengabaikan kenginannya untuk memberitahu Jung Kook bahwa hewan tidak melakukan hibernasi pada musim panas, namun karena sahabatnya sejak kuliah itu bukanlah beruang maka Tae Hyung tidak mengatakannya.

Ia tidak akan menyalahkan Jung Kook yang terlihat seperti zombie karena memang proyek kemarin hampir menyita seluruh waktu mereka. Menjelang selesainya pembangunan tender yang mereka menangkan dua bulan lalu membuat keduanya hanya bisa tidur sepuluh jam dalam seminggu. Semalam ia menghadiri pesta peresmian rumah sakit tersebut dan sepertinya efek kurang tidur dan stres kemarin akhirnya menyerang.

Mendadak sebuah gagasan terlintas di kepala Tae Hyung.

"Aku punya ide." Ujar Tae Hyung setelah terdiam beberapa saat.

"Jika kau berniat mengajakku ke nightclub di pinggir kota lagi, maaf, dengan senang hati aku menolak."

"Ck, aniya." Tae Hyung menyahut cepat seraya menggerakkan tangannya. "Memangnya kenapa? Bukankah aku memberikanmu tangkapan yang bagus? Kau bilang bokongnya seksi." Lanjutnya dengan kedua alis bergerak naik-turun.

"Ya, perempuan itu cantik, seksi, dan juga masokis." Jung Kook melempar tatapan membunuh ke arah Tae Hyung. "Dia suka disiksa lebih dulu sebelum bercinta. Dia memintaku mencambuknya, Tae!"

Dan tawa Tae Hyung lepas saat itu juga. Benaknya kembali mengulang kejadian ketika Jung Kook datang ke apartemennya pukul dua pagi dengan wajah pucat dan penuh keringat. Ia mengaduh karena Jung Kook melempar pulpen tepat mengenai jidatnya.

"Dan kau lari dari tempat perempuan itu. Lari dengan kedua kakimu padahal mobilmu terparkir manis di basement apartemennya." Kenang Tae Hyung ketika sudah bisa mengontrol tawanya. Ia membungkuk untuk memungut pulpen tadi dan memberikannya pada si pemilik.

"Aku mengutukmu dan seluruh silsilah keluargamu, Kim Tae Hyung."

"Oke. Untuk yang satu itu aku minta maaf. Aku tidak tahu Hyejin tipe penyuka seks berdarah." Jung Kook mengernyitkan hidung mendengar nama perempuan itu jadi Tae Hyung segera kembali ke pokok pembicaraan mereka. "Tapi kali ini bukan hal seperti itu yang kumaksud. Tentu saja seks termasuk salah satu cara untuk menyegarkan pikiranmu, dalam psikologi dikatakan bahwa frontal lobe-"

"Tae-"

"-kita tidak bisa berfungsi dengan baik karena tubuh frustasi secara-"

"For the love of God-"

"-seksual sehingga membuatmu tidak bisa mengambil keputusan dengan bi-"

"Ya! Kim Tae Hyung!"

"Eh, ya?"

"Just fucking go to the damn point."

Tae Hyung mengerjap-erjapkan kelopaknya selama beberapa kali dengan wajah blank sebelum akhirnya ingat ide yang hampir hilang di kepalanya barusan.

"Ah, benar juga. Aku hampir lupa. Ahahaha." Jung Kook mengingatkan dirinya sendiri Tae Hyung adalah sahabatnya, karena jika tidak ia bisa berakhir menancapkan ujung pulpen yang masih digenggamnya ke paha lelaki tersebut. "Jadi, ide yang tadi kumaksud adalah, kita pergi liburan."

"Kemana? Dan bagaimana dengan pekerjaan kita?"

"Kita baru saja menyelesaikan proyek besar, jadi aku rasa liburan selama tiga minggu adalah kompensasi yang sepadan. Lagipula kau belum pernah mengambil cuti, bukan?"

Jung Kook mengangguk pelan. Senyum Tae Hyung melebar.

"Nah, tidak ada masalah kalau begitu."

"Baiklah. Kau yang atur semuanya." Mendadak mood Jung Kook membaik, bayangan akan tiga minggu tanpa pekerjaan cukup membuat sebagian penatnya menghilang. "Sekarang katakan, kau berencana liburan kemana?"

"Karena sekarang musim panas, aku sangat merekomendasikan pantai. Kita bisa melihat banyak perempuan berbikini disana."

"Jeju?" Jung Kook menebak-nebak, namun gelengan keras Tae Hyung menggugurkan angannya.

"Biaya penginapan di Jeju terlalu mahal, aku tahu tempat kita bisa menikmati air laut dan tempat gratis secara bersamaan." Papar Tae Hyung dengan wajah berbinar-binar, terlalu silau untuk ukuran Jung Kook. "Segera kemasi barang-barangmu, kita akan bersenang-senang di Busan."

––

Much Ado About You
(I didn't mean to fall in love, I'm sorry)

© Nightingale

Baby, I don't care if you got her in your heart,
all I really care is you wake up in my arms

(Ariana Grande – One Last Time)

––

Pagi yang sama, tempat berbeda.

Detak jantung di kota itu hanya beberapa detik lebih lambat dibandingkan di Seoul. Pagi hari di Busan di mulai dengan membuka jendela ketika terjaga untuk menyambut sang surya. Menikmati secangkir kopi hangat buatan rumah dengan iringan suara debur ombak dari kejauhan. Pantai selalu menjadi daya tarik Busan, suatu kemewahan sederhana yang tidak akan bisa ditemukan di pusat keramaian seperti Seoul. Itu adalah salah satu alasan mengapa Seok Jin lebih menyukai tinggal di kota asalnya ketimbang hidup bersama adiknya di Seoul sana. Ia sama sekali tidak merasa iri dengan segala gemerlap yang dimiliki sang adik karena ia memiliki segala hal yang diinginkannya disini.

Jam menunjukkan pukul sembilan pagi dan ia sedang membuatkan segelas Latte untuk pelanggan kelimanya pagi ini ketika pintu kaca kafe terbuka, suara feminin yang sudah sangat familiar menyapa telinganya.

"Pagi, Oppa!"

Sapaan itu menarik perhatian hampir seluruh penghuni kafe, termasuk pemuda kurus yang sedang menunggu pesanannya selesai.

"Kau berisik seperti biasa." Ujar Seok Jin begitu si pemuda kurus menyingkir dan diganti dengan senyuman ceria seorang gadis dengan surai ikal yang dikuncir, hidung mungil, dan headphone tergantung di leher. Rambutnya tampak diikat secara asal namun justru membuat kecantikannya terlihat alami.

"Tidak ada kelas pagi ini?" Seok Jin bertanya sembari meracik kopi untuk gadis di hadapannya.

Lalisa, gadis berdarah Thailand adalah mahasiswa tahun ketiga jurusan sastra yang sudah menjadi pelanggan tetap di kafe Seok Jin sejak hari pertamanya menjadi mahasiswa. Mereka menjadi akrab karena memiliki lingkaran pertemanan yang sama. Senior Lalisa –atau lebih sering dipangil Lisa- merupakan anak dari pemilik rumah yang Seok Jin tempati sejak lima tahun terakhir.

"Ugh. Ada, dan akan dimulai sekitar- setengah jam lagi."

Yang lebih tua terkekeh. "Jangan memasang wajah cemberut seperti itu, kau akan merindukan masa-masa kuliahmu begitu kau bekerja."

"Ini masih pagi, Oppa, tolong jangan ceramahi aku dengan tanggung-jawab dan segala tetek bengeknya."

"Ck, dasar anak muda jaman sekarang."

"Can I get my coffee, please?"

"Alright, you little witch."

Lisa memeletkan lidahnya ke arah Seok Jin lalu mundur secepatnya melihat tangan lelaki tersebut terulur hendak melakukan sesuatu padanya. "Jimin-oppa selalu memanggilku Angel." Ucapnya sambil terkikik.

Seok Jin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia memiliki semacam soft spot untuknya dan Lisa tahu itu (pada dasarnya Seok Jin memiliki soft spot untuk seluruh orang-orang di dekatnya karena diantara mereka semuanya dia adalah yang paling tua). Ia tidak pernah bisa benar-benar marah pada mereka.

"Omong-omong, mana dia?" Lisa mengedarkan pandang ke seluruh ruangan.

"Itu dia." Ujar Seok Jin dengan dagu terarah ke pintu masuk tepat ketika suara denting halus kembali terdengar.

Senyum Lisa terkembang. "Pagi, Oppa."

Jimin menghampiri Lisa yang kembali berdiri di depan Seok Jin. Gelas kopinya ia letakkan di konter dingin di antara mereka.

"Pagi, Lisa. Pagi juga, Hyung."

"Pagi juga, Sleepyhead."

Jimin terkekeh. Ia menyisir rammbutnya dengan jari sementara tangan yang satunya lagi menahan ransel di pundaknya agar tidak melorot.

"Kau berencana akan disini seharian lagi?" Tanya Seok Jin.

Jimin meraih Americano kesukaannya seraya mengangguk. "Aku harus segera mengeluarkannya sebelum idenya menghilang."

Seok Jin mendengus. "Kau butuh sedikit santai Jimin-ah. Bukankah kau bebas sampai musim gugur nanti? Naskahmu yang kemarin bahkan belum di terbitkan dan kau sudah membuat cerita baru lagi."

"It's okay, Hyung. This is my job."

"But you're overwork. Berapa jam tidur yang kau dapat semalam?"

Tiga… atau empat. "Lima jam. Kau terlalu khawatir, Hyung. Tenang saja."

Jimin sadar dirinya adalah pembohong yang buruk, bagaimana mungkin Seok Jin atau Lisa bisa percaya jika dirinya saja tidak bisa ia yakinkan?

"Astaga, aku hampir terlambat." Atensi Seok Jin teralih ke Lisa dan Jimin langsung menghembuskan napas lega. "Oppas, I gotta go. See ya!"

Jimin membalas lambaian tangan Lisa, tersenyum melihat tingkah lucu gadis tersebut. Ia bergegas meraih kopinya sendiri sebelum Seok Jin kembali menceramahinya tentang pekerjaan dan menuju meja di pojok kafe yang menjadi spot favoritnya. Meja itu terasa hangat oleh sinar matahari yang merayap melalui dinding kaca di sebelah kanannya. Dengan hati-hati ia mengeluarkan laptop dari ranselnya dan meletakkan benda pipih tersebut di atas meja. Ranselnya Jimin letakkan di kaki meja.

Sambil menunggu proses loading selesai, Jimin meneguk cairan kental itu dengan khidmat. Hal yang paling disukai Jimin dari kafe Seok Jin adalah lokasinya yang berada tepat di sudut perempatan jalan. Dindingnya yang terbuat dari kaca membuat pengunjung dapat melihat para pengguna jalan yang tak hentinya silih berganti. Meski begitu keadaan gaduh diluar sama sekali tidak menyentuh bagian dalam kafe, jadi Jimin bisa menikmati suasana metropolitan Busan tanpa harus menjadi bagian di dalamnya. Letak kafe itu sendiri tidak jauh dari Busan Art College, mantan kampus Jimin dan tempat Lisa menuntut ilmu saat ini. Tidak heran jika sebagian besar pengunjung kafe tersebut adalah mahasiswa.

Suara ribut yang datang dari pintu menarik perhatian Jimin, detik berikutnya ia terkekeh melihat seorang laki-laki lari terbirit-birit memasuki kafe. Ia memperhatikan bagaimana Seok Jin berdiri di depan kasir dengan kedua tangan menyilang di dada dan raut wajah tidak senang.

"Apa alasannya kali ini?" Tanya Jimin pada Seok Jin yang datang dengan dua piring muffin di tangannya.

"Dia terlambat bangun karena mengerjakan paper-nya hingga pukul tiga dini hari." Jawaban Seok Jin lebih terdengar seperti gerutuan dan Jimin mengangguk maklum.

"Dia masih mahasiswa, Hyung. Jangan terlalu keras padanya." Saran Jimin.

Seok Jin memutar bola mata jengah. "Dua hari yang lalu dia juga terlambat meski malam sebelumnya dia tidak begadang sama sekali. Pada dasarnya Minjae memang tidak bisa bangun pagi, Jimin-ah. Dan aku bingung kenapa aku masih mempekerjakannya sampai sekarang."

"Itu karena Hyung adalah orang baik. Dan aku tahu kau menyayangi Minjae seperti adikmu sendiri."

"Memecatnya tidak akan membuatku berhenti sayang padanya."

Kali ini justru giliran Jimin yang memutar bola mata. "Terserah katamu, Hyung."

"Oh ya, tadi adikku menelepon." Mendadak Seok Jin mengganti topik pembicaraan mereka.

"Yang di Seoul? Apa katanya?" Tanya Jimin tanpa mengalihkan pandang dari muffin cokelatnya.

"Dia ingin berlibur disini bersama temannya." Kali ini Jimin mengangkat wajahnya dan menatap yang lebih tua. "Apakah kira-kira Bibi akan keberatan jika mereka tinggal di bersama kita?"

Jimin menggeleng ringan. "Kamar di sebelah punyaku kosong, kita tinggal mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam dan membersihkannya."

"Kau yakin?" Tanya Seok Jin ragu, namun buru-buru menambahkan melihat ekspresi bingung yang lebih muda. "Jangan menatapku seperti itu, aku tidak mempertanyakan ketulusan Bibi, hanya saja- hm, bagaimana cara menjelaskannya? Adikku sedikit berisik dan aneh, aku hanya khawatir anak itu menimbulkan masalah disini."

"Kau mengatakannya seolah kau sendiri tidak aneh dan berisik, Hyung."

"Ya!"

Seok Jin hampir melempar sendok plastik yang dipakainya sedangkan tawa Jimin langsung meledak, terlihat begitu senang karena berhasil menggoda hyung-nya. Suara tawanya terdengar renyah dan sangat cocok dengan cuaca musim panas yang cerah.

"Aish, kalian semua sama saja. Aku lebih tua, setidaknya tunjukkan sedikit hormat padaku."

Tawa Jimin berubah menjadi kikikan pelan. Seok Jin yang melihat tersebut mau tidak mau akhirnya ikut tersenyum juga. Ia sebenarnya ingin tetap marah, namun senyum Jimin membuatnya sulit berpura-pura. Matanya memindai penampilan Jimin dalam sedetik, dengan kaos polos dan sweater tipis serta jeans dan sneaker, lelaki itu lebih terlihat seperti mahasiswa di awal dua puluhan ketimbang novelis berbakat dengan buku-buku yang sudah terjual banyak.

Seok Jin sering berpikir mungkin Jimin adalah perwujudan dewa matahari. Pribadinya selalu ramah, ceria, dan sangat mudah tersenyum. Hanya Jimin yang tertawa ketika Seok Jin mengeluarkan lelucon garing yang menurut teman-teman mereka terlalu tua untuk seusia mereka. Orang-orang di sekitar mereka selalu menyukai pribadi Jimin, namun Seok Jin lebih dari tahu ada berapa banyak luka yang tersembunyi dibalik senyum memukau tersebut.

"Tadi Hyung bilang 'teman-teman'? Ada berapa orang?"

Pertanyaan Jimin menarik Seok Jin dari lamunannya. "Ah? Mmm, kalau tidak salah dia bilang akan bersama dua orang. Teman kerja, mungkin."

Jimin mengangguk-angguk. Dalam hati merasa was-was sekaligus bersemangat. Seok Jin sering bercerita tentang adiknya yang bekerja di Seoul, namun ini pertama kalinya adik Seok Jin berniat datang. Biasanya Seok Jin yang akan ke Seoul karena pekerjaan adiknya membuatnya tidak memiliki banyak kesempatan mengunjungi Seok Jin di Busan. Jimin hanya berharap si adik ini memiliki hati sebaik kakaknya. Seolah dapat membaca pikiran Jimin, yang lebih tua meraih tangan Jimin dan meremasnya lembut.

"Tenang saja, adikku orang yang baik. Lagi pula kalian seumuran, jadi aku yakin kalian bisa akrab. Aku bahkan berani bertaruh, Tae Hyung akan langsung jatuh hati padamu."

Kalimat Seok Jin berhasil menghapus kernyitan di kening Jimin, namun dalam hati ia berharap agar hal itu tidak sampai terjadi.

Ode to a Nightingale

Lisa bergegas memasukkan barang-barangnya ke dalam tas begitu kelasnya selesai. Ia mengecek jam di ponselnya, masih ada sekitar tiga jam sebelum kelasnya yang terakhir dimulai. Tanpa banyak pikir ia segera membawa langkahnya menuju tempat parkir yang berda tepat sayap kiri gedung fakultasnya.

"Lisa!"

Langkah Lisa terhenti mendengar suara yang amiliar memanggilnya dan menemukan Seok Jin yang berdiri dengana punggung bersandar ke Mini Cooper kesayangannya. Lelaki itu mengenakan kaos merah muda pucat yang dilapisi kemeja putih dengan motif kotak-kotak abu-abu. Bawahannya adalah ripped jeans biru pudar dan Coverse yang juga berwarna abu-abu. Sekilas Seok Jin tampak seperti salah satu senior Lisa yang dalam tahap pengurusan skripsi, bukannya pemilik kafe yang menjadi langganan mahasiswa BAC.

"Hyung? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Lisa begitu keduanya berhadapan.

"Menjemputmu. Kau mau ke kafe kan?"

Lisa mengangkat alis, tidak membeli ucapan Seok Jin begitu saja namun pada akhirnya mengangguk.

"Dan juga menunggu adikku yang sebentar lagi sampai."

Sudah kuduga. Gadis tersebut menggumam dalam hati. Sebelumnya Jimin sudah memberitahunya tentang kedatangan adik Seok Jin yang katanya akan berlibur selama tiga minggu di Busan. Lisa tahu dirinya bukan dongsaeng kesayangan Seok Jin karena ia terlalu sering membuat lelaki itu kesal.

"Kalau begitu aku duluan ke kafe saja, disana ada Minjae-hyung bukan?"

"Kenapa buru-buru? Temani aku disini dan kita ke kafe bersama."

"Tapi aku malas-"

"HYUNG!"

Keduanya menoleh bersamaan ke sumber suara. Sebuah mobil melaju dengan lambat ke arah mereka. Jendela di sebelah kursi penumpang menampilkan sesosok pemuda yang melambai penuh semangat. Seok Jin balas melambai namun dengan gaya yang lebih kasual, meski begitu ia tidak menutupi senyum lebar yang terbentuk di wajahnya. Mobil tersebut berhenti tepat di sebelah Mini Cooper milik Seok Jin dan detik selanjutnya laki-laki tadi langsung berlari ke arah Seok Jin untuk memeluknya.

"Miss you, Hyung." Lisa mendengar bisikan pemuda yang kini Lisa yakini sebagai adik Seok Jin di telinga sang kakak sebelum melepas pelukannya. Tinggi keduanya hampir sama namun Seok Jin sedikit lebih berisi ketimbang adiknya.

Ia terlalu fokus mendengarkan percakapan sepasang saudara tersebut (Kau semakin kurus, Tae. Kenapa kau tidak memperhatikan pola makanmu, hm? – Hyung, aku baru saja sampai, aku lelah. Jangan marahi aku dulu, oke?) sehingga tidak menyadari sosok lain yang berdiri di belakang Tae Hyung.

"Ah, hampir lupa. Kook, kemarilah, kenalkan ini Seok Jin-hyung. Hyung, ini Jung Kook, temanku yang sering kuceritakan."

Dan saat itulah Lisa akhirnya membawa pandangannya ke sosok tersebut. Hanya satu kedipan dan Lisa menemukan dirinya tidak bisa berpaling. Sedikit lebih tinggi dari Tae hyung, surai gelap, garis rahang tajam, bibir tipis dengan bentuk yang menarik, dan oh, matanya, Lisa belum pernah melihat mata yang sangat gelap sekaligus menyilaukan disaat yang bersamaan.

"Senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan Anda, Seok Jin-ssi." Jung Kook membungkuk sekilas dengan seulas senyum yang mampu membuat lutut Lisa melemah.

Seok Jin terkekeh. "Cukup Jin-hyung saja, teman Taetae berarti temanku juga." Jeda sejenak sebelum Seok Jin tampak menyadari sesuatu. "Ohya, kenalkan, ini Lisa, pelanggan nomor satu K2."

Ketika mata Jung Kook terarah padanya, Lisa tahu setelah ini hidupnya tidak akan sama lagi.

Ode to a Nightingale

"Berhenti bekerja seperti robot, Park Jimin. Aku bahkan belum selesai dengan naskah TMBMIL part 2."

Min Yoongi, berusia 27 tahun, tiga tahun terakhir bekerja sebagai editor di sebuah perusahaan penerbitan buku yang terkenal. Ia adalah editor semua karya-karya Jimin sejak lelaki tersebut menyelesaikan naskah pertamanya. Kemampuan menulis Jimin yang digabung dengan pengalaman editing Yoongi membuat novel debut Jimin sukses di pasaran. Entah karena kebetulan atau keberuntungan, sejak saat itu Yoongi menjadi satu-satunya editor yang menangani semua naskah hasil karya Jimin.

"Empat-ratus-lima-puluh-dua halaman, Jim." Ujar Yoongi dengan nada rendah, matanya yang selalu terlihat mengantuk menyorot tajam ke arah lelaki yang duduk di seberangnya. "Aku baru saja selesai merevisi naskahmu sebanyak 452 halaman, semalam kau bilang datang kesini untuk membahas masalah layout, bukannya bertanya mengenai plot yang sesuai untuk draft barumu. Demi Tuhan, aku bukan maniak kerja sepertimu."

Jimin yang duduk di hadapannya hanya memanyunkan bibir melihat wajah kusut Yoongi. Cuaca di luar sana panas namun apartemen editornya selalu meneriakkan kesuraman. Ia mengeluarkan napas panjang sebelum berucap,

"Aku tidak peduli dengan desain layout dan cover-nya, Hyung. Aku percaya seleramu, kau saja yang tentukan dan aku pasti akan menyetujuinya."

"Tapi itu bukan berarti kau sudah harus memulai naskah yang baru, Jimin-ah."

"Tentu saja harus! Begitu proses editing-nya selesai, tak lama lagi pasti naskahnya akan langsung dicetak, dan begitu bagian kedua ini sudah didistribusikan maka aku sudah membuat untuk bagian terakhirnya."

"Tidak ada jaminan naskahmu akan langsung disetujui." Yoongi masih berusaha mendebat.

"Kau tahu itu tidak pernah terjadi, Hyung." Jimin menyahut cepat, ada seringai tipis yang menggantung di sudut bibirnya.

Kembali Yoongi menghela napas lelah, kesal karena tidak bisa memungkiri ucapan yang lebih muda. Jimin memang tidak pernah mengalami masalah dengan pihak penerbit, tidak ada alasan bagi mereka untuk menunda mencetak naskah Jimin. Respon masyarakat terhadap karya-karyanya tidak pernah mengecewakan, bahkan kenyataannya email kantor sering dikunjungi oleh pembaca setia Jimin dan menanyakan kapan si penulis mengeluarkan karya baru. Selama setahun terakhir Yoongi sibuk menggarap novel trilogy milik Jimin. Seri pertama yang berjudul The Most Beautiful Moment in Life: I Need U sukses menuai pujian dari beberapa kritikus dan tentu saja para pembaca. Acara bedah buku yang diadakan penerbit pun berlangsung meriah dan penuh antusias. Dan kini anak itu datang membawa draft untuk seri terakhir bukunya meski Yoongi belum selesai dengan seri keduanya.

"Baiklah, aku tidak akan merecoki Hyung tentang ini untuk sementara waktu." Suara Jimin menarik Yoongi dari lamunannya. Ia menoleh dan melihat Jimin yang terlihat menimbang-menimbang keputusan. "Hyung benar, aku butuh sedikit jeda dari pekerjaanku. Jadi kau bisa menyelesaikan editing-nya tanpa gangguan dan aku akan menikmati waktu semihiatusku."

"Good choice. Naskahmu akan rampung tidak lama lagi dan tenggat waktunya masih ada sebulan lagi, jadi tidak perlu terburu-buru."

Saat itulah keduanya mendengar suara pintu apartemen Yoongi dibuka yang kemudian diikuti dengan suara tap tap tap beberapa saat kemudian.

"Hai, Nam-hyung"

Kim Namjoon, teman seapartemen Yoongi, mendudukkan dirinya di sebelah Jimin. Penampilannya berantakan dengan wajah kusut dan lingkaran hitam yang kentara.

"Rough night?" tanya Jimin.

"Obviously." Sahut Yoongi.

Meski begitu Namjoon tetap mengulaskan senyum tipis. "Apa aku mengganggu diskusi kalian?"

"Ani. Kami hanya mengobrol ringan."

Perbincangan ketiganya pun berlanjut. Namjoon bekerja di sebuah perusahaan swasta yang gajinya tidak sesuai dengan waktu yang ia habiskan di kantor. Menjadi seorang akuntan bukanlah cita-citanya, namun otaknya yang jenius membuatnya bisa memasuki lapangan pekerjaan dengan mudah. Namjoon sedang semangat menceritakan tentang salah satu rekan kerjanya yang kedapatan tidur ketika ponsel Jimin berdering nyaring.

[Oppa, pulang. sekarang.]

Jimin mengernyit mendengar ucapan Lisa. Anak itu bahkan tidak mengucapkan 'halo' lebih dulu. Mendadak perasaan Jimin diliputi cemas. Dibenaknya langsung terbayang adik kecilnya, apakah anak itu membuat masalah lagi?

"Ada apa? Apa yang terjadi?"

[Oh, ahaha, tidak ada hal buruk yang terjadi, Oppa. Semuanya baik-baik saja.]

Kerutan di alis Jimin kembali. Ia bisa merasakan dua pasang mata yang menyorot padanya, jadi ia menoleh ke arah dua temannya seraya menggeleng pelan. Mengutarakan dengan isyarat tidak ada masalah.

"Lalu kenapa kau menyuruhku cepat pulang?"

[Saudara Seok Jin-hyung sudah datang.]

"Oh, lalu?"

[Dia membawa dua teman, dan, ugh, y'know what? They're hot. All of them.]

Sampai disini semua kekhawatiran Jimin lenyap. "You scared the shit out of me, you brat."

Diujung sana Lisa terkikik geli. [Mian, Oppa. Tapi aku serius, tentang kau yang harus pulang sebelum makan malam, Bibi Kyung Soo ingin kita semua makan bersama sebagai sambutan untuk adik Seok Jin-hyung dan teman-temannya.]

"Baiklah. Aku akan cepat pulang."

Dengan itu Jimin memutus sambungan teleponnya. Ia bertemu pandang dengan Yoongi, sebelah alisnya terangkat. "Tidak jadi makan malam disini?"

Jimin mengangguk pelan. "Sepertinya begitu. Aku disuruh cepat pulang."

"Jisoo berbuat ulah lagi?" kali ini Namjoon yang bersuara.

Jimin menggeleng pelan. Ia memasukkan laptopnya ke dalam tas berserta barang-barangnya yang lain. "Tidak. Adik Seok Jin datang berkunjung, dan eomma ingin kami semua makan malam bersama."

Yoongi mengangguk paham. "Baiklah. Sampaikan salamku pada semuanya."

"Oke." Sahut Jimin cepat sebelum menoleh ke arah Namjoon. "Namjoon-hyung, titip salam untuk Jinnie-hyung?"

Yang paling tua diantara mereka mendengus sedangkan Jimin tidak bisa menahan kekehan puas melihat Namjoon mendadak salah tingkah. Orang-orang disekitar mereka mengetahui bagaimana Namjoon menggilai Seok Jin sejak pertama kali mereka bertemu, bahkan Min Jae si pegawai kafe dapat melihatnya. Ya, semua orang, kecuali Seok Jin sendiri.

Ode to a Nightingale

Perjalanan pulang Jimin memakan waktu tiga puluh menit di bus dan sepuluh menit jalan kaki setelah ia turun di halte terdekat rumahnya. Cahaya keemasan mulai menghiasi ujung langit begitu Jimin meninggalkan halte. Langkahnya ringan dan santai, sementara matanya memperhatikan jalan dan bangunan-bangunan di sekitarnya. Jimin hampir mengenal semua orang yang tinggal di sekitar rumahnya, mulai dari ahjussi pemilik kedai seafood di depan rumahnya, atau mahasiswa yang tinggal di apartemen di sebelah kedai tadi, hingga penjual kue beras yang hanya datang ke kompleks mereka pada akhir pekan.

"Jiminie!"

Ia menoleh dan bertemu pandang dengan seorang laki-laki yang baru saja keluar dari tempat laudry. Senyum Jimin otomatis merekah, langkahnya terhenti menyaksikan lelaki tadi berlari-lari kecil menghampirinya.

"Jong In-hyung." Sapa Jimin begitu lelaki tadi sampai di hadapannya. Tinggi badan mereka yang terpaut beberapa inchi membuat Jimin harus sedikit mendongak.

"Kau mau pulang kan?" Jimin mengangguk. "Kalau begitu ayo."

Dengan akrab Jong In merangkul pundak Jimin sekaligus menarik yang lebih pendek melangkah bersamanya. Jimin yang sama sekali tidak keberatan hanya terkekeh. Keduanya berjalan bersamaan dengan posisi yang sama. Jong In adalah tetangga yang menempati apartemen di seberang rumah Jimin. Lelaki yang sedang sibuk dengan program magisternya tersebut sering datang menemani Kyung Soo di toko bunga mereka jika memiliki waktu luang.

"Dari mana?"

"Rumah Yoongi-hyung, seperti biasa masalah pekerjaan."

Jong In mengangguk. Tidak banyak yang mengetahui pekerjaan Jimin sebagai seorang penulis, namun Jong In adalah salah satunya. Orang-orang selain teman terdekat Jimin lebih mengenalnya sebagai pemuda biasa yang membantu ibunya mengurus toko bunga di depan rumahnya. Penghasilan tambahan datang dari Seok Jin sebagai penyewa yang kini lebih sering dianggap anak sulung Kyung Soo ketimbang penyewa rumah. Mereka saling bertukar salam sebelum Jong In menyeberang ke apartemennya sendiri.

Jimin bisa mendengar suara Jisoo yang bertindihan dengan suara-suara orang dewasa. Ia melirik ke dalam toko bunga yang tampak sepi meski lampu di tengah ruangan terlihat menyala. Jimin melangkah menuju pintu depan seraya mencatat dalam hati untuk kembali mematikan lampu ketika matahari benar-benar sudah tenggelam. Ia disambut dengan pemandangan Jisoo yang tampak berlari dari arah kamar tidurnya seraya tertawa. Anak itu terhenti di tengah ruangan mendengar suara dari arah pintu sebelum menghambur ke arah Jimin.

"Jimin-oppa!"

"Hime!" Jimin segera berlutut dan meyambut Jisoo ke dalam pelukannya. "Hello, Sweetheart, how's my princess doing today?"

"I'm doing fiiiine, Oppa." Jisoo menjawab fasih meski dengan aksen Busan yang kental.

"Really? You're not lonely, are you?" tanya Jimin lagi dengan sebelah tangan merapikan anak rambut Jisoo yang berantakan.

"Animnida. I'm not lonely because I get friends today, but I still miss Jimin-oppa."

Jimin terkekeh mendengar Jisoo yang masih kesulitan membedakan yang mana bahasa Korea dan bukan dan malah mencampurnya. Sejak belum bisa bicara Jimin memang sudah mengajarinya bahasa asing, namun itu malah terdengar lucu karena dia menggabungnya dengan bahasa Korea.

"Teman baru?"

"Hu-ung!"

Jisoo menarik kakaknya menuju ruang tengah seraya bercerita mengenai apa yang dilakukannya seharian selama Jimin tidak ada. Ia meninggalkan Jimin disana untuk kembali ke dapur. "Eomma, Oppa sudah pulang."

Jimin berniat menuju ke kamarnya namun ia memilih untuk menyapa Kyung Soo lebih dulu. Akhirnya ia meletakkan tasnya di sofa beserta jaketnya sebelum menyusul Jisoo kesana. Aroma masakan merasuk ke rongga hidungnya begitu ia mencapai dapur.

"Eomma, aku pulang."

Kyung Soo yang sedang sibuk mengiris daung bawang segera mengangkat pandangannya. Di sisi kanannya ada Jisoo yang duduk di atas konter tersenyum lebar ke arahnya, kedua kaki mungilnya tak henti bergoyang.

"Hei, Sayang. Apa kau lelah? Bagaimana harimu?" tanyanya sambil menghampiri Jimin dan mengusap kepalanya lembut.

Jimin hampir saja meleleh dengan sentuhan tersebut andai saja suara tawa tertahan yang familir tidak tertangkap telinganya. Melalui pundak Kyung Soo ia menusuk belakang kepala Seok Jin dengan tatapannya.

"Eomma, berhenti memanggilku seperti itu, aku bukan anak kecil lagi." Rengek Jimin.

Kyung Soo menoleh ke belakang sebentar. "Jangan dengarkan ucapan Seok Jin, dia tidak akan berhenti menggodamu jika kau terus meladeninya."

"Dia tidak akan berhenti jika Eomma terus memperlakukanku seperti Jisoo."

"Memangnya kenapa?" celetuk Jisoo. "Oppa kan juga anak Eomma, tentu saja dia harus memperlakukan Oppa sepertiku. Kalau aku dipanggil 'Sayang' Jimin-oppa juga harus dipanggil 'Sayang', karena kita berdua adalah anak Eomma~"

Keduanya tertegun sejenak sebelum Kyung Soo kembali menatap Jimin. "Nah, Jisoo dapat poinnya. Eomma berlaku adil pada kedua anak Eomma, iyakan Jisoo?"

Pertanyaan itu mendapat anggukan afirmatif dari Jisoo dan membuat Jimin menghela napas.

"Terserah kalian saja." Jimin pura-pura merajuk. Bibirnya dimanyunkan dan memasang wajah mirip anjing terbuang. Melihat itu membuat Kyung Soo tersenyum geli sedangkan Seok Jin justu memutar bola mata. Namun suara kekehan lain yang disusul dengan kata "Cute" membuat Jimin akhirnya sadar bahwa masih ada orang lain disana.

Mata tajam, hidung tinggi, surai keemasan. Sosok yang sedang menyangga dagunya dengan telapak tangan itu jelas-jelas memiliki paras memukau, dan tambahan lain adalah ia juga sedang balas menatap Jimin.

"Oh ya, Tae, kemarilah." Itu suara Seok Jin. "Ini adalah Jimin, putra sulung bibi Kyung Soo."

Tae Hyung bangkit dari kursinya dan menghampiri Jimin yang masih terpaku di posisinya. Perbedaan tinggi mereka tampak nyata begitu Tae Hyung berada di hadapannya.

"Hai, namaku Kim Tae Hyung." ia mengulurkan tangan. "Jin-hyung sering bercerita tentangmu di telepon. Aku senang akhirnya kita bisa bertemu secara langsung, Jimin-ssi."

Kata pertama yang muncul dalam benak Jimin adalah gorgeus, harusnya ia tidak terkejut mengingat Seok Jin sendiri memiliki rupa yang cocok mengisi sampul majalah ketimbang menjadi pemilik sebuah kafe. Jemarinya tenggelam penuh dalam telapak Tae Hyung yang lebar namun sama sekali tidak membuatnya merasa terintimidasi.

"Dia juga sering bercerita tentangmu, Tae Hyung-ssi."

"Just Tae Hyung is okay, or Tae."

"Jimin, kalau begitu."

"Chimchim?"

"Taetae."

"That's fair."

Lalu keduanya tergelak. Seok Jin yang sejak tadi kembali fokus pada masakannya namun tetap mendengarkan pembicaraan mereka menoleh. Ia menatap Jimin dengan sorot sudah-kubilang-kalian-akan-cocok. Tak lama kemudian Jimin undur diri ke kamarnya untuk membersihkan diri dan berjanji akan selesai sebelum makan malam siap.

Jimin sedang mengeringkan rambutnya ketika Jisoo mengetuk pintu kamarnya dan berteriak tentang makan malam yang sudah siap jadi ia harus segera turun. Ia mendengar derap kaki Jisoo yang berlari menjauh, sepertinya menuju kamar lain yang berseberangan dengan kamar Jimin. Anak itu pasti senang dengan kedatangan orang baru di rumah mereka, ia punya teman baru yang bisa diajaknya bermain ketika Jimin harus keluar. Jisoo adalah anak yang periang dan manis, namun entah kenapa ia tidak bisa akrab dengan anak perempuan seusianya. Anak itu lebih suka berdiam diri di rumah bersama ibunya atau pergi ke kafe Seok Jin. Jisoo bahkan dekat dengan Min Jae.

Di lorong ia bertemu dengan seorang laki-laki dengan Jisoo yang bergelayut dalam gendongannya. Ia mengenalkan dirinya sebagai Jung Hoseok, teman Tae Hyung. Mereka berbinang sejenak dan Hoseok melontarkan lelucon yang berasil membuat Jimin tertawa. Senyum Hoseok mengingatkan Jimin pada matahari dan ia hampir mengamini ucapan Lisa di telepon tadi.

"Sepertinya makan malam sudah siap, iyakan Hime?"

Jisoo mengangguk antsusias dalam gendongan Hoseok. "Kata Eomma kalian harus cepat sebelum makanannya dihabisi Lisa-eonni dan Jin-hyung."

Hoseok terkekeh mendengar kalimat polos Jisoo sedangkan Jimin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

"Ah, kalian duluan saja. Aku ingin mematikan lampu di depan sebentar."

Jimin bisa mendengar suara gaduh ketika melewati ruang makan yang langsung terhubung dengan dapur. Ia mempercepat langkahnya menuju pintu depan, hampir lupa tentang lampu di toko yang masih menyala. Tanda closenya sudah terpasang sejak tadi namun ia melihat pintu masuk toko sedikit terbuka. Ia melirik ke dalam ruangan dan saat itulah ia menyadari bahwa ada seseorang di dalam sana. Posisi laki-laki membelakangi pintu dan tampak khusyuk mengamati pot-pot kecil yang berisi gysophila yang mekar. Sosok itu berpakaian serba gelap. Kemeja hitamnya tampak pas di tubuhnya dengan ujung yang tenggelam dalam celana kain hitamnya. Sepatunya juga berwarna hitam dan satu-satunya kain yang berwarna lain adalah kos kaki putihnya.

Jimin berdehem pelan. "Maaf, Tuan. Tapi toko kami sudah tutup. Silahkan kembali besok."

Suara Jimin tampaknya mengagetkan sosok tersebut sebelum akhirnya berbalik, membuat dunia Jimin berhenti berputar. Manik Jimin melebar dengan mulut menganga. Ia harus mengeratkan pegangannya pada kenop pintu karena mendadak lututnya terasa begitu lemah untuk sekedar menopang tubuhnya.

Disana, sepuluh langkah dari tempatnya, berdiri sosok yang sudah tidak pernah dilihatnya selama tujuh tahun terakhir. Wajahnya persis seperti dalam ingatan Jimin, mata segelap malam, hidung tinggi, dan bibir tipis yang kadang terlihat seolah mencebik. Bagaimana orang itu bisa ada disini? Berada begitu dekat Jimin? Atau apakah ini semua hanyalah halusinasi?

Jimin tidak tahu berapa lama waktu berlalu (atau apakah benar-benar berhenti?) karena suara Lisalah yang akhirnya memutus tatapan mereka.

"Jimin-oppa? Kenapa lama sekali? Eh? Kau sudah bertemu dengan Jung Kook-oppa?"

Jimin tidak mengatakan apapun. Ia hanya bisa menatap Jung Kook yang kini berdiri tepat dihadapannya (Jimin tidak sadar kapan Jung Kook berjalan ke arahnya).

Kemudian Jung Kook tersenyum.

"Halo, Jimin-ssi. Namaku Jeon Jung Kook, teman Tae Hyung."

Lalu mengulurkan tangan.

"Senang bisa berkenalan dengan Anda, Jimin-ssi."

Hal terakhir yang Jimin lihat adalah senyum ramah Jung Kook sebelum ia berbalik menuju pintu gerbang. Ia tidak mengindahkan Lisa yang terus memanggilnya. Yang Jimin butuhkan saat ini adalah menjauh secepat mungkin dari sosok tersebut.

Hal itu membuatnya berakhir duduk termenung di taman kecil di dekat rumahnya. Ia menduduki salah satu ayunan disana meski tidak memiliki niat untuk mengayunkannya. Jimin berniat menginap di rumah Yoongi namun kemudian sadar tidak membawa dompet atau ponselnya. Ia menghela napas, ribuan pertanyaan saling bertubrukan di kepalanya. Apa yang Jung Kook lakukan disini? Dan kenapa ia bersikap seolah tidak mengenal Jimin? Atau mungkinkah orang itu bukan Jung Kook-nya? Tidak, Jimin yakin itu adalah Jung Kook yang dia kenal, dia mungkin sudah lama tidak melihat wajahnya, namun Jimin tetap akan bisa mengenali Jung Kook dimanapun.

Jimin tidak tahu apa yang saat ini di rasakannya. Sedih? Bingung? Terkejut? Ataukah rindu?

"Aku bisa mendengar suara gigi-gigi di kepalamu bekerja."

Jimin segera mendongak dan bertemu pandang dengan manik Jong In. Lelaki itu berdiri dengan kedua tangan bersilang di dada. Cahaya yang berasal dari lampu jalan tak jauh dari posisi keduanya menyirami tubuh Jong In dengan cara yang menarik.

"Apa yang kau lakukan disini, Hyung?"

"Aku juga bisa menanyakan hal yang sama." Lelaki itu menempati ayunan kosong di sebelah Jimin, kepala menengadah sedangkan kedua tangannya menggenggam rantai ayunan. "Ibumu menghubungiku, dia khawatir karena kau tiba-tiba pergi dari rumah tanpa pamit. Dia mengira kau pergi ke tempatku, jadi aku menawarkan diri untuk mencarimu."

Jimin mendengus. "Bagaimana kau bisa tahu aku ada disini?"

"Kau sering kesini setiap kali sedang memikirkan sesuatu. Jadi aku pikir tidak salahnya mencari disini terlebih dahulu. Apalagi Bibi Kyung Soo juga bilang kau sama sekali tidak membawa ponsel dan dompetmu, jadi kupikir kau tidak mungkin pergi jauh."

"Kau mengenalku dengan baik." Jimin bergumam pada dirinya sendiri, namun kekehan Jong In menandakan bahwa yang lebih tua juga mendengarnya.

"So, what's going on?"

Helaan napas kembali keluar dari celah bibir Jimin. "Tidak ada masalah apa-apa, Hyung"

"Kau datang kesini, berarti ada yang sedang mengganggu pikiranmu. Dan apapun itu berarti masalah."

Jimin menggerakkan tangannya seolah menampik kalimat Jong In. Apapun yang saat ini ada di pikirannya tidak bisa ia bagi ke lelaki tersebut.

"Kau bisa menceritakannya nanti, tapi sebaiknya kau segera kembali sebelum Bibi menjadi semakin khawatir dan menyuruh siapapun yang ada di rumahmu saat ini mencarimu."

Jimin masih berada di posisinya beberapa jam setelah Jong In pergi. Ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumahnya ketika arlojinya menunjukkan pukul sebelah lewat.

Ode to a Nightingale

"Apa yang terjadi padamu?"

Seok Jin adalah orang pertama yang menyadari kehadiran Jimin yang berdiri di pintu dapur keesokan harinya. Matahari diluar sudah tinggi dengan langit bersih tanpa awan, bertolak belakang dengan aura yang memancar disekitar Jimin.

"Tidak bisa tidur." Jimin menduduki salah satu kursi dan langsung membaringkan kepalanya ke atas permukaan meja.

"Sudah sering kukatakan untuk merubah gaya hidupmu. Aku mulai merasa dikehidupan sebelumnya kau adalah seekor kelelawar."

Jimin mengeluarkan erangan lirih dari tenggorokannya mendengar omelan Seok Jin. Semalam ia sama sekali tidak melakukan apapun, laptopnya bahkan masih berada di dalam tas yang dipakainya ke rumah Yoongi kemarin sore. Namun Jimin tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan ke lelaki yang sudah dianggapnya Hyung itu bahwa sepasang iris segelap malam dan gigi kelinci terus membayangi pikirannya.

Alih-alih Jimin memilih berbincang tentang hal lain.

"Dimana Eomma dan Jisoo?"

"Mereka pergi ke pasar diantar Tae Hyung," Segelas kopi dengan aroma yang pekat diletakkan di sebelah kepala Jimin, tepat di depan matanya. "-dan jika kau bertanya kenapa Jisoo tidak pergi sekolah itu karena hari ini adalah hari Minggu."

Senyum Jimin terkembang dan tanpa pikir panjang langsung menghisap pelan kopi tersebut. Seok Jin yang melihatnya hanya bisa mengerucutkan hidung. Tidak habis pikir bagaimana lidah Jimin seolah mati rasa dengan panasnya cairan hitam tersebut.

Jimin mendesah. "Kopimu memang yang terbaik, Hyung. Aku mencintaimu."

Saat itulah dari arah pintu depan terdengar suara langkah kaki yang sepertinya mengarah ke dapur.

"Jung Kook-ah, Hoseok-ah." Seok Jin menyapa dua pemuda yang baru datang.

Jimin refleks memutar kepalanya ke arah pintu dapur dan Jimin bersumpah mendengar jantungnya sendiri melambat dalam sedetik sebelum berubah cepat detik selanjutnya.

Jadi yang semalam itu bukan mimpi. Batin Jimin berbisik. Jeon Jung Kook benar-benar ada di depannya saat ini. Mengenakan kaos putih polos longgar dengan ujung-ujung surai yang tampak lembab.

"Kenapa kalian berdua berkeringat?" Tanya Seok Jin.

"Kami berlomba di perjalanan pulang tadi." Hoseok yang menjawab.

"Berapa usia kalian?" suara Seok Jin terdengar mengejek.

"September nanti 23 tahun, Hyung." Jung Kook menjawab dengan cengiran lebar.

"Tapi mental kalian tidak beda dengan bocah sepuluh tahun. Aigoo, pantas saja adikku tidak berubah, dia bergaul dengan dua manusia seperti kalian."

Hoseok terkekeh, sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Seok Jin. "Dia akan menjadi jauh lebih buruk jika tidak bersama kami, Hyung. Tidak banyak yang bisa tahan dengan alien seperti adikmu."

Seok Jin mendengus. "Terserah. Segera habiskan sarapan kalian setelah itu mandi."

Hoseok menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti 'Ne, Eomma' dan Seok Jin membalasnya dengan mengomel tentang anak muda jaman sekarang yang tidak tahu cara menghormati orang yang lebih tua, seolah usianya berbeda jauh dengan orang-orang di sekelilingnya.

Jimin biasanya akan bergabung dengan siapapun yang bisa menggoda Seok Jin. Ia juga akan ikut mengeluarkan komentar-komentar yang membuat alis yang lebih tua berkerut. Tapi kali ini berbeda karena atensi Jimin sepenuhnya fokus ke pemuda di depannya. Percakapan yang terjadi di sekitarnya terasa blur. Satu-satunya hal yang jelas adalah sosok Jung Kook.

Jung Kook masih memiliki bekas luka di pipi kirinya (Jimin ingat luka itu di dapatnya ketika Jung Kook pertama kali mencoba mengendarai sepeda), tahi lalat di bibir bawahnya pun juga masih ada, senyumnya juga masih mengingatkan Jimin akan seekor kelinci. Tapi ada juga hal-hal baru yang Jimin temukan pada diri Jung Kook. Seperti aura yang mengelilinginya kini semakin kuat, urat-urat di sekitar lengannya yang sesekali terlihat menandakan si pemilik merawat tubuhnya dengan baik. Kepercayaan diri terpancar kuat dari caranya menatap dan menarik bibir.

Jung Kook tahu dirinya menarik dan ia memanfaatkannya dengan baik.

"Oi, Jimin." Yang dipanggil menoleh ke arah Seok Jin. "Sejak tadi kau belum menyentuh sarapanmu sama sekali. Ada apa?"

Jimin menatap piring di hadapannya lalu beralih ke wajah tiga orang lain yang juga balas menatapnya.

"O-oh, tidak ada apa-apa, Hyung. Sepertinya aku masih mengantuk. Hahaha."

Seok Jin tampak tidak membeli ucapan Jimin namun juga tidak bertanya lebih jauh. Jimin akhirnya memusatkan perhatian ke panekuk di hadapannya dan mulai mengunyah dalam diam. Ia melewatkan lirikan tersembunyi yang berasal dari sepasang manik gelap di hadapannya.

Ode to a Nightingale

"Hyung, jebal."

Jimin berada pada titik dimana ia hampir bersujud dihadapan editornya sendiri. Keduanya berada di kafe Seok Jin, sedang menikmati cuaca cerah seraya menungu Nam Joon yang seperti biasa selalu muncul paling akhir. Min Yoongi menyesap Americano-nya untuk yang kesekian kali sebelum kembali menatap yang lebih muda dengan wajah malas andalannya.

"Aku benci pantai, kau mengetahuinya dengan baik, Park Jimin."

"Tapi Hyuuuung, Seok Jin-hyung bilang aku harus ikut-"

"Yep, you. Not me."

"-tapi aku tidak mau sendirian dengan adik Jin-hyung dan teman-temannya. Kau dan Nam-hyung harus menemaniku, Hyung. Please, please, pleaseeeeeee."

"Aku dan Yoongi-hyung harus menemanimu kemana?"

Namjoon langsung menempati kursi kosong diantara dua temannya dan membuatnya berhadapan langsung dengan dinding kaca yang menampilkan jalan raya.

"Kau ajak Namjoon saja, aku yakin dia akan sangat senang bisa menghabiskan waktu dengan tuan putrinya."

"Dan itulah alasan kenapa kau juga harus ikut, Hyung, all he will do is just making that weird face whenever Jin-hyung is around." Jimin lalu beralih menatap Namjoon. "No offense, Hyung."

Namjoon mendengus. "My face is not weird, excuse you. Tapi sebelum itu aku perlu tahu inti percakapan kita saat ini adalah?"

"Seok Jin-hyung akan ke pantai akhir pekan ini dan ia ingin kalian berdua ikut, tapi Yoongi-hyung tidak mau ikut. Jadi Namjoon -hyung, bantu aku membujuk Yoongi-hyung."

Yoongi melemparkan tatapan I-know-it's-not-your-real-reason-you-brat ke arah Jimin, namun sama sekali tidak ditangapinya karena Namjoon juga beralih ke arah Yoongi dengan mata yang menampung harapan terlalu besar.

"Aku tidak melihat alasan untuk menolak ajakan ini, Hyung." Itu Namjoon yang bicara. "Kau sendiri yang bilang Jimin butuh jeda, dan yang hanya kau lakukan adalah berdiam diri di rumah, sedangkan aku sebenarnya butuh sedikit me time sebelum memutuskan sesuatu yang cukup besar."

"Keputusan apa? Kau ingin beralih profesi dari akuntan yang membosankan menjadi underground rapper?" Yoongi hanya bercanda ketika mengatakannya namun ketika melihat semu tipis yang menghiasi pipi teman seapartemennnya ia langsung memperbaiki posisi duduknya. "Seriously, Joon? Kau benar-benar ingin berhenti?"

"Aku belum memutuskan apapun, aku harus memikirkannya dulu."

"See? Sekarang aku benar-benar yakin kalian berdua harus pergi." Jimin menyahut penuh semangat.

Yoongi hanya bisa mendesah lelah. Ia tahu dua manusia tidak penting di hadapannya ini akan tetap menariknya ke dalam mobil sekeras apapun Yoongi menolaknya.

Maka pada hari Sabtu pukul delapan tepat Yoongi sudah berada di luar apartemennya menentang sebuah ransel seraya memasang wajah paling sepat yang ia bisa. Disebelahnya Namjoon sedang mengunci apartemen mereka dengan riang, tampak berbanding terbalik dengan perasaan Yoongi.

Jimin sudah menanti dengan senyum lebar di depan gedung ketika keduanya sampai di lantai dasar.

"Jangan tersenyum lebar seperti itu padaku, Cebol. Aku membencimu." Sembur Yoongi sebelum membuka pintu depan di sebelah kemudi.

Yang lebih muda hanya bisa terkekeh geli melihat muka masam Hyungnya. Ia biasanya akan membalas 'kita hanya beda satu senti, Hyung' kapanpun Yoongi memanggilnya dengan sebutan Cebol, tapi untuk kali ini Jimin membiarkannya. Ia berhutang ucapan terima kasih pada Yoongi.

Namun senyum Jimin langsung luntur begitu ia melihat ke kursi belakang. Namjoon ternyata menginvasi tempatnya di kursi tengah bersama Tae Hyung dan Hoseok. Jimin menoleh ke arah kursi belakang yang ditempati Lisa dan Jung Kook.

"Jimin-oppa, ayo cepat masuk!" Lisa melambai-lambai ke arahnya.

"O-okay."

Dengan kikuk Jimin menempati kursi di sebelah Jung Kook, sebisa mungkin membuat jarak diantara mereka namun kursi belakang yang agak kecil dan postur Jung Kook yang besar membuat kulit mereka bersentuhan di beberapa titik. Namun Jung Kook tampak tidak terpengaruh sama sekali, sosoknya terlihat tenang dengan sepasang earphone yang menyumbat telinganya. Matanya tertutup dengan bibir yang sedikit terbuka membuat Jimin mengira-ngira apakah Jung Kook sedang tidur.

Perjalanan menuju pantai hanya memakan waktu kurang dari satu jam. Seok Jin memarkir mobil tidak jauh dari bibir pantai dan Tae Hyung adalah orang pertama yang secara literal melompat dari mobil kemudian berlari ke arah laut, tersenyum lebar seperti anak kecil.

Jimin memilih membantu Seok Jin dan Namjoon mengeluarkan karpet dan payung besar dari bagasi beserta keranjang yang berisi makanan dan cemilan untuk semuanya. Mereka menggelar dua karpet berukuran sedang di pasir yang kering dan menancapkan payung besar tadi untuk menaungi mereka dari sinar matahari.

"Terima kasih banyak, Namjoon-ah." Ucap Seok Jin begitu semuanya tertata rapi.

Jimin praktis memutar bola mata melihat senyum terlalu lebar milik Namjoon. Seok Jin memanggil semuanya ke pinggir dan menyuruh mereka memakai tabir surya sebelum bermain-main dan berenang. Jimin memilih duduk di bawah karpet, menikmati sekaleng Cola yang mereka bawa.

"Ini menyenangkan." Seok Jin yang duduk di sebelahnya menghela napas pelan. Angin pantai memainkan ujung rambutnya yang tidak ditata.

Jimin dengan spontan mengamini. Untuk sesaat kecamuk dalam kepalanya terlupakan. Sesuatu tentang birunya laut dan angin yang membawa aroma garam mampu membuat otot-otot Jimin kembali pada posisinya semula. Ia mengambil semangka yng sudah dipotong-potong kecil oleh Seok Jin dan mengunyahnya dengan penuh khidmat. Ia memperhatikan Tae Hyung yang sudah basah kuyup berlari-lari kecil ke arah mereka. Ia mengenakan kaos tipis berwarna hijau muda dengan warna biru di bagian lengannya, sementara warna kuning pada saku di dadanya tampak senada dengan celana katun pendek yang menjadi bawahannya. Itu hanyalah pakaian sederhana, namun Tae Hyung membuatnya terlihat menarik.

"Hei, Jim." Tae Hyung menyapa begitu ia duduk di sebelah Jimin. Sebelah tangannya menyapu rambutnya ke belakang memamerkan alis dan jidatnya yang Jimin yakin mampu membuat siapapun sulit bernapas.

"Hei, Tae."

Tae Hyung tampak melirik Seok Jin yang tampak fokus dengan sebuah buku di tangan dan kedua telinga tersumbat earphone. Di sebelahnya Yoongi berbaring menjadikan kedua tangan sebagai bantal, tidak perlu melepas kaca mata hitam yang dipakainya untuk mengetahui bahwa lelaki pucat itu sedang tertidur. Setelah memastikan kedua lelaki di sebelah mereka sama-sama sibuk dengan diri masing-masing, Tae Hyung kembali menatap Jimin.

"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu."

Alis Jimin terangkat sebelah nada yang digunakan Tae Hyung. Mimiknya terlihat penuh persekongkolan dan selama seminggu terakhir mengenal Tae Hyung, Jimin mampu mendeskripsikan pemuda tersebut dalam tiga kata sifat: careless, childish, weird. Meski begitu harus Jimin akui, apa yang Seok Jin katakan memang benar adanya karena kini ia dan Tae Hyung seperti dua saudara kembar yang akhirnya bertemu setelah terpisah bertahun-tahun lamanya.

"Apa itu?"

"Is Namjoon single?"

Jimin mengerjap beberapa kali, berusaha memproses kalimat Tae Hyung barusan. "Namjoon-hyung?"

Tae Hyung mengangguk dua kali.

"Why do you want to know?" Jimin balas bertanya.

Yang ditanya menghela napas. "Because he's hot and cute, and I think I wanna bang him, or banged."

Jimin hampir tersedak ludahnya sendiri. "You, what!?"

"Sssh!" Tae Hyung buru-buru menoleh ke Seok Jin dan Yoongi kemudian menghela napas lega karena keduanya tampak tidak terusik dengan suara Jimin.

"Oke, aku rasa aku tidak akan keberatan berkencan dengannya, he seems funny. Tapi sebelum itu aku harus memastikan dia bebas atau tidak. So?"

"Kau harusnya lebih dulu bertanya apakah dia gay atau bukan, Tae."

Tae Hyung mengibaskan tangan. "Don't need. I can make the straightest boy go down on me with this face."

"Eww, Tae, that's gross." Balas Jimin dengan wajah mengerut lucu.

"But true." Sahut Tae dengan rectangle smile andalannya.

"Dia single." Ujar Jimin kemudian. "Tapi hal lain yang harus kau tahu adalah itu karena dia tidak memiliki keberanian untuk mendekati seseorang yang sudah lama menarik perhatiannya."

"Benarkah? Siapa? Apa kau mengenalnya?"

Sampai disini Jimin tampak enggan menjawab. "I'm not sure I'm the right person to tell you that."

"Aku mengenalnya?"

Kebungkaman Jimin membenarkan tebakan Tae Hyung. Ia memikirkan apakah ia ingin mengetahui orang yang berhasil membuat seorang Kim Namjoon jatuh hati. Tae Hyung tahu dirinya tidak buruk, dia jauh dari kata tersebut. Namun memiliki wajah indah tidak selamanya menjadi jaminan kau bisa mendapatkan perhatian semua orang, dan Tae Hyung yakin Namjoon bukanlah pria berpikiran sempit yang menjunjung keindahan fisik diatas segalanya. Namjoon itu cerdas dan kharismatik, sekaligus kaku dan pemalu, dan Tae Hyung selalu tertarik pada orang dengan perpaduan karakter seperti itu.

"Well, aku rasa aku tidak perlu tahu." Ujar Tae Hyung setelah hening beberapa saat. Ia menunjukkan senyum miring ketika Jimin balas menatapnya dengan alis terangkat sebelah. "I just need to show him I'm worth more than this secret crush of him."

"Sure, you can Tae." Balas Jimin seraya mengasak puncak kepala Tae Hyung ringan.

Hal itu dibalas Tae Hyung dengan melemparkan tubuhnya ke arah Jimin hingga membuat yang lebih pendek terjatuh ke belakang.

"Ya! Hajima!

Jimin berbaring dengan seluruh tubuh Tae Hyung menindihnya. Ia berusaha mendorong Tae Hyung namun gagal karena yang lebih tinggi malah menggelitiknya. Mereka berdua sibuk larut dalam dunia mereka dan tidak menyadari Seok Jin yang kini menoleh ke arah mereka dengan mimik terusik.

"Ahahaha. Berhenti, Tae!"

"Ya! Kalian berdua berisik!" itu datang dari Yoongi.

Tae Hyung memperhatikan sekeliling dan melihat Hoseok dan Lisa yang tampak serius membuat istana pasir. Mendadak sebuah ide muncul di kepalanya.

"Lisa! Hobi-hyung! Ayo bantu aku melempar Jiminie ke dalam air!"

Jimin yang mendengar ucapan Tae Hyung melebarkan mata. Usahanya untuk melepaskan diri semakin besar melihat Hoseok dan Lisa yang kini berlari ke arah mereka dengan senyum licik penuh persekongkolan.

"Tu-tunggu dulu– guys– ya!"

Dua puluh detik kemudian Jimin berakhir dilempar ke dalam air dengan rasa asin yang memenuhi lidahnya. Ia segera bangkit, mengusap air dari wajahnya dan langsung mengejar salah satu dari tiga manusia yang kini berhamburan sambil tertawa. Ia berhasil menarik Hoseok ke dalam air dengan bantuan Namjoon yang sudah basah sebelumnya. Sementara Lisa selamat karena sebelum Jimin sempat melakukan apapun ia sudah lebih dulu berlutut meminta maaf, kedua matanya menyorot memohon dan Jimin selalu lemah pada gadis tersebut.

"Kemari kau, Kim Tae Hyung."

"Uh-uh, not today, Man."

Keduanya saling melempar cengiran –dengan Jimin yang perlahan maju sementara Tae Hyung yang berjalan mundur beberapa langkah di depannya.

"JIMINIE PABO!" Tae Hyung meneriakkan frasa tersebut sekuat tenaga sebelum berbalik dan kembali berlari sekuat tenaga.

Keduanya terus berkejaran di sepanjang bibir pantai. Meskipun Tae Hyung memiliki kaki panjang dan ramping, tapi Jimin dengan stamina yang kuat hampir berhasil meraih Tae Hyung. Hampir, andai saja Tae Hyung tidak berlari ke arah sosok yang tampak sibuk dengan kamera DSLR di tangannya.

"Kook-ah, tolong aku."

Jung Kook terperanjat ketika Tae Hyung tiba-tiba bergelayut di belakangangnya dengan napas terengah-engah. Namun pandangannya dengan cepat terarah Jimin yang juga balas menatapnya dengan wajah terkejut yang lucu.

Pandangan Jimin teralih ke Tae Hyung yang menengok dari balik pundak Jung Kook, ia menyengir lebar penuh kemenangan.

"You're so dead, Tae." Ujar Jimin dengan nada penuh racun.

Tae Hyung membalas dengan memeletkan lidahnya dengan semangat seolah tahu Jimin tidak berani mendekat jika ada Jung Kook.

"You owe me this, Tae." Namun mata Jung Kook sama sekali tidak berpindah dari Jimin. Ia mengedikkan kepala kemudian melanjutkan, "Go. I get this."

"Thanks, Bro." bisiknya sebelum kembali berlari sangat cepat melewati Jimin.

Jimin langsung mempersiapkan diri untuk menangkap Tae Hyung namun sebuah tangan besar menahan lengan atasnya. Tubuhnya ditarik hingga ia kembali berhadapan dengan sosok Jeon Jung Kook yang berdiri tangguh di depannya.

Matanya yang besar dan gelap sama sekali tidak meninggalkan Jimin.

"Le-lepaskan aku." Ia berusaha menarik diri namun entah kenapa Jimin seolah kehilangan kuasa atas tubuhnya sendiri.

Jung Kook menatapnya dari atas ke bawah dan mendadak Jimin menyadari bagaimana kacaunya penampilan dirinya saat ini. Ia mengenakan kaos bergaris hitam-putih dengan celana katun merah-hitam yang panjangnya tidak mencapai lutut Jimin. Ia akan merasa percaya diri andai saja ia tidak basah dari ujung kepala hingga kaki. Jimin bahkan bisa merasakan pasir yang menyebar di punggungnya, sementara ujung-ujung rambutnya menempel kasar di pelipisnya. Wajahnya terasa lengket karena air laut dan memerah terkena sinar terik matahari.

Secara keseluruhan Jimin terlihat berantakan.

Berbanding terbalik dengan Jung Kook. Ia juga mengenakan celana katun yang senada dengan Jimin –Seok Jin membeli 7 set kaos dan celana katun untuk mereka semua- yang dipasangkan dengan t-shirt berwarna putih dan kering. Mata Jimin menyorot kerah baju Jung Kook yang dibiarkan terbuka terlalu lebar dan mendadak ia merasa begitu panas.

"Bertahun-tahun berlalu tapi kau sama sekali tidak berubah, Hyung." Suara Jung Kook tidak lebih dari desauan angin namun terdengar jelas bagi Jimin.

Ada kilat aneh yang bermain di iris malam Jung Kook, seolah ia menyimpan sebuah rahasia yang hanya ia bagi kepada Sang Pencipta. Dan Jimin hanya berdiri disana, membiarkan dirinya tenggelam dalam manik Jung Kook yang gelap namun memancarkan ribuan bintang di saat yang bersamaan.

"Jangan sampai terluka, Hyung. Aku tidak pernah lagi membawa band aid di saku celanaku seperti waktu kita kecil dulu."

Tangan Jung Kook yang bebas merapikan surai Jimin dari wajahnya. Kemudian Jung Kook tersenyum lebar, menunjukkan barisan gigi depannya yang selalu mengingatkan Jimin akan seekor kelinci, pada bocah laki-laki dengan bola basket yang terlalu besar untuknya ketika usianya sembilan tahun. Jung Kook tersenyum dan Jimin kembali terjatuh, terjatuh, dan terjatuh.

"Bogoshipda, Jiminie-hyung."

Tbc

Night's footnote:

a-yo. Long time no see, guys ^,^

Pada akhirnya cerita ini tidak tamat di chapter 2. Mendadak alur awal yg sudah Night buat berubah jadi Night pikir why don't make it another long story just like you always did? Anyway, sorry for taking this too long, no excuses this time. See you xxoxxooxxo