Love is Scenario
"Baiklah. Pertama kau menginginkan popularitas dan aku juga sudah tidak menginginkan popularitas. Kau sudah mengertikan Park Chanyeol-ssi."
.
.
"Apa maksudmu, Baekhyun-ssi?" Chanyeol menuntun Baekhyun duduk di bangku taman di dalam rumah kaca.
Lagi-lagi Baekhyun tersenyum manis, ia menatap Chanyeol dengan lembut. "Maksudku… aku ingin pensiun muda dari dunia hiburan dan aku membutuhkan skandal yang merusak reputasiku"
Mata bulat Chanyeol semakin membulat, sedikit tidak percaya bahwa idolanya ingin pensiun muda, padahal Chanyeol berharap bisa main drama bersama Baekhyun suatu saat nanti. Tapi kenyataan memukulnya telak, idolanya, Byun Baekhyun yang kini sedang duduk di sampingnya baru saja mengutarakan keinginannya meninggalkan industri hiburan yang membesarkan namanya.
"Kalau boleh tau, apa alasanmu ingin meninggalkan dunia hiburan yang sudah membesarkan namamu?"
Baekhyun menarik nafas panjang, kemudian membuangnya secara kasar, "Aku lelah."
"Bukankah semua pekerjaan pasti melelahkan? Maksudku, apakah kau sadar Baekhyun-ssi? Kau sedang dalam masa keemasan, hm, kau pasti mengerti maksudku bukan? Posisimu saat ini sudah berada di atas dan menurutku… sangat disayangkan sekali jika kau menyerah hanya karena merasa lelah…" Wajah Chanyeol mendongak menatap langit malam yang dihiasi oleh bulan purnama dan ditemani dengan beberapa bintang di sekelilingnya.
"Langitnya… indah" ternyata bukan hanya Chanyeol saja yang senang mengamati langit malam, si mungil Baekhyun juga menyukainya menatap langit malam yang berbintang sedikit membantu menghilangkan rasa penat di dalam tubuhnya setelah bekerja seharian.
"Hm…"
"Aku hanya ingin kembali menikmati masa mudaku Chanyeol-ssi. Kau tau aku sudah bekerja di dunia hiburan sejak aku berusia 8 tahun. Sajangnim lah yang mendorongku berakting. Awalnya aku memang buruk dalam berakting tapi sajangnim terus menyemangatiku, dan aku terus berusaha dengan berbagai latihan yang aku ikuti. Dan semua itu berjalan sesuai dengan keinginanku meski aku diharuskan membuang masa-masa remajaku, itu tak apa, sebanding dengan apa yang aku terima saat ini. Memang benar apa yang Chanyeol-ssi katakan tadi, posisiku sudah berada di atas, sudah waktunya bagiku memanen semua hasil kerja kerasku selama ini, tapi…" Baekhyun menghela nafas, lalu tersenyum pada langit malam. "Tapi sesuatu di dalam diriku berkata, sudah cukup, semua sudah cukup, aku sudah merasa lelah… jadwalku yang padat, tidak bisa membuatku merasakan semua hasil dari kerja kerasku, jadi kuputuskan untuk pensiun muda… hehe"
"Yah, baiklah alasanmu kuterima." Pria tampan berdimple itu tersenyum pada langit. Di dalam hatinya dia bersumpah akan membuat Byun Baekhyun artis idolanya jatuh cinta kepada dirinya.
Di dunia ini tak ada yang tidak mungkin. Semua bisa menjadi mungkin jika kita terus berusaha mendapatkan apa yang kita mau bukan? Jadi Chanyeol bersumpah demi langit malam yang ia tatap malam ini bahwa Chanyeol akan membuat Byun baekhyun jatuh cinta.
Kruyuk…
Chanyeol mengalihkan pandangannya pada si mungil yang tengah menunduk malu. Suara perut Baekhyun yang berbunyi membuat Chanyeol tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya.
"Kau berbohong padaku tentang makan malam bersama menejermu?"
Baekhyun mengangguk malu-malu. Sejujurnya, itu hanya alibi Baekhyun agar mereka tidak makan makanan khas jepang.
"Maafkan aku Chanyeol-ssi." Kepalanya semakin menunduk, tak berani menatap pria yang kini sedang memandangi dirinya. "Sebenarnya aku tidak menyukai makanan jepang… ugh… aku benci daging ikan mentah" aku Baekhyun.
Dan lagi-lagi Chanyeol dibuat tertawa oleh tingkah laku Baekhyun yang menurut Chanyeol itu menggemaskan. Ya, Byun Baekhyun di mata seorang Park Chanyeol memang menggemaskan, dari dulu hingga sekarang, Baekhyun selalu menggemaskan.
"Baiklah."
Chanyeol menarik tangan Baekhyun hingga si mungil bangkit dari duduknya, kemudian raksasa itu menuntun kurcaci mungil yang menggemaskan keluar dari dalam rumah kaca. Membawanya kembali ke dalam istananya yang mewah.
.
.
Baekhyun tidak tau jika seorang aktor seperti Chanyeol juga bisa memasak. Ia kira pria yang bisa memasak itu hanya ada di dalam drama, seperti beberapa drama yang pernah ia bintangi dulu.
"Aku tidak tau kalau laki-laki tampan sepertimu bisa memasak?"
"Terimakasih atas pujian dari mu Baekhyun-ssi. Kau tau wajah tampan tidak akan berarti jika perutmu terasa lapar." Di balik itu, Chanyeol tersenyum s enang.
"Benar sekali, dan aku sering kelaparan." Ia tertawa lepas. Tanpa beban pikiran.
"Pantas saja tubuhmu… kurang berisi." Ucap Chanyeol diselingi kekehan kecil.
Raksasa itu berkutat dengan teflon, kompor, nasi dan telur.
Maka si kurcaci mungil menggemaskan hanya duduk diam menunggu raksasa besarnya menyelesaikan masakannya.
Tak butuh waktu lama bagi Chanyeol. Memasak salah satu hobinya setelah hobi menghamburkan uang demi hobi-hobi kecil lainnya, omurice tertata rapi diatas piring. Bahkan telurnya saja, Chanyeol hias dengan ekspresi marah menggunakan saus tomat.
Dua piring omurice Chanyeol letakkan diatas meja makan, tentu saja satu untuk dirinya dan satunya lagi untuk si kurcaci yang imut dan menggemaskan.
"Whoa…" si kurcaci mungil menggemaskan berseru senang setelah Chanyeol meletakkan sepiring omurice dihadapannya.
"Makanlah." Titah Chanyeol yang dibalas anggukan penuh antusias dari Baekhyun.
Keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing. Tak ada yang berbicara saat mereka berdua melahap makan malam yang sempat tertunda tadi.
Baekhyun meletakkan sendoknya dalam keadaan terbalik, menandakan ia sudah selesai.
"Masakanmu sungguh luar biasa." Pujinya.
"Aku senang bisa memasak makanan untukmu, Baekhyun-ssi."
"Kupikir kita bisa berteman, Chanyeol-ssi?" Ia tersenyum. Dan dijawab dengan anggukan dari Chanyeol.
"Yeah, mari kita berteman."
Chanyeol mengangkat jari kelingkingnya ke udara, sambil tersenyum ia memberi isyarat agar si mungil mengaitkan kelingkingnya, berjanji seperti anak kecil,eoh?
Berakhir dengan Baekhyun yang mengaitkan jari kelingkingnya, dan berjanji memulai semuanya dengan status baru mereka, yaitu berteman.
.
.
Seminggu telah berlalu…
Byun Baekhyun kini sedang disibukkan dengan photoshoot untuk salah satu majalah terkenal korea W—magazine.
Ia melakukan photoshoot di paris, di sebuah villa yang mewah dan indah. Seperti istana Barbie, itu kata Tao. Tapi kalau menurut Baekhyun, villa tersebut seperti istana di dalam serial disney princess.
Kini Baekhyun telah bersiap dengan pose andalannya, duduk di anak tangga dengan wajah menatap kamera. Ia melakukannya dengan santai, beberapa kru juga memutarkan musik-musik yang bergenre asik sehingga Baekhyun tidak mudah bosan melakukan permintaan dari sang photografer.
"Cukup"
Sang fotografer W magazine tersenyum pada Baekhyun karena ia sudah merasa puas dengan hasil jepretannya. Ada banyak gambar yang dia ambil dan beberapa pose Baekhyun yang terlihat manis, dan menggemaskan sekaligus seksi pun ia dapatkan.
"Terima kasih, terima kasih semuanya,"
Baekhyun membungkukkan badan ke beberapa arah sembari terus menggumamkan kata terima kasih kepada seluruh kru yang membantunya pada sesi photoshoot kali ini.
Tao manajernya pun ikut melakukan apa yang dilakukan artisnya. Membungkuk dan mengucapkan terima kasih kepada photografer dan para kru yang terlibat dalam photoshoot kali ini.
"Terima kasih banyak atas kerja keras kalian." Seru Tao.
Bahagia sekali dia karena photoshoot kali ini berjalan dengan lancar. Bahkan mood swing Baekhyun juga tidak muncul dalam sesi photoshoot kali ini, jauh didalam hati Tao, wanita itu terus menggumamkan terima kasih banyak kepada Tuhan karena mood swing Baekhyun tidak mengganggu sesi photoshoot. Lalu, wanita berkebangsaan china itu berjalan menghampiri Baekhyun yang sedang dikipasi oleh asistennya—Park Sooyoung.
"Terima kasih atas kerja kerasmu, B." Tangan kanan Tao menepuk bahu kiri Baekhyun.
"Sama-sama, eonnie ku." Ia tersenyum manis dan menatap Tao lembut. "Ah—aku merindukan kamarku, sooyoungie" si mungil mengisyaratkan asistennya untuk berhenti mengipasi karena ia sudah merasa tidak kepanasan lagi.
"Kalau begitu aku akan membantumu B—eonnie. Cepat ganti baju dan biarkan aku membantumu menghapus make up kemudian kita kembali ke hotel, beristirahat, makan, minum lalu pulang ke korea"
"Jib-e gaja (ayo pulang)"
Sooyoung dengan cekatan membantu mengangkat gaun yang Baekhyun kenakan agar memudahkan Baekhyun berjalan menuju ruang rias sekaligus ruang ganti busana.
Tao pun ikut membantu sooyoung, ia bertugas memegangi tangan Baekhyun supaya si mungil tidak jatuh saat berjalan menggunakan high heels yang super duper tinggi itu. Mengingat tinggi badan Baekhyun yang semampai—semeter pun tak sampai. Jadi, dalam sesi photoshoot juga mewajibkan Baekhyun menggunakan high heels.
"Oh ya… B, Jongin baru saja mengirimiku email." Tao menjeda, pandangan matanya menatap pantulan bayangan Baekhyun dan dirinya di cermin. "Ini tentang rencana pertemuan kedua kalian."
"Pertemuan apa eonnie? Dan Jongin itu siapa?" Baekhyun yang penasaran pun mendongakkan kepalanya menatap wanita yang lebih tinggi.
"Maksudku… Park Chanyeol. Apa kau lupa tentang Chanyeol dan skandal mu itu?" Alis Tao menyatu.
Baekhyun hanya terkekeh pelan, lalu menggeleng, "Ah—itu aku sedikit lupa mengingat jadwalku yang padat kupikir sajangnim sudah membatalkan skandal itu."
"Astaga Baekhyun." Tao menepuk jidatnya sendiri. Tolong ingatkan Tao untuk tidak menjambak rambut Baekhyun karena gemas dengan kepolosan artisnya yang satu ini.
"Ish… B eonnie jangan banyak bergerak dulu, aku takut make upnya tidak terhapus semua." Sooyoung menggerutu sebab si mungil terlalu banyak bergerak, menyusahkan dia menghapus make up tebal sesi photoshoot.
"Ish, iya… iya… salahkan Tao eonnie, sooyoung, ish…" berakhir dengan balasan gerutu yang sooyoung dapatkan dari Baekhyun.
.
.
"Yeol… aku sudah mengabarkan pihak Byun Baekhyun tentang rencana pertemuan kedua kalian." Jongin sang manajer memberitahu kepada artisnya mengenai kelanjutan skandal yang akan mendongkrak popularitas Chanyeol.
"Lalu bagaimana responnya?" Seperti biasa Chanyeol saat ini sedang memainkan game yang mendunia itu, mobile legend menggunakan hero alucard dan kini sedang mengambil semua buff yang ada demi menaikan level dan memperbanyak uang, agar tidak kalah saat bertarung dengan musuh.
"Masih belum dibalas. Mungkin Baekhyun sedang sibuk. Dari yang kudengar Byun Baekhyun sedang disibukan dengan photoshoot untuk salah satu majalah ternama, ah…" Jongin berusaha mengingat-ingat nama majalah tersebut, "w magazine itu Yeol. Whoa Byun Baekhyun memang yang terbaik." Puji Jongin.
Tanpa Jongin sadari, Chanyeol menarik salah satu sudut bibirnya ke atas membentuk senyuman yang tidak bisa dilihat oleh siapapun kecuali layar ponselnya ya, karena wajah Chanyeol dan layar ponselnya saling berhadapan oke!
"Aish… fuck" Chanyeol mengumpat karena alucardnya mati kehabisan darah ketika melawan alice.
"Pasti mati lagi." Tebak Jongin. "Sudahlah Yeol jangan terlalu banyak kau memainkan permainan online itu. Takutnya kamu kelelahan oke."
"Diam kau. Ish… si hitam sudah banyak bicara. Menyebalkan."
Sepertinya Jongin harus mempunyai stok kesabaran yang banyak. Jika ia memiliki 10 artis berkelakuan seperti Chanyeol maka jawabannya adalah Jongin bisa gila. Satu Chanyeol saja sudah memusingkan apalagi 10 orang berkelakuan seperti Chanyeol, mungkin lebih baik Jongin bunuh diri saja.
"YA… PARK CHANYEOLLLL"
.
.
Tao mengantarkan Baekhyun ke restoran italia yang berada di daerah gangnam. Panda china itu sudah memberitahu kepada si mungil yang menggemaskan bahwa malam hari ini adalah rencana kedua mereka menjalankan skandal.
"Apa aku sudah terlihat cantik?" Baekhyun bertanya pada Tao yang memutar bola matanya, jengah. Hampir setiap hari ia mendengar pertanyaan itu. Dan yang bertanya pun orang yang sama.
"Sudah kubilang, Baek kau itu cantik walaupun tanpa make up. Sudah sana turun, selamat menikmati kencan kedua kalian dan titipkan salamku pada Chanyeol." Tao mendorong Baekhyun agar gadis itu segera turun dari mobilnya.
"Ish… ya ya akan kusampaikan salammu pada sajangnim sajalah." Dan Baekhyun selalu begitu.
Baekhyun mulai melancarkan aksinya. Ia menaikan kupluk hoodie hitamnya, kemudian masker berwarna putih ia kenakan demi menutup identitasnya. Sejujurnya, Baekhyun tidak suka berpakaian seperti ini, seperti seorang teroris atau buronan polisi.
Ia melangkahkan kakinya memasuki restoran italia. Mengedarkan pandangannya ke segala penjuru demi menemukan keberadaan Chanyeol.
Tapi salahkan Baekhyun yang lupa menanyakan pada Tao baju apa yang dipakai oleh Chanyeol hingga akhirnya Baekhyun cuma bisa berdiri di depan pintu masuk karena ia tidak bisa menemukan dimana Chanyeol berada.
"Baekhyun-ssi"
Baekhyun mendongak, menatap wajah yang tak asing lagi. Itu Chanyeol. Orang yang memanggil namanya. Pria itu tersenyum, memperlihatkan deretan gigi-gigi rapi serta lesung pipit di bagian pipi kanannya.
Tampan. Bantin Baekhyun.
"Chanyeol-ssi, syukurlah." Ia membalas senyuman Chanyeol dengan senyuman menawan yang belum pernah orang lain lihat.
Tangan raksasa itu mengambil tangan kurcaci kemudian mengaitkan jari jemari mereka. Menuntun si kurcaci masuk ke dalam restoran, jujur saja Chanyeol tidak ingin mensia-siakan kesempatan yang sudah pak tua Kwon Jiyong itu berikan. Sekalian pendekatan.
Saat sampai pada mejanya, Chanyeol menarik kursi mempersilahkan si mungil duduk. Setelah memastikan bahwa Baekhyun duduk dengan nyaman barulah ia duduk.
"Terima kasih Chanyeol-ssi. Aku lega sekali kau datang menjemputku."
"Sama-sama."
Chanyeol memberi isyarat kepada waiter agar mereka segera membawakan buku menu. Lalu tak lama dari itu dua orang waiter datang memberikan buku menu pada Chanyeol dan juga Baekhyun.
Sama seperti pertemuan pertamanya di restoran jepang. Baekhyun kali ini menolak lagi memesan makanan malah mengajak Chanyeol pergi ke sungai Han. Ya mau tak mau Chanyeol menuruti permintaan si mungil. Tapi bukankah lebih bagus pergi berkencan di tempat terbuka daripada di dalam restoran? Kali saja di sungai han ada wartawan yang melihat mereka jalan bersama. Setelah wartawan berhasil mendapatkan foto Chanyeol dan Baekhyun jalan bersama kemudian foto itu tersebar luas, dan skandal pun dimulai.
Chanyeol berharap sih di Sungai Han nanti mereka tidak bertemu wartawan. Agar Chanyeol dapat lebih lama jalan bersama Baekhyun.
Setelah keduanya sampai di sungai han, mereka hanya duduk sambil memandangi indahnya kerlap-kerlip lampu kota seperti bintang dilangit malam.
Terpaan angin membelai pipi mulus Baekhyun. Si mungil yang tidak kuat dengan hawa dingin semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh hangat Chanyeol. Eh… ini bukan modus ya, Baekhyun memang tidak tahan dengan suhu dingin.
"Dingin, ugh"
"Kita pulang saja. Kau sudah kedinginan Baekhyun-ssi."
"Ani… aku tidak mau pulang. Ish" kepalanya menggeleng kuat-kuat.
"Aku tidak ingin kau jatuh sakit sayang."
"Kau memanggilku apa barusan?" Dahi Baekhyun berkerut. Telinganya belum tuli, tapi mendadak tidak bisa mendengar apapun selain kata sayang yang terus terngiang di telinganya.
"Ah… Maksudku… Baekhyun-ssi" Chanyeol menggaruk belakang telinganya, kikuk. Dalam hati ia merutuki kebodohannya kenapa sampai bisa keceplosan seperti tadi.
.
.
.
.
Thanks to: BaekHill, 614, anandaivankarasthasyah, , guest, pcyB.I, chanbyunbee, potatose.
Terima kasih karena udah mau follow dan favorite FF gaje aku.
