ALL CHARATERS NOT MY OWN.

(bahasa gaul, ooc)

.

.

.

.

Naruto memasuki kelasnya dengan hati senang, riang gembira. bagaimana tidak senang, kemarin dia menghabiskan waktu berdua dengan calon istri- uhuk, maksudnya Honami.

sepanjang koridor tadi, dia terus tersenyum agar bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain. namun, sayangnya orang lain tidak berpikir demikian.

"dia gila, yah?" bisik salah satu murid.

"emangnya sejak kapan dia waras?" balas yang lain.

semuanya ikut berpikir.

"lah iya"

tapi Naruto tetaplah Naruto, mana mungkin dia mempedulikan gunjingan semut di bawah kakinya. selama hidupnya tidak di ganggu, Honami tidak di rebut, uang jajannya masih jalan. yang lain mah belakangan. yang penting happy dulu.

toh, mendengar omongan orang lain tidak akan membuatnya sukses.

"OI, KIYOPON" teriakan Naruto menggema di penjuru kelas. semua yang lagi sibuk urusan masing-masing terkejut dengan teriakan Naruto.

Kenji yang ikut menjadi salah satu orang mengusap telinganya karena berdengung. salah Naruto, teriakannya udah kayak orang tinggal di hutan.

"Naruto, temee. kau mau membuatku tuli, yah?" Kanji meraih kerah seragam Naruto dan mengguncangnya.

Naruto hanya tersenyum tengil, "santai dong mas bro, kalau kau tuli ke dokter aja. nanti aku yang bayar"

karena hari Naruto senang, rasanya dia ingin berbagi dengan orang sekitarnya. benar-benar yang laki-laki yang sangat patut tidak di contoh (dalam hal buruk).

"sudah, nanti kau ikutan gila" Haruki menarik bahu Kanji agar melepaskan Naruto.

Kanji menurut.

Naruto menaikkan sebelah alisnya, dia memperbaiki kerah seragamnya yang sedikit kusut.

"kayak kalian waras aja. kalian lupa, dua hari yang lalu- hmpsph"

Kanji dan Haruki kompak menutup mulut ember Naruto. dia tau apa yang ingin Naruto katakan, tentu saja rahasia mereka.

sebagai laki-laki, Kanji dan Haruki mempertahankan harga dirinya. tidak elit jika Naruto membeberkannya, apalagi di hadapan teman kelasnya.

"mau ngomong apa, hah? diem"

Kanji menekan tangannya pada mulut Naruto, agar tidak membuatnya bicara.

"huss-husshhh"

Kiyotaka yang memperhatikan dari jauh menghela nafas panjang, belum apa-apa dia sudah merasa lelah.

"oi-oi, Namikaze udah kayak orang sekarat"

"Kanji-kun, Yamauchi-kun, lepaskan Namikaze-kun sekarang. dia tidak bisa bernafas" Hirata Yōsuke -ketua kelas dari kelas D- ikut turun tangan. bisa gawat jika ada mati di kelasnya.

Kanji dan Haruki melepas cekalan tangannya dan menjauh dari Naruto yang kini mangap-mangap mengambil udara di sekitarnya dengan rakus.

"KURANG AJAR, KALIAN MAU BIKIN AKU JADI ALMARHUM?" Naruto misuh-misuh setelah paru-parunya sudah bekerja dengan baik.

Kanji dan Haruki nyengir tidak bersalah, merasa bahwa tidak aman. mereka segera ngacir keluar dari kelas. Naruto udah kayak raja hutan yang kehilangan mangsanya.

"OI, JANGAN KABUR, ASEM"

Naruto mengejar mereka, dendam dia.

anak-anak kelas D hanya bisa melongo melihat tingkah mereka.

"pagi ini, agak heboh yah" celetuk salah satu diantara mereka.

"heem"

pagi yang cerah, saking cerahnya Kiyotaka sudah merasa ingin rebahan saja di kamarnya.

-oXo-

Amasawa Ichika.

siapa sih yang tidak kenal dengan gadis SMA Kōdo Ikusei yang terkenal satu sekolah. meski baru menduduki kelas satu, kepopuleran Ichika bukanlah hal yang bisa di pandang remeh.

bahkan banyak dari laki-laki baik seangkatannya atau dari senior, mengidolakan gadis cantik itu. bahkan bersikap berlebihan dan melakukan apa saja demi berbicara dengan gadis itu. mereka bahkan bersikap (sok) manis padanya.

meski begitu, bagi Ichika itu belumlah cukup. karena ada laki-laki yang terlihat cuek bebek dengan kepopulerannya, bahkan terlihat biasa saja. Ichika memiliki kepribadian yang sangat nakal dan riuh, menggoda setiap orang yang dia minati.

dan salah satu objek yang tidak mempan itu adalah si murid pindahan yang akhir-akhir ini terlibat gosip panas. si Namikaze Naruto.

terlebih lagi, uhuk- Ichika sangat penasaran, seperti apasih Naruto itu.

karena merasa bosan berada di kelas, Ichika berniat berjalan-jalan ke cafe yang berada di sekitar sekolah sendirian. Ichika bukannya tidak memiliki teman, hany saja Ichika mengakui bahwa dia buruk dalam berteman dengan orang-orang di kelasnya dan tidak berusaha atau memiliki niat untuk melakukannya. Meskipun memiliki keterampilan komunikasi yang luar biasa.

selain itu, dia tidak cocok di dalam kelasnya karena tidak ada yang berani mengajaknya berbicara dan berteman dengannya secara sosial. sangat disayangkan bagi gadis yang memiliki popularitas tapi buruk dalam berteman.

back to the topic, ketika merasa tidak ada yang ingin dilakukannya, Ichika akan kembali ke kelas selagi menunggu bel pelajaran berikutnya tiba. namun, dia kembali mengurungkan niatnya ketika melihat objek menarik minatnya sedang berdiri di depan keyaki mall sendirian.

Ichika menyeringai, dia memperbaiki gestur dan raut wajahnya. sebelum menghampiri Naruto yang hanya berdiri mematung memandangi gedung besar di hadapannya.

"selamat siang, Namikaze-senpai"

Naruto terkejut, dia mengangkat tangannya di udara mengambil ancang-ancang.

Ichika hanya sweatdrop melihatnya.

"apa senpai perlu sekaget itu melihatku?" entahlah Ichika merasa ingin tersinggung.

Naruto mengacak rambutnya.

"aku hanya terkejut melihatmu disini dan menyapaku" Naruto berkacak pinggang, sebelum sesuatu melintas di kepalanya, "hey, kau merindukanku?" tanya Naruto percaya diri.

Ichika mendadak badmood, dia mendadak kesal, dia menginjak kaki Naruto cukup keras.

"woi..." Naruto memolototi Ichika, "kemarin kau menendangku, sekarang kau menginjakku, masalahmu apasih?"

"itu pantas didapatkan laki-laki yang kurang ajar seperti senpai" Ichika menyilangkan tangannya di dadanya dan membuang wajahnya khas gadis ngambek.

alis Naruto berkedut kesal.

"jika bukan perempuan, sudah ku ajak gelud daritadi" monolog Naruto dalam hati.

Ichika melirik Naruto, "ngomong-ngomong apa yang senpai lakukan disini?"

Naruto merentangkan tangannya ke depan, melirik gedung yang besar di hadapannya.

"melihat gedung yang begitu besar persis seperti rumah kakekku di London. hmm, hanya saja gedung ini sedikit lebih besar"

Ichika memandang Naruto seolah-olah dia adalah orang gila pertama yang Ichika temui. apa dia memang gila, yah? pikir Ichika.

lagian mana ada rumah sebesar gedung di depannya. ngawur.

"senpai, jangan mimpi terlalu tinggi, kalau kau jatuh, sakit"

Naruto menurunkan tangannya, dia memandang Ichika intens, sebelum memejamkan matanya dan mencubit dagunya.

"sepertinya memang benar"

Ichika mengambil langkah mundur, untuk pertama kalinya dia merasa takut berhadapan dengan seorang laki-laki yang bermental gila.

"senpai kau menakutkan"

Naruto membuka matanya dan menatap Ichika garang.

"kau pikir aku mengkhayal, aku serius, rumah kakekku sebesar ini dan dia itu kaya" Naruto menaruh tangan kanannya di dada sementara tangan kirinya menunjuk gedung di sebelahnya.

beberapa orang berlalu lalang berhenti dan memandang Naruto bermacam-macam.

Ichika menghela nafas pelan, "sepertinya kau terlalu menyukai gedung-gedung besar dan membayangkan itu punya keluargamu, senpai"

jujur saja, Ichika tidak percaya Naruto berkata jujur. masa dia punya kakek sekaya itu tapi cucunya tidak kelihatan seperti orang kaya.

Naruto terlalu sederhana untuk di katakan sebagai orang kaya. bahkan Ichika pernah melihat Naruto datang ke sekolah naik bus atau gak, jalan kaki.

masa ada orang kaya jalan kaki ke sekolah, Ichika bahkan lihat salah satu teman kelasnya yang katanya 'anak orang kaya' datang ke sekolah di antar supir. padahal jarak rumahnya dan sekolah tidak sampai dua ratus meter.

Naruto cemberut.

"jahat"

Ichika memijat keningnya, "karena aku baik, aku akan membawa senpai jalan-jalan ke dalam. memperkenalkan senpai isi mall"

Ichika menarik tangan Naruto masuk ke dalam mall. Ichika pikir Naruto berdiri di depan mall karena tidak pernah masuk kesana dan lebih mengkhayal seolah-olah gedung itu adalah milik kakeknya.

Ichika jadi kasihan pada Naruto, mungkin senpai-nya ini tidak pernah merasakan berbelanja atau sekedar jalan-jalan di dalam mall.

Naruto tidak melawan, dia membiarkan Ichika membawanya masuk.

"apa wajahku tidak semeyakinkan itu?" pikir Naruto. masih bergelut dengan pikirannya apa yang kurang meyakinkan dari dirinya.

menurut pendapat orang termasuk 'saya' banyak sih.

di dalam mall, banyak sekali orang-orang, selain itu banyak stan yang tersedia, dari yang murah hingga yang paling mahal. mulai dari kebutuhan pandang, sangan dan papan. semuanya hampir lengkap.

"kau sudah hapal, kan, senpai? jadi kalau kesini lagi, masuk saja tidak usah takut, walaupun hanya sekedar melihat-lihat"

Ichika merasa sangat berjasa pada Naruto karena mencoba menjadi 'anak gaul' seperti sekarang ini.

Naruto tidak tau harus berkata apa. tanpa perlu di jelaskan, dia sangat tau bagaimana isi mall. itu karena, mall adalah- hmm, rasanya Naruto tidak bisa mengatakan sekarang pada Ichika.

"by the way, kau punya tempat yang biasa kau kunjungi?" Naruto bertanya.

meskipun Ichika tidak tau bahwa dia tau, Naruto ingin memberikan sesuatu pada juniornya.

"hmm, kenapa, apa senpai nanti ini menemaniku" Ichika menutup mulutnya dan tertawa, "tapi biarkan aku membawamu, senpai?"

Ichika menarik tangan Naruto di sebuah toko dengan brand ternama.

"Gucci?" tanya Naruto bingung.

"sebenarnya ada yang ingin ku beli disini" Ichika menggaruk pipinya malu-malu, "tapi tidak apa jika memperlihatkan padamu" Ichika membawa Naruto ke dalam.

toko sepi, maklum brand mahal. tidak semua murid disini mampu membeli, hanya kalangan tertentu, itupun tidak sering. mereka hanya sekedar melihat-lihat.

"ada yang bisa saya bantu?" seorang pegawai perempuan menyambut mereka dengan ramah.

"kami hanya melihat-lihat" ujar Ichika malu-malu. pegawai itu mungkin sering melihat Ichika.

"tentu, silahkan nona" pegawai itu tetap ramah pada pelanggannya.

Ichika memilih pada bagian sepatu, akhir-akhir ada sebuah sepatu sneakers yang Ichika ingin beli. tapi karena harganya tidak manusiawi untuk anak sekolahan sepertinya. Ichika berusaha menabung untuk membelinya.

"lihat senpai, ini cocok denganku, kan?" Ichika menunjukkan sebuah sepatu bewarna putih dengan merk Gucci Web-stripe low-top sneakers.

"kau menyukainya?"

Ichika hanya mengangguk.

"kenapa tidak di beli?"

Ichika mendelik. dia melirik kesamping kanan dan kirinya. merasa tidak orang di sekitarnya, Ichika mendekati Naruto dan berbisik.

"senpai pikir ini murah? ini mahal tau, harganya sepuluh kali lipat dari uang jajanku" Ichika berharap Naruto tidak memperlakukannya setelah mengatakan sejujurnya.

tapi tidak reaksi apapun dari Naruto setelah mendengarnya.

"berikan sepatu itu padaku"

"buat apa?" Ichika bertanya tetapi tetap memberikannya pada Naruto.

"kita beli saja"

Ichika mendadak kesal, "apa senpai tuli? ini tuh mahal, senpai mana mungkin bisa beli"

Naruto menggaruk kepalanya, "masa harganya semahal itu, biar aku saja yang bayar. hitung-hitung sebagai hadiah"

Ichika bersedekap, membuang muka. "terserah senpai saja, tapi jangan seret aku jika senpai tidak bisa bayar"

Naruto membawa sepatu yang di inginkan Ichika ke kasir sekaligus menebusnya. Ichika menunggu Naruto di dekat pintu masuk, sesekali dia melirik Naruto yang membayar sepatu itu.

"aku yakin, sebentar lagi senpai akan berteriak karena harganya" Ichika menebak.

dia teringat dirinya yang ingin membeli sepatu itu, ingin membayarnya hanya menemukan dirinya berteriak karena mendengar harganya.

namun, lama Ichika menunggu, tidak ada tanda-tanda atau suara dari arah kasir. semuanya hening, normal seperti awal dia masuk tadi.

"nih"

Ichika tercengang melihat Naruto keluar dari toko dan membawa sebuah paperbag dengan merk yang sama.

"se-senpai" Ichika menunjuk paperbag itu tidak percaya.

tidak! ini pasti mimpi, mana mungkin Naruto membelinya.

"kenapa? aku kan bilang akan membelikanmu, kenapa kau kaget begitu?" ucap Naruto santai, seolah-olah hadiah itu adalah hal biasa.

tetapi bagi Ichika itu mustahil, harganya tidak normal untuk kantong murid sekolahan.

"i-itu benar sepatu yang tadi?"

"kalau tidak percaya, cek saja"

Ichika mengambil paperbag dari tangan Naruto dan mengeluarkan kotak sepatu dan memeriksanya. semuanya asli persis seperti yang dia pegang tadi.

"senpai, kau tidak mencurinya, kan?"

Naruto terlihat tersinggung.

"apa aku terlihat seperti perampok?" tanya Naruto sewot, sebelum menghela nafas lelah. "terserah kau mau percaya atau tidak, aku harus ke kembali ke kelas, sampai jumpa dan terima kasih" Naruto meninggalkan Ichika yang masih mematung memandangi sepatu pemberian Naruto.

"ini tidak mungkin" Ichika menolak percaya, dia kembali masuk dan berniat menanyakan pada pegawai toko.

"apa senpai membayar ini?" Ichika menunjukkan barang yang di berikan Naruto.

"oh, temannya nona yang tadi? iya, dia membelinya untuk nona" pegawai itu menjawab dengan ramah.

"benarkah? ada bukti struk-nya?"

pegawai itu memberikan struk pembeliannya pada Ichika.

mata Ichika membelalak lebar melihat kertas berisi nama dan angka. benar, sepatu seharga $885 USD atau setara 109.884¥ itu, di bayar lunas oleh Naruto.

($885 USD = 190.884¥ = Rp.12.711.874)

Ichika tidak tau mengatakan apalagi, tapi satu hal yang terlintas di kepala Ichika. kok bisa? pikirnya.

padahal niat mereka tadi cuman sekedar jalan-jalan.

-oXo-

Naruto berjalan santai menuju kelasnya, kedua jemari tangannya tertaut di belakang kepalanya. sepertinya tadi dia di remehkan oleh adik kelasnya sendiri. bah, peduli amat. Naruto sudah memberikan apa yang Ichika mau. dia tidak peduli sih dengan nominalnya. masih tahap wajar- menurutnya.

tapi kenapa dia harus begitu, bukankah Ichika bilang mengingkannya, Naruto sudah berbaik hati memberikannya. pada akhirnya, Naruto tidak mengerti jalan pikiran para perempuan.

"huft, daddy benar"

.

"hey, mau kemana, tunggu dulu"

"tolong, biarkan saya pergi"

.

Naruto berhenti melangkah ketika telinganya mendengar sesuatu yang tidak enak. dia mencari. Naruto maju beberapa langkah dan menemukan tiga orang laki-laki sedang menghadang seorang perempuan. perempuan itu terlihat ketakutan, para laki-laki itu sepertinya memaksa perempuan itu.

Naruto menghela nafas kesal, terkadang dia juga tidak mengerti jalan pikiran laki-laki.

perempuan itu terlihat berusaha menjaga jaga jarak dengan laki-laki yang menghadangnya.

"biarkan saya pergi" perempuan itu meminta baik-baik, ada rasa takut berbicara dengan mereka.

mereka malah tertawa, tidak memepedulikan permintaan perempuan itu.

"hey, santai saja. main dulu lah bersama kami"

"kami punya permainan yang menarik loh"

"ku yakin kau tidak akan menyesal"

mereka bertiga bergantian merayu perempuan itu. tapi bukannya tergoda, perempuan itu semakin takut.

"saya tidak mau"

laki-laki yang berada di hadapan gadis itu berdecak sebal.

"kau ini-" laki-laki itu hendak meraih tangan perempuan itu, tapi tidak sempat karena dia merasa sebuah tendangan mengenai perutnya. dua temannya dan perempuan itu terkejut melihat laki-laki itu di serang.

"oi kisama, dia bilang tidak mau, kenapa kalian memaksanya" Naruto yang menjadi pelaku penendangan berkata dengan kesal.

dua teman laki-laki itu membantu temannya berdiri.

"temee, siapa kau, aku akan-"

Naruto mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

"ah halo, sensei, ada tiga murid laki-laki menganggu seorang perempuan, harus ku apakan?" Naruto berbicara dengan orang di seberang telepon.

ketiga laki-laki itu berjengit takut, mereka perlahan-lahan mundur.

"kau, tunggu saja pembalasanku" laki-laki yang menjadi korban Naruto, mengancam Naruto.

Naruto tidak membalasnya, dia hanya memberikan tatapan bagaikan serigala di hadapan domba.

'hiiii" mereka segera berlari setelah melihat tatapan yang diberikan Naruto.

"bercanda" Naruto mengembalikan ponselnya kedalam sakunya. dia tidak benar-benar menghubungi seorang guru.

"oi, kau tidak apa-apa?" Naruto melirik perempuan itu

perempuan itu menunduk malu, dia hanya mengangguk sebagai jawaban.

"te-terima kasih, Namikaze-kun"

Naruto terkejut, dia menunjuk dirinya.

"wait, you know me? tidak, maksudku kau mengenalku?"

perempuan itu mengangguk malu-malu.

"kita teman sekelas, namaku Sakura Airi" Sakura terlihat malu-malu.

otak Naruto masih berusaha menerima informasi yang terlalu mendadak.

"teman sekelas? Sakura Airi?"

apa ini? apa dia kehilangan informasi yang berharga? apa memang dia punya teman sekelas seperti ini? tunggu dulu, bukankah seharusnya dia mengenalnya? pikir Naruto.

"Na-Namikaze-kun, kau tidak apa-apa?" Sakura terlihat khawatir dengan Naruto yang terlihat shock.

Naruto memegangi kepalanya.

"tidak apa-apa, Airi, semuanya baik-baik saja" Naruto menolak menatap Sakura karena merasa bersalah tidak mengenal teman kelasnya sendiri.

wah, parah sih.

Sakura terkejut karena Naruto memanggil nama belakangnya. tapi dia tidak terlihat keberatan.

"ano, Namikaze-kun-"

"sebentar Airi" Naruto menjulurkan tangannya di depan Sakura, menahan gadis itu berbicara. tanpa menatap langsung gadis itu. "aku melupakan dompetku, sampai jumpa di kelas" Naruto meninggalkan Sakura tanpa mendengarkannya. dia sudah terlalu malu.

"ahh~ padahal aku hanya ingin bilang terima kasih"

setelah hari itu, Naruto meminta absen pada ketua kelasnya dan menghafal nama-nama teman sekelasnya.

-oXo-

Sakayanagi Arisu adalah salah satu gadis populer dari SMA Kōdo Ikusei. diantara lima gadis populer, Arisu di kenal dengan sifat santai dan tenangnya.

di mata teman-teman sekolahnya, dia dianggap sebagai seseorang yang menonjol dari yang lain dan tidak ada yang pernah melihatnya kehilangan ketenangannya.

tapi sebenarnya, dia sama seperti gadis normal lainnya dan satu-satunya orang bisa menghilangan sifat tenangnya dan bertingkah biasa adalah murid yang paling menyebalkan dan paling tengil seantero sekolah, yaitu, Namikaze Naruto.

yaps, hanya Naruto yang bisa membuat Arisu bertingkah di luar sifatnya yang terkenal. jangan salahkan Arisu, salahkan Naruto dalam hal itu. maka dari itu Arisu sebisa mungkin, menjauh.

menjauh, sejauh-jauhnya dari makhluk paling tengil itu. tapi sayang seribu sayang. meski Arisu berusaha keras menyingkirkannya tapi lagi-lagi Naruto selalu datang tak di undang.

"hai, loli-chan"

alis Arisu berkedut pelan, dia berusaha tidak menganggap Naruto itu ada. dia memejamkan matanya agar tidak melihat Naruto.

"oi, loli-chan, kau mendengarku?"

Arisu berusaha bertahan.

"loli-chan, kau masih hidupkan?"

ayo Arisu, tahanlah sedikit lagi.

"loli-chan, kalau tidak bangun, nanti ku cium loh"

pertahanan Arisu jatuh paling dasar, dia membuka matanya dan menatap Naruto tajam. tapi yang di tatap hanya cengar-cengir gak bersalah.

"jika kamu melakukannya, aku akan menendangmu, Namikaze-kun" Arisu berusaha mengintimidasi laki-laki di depannya.

tapi bukannya merasa terintimidasi, Naruto malah melihat berbeda. dia melihat Arisu seperti anak kecil yang merajuk karena mainannya di ambil. sangat menggemaskan.

Naruto mengambil karung dan membukanya lebar-lebar, dia tersenyum sangat amat manis pada Arisu. "silahkan masuk, dek"

Arisu memandang Naruto kosong, "gilamu lagi kumat yah?"

Naruto tersadar.

"ada apa kamu menemuiku, Namikaze-kun?" tanya Arisu ketus.

tuh, kan. Arisu sudah tidak bisa bersikap tenang di depan Naruto. bawaannya pengen emosi terus.

"kok kamu sensi, sih?"

"Na-Mi-Ka-Ze-Kun" Arisu menekankan setiap katanya.

Naruto mundur selangkah dari Arisu, auranya berbeda sekarang.

"loli-chan, chill"

Arisu membuang wajahnya dan mengembungkan pipinya.

"baka!"

NINUNINUNINU!

Naruto membutuhkan ambulans sekarang, dia merasakan dadanya berdetak cepat. ugh, damage-nya. dia tidak tahan dengan hal-hal berbau 'imut'

"KA-KAWAII"

"Namikaze-kun" Arisu menendang kaki Naruto.

Arisu merasa pembicaran mereka ngawur, gak ada yang jelas. dari tadi muter-muter mulu. terlebih lagi Naruto terus tersenyum aneh layaknya seorang ped*f*l yang lagi dapat mangsa.

"aku tidak tau, kenapa sih perempuan suka banget nyakitin" Naruto mengusap kakinya yang di tendang Arisu. rasanya nyeri.

"

langsung saja, katakan ada apa kau menemuiku? kalau kau tidak mengatakan sejujurnya, aku akan mengibirimu" Arisu mengepalkan tangannya, tatapan matanya bagaikan singa yang ingin mengamuk.

Naruto bisa melihat mata Arisu yang bersinar merah dan tubuhnya seolah-olah membesar sepuluh kali lipat dari Naruto.

"main catur, kuy"

"sudah ku bilang, katakan- apa?"

wajah Arisu berubah menjadi netral.

"aku bilang, ayo main catur"

Arisu memandangi Naruto dengan seksama, sebelum tertawa kecil.

"kau serius menantangku bermain catur?"

Naruto mengangguk, "kalau main berbi-berbian, aku gak tau"

Arisu memasang senyum tipis, terkadang Naruto memang semenyebalkan itu. dia hampir memukulnya dengan tongkatnya.

"heh, kau tidak tau bagaimana aku bermain catur?"

"kalau aku tau aku tidak mungkin mengajakmu bermain"

Arisu tiba-tiba terdiam, benar juga, kalau sudah tau kenapa pula dia mengajaknya. untuk pertama kalinya dia merasa di bodohi. membuat Arisu semakin kesal saja. merasa di permalukan.

"kau mengejekku, yah?"

Naruto memandang Arisu lelah, "aku belum ngomong apa-apa, lho"

"terserah, kau sudah menghinaku, aku terima tantanganmu" Arisu beralibi. padahal dia sendiri yang memancing.

Naruto sebenarnya tidak peduli kalau Arisu menuduhnya tetapi Arisu menerima bermain bersamanya, dia bersemangat.

"yeay"

"tapi..."

"tapi, what?"

"ada syaratnya"

Arisu menyeringai kejam, inilah saat-saat yang dia tunggu, agar mendapatkan kebebasan sejati.

kening Naruto berkerut, "what's that?"

"kau harus bisa mengambulkan permintaanku tanpa terkecuali dan kau tidak boleh protes" Arisu tersenyum tenang -merasa arogan dan percaya diri-

Naruto menggaruk pelipisnya, dia tidak mengerti tapi menyanggupi.

"tapi aku tidak ingin di untungkan sendiri. Namikaze-kun, kau juga bisa meminta apapun dariku" Arisu hanya memberikan pancingan. agar Naruto merasa tidak di manfaatkan.

lagipula Arisu sangat percaya diri dengan kemampuannya. Naruto tidak terlihat seorang pro.

"apapun?"

Arisu hanya mengangguk.

wajah Naruto menjadi sumringah dan cerah seolah-olah baru saja memenangka tiket lotre.

"aku mau"

Arisu tersenyum, gotcha, Naruto mengambil umpannya. Arisu tertawa dalam hati.

"kalau aku menang, aku ingin kau cosplay berpakaian maid di depanku" ujar Naruto senang. dia menunjuk Arisu dan memberikan kedipan mata.

senyum Arisu menghilang, wajahnya menjadi datar.

"sudah ku duga, kau tidak normal, Namikaze-kun"

to be continued