Previously:

"Chanyeol.. tenang lah…" bisiknya sambil menenggelamkan kepalanya di punggung Chanyeol. Langkah Chanyeol terhenti. Pelukan ini.. mengapa terasa sangat familiar. Nyaman, bagaikan sebuah rumah yang menyambutnya.

Jantung chanyeol yang berdegup kencang karena amarah, perlahan mereda. Nafasnya yang menderu pun mulai teratur. Keduanya terpaku dalam waktu sampai tiba tiba sebuah suara menginterupsi mereka.

"Chanyeol?" Tanya suara yang mereka kenal. Sontak keduanya menoleh ke sumber suara, dan menemukan Kyungsoo disana dengan tatapan tajam kearah keduanya.

FORGOTTEN LOVE

MainCast: Chanyeol, Baekhyun,Kyungsoo

Pairing: Chanbaek / T aoris / Chansoo dan Lainnya

Rated: T bisa naik sewaktu waktu

GS, DLDR.

Enjoy

.

.

Chapter 5

(*supaya feel nya dapet, aku nyaranin Chingudeul baca sambil dengerin lagu yang ada di cerita ini juga, biar sedikit membantu menghayati ^^ #plak)

Baekhyun reflek melepaskan pelukannya. Chnyeol kembali tersadar, bingung dengan apa yang baru saja terjadi. sementara Kyungsoo menghampiri mereka dengan tatapannya yang masih dingin.

"a-apa yang terjadi?" Tanya Chanyeol bingung. "harusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang terjadi sampai kalian harus berpelukan?" Tanya nya Sinis, merasa terpojokkan Baekhyun akhirnya membuka suara.

"ma-maaf Kyungsoo. Aku hanya mencoba menenangkan Chanyeol." Bela Baekhyun. Keduanya melihat beberapa pecahan cangkir dengan tumpahan teh, tak jauh dari mereka. Chanyeol membelalakan matanya kaget. ia sama sekali tak ingat kenapa gelas yang tadi ia ambil bisa pecah seperti itu.

"astaga. Kau tak papa Baek? Ma-maafkan aku." Chanyeol panik sekali, sementara Baekhyun jadi salah tingkah karena Kyungsoo terus memandanginya dengan tatapan tajam. "a-aku takpapa."

Kyungsoo berdehem, mencoba menyadarkan Chanyeol bahwa dia da disana. "Baekhyun. Jika hal ini terjadi lagi, kau sebaiknya menghubungiku. Kau tau, hanya aku yang bisa menenangkan chanyeol" kata Kyungsoo sambil tersenyum. Tapi Baekhyun paham sekali arti senyum itu.

"tentu saja. Aku minta maaf kyungsoo." Kata baekhyun. Sebelum ada yang berbicara lagi, ponsel Baekhyun tiba tiba berbunyi , ia merogoh tas nya dan menemukan nama Sehun tertera di layar.

"…"

"oh. Kau sudah di depan? Baiklah, aku akan keluar. Tunggu sebentar" dan sambungan dimatikan.

"aku pergi dulu. Permisi" kata Baekhyun sambil pergi sementara Chanyeol memandangi punggung Baekhyun yang menjauh.

Kyungsoo menoleh karah Chanyeol, manatapnya meminta penjelasan. Cahnyeol sendiri bingung harus berkata apa, "Soo. Aku minta maaf." Kata Chanyeol benar benar menyesal. Ia sendiri tak tau ia menyesal karena berpelukan dengan Baekhyun atau menyesal karena hampir menyakiti Baekhyun.

"takpapa, bukan salahmu." Kata Kyungsoo sambil mendekat dan memeluk Chanyeol. "Baek, aku akan mengawasimu" batinnya.

.

.

Sepanjang jalan, Baekhyun hanya terdiam. Dia masih tidak enak dengan Kyungsoo. Sehun yang daritadi menyetir, memandangnya bingung. "kau kenapa?"

"aku tak apa apa Sehun-sshi." Dan Sehun hanya mengangguk angguk mengerti.

ooo

Saat itu Baekhyun sedang bosan di rumah, ia memutuskan untuk menjelajahi mansion keluarga Park yang besar. Selama ini Baekhyun hanya tau dimana kamar, dapur, ruang tv, ruang tamu dan pintu keluar. Jadi, gadis bermata sipit itu memutuskan untuk berjalan jalan, berharap menemukan sesuatu hal yang menarik.

Sesekali beberapa maid yang ia temui menanyakan kemana tujuannya, menawarkan bantuan jika nona Wu ingin diantar, tapi Baekhyun menggeleng. Sampai akhirnya ia sampai di sebuah ruangan di lantai 3. Ruangan itu sepi sekali.

Baekhyun mendorong pintunya, suara pintu yang berderit menggema di ruangan itu. Ruangan itu gelap dengan tirai panjang menjuntai kebawah menutupi cahaya yang masuk. Karena penasaran Baekhyun masuk dan membuka tirai dan jendelanya agar sinar matahari dan udara bisa masuk.

Ia terkejut begitu melihat isi ruangan itu lebih jelas, sebuah ruangan besar dengan alat alat musik seperti gitar, cello, drum, saxophone, dan sebuah alat musik di sudut ruangan yang menghadap ke jendela yang mencuri perhatiannya. Sebuah Piano.

Semuanya dengan keadaan bagus dan bersih tanpa debu, jelas sekali alat alat ini dipelahiara dengan baik.

Baekhyun menghampiri piano itu. Ia tersenyum kecil. Ini piano Chanyeol. Saat mereka masih duduk di Junior High School, Baekhyun sering bermain piano ini dengan Chanyeol.

.

.

Ia duduk, dan mulai memainkan salah satu lagu dari yiruma, Reminiscent.

Ia teringat saat dulu Chanyeol dan dirinya akan bermain piano berdua. pertama kali Baekhyun tidak bisa bermain piano, lain halnya dengan Chanyeol. Ia sangat mahir memindah mindahkan jarinya. Baekhyun yang melihat itu merasa kagum dengan sahabatnya. Dia ingin sekali bisa bermain piano bersama.

Semenjak saat itu, Chanyeol selalu mengajari Baekhyun, dan bahkan Baekhyun tak berhenti sampai disitu, ia merengek pada Xiumin untuk membelikannya piano, dan kakanya menuruti. Ia membelikan Baekhyun piano terbagus dengan guru privat mahal. Namun Nona Wu hanya selalu gembira jika seorang Park Chanyeol yang mengajarinya.

Tak hanya piano, Chanyeol juga pandai bermain gitar dan drum. Sungguh bakat yang hebat mengingat umurnya masih sangat belia. Baekhyun juga tak mau kalah. Ia juga ingin bisa bermain gitar. Apapun yang Chanyeol lakukan, Baekhyun juga ingin seperti itu. Ia ingin selalu bisa didekat Chanyeol. Melakukan apa yang chanyeol Lakukan.

Saat belajar gitar, Chanyeol akan mengajarinya, membantu meletakan jari baekhyun. Chanyeol yang berada dibelakangnya, dengan tangan Chanyeol yang menyentuh jemarinya serta nafas chanyeol yang menyapu kulit lehernya, merupakan memori terbaik disaat ia belajar bermain gitar.

Tapi mungkin memang kemampuan Baekhyun terbatas, gadis itu berhasil memainkan piano dengan baik namun tidak dengan gitar dan drum. Ia masih saja susah menekan senar gitar meskipun jemarinya sakit. apalagi bermain Drum, ia kelelahan memukul mukul bahkan sempat sesekali stik nya terlempar saat mencoba memainkan stik seperti yang Chanyeol lakukan.

Saat itu Chanyeol tertawa geli sekali. melihat baekhyun yang cemberut pria tinggi itu mengahampirinya. "Baekhyun-ah. Tidak ada yang sempurna dalam semua hal. Jika kau hanya bisa bermain piano. Maka aku akan dengan senang hati bermain piano berdua terus denganmu"

"jinjja?" Tanya Baekhyun senang. Chanyeol mengangguk yakin dengan senyumnya yang lucu. "karena kita akan selalu bersama. ingat?!" kata Chanyeol dan Baekhyun mengangguk.

Baekhyun yang kembali mengingat kenangan itu, hanya mendengus. "kita selalu bersama?" gumamnya mengejek diakhiri dengan not lagu terakhir. Dan selesai sudah permainan nya.

Baekhyun terlonjak kaget begitu mendengar suara tepuk tangan. Tak antusias namun juga tidak lambat. Ia menoleh ke sumber suara dan menemukan Chanyeol sedang bersender di ambang pintu. Setelah bertepuk tangan, Chanyeol memasukan tangannya ke saku dan menghampiri Baekhyun.

Baekhyun sempat kelabakan, ia bangkit takut situasi buruk terjadi.

"kupikir kau tidak tau ruangan ini" kata Chanyeol santai. "ah.. i-itu, aku sedang berjalan jalan karena bosan. Dan aku menemukan tempat ini." Chanyeol berjalan terus , ia berhenti di dekat jendela, memandang pemandangan cerah diluar. Baekhyun mencoba mencari celah untuk kabur, takut kalau Chanyeol akan menyerangnya lagi. tapi suara pria itu memecah konsentrasinya.

"aku baru tau kau bisa main piano. Alat musik apa lagi yang bisa kau mainkan?" Tanya Chanyeol sambil memandang Baekhyun dengan senyum hangat. Senyuman itu, lengkap dengan sinar matahari yang terarah kearahnya benar benar membuat Chanyeol sangat tampan. Baekhyun sampai lupa rasa takutnya.

"hanya piano." Jawabnya singkat

"siapa yang mengajarimu?" Tanya Chanyeol sambil mendekat kearahnya. "seseorang" jawab Baekhyun sambil memandang Chanyeol lekat lekat. Seolah ingin mengingatkan Chanyeol bahwa dialah yang mengajari Baekhyun.

"duduklah." Kata Chanyeol saat mereka sudah berhadapan. Takut kalau tuan Park akan melemparkan cello kearahnya, Baekhyun memutuskan untuk menurut. Ingat, dia tak suka dibantah kan?

Baekhyun duduk kembali, dan diikuti Chanyeol yang duduk disampingnya. persis seperti saat dulu mereka akan bermain piano bersama.

"mainkan lagu lain." Titah Chanyeol.

"a-apa?" "jika aku tau lagunya, aku juga akan ikut bermain." Kata Chanyeol sambil tersenyum. Baru sekarang Baekhyun bisa melihat senyum itu dari jarak sedekat ini. Beberapa detik berlalu. Sadar dengan dirinya yang membatu, Baekhyun buru buru menguasai dirinya.

Ia mulai menekan tuts piano, sebuah lagu yang ia kenal. Sebuah lagu yang membuat Chanyeol yang tadinya tersenyum menjadi terdiam. Sibuk dengan pikirannya.

Lagu ini… lagu ini entah mengapa sangat familiar. Bukan karena ia tau judulnya, tapi seolah ada memori yang mendesak masuk. Seolah telinganya sering sekali mendengarkan lagu ini. Ada sesuatu yang terasa sangat familiar dalam hatinya.

Chanyeol hampir kembali menjadi dingin, namun pemandangan Baekhyun disampingnya meredakan emosi yang entah karena apa. Baekhyun yang begitu menikmati lagunya, dengan jemarinya bergerak lincah diatas tuts piano. Baekhyun yang bahkan sesekali memejamkan matanya, seolah teringat sebuah kenangan.

Ya. Baekhyun memang teringat kenangan nya dengan Chanyeol. Setelah Baekhyun sudah lihai bermain piano, saat itu keduanya sedang berada di Mansion Keluarga Wu. Baekhyun baru saja berulang tahun. Lalu, Chanyeol menghampirinya, mengajaknya ke ruang music dimana Baekhyun menaruh pianonya.

"mengapa kesini Chanyeol?" Tanya Baekhyun bingung. "aku ingin memberikan mu hadiah."

"hadiah? Tapi.. kau sudah memberikanku hadiah tadi." "ada lagi." Kata Chanyeol. Lalu ia menghampiri piano Baekhyun dan mulai memainkan lagu ini. Hal itu membuat Baekhyun menitikan air mata dan tersenyum. "selamat ulang tahun, Baekhyun-ah" kata Chanyeol sambil tersenyum.

Semenjak saat itu, lagu itu merupakan lagu yang paling sering dimainkan oleh mereka saat keduanya bermain piano bersama.

Dan sekarang disinilah Chanyeol. memandang Baekhyun dengan seksama. Melihat helaian rambut Baekhyun yang sedikit menutupi wajahnya dari samping, membuat Chanyeol ingin sekali, menyentuh rambut Baekhyun, mengusapnya dan menyisipkan helaian itu ke daun telinga Baekhyun.

Hampir saja tangannya bergerak namun suara piano berhenti. Menandakan lagu sudah selesai. Baekhyun menoleh. Menunggu reaksi Chanyeol dengan senyumnya yang manis.

"love me" katanya datar. Baekhyun kaget. Apa maksudnya? Apa dia baru saja menyatakan cinta? Tapi dia bilang love me bukan love you.

"yiruma. Love me" Baekhyun tersentak. Chanyeol mengingat lagu yang dia mainkan. Apakah Chanyeol mulai ingat dengan kenangan mereka juga? Menyadari Raut Baekhyun yang berubah, Chanyeol melanjutkan bicaranya. "lagu yang kau mainkan, itu yiruma, love me. Aku suka lagu lagunya."

Baekhyun sempat kecewa. Chanyeol hanya mengenali lagunya, bukan kenangan tentang lagu ini. Keduanya terdiam.

"maafkan aku." kata Chanyeol memecah keheningan

"untuk apa?"

"jika beberapa hari ini aku menyakitimu." Chanyeol tertunduk, tampak sekali ia menyesal. Merasa tak berdaya. Bingung harus bagaimana.

"kau tidak melakukan apapun padaku Chanyeol" kata Baekhyun lembut. Chanyeol menoleh kearahnya.

"entah apa itu, aku tak bisa mengingatnya Baek. Tapi aku benar benar minta maaf padamu." Lanjutnya lagi dengan tatapan sendu. Baekhyun hanya mengusap pundak Chanyeol. ia sendiri tidak tau harus menjawab apa. Dia tak mau salah bicara dan membuat situasinya jadi buruk.

Keduanya kening lagi.

"apa kau suka olah raga?" Tanya Chanyeol tiba tiba.

"sedikit. Kenapa?"

"ah.. aku mau mengajakmu bermain. Aku suka ba-"

"basket" gumam Baekhyun, Mengetahui apa yang akan Chanyeol katakan. "apa?" Tanya Chanyeol bIngung. Gadis ini kenapa semakin lama semakin aneh. "ah.. ti-tidak. Tadi kau bilang kau suka apa?"

"aku suka basket. Kalau kau biasanya suka olah raga apa?" "aku biasa bermain basket dengan sahabatku dulu." Kata Baekhyun sambil tersenyum.

"baiklah kalau begitu. Ayo!" kata Chanyeol sambil bangkit, menarik tangan Baekhyun. Baekhyun mengerjap ngerjapkan matanya lucu. Ia bingung apa maksud Chanyeol ini.

"aku ingin mengajakmu bermain basket. Ayo bersiap." Kata nya semangat.

.

.

Dan disinilah Baekhyun, di dalam mobil sambil membawa sebuah bola basket.

"kenapa kita memakai mobil? Bukan olah raga namanya" kata Baekhyun heran. Sementara Chanyeol disampingnya tertawa kecil. "tempat favoritku bermain basket jauh dari sini baek, jadi kita harus naik mobil." Baekhyun mengangguk angguk paham.

.

.

Mereka pun sampai juga ditempat yang Chanyeol maksud. Tempat itu lumayan jauh dari kawasan rumahnya. Sebuah taman luas dengan ring basket yang sudah cukup tua. Rumputnya juga tinggi dan banyak pohon. Nyaris seperti sebuah taman tak terpakai.

"ini tempat favoritmu?" Tanya Baekhyun heran sambil mengedarkan pandangannya. Chanyeol yang berjalan di depan lalu membalikan badannya, menatap Baekhyun yang keheranan.

"disini sepi. Aku bisa main sepuasku tanpa ada yang memperhatikan" kata Chanyeol sambil tersenyum. "yang kalah harus masak makan malam untuk yang menang!" kata Chanyeol tiba tiba lalu langsung merebut bola di pelukan Baekhyun.

"hey! Kau curang!" kata Baekhyun lalu mengejar Chanyeol, mencoba merebut kembali bola dari pria itu. keduanya pun larut dengan permainan mereka . Baekhyun sampai tak menyadari kalung nya jatuh. memangnya apa yang kau harapkan dari kalung murah?

Kalung itu pun tertendang sampai akhirnya tersembunyi dirumput, membuat pemiliknya tak menyadari apa yang baru saja ia hilangkan..

ooo

Dan disinilah Baekhyun berada, didapur dengan Chanyeol yang sedang menunggunya di meja makan. memasak makan malam karena dia kalah. tapi kalau dipikir pikir hukuman ini tak buruk juga. Memasak makanan untuk Chanyeol terdengar seperti istri yang menyiapkan makanan suaminya. Baekhyun jadi senyum senyum sendiri.

"Baek? Sudah belum?! Aku lapaaaar!" kata Chanyeol dari ruang makan. Nah, suami yang rewel tepatnya.

Baekhyun keluar dengan makanan. Keduanya sekarang makan dengan posisi berhadapan. Tiba tiba saat sibuk mengunyah, Baekhyun merasa sedang diperhatikan. Dan saat ia mendongak Baekhyun melihat Chanyeol sedang tersenyum manis kearahnya.

"terima kasih." Kata Chanyeol tulus.

"ah, tak perlu. Ini kan hukuman karena aku kalah."

"bukan itu .. tapi, terima kasih untuk hari ini." Katanya lembut bahkan lupa mengabari Kyungsoo seharian ini. Bersama Baekhyun berduaan saja seharian ini, benar benar membuatnya lupa dengan apapun.

ooo

Esok nya Baekhyun bangun kesiangan. Sepertinya kegiatan olah raga kemarin membuatnya benar benar lelah. Untung saja hari ini ia tidak ada kelas. Ia buru buru bangun dan mandi.

Tapi.. seperti ada yang kurang.. apa ya?

ASTAGA!

Baekhyun terlonjak saat menyadari tak ada kalung di leher nya. hampir saja ia berlari keluar kamar mandi, tapi untungnya akal sehatnya masih berfungsi. Buru buru ia menyelesaikan mandinya dan bersiap siap. Ia mulai mencari di kamar nya, mengecek kolong tempat tidur, tumpukan baju kotor dan lainnya.

Ia lalu mencoba mencari di ruang musik, mengamati setiap sudut bahkan kolong piano sampai kepalanya terantuk. Tapi ia tak menemukan kalungnya juga.

Sudah berjam jam tapi hasilnya nihil, ia bahkan bertanya pada semua maid tapi tak ada yang melihatnya. Ia ingin bertanya pada Chanyeol tapi kata Kyuhyun dia sedang pergi.

"terus aku harus mencari dimana lagi pamaaaan?" kata Baekhyun nyaris merengek. Ia lelah sekali. Kyuhyun yang sedang berbicara dengan Baekhyun jadi gemas sendiri,

"baiklah, aku akan memerintahkan semua maid untuk membantumu mencari nona, bisa kau jelas-" belum sempat menyelesaikan kata katanya, Baekhyun sudah teriak duluan. Kepala maid itu hampir jantungan dibuatnya.

"ASTAGA! JANGAN JANGAN DISANA!" kata Baekhyun sambil membelalakan matanya kaget. Seolah baru menyadari sesuatu. Secepat kilat ia pergi dan berlari keluar rumah.

"NONA WU? ANDA MAU KEMANA?" panggil Kyuhyun bingung, namun Baekhyun sudah menghilang duluan. Ia segera berlari keluar, masih menggunakan sandal rumah, tak memakai mantel bahkan tak menyadari bahwa hari sudah mendung.

Dan Baekhyun benci dengan hujan.

.

.

Sesampainya disana dengan nafas terengah, Baekhyun buru buru mencari, mengecek disetiap sudut lapangan. Ia lelah sekali. Dan hujan pun turun, semakin lama semakin deras dengan petir yang bersahutan.

Berjam jam ia mencari, Baekhyun menggigil luar biasa, kepalanya pusing sekali, tapi kalung itu harus ia temukan.

Saat sedang mencari di rumput, akhirnya kalung itu ia temukan. Ia menghembuskan nafasnya lega. Tapi, Baekhyun merasa sangat lemas, ia tak sanggup berdiri. Seharian ia belum makan dan sekarang ia kehujanan. Kepalanya pusing sekali.

tanpa Baekhyun sadari seseorang menghampirinya dengan sebuh payung yang melindunginya dari hujan, ia mendekat kearah Baekhyun, membuat keduanya terlindungi.

Sadar dengan tetesan hujan yang tak membasahi dirinya lagi, Baekhyun pun mendongak, mencari tau apa yang terjadi. Baekhyun mengernyit bingung begitu melihat sosok pria yang memayungi dirinya. Tatapannya mulai kabur namun ia masih mengenali sosok itu

"kau?" Tanya Baekhyun, sebelum akhirnya ia jatuh pingsan.

.

.

.

TBC

A/N

HEEEE maap boring. Tapi aku janji kok 2-3 chap lagi udah masuk ke inti cerita (belum sih) tapi udah masuk ke konflik gidudewww.

Mohon review dan masukannya ya Chingudeul, reviewmu penyemangatku.

Chanbaek is real!

-moza