Previously:
Sadar dengan tetesan hujan yang tak membasahi dirinya lagi, Baekhyun pun mendongak, mencari tau apa yang terjadi. Baekhyun mengernyit bingung begitu melihat sosok pria yang memayungi dirinya. Tatapannya mulai kabur namun ia masih mengenali sosok itu
"kau?" Tanya Baekhyun, sebelum akhirnya ia jatuh pingsan.
FORGOTTEN LOVE
Main Cast: Chanyeol, Baekhyun, Kyungsoo
Pairing: Chanbaek / T aoris / Chansoo dan Lainnya
Rated: T bisa naik sewaktu waktu
GS, DLDR.
enjoy
.
.
Chapter 6
Saat itu sudah larut malam. Baekhyun sedang tertidur di sebuah ranjang, ia menggeliat gelisah dalam tidurnya, seorang pria yang baru saja mandi mendekatinya dan menyentuh kening Baekhyun. "demam" gumamnya. Ia berjalan kearah pantry dan menyiapkan kompres dingin untuk Baekhyun
.
.
Flashback.
"kau?" tanya Baekhyun, sebelum akhirnya ia jatuh pingsan. Oh Sehun dengan sigap menggendong Baekhyun, melepaskan payung yang mengakibatkan keduanya basah kuyup sekarang, ia buru buru kembali ke mobilnya, menaruh Baekhyun di samping kursi kemudi. Wajah gadis itu pucat sekali.
Tiba tiba sesuatu jatuh dari genggaman tangannya yang renggang, Sehun memungut nya, dan menemukan sebuah kalung dengan bandul bulan sabit. Ia mengernyit heran, namun ia hanya menaruh kalung itu di dashboardnya dan menancap gas mobilnya.
Membawa Baekhyun pergi ke apartemennya.
Flashback end.
.
.
Sehun menghampiri Baekhyun dan mengompres kening Baekhyun dengan air es, namun, tak berapa lama, gadis itu mengigau kedinginan. Sehun naik keatas ranjang, masuk ke dalam selimut dan memeluk gadis itu dari belakang, menyalurkan rasa hangat tubuhnya.
Tiba tiba ponsel Sehun di nakas berbunyi, ia menoleh sebentar, notifikasi panggilan dari Paman Lee masuk. Sehun lalu mengubah ponselnya menjadi mode silent dan kembali memeluk Baekhyun. Dia tak bisa menjawab panggilan itu disaat dirinya sedang bersama Baekhyun.
ooo
Sementara itu di Mansion Park, si Tuan Muda sedang mondar mandir di ruang keluarga, ia tampak sangat gelisah dan khawatir. Disekitarnya seluruh maid di mansion itu sedang berjejer sambil menunduk, termasuk Kyuhyun.
"BAGAIMANA BISA KALIAN TAK TAU BAEKHYUN KEMANA! INI SUDAH LARUT MALAM!" raung Chanyeol. Ia bahkan tak bisa duduk sekarang. Sore itu setelah menemui Kyungsoo pagi itu untuk menjelaskan kenapa Chanyeol tak bisa dihubungi seharian kemarin (yang dijelaskan dengan alasan berbohong, tentu saja.) Chanyeol mendapati Baekhyun tidak ada dirumah dari, ponselnya pun tertinggal.
Dan sampai larut malam, tak ada yang tau dan berhasil menemukan gadis itu.
"Mohon maaf Tuan muda, tapi kami sudah mencarinya dimana mana."
"LALU KENAPA KAU TAK TAU DIA KEMANA?!"
"Nona Wu hanya mengatakan ia sedang mencari kalung, Tuan. lalu dia pergi berlari begitu saja." Kata Kyuhyun
"kalung? Kalung apa?" Chanyeol heran sekali. Hanya sebuah kalung? Ia sangat yakin kalau hanya untuk sebuah kalung yang hilang, Baekhyun bisa membeli lagi sekaligus tokonya. Namun Kyuhyun menggeleng tak tau.
Chanyeol segera mengambil kunci mobilnya dan berlari keluar rumah dengan tergesa, ia harus mulai mencari di suatu tempat. "kau dimana… Baekhyun." Batin Chanyeol sambil menyetir mobilnya, ia akan mencari Baekhyun kemanapun.
ooo
Saat itu Xiumin sedang duduk diruang kerja yang ada di Mansionnya, beberapa hari ini ia terlihat sangat tak fokus. Itulah sebabnya Kris dan paman Lee harus sering sering menemaninya dalam pertemuan besar dengan kolega, meninggalkan Perusahaan mereka di New York dan Canada dalam pengawasan orang kepercayaan mereka.
Tiba tiba pintu terbuka, Kris masuk dan langsung duduk di kursi di depan meja Kakanya itu. "sudah kau tanda tangani?" katanya santai. "tanda tangani apa?" jawab Xiumin bingung, tersadar dari lamunannya.
"berkas kerjasama dengan kolega dari London kemarin hyung. Kau lupa?" kata Kris jengkel. Ia bingung dengan keadaan kakanya ini. Xiumin segera mencari berkas ditumpukkan map di depannya, tatapannya masih tak fokus.
Kris bangkit dan menahan tangan xiumin, menghentikan kakanya untuk mencari.
"baiklah. Sudah cukup. Katakan padaku." Kata Kris serius. "apa maksudmu?"
"katakan padaku apa yang mengganggu pikiranmu." Xiumin diam sebentar, meminum wine nya, lalu berkata "tidak ada"
"hyung! Kau tak seperti ini. Aku tau sekali dirimu. Mungkin tingkahku masih kekanakan tapi.. aku tetaplah adikmu. Kau harus cerita padaku apa masalahmu hyung." Kata Kris khawatir. Xiumin masih bergeming. "apakah…. Soal Baekhyun?" tanya Kris ragu ragu. Keheningan kakanya seolah menjadi jawaban pasti bahwa tebakannya benar.
"hyung! Astaga. Baekhyun sudah dewasa, kau tak perlu mencemaskannya sampai seperti ini" Kris kesal sekali. Tak bisakah Hyungnya membebaskan Baekhyun sedikit saja.
"kau.. berlebihan" desisnya lagi. Mendengar hal itu Xiumin mendongak, menatap tajam kearah adiknya. "berlebihan katamu….?" Kata Xiumin dengan tatapan tak percaya.
"apakah mengkhawatirkan adik bungsuku sendiri itu berlebihan? Dia di korea SENDIRIAN. Dengan keluarga yang sudah tak berkomunikasi dengan kita selama 3 tahun. Apakah berlebihan jika aku takut terjadi apa apa dengannya?! sebelum kau menandatangani project itu, Kau bahkan tak mencari tau terlebih dahulu apa yang terjadi pada keluarga Park selama 3 tahun belakangan ini!" Bentak Xiumin, Kris terdiam. Namun menurutnya, hal itu tak menjelaskan apapun.
"lihat mataku! apakah menurutmu aku akan sanggup jika adik adikku terluka? Jika ada sesuatu hal buruk terjadi dengan dirimu dan Baekhyun?! Aku hanya menjaga kedua keluargaku yang tersisa Yi Fan! Apa menurutmu aku akan bertahan jika kehilangan kalian disaat aku sudah kehilangan Ibu dan Ayah! Seumur hidupmu kau berfikir aku hanya mengekang kalian terlebih Baekhyun. Dan menyayanginya hanya dengan cara menghujani materi berlimpah.
Tapi kau tak pernah mngerti di posisiku! Aku tak bisa melepaskan tanggung jawabku sebagai penerus Yi Fan. Belasan ribu orang menggantungkan hidupnya pada perusahaan kita. Mulai dari security, janitor sampai jejeran direksi, petinggi dan pemegang saham. Mereka mempercayai perusahaan yang dirintis ayah dan ibu dari dulu! Tapi aku juga harus memikirkan adik adikku.
jika aku memang salah, lalu apa yang seharusnya kuperbuat sekarang!" kata Xiumin penuh emosi. Kris terdiam. Ia nyaris menangis, bukan karena dimarahi tapi karena beban yang dipikul kakanya.
"percayalah pada Baekhyun." Kata Kris kemudian. "percayalah jika baik baik saja." Lalu Kris bangkit, meninggalkan kakanya yang termenung.
"kau tak mengerti Yi Fan… kau belum mengerti" batinnya.
.
.
Flashback.
Saat itu Xiumin sedang berada di ruangan kerjanya di Kantor Pusat perusahaan mereka di Beijing, Ruangan yang dulu digunakan ayahnya. Ia mengedarkan pandangannya, menatap ruangan itu rindu. Ia bahkan masih bisa mengingat bagaimana sosok ayahnya yang duduk dengan raut wajah serius, berkutat dengan berkasnya, lalu Xiumin, Yi Fan dan Baekhyun akan menghambur ke dalam ruangan memberi Kejutan pada ayahnya, diikuti ibunya yang berjalan dibelakang. Dan sang ayah akan berdiri menyambut mereka dengan senyum bahagia.
Xiumin tersenyum, mengingat kejadian itu. Tak jauh dibelakangnya, ada Paman Lee yang sedang menatap Pemimpin perusahaan yang baru.
"Tuan Besar, selamat atas pengangkatanmu menjadi pemimpin W&B corporation yang baru. Saya yakin, anda akan memimpin perusahaan dengan baik." Kata Paman Lee, mentor sekaligus ayah pengganti untuk Xiumin setelah kedua orang tuanya meninggal.
"Xiumin saja paman. Aga aneh jika kau memanggilku tuan besar" Kata Xiumin ramah, sambil membalikan badannya, menatap pria berumur itu. Seumur hidupnya, ia tak pernah menganggap Paman Lee adalah bawahannya, mengingat betapa banyak jasa yang telah di berikan pria itu kepada perusahaan.
Paman Lee tersenyum hangat, "nanti anda juga terbiasa."
Senyum Xiumin perlahan menghilang.
"ada apa, Tuan?"
"aku tak percaya… aku akan menggantikan posisi mereka secepat ini." Kata Xiumin sambil menyentuh ujung meja kerjanya, mengusapnya rindu seolah banyak kenangan disana.
"tak ada yang harus anda khawatirkan, Tuan. Kecuali…" Xiumin menoleh, memperhatikan paman Lee, menunggu kata kata selanjutnya. Pria itu mendekati Xiumin, memastikan jarak mereka cukup dekat.
"Xiumin-ah.. ada suatu hal yang harus kau tau. Aku belum berani mengatakan hal ini sampai kau sudah masuk ke dalam perusahaan. Dan kurasa sekarang kau sudah siap." Kata Paman Lee serius sekali. Jika ia sudah memanggil Xiumin dengan namanya, ini jelas bukan menyangkut pekerjaan.
"apa itu paman?"
"tentang apa yang akan kau hadapi." kata Paman Lee. Xiumin terdiam, mendengarkan baik baik apa yang Paman Lee akan katakan.
"Xiumin, kau tau dalam dunia bisnis kau akan menemukan banyak ular, banyak musuh. Dan kau harus persiapkan hal itu. Jaga perusahaan dan keluargamu dengan baik. Karena… aku rasa kalian sedang diincar."
"a-apa maksudmu paman?" tanya Xiumin panik.
"Xiumin, ada indikasi bahwa kematian orang tuamu… bukan disebabkan oleh kecelakaan namun rencana pembunuhan oleh salah satu saingan bisnis ayahmu. Dan kuyakin itu adalah salah satu rekanan yang dekat dengan W&B. mungkin sahabatnya. tapi yang pasti adalah orang orang terdekat. kami mencurigai hal itu." jelas Paman Lee. Xiumin membelalakan matanya kaget. Ia benar benar tak siap dengan kabar ini, ia terjatuh dikursi yang ada didekatnya. Ia mengusap kepalanya dengan kasar. Kebingungan harus bagaimana.
"a-apa yang harus kulakukan sekarang? Bagaimana dengan Yi fan? Baekhyun?" kata Xiumin luar biasa khawatir.
"tenang lah… aku akan membantumu. Tapi dengan satu syarat."
"apa itu paman?" kata Xiumin sambil mendongak, menatap Paman Lee penuh harap. "percayalah sepenuhnya padaku."
Flashback end.
.
.
Xiumin menyenderkan tubuhnya dikursi, memejamkan matanya, ia merasa sangat lelah. Dan sebuah bayangan orang tuanya sepintas muncul dibenaknya.
"ayah… ibu… apakah aku gagal menjaga adik adikku?" gumamnya dengan nada bergetar.
"Apakah selama ini aku salah?", dan setetes air mata jatuh ke pipinya. menjadi salah satu saksi bisu diruangan besar itu, menemani Xiumin yang sendirian di malam hari
.
.
Sementara itu, dibelahan Bumi yang lain, tepatnya di kota New York, Paman Lee sedang berada diruangan pribadi di rumah mewahnya, menatap sebuah foto besar keluarga Wu, dan memandang ketiga penerus keluarga itu lekat lekat.
Tak jauh dari situ, tampak ponselnya menyala, dengan layar riwayat panggilan keluar ke nomor Mr Oh, yang tak kunjung diangkat oleh pemilik nomor.
ooo
Chanyeol pulang kembali ke Mansionnya dengan tangan hampa. Ia terduduk di sofa ruang tamu menatap pintu masuk rumahnya yang besar, menunggu jika seseorang yang ia harapkan masuk lewat pintu itu. Sampai akhirnya ia jatuh terlelap disana.
.
.
Baekhyun terbangun disebuah ruangan asing dengan selimut tebal yang menutupinya. Ia terduduk dan menemukan dirinya sedang memakai baju yang bukan miliknya. Baekhyun kaget seketika. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, mencoba mencari tau dimana ia sekarang.
Ada sebuah cahaya yang masuk dari celah celah tirai, Baekhyun bangun dan berjalan mendekati jendela. Dari pemandangan yang terlihat diluar, satu satunya petunjuk adalah bahwa Baekhyun sedang tidak berada di Mansion Park. Suasana kota Seoul dari ketinggian dan intertior modern kamar dimana ia berada menunjukan Bahwa Baekhyun ada disebuah hotel atau apartemen mewah di pusat kota.
Ia mencoba mencari-cari petunjuk lain dimana ia sekarang, Baekhyun hampir membuka sebuah laci sampai sebuah suara menginterupsinya.
"kau sudah bangun?" Baekhyun terlonjak dan menemukan seorang pria yang dikenalnya sedang berdiri di ambang pintu dengan celemeknya. Pemandangan yang langka sekali.
"Se-sehun. Aku dimana?" kata Baekhyun kikuk. "di apartemenku. Kau pingsan kemarin sore." Kata Sehun datar. Baekhyun mengangguk angguk mengerti sampai tiba tiba…
"TUNGGU DULU! Be-berarti baju yang kupakai ini milikmu?! A-aku bermalam disini?!" tanya Baekhyun setengah berteriak. Wajahnya panik dan memerah karena malu. Sementara Sehun hanya menganggukan kepalanya dan memasang wajah polos seolah kekhawatiran Baekhyun bukanlah hal yang berarti.
"ASTAGA! DASAR KAU PERVERT!" amuk Baekhyun sambil menghampiri Sehun bersiap melayangkan pukulannya. Sehun hanya terpaku sambil membelalakan matanya kaget saat gadis sipit ini memukulinya bertubi tubi. Dengan mudah, Sehun menangkap tangan Baekhyun, menghentikan gadis itu, Baekhyun terdiam, Sehun lalu mendekatkan wajahnya kearah Baekhyun.
Gadis sipit itu yakin sekali wajahnya sudah sangat merah sekarang. "jika aku tak membuka bajumu dan menggantinya dengan bajuku. Kau pasti masih pingsan dengan demam tinggi karena kedinginan." Kata Sehun datar sambil memberikan smirknya yang menyebalkan.
Sehun melepas genggamannya saat Baekhyun sudah normal kembali. Dengan bodohnya, gadis itu menggesek-gesekan paha dalamnya mencoba merasakan sesuatu, ia menggigit bibir bawahnya, jelas sekali sedang gelisah. Pandangan nya ia alihkan agar tak bertatapan dengan sehun. Sehun yang melihat Baekhyun seperti ini merasakan hal aneh di dadanya.
Dan di juniornya.
Baekhyun menggemaskan sekali. Sehun sempat tak berkedip beberapa detik sampai akhirnya ia menyadari mengapa Baekhyun melakukan hal itu.
"yak. Kau pikir aku berbuat macam macam denganmu?" tanya Sehun tajam. Baekhyun tersontak. Kan.. bisa saja… batin Baekhyun. Tapi ia tak merasakan sakit di selangkangannya. Yah, dia belum pernah melakukan hal itu, dan kata Luhan saat melakukan hal itu pertama kali pasti rasanya menyakitkan. Baekhyun sendiri tak tau sahabat konglomeratnya yang bodoh itu benar benar sudah melakukannya atau tidak. Luhan tak pernah dekat dengan lelaki. Ia sangat pemilih. Sangat teramat pemilih.
"ah… ti-tidak" kata Baekhyun salah tingkah. "makan lah. Aku sudah menyiapkan bubur hangat untukmu." Kata Sehun. Ah pantas saja dia memakai celemek. Baekhyun pun mengangguk canggung dan segera pergi keluar. Sementara Sehun buru buru menghampiri laci yang hampir Baekhyun buka. Laci dimana ia menaruh foto Baekhyun.
Dengan sigap ia kunci laci itu dan membuang kuncinya asal ke kolong tempat tidur. Baekhyun tak boleh tau tujuan ia kemari. Ia tak boleh tau siapa Sehun sebenarnya.
.
.
Baekhyun memandangi bubur di depannya dengan alis bertautan. Ia kebingungan. Apa ini.. layak dimakan?
"aku tak pernah masak sebelumnya. Jadi maaf kalau rasanya tak enak" kata Sehun sambil berjalan dari kamarnya. Ia pergi ke pantry dan mengambil dua gelas air untuk dirinya dan Baekhyun, sementara Baekhyun hanya memberikan senyum tak enaknya pada Sehun.
Baiklah, tak mungkin seburuk itukan? Batin Baekhyun sambil menyuap sesendok bubur. Ia mengunyah sebentar. Lalu..
Okay. Ini memang buruk. Sehun yang sedang mengecek ponselnya saat itu tak menyadari raut wajah Baekhyun. "bagaimana?" kata Sehun sambil mendongak, melihat apakah buburnya berhasil. Baekhyun menelan bubur itu sekuat tenaga. Dan memberikan senyum terbaiknya.
"ah.. lumayan Sehun-sshi." Kata Baekhyun, meskipun ada setetes airmata yang nyaris menetes diujung matanya. Dia harus menyelamatkan diri dari makanan mematikan ini.
"ah.. apa kau punya bahan makanan lain?" tanya Baekhyun senormal mungkin. Sehun mengangguk. "ada di kulkas. memangnya kenapa?"
"hm.. begini. Kau kan sudah menolongku. Bagaimana kalau… aku memasak sarapan untuk kita berdua sebagai ucapan terima kasih." Kata Baekhyun beralibi. Sehun mencerna kata kata Baekhyun barusan. Sebelum si pria bule ini merespon. Baekhyun sudah berdiri dan nyaris berlari ke kulkas, mengeluarkan barang makanan.
Sesekali ia bertanya dimana alat alat masak nya dan bumbu yang lain. Dan Sehun akan menjawab singkat. Baekhyun sempat kaget juga melihat alat masak Sehun yang sangat lengkap. Berbanding terbalik dengan kemampuan memasaknya.
Sehun menatap punggung Baekhyun yang sedang sibuk memasak di depannya. Penasaran, ia mencoba bubur yang ia buat. Tanpa keraguan sedikit pun ia menyendok lalu menyuapkan gumpalan aneh itu kemulutnya.
Ia terbatuk batuk, Baekhyun yang kaget dengan suara itu langsung menoleh. Ia menghampiri Sehun buru buru. "kenapa Sehun-ah? Ini, minumlah" kata Baekhyun sambil memberikan segelas air pada Sehun. Pria itu buru buru menenggak habis minumannya. Ia terdiam beberapa detik, masih shock dengan rasa mengerikan yang baru saja ia ciptakan.
"kenapa kau batuk?"
"tersedak minuman" bohong Sehun. "hati hati lah lain kali Sehun-ah" kata Baekhyun lalu segera kembali memasak. Sehun sempat terdiam beberapa saat. Entah karena minuman tadi atau panggilan Baekhyun yang memanggilnya tanpa embel embel –sshi yang membuatnya sedikit rileks.
Sehun buru buru menghilangkan pikiran itu, ia tak boleh merasakan hal ini. Disini ia hanya melakukan tugasnya.
Sehun menatap kembali bubur di depannya. Ia bersumpah, ia lebih memilih menggorok leher ratusan orang ketimbang memasak lagi. Tapi, dari keberhasilannya membuat bubur ini, mungkin ia berbakat membuat racun.
.
.
Baekhyun selesai menyiapkan sarapan, keduanya tengah makan sambil berhadapan sekarang. Sehun bisa melihat dengan jelas betapa cantiknya Baekhyun. Merasa diperhatikan baekhyun mendongak, masih dengan pipi yang menggembul karena penuh dengan makanan.
Sehun sampai tertawa kecil karena melihat Baekhyun sungguh menggemaskan.
"kenapa? Tak enak?" Tanya Baekhyun khawatir.
"tidak buruk" sahut Sehun, padahal Sehun bersumpah masakan Baekhyun sangat enak. Yaaa. Meskipun tak seenak makanan mahal yang biasa disantap keduanya, tapi makanan ini jauh lebih layak konsumsi ketimbang buburnya tadi.
"oh iya, bagaimana kau bisa menemukanku?"
"aku mencarimu kerumah. Aku ingin mengajak pergi untuk membuat tugas, tapi kepala maid mu bilang kau tak ada, saat dijalan pulang aku melihatmu dari kejauhan, dan, yeah seperti itulah." Bohong Sehun.
"terima kasih sehun-ah." Kata Baekhyun tulus sambil tersenyum. Ah tidak. Jangan senyum itu. "kau sudah menyelamatkanku. jika tak ada kau, aku tak tau akan bagaimana. Aku tak tahan dengan dingin"
"dingin" batin Sehun bersamaan. Nona Wu, aku tau segala macam tentangmu.
"sama sama Baekhyun-sshi" kata Sehun singkat. "Baekhyun saja. Aku tak mau terlalu canggung denganmu." Kata Baekhyun lagi, Sehun sempat terdiam beberapa detik karena Baekhyun. Ada sesuatu di dalam diri Baekhyun yang tak Sehun pahami.
"ah iya! Kita harus bersiap! Kuliah kita bagaimana?!" kata Baekhyun tiba tiba panik. "Baekhyun. Hari ini hari libur." Kata Sehun datar. Ah… dan sifat nya yang satu ini. Selalu saja terjadi.
ooo
Pagi itu Sehun mengantar Baekhyun pulang kembali ke mansionnya. Mendengar deru mobil, Chanyeol terbangun dari tidurnya, ia mengintip dibalik tirai dan menemukan sebuah mobil mewah asing baru saja masuk dan berhenti di depan. Dengan tergesa, Chanyeol membuka pintu rumahnya dan segera keluar.
.
"terima kasih, Sehun-ah, maaf merepotkanmu, sampai jumpa." Kata Baekhyun, lalu turun dari mobil. Betapa kagetnya ia saat melihat Chanyeol keluar dari rumah dengan penampilan berantakan-seperti kurang tidur-sedang melangkah besar besar kearahnya.
Raut wajahnya jelas sekali marah, Baekhyun ketakutan, ia sempat berfikir untuk masuk dan pergi dengan Sehun menyelamatkan dirinya, tapi Chanyeol sudah lebih dulu menarik lengannya.
"WU BAEKHYUN! DARI MANA SAJA KAU!" raung Chanyeol. "a-aku." "lepaskan tanganmu." Kata Sehun santai, ia sekarang sudah keluar dari mobilnya, dengan tangan dimasukan ke saku. Tenang sekali.
"apa urusan mu?!" kata Chanyeol sambil mengalihkan pandangannya pada Sehun.
"kau tak malu menyakiti seorang wanita?" Sehun mendengus remeh. Chanyeol melepaskan genggamannya dan menghampiri Sehun dengan aura membunuh. Baekhyun sendiri ketakutan, ia berusaha menarik Chanyeol tapi Chanyeol lepas dengan mudahnya. Sehun dan Chanyeol berhadapan sekarang, dengan jarak wajah keduanya hanya beberapa inci.
"apa kau yang membawa Baekhyun pergi semalaman?" desis Chanyeol. "ya." Kata Sehun santai. Dan sebuah hantaman mengenai rahang Sehun, ia terdorong beberapa langkah, pukulan itu sukses membuat bibir pria stengah bule itu robek dan berdarah. Sehun sebenarnya ingin sekali membalas, tapi bukan Chanyeol misinya ke Korea, ia tidak mendapatkan izin untuk menghabisinya, setidaknya belum.
Baekhyun menjerit dan berlari menghampiri mereka, mencoba melerai, tapi tangan Chanyeol menahannya. "jika kau mendekatinya, aku akan makin menghabisinya." Baekhyun sudah menangis sekarang, ia tak bisa melihat hal ini.
"kau mengancam wanita? Wah.. kau benar benar pecundang" celetuk Sehun, membuat Chanyeol makin marah, ia menghampiri laki laki itu bersiap melayangkan tinju nya lagi, namun sebuah klakson mobil menginterupsinya.
Ketiganya menoleh dan mendapati sebuah mobil baru saja masuk dan berhenti disamping mereka. Jongdae segera keluar dari mobilnya, diikuti oleh Kai, keduanya menghampiri Chanyeol. Menahan temannya agar tak mengamuk.
"dengar kawan, sebaiknya kau pergi." Kata Kai, memperingati Sehun. Sehun menatap tajam Chanyeol, kemudian mengatakan "baiklah. Tapi…. Baekhyun?" pandangannya ia alihkan ke seorang permpuan yang berdiri tak jauh di belakang Chanyeol.
Sehun merogoh sakunya sambil menghampiri Baekhyun, melewati Chanyeol begitu saja, tampak seperti orang tak sayang nyawa.
"kau melupakan sesuatu. Kemarin aku mau memakaikan ini, tapi tak jadi karna aku tak mau mengganggu tidurmu. Kau tampak sangat lelah, sehabis melakukan itu." Kata Sehun ambigu, yang dihadiahi oleh tatapan terbelalak oleh yang lainnya. Ia sengaja, maksudnya adalah kegiatan lari larian dan hujan hujanan nya demi kalung bodoh. Tapi, membuat Chanyeol semakin marah ternyata sangat menyenangkan.
Ia mengeluarkan Kalung dari sakunya yang tadi diambil dari dashboard mobil, ia menghampiri Baekhyun dan memakai kan kalung itu dari depan, sambil sedikit menunduk untuk mengaitkan kalung di leher gadis yang lebih pendek darinya ini. orang yang salah lihat pasti akan beranggapan bahwa Sehun sedang memeluk Baekhyun.
Sementara Baekhyun sendiri masih kaget dengan sikap tiba tiba Sehun. Ia bahkan kelupaan Kalungnya lagi. Dia membatu melihat Sehun sedekat ini, ia bisa mencium parfum maskulin pria itu. Setelah Selesai, Sehun menarik kembali tangannya dan membisikan sesuatu pada Baekhyun yang masih bisa didengar jelas oleh yang lainnya.
"aku akan mengantarkan bajumu yang tertinggal" kata Sehun, lalu pamit dengan smirk menyebalkannya. Dan wajah Baekhyun memerah.
Setelah tersadar kembali, Chanyeol melepaskan diri dari tangan Kai dan Jongdae yang tengah menahannya tadi.
"wow. Dia pacarmu?" tanya Jongdae kaget. "ah Baekhyunnnn, kau mencampakanku." Kata Kai berlagak ngambek.
Sementara Chanyeol hanya menatapnya dingin. "Wu Baekhyun, kau berhutang penjelasan padaku." Kata Chanyeol lalu masuk ke dalam rumah.
.
.
Mereka sekarang diruang keluarga, Baekhyun menjelaskan semuanya, dan ketiganya mendengarkan dengan seksama.
"memangnya, kalung apa yang kau cari sih?!" tanya Jongdae penasaran. "ah. Bu-bukan apa apa. Kalung ini memang tak mahal tapi sangat berharga untukku." Kata Baekhyun. Chanyeol yang mencuri pandang kearah kalung Baekhyun, mengenali kalung itu. Itu adalah hadiahnya untuk Baekhyun pada saat di festival. Mendengar hal itu, Chanyeol tersenyum kecil, tanpa ada yang menyadari.
"tapi, jika kau memang jadian dengan pria bule itu, aku rela kok Baek. Dia lebih putih dariku. Aku mengerti jika kau berpaling dariku dan memilih dia" Kata Kai dramatis. Sementara Jongdae memutar bola matanya malas, dan senyuman Chanyeol menghilang. Tiba tiba entah mengapa ia kesal dengan Kai tanpa alasan yang jelas.
ooo
Beberapa bulan berlalu. Tak ada perubahan yang signifikan kecuali, Sehun dan Baekhyun semakin dekat, lalu Chanyeol akan bertingkah aneh dan Kyungsoo yang semakin sering bertemu dengan Chanyeol. Lalu Jongdae yang masih mencintai makanan serta Kai yang masih dikelilingi Yeoja.
Tak lupa, kaka kakanya dan Luhan yang rajin menelfonnya untuk menanyakan kabar dan bertukar cerita (meskipun tak bisa dianggap bertukar cerita sesungguhnya karna Baek tak pernah menceritakan apapun soal Chanyeol maupun Sehun secara detail. Entahlah, ia hanya tak ingin.)
Malam itu Baekhyun sedang berada di halaman belakang dengan ponsel menempel dikupingnya, sudah cukup lama ia menghabiskan waktunya di halaman. baru saja selesai Video Call dengan Luhan, sekarang giliran kaka tingginya yang menggangu.
"Baek, kau sebentar lagi ulang tahuuuun!" kata Kris diseberang telfon sumringaaah sekali.
"aku yang ulang tahun kenapa kau yang senang sekali?"
"hahaha, karna aku rindu padamuuuu. Aku ingin cepat bertemu dan bersenang senang lagi!"
"memangnya kau tidak bersenang senang disana?"
"ah… Xiumin Hyung sedang sangat 'manja' aku dan paman Lee harus membereskan banyak hal di Beijing. Beijing tak bisa lebih membosan kan dari biasanya. Tapi, ulang tahunmu pasti akan dirayakan Baek! Tentu kan lah kau mau dimana. Aku belum mendapat tagihan kartu kreditmu, omong omong. Apa kau tidak berbelanja pakaian atau sewa tempat untuk acaramu?"
"ah, aku belum ada rencana. Nanti kupikirkan dulu."
"baiklah. Kabari kami ya. Aku menyayangimu!"
"ya aku juga membencimu!"
"YAK!" sebelum si tinggi menyelesaikan kalimatnya Baekhyun sudah memutuskan panggilan sambil terkekeh.
Sebenarnya ia tidak ingin muluk muluk untuk hari ulang tahunnya. Chanyeol ada disana saja sudah cukup.
Astaga, ulang tahunnya seminggu lagi dan dia belum mempersiapkan apapun. Mungkin jika ia membicarakan ini dengan Chanyeol ia akan mendapat ide. Baekhyun bangkit dan memutuskan kembali ke dalam
.
.
"Chanyeol?" panggil Baekhyun takut takut, sambil mengetuk pintu kamarnya. tak ada respon, Ia mengetuk lagi,
Lalu pintu terbuka sedikit dengan kepala Chanyeol yang menyembul keluar. Rambutnya berantakan. "ya Baek? Aku aga sibuk sekarang" kata Chanyeol aga terengah sementara Baekhyun masih memandangnya bingung.
"siapa itu Yeol?" tanya suara yang Baekhyun kenal dari belakang Chanyeol. Suara Kyungsoo. Baekhyun merasakan jantungnya mencelos.
"ah.. baiklah. Maaf menganggu" kata Baekhyun sambil kembali ke kamar, ia paham sekali apa yang Chanyeol maksud dengan 'sibuk' barusan. Dadanya sesak sekali.
.
.
Sudah seminggu Chanyeol selalu jarang dirumah dan sibuk dengan Kyungsoo. Saat itu sedang libur kuliah, Jongdae sedang pergi menemui orang tuanya di Jepang. Sementara Kai sedang pergi berpergian dengan Noona nya yang baru lulus kuliah di luar negeri.
Pagi itu hari ulang tahun Baekhyun, tapi ponselnya sepi. Apa kaka kakanya lupa? Sesibuk apapun, kaka kakanya tak akan melewatkan hari ulang tahunnya. Ia bangun dan segera mandi. Berharap suatu hal baik akan terjadi hari ini.
Saat ia sedang bersiap, ia mendengar suara pintu kamar Chanyeol yang terbuka, Baekhyun buru buru keluar, mencoba menyapa Chanyeol dan yah.. mencoba mengajaknya merayakan ulang tahun. Tapi niat itu diurungkan begitu ia melihat Chanyeol dengan maid nya yang sedang menenteng koper. Seperti ingin berpergian.
"kau mau kemana?" tanya Baekhyun heran.
"ah.. hai Baek, aku akan pergi liburan dengan Kyungsoo 1 minggu. Kalau kau, ada rencana apa?"
"hm.. bertemu keluargaku." Bohong Baekhyun.
"baiklah, pesawatku sudah menunggu, sampaikan salamku pada keluargamu ya Baek, selamat liburan. Sampai jumpa" kata Chanyeol bahagia, lalu pergi. Baekhyun hanya mendesah kecewa.
ia hanya tidur tiduran dikamar sampai siang.
lalu, tiba tiba ponselnya berbunyi. Sebuah nomor korea yang tak ia kenal menghubungi dirinya.
"yoeb-"
"HAPPY BIRTHDAY BAXIAAAAANNNNNN!" suara nyaring Luhan menusuk telinganya, lalu suara tepuk tangan dan suara nyanyian selamat ulang tahun dengan bahasa China yang dinyanyikan dengan nada fals. Baekhyun bingung, sebenarnya berapa banyak pasukan yang sedang bersama Luhan.
"SELAMAT ULANG TAHUN ADIK KECILLLL." Lalu suara nyaring Kris terdengar. Ah sekarang sudah jelas darimana suara ribut tadi. "bersiaplah, orang suruhanku akan menjemput dirimu." Dan panggilan dimatikan. Setidaknya, masih ada keluarga yang menemaninya ulang tahun.
.
.
Dan disinilah Baekhyun, disebuah hotel mewah yang disewa Kakanya untuk merayakan ulang tahunnya. Sederhana memang, hanya makan siang bersama dengan Luhan, Tao, Kris dan Xiumin.
"ah.. Baxian, ini hadiah ulang tahun dariku. Semoga kau menyukainya." Kata Tao yang duduk disampingnya, sambil memberikan sebuah kotak berisi tas mahal untuk Baekhyun.
"terima kasih eonnie." Kata Baekhyun sambil mencium pipi Tao
"hah, hanya sebuah tas?" kata Kris remeh dari seberang meja, meledek kekasihnya sendiri. "ini, hadiah dariku. Kupikir kau membutuhkannya." Sebuah kotak kecil hitam tanpa pita Kris berikan pada adiknya. Baekhyun membukanya, itu adalah sebuah kunci mobil sport baru, berbeda dengan miliknya di Beijing.
"terima kasih oppa!" kata Baekhyun senang sambil memberikan ciuman di udara. Kris tersenyum bangga. "kan, hadiahku lebih bagus darimu." "enak saja. Tas ini harganya lebih mahal dari mobil berisik mu itu!" Semprot Tao. Sepasang kekasih ini, pasti selalu begitu.
"nah, ini dariku. Pakailah disaat yang tepat!" kata Luhan yang duduk disamping kiri Baekhyun, sambil mengedipkan sebelah matanya. Baekhyun membuka kotak itu, matanya terbelalak, Tao terpekik kaget.
"kau.. memberikanku lingerie?" tanya Baekhyun heran, Kris dan Xiumin yang duduk dihadapan Luhan memberikan death glare pada gadis rusa itu.
"ah.. gu-gunakan disaat yang tepat. Sepertiyang kubilang!" katanya sambil tersenyum kikuk. "wah Luhan, aku kagum dengan seleramu, Baek ini dari brand mahal. sangat berkelas. Bahannya bagus. Pasti cocok untukmu. Dan-" belum selesai Tao menjelaskan, Kris berdehem, menghentikan ocehan tunangannya.
"ya. Terimakasih omong omong." Kata Baekhyun sambil tertawa kecil dan juga mencium pipi luhan. Sekarang tinggal Xiumin. Semua orang penasaran dengan apa yang akan ia berikan. Xiumin selalu memberikan hadiah mahal dan terbaik untuk adik adiknya.
"ini dariku." Kata Xiumin sambil memberikan sebuah kotak cukup besar. Baekhyun membuka kotak itu dan menemukan pigura foto yang besar. Berisi foto kedua orang tuanya, Kris, Xiumin, Tao dan Luhan dalam satu Frame yang disusun dengan indah. Dibalik pigura itu tertulis, "keluarga adalah harta yang paling berharga. Kami menyayangimu" Dalam Bahasa China. Baekhyun mendongak, matanya sudah berkaca kaca menahan tangis.
"Selamat ulang tahun Wu Baekhyun, oppa menyayangimu" kata Xiumin lembut dengan senyumnya. Baekhyun bangkit dari kursinya, dan berjalan mendekati Xiumin yang duduk diseberang meja.
"aku juga sangat menyayangimu oppa. Terima kasih." Kata Baekhyun sambil mencium pipi sang kaka dan memeluknya lama sekali. Kris, Tao dan Luhan tersenyum haru. Yah, tak perlu kado yang mahal, karena semua harta Xiumin juga milikmu Nona Wu.
.
.
Malam pun tiba, karena jadwal yang padat, mereka semua harus kembali ke negara masing masing, Kris ke Canada karena ia harus tetap memantau perusahaan disana, Luhan ke New York, Xiumin ke Beijing dan Tao yang ada pemotretan di Tokyo. Untuk meluangkan waktu pergi ke Korea saja, mereka harus me-reschedule ulang semua kegiatan, kecuali Luhan, ia hanya sibuk kuliah.
Baekhyun pulang mengendarai mobilnya ke mansion park. Ia kaget begitu melihat sebuah mobil yang ia kenal sedang terparkir di depan pintu masuk,
Baekhyun turun dari mobil nya yang ia parkirkan dibelakang mobil itu. Ia menghampiri dan mengetuk kaca kemudinya. Kaca itupun perlahan turun, memperlihatkan wajah sipemilik yang menunggu dari tadi.
"sedang apa kau disini, Sehun?" tanya Baekhyun bingung.
"mencarimu. Kata Maid-mu kau pergi. Aku memutuskan untuk menunggumu."
"kenapa tidak masuk kedalam?"
"takpapa, aku lebih suka disini"
"kenapa kau tidak menelfonku?"
"ponsel mu tak aktif." Ah iya, ponselnya mati.
Setelah Baekhyun meminta maid memarkirkan mobilnya, ia pergi dengan Sehun. Mereka sekarang berada di dekat sungai Han. Baekhyun masih diam, bingung kenapa ia dibawa kesini malam malam.
tiba tiba Sehun mengambil sesuatu dari kursi belakang. Ia membuka kotak itu lalu menyalakan api diatas lilin yang ada didalamnya.
dan terlihat lah sebuah strawberry shortcake mini, hanya untuk dimakan sendiri. "happy birthday, Baekhyun." Kata Sehun sambil tersenyum kecil sambil memegang kotak itu di tengah tengah dirinya dan Baekhyun.
"kau tau hari ulang tahunku? Bagaimana bisa?" tanya Baekhyun tak percaya dan senang. Ia benar benar tak menyangka. Sehun adalah orang terakhir yang ia harapkan tau tentang ulang tahunnya.
"intuisi" jawabnya singkat. Baekhyun kemudian meniup lilin itu, membuat Susana mobil kembali gelap. Ia buru buru menarik wajahnya saat ia tau jarak kedua wajah mereka terlalu dekat.
"aku ada hadiah untukmu." Sehun menyerahkan sebuah kotak lain pada Baekhyun, ia membukanya dan menemukan sebuah jam tangan cantik. Simple, modern dan berkelas.
"jika kau ada masalah, tekan ini, aku bisa tau kordinat dirimu berada dan membantumu." Kata Sehun sambil menunjukan sebuah tombol kecil. Baekhyun mengangguk angguk.
"lalu, bagaimana kau akan tau?"
"aku mengaktifkan sistemnya di ponselku. Aku akan mendapatkan notifikasi gawat darurat darimu."
"WOAHHHH! Daebakkk" kata Baekhyun takjub. Sementara Sehun puas sekali melihat Baekhyun. Entah karena senyum itu atau rencananya berhasil.
"terima kasih Sehun-ah!" Baekhyun hampir saja mencium pipi Sehun seperti yang ia lakukan tadi pada Luhan dan yang lainnya. "ayo! Kita keluar! Aku ingin mencoba! Kau tunggu disini ya!" kata Baekhyun bersemangat. Ia lalu turun dari mobil dan berlari seperti anak kecil, mencari tempat persembunyian.
"dengan alat itu, aku bisa tau kau dimana Baekhyun. Akan semakin mudah bagi ku menemukanmu dan membantuku dalam misi ini." Gumamnya.
"seperti yang kubilang, i will find you, Wu Baekhyun. Dan aku tak pernah gagal." Lanjut Sehun dan sebuah notifikasi lokasi Baekhyun masuk ke ponselnya. Ia lalu turun dari mobil, menghampiri kordinat itu, dengan senyum dinginnya.
Karena dia Oh Sehun, pria berdarah dingin. Dan akan selalu seperti itu kan?
ooo
Di suatu tempat yang lain..
Chanyeol dan Kyungsoo baru saja landing di Sydney. Ia tak mengerti kenapa Kyungsoo merengek untuk liburan bersama kemari. Tapi perasaan Chanyeol mendadak aneh melihat kota ini.
Dan perasaannya terus berlanjut sampai esok harinya saat kyungsoo menyeretnya paksa untuk melihat kebun binatang. Baru sebentar mengitari kebun binatang itu, tapi ia merasa ada sesuatu yang janggal. Kepalanya pusing, perasaannya tak enak dan gelisah.
Ia meninggalkan Kyungsoo disana dan segera kembali ke hotel. Kyungsoo yang baru sampai ke sadar Chanyeol menghilang buru buru kembali kehotel dan mendapati kekasihnya sedang mengepak bajunya, ia mengernyitkan dahinya bingung.
"kau kenapa Chanyeol. Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Kyungsoo khawatir.
"chagi, maafkan aku… tapi.. aku rasa kita harus pulang. Aku tak bisa berlama lama disini."
"kenapa? Kita baru sampai kemarin" tanya Kyungsoo makin bingung. Chanyeol menghampiri kyungsoo, menangkup wajah Kyungsoo dengan kedua tangannya dan mencium kening gadis itu.
"maaf Soo, aku hanya tak bisa." Kata Chanyeol sambil memeluk kekasihnya. Ia sendiri tak mengerti, ia meminta maaf karena merusak acara libur mereka atau… ia hanya ingin pulang. Entah apa alasannya, tapi hatinya ingin bertemu seseorang.
Bertemu Baekhyun.
.
.
TBC
A/N
abal as always. Maaf kalo ff ini ga sesuai dengan yang diharapkan huhuhu. Ayooo Sehun siapa ayoooo. Makasih buat kaka kaka yang nge review. Akuh terharu :"3
Review terus ya dan kasih masukan kalian supaya aku bisa makin semangat dan lebih baik lagi nulisnya.
Review mu penyemangat dirikoeh.
Chanbaek is real!
-Moza.
