How do they get marriage?

Bagaimana mereka (GinHiji) menikah?

.

.

"Oi, katakan sesuatu!," tuntut Hijikata pada pria bersurai putih (silver(?)) di hadapannya.

"Itu… maksudku…"

"Jangan berpura-pura bodoh, Yorozuya," mata Hijikata menatap Gintoki tajam dan tangannya sudah siap memotong leher pria di hadapannya saat itu juga, jika yang bersangkutan tidak mengatakan kalimat yang ia inginkan.

"Hijikata-kun, ayo kita menikah," ucap Gintoki dengan cepat.

Ya, seperti itulah prosesi lamaran(?) GinHiji. Cepat, singkat, dan cepat. Mau bagaimana lagi, jika orang-orang melihat perut Oni no Fukucho membesar beberapa bulan ke depan, sedangkan statusnya masih sebagai kekasih seorang pengangguran (read: Gintoki), maka harkat dan martabat Shinsengumi akan runtuh di mata masyarakat.

Yup, Sang Oni no Fukucho (read: Hijikata Toushirou) tengah mengandung darah daging dari Sakata Gintoki. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Hmm, bayangkan saja sepasang kekasih yang sudah lama tidak menghabiskan waktu berdua tiba-tiba mendapat hadiah berlibur ke luar kota. Di tengah suasana mesra itulah kegiatan dewasa mereka dilakukan. Dan hasilnya Gintoki tuai sekarang.

'Sial' umpat Gintoki dalam hati. Mungkin ini karma karena ia telah mengejek Takasugi yang harus menikahi Katsura karena hal yang sama.

Bukannya Gintoki tidak mencintai Hijikata, tetapi menikah itu hal yang serius. Banyak hal yang harus dipersiapkan. Terutamanya uang. Dan dalam hal ini, ia juga harus memikirkan kebutuhan untuk anaknya nanti.

'Bagaimana cara mendapatkan uang dengan cepat? Apa aku harus menjual salah satu ginjalku? Memangnya itu cukup? Kalau aku menjual tubuhku….. ah, tidak-tidak. Hijikata pasti akan langsung memotong p*nisku jika dia tahu. Kalau aku mengurangi porsi makan Kagura….. yang ada aku nanti tidak bisa tidur karena mendengar suara perutnya yang kelaparan. Lalu jika—'

Sreeeekkk

Suara pintu digeser membangunkan Gintoki dari lamunannya.

"Aku sudah membayar uang sewa bulan ini, 'kan, baabaa?," tanya Gintoki malas pada Otose dengan Catherine dan Tama yang mengekori di belakangnya.

"Ckk, dasar. Aku kemari untuk mengembalikan sisa uang sewa yang kau bayarkan padaku," jawab Otose sambil melemparkan amplop putih di atas meja Gintoki.

Gintoki bingung, tidak pernah dalam hidupnya membayar lebih uang sewa rumah Otose. Kalau hutang beberapa bulan memang sering, ia akui itu. Dan lagi, amplop putih di hadapannya kini terlihat lebih tebal dari uang yang ia bayarkan pada Otose.

"Ah, maaf Gintoki, beberapa kali aku tidak sengaja(?) mengambil uang di lemarimu. Mungkin jiwa pencuri dalam diriku belum hilang sepenuhnya. Dan sebagai permintaan maafku, uang yang kucuri darimu sudah kumasukkan ke sana," ucap Catherine sambil menunjuk amplop putih di hadapan Gintoki.

"Hah?,"

"Gintoki-sama, kemarin kau menjatuhkan setumpuk uang di depan toko Otose-sama, aku memungutnya dan sudah kumasukkan juga ke dalam amplop itu," giliran Tama yang bicara.

"Hah?,"

"Dasar, seharusnya kau lebih berhati-hati," ujar Otose. Gintoki menangkap perkataan Otose itu bukan untuk keteledorannya yang kata Tama menjatuhkan uang di jalan, tetapi untuk 'keteledorannya' yang lain. "Sudahlah, kami pergi,"

"Tunggu—"

"Gin-chan," Kagura dan Shinpachi tiba-tiba datang menggantikan Otose, dkk.

"Shinpachi, kembalikan ini pada nenek tua itu. Sepertinya dia terpeleset di kamar mandi dan kepalanya terbentur sesuatu," suruh Gintoki sambil memberikan amplop yang sejak tadi membuat kepala Gintoki bertambah pusing.

"Bukankah ini uangmu, Gin-san. Untuk apa mengembalikannya?," tidak biasanya Shinpachi menolak perintahnya, pikir Gintoki.

"Gin-chan," Kagura yang merasa diabaikan mulai membuka suaranya lagi.

"Belum waktunya makan malam, Kagura. Bukankah aku sudah memberimu sukonbu setelah makan siang tadi?,"

"Bukan itu, Gin-chan,"

"Lalu apa?,"

"Aku akan tinggal dengan Shinpachi dan Anego,"

"Hah?!," saking terkejutnya Gintoki sampai tersedak ludahnya sendiri, "Kagura, laki-laki dan perempuan yang belum menikah tidak boleh tinggal bersama," nasehatnya dengan bijak.

"Kami tidak hanya tinggal berdua, ada Anego di sana," kukuh Kagura.

"Tetap saja tidak boleh,"

"Tapi aku akan tetap pergi. Ayo, Shinpachi, bantu aku mengemasi barang-barangku,"

"Kagura—"

Seharusnya kau bersyukur Gintoki, karena orang-orang di sekelilingmu sangat peduli padamu.

.

.

.

tbc