Chapter 2 : Perfect Twin
Kolaborasi bareng ka XiaLeixue, selamat membaca minna, semoga suka
Tidak terasa Nix sudah menginjak usia tiga tahun dan lancar berbicara meski cadel, serta mengejutkan para Malfoy karena ia bisa menggunakan parselmouth. Mereka mengetahui ini ketika tak sengaja Lord Riddle itu memergoki Nix yang tengah 'mengobrol' dengan Nagini, dan menyampaikan hal itu pada keluarga Malfoy.
Flashback
Tom sedang menuju ruang keluarga Malfoy untuk melanjutkan diskusi, ia melewati ruang bermain anak dimana ada Nix yang sedang bersama Nagini tengah berbicara atau bertengkar? Entahlah
:sshh jadi bocah, kau ini mengajakku perang yah?!
:sshh aku tidak mengajakmu pelang atau beltengkal dasal ulal
:aku memang ular bocah bodoh sshh
:aku tidak bodoh dasal ulal jelek ssh
:sshh dasar bocal cadel bodoh
Nix dan Nagini saling bertatapan tajam dan mendesis-desis. Ralat hanya Nix yang menatap tajam namun gagal karena dia imut.
Lalu bagaimana dengan Tom? Tom tentu terkejut karena selama ini hanya dialah yang bisa parselmouth. Mungkin ia akan menjadikan Nix sebagai Dark Lady dan penerusnya.
Sejak mengetahui Nix bisa parselmouth ia dijadikan kebanggaan Malfoy dan hampir membuat Draco iri dan membenci Nix namun Draco memahami bahwa Nix adiknya tidak pernah melupakannya. Karena dimana ada Nix disitu ada Draco dan sebaliknya, apapun yang dipunyai Nix pasti Draco punya pun sebaliknya, mereka diberi julukan Perfect Twin. Julukan ini memang pantas diberikan karena melihat rupa mereka yang rupawan serta status sosialnya yang tinggi dan etika yang sempurna khas para pureblood meski mereka terbilang masih belia.
Tapi untuk masalah sifat mereka amat bertolak belakang. Dimana Draco yang menjunjung tinggi kesempurnaan, bisa dikatakan dia perfectsionis mirip sang kakek dan ayah, dan Nix yang bersifat jahil dan eum berandal untuk seukuran gadis dari kalangan bangsawan bahkan ia bisa dikatakan lebih berandal dibanding Bellatrix sang bibi saat muda.
"Mom...mom... Glandpa Tom tidak kecini?"
"Entahlah sayang, memangnya kenapa?" Narcissa membalas pertanyaan sang putri sambil mengelus lembut rambut hitam bergelombang sedikit ikal dibawahnya khas para Black
"Eum aku ingin berlmain dengan Nagini aku bocan, Dwaco ikut fathel dan Glandpa"
"Mau main dengan mom?"
Gadis kecil itu mengangguk antusias dan mulai bermain dengan sang ibu sambil sesekali menanyakan hal yang ingin diketahuinya.
Gadis kecil bernama Phoenix atau yang lebih sering dipanggil Nix tersebut,menemani ibunya yang kini tengah berada didapur. "Mooom,Uncle Legulus dan Uncle Silius tidak kesini mom?" tanya Nix yang memeluk boneka ular pemberian ayahnya tersebut. Narcissa mengerutkan keningnya. Entah mengapa putrinya lebih penasaran dengan keluarga Black dibanding Malfoy. Terlebih ayah mertuanya sendiri yang mengajarkan sejarah keluarga Malfoy pada Draco dan Phoenix. Dan contohnya saat ini dia lebih sering menanyakan Sirius atau Regulus dibanding ayahnya yang terkadang bertugas diluar negeri.
"Phoenix sayang, ibu tidak tahu."jawab Narcissa sabar. Narcissa yang tengah menyiapkan makan malam pun tersenyum. Ia mengupaskan apel untuk Phoenix. Entah mengapa Nix merasakan kepalanya tiba-tiba terasa berat, badannya juga lemas.
"Mom hiks.."panggil Phoenix yang mulai menangis. Karena merasa badannya tidak enak disertai pusing, dan naluri sebagai anak kecilnya keluar yaitu dengan menangis menandakan bahwa tubuhnya sedang dalam kondisi tidak nyaman. Narcissa menoleh melihat putri kecilnya yang tengah menyentuh kepalanya dengan tangan mungilnya dan wajahnya juga memerah serta mata yang sayu. Lady Malfoy itu segera menghampiri sang anak dan menyentuh keningnya.
"Yaampun kau panas sekali, kau terkena demam sayang.Ibu ambil ramuan penurun panas dahulu, kau istirahat dikamar ya princess" kata Narcissa lembut namun terselip nada kekhawatiran. Ia menggendong putrinya menuju kamar sang anak yang berada dilantai dua.
"Dobby"panggil Narcissa. Peri rumah itu pun muncul. Disertai bunyi 'tar' yang kencang.
"Ya,Nyonya"jawab Dobby sambil membungkuk. Narcissa meminta peri rumah tersebut untuk memberitahu Lucius bahwa Phoenix sakit dan menyuruh dobby meminta ramuan demam untuk Nix pada Severus
Lucius yang mendengar kabar tersebut dari Dobby segera pulang ke rumah sambil membawa Draco yang ikutan panik. Sedangkan Abraxas tidak bisa ikut karena terhalang oleh pekerjaannya dikementrian yang harus segera diselesaikan dan tidak bisa ditunda.
Sesampainya Lucius dikamar Phoenix dan Draco,ia melihat Narcissa tengah mengompres kening Phoenix.
"Phoenix anak kesayanganku, bagaimana keadaannya?"tanya Lucius yang di dramatisir dan segera menghampiri sang putri lalu duduk dipinggir ranjangnya, tangannya sesekali mengelus lembut rambut hitam lebatnya. Draco juga segera naik kekasur dan duduk disebelah adiknya yang berbaring. "Dwaco"kata Nix lemah.
Draco yang sangat sayang pada adiknya itu langsung memeluknya. "Jangwan sakit Nix"kata Draco, kepala mungilnya ia tempelkan disebelah kepala sang adik tangannya ia lingkarkan disekitar leher Nix dan terus bergumam cepat sembuh, ia tertidur disebelah Nix yang masih ia peluk. Draco tidak peduli bila ia tertular demam selama adiknya bisa sembuh ia rela melakukan apapun.
Lucius pun ganti menjaga Phoenix dan membenarkan posisi tidur anak sulungnya agar nyaman, dan sedikit dijauhkan dari Phoenix agar tidak tertular sakit, sementara Narcissa membuat bubur untuk dimakan Phoenix. Dobby juga sudah kembali bersama Severus dan Tom.
Tom yang khawatir langsung menemui calon penerusnya itu. Ia mendengar suara Nix yang tengah meminta sesuatu pada ayahnya.
"Faltel,nanti belikan aku ulal ya"pinta Phoenix ketika ia terbangun dari tidurnya dan mendapati Lucius masih disana iapun meminta pada ayahnya itu, Lucius hanya mengiyakan saja asalkan Phoenix sembuh.
"Severus sudah membawa ramuan"kata Tom yang sudah berada diambang pintu kamar Nix, Nagini yang tadi berada dibahu sang tuan segera melata turun dan menuju keranjang Nix.
Nagini pun melingkari Phoenix dan menjadikan dirinya selimut, sehingga menghalangi Draco yang ingin memeluk adiknya.
"Yaa.Ulal jahat pelgi"protes Draco kecil setelah ia terbangun dan hendak memeluk Nix tapi yang didapati malah ular itu hingga ia kesal. Sambil sesekali tangannya mencoba menggeser-geser badan Nagini yang tergolong besar dan berat. Itu membuat Dragon kecil amat sangat jengkel, karena susah sekali menyingkirkan ular itu.
"pssttt bocah kau bisa sakit juga" Nagini berdesis sambil menjulurkan lidahnya
"Psstt tentu saja aku bisa, aku masih manusia tau sshh" Nix membalas pertanyaan Nagini sambil mendengus jengkel.
Draco merasa terabaikan karena hadirnya Nagini diantara dia dan Nix. Sedangkan Tom yang melihatnya dengan Lucius hanya tersenyum maklum. Nix sendiri tidak ambil pusing.
Sementara itu Narcissa dan Severus membawa nampan berisi bubur dan ramuan.
"Uncle Sev,suluh nagini pelgi" kata Draco dengan nada khas Malfoy memerintah dengan seenaknya dan angkuh. Membuat Severus menatapnya datar dan seolah tatapannya berkata 'usir saja sendiri' dan menuai kerucutan bibir dari Draco disertai wajah masam anak itu, namun Severus tak perduli sudah amat sangat terbiasa dengan anak baptisnya yang satu itu.
"Uncle Kelelawal,"sapa Phoenix dengan 'sopannya' dan tersenyum polos membuat persimpangan jalan tercetak dipelipisnya.
"Bocah,siapa yang kau panggil kelelawar"kata Severus dengan datar namun sorot matanya terlihat antara jengkel dan geli dengan kelakuan antik putri baptisnya meski ia terlihat agak sebal dengan kelakuan Nix yang malah tertawa. Lucius dengan sabar mulai menyuapi anak gadisnya. Nagini pun melingkar di pundak Tom kembali setelah ia merasa cukup terusik dengan Draco yang berusaha menyingkirkannya dari Nix.
Phoenix hanya makan tiga sendok bubur. Narcissa pun memberikan ramuan pada Phoenix. "pait" keluh Nix.
"ini obat bukan jus"kata Tom. Lucius pun memberikan permen coklat pada Phoenix untuk menghilangkan rasa pahit.
Kedua tangan Phoenix terangkat dan memasang mimik memelas bagai anak kucing manja. "Mau tidul cama papa"pinta Nix. Seketika Lucius terharu, baru kali ini Phoenix mau tidur bersamanya. Selama ini Phoenix selalu menolak untuk tidur dengannya, biasanya putrinya itu lebih senang tidur dengan sang istri dan kakaknya.
Extra Part
Nix sembuh dari demamnya tiga hari kemudian, dan sesuai yang dijanjikan Lucius dia membelikan Nix sebuah ular jenis Many Banded Krait dan untuk Draco ia membelikan Black Mamba. Kedua anaknya begitu senang dan memelihara dengan baik, untuk ular Nix ia memberi nama Izanami dimana itu adalah nama seorang dewi penguasa dunia bawah di Jepang. Sedangkan untuk ular Draco diberi nama Noir yang menurut bahasa Perancis berarti hitam sesuai warnanya.
Tbc
