Chapter 3 : Diagon Alley

Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat dan ia sudah menginjak usia sebelas tahun dan itu artinya mereka akan bersekolah di Hogwarts, sekolah dunia sihir yang paling bergengsi se Britania Raya. Pada saat 1 September nanti dia akan berangkat dan sekarang waktunya ia dan Draco pergi ke Diagon Alley membeli perlengkapan dan memilih tongkat

Akankah aku kembali dengan tongkat lamaku atau aku mendapat yang baru?

Selain tongkat, ia juga mulai memikirkan asrama mana yang akan terpilih. Kakak kembarnya Draco sudah memantapkan pilihan ke Slytherin.

Sejujurnya ia ingin kembali ke rumah lamanya yakni Gryffindor, namun ia tak tega melihat ayahnya berharap banyak ia di Slytherin atau minimal di Ravenclaw. Mengingat leluhurnya tak begitu baik dengan asrama singa itu.

Phoenix tertawa mengingat kembali wajah ayah dan kakeknya,saat ia dengan santainya tak masalah bila berada di Gryffindor. Wajah ayahnya hampir terkena serangan jantung itu membuatnya tak tega, meski sebelumnnya ia cukup menikmati dan terhibur oleh wajah kekagetan dari dua senior Malfoy tersebut. Oh ayolah dulu saat ia menjadi Harry Potter ia bercita-cita ingin mengerjai orang angkuh yang sekarang ini menjabat sebagai ayahnya, jadi selagi ada kesempatan kenapa tidak diambil. Pikirnya mulai menjadi Slytherin tulen.

Hari ini Narcissa dan Lucius akan membawa dua kembar kesayangannya ke Diagon Alley untuk berbelanja. Bisa dipastikan para reporter akan menghujani mereka dengan kilatan blitz demi mendapatkan foto kembar. Pasalnya mereka hanya bisa mendapat foto Draco. Karena Phoenix lebih suka bersembunyi di belakang Draco.

"Mum aku tak suka mereka" ujar Draco dengan suara datar, bukan karena apa. Dia kasihan melihat Nix yang selalu bersembunyi dibalik punggungnya, karena tidak suka menjadi pusat perhatian. Ia menjadi teringat kala pesta ulang tahun mereka yang ke enam banyak sekali tamu undangan dewasa yang menarik kesana kemari kembarannya itu dikarenakan imut, salah satunya keluarga Potter dan Black tepatnya Sirius Black yang ingin memonopoli Nix mengingat itu membuatnya jengkel.

Narcissa melihat keseliling dan benar saja ada beberapa photographer yang siap membidik wajah Nix dengan kamera-kamera mereka hingga membuat anak bungsu nya tak nyaman. Lucius pun menjadi jengah kala perhatian tukang cari berita itu terpusat pada anak bungsunya. Dengan segera Lucius menjulurkan lengannya pada Nix

"Ayo sini Father gendong"

"Un" Nix mengangguk dan membiarkan sang ayah menggendongnya, segera saja ia menyembunyikan wajahnya diceruk leher sang ayah, enggan melirik kesana kemari. Sedangkan Draco digandeng Narcissa. Keluarga Malfoy itu berlalu dari sana dengan wajah angkuh dan anggun khas mereka tanpa memperdulikan sekitar.

Sebenarnya di antara para reporter itu, pasti ada Rita Stekeer yang sangat berambisi mendapatkan berita tentang putri bungsu keluarga malfoy yang misterius itu, guna mendongkrak popularitasnya dan pasti pemasukan pada dompetnya agar tebal.

Phoenix sendiri,sebenarnya ingin membongkar rahasia Rita. Tapi kumbang itu masih bisa digunakan. Setidaknya diantara kesialan yang diberikan wanita menyebalkan itu, ada juga hal berguna yang bisa ia manfaatkan suatu saat nanti. Diam-diam bocah perempuan itu menyeringai seram akan rencana yang tersusun dikepala mungilnya.

Narcissa dan Lucius membawa putra-putri mereka ke Madam Malkin terlebih dahulu. Nix hampir tertawa, namun ia urungkan ia hanya tersenyum-senyum saja. Ia teringat pertemuan pertama dengan Draco di kehidupannya yang lalu.

Jika dulu ia adalah bocah laki-laki lugu dan membenci tanpa tau kebenarannya, membuat ia merasa bodoh dan betapa konyolnya ia dulu, namun setelah 11 tahun hidup dan dibesarkan layaknya seorang ratu oleh keluarga Malfoy ia menyadari bahwa ia sungguh keliru dan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Saat sedang asyik-asyik nya dia di dunianya sendiri suara Narcissa membuyarkan senyum anehnya dengan suatu pertanyaan.

"Phoenix sayang apa yang kau pikirkan sampai tersenyum bahkan nyaris tertawa nak?" Lady Malfoy itu bertanya khas keibuan

"Umm nothing mum" dia menggelengkan kepala

"Kalau bukan apa-apa kenapa kau malah senyum-senyun sendiri seperti orang tak waras saja"- Draco menyahut dengan curiga

"Heeiii aku kan cuma...cuma..eum..um" dia kehabisan kata, bingung untuk merangkai kata yang tepat. Tak mungkinkan dia menceritakan hal itu ditambah dia ini time travel

"Cuma apa hayo?" Narcissa ikut menimbrung dengan nada menggoda, sementara Lucius hanya memperhatikan interaksi ketiga nya dengan wajah datar namun dihatinya terselip kebahagian yang tak bisa dilukiskan dengan kata, tanpa sadar ia menarik sudut bibirnya menjadi lengkung keatas, ya dia tersenyum tipis.

"Biarkan Draco yang diukur terlebih dulu mum, lihat pelanggan itu sudah selesai" kata Phoenix mencoba mengalihkan perhatian. Ia ingin tahu apakah Draco akan tetap mengeluh,seperti di kehidupan sebelumnya.

"Ck pengalihan pembicaraan, baiklah..baiklah karena aku kakak yang baik aku mengalah untukmu"

"Blee biar saja" ujar Nix sambil memeletkan lidah sedangkan Draco memutar bola mata bosan, jujur saja ia ingin mendengus, Namun ia tau itu sungguh tak sopan terlebih dia dari keluarga pureblood.

Phoenix tertawa lagi, menjahili orang adalah hobinya yang susah dihilangkan dan korban favoritnya adalah Draco. Lalu tiba-tiba ia teringat akan satu hal. "Father" panggil Nix manja disertai senyuman yang sering ia gunakan untuk meminta sesuatu. Dan seratus persen tidak akan ada yang menolak.

"Nix ingin burung hantu salju bolehkah Father? " pinta Nix pada Lucius dengan tatapan anak anjing yang susah di tolak.

Lucius tentu saja tidak dapat menolak. "Tunggulah disini bersama Mum. Father akan belikan " kata Lucius. Begitu Lucius pergi, Phoenix bisa mendengar Draco mengomel karena ia tertusuk jarum pentul.Phoenix tertawa karenanya.

Selagi menunggu ayahnya membeli burung hantu, ia dilanda bosan karena gilirannya masih lama, sedangkan ibu mereka tengah keluar toko untuk membeli buku-buku mereka dahulu.

"Selanjutnya" ucap seorang wanita

"Akhirnya huft.." Nix menghela nafas lega dan kini gilirannya diukur. Ia ditunggui Draco

Saat ia diukur. Sesosok yang telah ia kenali memasuki toko. Lily Potter dan putranya Daniel Potter.

"Malfoy kau disini? Apa Nix juga disini" tanya Daniel bersemangat.

"Hei dilarang memanggil adikku dengan nama depannya" ujar Draco ketus, ia tak rela kesayangannya dipanggil begitu akrab oleh orang lain

"Ck kakak posesif, dia sendiri tidak keberatan tuh" ujar daniel keras kepala

Lily yang melihat itu hanya terkekeh pelan

"C'mon boys jangan bertengkar" Lily menasehati, lalu kepalanya menoleh pada Nix dan menyapa "Hallo dear"

"Um Hallo juga Lady Potter, dan um hai Daniel" ujar Nix agak kikuk, karena memanggil 'ibunya' seperti itu. Lalu kepalanya meneleng kesamping guna melihat Daniel dan ia tak sadar akan pose imutnya

Lily yang melihat keimutan Nix langsung memeluknya. "Kau imut sekali,pantas saja James ingin kau menjadi putri kami" kata Lily bersemangat.

"Se..sse..sesak..." ujarnya kepayahan akibat pelukan maut Lily.

"Ooh maafkan aku dear, kau terlalu imut aku menjadi gemas" ujar Lily merasa bersalah, namun tidak dengan wajah dan kelakuannya. Nyonya Potter itu mencubiti pipi gembilnya dengan gemas atau sesekali memainkan rambutnya. Nix hanya tertawa kering

Merlin aku tau selama ini 11 tahun hidup menjadi perempuan tapi kenapa aku masih sesak dibilang imut? Jiwaku masih laki-lakiiii * innernya meraung tak terima sedangkan diwajahnya ia menampilkan senyum lemah. Lalu matanya bergulir kearah Daniel

"Nix kau sudah memilih tongkat? Kalau belum kita kesana sama-sama yuk!" Daniel berseru semangat dan berfikir bisa mulai pendekatan pada Nix dan mendapatkan hati bocah perempuan Malfoy itu.

"Maaf saja adikku tidak kubiarkan pergi bersama manusia ceroboh macam kau Potter" tuding Draco dengan jari telunjuknya disertai wajah angkuh.

"Oh ayolah kalian berdua jangan seperti ini, ingat lho~ benci dan suka itu setipis benang nanti lama-lama kalian malah jadi saling suka hahahaha" ujar Nix disertai tawa renyahnya dan Lily

"What? Tidak akan!!" Ujar keduanya kompak

"Tuhkan barengan ngomongnya" Nix lagi-lagi menggoda keduanya

"Niixxxxx" kembali dua anak laki-laki itu berbicara berbarengan, makin pecah tawa Nix.

Sementara itu di Emperioum Owl,James dan Lucius saling berhadapan memperebutkan burung hantu salju. James ingin memberikan burung hantu itu untuk Phoenix sebenarnya sebagai suap agar bungsu Malfoy itu menghabiskan Yule bersama mereka.

"Oi Lucy kau sudah dapat burung hantu elang, jadi berikan burung hantu salju itu untukku" James keras kepala

"Tidak bisa Potter ini aku beli khusus untuk Nix" Lucius tak mau kalah.

"Hei kau mencuri ide ku yah untuk menghadiahkan burung hantu itu pada Nix"

"He~ Nix sendiri yang memintaku, jadi buang jauh-jauh hal nista semacam mencuri idemu itu Potter" Lucius dengan angkuhnya segera meninggalkan tempat itu setelah sebelumnya membayar belanjaannya ketika James diam membeku. Dan tersadar ketika Lucius sudah menghilang dari pandangannya.

"Sialan kau Lucy, huh aku harus menyogok Nix dengan apa? Agar ia menghabiskan waktu di Potter Manor" James kesal bukan kepalang, dibanding dia disini mending ia menyusulnya saja setelah sebelumnya membayar burung hantu untuk anaknya.

"Phoenix bagaimana jika kau menikah dengan Daniel"kata Lily tiba-tiba membuat Draco merasa terancam karena Nix pasti lebih banyak menghabiskan waktu dengan Daniel ketimbang dirinya. Sedangkan Daniel tersenyum tak jelas.

"Hahahaha Mrs. Potter kurasa ini terlalu dini dibicarakan" Nix menjawab dengan sedikit gugup. Lalu melihat reaksi Draco dan Daniel yang berbanding terbalik, satu suram dan satu bahagia.

Tak lama kemudian Lucius pun kembali ke Madam Malkin dengan terengah - engah sambil membawa sangkar burung hantu jni dikarenakan James yang mengikutinya terus. "Father, Lady Potter ingin menikahkan Nix dengan Daniel" lapor Draco dengan wajah datarnya ketika sang ayah memunculkan dirinya didepan sang anak.

"Itu ide yang bagus Lily Flower" sahut James tiba-tiba dibelakang Lucius

"Ehm, *berdeham * Lady Potter maaf sebelumnya, anakku masih 11 tahun terlalu dini baginya membicarakan hal seperti itu" Lucius berujar tenang namun didalamnya sudah meluncur bebas kata-kata makian untuk Potter entah Potter yang mana.

"Hei dikalangan pureblood sudah wajar hal itu dibicarakan sejak dini, bahkan usia 7 th mereka sudah dikenalkan calon tunangannya" James mengatakannya dengan enteng disertai cengiran khasnya

"..." Lucius menatap tajam

"Aahaha, Lady dan Lord Potter dan Daniel lebih baik kita keluar toko saja, banyak pelanggan yang ingin mengukur. Father, Draco ayo kita susul Mum" Nix menengahi mereka.

Lucius kembali menggendong Phoenix untuk menyembunyikan wajahnya dan menunjukan pada James kalau phoenix tidak semudah itu bisa diambil, yang mendapat tatapan kesal dari James karena ulahnya. Mereka pun bersama - sama menuju Ollivander dimana Narcissa telah menunggu. "Lily kau disini"kata Narcissa datar.

"Ya seperti yang kau lihat, kalau kau tak melihatku berarti aku tidak disini" Lily menyahut kalem

Narcissa sebenarnya masih kesal dengan Lily karena seenaknya membawa putrinya dan membawa kekementrian untuk mengasuh Nix. Ini akibat ulah James yang menculik putrinya ketika Lucius lengah menjaga Nix dikementrian saat itu. Saat itu Nix berusia 2 tahun setengah.

"Mom, lihat apa yang father belikan untukku"kata Phoenix sambil menunjukkan Burung hantu salju yang ia beri nama Hedwig, untuk mengalihkan perhatian dan memutus hawa suram tadi.

"Cantikkan Mom" Nix tersenyum dengan lebar namun terlihat manis.

"Tentu saja sayang, apa kau suka hadiah dari father mu?" Narcissa teralihkan perhatiannya berkat Nix

"Uum..Nix suka sangat suka, ah iya father apa kau beli juga untuk Drake?" Tanyanya

"Tentu saja sayang" ujar Lucius sambil memarken sangkar burung yang berisi burung hantu elang milik anak sulungnya

"Woaahh Drake punyamu keren" tunjuk Nix pada burung hantunya, Draco pun tersenyum angkuh, James dan Daniel merasa tersisihkan karena ingin perhatian Nix juga, dan jangan lupakan Lily yang berwajah ditekuk. Rupanya para Potter memang benar-benar menginginkan Nix dikeluarga mereka.

"Ehem,Phoenix calon menantuku *Lucius mengirim deathglarenya*. Kau ingin masuk team quindditch?"tanya James berusaha menarik perhatian Nix dan mengabaikan tatapan tajam Lucius yang sama sekali tak mempan padanya.

"Seeker. Aku ingin menjadi seeker" Nix menyahut semangat. Jawaban itu membuat James bersorak.

"Heii kau saingan dulu denganku, aku juga ingin menjadi seeker seperti Daddy. Bahkan Daddy-ku yang seeker terbaik dimasanya memuji kemampuan terbangku lho~" ujar Daniel dengan semangat dan James yang tersenyum lebar akan perkataan putranya.

"Aku tidak takut, Malfoy tidak takut apapun, kalau begitu aku tunggu saat nanti kita berhadapan langsung" ujar Nix dengan angkuh hasil meniru Lucius dan Draco. Malfoy disana tersenyum bangga pada Nix.

"Lagipula,siapa bilang kita akan satu asrama. Aku ingin bersama uncle kelelawar"kata Phoenix semangat

"Severus?" Lily menyahut ragu

"Snivellus" kata James untuk meyakinkan. Meski tahu, karena Nix memang sering menyebut Severus, uncle kelelawar.

"Iya, aku mau masuk Slytherin"

"Oh tidak, kau itu malaikat rapuh tidak seharusnya disarang ular berbahaya" James mendramatisir

"Eeh tetapi leluhurku masuk sana semua" Kata Nix dengan wajah imut

"Masuk Gryffindor saja Nix nanti aku ngalah deh, yah yah" Daniel ikutan merayu Nix

"Dimana keseruannya kalau kau mengalah? Kata Uncle Reggy anak laki-laki pantang menarik ucapannya kembali"

Nix berujar polos namun menohok Daniel, Draco tersenyum dengan anggun namun didalam hatinya ia sudah tertawa jahat.

"Kau dengar sendiri bukan apa jawaban putriku?" Ujar Lucius

"Lebih baik kita masuk"kata Narcissa datar melihat perseteruan kekanakan antara Malfoy dan Potter selama 10 menit yang terbuang sia-sia. Ollivander melihat rombongan di depannya dengan pandangan tak percaya Malfoy dan Potter bersama.

Namun pria tua itu tidak menunjukkan secara terang-terangan takut menyinggung pelanggan, jadi ia hanya cukup diam saja. Lalu menyambutnya.

"Baiklah siapa duluan?" Tanya pria tua itu pada ketiga anak didepannya.

"Aku yang pertama" kata Phoenix semangat. Ollivander pun mengukur tinggi gadis itu dan mana tangan yang lebih dominan.

"Hmm bagaimana kita coba ini. Elm dan senar jantung naga seperti milik ayahmu"kata Ollivander menyerahkan tongkat sihir itu pada Nix. Belum ia menyentuh tongkat itu sudah memercikan bunga api dan membakar sebuah jambangan dimeja dekat kasir hingga menjadi abu. Membuat Nix meringis.

Kembali ollivander memilihkan tongkat yang ia buat pada Nix, ia masuk kedalam dan mengambil satu kotak kayu berisi tongkat cantik fan dibawanya pada Nix

"Hmm bagaimana dengan ini? Milik ibumu, Kayu Acacia dengan inti senar jantung naga" kata Ollivander sambil menyerahkan tongkat itu.

Phoenix melambaikan tongkat tersebut dan kini ganti air yang hampir membasahi mereka. "Tentu saja ini tidak cocok untukmu"kata Ollivander yang kembali mencari. Lalu kembali lagi kedepan menyodorkan sebuah tongkat.

"Ah coba ini, kayu Cedar dengan inti Phoenix, dan ini adalah Phoenix langka, kekuatannya gabungan dari api dan es" kata Ollivander. Takut-takut Phoenix melambaikan tongkat itu. Sebuah cahaya biru dan merah menyinari jari-jarinya . Phoenix merasakan tongkatnya sangat familiar dan sensasi hangat yang lembut sama seperti tongkatnya dulu, tongkat holy dengan inti bulu phoenix.

"Bagus sekali, kau diberkati nak, sudah ribuan orang mencobanya namun tak ada yang cocok, jagalah baik-baik dan gunakan dengan benar. Baik selanjutnya"kata Ollivander menasehati lalu memanggil pelanggan selanjutnya.

Draco pun maju tak membutuhkan waktu lama baginya untuk memilih tongkat, ia mendapat hawthron dengan inti bulu unicron. Lalu tiba giliran Daniel yang memilih tongkat.

Daniel menjadi pelanggan paling sulit menurut Ollivander setelah lima tongkat. Daniel mendapat kayu applewood dengan inti taring naga. Setelah tiga anak itu mendapatkan semua keperluannya, mereka pergi menuju rumah masing-masing dan akan bertemu kembali nanti di stasiun King Cross tanggal 1 September nanti.