Chapter 4 : Hogwarts I'm Coming
Tak terasa kini sudah tanggal 1 September dimana stasiun King Cross peron 9 3/4 akan penuh anak-anak penyihir untuk bersekolah di Hogwarts sebagai penyihir hebat kelak di masa depan.
Tak terkecuali kini kembar Malfoy itu sudah berada disana. Dengan Draco yang mendorong trunk dan Nix yang enak-enakan duduk diatasnya, namun Draco tidak protes asal adiknya senang ia tidak keberatan. Mereka jadi sorotan namun tidak dipedulikan oleh mereka.
"Draco jaga Nix dengan baik, ingat kau laki-laki harus bisa melindungi adik perempuanmu dengan segenap kemampuanmu, aku tak ingin mendengar kau ataupun Nix terluka disana" ceramah Lucius pada putranya
"Buat bangga nama Malfoy disana dan juga atas nama Salazar Slytherin membuat asrama itu berjaya" ujar Abraxas sambil mengelus lembut kepala dua cucu kesayangannya.
"Nix, Draco jaga kesehatan kalian disana, jangan lupa untuk kirimi kami surat dan khusus untukmu Nix jangan mencari perkara disana. Hobi jahil mu itu harus ditekan, mengerti?! Dan Dragon laporkan pada Mum bila adikmu ini membandel dan bersikaplah tegas padanya" Narcissa menasehati kedua anaknya terkhusus untuk Nix.
Draco dan Nix hanya mengangguk dan menjawab 'mengerti/ya aku usahakan'
Lalu tak lama kemudian datang rombongan dari keluarga Black, Lestrange, dan Potter yang membawa anak-anak mereka. Dan bisa dipastikan
"PHOENIX/NIX"
Keributan
Sang empu nama menengok kearah para pemanggilnya, disana ia melihat ada tiga keluarga pureblood, kita kenalkan satu persatu dahulu.
Ada seorang Black, oh bukan..bukan yang itu. Ini adalah Regulus Black dan Alice Reed bersama putra nya Leo Acturus Black, ia memiliki darah Jepang karena ibunya Alice Black nee Reed merupakan keturunan pureblood Jepang yang masih memiliki hubungan darah dengan kekaisaran. Memiliki ciri-ciri berambut hitam lurus, dengan mata sedikit sipit dan bernetra abu-abu gelap, wajahnya yang rupawan diusianya yang sekarang sudah tentu dewasanya ia akan menjelma menjadi pangeran impian para wanita. Tahun ini adalah tahun keduanya di Hogwarts.
Lalu beralih pada keluarga Black lainnya yakni Sirius Black dengan Amelia Bones, ia bersama putra nya Alfa Alphard Black memiliki ciri-ciri berambut dark brown bergelombang, berbola mata kan hitam bagai langit malam yang mampu membius siapa saja yang melihatnya, sama seperti sepupunya Leo, ia menjalani tahun keduanya di Hogwart.
Lalu George Weasley dan Fred Weasley yang kini telah berganti menjadi George Altair Black dan Fred Vega Black dua diantara tiga nama rasi bintang dari segitiga bintang musim panas. Mereka akan menjalani tahun ketiganya di Hogwarts.
Beralih pada keluarga Lestrange disana ada pasangan suami istri Bellatrix Lestrange dengan pinggul yang dirangkul oleh sang suami Rodolphus Lestrange. Mengantar kedua putranya yaitu Corvus Marvolo Lestrange dan Pollux Rabastan Lestrange. Corvus lebih tua setahun dari Pollux dan cucu paling tua dari keluarga Black hingga ia harus memiliki kebijaksanaan dan kecerdasan yang mumpuni bagi adiknya dan para sepupunya. Memiliki ciri-ciri berambut hitam bergelombang, bermata coklat gelap dengan senyum menawan, ia sama dengan si kembar Black berada ditahun ketiganya.
Beralih pada Pollux, ia memiliki ciri-ciri rambut hitam lurus, berbola mata kan hitam sedikit sentuhan abu-abu. Sama seperti kakaknya ia memiliki pesonanya tersendiri. Tahun ini menjadi tahun keduanya di Hogwarts.
Lalu yang terakhir keluarga Potter. James Charlus Potter dan Lily Potter bersama putra tunggalnya Daniel Fleamont Potter yang memiliki ciri-ciri bermata hazelnut teduh bagai musim gugur dengan rambut berwarna merah seperti ibunya namun berantakan mirip sang ayah, walau demikian tidak mengurangi pesonanya sebagai seorang Potter. Tahun ini ia akan seangkatan dengan Nix dan Draco.
"Hai semuanya, salam untuk para Lord dan Lady sekalian, semoga Lady Magic memberkarti kalian semua" ujar Nix formal dan membungkuk salam ala bangsawan setelah rombongan itu sampai didepannya. Draco pun memberi salam seperti adiknya. Yang melihat tentu takjub dengan kesopanan yang ditunjukan Phoenix dan Draco. Para orang tua sedang berbincang seputar pekerjaan atau menanyai kabar dan undangan makan bersama. Sementara anak-anak.
"Hei Nix kita akan bersenang-senang nanti di Hogwarts, dan aku dengan senang hati menjadi pemandumu"-Leo menyahut dengan tenang seperti biasa namun terselip nada antusias.
"Nix kau pilih asrama Gryffindor kan? Nanti aku ajak keliling Hogwarts, kita tur berdua saja agar romantis" ini adalah Alfa atau yang biasa dipanggil Al, sama seperti ayahnya ia berada di Gryffindor sempat ia tidak diakui cucu oleh Walburga terlebih Sirius mengangkat seorang Weasley rendahan meski pureblood, namun berkat usaha Sirius dan Regulus dalam meyakinkan akhirnya keluarga besar Black menerimanya, namun hanya kalangan keluarga inti dan Potter yang mengetahui ini karena potter masih berkerabat dengan Black dari garis keturunan Dorea Black, sedangkan diluar itu yang mereka ketahui Sirius dan keluarganya tidak diakui dalam keluarga Black meski masih boleh menyandang nama marga itu.
"Nix tidak akan masuk kesana, ia akan masuk Slytherin" ujar Corvus dan Pollux yakin disertai seringai.
"No, Nix lebih cocok di Gryffindor dan bersamaku sebagai pendampingnya" Daniel menyahut dengan percaya diri seperti ayahnya.
"Kalian berisik, dimanapun Nix ditempatkan dia tidak akan bersama kalian. Dia tetap denganku secara mutlak" ujar Draco angkuh disertai aura kemurkaan karena para sepupunya dan Potter itu memperebutkan adik kesayangannya.
"Kalian ini sudahlah, lagipula yang menentukan itu sorting hat, lagipula ini masih dihogwarts " ujar Nix dengan lelah karena dimanapun dan kapanpun mereka berkumpul ada saja yang diributkan dan tak jauh-jauh itu selalu berkaitan dengannya. Nix menggulirkan bola matanya lalu melihat si kembar Weasley yang kini ada ditengah-tengah para Black. Tanpa sadar ia mengerutkan keningnya sambil menatap intens keduanya. Yang ditatap pun merasa risih karena ulah Nix meski tidak terang-terangan. Nix yang menyadari itu segera meminta maaf
"Maafkan aku" ujarnya dengan lembut disertai bungkukan badan
"Tidak apa-apa, kau pasti..." ujar si kembar satu lalu disambung
"Bingungkan dengan kehadiran" dengan kembar satunya lagi
"Kami di Black" ujar keduanya kompak disertai cengiran. Nix hanya mengangguk polos.
"Ah Greg bukankah tidak sopan kalau kita tidak memperkenalkan diri kita dahulu?" Sahut satunya sambil menengok pada kembarannya yang dipanggil Greg.
"Oh itu benar Freddie, kalau gitu kenalkan namaku George Altair Black"
"Dan aku Fred Vega Black"
"Namaku Phoenix Aquila Malfoy dan huh kalian anak uncle? Setahuku Uncle Sirius hanya memiliki Al sebagai anak kandungnya dan Uncle Regulus memiliki anak laki-laki hanya Leo, apakah kalian di adopsi? Lalu siapa yang mengadopsi kalian? Dan setahuku bila rambut merah cerah seperti itu dari kalangan Weasley. Eh..eum maafkan kelancanganku" Nix segera mengerem mulutnya karena menanyakan hal seperti itu dan terlihat tidak sopan. Salahkan mulut dan otaknya yang gatal ingin bertanya sedari tadi.
"Hahaha santai saja nona" ujar Fred
"Kami memang dari Weasley namun Father Sirius mengadopsi kami, karena kami dibuang oleh keluarga Weasley" ujar George dengan santai namun tergurat kesedihan disana meski samar. Fred yang mengetahui itu mengelus punggungnya.
"Maafkan aku Fred, George tak seharusnya aku lancang" ujar Nix menyesal, lalu ia melakukan gerakan tiba-tiba yang membuat kembar Weasley atau sekarang Black membeku dan anak-anak laki-laki disana mulai panas.
Grab
Ya Nix memeluk Fred dan George gantian lalu mengelus kepala keduanya meski harus berjinjit.
"Ini sebagai tanda maafku, dan kuharap kalian selalu berbahagia dan senang menjadi sepupu ku" katanya dengan lembut dan tersenyum manis, membuat kedua pipi sikembar memerah.
"Yak Nix cukup sampai disini, tekan feromonmu itu" ujar Draco ketus
"Huh feromon? Memang aku kucing sebar-sebar feromon segala, lagipula aku tidak melakukan itu tau" Nix cemberut sambil mengerucutkan bibirnya, membuat anak laki-laki disana harus menahan diri agar tidak menciumnya. Karena Lucius, James, Sirius, dan Regulus bahkan Draco sudah memasang hawa suram nan angker.
"Nix jangan memanyunkan bibirmu bahaya"
"Eh bahaya? Bahaya kenapa Dray?"
"Nanti kau bisa di *cup Draco mencium bibir Nix* cium seperti itu"
Nix mengerjap-ngerjapkan mata polos sambil memiringkan kepalanya, Draco sendiri tengah memamerkan seringainya pada para sepupunya yang kini menggeram cemburu.
"Huh lihatlah kakak-kakakmu itu Ron, Ginny dia berada dikaum menjijikan dengan para penganut Dark Arts, oh aku lupa mereka bukan lagi kakak kalian. Dan Percy pastikan Ron menjauhi anak-anak tidak tahu diri sepertinya di Hogwarts, aku tidak ingin anak kesayanganku ternodai oleh mereka" ujar seorang wanita dengan suara lantang dan merendahkan hal itu ditunjukan pada Fred dan Geroge karena sikembar berada didepannya. Phoenix yang mengetahui suara ini terkejut dan segera membalikan badannya, ia terkejut dengan apa yang didengar dan dilihatnya. Molly berkata kasar disertai wajah yang begitu sinis.
Tidak mungkin, apa ini yang dimaksud Profesor dan Lady Fate serta Death yang menyuruhku untuk melakukan itu
Batin Nix syok dan sedikit terguncang namun ia segera menguasai dirinya. Dan menatap datar pada Molly, ya benar kalian tidak salah baca itu adalah suara Molly Weasley.
Phoenix bisa mendengar gumaman 'Mum' dari Fred dan George yang sarat akan kerinduan.
"Mom ayo kita pergi jangan disini, mereka merusak pemandangan saja" ketus Percy. Nix yang mendengarnya menggeram marah, karena mottonya adalah tidak ada yang boleh menghina keluarganya sekalipun bukan sedarah.
"Memangnya apa yang ingin kau lihat Tuan Muda Weasley? Disini hanya ada orang-orang yang berlalu lalang saja dan kereta. Kau mengharapkan apa lagi? Sebuah ladang gandum atau deretan hutan? Dasar idiot" ujar Nix dingin dan angkuh, bibir mungilnya pun menyunggingkan senyum remeh pada Percy. Jangankan keluarga Weasley yang terkejut, keluarganya sendiri pun terkejut, namun tidak ada yang menegurnya.
"K-kau.." Percy kehilangan kata-katanya akibat tatapan menusuk Nix yang seperti bukan anak usia sebelas tahun. Tatapan itu begitu menusuk dan dingin hingga tanpa sadar ia menggosok tengkuknya karena merinding dan ia seperti dijalari rasa dingin yang teramat mencekam. Para Weasley yang merasakannya pun ikut merinding.
Tanpa banyak kata rombongan Weasley itu segera pergi, dan Nix kembali kewajah ceria dan polosnya.
"Nix kau menyeramkan" ujar kompak semuanya.
"Eh begitukah? Yah tapi aku tak peduli, aku tak suka bila anggota keluargaku dihina, terlebih tepat didepan wajahku bila perlu aku akan menyeret pelaku ke dementor agar dikecup" ujarnya enteng, membuat sikembar Black terharu dan tatapan bangga serta memuji dari para orang dewasa, namun juga ngeri akan perkataan terkahir bungsu Malfoy itu.
PRRIIITTTTTT
TUTUTUTUTUTTT
Peluit tanda kereta akan berangkat menggema diperon itu segera saja mereka bergegas menaiki kereta dan mencari kompartemen, setelah sebelumnya berpamitan pada keluarga masing-masing. Draco dan Nix satu kompartemen dengan Theodore Nott dan Blaise Zabini salah satu teman kecil Draco dan Nix meski Nix lebih senang di laboratium dengan Severus di Spinner End atau perpustakaan Lestrange dan Black hingga intensitas waktu bertemu mereka jarang dan hanya sekedar menyapa saja.
"Halo Drake dan halo Nix, apa kabar kalian" ujar Theo dibalas anggukan oleh Draco, sedangkan Blaise seperti biasanya hanya mengangguk pada keduanya lalu kembali terlarut dalam buku bacaannya.
"Hai Theo aku baik-baik saja, dan Draco itu menyebalkan seperti biasanya" ujar Nix cuek
"Hei dasar adik menyebalkan" ujar Draco namun tangannya dengan sigap membantu mengangkat koper Nix, sedangkan yang bersangkutan hanya tertawa. Mereka duduk bersisian dan berhadap-hadapan dengan kedua teman mereka, Nix yang berhadapan dengan Blaise dan Theo yang menghadap Draco.
"Draco pinjam bahumu aku mengantuk"
"Tidurlah Nix, nanti akan aku bangunkan bila sudah sampai"
"Huum"
Zzzzz
Nix tertidur dengan berbantalkan bahu Draco dan kepala yang diusap-usap lembut oleh kakaknya.
"Aww Drakie ternyata kau Sister Complex yah hehehe" ujar Theo meledek
"Shut up" ujar Draco ketus
"Kurasa adikmu akan menjadi primadona nanti di Hogwarts" tiba-tiba Blaise berkomentar.
"Tentu saja tidak ada yang mampu menolak pesona Malfoy" ujar Draco percaya diri dan narsis mungkin
Theo dan Blaise hanya memutar mata bosan pada sulung Malfoy ini. Hingga tiba-tiba ada suara berisik diluar kompartemen mereka hingga membuat Nix terbangun.
"Dray~ ada apa? Kenapa berisik?" Ujar Nix sambil mengucek matanya dengan pose imut membuat Theo dan Blaise memerah, segara saja Draco memelototi keduanya.
"Tidak apa-aap.."
"Permisi apa kalian melihat seekor katak? Katak milik Neville bernama Trevor"
Belum Draco menyelesaikan ucapannya sebuah suara bossy memotongnya dan itu adalah anak perempuan berambut chestnut mengembang seperti semak-semak.
Nix merasakan kerinduan saat itu juga Hermione gumamnya lirih hanya dia sendiri yang mendengarnya, sambil menatap Hermione.
Phoenix Pov
Aku mendengar suara familiar itu kembali, juga dengan kenangan pada tahun pertamaku persis seperti ini, didepan pintu kompartemen yang kutempati berdiri Hermione, Hermione Granger sahabat terbaikku dikehidupan masa laluku dan menanyakan seekor katak milik Neville, apakah dimasa ini Mione akan sama seperti Mione yang ku kenal dan seperti kakakku? Pertanyaan itu terus berputar-putar dikepalaku. Tanpa sadar aku melamun dan kembali sadar ketika suara Draco yang terdengar mengusir Hermione.
"Kami tak melihat hewan menjijikkan itu dan cari ketempat lain sana" ujarnya kasar, aku tak suka itu. Buru-buru aku membuka suara ketika melihat Mione hendak protes akan kelakuan Draco tadi.
"Maafkan kami nona dan perkataan kakakku, kami tidak melihat katak sejak tadi, namun aku bisa membantumu menemukannya"
"Baiklah aku maafkan, dan aku menerima bantuanmu" ujar Mione dengan nada bossy seperti biasanya namun aku tidak mempermasalahkannya karena aku sudah mengenalnya dikehidupan pertamaku.
"Accio Trevor" ujarku sambil melambaikan tongkat, seketika katak berwarna hijau itu ada ditanganku dan menyerahkannya pada Mione yang kini tengah menenangkan Neville.
"Neville ini katakmu, sudah ditangkap oleh eum...eh...maafkan atas tidak kesopananku namaku Hermione Jean Granger dan ini Neville Longbottom" ujarnya setelah meletakkan Trevor kegenggaman Neville yang masih sesenggukan.
"Namaku Phoenix Aquila Malfoy, kau bisa memanggilku Phoenix atau Nix sedangkan yang berambut pirang itu kakak kembarku Draco Lucius Malfoy, orang yang didekat jendela sedang membaca itu Blaise Zabini dan yang disebelah Blaise adalah Theodore Nott" ujarku berusaha untuk tidak menyunggingkan senyum lebar karena terlalu senang, bertemu kembali dengan Mione.
"Sudahkan basa-basinya, Nix duduklah perjalanan masih jauh, kembali tidur" lagi-lagi Draco memerintahkanku seenaknya karena dia kakakku huh menyebalkan.
"Senang berkenalan denganmu Nona Granger dan Tuan Longbottom"
"Panggil saja aku Hermione atau Mione, Nix" ujarnya ramah sama seperti biasa saat kami bersahabat dulu
"Aaa...uumm...te-ter-terimakasih, n-n-nona, pa-pang-panggil saja aku Neville" dan gugup seperti biasanya.
Aku hanya menyungging senyum, setelah sebelumnya aku mentranfigurasi sebuah jepitan milikku menjadi kandang Trevor agar tidak terlepas, Hermione dan Neville memandang takjub, karena bagi anggota pureblood hal seperti ini sudah dilatih sejak kecil, dan menjadi lumrah.
Tak terasa mereka telah sampai dan menuruni Hogwart Express, dan siswa tahun pertama dibimbing oleh Hagrid menuju sebuah perahu
Tak pernah berubah dan selalu indah dimalam hari
Batin Phoenix mengagumi pemandangan Hogwarts, ia seperahu dengan Draco, Daniel dan Hermione. Nix berbicara santai dengan Hermione sedangkan Daniel kembali berdebat dengan Draco yang membuat Hermione kesal hingga menjitak kepala keduanya dan ditertawai oleh Nix.
"Hei katanya kita akan bertarung dengan troll sebelum memasuki sekolah, aku merasa takut namun bersemangat" ujar seorang anak lelaki berambut merah cerah dengan freckles dipipinya. Itu adalah Ronald Weasley.
"Huh pemikiran bodoh macam apa itu? Memang kau mau mati muda hah? Dasar Weasel bodoh"
"Apa kau bilang?! Kau tak berhak mengomentariku ayahmu saja pelahap maut menjijikan, aku sebagai Light Side menyadari betapa kotornya ayahmu itu" ucapan Ron dengan kasar dan tercetak jelas bahwa perkataannya adalah kebenaran, setelah melihat Draco menegang, Nix yang mendengar itu marah namun mencoba mengendalikannya. Nix tau ayahnya dihina dengan tak beradab oleh Ron maka ia akan membalasnya sebelum Draco melakukan kebodohan.
"Apa yang membuktikan keluargaku seorang pelahap maut? Dan atas dasar apa kau menghakimi ayahku kotor dan menjijikan? Bukankah keluarga kalian yang lebih menjijikan dengan mencampakkan darah daging sendiri dan satu ibu untuk berbagi air susu denganmu? Itu lebih sampah dan menjijikan dibandingkan mudblood yang ternyata lebih rendahan sekalipun dibanding kalian" jawaban telak nan menusuk ia lontarkan untuk membungkam mulut besar Ron. Ron menganga tak percaya dan kesal bukan main karena tak bisa membalas perkataan Nix sama sekali, ia juga terlihat sangat iri ketika melihat Draco yang memamerkan jam tangan bertabur berlian dan emas murni. Sedangkan Daniel yang mendengar itu hanya terdiam, tak mau ikut campur karena ia tahu Nix melakukan itu semata-mata membela keluarganya. Iapun bila diposisi Nix akan seperti itu meski ia Potter dan cukup baik berteman dengan keluarga Weasley bukan berarti ia menaruh kepercayaan begitu saja pada mereka, karena ia tau Ron hanya senang berkoar-koar omong kosong dan bertingkah sombong karena berteman dengan The Boy Who Lived.
Tak lama kemudian acara penyeleksian dimulai setelah topi kumal nan lusuh itu bernyanyi mengenai kehebatan asrama masing-masing. Profesor Minerva McGonagall memegang sebuah perkamen yang tertulis nama-nama tahun pertama.
"Abbot Hannah" ujarnya dan seorang anak perempuan maju lalu ditaruhnya topi kumal itu diatas kepala dan berteriak
"Hufflepuff"
"Bones Susan"
Phoenix memperhatikan ketika Susan maju, dan memberikan senyum semangat ketika tatapan Susan jatuh pada Nix. Susan balas tersenyum. Susan adalah keponakan Amelia Bones istri Sirius dan mereka sudah sering bermain bersama dan akrab.
"Hufflepuff" teriak sorting hat, Susan pun melangkah kemeja Hufflepuff.
"Weasley Ronald"
"Another Weasley and Gryffindor
"Zabini Blaise"
"Slytherin"
Dan terus berlanjut kenama-nama berikutnya
"Potter Daniel"
"Lord Gryffindor"
"Granger Hermione"
"Ravenclaw" saking senangnya bocah perempuan itu berlari sambil masih memakai sang topi, namun dia kembali lagi dan menaruh sang topi kedepan.
"Longbottom Neville"
"Gryffindor"
"Malfoy, Draco"
"Slytherin" bahkan sang topi sudah meneriakan asramanya ketika sang topi baru menempel diatas kepalanya.
Dan Phoenix nama terakhir yang disebut
"Malfoy Phoenix"
Hmmm selamat datang kembali Lord Gryffindor, atau sekarang harus kupanggil Lady Slytherin. Sama seperti sebelumnya kau ingin pilih asrama mana karena kau juga adalah pemilik Hogwarts
Heh~kali ini aku memilih di Slytherin, karena harus bermain dengan seseorang
Tentu saja My Lady, aku hanya ingin memberi tahumu pasang mata dan telingamu baik-baik karena Hogwarts merupakan sumber informasi bagimu, dan god bless untuk reinkarnasimu dan good luck untuk misimu
"Lady Slytherin"
Untunglah ia orang terakhir yang disorting, karena dia yang paling lama sampai memakan waktu dua puluh menit, lalu setelah asrama nya diumumkan hanya keheningan yang menyambut, namun ia tidak peduli hingga ketika kakinya melangkah ke arah meja berpanji lambang ular tepukan tangan anggun menghiasinya. Anak-anak Slytherin sungguh terkejut bahwa Lady Slytherin dari keturunan Malfoy karena biasanya keturunan Malfoy ada diposisi pangeran, namun kini ditempati oleh Draco Malfoy lalu untuk Lord Slytherin tahun lalu dipegang oleh Leo Black.
Hogwarts I'm Coming, Lady Fate bantu aku untuk menemukan kebenaran dan membongkar penjahat sesungguhnya
Batin Nix dengan menyeringai. Namun sedikit terusik kala sensi menggelitik di kepalanya pasti ada seseorang yang mencoba melegilimens nya, ia segera membuat dinding occlumensy nya dan hanya menampilkan gambaran-gambaran ia belajar di manornya. Sudut matanya menangkap Albus Dumbledore tengah menatapnya intens dan mencoba mengorek informasi darinya. Ia berpura-pura sakit
"Dray~ uuhhkk"
"Nix ada apa?" Ujar Draco panik dan khawatir
"Kepalaku sakit, aku pusing" ujarnya dengan memelas namun itu hanya akting belaka dan sayangnya semua orang tertipu.
Draco menggulirkan bola matanya dan berhenti pada guru ramuan, dan menggerakan bibirnya, memberitahu keadaan Nix lewat isyarat. Dan Severus segera mengecek, ternyata kepala sekolahnya Albus tengah melegilimens Nix, membuatnya geram.
"Hentikan itu Albus, kau melakukan pelanggaran terhadap anak-anak dibawah umur" ujarnya dingin dan terkesan datar namun didalamnya tengah tersulut emosi bernama kemarahan, karena putri baptisnya sudah ia anggap sebagai anaknya.
"Oh Severus maafkan aku, maafkan pak tua ini yang diliputi penasaran" ujar Albus berkilah
"Namun itu tidak menjadi alasan bagimu untuk menerapkan legilimens pada penyihir dibawah umur" ujar Severus tajam, Albus hanya terdiam dan mengangguk namun dalam hatinya ia berdecih kesal.
Phoenix yang melihat itu dari sudut mata dan gerakan bibir mereka, menyeringai dengan sadis secara diam-diam. Acara makan malampun berakhir dan murid tahun pertama diantar para prefect untuk menuju asrama masing-masing dan juga kamar-kamar mereka.
Aku harus memulai dengan mengumpulkan inner circleku, mungkin dari Ravenclaw aku bisa mempercayai Luna dan Hermione, aku bersyukur dia berada disana dibanding dengan Gryffindor karena itu memang tempatnya. Dan untuk Gryffindor seperti Daniel dan Neville bisa kumasukkan dan dapat dipercayai. Lagipula Daniel adalah Lord Gryffindor
