Chapter 5 : Kericuhan dipagi hari

Untuk sebuah rencana besar diperlukan pengorbanan dan juga sedikit intrik licik jika ingin mencapai tujuan dari rencana besar itu, bukan? Ya sama seperti yang dipikirkan oleh seorang gadis muda bernama Phoenix Malfoy, yang dikehidupan lampau nya adalah veteran perang berwujud laki-laki lalu bereinkarnasi seperti sekarang ini. Namun untuk kemampuannya jangan diremehkan, karena dia telah terberkati oleh Lady Fate untuk membongkar intrik yang dimainkan seseorang.

Di asrama putri tampak ramai oleh segerombolan anak laki-laki, tepatnya di sebuah kamar dan itu dikamar Phoenix

"Nix apa kamu masih merasa sakit?" ujar Draco perhatian, ia menaruh tangan adiknya itu dipangkuannya dan memainkan jari-jari mungil milik Nix.

"Aku sudah lebih baik Dray" balas Nix dengan tersenyum lembut, membuat yang kebetulan melihatnya terpesona.

"Nix kalau kamu merasa perlu ditemani untuk tidur, aku akan menemanimu tidur malam ini" ujar Corvus yang menuai tatapan tajam dari Draco, ataupun dari para sepupu dan adiknya.

"Terimakasih Cory aku tidak apa-apa, sungguh" Nix kembali mengumbar senyumnya pada sang sepupu yang selalu ia panggil dengan nama kesayangan pemberian Nix, dan tentu tak ada penolakan dari siempu nama dan hanya Nix saja yang boleh memanggilnya seperti itu.

"Nix ingat selama kamu disini kamu adalah tanggung jawab kami, kami tidak mau ada sesuatu yang mengganggu bahkan membuatmu tak nyaman. Katakan padaku atau para sepupumu bila hal itu terjadi" ujar Leo selaku Lord Slytherin.

"Uhm tentu saja Leo, oh iya boleh aku menanyakan sesuatu pada kalian, George, Fred?" Nix berkata dengan mimik yang imut, persis bocah lima tahun yang penasaran, membuat gemas para sepupu dan kakaknya, bahkan Draco sudah mencium pipi gembil itu sedangkan sepupunya jangan harap karena Nix sudah dipangku Draco. Mereka hanya membantin "dasar curang"

"Tentu saja Milady…." Fred

"Kita akan menjawab…" George

"Semua pertanyaamu" ujar keduanya kompak dan ceria.

"Maaf kalau aku lancang dan tidak sopan, apakah kalian dibuang karena ini?"

"Huft bisa dibilang begitu, aku dan George dibuang karena masuk Slytherin" ujar Fred dengan sedikit sendu

"Itu benar, bahkan Mom sudah mencoret nama kami dari pohon keluarga, dan dijauhkan dari adik-adik kami, mereka takut kami mengajarkan sihir hitam dan segala pengaruh buruknya" George melanjutkan dengan tatapan kosong dan datar.

"Apa kalian bahagia sekarang?" ujar Nix dengan hati-hati

"Tentu saja kami bahagia, Father sangat menyayangi kami dan asik juga bermain dengan mereka" ujar keduanya kompak sambil menunjuk barisan sepupunya. Nix hanya tersenyum saja

"Aku harap kalian juga tidak terpengaruh oleh perkataan buruk orang lain tentang kami, ingatlah selalu percaya apa kata hatimu bila itu adalah kebenaran" Nix berujar lembut disertai senyum manisnya, dan lagi-lagi mereka terpesona.

"Dan lebih baik kalian pergi ke kamar masing-masing aku ingin istirahat, Gnite all" lanjutnya, namun sebelum kakak dan para sepupunya pergi mereka mencium kening dan mengusap lembut rambutnya, itu adalah kebiasaan mereka, mengingat Nix adalah perempuan satu-satunya di keluarga mereka. Sedangkan untuk Black bersaudara mereka hanya memberikan senyum kecil.

Asrama Slytherin memiliki kamar-kamarnya sendiri dan diatasnya terpasang plakat nama dari perak dengan tinta hijau yang mengukir nama pemilik kamar. Namun sepertinya pagi ini berbeda dari biasanya. Karena

"Oii…Draco bang…..un… *hening sesaat lalu* BLOODY HELL KAMU NGAPAIN DI KAMAR COWOK"

"Berisik Theo"

JDUG

Theo disambit dengan gelas piala oleh Draco yang entah didapatkan dari mana, sedangkan sang tersangka menatap datar, karena

"Dray~ kenapa berisik?" Tanya sebuah suara perempuan, ia mengucek sebelah matanya dengan muka bantal dan piyama sedikit berantakan hingga memamerkan bahu mulusnya, ditambah pose imut membuat Theo dan entah sejak kapan banyak siswa laki-laki menggerombol di kamar Draco terlihat memencet hidung mereka karena ulah orang disamping Draco. Dan itu adalah siapa lagi kalau bukan Princess Malfoy. Theo teriakanmu benar-benar super ternyata.

"Nix kembali tidur" ujar Draco datar, namun Nix menggeleng ia masih separuh sadar dan menuju ke kamar mandi karena panggilan alam, tidak menyadari banyak anak laki-laki yang mengerubungi kamar kakaknya tengah melihat Nix dengan tatapan IYKWIM saat dia berjalan dengan separuh sadar dan gaun tidur yang berantakan. Ketika Nix sudah menghilang di bilik kamar mandi, tatapan Draco berubah bagai malaikat maut.

"Apa yang kalian lihat hah? Ingin kucongkel mata kalian? Atau kukutuk dengan Crucio?" ujar Draco dengan dingin dan mengeluarkan hawa suram.

Glup

Mereka semua segera angkat kaki termasuk Theo, karena tak ingin diamuk oleh naga yang sedang bersiap-siap menyemburkan apinya. Severus yang sebenarnya mendengarkan kericuhan tadi hanya memijat pelan pelipisnya, sudah terlampau biasa dengan kelakuan bungsu Malfoy itu yang hobi membuat kejutan dengan tingkah ajaibnya. Sementara sang pelaku kericuhan kini sedang anteng saja ketika sang kakak menyisiri rambut sepinggulnya setelah mandi.

"Morning All" Nix menyapa anak-anak Slytherin setelah sampai di mejanya dengan senyuman, ia duduk diapit oleh Draco dan Leo, disebelah kanan Draco ada Corvus, diseberang meja Nix berhadapan dengan Pollux yang di samping kanannya ada George dan kirinya ada Fred. Anak-anak Slytherin membalas sapaan sang Lady dengan senyum pula, pagi itu mereka mengobrol namun tentu saja tidak sampai ramai, ciri khas mereka para bangsawan yang selalu menjaga etika di depan meja makan.

"Niixxx huh tak asyik tanpamu, seharusnya kau dengan ku saja tau" sebuah suara menginterupsi mereka, ia melihat Alfa atau yang akrab dipanggil Al tengah memeluk Phoenix dari belakang dan menduselkan pipinya pada pipi Nix, sudah tau kan apa yang akan terjadi, meja Slytherin dipenuhi aura angker dari beberapa orang.

"Al mau makan bareng Nix di meja Slytherin?" ujar Nix setelah berhasil melepaskan pelukan sepupu Gryffindor nya.

"No, ayo Nix kau makan dimeja Gryffindor saja yah" ujar Al semangat, namun

Plak

"Sembarangan kalau bicara Nix sarapan disini, salahmu sendiri nyasar di asrama singa, sana balik kekandangmu" Leo memukul belakang kepala sepupunya itu dan berbicara kejam.

"Heii dasar tak berperikesepupuan kau ini namamu singa tapi nyasar di dungeon, lagian mana aku tau kalau Nix bakalan disarang ular lagipula Nix itu bagusnya di asrama singa tau" Al tidak mau kalah.

"Balik ke asramamu sekarang atau aku akan mengutukmu saat ini juga Al" ini suara dari Corvus, meski tenang jangan anggap enteng bila ia sudah marah, dipastikan korban tak akan selamat. Al dan segala sifat keras kepalanya justru kini memicu pertengkaran dalam memperebutkan Nix

"Ngomong-ngomong Nix dimana?" Pollux buka suara setelah melihat kursi sepupu imutnya kosong. Dan otomatis perkataannya menghentikan perkelahian disana.

"Tuh disana" tunjuk Blaise, dan sontak semua mata mengikuti arah telunjuk pemuda berdarah Italia itu. Mereka melihat Nix tengah duduk diujung kursi Ravenclaw bersama gadis berambut semak mengembang, dan gadis berambut pirang pucat itu adalah Hermione Granger dan Luna Lovegood. Mereka berbincang tanpa menghiraukan lainnya.

Hari ini mereka mendapat pelajaran ramuan bersama dengan Gryffindor, Harry atau sekarang ini Phoenix tengah menyeringai senang membuat Draco, Theo, Blaise, Daphne dan Pansy mengernyitkan kening mereka. Pansy yang memang cerewet segera menanyakannya.

"Nix kenapa menyeringai begitu?"

"Oh Pans aku hanya memikirkan apakah ada pertunjukan yang bagus dikelas ramuan nanti" ujar Nix enteng.

"Ku harap begitu Nix, walaupun tak ada pasti kau akan membuatnya ada, bukankah begitu Nix?" sahut kembarannya menyeringai kearah Nix yang disambut seringai juga.

"Tentu saja Dray~ kupastikan ada hiburan dari para singa, terutama dari Weasel itu" ujar Nix dengan seringai kejam, rombongan mereka sampai didepan kelas dan melihat Ron Weasley dengan Daniel Potter dan Neville Longbottom.

"He~ putri manja sudah datang rupanya, dengan dayang dan pengawal bodohmu" ujar Ron sinis pada Nix, namun tidak diambil pusing olehnya, berbeda dengan teman-temannya bahkan Daniel dan Neville yang sudah panas dengan perkataan Ron

"Tidak menjawab eh? Dasar pencemar udara" lanjutnya ketika Daniel hendak bersuara, Nix memotongnya.

"Tuan Muda Weasley apa kau hanya memiliki otak sebesar kacang polong? Kalau iya pantaslah kau bodoh. Manusia tidak bisa mencemari udara, dan ketahui tempatmu kau berurusan dengan siapa!" ujar Nix tajam dan datar setelah itu berlalu dari sana setelah menyapa Daniel dan Neville.

"Ron perilakumu sangat buruk, dan aku tak suka kau menjelek-jelekkan Nix" Ujar Daniel ketus dan berlalu dari sana dengan Neville yang mengekor dibelakangnya. Ron melihat Neville yang memandangnya dengan sorot yang kecewa dan marah, karena bagaimanapun Nix adalah penolongnya waktu dikereta. Ron hanya mendecih kesal, karena bagaimanapun Daniel adalah raja di asrama Gryffindor dan Neville The-Boy-Who-Lived, keduanya adalah asset yang bisa membuatnya mendapatkan kepopuleran yang selama ini ia idam-idamkan.

Setelah mereka duduk ditempat masing-masing, Pansy sang biang gosip mulai heboh dengan kejadian tadi.

"Nix seharusnya kau lihat wajah Weasel itu, ya ampun sangat menggelikan" Pansy berujar semangat

"Nix kau kejam sekali" Draco mengatakannya dengan nada simpati yang dibuat-buat dan berwajah memelas yang lebih tepat dikatakan mengejek.

Sedangkan Theo, Blaise, dan Daphne hanya tertawa anggun dan Nix hanya menyeringai.

Tak lama kemudian Severus Snape masuk dengan dramatis nya dimana jubah hitam yang berkibar anggun dibelakangnya.

"Kalian berada di sini untuk mempelajari ilmu rumit dan seni membuat ramuan," katanya memulai. Suaranya serupa bisikan, tetapi anak-anak menangkap semua kata yang diucapkannya—seperti Profesor McGonagall, Snape punya kelebihan bisa tanpa susah payah membuat seluruh murid di kelasnya menyimak tepatnya intimidasi lewat sorot matanya yang dingin dan aura suramnya.

"Karena tak banyak kibasan tongkat yang konyol di sini, banyak di antara kalian akan susah percaya ini sihir. Aku tidak berharap kalian benar-benar bisa menghayati keindahan isi kuali yang menggelegak lembut dengan asapnya yang menguar, kekuatan halus cairan-cairan yang merayap merasuki nadi manusia, menyihir pikiran, menjerat akal sehat. Aku bisa mengajar kalian bagaimana membotolkan kepopuleran, merebus kejayaan, menyumbat kematian—kalau kalian bukan kepala-kepala kosong seperti anak-anak lain yang biasa kuajar." Pidato singkat yang diulang tiap tahunnya oleh Snape. Dan hening merajai kelas ramuan itu.

Lalu tatapannya jatuh pada Neville yang sedang gemetaran karena gugup. Namun

"Potter!" kata Snape tiba-tiba. "Apa yang kudapat jika aku menambahkan bubuk akar

asphodel ke cairan wormwood?"

"Campuran asphodel dan wormwood menghasilkan obat tidur yang kuat sekali sehingga disebut Tegukan Hidup Bagai Mati" ujar Daniel lancar, dalam benaknya Thanks mum sudah mengajariku, dan ramuan memang menyebalkan ditambah Snivellus kau benar Dad.

"Di mana kau akan mencari jika kusuruh kau mengambilkan bezoar untukku?" Kini tatapan setajam elang itu mengincar Ron

"Saya tidak tahu, Sir." Ron yang ditanya seperti itu gugup dan diperparah dengan dia yang tidak dapat menjawab pertanyaannya. Membuat guru ramuan itu mendengus tidak senang, lalu tatapan matanya jatuh pada Nix.

"Ms Malfoy?" Nix yang ditanya seperti itu menjawab dengan tenang.

"Bezoar adalah batu yang diambil dari perut kambing dan bisa menyelamatkanmu dari

hampir semua racun"

Snape melontarkan pertanyaannya kembali pada Nix.

"Apa bedanya, monkshood dan wolfsbane?"

"Monkshood dan wolfsbane sebetulnya tanaman yang sama, yang juga disebut aconite"

"10 point untuk Slytherin dan 5 point untuk Gryffindor dan kuambil 2 point dari Gryffindor karena ketidakbecusan mu Weasley"

Ron menggeram marah namun tidak dapat berbuat apa-apa, sedangkan Slytherin mereka tetap anggun seperti biasa meski mereka tengah menyeringai kesenangan.

Gryffindor semakin terpuruk, karena Seamus dan Neville yang meledakkan kuali dan merembes kelantai membuat sol-sol sepatu berlubang, hingga anak-anak yang lain nya berdiri di atas kursi mereka, lalu Neville yang terkena lelehan ramuannya membuat kaki dan tangannya ditumbuhi bisul bahkan hingga ke hidungnya, ia mengerang sakit. Severus dengan cepat membereskan kekacauan yang ada dan menyuruh Neville ke rumah sakit.

"Sir boleh aku antar Neville ke hospital wings?" ujar Nix yang merasa tidak tega, lagipula ramuannya telah selesai dan sempurna.

"Silahkan Ms. Malfoy, Slytherin mendapat 5 poin karena membantu asrama lain dan Gryffindor kuambil 1 point karena mengacau dikelasku" ujar Severus kejam pada asrama gryffin dan membuat mereka lemas. Sedangkan para ular tengah bersorak sorai dihati mereka.

Sementara itu dibagian Nix

"Neville lain kali berhati-hatilah"

"Uuhm.. a-aku g-gu-gugup"

"Tenanglah Nev, uncle tidak seburuk itu, mau aku bantu di pelajaran ramuan berikutnya? Atau kita bisa membahas pr bersama" ujar Nix menawarkan dengan murah hati. Karena saat ia menjadi Harry, ia merasakan Neville senasib dengannya dan hanya Neville lah yang tidak pernah berpaling padanya dan tulus untuknya.

"Eh bolehkan uhm Nix? Dan apa kau dekat dengan profesor Snape? Sampai memanggil uncle begitu" ujar Neville yang perlahan mulai tenang. Karena ia mulai merasa nyaman dengan Nix, seolah dia dan Nix mempunyai ikatan sebelum nya yang sangat lama.

"Profesor Snape itu ayah baptisku dan juga Draco, Nev, wajar jika kami dekat, namun ada saatnya kami seperti ini karena menjaga keprofesionalan dirinya"

Neville hanya membentuk huruf O dibibirnya, tak lama mereka telah sampai di Hospital Wings, Nix pun memanggil sang matron Hogwarts, Madam Pomfrey datang dan segera mengobati Neville.

Time Skip

"Ck ayolah tak cukup kemarin saja kita bersama Gryffindork?" ujar Theo mengerang malas

"Theo jangan banyak mengeluh" ujar Daphne tenang. Sedangkan sisa dari mereka hanya diam saja, malas menanggapi. Hingga mata Nix menangkap Neville yang berjalan sendirian.

"Hai Nev, tumben sendirian?" sapa Nix

"Hai Nix, eum aku telat bangun dan mencari remembrall ku dahulu, Daniel pergi menemui ayahnya pagi ini, dan Ron sudah duluan" ujar Neville sedih.

"Hmm yasudah ayo masuk, kau duduk denganku saja"

"T-tapi" ujar Neville takut-takut saat mendapat lirikan sinis dari Draco dan sebagian anak Slytherin yang melihatnya.

"Tak ada penolakan, ayo" Nix berujar riang dan menggandeng tangan Neville. Draco mendecih tidak suka.

Setelah mereka masuk yang mereka dapati adalah seekor kucing hitam yang tengah duduk dimeja depan, memperhatikan suasana kelas yang agak berisik. Namun Nix tahu bahwa kucing itu adalah animagus dari profesor nya.

Setelahnya kucing itu bertransformasi menjadi McGonagal dan anak-anak terlihat takjub termasuk Draco, kecuali Nix. Mereka mendengarkan penjelasan sang profesor dengan khidmat dan mencatat apa yang perlu dicatat. Sejauh ini lagi-lagi Slytherin mendapatkan poin karena Nix berhasil mengubah sebuah jepitan menjadi miniatur kursi. Membuat semua anak takjub namun Ron terlihat iri.

Seusai pelajaran transfigurasi kini mereka ada pelajaran terbang. Oleh Madam Hooch, dan kembali lagi Slytherin bertemu Gryffindor.

Sepertinya akan ada pertunjukan nanti sesuai perkiraanku atau akan ada hal lainnya, nah anak-anak singa berikan aku pertunjukkan nanti yang bagus

Nix diam-diam menyeringai dan menantikan pertunjukan yang akan dimulai sebentar lagi saat pelajaran itu berlangsung

Tbc

Hika ga banyak bacot, cuma mau nyampein kalo semisal update lama mohon maaf karna Hika jg ngerjain ff sebelah, dan Ka Aya jg pasti lgi ngerjain ff lainnya dan kami jga di rl pasti punya kesibukan dan hal lainnya jadi tolong harap dimaklum. Cuma yg pasti kami ga hiatus, hanya slow update aja sekian