Chapter 7 : Philosopher Stone and Slytherin
Mereka yang diberi kesempatan kedua setelah kematian, adalah mereka yang terlalu disayangi takdir, mereka yang bereinkarnasi adalah orang yang diberi keistimewaan dan mereka adalah yang terpilih untuk diberi anugrah. Namun dibalik itu mereka harus bekerja keras untuk memperbaiki segala sesuatu yang rusak dan hilang, dengan taruhan nyawa mereka kembali. Antara kematian yang menyedihkan atau hidup untuk pembuktian dari sesuatu yang hilang meski harus melampaui kesakitan dahulu. Semua pilihan ada ditanganmu.
Deg
Kata-kata itu terlintas kembali dikepalanya, perasaan gelisah menghampiri, firasatnya mengatakan harus bergerak mencari kepingan puzzle teka-teki ini.
'Sial'
Dia mengumpat dengan halus, suaranya seumpama hembusan angin yang tertiup lirih, bibir mungil sewarna merah delima sibuk bergumam dan berargumen dengan pikirannya. Untunglah saat ini dia sendirian dikamarnya. Dan dia adalah Phoenix yang tengah sibuk menyusun akan segala rencana dikepalanya yang jenius nan licik tipikal Slytherin.
Lady Fate dan Death benar, aku harus mulai bergerak. Namun situasi saat ini terlihat mudah namun disaat bersamaan sulit. Sial perkiraanku meleset, pertama-tama aku harus kecoh situa bangka itu. Lalu aku gunakan dua bidak terbaik sebagai umpan dan penyerang.
Selagi ia sibuk dengan pikirannya, sampai-sampai tak sadar bahwa ada orang lain selain dirinya yang berada dikamar itu. Hingga suaranya membuat Phoenix tersentak dari lamunannya.
"Nix, ada apa?"
"Eh..eum apa kau memanggilku?"
"Ya memang siapa lagi?" Ujarnya sedikit sewot dan memutar bola matanya dengan bosan. Yang dipanggil hanya terkekeh pelan. Orang yang memanggil Phoenix tadi adalah Leo sepupunya.
"Jadi ada apa Nix?" Leo menuju sepupunya itu, dan rebahan dikasur Nix, sedangkan si empunya tengah bersender dikepala ranjang.
"Apanya yang ada apa?" Nix menyahut ringan dan menoleh pada sepupunya yang kini tidur menyamping menghadap Nix
"Tch...jangan menjawab dengan pertanyaan lagi"
"Hehehe... baiklah aku akan mengatakannya tapi~ Leo panggil semua sepupu kita dan Draco. Jangan lupakan Al biarkan dia masuk dungeon, kau atau siapapun itu jemput Al, ah jangan lupakan si kembar Weas- Black karena dia bagian dari kita"
"Tch kau ini selalu seenaknya yah, aku akan menurutimu, jadi apa kompensasi untukku?" Leo menyunggingkan seringai tampannya, mungkin bila siswi diluaran sana sudah histeria dan menggila karenanya. Pengecualian bagi Nix dia dulu adalah laki-laki dan sudah terbiasa dengan itu jadi jangan harap ia luluh.
"Tch Slytherin huh... well aku akan memenangkan piala asrama dan quiddicht untuk tahun ini" Nix memutar bola matanya bosan lalu melipat tangannya di dada dengan angkuh.
"Nix kau juga Slytherin kalau kau lupa, kau itu pikun atau apa hah? Kau masih ditahun pertama mana boleh ikut quidditch kalau piala asrama iya aku percaya, kau bisa mendapatkan hati para guru di Hogwarts mengingat kau hampir menjadi kesayangan para profesor, lagipula aku meminta kompensasi untukku bukan untuk asrama"
"Sama saja, toh jadinya semua sama rata dan ikut senang, soal quiddicth I have my way bro~" ujar Nix dengan kalem namun Leo tau apapun yang direncanakan Nix memang selalu berhasil dan well menakutkan.
"Yayaya... whatever you do princess, tapi tetap saja aku minta kompensasiku Nix hanya untukku" Leo menekan kata untukku. Nix mulai jengah melihatnya.
"Ok, what you want?"
"Kiss and hug, ah jangan lupa suapi aku setiap jam makan selama seharian penuh"
"Seriously?"
"Yup, dan untuk peluk ciumnya dimulai dari sekarang hehehe"
"Dasar kekanakan" namun Nix menurutinya juga, ia memeluk Leo dan mencium kening dan pipi sepupunya. Membuat Leo senang karena jarang sekali ia diperlakukan begitu oleh Nix mengingat Draco selalu memonopolinya. Leo pun membalas dengan mencium kening dan kedua pipi chubby Nix dan tambahan disudut bibirnya, lalu ia segera pergi untuk menjalankan tugas dari Nix.
Skip Time
Kini dikamar Draco telah penuh oleh sepupunya dan juga Nix, ia telah memasang berbagai macam ward dan mengunci segala akses kekamarnya, agar tidak ada yang mencuri dengar pembicaraan serius oleh Lady Slytherin itu.
"Ehm... kalian telah mendengar bukan pengumuman dari Kepala Sekolah tadi? Dan mengingatnya?" Buka Nix dengan suara anggun namun dingin, tanda bahwa pembicaraan ini penting dan serius. Semuanya kembali mengangguk.
"Mengenai larangan koridor lantai 3 aku menebak ada sesuatu yang berharga disembunyikan pak tua itu"
"Nix darimana pemikiran itu datang?" Al membuka suaranya.
"Entah, lagipula untuk apa dia melarang kita ke koridor lantai 3? Kalau bukan ada apa-apa"
"Kau benar Nix, lalu intinya apa dari pembicaraan ini?" Corvus bertanya datar namun terselip nada penasaran.
"Awasi para siswa lainnya dan Filch terutama Percy Weasley dan Ron Weasley agar tidak ada yang tau kalau diantara kita akan ada yang menyusup"
"Menyusup?! Nix jangan gila, kita tidak tahu apa yang bisa terjadi padamu" Draco menyerukan protesnya pada sang adik.
"Tapi Dray aku punya firasat aneh akan hal ini. Aku bisa menjaga diriku sendiri, lagipula siapa bilang aku menyusup sendiri?" Nix berujar santai sambil memainkan kuku-kuku tangannya.
"Huft... tetap saja Nix, ide menyusup mu itu berbahaya" Draco masih dengan protesannya membuat Nix jengah dan para sepupunya hanya terdiam.
"Draco Malfoy dengarkan aku sebagai Lady Slytherin disini dengan baik-baik" Nix mengeluarkan aura sihir yang menekan, membuat Draco dan yang lainnya merinding takut bahkan diluar itupun para siswa didungeon merasakan perasaan takut karena aura sihir Nix yang menyebar keseluruh asrama dengan dingin, wajah lembut Nix berganti dengan datar dan sorot matanya terlihat dingin dan bengis. Leo yang notabenenya Lord Slytherin-pun tak berkutik.
"Aku memiliki firasat akan hal ini, dan aku tidak bisa mengabaikannya. Aku tau tidak bisa sendirian, maka dari itu aku mengumpulkan kalian untuk menjalankan misi ini. Dengar ini bukan hanya untukku tapi untuk semuanya, aku berani bertaruh gelar Lady ku bila kalian menemukan kegagalan dari rencanaku" ujar Nix bersungguh-sungguh dan tidak ingin dibantah, mereka hanya mengangguk patuh.
"Bagus, aku memiliki tugas untuk kalian, Al bayangi Golden Trio secara rahasia, Twins back up Al dengan cara kalian agar Dumbledore tidak curiga, kepala sekolah itu bisa saja melihat gerak-gerik kalian bagaimanapun dia berbahaya. Leo, Corvus dan Pollux kau amati para Slytherin dan siswa lainnya terutama dari para Gryffin dan yang berpotensi membuat kalian bahaya adalah Percy Weasley"
"Nix kenapa harus Weasel itu.. sorry Fred, George bukan menyinggungmu" ujar Pollux
"Its no prob bro" ujar Fred dan George
"Keluarga Weasley adalah bagian dari light dan terlalu mengagungkan Dumbeldore kau harus waspada, dia salah satu bidaknya, dan Al berhatilah-hatilah aku punya firasat buruk tentangmu" Nix berkata layaknya jendral perang pada anak buahnya.
"Nix bagaimana denganku?" Draco bertanya dengan acuh tak acuh meski sebenarnya ia memikirkan kira-kira tugas apa yang akan diberikan Nix untuknya
"Draco kau menyusup bersamaku ke lantai 3 bersama Al nanti, tak ada protes, sekarang pergi kekamar masing-masing sana" ujar Nix enteng seraya mengusir semuanya, sedangkan Nix sendiri dia menjajah kasur Draco dan tertidur diatasnya. Fyi Nix memang hobi tidur dikamar kakaknya itu dan setiap pagi hampir selalu ada kericuhan, namun semua sudah memaklumi.
Keesokan paginya mereka menjalani apa yang diperintahkan Nix tanpa diketahui dan Nix melakukan apa yang Leo mau meski menuai protesan sana-sini dari para sepupu dan Draco tapi ia tak ambil pusing selama misi mereka terlaksana dengan baik dan lancar, mereka bersikap natural dan tanpa celah untuk diketahui yang lainnya berbeda dengan Golden Trio yang terlihat krasak krusuk yang sudah diprediksikan Nix, dikarenakan Daniel yang rasa penasarannya yang tinggi, Ron yang memanasi demi mencapai kepopuleran dan Neville yang sepertinya terpaksa ikut tipikal Gryffindor. Mereka di juluki golden trio bukan tanpa sebab karena mereka selalu kemana-mana bertiga dan menjadi kesayangan profesor McGonagall. Sebelumnya mereka melihat kaki profesor Snape yang terluka entah karena apa, namun Nix yang tahu hanya bungkam. Dia juga sudah memprediksi Al akan melaporkan bahwa golden trio bertemu fluffy dan kerumah Hagrid.
Malam harinya Nix bergegas mengajak Draco dan Al untuk membuntuti golden trio kembali, meski harus menyeret mereka berdua karena setelah adanya cerberus dilantai 3 itu. Dengan mengendap-endap mereka memasuki ruangan itu dan melihat fluffy yang tertidur karena ada harpa yang memainkan lagu. Dengan segera ketiga nya loncat kedalam sebuah lubang, dan menyusul kesana. Nix melihat Ron yang terkapar pingsan dan Daniel yang tak jauh berbeda dengan Ron yang terluka, sekelilingnya sudah hancur berantakan, yang diduga pertarungan sihir sepertinya. Draco dan Al terlihat jeri namun berbeda dengan Nix ia tampak tenang.
"Nix kenapa disini? Berbahaya" ujar Daniel parau ketika sadar adanya orang lain. Nix hanya mendengus dan mendekati Daniel diikuti Draco dan Alphard.
"Diamlah Dan, aku disini menolongmu, Al bawa Ron dan Daniel ke hospital wings, Draco bantu mereka, setelah itu kau beritahu para profesor" ujar Nix tenang setelah merapalkan episkey pada Daniel dan Ron.
"Nix bagaimana denganmu dan Neville?" ujar Daniel khawatir.
"Aku bisa mengurusnya" Nix mengatakannya dengan ketenangan yang luar biasa meski mereka bisa mendengar beberapa lontaran mantra dan beberapa dinding yang hancur dibalik pintu. sebelum Daniel memprotres dirinya, Nix segera men-stupefy Daniel dan mengisyaratkan Al serta Draco dengan matanya agar cepat melakukan perintahnya.
"Huft saatnya melihat Quirell dan Neville" ujar Nix dengan enteng dan berjalan ringan kearah terjadinya pertarungan. dia mengandalkan bayangan sebagai tempat persembunyiannya agar tidak terdeteksi.
"Hahaha seharusnya The Boy Who Lived tidaklah pengecut sepertimu Longbottom, sekarang ambilkan aku batu itu" Nix bisa mendengar tawa menggelegar itu, ia mengernyit heran, seharusnya itu adalah suara Tom yang merasuki Quirell tapi kenapa kali ini berbeda? Ada yang aneh, batinnya berkata, karena itu ia perlu mengeceknya.
"Neville, kau tak apa?" Nix menghampiri Neville dengan berlari dan segera memeluknya
"Nix?! Jangan kesini bahaya" ujar Neville kalut
"Huh pengganggu lain rupanya, hai nak kau ingin mati?" Nix bisa melihat Quirell tersenyum mengejek, namun ia tidak terpengaruh dan berdiri dengan tenang berbeda dengan Neville yang tengah bergetar takut.
"Satu-satunya orang yang akan mati itu adalah kau pak tua"
"Cih sombong sekali kau bocah, kau akan menyesalinya" Quirell dengan cepat melontarkan kutukan namun Nix dengan tangkas mengucapkan mantra protego untuk melindungi dirinya dan Neville dengan cekatan Nix membawa Neville ketempat aman, dan memancing Quirell untuk menjauh, ketika dirasa cukup, mereka saling serang dan Nix merasakan keanehan seolah-olah Quirell bukanlah manusia dan berbeda dari kehidupannya dulu, seketika ia menyadari satu hal yang berbeda. Nix segera melontarkan kutukan yang cukup kuat sehingga Quirell hancur berkeping-keping dan ternyata dugaannya benar selama ini, Quirell adalah puppet dan termasuk dalam cabang sihir gelap, karena Quirell yang asli sudahlah mati namun mayatnya dijadikan media sebagai boneka seperti voodo, dan orang yang menggerakkannya pastilah bukan sembarang orang, satu teka-teki berhasil dipecahkan. Nix menatap cermin erised dan seketika dikantung jubahnya sudah ada batu bertuah itu, dibalik cermin itu ia melihat dan tersenyum dimana Dumbledore tangah akrab bersama Tom seperti seorang kakek dengan cucunya, dia berbisik lirih hingga hanya dirinya yang bisa mendengarkan itu aku berharap kalian segera terbebas dari belenggu ini.
Selesainya duel antara Nix dan Quirell, Nix segera menghampiri Neville yang terduduk lemas dan ketakutan, Neville segera memeluk Nix dan menangis dengan sesenggukan Neville berkata
"N-nix te-teri-makasih... a-ap-apa k-kau.. terluka? A-ak-aku takut hiks..hiks.. tadi berbahaya"
"Shusshh tenanglah Nev semua baik-baik saja, aku tidak apa-apa semua sudah selesai" ujar Nix lembut dan mengusap-usap punggung Neville seperti seorang kakak yang menenangkan adiknya, dan Nix sudah menganggap Neville adalah adiknya. Tepat selesainya ia berkata itu para profesor masuk disana berdiri Profesor Dumbledore, McGonagal dan Severus Snape.
"Anak-anakku tak seharusnya kalian disini, ini berbahaya" buka Dumbledore
"Maaf Pak Kepala Sekolah aku tau ini melanggar aturan tapi aku tidak bisa membiarkan temanku terjebak dalam bahaya, dan kalau boleh kami izin pamit untuk pergi ke hospital wings, sepertinya Neville masih syok dan butuh ramuan penenang, untuk detensi aku siap menerimanya" uajr Nix sopan dan tenang, menuai tatapan kagum dari McGonagal dan Severus meski tidak terang-terangan, sedangkan Dumbledore tersenyum pengertian, namun sekilas Nix bisa melihat tersirat kemarahan yang ditunjukan olehnya.
Keesokan harinya ketika makan malam ada pengumuman mengenai piala asrama tahun ini, Slytherin sempat pesimis karena tujuh tahun berturut-turut mereka gagal memenangkan piala asrama dan selalu dikalahkan oleh Gryffindor -untuk kebutuhan cerita jadi ada sedikit yg kami ubah- Nix hanya menyesap teh nya anggun dan berujar ringan.
"Sudahlah kalian jangan muram begitu, toh pengumumannya kali ini tidak akan sama, sepertinya ada yang berbeda"
"Maksudmu Nix?" Pollux bertanya setelah menelan pai nya.
"Dengarkan saja nanti" ujar Nix dengan tenang, sedangkan Leo hanya menyeringai menatap Nix dan seolah matanya berisyarat mengenai hal ini. Nix hanya mengangguk. Mereka yang melihat itu menatap heran dengan keduanya namun dengan senang hati Leo dan Nix mengabaikannya. Dan ketika pengumuman
"Poin asrama tertinggi tahun ini dipegang oleh Gryffindor disusul oleh Slytherin, Ravenclaw dan Hufflepuff" ujar Dumbledore, seketika panji-panji berganti emas dan merah serta gaungan auman singa, namun belum sempat Gryffindor bersorak akan kemenangannya, suara Dumbledore kembali buka suara.
"Karena keberanian dan juga peduli sesama siswa dari asrama Slytherin aku memberikanmu 10 poin untuk Draco Malfoy dan 90 poin untuk Phoenix Malfoy karena telah menolong dan tangkas dalam melindungi Neville, dan pemenang piala asrama tahun ini adalah Slytherin"
Seketika berubahlah panji merah-emas dengan silver-hijau dan ular yang mendesis-desis.
"See, aku menepatinya bukan? Dan tidak ada yang dirugikan disini" Nix tersenyum dengan elegan dan menuai tatapan kagum dari para Slytherin.
"Nix apa ini semua sudah kau rencanakan? Bagaimana bisa? Itu jenius" ujar Pansy menggebu-gebu
"Hmm aku hanya mengikuti firasatku, lagipula besok sepertinya ada kejutan lagi untuk kalian semua para ular" Nix memasang seringainya dengan sorot mata jahil.
