"Hmm aku hanya mengikuti firasatku, lagipula besok sepertinya ada kejutan lagi untuk kalian semua para ular" Nix memasang seringainya dengan sorot mata jahil.
*Phoenix Malfoy*
Keesokan harinya sesuai dengan apa yang dijanjikan Nix. Dia berhasil masuk tim quidditch bersama Draco hasil bantuan Severus dan rayuan maut dari Nix. Dan tentu saja melalui tes dahulu sebelum liburan akan dimulai. Membuat asrama Slytherin heboh dengan masuknya posisi seeker yang dipegang Nix dan posisi chaser yang dipegang Draco yang terbilang termuda di tim menyamai asrama Gryffinndor, namun berita ini hanya untuk kalangan asrama ular tersebut. Bahkan sepupu mereka merayakan hal ini dimanor Lestrange dan para orang tua ikut merayakannya. Mereka menjagokan si kembar Malfoy untuk mengalahkan Gryffindor di pertandingan perdana di tahun kedua.
"Ehm Dad... aku...aku boleh minta sesuatu padamu Dad?" Ujar Nix ragu-ragu dan terlihat gugup, karena seumur hidupnya menjadi Harry dan berakhir menjadi Phoenix sekarang ini, ia belum pernah meminta sesuatu yang menurutnya ini sangat mahal dan besar, meski bagi para Malfoy itu hal kecil dan tidak berkeberatan, bahkan kalau Nix minta resort pribadi pun pada hari itu juga akan dibelikan.
"Kau ingin meminta apa my dear? Selama aku bisa memenuhinya akan aku belikan" ujar Lucius lembut, ia memangku anak gadisnya itu meski sudah beranjak remaja, tubuh Nix masihlah seperti anak berusia 9 tahun. Sesekali Lucius mengelus rambut halus dan panjang milik Nix.
"Eh.. itu..ehm...aku minta kau belikan aku dan Draco sapu baru, dan..dan.." Nix ragu melanjutkannya, ia menjatuhkan tatapan memelasnya pada Draco. Sedangkan Lucius masih sabar menunggu.
"Dan juga untuk tim asrama kami Dad. Untuk pertandingan perdana nanti" ujar Draco dengan datar, lalu tangannya mengambil Nix dari pangkuan sang ayah. Dan mendudukan Nix pada pangkuannya.
"Hanya itu saja dear? Baiklah Dad akan belikan" ujar Lucius tenang. Namun karena saat ini mereka tengah berkumpul bersama keluarga besar Regulus buka suara.
"Oh Nix jangan khawatir, pamanmu ini akan belikan apapun itu untuk menunjang kemenangan Slytherin"
"Reg biar aku saja yang belikan. Kalian tenang saja biarkan uang kalian tidur saja. Nah Nix sayang ayo kita pergi sekarang membeli sapu yang kau inginkan" Bellatrix menyela perkataan sepupu dan iparnya itu.
Dan terjadilah adu mulut ala bocah yang dilakoni Lucius, Regulus, dan Bellatrix dengan tema siapa yang akan membelikan sapu untuk Nix dan tim Slytherin. Draco menatap datar, sedangkan sisa dari anak mereka hanya menatap jengah kelakuan orang tua mereka. Nix jadi merasa tidak enak ia pun membuka suaranya untuk menengahi pertengkaran yang konyol itu. Terkutuklah kau Flint membuatku susah, batin Nix jengkel, karena kapten mereka itu seenaknya meminta untuk menyokong sapu bagi tim Slytherin. Mengingat kembar Malfoy ketahuan menyeledupkan firebolt ke Hogwarts. Akibat mulut ember Theo yang saat itu melihat Nix dan Draco tengah meneteng firebolt sehabis terbang di bagian timur Hogwarts yang jarang dikunjungi.
"Ehm Paman Regulus, Bibi Bellatrix. Biar ayah saja yang membelinya. Dan kalau kalian ingin membantu slytherin cukup datang ke pertandingan kami saja" ujar Nix menggunakan tatapan puppy nya. Membuat mereka luluh
Omong-omong kumpul keluarga, Black satunya lagi tidak hadir, yang diketahui bernama Sirius Black. Ia dan keluarganya tengah pergi berlibur ke Perancis dahulu di karenakan Walburga Black memanggil nya untuk mengurus suatu hal. Sehingga Alfa terjebak bosan, dan untuk menghilangkan bosannya ia pergi ke dunia muggle yang berakhir kekacauan dan diseret oleh ibunya Amelia, untuk pulang dan Sirius hanya tertawa melihat kelakuan putra tunggalnya itu. Yang dimana ia hampir saja menghabiskan uang muggle nya untuk berbelanja pakain untuk Nix dan menggoda gadis-gadis disana sebagai model dadakan untuk baju yang dipilihnya untuk Nix.
~~~~Phoenix Malfoy~~~
Tak terasa tahun ajaran kedua sudah dimulai, dan tentunya penyeleksian murid tahun pertama dimulai. Nix menguap bosan dan menatap datar sekelilingnya. Lalu merebahkan kepalanya diatas meja untuk tidur sejenak.
"Nix kau kenapa?" Ujar Leo dan Nix mendapatkan atensi dari penghuni meja Slytherin tersebut.
"Nope, hanya bosan dan mengantuk" ujar Nix enteng tanpa mengangkat kepala dan menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya.
"Mau kuantar ke asrama? Sekalian makan malam di kamarmu saja" ujar Pollux.
"Tidak perlu"
"My Lady, kita..." Fred
"Tengah bosan juga..." George
"Mari buat keributan setelah ini Nix" Fred dan George mengucapkannya dengan berbarengan.
Dan akhirnya mereka bertiga benar-benar membuat kekacauan. Dimana Mrs. Noris mereka sembunyikan di kamar mandi perempuan milik Myrtle dan Filch yang dibuat terkunci di kelas tak terpakai belakang Hogwarts, dan hebatnya tidak ada ada satupun yang menjadi tersangka dari ketiganya. Berterimakasihlah pada Draco yang pandai bersilat lidah dan tatapan kucing Nix. Mereka benar-benar mengabaikan makan malam dan penyeleksian tahun ajaran baru ini, karena untuk memulai aksi nakal Trio Prankster Slytherin.
Hingga ketika mereka semua berkumpul di ruang rekreasi, dan tahun pertama masuk, mereka dikejutkan dengan kehadiran seseorang, membuat mereka semua syok. Terutama si kembar Weasley.
"K-ka-kau bagaimana mungkin?" Fred berkata terbata-bata.
"Gin..k-kau katakan padaku ini ilusi?" George berucap sama kacau nya seperti Fred
"Uhm ha-halo Fred, George" ujar seseorang yang dipanggil Gin atau lengkapnya Ginevra Weasley yang notabenenya adik kandung mereka. Ginny sapaan akrabnya terdengar sama gugup dan terlihat antara bahagia, sedih, dan segenap emosi lainnya.
"GINNY" serempak si kembar menubruk adiknya. Ginny merasa diterima dan hangat ketika kakak kembarnya memeluknya.
Phoenix POV
Bagaimana mungkin Ginny bisa di Slytherin? Seharusnya dia ada Gryffindor? Aku bertanya-tanya, namun seketika aku merasakan sensasi dingin di kulitku dan memejamkan mata. Ini tanda Death sedang di sekitarku atau dia tengah ingin bertelepati padaku, dan benar saja di pikiranku ada sebuah suara berat yang dingin dan datar.
"Aku memberimu bantuan, selesaikanlah ini, dan ambil apa yang menjadi milikku dan harapan Lady Fate"
"Ya aku mengerti Death, terimakasih kau menyelamatkan gadis tak berdosa ini dari cengkraman para manusia picik itu"
"Aku pergi, dan lakukanlah tugasmu dengan baik master"
Setelah koneksi kami terputus, mata yang ku pejamkan kembali terbuka, dan semua sepupu dan Draco mengelilingiku dengan tatapan khawatir.
"Nix, oh Merlin hampir saja kau membuatku jantungan" seru Draco sambil memelukku dengan erat tapi tidak menyakitiku
"Memang apa yang terjadi?" Tanyaku dengan bingung.
"Saat kau bangun dan bilang ingin ke kamar, kau pingsan dan tak sadarkan diri selama dua puluh menit" ujar Corvus sambil mengusap rambutku.
"Maaf, tadi aku lelah" ujarku berbohong, tak mungkinkan aku jawab sedang mengobrol dengan malaikat maut? Bisa jantungan mereka. Aku memberikan senyum manis dan berkata tidak apa-apa agar mereka tak khawatir. "Huh" Aku merasa tubuhku melayang. Pelakunya adalah Draco yang menggendongku ala bridal style. "Sudah malam ayo tidur" kata Draco datar.
"Kalian tidak tidur sekamar lagi kan?" tanya Corvus begitu dilihatnya kembar Malfoy itu menuju asrama anak laki-laki. "Aku tidak mau tidur sendiri"rengekku sementara Draco tersenyum penuh kemenangan. Apa aku belum cerita? Yah baiklah singkatnya aku memang sering tidur dengan Draco karena dia saudara laki-lakiku bukan? Toh jiwaku sebagai laki-laki masih ada.
"Secara teknis, kau sekamar dengan Pansy dan Daphne"jawab Leo datar. Aku menggelengkan kepalaku atas fakta itu. Tidur dengan mereka tentu berbeda dengan tidur bersama Draco, kalau dengan Draco kan kita mengobrol quidditch, mantra, dan hal menyenangkan. Sedangkan bersama perempuan isinya gosip cowok dan hal yang membosankan. Ingat aku masih Harry walau casing ku ini Phoenix.
Seperti biasa, aku terbangun di atas ranjang Draco. Sudah terbiasa dengan tubuh Draco yang hobi memelukku bagai guling pribadi, dan aku juga tak perlu berteriak ala gadis kebanyakan ketika bangun mendapati Draco bertelanjang dada, karena itu hobinya yang lain saat tidur, dan baru kutemukan sekarang. Namun ada yang berbeda pagi ini, dengan kehadiran Marcus Flint yang berdiri di depan kamar Draco. "Paket kalian sudah sampai" kata kapten Quidditch team Slytherin itu. Tidak aneh lagi melihatku seranjang dengan Draco.
Di common room asrama ular itu, sudah ada sapu terbang dari ayah mereka berdua. Senyum bahagia terpancar dari wajah - wajah anggota tim, kenapa hanya Tim? Jawabannya mudah karena ini jam enam pagi, dan belum banyak orang yang bangun sepagi ini, kecuali kami.
"Baiklah, cepat kalian sarapan. Kita ada pertandingan perdana hari ini, kalahkan para singa itu dan rebut piala kita." Ujar Marcus semangat disertai seringai, sedang bahagia rupanya dia dan memiliki firasat yang bagus, jadi aku tidak akan mengecewakannya.
Setelahnya kami bersiap-siap untuk menuju aula besar dan saat itu tatapanku jatuh pada Ginny yang seperti anak hilang, si kembar itu sedang aku suruh untuk mengerjakan prank terbaru, jadi mereka pergi duluan dan melupakan fakta bahwa adik bungsu mereka di sarang ular. Sehingga aku mengajaknya untuk ke aula besar bersama, sedangkan Draco dan yang lainnya sudah pergi duluan karena aku malas berjalan dengan mereka saat ini. Fred dan George bergabung dengan kami setelahnya dan juga memandang Ginny dengan cemas, aku menepuk pundak si kembar dan Ginny untuk dukungan moral. Aku tau apa yang paling ditakuti oleh kembar Weasley ah bukan, kembar Black itu adalah Howler yang akan diterima oleh Ginny nanti. Fred pun sudah mengirim surat mengenai hal ini pada ayah mereka,Sirius. Mereka berjalan menuju aula dengan perasaan berbeda, Tiga bersaudara Weasley yang cemas dan takut, serta Nix yang berspekulasi.
Tak disangka-sangka, aula besar sudah ada keluarga Black, Malfoy, Potter, Lestrange dan Molly Weasley yang menuju kearah mereka. Ginny sudah bersembunyi di belakang kakaknya George, ketika matanya bertemu pandang dengan Molly yang murka.
"Ginevra Weasley!!! Kau tidak usah kembali lagi ke rumah. Ular sepertimu bukan anakku. Kau dicoret dari pohon keluarga" teriak Molly yang otomatis membuat seisi aula besar hening, hanya ada suara isak tangis milik si bungsu Weasley. Tak berhenti sampai disana. Molly bahkan memuntahkan racun dari mulutnya berupa penghinaan dan segala macam cercaan pada ketiga anaknya..
"Apa kau benar-benar seorang ibu?" Nix menyahut dari samping Fred Black, ia sudah muak dengan Nyonya Weasley itu. Wajah Nix benar - benar menggambarkan seorang Malfoy, angkuh dingin dan tak tersentuh ciri khas para pureblood.
"Kau tidak tahu apa - apa sayang, dan kau hanyalah ular kecil yang dimanja" jawab Molly dengan nada manis yang di buat - buat disertai sindiran halus.
"Mistress ,Izanami mencium bau yang tidak menyenangkan" desis ular peliharaan Nix tersebut yang menyamar menjadi sebuah gelang, karena Izanami adalah ular sihir. Tetap mempertahankan raut wajahnya, ia berusaha menebak apa yang diinginkan wanita yang pernah ia anggap ibu saat ia masih menjadi Harry. Dan kini ia menyesali itu. Ia menantang tatapan Molly dengan tatapan menilai dan waspada, sedikit banyaknya membuat Molly gentar juga karena ditatapi blue shapire Nix yang menjanjikan sebuah bahaya.
"Molly kau keterlaluan." suara merdu terdengar di telinga Nix, dan otomatis Nix menjatuhkan tatapannya pada suara di belakang mereka pada wanita anggun bersurai merah senja. Dan itu adalah Lily yang berjalan mendekati Molly dan Phoenix. Corvus pun sudah berada di sebelah Nix, siap membela sepupunya itu. Dimana saat ini mereka masih berseteru di depan pintu aula besar
"Jika kau tidak menginginkan putrimu. Biar aku dan James yang merawatnya" Molly terdiam, wajahnya memerah menahan kesal.
"Ambil saja anak tak berguna itu untuk kalian, bahkan kalian seperti pengecut juga seperti Malfoy?! Dan tidak ingin berada disisi Light, netral kalian adalah omong kosong belaka" semburan pedas Molly pada Lily, namun Lily yang cerdas tentu tidak menanggapi dan berlenggang menuju ke tempat suami dan anaknya, setelah mengecup pelipis Nix dan senyum keibuan pada Kembar Black dan Corvus.
"Cory, antarkan aku menemui kedua orang tuaku, tak ada gunanya kita melawan Lady yang tidak bisa menjaga sikap dan etiket di depan umum" kataku tak kalah pedas dan mengirimi tatapan sinis. Aku pun bergelayut di lengan Cory dan diikuti oleh Fred, George dan Ginny yang masih terisak. Hal itu tentu saja membuat fans club Phoenix menatap Corvus dengan garang. Lalu sarapan dimulai seperti biasa.
Tak terasa waktu yang dinanti tiba, hari ini cuaca cukup mendukung dengan sinar sore yang cerah dan angin sepoi-sepoi. Dikelilingi keluarga besar Black, Malfoy, dan Lestrange, Nix banyak diberi nasehat dan ucapan semoga beruntung sebelum Marcus menyeret kembar Malfoy untuk bergabung dengan tim.
Pandangan mata yang lurus menatap cermin dimana pantulan seorang gadis belia berambut hitam panjang yang kini diikat pony tail, mengenakan seragam quidditch tim Slytherin. Saat menjadi Harry, dalam mimpi sekalipun tidak pernah terlintas bahwa ia akan mengenakan seragam Slytherin. Marcus menepuk tangannya, meminta seluruh tim berkumpul. Dan membawanya kembali pada kesadaran saat ini
"Kita harus menang. Jangan sia - siakan kebaikan keluarga Malfoy, yang telah membelikan sapu bagus ini."kata Marcus mengawali.
"Tenang" kata Fred
"Kami bisa mengatasi bludger"balas George.
"Aku bersyukur mereka masuk Slytherin" gumam Graham yang diiyakan oleh yang lain.
"Jangan membuat malu nama Slytherin" kata Marcus serius.
Di Stadion Quidditch, Black dan Malfoy mendapat tribun Slytherin sedangkan keluarga Potter duduk di tribun Gryffindor. Lee Jordan selaku komentator mulai memperkenalkan nama anggota tim Gryffindor diikuti dengan kemunculan tim singa itu di stadium sambil menaiki sapu terbang mereka.
Para tim Slytherin menggunakan sapu terbang Nimbus 2001, sementara baik Draco dan Nix mendapatkan Firebolt yang bahkan belum di pasarkan. Demi memenuhi permintaan putra dan putri kesayangannya, Lucius membeli saham perusahaan yang memproduksi Firebolt sehingga ia bisa memberikan Firebolt pada Draco dan Phoenix. Membuat Nix menggeleng kepala pasrah.
Nix berterima kasih pada kemampuanya mengendalikan sapu tercepat di dunia itu saat menjadi Harry. Ia dengan handal menguasai firebolt sementara Draco masih sedikit oleng.
Kedua kapten Marcus dan Oliver saling berhadapan. Daniel tersenyum kecil dan menyusul Nix di ketinggian yang sama. "Nix ,Aku tidak akan mengalah"seru Daniel ketika mereka sejajar.
"Siapa juga yang mengharapkan kau mengalah Daniel." balasnya dengan lembut.
Begitu Nix mengucapkan kalimat tersebut. Pluit tanda pertandingan dimulai terdengar. Nix mengawasi jalannya pertandingan dengan tenang. Ia menarik nafas tenang setidaknya ia tidak terkena Bludger yang sudah di mantrai karena ia adalah Malfoy, sekalipun ada mungkin yang diincar adalah Daniel karena Neville tak mungkin dan semoga lancar-lancar saja. Itulah yang dipikirkan Phoenix namun ekspetasi tak seindah realita. Bludger yang sudah dimantrai tetap ada namun tak mengejar dirinya . Daniel yang menjadi korbannya sesuai dugaan Nix, sesekali Nix membantu Daniel untuk memperingati nya.
Mata Nix segera mencari snitch untuk menghentikan pertandingan ini. Sialnya, snitch berada di dekat Daniel yang sedang bermanuver di udara karena Bludger gila yang mencoba menghantamnya. Nix pun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada begitu snitch agak menjauh dari Daniel, ia menukik tajam dan menabrak keras Daniel. Sorak sorai terdengar bergemuruh di lapangan itu. Daniel menyeringai dan ikut membuntuti Nix, kedua seeker itu saling melakukan akrobat berbahaya dan bermanuver di udara untuk mengambil snitch. Tidak ada yang mau mengalah, Daniel sudah tidak melihat Nix sebagai perempuan lagi, tetapi seeker berbahaya yang menjadi lawannya. Tangan terjulur kedepan antara Nix dan Daniel. Namun tangan putih pucat itu yang menangkap snitch emas tersebut dengan cepat. Ya itu adalah Nix yang berhasil menangkap bola emas bersayap tersebut, namun Nix justru terjatuh dari sapunya. Sorak sorai yang riuh rendah itu seketika berubah menjadi jeritan panik. Gadis itu sudah bersiap akan rasa sakit saat menghantam rumput di bawahnya, namun sebelum itu terjadi Daniel berhasil menangkap gadis itu dan membonceng disapunya, dengan Nix duduk menyamping di depan, menyender pada dada pemuda Gryffindor dan pinggang yang dipeluk erat oleh Daniel. Dan lagi-lagi di warnai dengan teriakan-teriakan penonton.
"Ah surga memberkati dengan memberikan salah satu Malaikatnya, Thanks Merlin" goda Daniel. Nix hanya menaikkan salah satu alisnya dan mendengus "Stop it" kata Nix datar.
Di bangku penonton, James bersorak. "Kerja bagus. Kau menangkap calon menantuku" seru James. Berteriak bak orang gila, Lily hanya tersenyum pasrah saja, namun tak ayal bangga juga akan aksi heroik anaknya.
"Maaf Prongs, Nix calon menantuku" ujar Sirius yang duduk di tribun Gryffindor bersama sahabatnya itu sedangkan istrinya di tribun Slytherin.
"Perlukah ku ingatkan Padfoot bila Daniel menangkap calon istrinya, lagipula Al itu terlalu jauh kalau mau menangkap Nix"
"Hei Al pasti akan menangkap Nix juga" ujarnya animagus anjing itu tidak mau kalah.
Dan perdebatan terus berlanjut seperti bocah usia lima tahun. Ckckck tak ingat umur mereka.
Begitu Daniel dan Nix mendarat, segera saja dua orang tersebut dikerumuni oleh tim masing-masing. Nix dilempar keatas dan ditangkap oleh anggota Tim Slytherin karena kemenangannya, tak habis pujian terlontar dari Marcus Flint dan yang lainnya. Draco merasa sudah cukup untuk bersenang-senang, ia langsung menggendong saudari kembarnya itu bak karung beras dan menjauh dari tim nya yang masih menikmati euforia. Daniel yang melihat itu tentu saja ingin menyusulnya dengan modus memberi selamat, namun teman satu timnya sudah keburu menyeretnya pergi dan Oliver Wood yang mengomel serta menentukan taktik baru.
EXTRA PART
"Nix lain kali jangan lakukan aksi nekat seperti tadi, untung kau ditangkap Potty itu" gerutu Draco pada adiknya sesampainya mereka di common room. Dan telah membersihkan diri, namun Nix tetap di panggul layaknya karung beras oleh Draco. Mereka tak peduli tatapan aneh orang-orang yang melihatnya sepanjang jalan, karena Nix sendiri sudah biasa digendong seperti itu oleh Draco kalau ia sedang marah padanya, protespun percuma. Kalau Draco tak peduli, jadi untuk apa dia peduli?
"Iya maaf, tapi aku menepati janjiku kan? Membawa Slytherin pada puncaknya" ujar Nix malas
Setelah ia didudukkan dengan benar di sofa. Draco terus menggerutu, karena kesal ia mengutuk Draco menjadi musang selama lima menit.
"Sudah jangan mengomel lagi atau nanti aku menyuruh kembar Black mengerjaimu selama seminggu" Ancam Nix
"Dasar adik durhaka" ujar Draco cemberut, beginilah sifat asli Draco akan merajuk dan kekanak-kanakan bila hanya berdua dengan Nix, sedangkan sang adik hanya tertawa lalu meminta maaf dan mengusap-ngusap sayang kepala Draco yang sedang beristirahat di pahanya yang menjadi bantal dadakan.
Lalu tak lama datanglah ayah, ibu mereka disusul oleh para paman dan bibinya. Sedangkan untuk Potter mereka tak bisa karena sibuk menggoda anaknya di asrama Gryffindor. Mereka tertawa dan saling bertukar cerita, karena Nix kelelahan ia tertidur di pangkuan Lucius, karena Nix sedang dipangku olehnya.
"Oi Lucy kau berbesan denganku yah, Nix kau nikahkan saja dengan Alfa, mereka cocok" ujar Sirius dengan tampang bak preman muggle tengah malak, Amelia memijit pelipisnya melihat kelakuan sang suami. Lucius hendak menyemburkan kata-kata sebelum dipotong oleh suara iparnya yang lain.
"Lucius, terima surat kontrak nikah Corvus untuk Nix" ujar Rodolphus pada Lucius, belum Lord Malfoy itu menjawab Sirius, namun kini kata-katanya harus kembali ditelan karena dipotong oleh Regulus.
"Lucius, Nix lebih baik menikah dengan Leo" Regulus dengan tanpa dosa mengirim kutukan penyengat pada Rodolphus dan Sirius, Bellatrix sendiri mengirim balik mantra pada Regulus dan Sirius namun dicegah Alice dan Amelia. Dan kini di common room Slytherin itu berubah menjadi ajang duel, sedangkan Lucius dengan tangan menggendong Nix yang tertidur, menjauh dari sana diikuti oleh Draco dan Narcissa. Sedangkan para anak, seperti Leo, Corvus, Pollux, Fred, George dan Ginny yang terjebak disana, ditambah Alfa tengah menyoraki dukungan mereka dengan semangat pada orang tua masing-masing. Severus selaku kepala asrama yang kebetulan masuk saat terjadi duel hampir terkena kutukan nyasar. Severus yang kesal, menembakkan mantra maxima bombarda di tengah-tengah duel keluarga gila tersebut hingga,common room yang sudah hancur semakin hancur. Saat mereka kaget dan berhenti, mereka menengok pada Severus yang tengah memasang wajah paling angker dengan aura mengerikan. Bibir penuh sarkasme Severus meluncur saat orang-orang menatapnya
"Kalian bereskan kekacauan ini, saat ini juga. Atau aku akan memblokir segala akses untuk pergi ke asrama Slytherin, kalau perlu aku akan berkomplot pada Phoenix agar menjauh dari kalian" ujarnya dengan panjang lebar namun kelam. Membuat disana buru-buru membersihkan kekacauan yang ada, daripada mereka tidak bertemu gadis kesayangan mereka.
Tbc
Haiiii guys lama tak update cerita yah kami :v karena Hika malas~ edit dan ini kalo gak di WA ka Xia bakal keteter hahahahaha. Dan untuk pemenang dari pemilihan couple untuk Nix. pemenang nya adalah Draco. Jadi Drarry deh ini. Padahal ku berharap Nix bakal sama Daniel atau sama Corvus.
Ka Xia : Terima nasib neng
Hika : Ka aku mau nya Nix sama Daniel
Draco : Yaelah terima aja sih kalo gw yang menang/kibas rambut, Hika jambak. Hika tawuran sama Draco.
Ka Xia : Mohon dimaklumi dua orang gila disana, sampai jumpa lagi di chapter berikutnya. Jaa matane~
