Chapter 9 : Catch The Mouse
:halo / parselmouth
'Halo' / batin
"Halo" / percakapan
Pagi ini, Phoenix terbangun dengan perasaan gelisah. Entah mengapa ada sihir yang familiar yang berusaha menghubunginya dan seolah terhubung satu sama lain dengan suatu firasat entah apa. Dilihatnya Draco yang masih tertidur dengan bertelanjang dada. Nix pun menuju kamar mandi berusaha mengabaikan perasaan tersebut.
Usahanya untuk mengabaikan kegelisahan tersebut gagal. Semakin ia abaikan maka semakin kuat rasa gelisahnya, mestinya ia berbahagia saat ini. Ginny sudah berteman dengan Astoria dan mendapatkan nama Potter. Marcus bangga menyombongkan kemenangan mereka. Tapi mengapa Nix merasa berat. Ia memainkan makanannya. "Makan Nix" titah Draco yang sedari tadi memperhatikan kembarannya.
"Aku tidak lapar"
"Ada apa denganmu?"kali ini ganti Pansy yang bertanya.
"Sepertinya aku mendapat firasat entah apa, dan membuatku gelisah" balas Phoenix cemberut, karena tidak bisa menemukan akar dari kegelisahannya.
"Sudahlah itukan hanya firasat dan kegelisahanmu yang tak jelas, sekarang makan atau aku yang akan menyuapimu" ujar Pollux pada Nix. Ia tidak mau adik sepupu kesayangannya tidak fokus dikelas dan jatuh sakit karena tidak sarapan.
"Baiklah" ujar Nix dengan terpaksa, karena ketika ia ingin protes dia sudah dihadiahi tatapan garang oleh Pansy, Daphne dan sepupunya, apalagi Draco tatapannya bagai medusa. Nix tidak mau telinganya harus dijejali berbagai ceramah oleh mereka dipagi yang suntuk ini. Jadi dengan bijak dia mengambil pancake dan disiram madu serta whipe cream berperisa vanila dan dipermanis buah strawberry diatasnya.
Phoenix tidak mendengarkan kepala sekolah yang sedang memberi pengumuman, pikirannya sedang berkelana ke antah berantah karena kegelisahan yang mencengkramnya sejak tadi. Dan dia melewatkan info penting atau tidak dipagi ini mengenai guru baru di Hogwarts.
Jam pertamanya adalah DADA ganda dengan Gryffindor. Nix menghela nafas gusar ketika kegelisahannya mucul lagi kepermukaan. Dia duduk dengan tidak tenang, jari-jarinya mengetuk meja dengan tidak sabar dan sol sepatunya menghentak-hentak, membuat Pansy dan Daphne mengerutkan kening mereka atas kelakuan Nix. Ingin mereka menegurnya namun tidak jadi karena Profesor yang mengajar sudah datang.
"Selamat pagi para gadis dan kelas" sapa seseorang dengan ceria dan menabur senyumnya yang cemerlang dan hampir silau bagi kebanyakan gadis. Berkat suara itu Nix kembali kekesadarannya saat ini, kepala yang tadi disanggah tangan kanannya dan menghadap dinding dikirinya kini menghadap kedepan, kearah meja profesor dan dia mengerang dan mengutuk profesor barunya didalam hati.
'Cih sialan aku lupa kalau si penipu ini pengajar DADA tahun ini. Sepertinya musibah pixie tak dapat dihindari dan ternyata ini bukti firasat dan gelisahku, wait kalau ada Dia bukankah berarti Kamar Rahasia ada yang buka? Tapi ini adalah kasus lain. Sial aku harus menemukan petunjuk. Tapi sebelum itu akan bermain-main dengan orang tak kompeten ini' batin Nix sambil menyeringai senang, namun untuk wajahnya ia hanya beraut datar dan malas. Iseng ia menyapukan pandangannya dikelas, dan memutar bola matanya malas dan jengah, kebanyakan para gadis memandangi sang profesor dengan tatapan memuja dan blink-blink, tak terkecuali dari Pansy dan Daphne yang asik bergosip ria. Ia melihat Draco, Theo, Corvus, dan Blaise sama sepertinya yang dilanda bosan, 'Tak adakah yang normal selain kami?' suara Nix didalam hati.
"Baiklah sebelum kelas dimulai saya akan memperkenalkan diri saya, meski kalian sudah tau karena tentunya aku sudah terkenal bukan dengan petualangan-petualangan hebatku yang tertulis dibuku dengan limited edition. Nah perkenalkan namaku Gilderoy Lockhart" buka nya dengan senyum cemerlang dan kelewat lebar, ingin rasanya Nix merobek mulut itu dengan pisau belati hadiah dari bibi tersayangnya Bellatrix. Ketika tatapan profesor itu jatuh pada Phoenix yang sedang melihatnya juga, terdapat kilatan aneh dimatanya. Alih-alih tersipu seperti kebanyakan gadis, Nix merasa takut dan segera menundukkan kepalanya, yang disalah pahami oleh Lockhart bahwa gadis itu tengah malu ditatapnya.
':Pssssst Mistress aku mencium bau yang tidak menyenangkan, berhati-hatilah dengan orang itu'. Izanami berdesis ketika Nix menundukan kepalanya dan menatap kearah gelangnya yang ternyata adalah Izanami ularnya.
':Pssssssst aku juga merasakan sesuatu yang janggal nona dari orang tersebut'. Noir, familier kembarannya itu yang biasanya senang berada di saku jubah Draco untuk tidur, kini berada ditangannya dan menjadi gelang disamping Izanami yang melingkar ditangannya. Gadis itu menganggukan kepalanya samar, dan kembali fokus pada pelajarannya meski ia tidak ingin, namun dia tidak boleh bersikap yang dapat menarik perhatian.
Mengenai Lockhart, ia cukup tahu bahwa pria itu penipu. Dengan identitasnya sebagai Malfoy, ia bisa saja meminta ayahnya untuk memecat Lockhart, tapi tanpa bukti? Hanya akan menarik perhatian Dumbledore pada dirinya. Nix tidak membutuhkan itu sekarang. Tidak sebelum ia membangun inner circlenya sendiri.
Tugas yang di berikan Lockhart tentu saja adalah ujian 1001 mengenai dirinya. Nix tentu saja memilih tidak mengisi soal-soal tidak berguna tersebut. "Nona Malfoy, kenapa kau tidak mengerjakan ujianmu?" tanya Lockhart dengan kilatan aneh di matanya. Ketika memeriksa para muridnya dan berhenti di meja Nix.
"Karena ini tidak berguna, apakah dengan menjawab warna kesukaan anda, kita dapat melawan boggart? dengan mengetahui hobi anda, kita dapat melawan dementor? Tentu saja tidak, dan buku anda adalah lelucon menjijikan yang pernah ada yang hanya mengambil keuntungan darisana" ujar Nix dengan datar dan menantang. Wajahnya dingin dan tatapan matanya mengeras.
"Hei Malfoy ucapan mu sombong sekali. Dia itu lebih berpengalaman dibandingkan kau" ujar salah satu siswi Gryffindor bernama Parvati Patil dan diikuti oleh cibiran dari para pemuja Lockhart, Nix hanya mendengus malas.
"Nona seharusnya anda bangga karena saya mengajar disini dan mengajar dikelas anda, dan karena sikap anda yang tidak sopan saya memberikan anda detensi sehabis kelas" kata Lockhart berusaha memberikan senyumnya. Nix tidak membalas perkataannya, dia segera mengambil tasnya dan keluar darisana, tidak menghiraukan tatapan terkejut dari para siswa dan Lockhart. Sebelum dia keluar kelas, gadis itu berhenti sejenak dan menolehkan kepalanya, tidak dengan tubuhnya, ia berucap dengan dingin.
"Bagi kalian yang masih ingin dikelas konyol ini silahkan, tapi kalau sudah muak lebih baik keluar dari kelas menjijikan ini. Dan profesor, anda tidak dapat menahan saya, karena detensi saya sehabis kelas anda". Dan berlalu dari sana diikuti oleh Draco, Corvus, Pollux, Theo, Blaise, Pansy dan Daphne. Dua perempuan itu mengikutinya karena mereka tau itu pilihan terbaik dan mencari aman. Lalu tidak disangka-sangka dari Gryffindor ada yang mengikutinya yaitu Daniel Potter, sedangkan Neville dan Ron dikelas karena mereka tidak bisa pergi terjebak oleh omong kosong penipu itu. Tepatnya Neville terpaksa disana karena Ron memaksanya.
"Nix kau gila bertindak seperti itu. Apa kau tidak tau itu bisa membahayakan kau kalau-kalau tindakanmu diadukan pada kepala asrama atau lebih buruknya kepala sekolah" ujar Daniel yang kini duduk disamping Nix. Mereka semua berada di Danau Hitam.
"Benar kata Potter itu, dan apa maksudmu dengan mengambil keuntungan orang lain?" tanya Corvus penasaran. Nix tidak menjawab pertanyaannya
"Aku ingin kalian menulis keluhan tentang Lockhart dan mengirimkan soal ujian ini pada orang tua kalian" ujar Nix dengan nada tak ingin dibantah, ia menyodorkan soal ujian yang sempat ia ambil dan menyimpannya di tas. Soal itu sudah ia gandakan dan dibagikan pada mereka. Yang direspon anggukan oleh yang lain, mereka tau bila Nix bertitah dengan mode Lady Slytherinnya maka akan ada sesuatu yang datang. Saat itulah Nix merasakan gelombang sihir Hogwarts yang seperti gelisah dan seperti mengiriminya peringatan. Sihir yang akrab dan sudah mengganggunya sejak bangun tidur pagi ini.
Phoenix memusatkan sihir dan pikirannya mengenai gelombang sihir yang dikirim oleh Hogwarts, sihir itu berbisik bahwa kamar rahasia telah dibuka oleh seseorang dengan ritual tertentu dan menggunakan bahasa latin kuno.
"X...ix...Nix...Phoenix...Heiiii Phoenix Malfoy bangun" ujar Daphne gemas pada Phoenix yang rupanya tertidur sambil duduk, yang sesungguhnya dia hanya memusatkan energi sihir. Dia melihat Daniel dan Draco yang sedang menatapnya dengan pandangan entah apa, sedangkan sisa dari mereka sedang memperdebatkan bagaimana bisa bolos dari pelajaran DADA berikutnya.
"Maaf Daph, ada apa?" Ujar Nix.
"Ayo kita masih ada kelas lain yang hampir dimulai, dan kau ada detensi. Aku akan mengatakan pada Profesor Binss kalau kau telat" Daphne berseru dan menyuruh mereka pergi ke jadwal kelas masing-masing.
Severus Snape sang kepala rumah asrama ular, tengah berada di ruang pribadinya malam itu sambil menyesap teh dan memeriksa esai ramuan para siswanya. Hingga sebuah dobrakan pintu dan suara yang amat sangat dikenal dengan baik olehnya mengusik ketenangan dan konsentrasinya, karena suara tersebut,
"UNCLE BATMAN!!! HELLLOOOOW"
Twitch
Urat dikepala dan sekitar pelipisnya berkedut, memunculkan persimpangan jalan disana sambil bermuka masam Severus menyahut.
"Yaa bocah! Jangan memanggilku dengan julukan muggle yang aneh itu" respon Severus. Pemilik suara itu adalah Phoenix Malfoy, yang hanya tertawa.
"Hehehe aku kan sayang padamu uncle ku tercinta, makanya ku beri julukan itu. Lagipula cocok untukmu yang selalu dibawah tanah dan diberi julukan dungeon bat oleh para siswa"
"Aku bukan manusia bertopeng dan berkostum ketat bodoh seperti film muggle itu, lebih baik dungeon bat dibanding manusia aneh ciptaan muggle itu" ujar Severus yang kali ini panjang lebar karena protes pada bocah perempuan tersebut. Memang hanya anak inilah yang bisa mengeluarkan sisi-sisi lain pada orang disekitarnya. Dan mengenai Nix tau Batman dia menyelinap kedunia muggle bersama Lily tanpa sepengetahuan lainnya, kecuali Severus yang ternyata disuruh membuntuti Nix yang berakhir gagal stalking karena Nix diberi tahu Izanami bahwa mereka dibuntuti.
"Yayaya... lagipula aku kesini bukan tanpa sebab kok. Ini..." tangan Phoenix terjulur ke arah Severus.
Ia menyerahkan lembar soal pada ayah baptisnya itu. Kening kepala asrama Slytherin berkerut dan mendesis jijik dari selembaran yang dibacanya.
"Beritahu teman - temanmu mulai besok untuk sementara mereka akan belajar DADA denganku."kata Severus serius.
Nix mengangguk. " Uncle Bat... *Nix diberi pelototan sangar* ok Uncle Sev, bisakah asrama lain ikut belajar dengan kita? Dan Grandpa Tom mengajar di Hogwarts?" tanya Nix. Severus tersenyum kecil. "Ya boleh tapi yang kau percayai saja. Dan masalah Dark Lord mengajar disini minta pada kakekmu saja"balas Severus.
"Uncle Sev ada lagi yang ingin ku tanyakan"
Severus menganggukan kepalanya. Nix yang sejak tadi duduk malas di sofa, kini duduk dengan tegak dan mata yang memancarkan kemarahan membuat Severus agak bergidik takut. Hening sesaat sebelum suara Nix merobek kesunyian dengan suaranya yang dingin.
"Uncle Sev kau sudah tau bukan, cerita aku didetensi oleh Fucking Lockhart"
Severus mengangguk dan sedikit teguran mengenai bahasa kasar Nix, namun diabaikan oleh bocah perempuan itu. Ia kembali membuka suara dinginnya.
"Aku di suruh menulis di perkamen sepanjang 2 kaki 5 inci dengan tulisan Saya mengagumi Profesor Lockhart yang tampan dan gagah. Lalu dia dengan sengaja memegang tangan dan mengusap pipi serta bibirku, ia menggunakan pandangan kotor yang menjijikan padaku entah kenapa, dan aku merasa tidak suka dan terancam hingga Izanami bangun dari pergelangan tanganku dengan posisi mengancamnya"
Severus terkejut dan marah mengetahui putri baptisnya dilecehkan oleh Lockhart. Tatapan matanya mengeras, gigi bergemeletuk marah, dan bibir tipis Severus seolah siap mengutuk saat ini, dengan tangan memegang tongkat sihirnya erat-erat.
"Aku akan menyelidikinya, dan kau jangan sendirian bila dekat dengannya, bila kau terancam kau bebas mengutuknya aku yang akan bertanggung jawab."
Phoenix menganggukan kepalanya dan mengucapkan 'selamat malam' dan gadis itu kembali ke kamar asramanya. Saat ini dia tidak ingin tidur dengan kakaknya, ia sedang menyusun rencana.
Keesokan paginya mereka menjalani aktivitas seperti biasa, namun kali ini Ginny ada kelas bersama Phoenix, dan kakak kembarnya Fred George, dan tentunya Gryffindor. Ginny gugup karena takut menghadapi Ron yang emosi nya meledak-ledak dan Percy dengan mulut tajamnya.
Phoenix seolah mengetahui kegelisahan Ginny, menggemgam tangan gadis itu dan menuntun untuk duduk disampingnya dan diapit oleh Fred dan George. Namun seakan slytherin tidak boleh tenang, datanglah anak-anak gryffindor. Sebenarnya mereka tidak mempermasalahkannya, tapi asrama singa itu menyulut emosi mereka pagi ini.
"Ginevra kau pengkhianat kecil, dan tak pantas menyandang marga Weasley lagi" ujar Percy
"A-aku.. aku...aku... maaf" Ginny menahan tangis.
"Kau tidak berhak berkata kejam pada adik kita" ujar Fred membela Ginny. Sedangkan George menenangkan Ginny dengan memeluk dan mengusap punggungnya.
"Kita? Bahkan kau sudah tidak ada dipohon keluarga, kalian bertiga adalah pengkhianat, sejak masuk ke asrama berlendir yang menjijikan" Ron berkata dengan dengusan jijik diwajahnya.
"Lihat bahkan di Slytherin pun kalian tetap menjijikan dan tidak berguna, dengan lelucon aneh mu itu twins. Ditambah dengan Ginny si jalang kecil. Kau tau Ginevra kau sudah melukai hati ibu dan mengecewakan keluarga Weasley" ujar pedas Percy dan Ron yang menyeringai kesenangan, karena dengan tidak adanya Ginny maka semua perhatian ibu nya akan tercurah padanya.
Phoenix yang sedari diam dan membaca buku ramuan, membuka suaranya namun dengan wajah terfokus ke buku.
"Jika kalian datang hanya untuk mencemooh, lebih baik pergilah. Omongan kalian sama tidak bergunanya dengan kehadiran kalian disini" Nix menyahut tenang.
"Apa kau bilang? Kau merasa lebih baik hah dibanding kami penyihir cahaya?" Ron berkata murka. Nix mendongakkan kepalanya.
Bola mata biru keperakan Phoenix bertemu biru cerah milik Ron. Pupil mata Phoenix berubah menjadi vertikal seperti mata predator buas yang sedang mengintimidasi.
"Apa kau tuli Weasel? Atau kau terlalu lambat dalam menangkap apa yang dibicarakan? Huh sungguh malang sekali" ujar Nix cuek dan angkuh.
Percy hanya terdiam, karena ia cukup tau untuk tidak melawan gadis Malfoy itu. Lagipula sejak ia melihat Phoenix ditahun pertama memang dia menargetkan Phoenix untuk berada digenggamannya. Karena reputasi Malfoy yang berada di hirearki yang tinggi pada pureblood di Inggris. Namun ia cukup menikmati perdebatan antara Ron dengan Phoenix.
"K-kau berani-berani nya merendahkan aku, dasar ular menjijikan" teriak Ron di depan wajah Nix. Ketika Ron akan melanjutkan omong kosong nya masuklah profesor ramuan mereka. Severus Snape.
"Mr. Ronald Weasley dan Mr. Percy Weasley sedang apa kalian? Kelas sudah akan dimulai" ujar Severus dingin dan beraut wajah masam.
"Mereka hanya datang kesini dan mengucapkan hal-hal tidak berguna saja Profesor" Nix menyahut cepat tidak membiarkan dua Weasley itu menyahut. 'Rasakan itu' batin Nix menyeringai kejam.
" 5 poin dari Gryffindor karena mengusik asrama lain"
"T-tapi Sir..." ucapan Ron dipotong oleh Severus.
" 5 poin lagi dari Gryffindor karena menentang guru, dan tidak tertib dikelas"
Akhirnya dengan terpaksa Percy menyeret Ron dan duduk menjauh dari tempat Phoenix. Percy dan Ron mengirimkan death glare mereka pada Nix namun Nix balas menatap dengan tajam dan dingin, membuat mereka takut dan memanglingkan wajah mereka ke depan.
Phoenix POV
Ha~ sungguh hari yang membosankan, ditambah hari ini ada pelajaran DADA dengan si manusia narsis itu. Uhk aku mual ingin muntah saja rasanya.
Aku benci ketika dia menatapku atau anak-anak perempuan dikelas dengan tatapan aneh yang menjijikan seolah-olah ingin menelanjangi dengan tatapan matanya. Dan aku paling benci ketika dia menatapku, Ginny dan Hermione saat pelajaran tadi. Dan sungguh mengherankan Hermione justru terlihat antusias dengannya. Seharusnya Ravenclaw itu lebih banyak belajar mengenai situasi sekitar dan tidak untuk ditipu mentah-mentah oleh profesor gadungan itu. Ha~ kenapa mereka kurang waspada.
"Nah anak-anak aku sudah mendapat izin dari kepala sekolah untuk diadakannya klub duel pada pukul 8 malam bagi kalian yang ingin ikut atau melihat-lihat akan diadakan di aula. Dan tentu aku yang mengajar bersama rekanku Severus Snape"
Huh ternyata drama ini juga tak bisa dielakkan. Tapi biarlah aku cukup puas untuk membuat Lockhart terkunci sendiri bersama para pixie tadi sebelum pelajaran hahahaha.
Fyi 30 menit sebelum kelas dimulai ia meminta kembar Black, Leo, Alfa dan Daniel membuat berantakan kelas dan kantor DADA tanpa sepengetahuan Lockhart yang sedang pergi entah kemana, dengan bermodalkan jubah gaib milik Daniel yang ia pinjam dengan bayaran ia harus menemani Daniel seharian. Mereka menyobek, membanting, bahkan merusak foto-foto Lockhart. Dan memasang jebakan ala muggle ide dari Nix. Dimana ketika ia menginjak kertas yang sudah diletakkan didepan pintu, maka Lockhart akan terjerembab kedepan namun sebelum wajahnya menyentuh lantai, ia akan tertarik ke langit-langit yang sudah dimantrai akan ada sebuah tinju yang menghantam perutnya dan berakhir ia akan masuk kekandang yang berisi pixie yang sudah diperbesar. Dan well itulah sebabnya Lockhart berpenampilan 'sedikit' acak-acakan atau boleh dibilang compang-camping saat para siswa melihat Lockhart yang kacau, dan setelah beberapa saat barulah mereka belajar.
Time Skip
Waktu berlalu dengan cepat dan sudah pukul 8 saja, dimana akan dimulai nya klub duel, Phoenix pergi bersama para sepupu dan Draco. Sedangkan sebagian besar anak perempuan dari asramanya sudah pergi duluan termasuk Pansy, Ginny, Astoria dan Daphne.
Ketika mereka masuk aula, Phoenix mengeraskan tatapan matanya, aura superior nya keluar sehingga orang-orang disekitarnya susah bernafas karena merasa tercekik oleh sihir liar gadis Malfoy itu.
"Apa yang kalian lakukan dan kau Weasley?" Ujar Nix dengan dingin.
"Aa-aa aku..." Ron merasa ketakutan dan banjir keringat. Diikuti Dean Thomas dan Seamus Finnigan disamping Ron.
"Pergi sebelum aku menghabisi kalian" lanjutnya
Tanpa sepatah katapun mereka segera lari dan duduk dekat dengan Percy yang menonton sejak tadi, lalu disusul Daniel, Neville dan Profesor Lockhart yang baru datang tengah duduk disana yang kelihatan bingung.
Bagaimana tidak, ketika kau melihat teman dekat yang sudah dianggap adik sedang di hina sampai menangis oleh anak-anak asrama lain.
Ginevra Weasley atau sekarang Ginevra Deneb Potter tengah di bully oleh Ron dan antek-anteknya. Sedangkan ke 3 anak yang menemani Ginny tidak bisa berbuat apa-apa. Phoenix berjanji akan memberikan mereka siksaan pedih nanti.
"Gin kenapa tidak melawan?" Ujar Phoenix
"Hiks... hiks... aku..aku..." ujar Ginny sesenggukan.
"Shush tak apa, duduklah dengan Leo. Dan kalian ambilah tempat masing-masing" ujar Phoenix memerintahkan Slytherin dan yang lainnya. Mereka menurut sedangkan Phoenix dan Draco pergi menuju tempat singa.
"Weasley ingatlah ini baik-baik, dunderhead berani kalian mengusik salah satu ular. Aku akan memberi balasan yang tidak pernah kau bayangkan" ujar Phoenix dingin. Draco yang disampingnya pun menambahkan.
"Dan kau akan merasakan kemurkaan para keluarga pureblood lainnya"
Membuat Ron dan Percy merasa takut. Setelah mengucapkan kata-kata itu kembar Malfoy pergi ke tempat dimana asramanya duduk. Neville dan Daniel yang sejak tadi diam mendengarkan dan juga tau kronologinya karena diceritakan oleh Susan yang kebetulan duduk disampingnya. Mereka berdua, diikuti Susan pergi ketempat dimana Phoenix duduk.
"Hey Gin, maaf aku tidak ada disaat kau membutuhkan. Aku kakak yang buruk" ujar Daniel menyesal.
"Tak apa Dan. Salahku juga yang terlalu lemah" ujar Ginny lesu.
"Halo Nix" ujar Neville dan Susan berbarengan.
"Halo juga untuk kalian" balas Nix ramah.
"Oh iya aku ingin mengajak kalian belajar DADA bersama kami para Slytherin. Apa kalian mau?" Lanjut Nix.
"Oh ya? Kapan? Dimana? Dan siapa pengajarnya?" Ujar Daniel antusias bahkan melebarkan senyumnya membuat para gadis disana tersipu kecuali Phoenix yang cuek bebek.
"Ya mulai hari ini sekitar jam 10, tentu saja ditempat rahasia kami. Untuk pengajar oleh Profesor Snape" ujar Nix
"Oh Merlin kenapa harus dia? Tidak ada yang lain? Aku bisa menghubungi Dad juga Padfoot untuk membantu" Daniel mencoba peruntungannya dalam membujuk Nix. Karena sudah jadi rahasia umum kalau Phoenix adalah anak emas Severus.
"Potter kau ingin ikut atau tidak? Sudah untung adikku menawarimu" ujar Draco dengan sinis.
"Heh bukan urusanmu pirang" Daniel menyahut ketus.
Grrrr
Mereka berdua sedang adu kontes death glare terbaik. Phoenix sendiri dengan cueknya mengobrol dengan Hermione dan Luna.
"All right everybody, klub duel akan dimulai" ujar Lockhart sambil menepuk tangannya. Membuat para siswa berfokus padanya.
"Aku bersama rekanku Severus akan mendemonstrasikan bagaimana itu klub duel" lanjutnya.
Saat Lockhart melawan Severus tentu saja Lockhart kalah dengan mudah, namun dengan kata-kata manis menipunya membuat para murid percaya bahwa Lockhart sengaja berakting seperti itu. Kecuali beberapa anak yang memang sudah diajarkan duel terutama dari kalangan pureblood yang masih memegang tradisi kuno, salah satunya Malfoy, Potter, Lestrange, dan Black.
Banyak nama yang diundi digelas piala. Bila nama yang keluar maka dia akan maju untuk berduel sesuai nomor undian dan lawan yang didapat dari hasil undi juga.
Draco berduel dengan Daniel yang dimenangkan Daniel, membuat Draco cemberut. Corvus berduel dengan Percy yang dimenangkan Corvus. Leo berduel dengan Pollux dan dimenangi Leo, membuat Pollux jengkel. Alfa berduel dengan Fred yang dimenangi Alfa. George berduel dengan Daphne yang dimenangi George. Ketika para Slytherin berduel mereka membuat kagum yang lainnya pasalnya mereka berduel sangat sengit, terutama duel Draco dan Daniel, karena mereka berdua sama-sama ingin menunjukan pada Phoenix bahwa mereka adalah yang terbaik.
Hingga kini giliran Nix yang dipanggil dan melawan Ron, membuat Nix mengembangkan seringai nya.
"Beri hormat" ujar Severus datar. Nix dengan anggun memberi hormat, berbeda dengan Ron yang kaku.
"Mulai" aba-aba dari Lockhart.
Nix hanya berdiri santai dan menunggu serangan, Ron merasa terhina dan menganggap enteng Nix. Ron mulai melemparkan berbagai macam mantra namun Nix hanya menghindar dan sesekali memblok, membuat Ron geram dan kehabisan tenaga, disaat Ron membuka mulutnya hendak melontarkan kutukan, Nix melihat tikus yang menyembul disaku jubah Ron, membuat amarah Nix memuncak
"Aku sudah bosan Weasel, kita akhiri duel tak berguna ini" seru Nix marah karena selain jengkel dengan duelnya ia juga melupakan fakta sitikus busuk itu.
"Expelliarmus" ujar Nix lantang dan boom Ron terpental dari panggung tempat duel, Ron dan tikus yang berada di saku jubahnya terpental hingga pingsan tanpa sempat melontarkan mantra dan membuat Nix menyeringai.
"Accio Scabbers" bisik Nix, saat orang lain tengah sibuk dengan kejadian tadi tidak ada yang memperhatikan bahwa bocah perempuan itu mengambil tikus milik Ron. Tikus itu dia masukan ke toples hasil transfigurasi pitanya dan menyimpan di saku jubahnya. Nix diam-diam menyelinap kabur.
Setelah kejadian itu klub duel di sudahi malam ini. Ron dibawa ke hospital wings sedangkan para audiens tadi melongo tak percaya dengan pertunjukan yang dibawa oleh Nix. Satu kata yang melintas dibenak mereka adalah 'Menyeramkan'.
Nix menyeringai lebar mendapati 'hadiah' untuk Grandpa Tomnya. "Dobby" panggil Nix. Suara apprate yang keras dari peri rumah pribadinya itu terdengar. "Mistress memanggil Dobby?"tanya Peri rumah tersebut.
"Dobby berikan ini pada Grandpa Tom" kata Phoenix manis. Sudah menjadi rahasia umum para death eater bahwa pangeran kegelapan mencari tikus ini. Selepas kepergian Dobby, Nix kembali merasakan sihir Hogwarts. Tanpa perlu ditanya, Lady Hogwarts pasti mengeluh tentang Basilik
':Izanami, Aku ingin kau pergi ke kamar rahasia yang ada di bawah tanah,dan berbicara pada Ratu Ular. Minta ia agar tidak keluar dari tempatnya .Katakan bahwa ini perintah dari pewaris Slytherin' titah Nix yang langsung di turuti oleh ular itu.
Dalam diam,Nix menyadari langit semakin gelap. Sebentar lagi waktunya jamuan makan malam,tapi ia enggan untuk bergabung ke aula besar.Malas melihat manusia narsis itu. Dasar, entah apa yang dipikir oleh Lady Fate. Ia malah bertemu dengan professor narsis tak berguna satu itu. Nix membenci tatapan yang seolah menelanjangi dirinya itu. "Ah nona Malfoy" kata Lockhart dengan senyuman tiga jarinya. Saat bertemu Nix dikoridor.
"Permisi Professor, Aku akan kembali ke asrama" balas Nix yang berusaha menghindar. Ia berjalan cepat hingga tak menyadari bahwa banyak yang berkumpul di satu titik.
Kamar rahasia telah terbuka. Musuh sang pewaris, waspadalah.
Tulisan itu di tulis dengan darah lengkap dengan Mrs.Norris yang tergantung dilangit-langit dan membeku. Deja Vu itu yang dirasakan Nix saat ini.Tampaknya Mr.Flich kembali menuduh the choosen one, yakni Neville yang tertuduh.
"Jangan khawatir Mr.Flich. Mrs Norris hanya membeku, karna kulihat dada Mrs. Norris masih berdetak meski samar. Aku yakin Professor Snape dan Professor Dumbledore punya penawarnya" kata Nix menenangkan penjaga sekolah itu. Namun Mr. Filch masih menatap tajam Neville yang kini gugup, Daniel dan Ron mencoba menenangkannya. Kepala sekolah hanya melihat gadis bermarga Malfoy itu lekat-lekat. Ia menilai dan berspekulasi bahwa gadis Malfoy itu berbahaya. Ia harus mendapatkan keluarga Malfoy digenggamannya, atau kalau tidak bisa ia hanya perlu menyingkirkannya.
"Hari sudah semakin malam. Aku akan mengantarkan para ularku" kata Severus Snape yang memberikan tanda agar para ular mengikutinya.
Timeskip
Nix masih ada di common room asrama Slytherin membiarkan Draco mengepang rambutnya. Walaupun sebagian besar, anak - anak Slytherin sudah memasuki alam mimpi.Nix meminta Ginny untuk tinggal. Fred dan George pun menemani adik mereka.
"Ginny, apa kau pernah tidak ingat melakukan apa pun tapi tampaknya kau melakukan sesuatu?"tanya Nix. Ginny memiringkan kepalanya kemudian menggelengkan kepalanya. Ia hanya tersenyum dan memyuruhnya kembali.
Nix kembali bertanya - tanya siapa yang dirasuki imitasi dari Dark Lord di kehidupan ini. Siapa yang membunuh ayam - ayam dan menulis dinding. "Apa yang kau pikiran? Tanya Pollux. Nix hanya terdiam dan memberi senyum simpul.
"Aku mendengar rumor,"kata Pansy dengan jiwa penggosipnya yang sudah membara, membuka topik malam ini.
"Professor Lockhart itu seorang pedofil dalam penyebutan muggle, dimana menyukai anak-anak dibawah umur. Tidak kah kalian menyadari bahwa kebanyakan murid yang di detensi adalah murid perempuan. Termasuk..." Pansy tidak melanjutkan kata-katanya, dan menatap sang Lady yang tidak bergeming, namun Pansy bersumpah tatapan Phoenix begitu dingin dan siap membunuh, namun Pansy menganggap hal ini wajar atas sikap Nix. Bila ia diposisi Phoenix pun Pansy merasa jijik dan menyesal telah mengagumi Profesor tersebut, sungguh rendahan sekali.
Gosip ini ia dapatkan dari lukisan. Tampaknya ada sebuah lukisan yang menguping pembicaraan kepala asrama Slytherin itu dengan Nix dan menyebarkannya.
"Pansy jangan bicara sembarangan. " tegur Corvus dan memulai ceramahnya agar tidak berbicara sembarangan. Draco membawa adik kembarnya itu ke pangkuannya dan memeluk Nix dengan erat, giginya bergemeletuk karena amarah
"Hentikan Corvus. Apa yang dikatakan oleh Pansy memang benar adanya. Pansy suruh anak-anak perempuan lain untuk berhati-hati, terutama Ginny dan Hermione" kata Nix yang akhirnya membuka pembicaraan.
"Apa kenapa harus bicara dengan mudblood itu sih?" Gerutu Pansy
"Pansy apa yang kukatakan jauh-jauh hari sebelumnya?"
"Jangan memandang status darahnya, karena suatu saat mereka berguna dan kita membutuhkannya" ujar Pansy cemberut namun tetap setuju dengan Phoenix. Karena bagaimanapun Hermione adalah anak terpintar seangkatannya meski kalau Phoenix mau ia bisa menduduki peringkat 1 diseluruh angkatan.
"Nix mengenai si Lockhart itu apa kau tidak ada niat balas dendam? Cih aku ingin mengutuknya dengan Cruciatus" ujar Pollux dan diangguki yang lainnya.
"Sebelum kalian berbicara lebih jauh lagi. Aku sudah melaporkannya pada Uncle Severus. Uncle akan membereskannya"
Baik Leo dan Draco menyeringai senang. Pasalnya jika Professor Snape turun tangan, bisa di pastikan keluarga Malfoy dan Black akan bergerak, oh mungkin Lestrange dan Potter pun akan ikut. "Mulai sekarang kau tidak boleh jalan sendiri" titah Leo selaku Lord Slytherin. Ia tidak ingin adiknya dilecehkan kembali
"As you wish my lord. Ucapanmu sama seperti Uncle Batman" sindir Nix, dan Draco serta sepupunya dan Pansy bingung dengan istilah Batman. Barulah setelah Nix menunjukan sebuah gambar dari saku jubahnya berupa poster Batman, kenang-kenangan dengan Lily dan selalu dibawa dijubahnya untuk mengerjai Severus. Serempak mereka tertawa sampai mengeluarkan air mata.
"Draco aku ngantuk, mau tidur" ujar Nix sambil menguap.
"Baiklah, kau ingin tidur dikamarku atau dikamarmu?" Tanya Draco sambil menggendong adiknya piggy back ride (gendong dipunggung itu)
"Kamarmu saja Drac, good night semua, hoam" ujar Nix setelah mengucapkan good night sambil menguap. Dan jatuh tertidur dipunggung Draco dan Nix yang akan kembali menjajah kasur saudara kembarnya itu.
Sepertinya aku melupakan sesuatu! Tapi apa yah? Uh besok pagi saja. Aku lelah- batin Nix dan kembali ke alam mimpi.
Sementara itu diruangan kepala sekolah, Albus Dumbledore sedang membebaskan sihirnya dan mengamuk, membuat para lukisan berteriak-teriak karena kekacauan yang dibuatnya. Auranya pun berbeda begitu gelap dan sarat akan haus kekuasaan dengan kedengkian. Setelah menenangkan diri. Ia mulai merapihkan kekacauan tadi dan menyusun rencana lain.
Dan ditempat lainnya. Kini Sang Pangeran Kegelapan atau yang dikenal Lord Voldemort sedang berbahagia karena penerusnya membawakan hadiah yang tidak disangka-sangkanya. Yakni Peter Pettigrew yang sekarang sedang di kurung dibawah tanah di Riddle Manor, yang tengah tidak sadarkan diri.
Penerusku memang yang terbaik, tak salah aku memilihnya. Nah aku akan membayar kerja kerasmu Phoenix Malfoy. Karena telah membawakan aku tikus pengkhianat itu. Ujar Tom Riddle atau Lord Voldemort dengan bahasa parseltongue.
Hika : YOOOO READERS TERCINTA, TERAWESOME, DAN TERSAYANG. APA KABAR KALIAN?!/nada ngerapp ala eminem gadungan sambil tereak pake toa.
Ka Xie : Hika please deh suara cemprengmu itu berisik tau/getok pake centong sayur.
Hika : Ehehehehe yaelah ka, kayak gatau aku aja hehehe
Ka Aya :Sabar sabar sabar punya temen kolab sedeng. Untung temen kalo bukan udah gw sayur lu/mode psiko
Hika : Ampuk mak. Tapi Mak, temen sedeng itu adalah multivitamin buat bikin ketawa, karena kesedengannya mengundang bahagia hahahaha.
Ka Xie : Iyain aja dah/mulai lelah/ jadi readers tercinta silahkan di vote dan komen yah, saya mau mereparasi otak Hikari dulu. Kali bautnya ada yang copot/geret Hika.
Hika : BENTAR EMAKKU SAYANG AKU MAU KASIH PETUAH DULU SAMA READERS.
Ka Xie : Yaudah buru sono.
Hika : Kalian yang jadi readers klo komen harap bijak yah, jangan berkata seolah2 author bikin cerita gak sesuai ekspektasi yg kalian harapkan. Disitu jelas2 sudah tertera warning. Tapi masih berkomentar bodoh. Dan itu aku nemu komen kek gtu di salah satu ff Ka Xie yang berjudul Fixing A Future. Sekali lagi klo komen harap bijak. Gak suka ga usah baca, tuh jempol klik aja tanda kluar.
Ka Xie : Dan itu benar, hargailah para author yg sudah menulis cerita dan biasakan membaca warning yg diberi.
Ka Xie Hikari : Bye bye Jumpa lagi~ salam sayang dari kamiiii
