Chapter 10
Pagi menjelang dan saatnya para manusia bangun untuk beraktivitas meski di hari libur bukan berarti malas-malasan, sama seperti saat ini disalah satu kamar anak laki-laki tepatnya milik Draco Malfoy. Seorang gadis muda bernama Phoenix terbangun dari tidurnya, dan menguap serta merenggangkan otot-ototnya yang kaku sebentar. Netra steel blue, serupa dengan kembarannya itu melirik kakaknya yang masih tertidur dengan damai, namun sepertinya kedamaian itu harus terusik oleh panggilan Phoenix.
"Draco bangun… hei Dray…. Hoii bangun"
"Apasih Nix? Masih pagi tau, sudah tidur lagi" ujar Draco sambil memeluk pinggang Nix dan menyuruhnya untuk kembali tidur.
"Ish bangun sleepyhead atau mau ku siram kau pakai aguamenti?!" ujar Nix dengan tidak sabaran sambil mengguncang-guncang tubuh kakaknya dengan brutal.
"Iya… iya aku bangun nih"
Draco pun bangun dan menguap malas, kelopak matanya terasa lengket karena mengantuk hingga enggan terbuka, namun ketika ia melihat Nix disampingnya dengan wajah kesal yang imut, rambut berantakan dan piyama yang sedikit melorot dibahu nya hingga menampilkan tulang selangka dan bahu mulus seputih susu itu. Seketika kantuknya hilang.
Gulp
Blush
Draco menelan ludah susah payah dan wajah arogannya memerah, membuat Nix kebingungan sedangkan Draco membuang muka, dan menyuruh adiknya membersihkan dirinya duluan. Nix hanya mengangkat bahunya dengan cuek dan segera berlalu darisana, tidak peduli dengan tingkah aneh kakaknya.
'Shit apa yang aku pikirkan? Sadarlah Draco dia adikmu, adik kandungmu masa kau suka sih dengan adikmu yang manis dan lucu itu aarggh sial. Lagipula kami masih dua belas tahun' Draco bermonolog didalam hatinya, lama ia berkutat dengan pikiran dikepalanya sampai tidak sadar kalau Nix sudah selesai mandi dan berpakaian rapi.
"Oi pirang apa yang kau pikirkan? Cepat mandi sana" Suara Nix membuyarkan lamunannya.
"Hei adik tidak sopan, Father dan Grandpa juga pirang, kalau kau sebut begitu lagi didepan keluarga atau orang lain bisa-bisa semua yang berambut pirang menengok" ujar Draco disertai dengusannya, heran dia memiliki adik yang kadang kurang ajarnya sebelas dua belas dengan Potter yang dideklarasikan sebagai saingannya. Bahkan adiknya terkadang terlalu jantan, meski sudah diajari sebagai Lady yang baik dan benar oleh Mother, Grandma Walburga, dan Grandma Druella. Ketahuilah wahai tuan muda, bahwa adikmu itu mantan jelmaan anak laki-laki dikehidupan pertamanya.
Time Skip
Kini kembar Malfoy itu sudah rapih dan bersiap-siap ke aula besar untuk sarapan, ini hari Sabtu banyak yang diantara mereka keluar untuk pergi ke Hogsmeade bagi kakak tingkat mereka. Sedangkan bagi anak tahun ke satu dan dua hanya berada disekitar Hogwarts.
Phoenix Pov
Sepertinya aku melupakan sesuatu, tapi apa yah? Duh kenapa sifat pelupaku tidak hilang juga sih. Uh apa yah sepertinya ada yang kulupakan dan merasa kurang. Saat aku masih sibuk berkutat dengan apa yang aku lupakan. Dan tring seketika bohlam imajinasi menyala terang disamping kepalaku ketika melihat Noir yang anteng tertidur disaku jubah Draco. Aku baru ingat ternyata Izanami, familier-ku itu belum pulang dari kemarin.
"Dray pinjam Noir yah"
"Untuk apa?"
"Mencari Izanami"
"Hah memangnya dia pergi kemana?"
"Entah mungkin kesasar, makanya aku pinjam Noir dulu untuk mencari Izanami"
"Ha~ tidak familier tidak pemilik sama-sama ceroboh kalian" ujar Draco sambil menarik pipi chubby Nix.
"Awwuh swakwit, Dwaacoo" dengan brutal Nix menampar tangan kakaknya itu, bahkan kakinya menendang tulang kering Draco.
"Aduh sakit tau"
"Rasakan… rasakan itu makanya jangan usil. Sini Noir-nya kupinjam dulu"
Draco menatap adiknya kesal, dan memberikan Noir yang tertidur disaku jubahnya ke tangan Nix. Segera saja ular hitam itu bergelung di pergelangan Nix dan berubah menjadi gelang. Ia tak habis pikir dengan adiknya ini, jarang sekali bersikap seperti kebanyakan anak perempuan lainnya. Apa mungkin karena factor di keluarga besar kami kebanyakan anak laki-laki? Mengingat hanya dia sendiri sebagai cucu perempuan. Batin Draco bermonolog, dan kepalanya mengangguk tanda setuju, Nix yang melihat itu hanya mengangkat sebelah alisnya dengan heran, namun tidak diperdulikan.
Setelah selesai sarapan, Nix mencoba menghubungi Izanami menggunakan magic link yang ia bangun dengan ularnya bahkan dengan Nagini dan juga Noir, ketika ia belajar dengan Dark Lord sebagai sesama Parselmouth. Ia mulai menyebar pikirannya agar dapat melacak dimana familiernya, Noir-pun dapat mendengar pikiran Phoenix, kecuali Nagini karena sengaja memblock-nya.
'Psst… Izanami kau dimana?' Nix mengirim sihirnya agar terdeteksi Izanami, tidak lama kemudian ada sebuah suara dikepalanya.
'Psstt…. Mistress huweee aku salah arah, tidak tau jalan pulang' Nix tertawa mendengar aduan dari ular kesayangannya itu.
'Dasar ular bodoh, idiot sekali kau sampai nyasar'
'Diam kau Noir, cepat bantu aku keluar dari sini. Aku perlu melapor sesuatu pada Mistress'
'Izanami memangnya kau dimana? Apa kau terjebak ditempat bahaya?'
'No mistress, aku baik-baik saja. Aku berada di lorong ketiga kamar rahasia dan banyak labirin yang mengarahkanku ke jalan buntu'
'Noir arahkan Izanami' dengan satu kata perintah dari Nix ular itupun pergi mencari familier Nix, gadis Malfoy itupun mengikuti kemana Noir pergi sambil sesekali mendengar Noir mengarahkan arah jalan keluar melalui magic link Nix hingga akhirnya mereka sampai di kamar rahasia, dengan parseltongue ia membuka jalannya, dan seketika muncul Izanami yang langsung merayap ketubuhnya, lalu bergelung dileher Nix menjadi kalung.
Time Skip
Hari Senin tiba dengan begitu cepatnya, dan itu adalah hari yang ditunggu oleh para Black, Malfoy dan Potter saat ini. Tidak terkecuali bocah perempuan bermarga Malfoy yang sedari tadi menebarkan senyum psycho dengan Draco dan juga para sepupunya, membuat hawa terasa mencekam dan horror.
Aula besar sudah ramai. Nix memilih duduk di apit Draco dan Leo. Badan Leo yang lebih besar dari dirinya membuatnya aman dari pandangan mata professor pedo yang Nix tahu menatapnya dengan pandangan tak pantas.
"Jangan khawatir My Queen, para nargles memberitahuku orang tidak berguna itu akan pergi selamanya dari hadapanmu" ujar Luna dengan tatapan melamun dan senyum kosong. Setelah itu dengan seenaknya ia duduk di sebelah Nix memisahkan Leo dengan Nix. Phoenix hanya tersenyum sudah maklum dengan tingkah Luna yang eksentrik.
Tepat setelah kepala sekolah memberi sambutan pagi, dan akan di mulainya sarapan pagi, pintu aula itu terbuka lebar, menampilkan Lucius Malfoy dengan Narcissa Malfoy nee Black, Abraxas Malfoy, Orion Black, Cygnus Black, Regulus Black, Sirius Black, James Potter dan Lily Potter. Phoenix menyeringai samar, wajahnya berubah dingin dan angkuh, bahkan auranya-pun menampilkan superior. Sehingga para ular itu menyeringai senang akan pertunjukan yang dimulai sebentar lagi dan mereka semakin menaruh hormat pada Sang Lady Slytherin yakni Phoenix Malfoy.
"Kepala sekolah, " kata Lucius dingin membuka pembicaraan.
"Ada apa ini?" tanya Dumbledore dengan senyum palsu ala kakek - kakek yang penuh wibawa. Baik Abaraxas dan Orion mendengus.
"Aku mempertanyakan warasnya otakmu mempekerjakan orang idiot seperti Lockhart" seru Lucius sambil melirik sinis pada pemilik senyuman tiga jari tersebut yang tengah duduk diantara Severus Snape dan Minerva McGonagall
"Ah aku memiliki pencapaian yang terbaik tuan Malfoy" sela Lockhart.
"Apa pencapaianmu? Seingatku, kau hanya mahir dalam jampi memori, sangat unqualified untuk mengajar" balas Lily.
"Pihak dewan sekolah sudah menyelidiki. Bahwa semua buku - bukumu hanyalah hasil jampi memorimu pada orang yang benar - benar mengalaminya" ujar Narcissa dingin. Ia masih merasakan gejolak amarah bila menatap wajah Lockhart karena berani melecehkan putrinya.
"Belum lagi,perilaku tidak pantasmu pada para siswi dibawah umur, membuat citra Hogwarts tercoreng" tambah Abaraxas.
"Lebih baik kita bicarakan ini di kantor saja" ujar Dumbledore dengan lembut namun tak menampik bahwa ia tengah mengumpat didalam hatinya. Lockhart mempersilahkan mereka berjalan lebih dulu. Mengetahui sifat Lockhart dengan baik dari masa lalunya, Nix diam-diam menggengam tongkat sihirnya di balik jubah dan mengarahkan pada Lockhart.
"Incacerus" rapal Nix lirih begitu Lockhart melewatinya. Sebuah tali mengingakat tubuh Lockhart.
" Well… well sepertinya kau berniat kabur. Immobulus" rapal Severus yang secara 'khusus' mengawal Lockhart.
Sementara itu dimeja asrama Slytherin.
"Benar, kita tidak usah melakukan apa - apa?" tanya Pansy. Pollux menatapnya dengan pandangan tidak dapat diartikan, wajahnya pun tergolong tenang meski hawa disekitarnya begitu menyeramkan.
"Ibuku bilang ia akan mengurusnya" jawab Pollux. Jawaban dari anak kedua keluarga Lestrange membuat anggota asrama Slytherin itu menelan ludah gugup dan merinding. "Nenek Walburga, juga mengatakan hal yang sama" Leo menambahkan dengan tenang.
"Ah kata paman Severus juga, Grandpa Tom mau berbicara secara pribadi dengan professor Lockhart" ujar Nix dengan polosnya, sambil memakan sereal gandum dengan anteng. Para anggota Slytherin tidak tahu harus tersenyum senang atau takut. Bukan rahasia umum lagi kalau Phoenix adalah bocah kesayangan ketiga orang tersebut dan mereka tidak segan-segan dalam menggunakan kutukan tak termaafkan bagi yang mengusik Princess Malfoy itu. Yang jelas mereka tidak mau mencari masalah dengan keturunan Malfoy-Black.
Tiba-tiba ada lengan yang menyusup ke leher Nix dan punggungnya terasa berat karena ia dipeluk dari belakang oleh Alfa, sepupu Gryffindornya.
"Al berat tau, menyingkir sana banyak tempat duduk juga" ujar Nix sebal sambil menggembungkan pipinya. Karena ulah sepupunya itu bibirnya belepotan coklat, yang segera ia bersihkan.
"Habis aku kan kangen denganmu little princess" Ujar Alfa sambil menduselkan pipinya ke pipi Nix yang tergolong chubby.
"Hmm Nix ini daftar yang kau minta" ujar Daniel menginterupsi dan menarik Alfa, sambil menyerahkan gulungan perkamen pada Nix. Sebelumnya ia minta Daniel untuk mencari tahu siapa saja yang mengalami pelecehan. Gadis bermarga Malfoy itu tersenyum. Dengan cepat Nix mengkopi perkamen itu menjadi tiga halaman.
"Apa yang akan kau lakukan?"tanya Daphne penasaran. Nix hanya memberikan senyum.
"Senior Flint, boleh aku memanfaatkan koneksi Daily Prophet-mu? Aku ingin kau mengirimkan daftar ini" titah Nix dengan senyuman polosnya.
"Tentu, Milady" jawab kapten quidditch tersebut.
Setelahnya Draco dan Leo pun mengantarkan Nix ke ruang kepala sekolah atas permintaan Nix
Di ruangan kepala sekolah,
Lockhart yang masih terikat gemetar takut. "Jadi tuan –dengan senyum psycho- berusaha kabur?" sindir Orion. Nix yang berada disana duduk diapit oleh Draco dan Leo. Baik Abaraxas juga Narcissa sebisa mungkin menghalangi pandangan Lockhart dari Nix.
"Dumbledore, bisakah kau mencari pengajar yang berkompeten?"tanya Lucius sarkas. Masih mengenakan wajah lembut seorang kakek Dumbledore memasang wajah penuh penyesalan. "Aku yakin kita bisa mencari jalan keluar"kata Dumbledore berusaha bijaksana.
"Penipu ini harus segera di keluarkan dari Hogwarts, jika tidak jangan salahkan aku bila hal ini aku bawa pada sidang kementrian" ujar Abraxas tegas setelah melihat perkamen ang dibawa Nix dan membacanya, rahangnya mengetat dan keras. Giginya bergemeletuk dengan amarah, sihirnyapun bergejolak namun segera tenang karena tangannya digenggam Nix sambil berucap "Tenangkan dirimu kakek".
"Tentu saja. Tapi penggantinya…" belum selesai Dumbledore berbicara. Regulus sudah mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapan Dumbledore.
" Untuk sementara, Severus akan mengajar sampai Yule. Dewan Sekolah memiliki rekomendasi."Jelas Regulus. Sadar akan posisinya dapat terancam dan tidak dapat berbuat banyak, dengan terpaksa Dumbledore menyetujui hal itu meski dalam hatinya ia mengumpat habis-habisan terutama pada gadis Malfoy itu yang kini tersenyum polos yang justru terlihat seperti iblis dibalik baju malaikat.
"Aku tidak menyangka Albus, Hogwarts memiliki kejadian yang memalukan seperti ini terlebih cucuku yang mengalaminya" ujar Cygnus dengan dingin
"Headmaster aku benar-benar kecewa atas kejadian ini. Bagaimana bisa keponakanku mengalami hal seperti ini?! Sungguh memalukan" kecam Sirius Black
"Headmaster kau dua kali melakukan kesalahan, dimana kau membiarkan Remus Lupin sahabatku pergi, dan sekarang ada kejadian yang mengerikan seperti ini. Kredibilitasmu perlu dipertanyakan" ujar James Potter dengan nada terdingin yang belum pernah sekalipun ia ucapkan pada orang lain. Setelah pembicaraan itu mereka memutuskan pergi dari ruangan headmaster menuju aula besar.
Para orang tua pun memutuskan untuk bergabung dengan anak - anak mereka di aula untuk makan siang bersama. Susan duduk di meja Slytherin. Ginny berkumpul dengan keluarga Potter. Membuat Ron dan Percy iri.
"Kau baik - baik saja Nix?" tanya Lucius. Nix mengangguk. Lucius pun menyelipkan surat dari pangeran kegelapan ke tangan putri bungsunya itu.
Dear My Little Lady
Permintaanmu untuk aku mengajar di Hogwarts aku terima. Tapi aku mempunyai satu syarat. Aku ingin memindahkan basilik ke Riddle Manor. Dan masalah korban yang dibekukan basilik sudah aku bereskan, lagipula yang menjadi korbannya hanya kucing tua si squib itu.
Your Grandpa
Tom Riddle
Selesai membaca surat itu pelipisnya berkedut dan membentuk persimpangan jalan dan tersenyum sarkas. Ia mengutuk Grandpa Tom-nya dalam hati. Entah apa yang ada pikiran kakek tua tapi awet muda itu. Apa ia mengira basilik itu seukuran Hedwig atau Izanami. Bagaimana caranya membawa mahluk sebesar itu keluar dari Hogwarts tanpa menarik perhatian. Ada satu cara yaitu dengan rune portal kuno, tapi itu butuh dua hari untuk menggambarnya dan energy sihir yang cukup. Sialan kenapa malah membuatku harus bekerja ekstra sih, disaat aku ingin santai?! Masalah gemar sekali mengikutiku meski aku sudah terlahir menjadi Malfoy gerutu Nix.
Sementara itu, Gildroy Lockhart yang dalam keadaan terikat dan tidak sadarkan diri dibawa oleh dua orang misterius, saat Lockhart berada di Stasiun Hogsmeade untuk menunggu kereta yang akan membawanya pulang kerumah.
"Ckckck berani - beraninya orang ini menyentuh keponakan tersayangku. beruntung Pangeran Kegelapan ingin bertemu dengannya sebelum ke akhirat, dan memberikan perhitungan padamu" ujar Bellatrix dengan seringai kejam saat berbicara dengan calon mayat Lockhart. Dibelakang Nyonya Lestrange tersebut ada Nyonya Walburga yang ikut menyeringai juga, dan ternyata mereka berdualah yang membawa Lockhart kekediaman Dark Lord untuk dieksekusi.
Di malam yang sunyi itu terdengar suara longlongan kesakitan, dan jeritan pilu. Disertai tawa kejam. Hingga kembali lagi menjadi sunyi yang mencekam. Suara-suara tadi berasal dari salah satu ruang bawah tanah milik Tom Riddle untuk menyiksa Lockhart.
"Inilah akibatnya bila kau berani mengusik ular, dan kau dengan arogan serta ketololan mu berani mengusik salah satu ular kecil kesayanganku yang sebentar lagi menjadi penerusku" ujar Dark Lord itu dengan dingin pada Lockhart yang sudah pucat dan membiru akibat kehabisan darah dan berbagai kutukan tak termaafkan dari Bellatrix, Walburga dan tentunya Tom sendiri, bahkan sekedar membuka suara kecilpun tidak bisa. Karena mereka sudah muak dengan cepat mengakhiri Lockhart berupa memberi hadiah mantra hijau terang atau bisa disebut Avada Kedavra.
In Another Place
Apakah ini waktu yang tepat untuk aku kembali? Tapi bagaimana dengan perjanjian itu? Haruskah aku melanggarnya? Persetan dengan itu aku akan kembali, aku akan mengambil semua resiko itu demi menyelatkan mereka dan mencari pengkhianat sesungguhnya.
Dimalam musim dingin yang menyelimuti Inggris dengan kesunyiannya, seseorang tengah bertekad menerjang badai yang akan datang menghampirinya dengan taruhan nyawa
