I Wanna Punch You Grandpa

Preview

Saat ini Phoenix, Daphne, Draco, Fred, George, dan Alphard sedang berada di perpustakaan untuk mencari cara memindahkan suatu hal yang berat dan besar tanpa berisiko menarik perhatian dalam kasus ini adalah memindahkan basilik ke Riddle Manor. Hingga membuat Phoenix mencak-mencak tidak karuan yang tercampur dengan bahasa parseltongue membuat satu asrama merinding ketakutan pada Lady Slytherine tersebut, sisa dari kelompok Nix hanya mengaminkan apa kata Lady mereka karena tidak ingin menerima tatapan belatinya dan aura setan yang menguar.

"Nix aku menemukannya. Lihat ini!" ujar Daphne bersemangat, Phoenix mengangkat wajahnya yang terkubur dari buku yang ia baca. Nix membaca itu dan merasa puas, mungkin nanti malam mereka akan melakukan ritual tersebut.

"Kerja bagus Daph, baiklah mari kita lihat apa saja yang dibutuhkan" ujar Nix ceria berbanding terbalik 180 derajat dengan hawa yang dikuarkan nya tadi, namun tidak ada yang berani mengomentarinya. Gadis itu membaca dengan seksama sambil mengangguk-angguk.

"Jadi kita memerlukan bahan-bahan ini, tapi siapa yang akan mencarinya?" ujar Nix menatap anggotanya.

" Biar kami yang menyiapkan bahan-bahan ritualnya." ujar Fred yang diangguki George, setelah melihat bahan yang tertulis rapih diperkamen oleh Daphne.

" Baiklah, aku akan mulai menulis rune malam ini dengan Daphne. Dan diantara kalian siapa yang akan bergantian untuk berjaga-jaga mulai saat ini sampai malam?" ujar Phoenix.

"Aku akan mengawasi Gryffindor dan Corvus serta Pollux akan memindai lorong yang biasa dilewati profesor" balas Alphard.

"Okay, dan Draco katakan pada Uncle Sev untuk mengecoh kepala sekolah, aku yakin dia sedang mengawasi pergerakan kita, tepatnya aku menjadi targetnya"

"Hmm, Nix apa perlu aku menghubungi Grandfather Abraxas untuk mematiskan semua aman?" ujar Draco dengan spekulatif karena menyangkut keselamatan adiknya.

"Tidak perlu, kau cukup kirim ramuan tertentu pada Grandpa Tom karena aku membutuhkan sihirnya untuk ritual nanti dan pastikan diminum sebelum datang ke Hogwarts, katakan padanya ia harus datang."

"Hmm baiklah, omong-omong ramuan apa yang kau buat?"

"Hanya ramuan polyjuice versiku dengan tambahan penghilang tubuh selama 15 menit dan menetralkan sihirnya agar tidak terlalu gelap sehingga tidak di deteksi oleh kepala sekolah"

"Kau bilang polyjuice? Bukankah itu untuk menyamar menjadi seseorang? Dark Lord akan menyamar menjadi siapa memangnya? tanya Daphne tertarik.

"Oh dia akan menyamar menjadi Uncle Severus, karena sudah menjadi rahasia umum kalau kepala asrama kita itu salah satu agen yang ditakuti dan di waspadai oleh Orde. Dan Uncle Severus yang asli akan ku minta ke Malfoy Manor agar tidak ada kecurigaan, sangat berisiko bila Uncle disekitaran Hogwarts." Mereka mengangguk paham dan percaya dengan strategi itu, karena intuisi Nix tidak pernah gagal cocok sebagai pemimpin dan jendral dalam perang.

Setelah menyusun strategi tersebut mereka berkemas untuk pergi makan siang di aula besar, sesampainya disana ia segera duduk diapit Draco dan Alphard yang entah kenapa ingin nyasar disana. Leo yang melihatnya berkedut kesal pasalnya Alphard melakukan modus.

"Nix aku lelah, suapin" kepalanya disandarkan pada bahu Nix

"Kalau lelah balik ke kandangmu sana jangan disini" ketus Leo

"Hoiii itu asrama terbaik tau! Jangan samakan dengan kandang yang kau maksud!"

"Kalau Gryffindor asrama terbaik, sebaiknya kau kesana bukan disini. Oh ya aku lupa, disanakan tidak ada Nix yang memperhatikan" ujar Corvus disertai seringai

"Lagipula untuk apa Nix disana? Untuk memperhatikan kelakuan bar-bar? Dan mengurusi idiot ini?" tambah Pollux dengan santainya. Dan bisa ditebak, mereka tengah tawuran dengan saling lempar makanan dan saling melontarkan ejekan, Nix yang tengah jengkel karena acara makannya terganggu, dengan segera mengtransfigurasikan sendok menjadi kipas di anime-anime Jepang, dan menggeplak kepala quartet sangklek hobi rusuh.

"Kalian menyebalkan. Hyah rasakan ini!!"

Plak

Plak

Plak

Plak

Empat kepala itu terkena hantaman kipas maut, sehingga menimbulkan benjolan dan ringisan dari Pollux, Corvus, Leo dan Alphard. Sisa dari kelompok itu dan sebagian siswa menatap dengan campuran menahan tawa, ngeri dan iba.

"Bwahahahahaha... emang enak kena hantaman maut!" Daniel tertawa dengan terbahak-bahak dari meja Gryffindor. Sebelum mereka bisa membalas Nix melemparkan sepatunya yang sukses mendarat ke wajah tampan Heir Potter itu.

Tuing

Bluk

Adaw

"Kau juga sama saja singa absurd. Sama-sama menyebalkan, Ayo Gin kita ke asrama saja disini membuatku pusing" ujar Nix

"E-eh.. ta..tapi" Ginny tergagap.

"Aku punya persediaan makanan diasrama kalau kau masih lapar" Nix berkata dengan nada tak ingin dibantah. Ginny pun menurut dan mengikuti Nix ke asrama. Sementara itu para korban hantaman maut Nix sedang mengelus-elus sayang wajah ataupun kepala mereka.

"Makanya, jangan ngerusuh kena batunya kan" ujar Daphne kalem

"Hei tapi kan aku tidak memulai pertengkaran ini semua gara-gara mereka" tunjuk Al tidak ingin disalahkan.

"Jangan mulai lagi deh kalian, Corvus telan makananmu sebelum bicara, Pollux jangan memainkan makananmu, Draco kau akan ku adukan ke Nix bila berani mengutuk Daniel" Pansy menegur para laki-laki tersebut. Serempak mereka memutar mata bosan namunmenurutinya karena Pansy adalah tangan kanan Nix dan juga sama menyeremkannya bila mengamuk. inner mereka 'Perempuan kalau mengamuk itu sudah tanda bahaya akhir dunia'. Yah abaikan mereka saja

Waktu untuk menjalankan rencana telah datang, Phoenix dan yanga lainnya sudah siap, Alphard, Corvus, dan Pollux sudah menjalankan misi. Karena ini besok Sabtu dan tidak ada kegiatan belajar lagi, para siswa bebas berkeliaran. Sehingga mereka bertiga mudah menjalankan misi karena berbaur dengan siswa lainnya atau sembunyi dibalik bayang-bayang dan sudut gelap.

Sementara itu Nix, Daphne dan si kembar sudah sampai di kamar rahasia untuk memulai menulis rune dan mempersiapkan bahan-bahan ritual, setelah sebelumnya mereka kaget minus Nix saat pintu masuk ke kamar rahasia adalah Toilet Myrtle dan harus terjun kebawah setelah Nix membuka akses masuk. Dan juga harus melewati beberapa lorong yang seperti labirin serta genangan air. Nix sudah meminta basilik yang ia namai Mortem dalam bahasa Latin adalah kematian, untuk menutup mata lapisan pertamanya karena ia membawa teman-temannya yang sedang menutup mata atas perintah Nix, dan Mortem menuruti speakernya ia pun pindah ke salah satu kamar disana untuk tidak mengganggu ritual yang akan memindahkannya.

Saat mereka berempat tengah sibuk melakukan persiapan ritual, muncul Tom yang kini menjadi Severus Snape bersama Draco, Leo, Alphard, Corvus, dan Pollux, Pansy tidak ikut karena mengawasi anak-anak Slytherin bersama Flint yang diminta Nix agar tidak mencari tahu kemana mereka pergi. Tom mengernyitkan dahinya ketika melihat keempat anak tengah menulis rune dan ritual yang entah ia tidak tau ditengah-tengah aula.

"Kalian sedang apa?"

"Tentu saja menyiapkan ritual untuk memindah basilik ke manormu Grandpa" sungut Nix sambil menulis rune, tidak melihat pada Tom.

"Kenapa harus repot-repot begitu?"

"Kau yang membuatnya repot tahu!"

"Ck, sudah sana biar aku yang kerjakan kalian minggir" perintah Tom, Nix meski bersungut-sungut tetap menurutinya karena ia sendiri merasa kurang enak badan sejak tadi dan merasa sangat sensitive serta nyeri pinggang.

Tom memanggil Mortem untuk keluar, setelah sebelumnya menyuruh anak-anak menutup mata. Mortem keluar dengan tatapan matanya yang kuning keemasan namun tidak membunuh karena telah melapisinya dengan selaput mata agar tidak menyakiti dua tuannya serta anak-anak disana. Dan mereka semua gemetar takut melihat basilik kecuali Tom dan Nix tentunya, ular legenda tersebut mendesis memberi salam.

"Mortem, aku akan menggunakan sihirku untuk memindahkanmu harap kau bisa bekerjasama dengan membuat dirimu tenang ketika sihirku menyentuhmu" ujar Tom dengan parseltongue

"Tentu saja master"

Reducio

Dan Siiing

Basilik menjadi kecil, dengan ukuran mini yang hanya sebesar telapak tangan Tom kini sudah bergelung nyaman di saku jubahnya setelah Tom memungutnya dengan hati-hati.

Yang lain sweatdrop melihat hal itu terutama Nix yang sudah bekerja keras merasa tidak terima. Gadis bermarga Malfoy itu mengeluarkan aura setan yang pekat bahkan tinjunya terkepal di sisi tubuhnya, anak-anak yang lain sudah mundur dan menjauh dari Nix. Tom yang baru menyadari hawa angker nan suram dari Nix terlambat menghindar karena...

"I WANNA PUNCH YOU GRANDPA!!!"

DUAGH

K.O

Nix meloncat kearah Tom sambil membogem pipi Tom dengan penuh nafsu, Tom tentu berteriak kesakitan karena Nix berhasil menggeser rahangnya. Semua yang menyaksikan itu semakin menambah rasa kengerian mereka terhadap calon Dark Lady tersebut. Dan membuat catatan mental untuk tidak membuat Lady mereka marah bahkan mengamuk.

Dan begitulah kisah kali ini mengenai Lady Phoenix Malfoy yang mengamuk akibat ulah Grandpa nya yang membuat kesal. Nah readers kalau kalian meminta tolong jangan seperti Tom yah, udah capek-capek gak tau nya ada yang simple kan kampret =D

Setelah kejadian tersebut, Nix mengabaikan Tom sampai seminggu penuh dan dimaafkan dengan Tom harus rela memberikan Nix telur basilik, yang dengan senang hati gadis itu terima. Namun Abraxas dan Lucius banjir keringat dingin karena anaknya memiliki basilik di manor, ingin dicegah takut diamuk, enggak dicegah tapi bikin doki-doki suru. Hingga Tom menyarankan ruang bawah tanah sayap timur Malfoy Manor sebagai tempat basilik dan dikunci serta diberi lapisan rune yang berganda dan menggunakan sandi parseltongue dengan Tom dan Nix sendiri yang mengerjakannya.