chapter 13 B
Lalu ketika ia sudah sadar dari transnya, wajahnya perlahan berubah menjadi senyum, merah padam, dan lalu tertawa terbahak-bahak bahkan sampai keluar air mata. Untung baginya lorong ini sepi sehingga tidak ada yang menyangka bahwa ia kurang waras. Dan bibir cherry gadis Potter tersebut berbisik pada desau angin sambil tersenyum.
'Dasar kalian bodoh, dan terutama kau Nix. Benar-benar bodoh tidak menyadarinya ckckck, merepotkan sekali sepertinya'
Dan dengan itu Ginny berjalan dengan tenang ke Hospital Wings sambil bersenandung pelan dengan pikiran yang hanya ia sendiri yang tahu.
Ketika Draco sampai hospital wings dan menjeblak pintu tersebut dengan menendangnya, membuat Matron Hogwarts tersebut kaget bahkan hampir menjatuhkan ramuan yang dipegangnya.
"Madam Pomfrey, periksa Nix segera" ujar Draco dengan nada memerintah, Madam Pomfrey ingin sekali mencekok siswa pirang slytherine tersebut dengan ramuan yang ada dilemarinya, karena kekurang ajaran sulung Malfoy tersebut. Namun semua omelan itu ia telan bulat-bulat, karena melihat tangan Draco yang tengah menggendong adiknya yang kini terlihat pucat dan dress putih gadis tersebut ternoda cairan merah yang ia duga sebagai darah karena dari bau nya.
"Baringkan dia di ranjang, dan kalian minggir keluar dari sini" Madam Pomfrey menyalak tegas tak ingin dibantah pada mereka, dan Draco dengan enggan keluar dibalik tirai berisi adiknya yang tengah diperiksa sang matron. Lima menit kemudian Madam Pomfrey keluar, untuk disuguhkan pemandangan enam siswa slytherin dan tiga gryffindor yang menatap padanya dengan cemas dan menuntut jawaban. 'Seberapa penting sesungguhnya bungsu Malfoy ini untuk mereka?' pikir matron tersebut, namun ia mengangkat bahunya secara imajiner karena itu bukan urusannya untuk mencampuri urusan para siswa.
"Phoenix baik-baik saja, ia kelelahan dan sedang dalam masanya. Jangan membuatnya tersinggung atau membuatnya marah, karena ketika fase itu dia akan mengalami emosi yang labil, tolong kalian jangan kaget dengan perubahan emosi nya yang tiba-tiba, dia sedang tidur jangan diganggu. Oh ya, dan ia akan merasa tidak nyaman karena ini pertama kalinya ditambah biasanya ia akan mengalami sakit kepala, nyeri perut dan pinggang" jelas Matron Hogwarts itu pada mereka, yang justru tambah cemas karena khawatir Nix mengidap penyakit serius atau diracun, Medic-wich itu ingin mengatakan lagi bahwa Nix sedang mengalami fase para perempuan remaja, namun bingung bagaimana mengatakannya karena mereka semua laki-laki.
"Kalian tidak perlu khawatir, dan hentikan tampang bodoh kalian itu tidak cocok" ujar Ginny tiba-tiba yang kini sudah ada didekat Fred yang terlonjak kaget karena kemunculan adiknya yang tiba-tiba.
"Apa maksudmu untuk tidak khawatir Miss. Potter?! Jelas-jelas aku melihat darah dari Nix" Draco menaikkan oktafnya dan melotot ganas dan tidak memanggilnya dengan nama depan melainkan marga Ginny. Yang lain terdiam sedangkan sang matron asik menonton drama didepannya.
"Huft, Draco. Nix itu sedang datang bulan, menstruasi. Hal yang wajar bagi perempuan tanda ia sudah beranjak menjadi remaja dewasa, dan fase itu akan berulang tiap bulannya. Dan karena ini pertama kalinya makanya Nix sampai begitu. Dasar bodoh" jelas Ginny panjang lebar dengan poker face dan sisa dari mereka hanya deadpan face setelah mencerna perkataan Ginny.
"Sekarang kalian ke asrama sana dan tulis surat untuk ibu kalian agar memberikan Nix kebutuhannya saat menstruasi, aku mengurus Nix dulu. Dressnya sudah kotor dan kenapa ia lupa tidak memakai jubah sih mentang-mentang sekarang hari Sabtu padahal kan sekarang dingin" gerutu Ginny yang kini berjalan ke ranjang Nix, ditangannya sudah ada baju Nix yang ia bawa karena sempat ke asrama dahulu dan mengambil persediaan miliknya. Fyi Ginny sudah mendapatkan haid nya saat ia masuk hogwarts.
"Hey aku kan kakaknya, sini aku yang gantikan" seru Draco
"Tidak boleh" Ginny menyilangkan tangannya
"Ginevra Weasel Potter, sini berikan baju Nix!"
"Draco Ferret Malfoy, sana pulang kekandang! Kalau kau yang gantikan kau mau dicap mesum huh?"
"Hey aku gak mesum tahu, aku laki-laki terhormat yah!"
"Makanya biar aku yang ganti, kau sadar gak sih? Kau itu laki-laki dan Nix perempuan"
"Masalahnya dimana? Nix itu adikku tau, kami juga kecil sering mandi bersama bahkan sekamar"
"Ck, musang batu dasar. Meski Nix adikmu dia perempuan dan anatomi tubuhnya berbeda, bodoh. Terutama bagian dadanya tengah berkembang tau, dan kalian mandi bersama itu saat kecil bukan sekarang. Dasar musang mesum bodoh!"
Dan Draco terdiam karena tertohok dengan fakta yang Ginny lemparkan padanya, pipinya memerah dan dengan Un-Malfoyish ia kabur secepat yang ia bisa ke asramanya dan sisa penonton disana hanya termangu lalu tertawa terbahak-bahak dan akhirnya mereka kembali keasrama masing-masing setelah saling berpamitan. Madam Pomfrey yang menyaksikan itu hanya tertawa kecil saja akan hiburan didepannya.
Ginny yang sudah selesai menggantikan baju Nix dan memanggil peri Hogwarts untuk mencuci bajunya tengah mengambil ramuan di meja sang matron, karena Madam Pomfrey tengah memeriksa siswa lain. Ketika ia kembali keranjang Nix, gadis Malfoy tersebut sudah bangun dan memegangi kepalanya.
"Ah Nix akhirnya sudah sadar, bagaimana perasaanmu?"
"Eh Ginny, kenapa aku disini?"
Ginny hanya menyodorkan ramuan dan menyuruh Nix untuk meminumnya dan dituruti oleh gadis tersebut karena ia tahu watak Ginny bagaimana. Setelah menghabiskan ramuan tersebut dan kini minum air putih untuk mencuci lidahnya, Ginny menceritakan kronologi tersebut dan Nix yah gadis itu sudah pasti terkejut dan syok meski ia tau hal seperti ini akan terjadi. Dan ketika selesai dengan sesi pertanyaan Nix seputar menstruasi pada Ginny, kini hening merajai keduanya. Namun tidak lama karena Ginny membuka suaranya.
"Nix rapat untuk nanti malam, apa sebaiknya dibatalkan saja? Ku rasa mereka akan mengerti dengan kondisimu seperti ini"
"Tidak usah Gin, aku baik-baik saja hanya perlu mengikuti saranmu saja, untuk memakan makanan hangat dan berenergi serta karbohidrat."
"Tapi.."
"Aku tidak apa-apa"
Dan setelah itu mereka mengobrol ringan sampai-sampai harus dikagetkan dengan suara derapan langkah banyak orang menuju mereka.
Srat
Tirai terbuka, dan Nix diserang pelukan beruang oleh ibunya.
"Phoenix sayang kamu baik-baik saja nak? Ada yang sakit? Draco bilang kau berdarah. Siapa yang berani melukaimu bilang pada Mom biar Mom kutuk dia dan dijebloskan ke Azkaban. Kurang ajar sekali dia" Narcissa yang merangsek masuk dan memeluk putrinya sambil mengoceh tak karu-karuan namun yang jelas Nix mendengar gumaman 'bunuh' dan 'Azkaban' sumpah ini ibunya kenapa?! Ibunya baru melepaskan pelukkannya ketika ia berkata tidak bisa bernafas. Dan setelah selesai dipeluk ibunya, matanya melotot dan mulut ternganga, karena seluruh keluarganya datang. Catat seluruh keluarga dimana itu keluarga besar Black, Lestrange, dan Potter.
"Maaf bukannya aku tidak senang kalian disini, tapi ada apa yah?" ujar Nix kebingungan.
"Dear kami mendapat surat dari anak-anak dan bilang kalau kau berdarah dan butuh sesuatu, sehingga kami bergegas kemari" ujar Lily Potter lembut sambil mengelus tangan Nix.
"Eh, i-iya sih aku berdarah dan pingsan"
"Apa?! Siapa yang melukaimu Nix? Katakan padaku, biar aku beri dia pelajaran karena telah bermain-main dengan Black" Nyonya Walburga Black mengeluarkan aura angker begitupula semuanya, membuat Ginny dan Nix sweatdrop. Ginny memberanikan bertanya meski ada gemetar di suaranya.
"Ehm, ma-maaf boleh aku bertanya sesuatu?"
"Ya" Bellatrix menjawab dengan dingin dan menatap tajam gadis sebelas tahun itu, hingga membuat Ginny takut namun ia harus memastikan sesuatu.
"Kalian mengatakan mendapatkan surat dari mereka kan? Apa isi suratnya?" tanya Ginny, dan mereka serempak bilang.
"Nix mengalami pendarahan hebat dan pingsan bahkan emosinya menjadi labil"
Lalu Ginny dan Phoenix serempak berteriak dengan emosi
"Dasar mereka bodoh, bikin panik orang" Phoenix
"Cowok-cowok gak guna, malah bikin panik masal" Ginny
Dan kini Ginny serta Nix menjelaskan keadaannya yang sesungguhnya dan berhasil membuat mereka jawdrop, sweatdrop, dan facepalm. Dan lengkingan suara dari para Lady memanggil nama putra mereka dengan kesal mengudara, sementara para Lord, Grandpa dan Grandma hanya memasang wajah poker face karena kelakuan para anak, menantu dan istri mereka meski dalam hati jengkel bukan kepalang.
"Dad lain kali tolong pastikan dengan benar informasi yang kau terima dan kalian juga" ujar Nix sambil memijit pelipisnya, sementara Ginny ingin sekali menggeplak kepala para sepupu mereka karena membaca surat-surat yang ditujukan pada orang tua, atas permintaan Ginny untuk melihat isi suratnya. Setelah banyak drama yang terjadi dimana para ibu menjewer putra mereka dan para ayah yang menasehati mereka agar memberikan informasi dengan benar dan jangan ngawur hingga membuat panik. Dan mereka pulang setelahnya, sementara Nix tidak ingin bertemu mereka dan hanya mengijinkan anak perempuan saja untuk menjenguknya. Seperti saat ini.
"Memang isi suratnya seperti apa Milady?" tanya Astoria penasaran, Ginny memberikan surat-surat tersebut pada Astoria setelah diberi izin oleh Nix. Sontak Astoria kini dikerumuni oleh Daphne, Tracey, dan Pansy.
Mom, aku mengirim surat ini karena ada bahaya yang menimpa calon menantumu,Nix. Dia berdarah sangat banyak dan Ginny bilang untuk menghubungi kalian untuk memberikan apa yang dibutuhkannya. Dan Ginny juga bilang emosinya tidak akan stabil karena menghadapi hal itu, sehingga Ginny menemaninya- Daniel Potter.
Astoria dan yang lainnya saat membaca terkekeh karena isi surat itu seolah-olah menyatakan Nix sedang sekarat. Lalu Astoria dan yang lainnya membaca surat berikutnya.
Father kami mengirim surat ini, karena Milady tengah sakit. Ia pingsan saat kami sedang berjalan menuju asrama, kini Nix sedang di hospital wings dengan Ginny. Nix berdarah sebelum jatuh pingsan dan hasil pemeriksaan bilang dia akan mengalami pendarahan lagi serta emosi yang labil, Ginny bilang suruh hubungi Mom untuk memberikan kebutuhan yang diperlukannya- Fred dan George Black.
Father, anak tampanmu ini mengirim kabar duka cita, Nix. Calon menantu idamanmu tengah sakit, bahkan dia mengalami pendarahan dan mengotori bajunya. Nix juga mengalami sakit yang hebat serta emosi yang labil. Tolong aku Father dengan memberikan kebutuhan Nix. Ginny sedang menjaga calon istriku. Oh ya katanya Mother yang paling tahu masalah ini- Alfa Alphard Black, anakmu yang paling tampan
Father, Sepupu Phoenix tengah sakit, ia sedang diberi perawatan oleh Madam Pomfrey dan Sepupu Ginny di hospital wings untuk menemaninya. Nix mengalami pendarahan yang sangat banyak bahkan dress nya kini berlumuran darah, ia sempat pingsan juga dan Sepupu Ginny mengatakan bahwa emosi Nix bisa labil sewaktu-waktu, Father dan Mother tolong beri apa kebutuhan penting untuk Nix selama fase itu- Leo Regulus Black
Mother, tolong ke Hogwarts sekarang Nix mengalami pendarahan bahkan ia pingsan. Potter kecil itu bilang bahwa Nix akan mengalami emosi yang labil nantinya saat melewati fase itu, bahkan akan merasakan sakit pada bagian tubuh tertentu- Corvus dan Pollux Lestrange
Dan mereka semua tidak berhenti tertawa membaca rangkaian kalimat pada surat-surat tersebut, antara ilfiel atau prihatin atau humor. Karena baru tahu bagaimana overreacted mereka saat Nix mengalami hal itu. Dan terlebih surat dari Draco.
Father, Mother datang ke Hogwarts saat ini juga. Nix dalam bahaya ia akan mengalami fase pendarahan terus menerus dan akan merasakan sakit dibagian tubuh tertentu serta mengalami emosi yang labil. Bawa saja sekalian Grandpa Tom dia pasti bisa menangani ini, atau Grandpa Orion, ah tidak.. bawa semua saja sekalian. Grandma Druella dan Grandma Walburga pasti mengerti, suruh Grandpa Abraxas meminta kamar yang nyaman untuk Nix di asrama- Draco Malfoy
"Oh Nix, hidupmu seperti ratu tunggal diantara para raja. Bisa ku bayangkan kalau hidupmu itu sepertinya dimanja" seru Pansy agak cemburu namun tidaklah benci.
"Ya memang hidupku bagai ratu. Ratu Drama tepatnya" balas Phoenix dengan datar.
"Eh kenapa?" tanya Astoria tidak mengerti, Daphne dan Tracey sendiripun penasaran dengan jawaban dari Lady Slytherin tersebut.
"Jelas Nix menjadi ratu drama, karena mengimbangi para raja dan pangeran drama yang hobi tebar pesona" ucap Ginny dengan datar sama seperti Nix. Dan mereka terdiam karena bingung untuk berkata apalagi, yah perkataan Ginny dan Nix memang ada benarnya mengenai para lelaki tersebut. Tapi tetap saja hidup Nix adalah kehidupan yang diinginkan oleh setiap anak perempuan, karena hidup dalam keluarga pureblood tua terpandang serta kaya raya dan dikelilingi oleh para pria tampan. Meski poin kekurangannya adalah mereka yang suka sekali berdrama dadakan, untung tidak sampai kolosal. Bisa-bisa seperti film muggle dari India hanya tinggal nyanyi-nyanyi saja sambil lari-larian lengkap sudah, jangan lupakan taman, tiang, pohon dan hujannya.
Phoenix POV
Kami mengobrol ringan dan sesekali bercanda, namun lagi-lagi aku merasakan sensasi menggigil dan juga perasaan hampa dengan pekatnya aroma kegelapan namun memabukkan dan juga kematian. Aku terdiam dan memejamkan mata, serta memfokuskan pikiranku.
'Death, beri aku waktu lagi. Aku sedang menyusun strategi'
'Mistress, Destiny tengah mengukir nasibmu Fate akan menuntunmu kearah takdir itu. Cepat atau lambat semua sudah ditentukan'
'Baiklah aku mengerti, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu' Death tidak menyahut namun aku tahu dia masih disana dan mendengarkan. Karena aku masih bisa merasakan kehadiran Death didalam benakku.
'Mengapa skenario dalam hidupku berubah total? Dan aku merasa seperti berada di dimensi lain' hening menyapa namun tidak beberapa lama suara monoton itu kembali.
'Mistress, Destiny dan Fate mengubah semua hal namun masih satu tujuan. Sekarang kau hanya perlu melakukan peran dengan baik dari apa yang telah diberikan'
Setelah itu Death menghilang dan ketika aku membuka mata, sudah dalam posisi berbaring dan sendirian. Kurasa mereka melihatku tidur sambil duduk jadi mereka membaringkanku,dan membiarkan ku istirahat. Tapi aku merasakan sesuatu yang mengganjal dipikiranku. Apa yah?
Oh sial rapat malam ini! Aku belum memberitahu Ginny bahwa rapat akan tetap diberlangsungkan. Pasti Ginny mengumumkan tidak jadi karena kondisiku ini, ck berlebihan sekali. Aku pun pergi dari hospital wings dan menuju asrama, dan sial aku bertemu dengan seseorang yang menyebalkan.
"Mau apa kau?"
"He... sombong sekali kau nona kecil, tapi sayangnya kau terlalu cantik."
Aku menajamkan mata dan menggertakkan gigi serta mengepalkan kedua tanganku namun orang yang menghadangku tepatnya pemuda itu tidak menghiraukan dan memberi seringai bagai predator. Membuatku merinding. Dan tiba-tiba saja ia sudah mencekal lenganku.
"Lepaskan aku"
"He, ternyata tanpa pengawal yang mendampingimu kau itu sangat lemah yah"
Grrr berani-beraninya dia. Aku berjuang sekuat tenaga untuk melepas cengkramannya namun sial dia terlalu kuat dan tubuhku yang dalam kondisi tidak fit, ditambah pula lorong yang sepi karena sudah jam makan malam.
Siapapun tolong aku!
Tbc
