Chapter 14 : Die You Bastard!
Previous Chapter
Aku menajamkan mata dan menggertakkan gigi serta mengepalkan kedua tanganku namun orang yang menghadangku tepatnya pemuda itu tidak menghiraukan dan memberi seringai bagai predator. Membuatku merinding. Dan tiba-tiba saja ia sudah mencekal lenganku.
"Lepaskan aku"
"He, ternyata tanpa pengawal yang mendampingimu kau itu sangat lemah yah"
Grrr berani-beraninya dia. Aku berjuang sekuat tenaga untuk melepas cengkramannya namun sial dia terlalu kuat dan tubuhku yang dalam kondisi tidak fit, ditambah pula lorong yang sepi karena sudah jam makan malam.
Siapapun tolong aku!
Gadis bermarga Malfoy tersebut mulai lemah dalam pemberontakkannya, tenaganya sudah banyak terkuras saat melawan tadi. Ia tidak bisa melakukan sihir karena pemuda yang mencengkramnya ini melemparkan mantra untuk membuat dirinya kehilangan sihir sementara. Hingga tanpa sadar gadis tersebut menggunakan parselmouth.
"Brengsek kau Percy Weasley" desisnya marah, sementara pemuda yang disebut namanya terlihat terkejut mendengar desisan Nix yakni parseltongue. Membuat Percy bergidik takut dengan suara Nix yang serupa ular bagai siap meneteskan racun baginya. Namun karena dendamnya lebih kuat dibandingkan rasa takutnya ia membungkam Nix dengan bibirnya, atau dengan kata lain Percy mencium Nix dibibirnya, membuat Nix yang tidak siap akan menerima serangan yang tak terduga tersebut.
Hiks Ayah aku dilecehkan, siapapun tolong aku.
Batin Nix dengan pilu, ia sudah lelah memberontak dan kini ia menangis dalam diam, entah sejak kapan ia disandarkan didinding dengan bocah Weasley itu masih menciumnya mencoba mencari akses masuk pada mulut Nix yang rapat.
Percy POV
Sial aku tidak bisa mengendalikan diriku,rasanya seperti terhipnotis dengan gadis Malfoy ini, aku tau apa yang aku lakukan saat ini tidak bermoral dan bisa mendatangkan bahaya baik untukku atau keluargaku tapi sial gadis ini membuatku kehilangan akal sehat.
Percy Pov End
Al tengah berjalan menuju Hospital Wings karena merasa khawatir pada gadis kesayangannya yang saat ini tengah sakit hanya Al yang saat ini memiliki jam kosong, semua sepupunya sudah memulai kelas meski kalau bisa mereka semua ingin membolos, namun sayangnya mereka tidak gila dengan alasan menjaga Nix sampai bolos kelas meski mereka tidak berkeberatan. Namun yang menjadi permaslahan adalah Severus Snape akan membantai mereka dan melaporkannya pada orang tua masing-masing.
Diantara para sepupunya baik dari keluarga Black ataupun Bones, Al sangat menyayangi Nix meski gadis tersebut sangat mandiri ia masih sangat senang untuk memanjakannya. Untuk gadis seumur Nix biasanya adalah remaja putri yang akan senang di fashion, memikirkan pacar pertama atau orang yang ditaksir, ataupun tingkah remaja putri normal lainnya. Namun Phoenix tidak seperti itu, gadis tersebut hanya fokus untuk keluarganya, sangat senang belajar, bahkan menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca buku strategi perang dan sangat tenang serta terkendali yang jarang dimiliki oleh kebanyakan gadis seusianya Daphne pun terkadang bisa lepas kendali meski ia adalah gadis paling tenang di asrama ular tersebut setelah Nix.
Pemuda Gryffindor itu menyusuri koridor dengan langkah santai namun tidak lambat, sampai telinganya yang tajam mendengar sesuatu, seperti ada yang menghantam tembok dan juga gesekan sepatu. Segera ia menuju ke sumber suara karena ia memiliki firasat buruk mengenai suara tersebut terlebih suara itu berasal dari arah yang sama dimana ia menuju hospital wings dengan tungkai kaki nya yang panjang dan juga berlari tanpa sadar, Al sampai disana lebih cepat dan betapa terkejutnya dia melihat ada laki-laki kurang ajar tengah mencium sepupunya yang terlihat rentan dan sakit. Nix adalah harta yang sangat dijaga oleh para Black. Dengan langkah yang tenang hingga tidak menimbulkan suara namun tersimpan amarah dingin yang mampu membuat menggigil siapapun yang merasakan aura bahaya yang menguar dari tubuhnya. Pemuda keturunan Sirius Black tersebut menarik kasar tubuh pemuda yang sudah mencium bintang mereka, dengan kepalan tinju dan tenaga yang tidak main-main Al meninju pemuda tersebut hingga tersungkur yang mana itu adalah Percy Weasley seorang prefek di asramanya. Ia tidak peduli lagi dan sudah gelap mata, dengan brutal dia menarik kerah Percy dan meninju lagi bahkan menendangnya hingga menabrak tembok sambil meludah dan berkata kasar.
"Brengsek kau Weasley, selama ini aku diam karena kau tidak membuat ulah serta Twins yang memintaku untuk tidak mencabik-cabik Ron si bajingan kecil . Aku sudah menahan diri, dan aku akan membunuhmu."
Nix yang masih syok akhirnya tersadar begitu Al berteriak, dan melihat sepupunya sudah menodongkan tongkat dan hendak merapal kutukan gelap, dengan segera gadis itu menarik-narik lengan jubah Al sambil gemetaran dan membisu. Al yang merasakan tarikan dari sampingnya segera menengok dan melihat Nix gemetar serta wajah yang begitu kacau, ada jejak air mata dipipi putih chubby miliknya. Tatapan keras dan mematikan Al berganti menjadi lembut ketika melihat keadaan Nix dengan itu Al memeluk Nix dan menggendongnya seperti koala lalu memeloti Percy yang masih mengerang kesakitan, Gryffindor tahun ketiga itu mengancam sang prefek sebelum pergi.
"Berani kau meletakkan jarimu pada bintang kami, aku pastikan keluargamu hancur dalam sekejap dan kau, ku pastikan membusuk di Azkaban hingga tiba saatnya menerima ciuman dementor!"
Dan Al yang menggendong Nix berlalu dari sana, pemuda itu tidak mempercayakan Nix untuk tinggal di hospital wings, tidak setelah ia melihat gadis kesayangannya dilecehkan ditempat yang seharusnya aman bagi anak-anak. Ia akan meminta tabib pribadi keluarga Black atau Malfoy untuk merawat kesayangannya. Pertama-tama ia akan membawanya ke Asrama Slytherin dan mengirim surat pada ibunya untuk menuntut Albus Dumbledore karena sudah lalai dalam tugasnya untuk menjaga siswa agar memiliki rasa aman disekolah. Dan juga ayahnya serta Paman James selaku auror untuk menindaklanjuti perbuatan hina tersebut. Mengingat hal tersebut pemuda itu mulai menggeram bagai binatang buas dan mata onyx-nya menyala dengan ganas dan hasrat membunuh yang pekat. Black adalah orang-orang yang pendendam dan posesif terhadap miliknya sendiri, baik itu keluarga, teman, ataupun pasangan bahkan barang-barang mereka.
Kembali Al merasakan satu tarikan pada jubahnya lalu ia menatap Nix. Sorot bengis dikedua matanya kembali melembut tatkala netranya menangkap wajah sang sepupu. Al melihat kedua pipi Nix memerah menahan tangis, begitu juga bibirnya yang digigit tanpa sadar melukainya karena terlalu keras gigi menekan dibibirnya, jempol kanan Al terangkat dan mengusap setitik darah yang muncul dibibir yang terluka itu dengan perlahan.
"Ada apa Princess? Apa kamu butuh sesuatu? Dan tolong jangan lukai bibirmu, kamu masih sakit perlu banyak beristirahat." Pemuda itu berkata sangat lembut.
"Al..."panggil Nix parau membuat hati Al mencelos jika bukan karena Nix, ia akan mengutuk Percy. "Aku ingin orang tuaku dan Draco" pinta Nix. Tubuh Nix masih bergetar dalam gendongan Al. "Aku akan membawamu ke asrama Princess, shusshh tenanglah Princess kamu aman aku memegangmu." balas Al sambil mengelus rambut panjang Nix dan punggung mungil gadis itu, mulutnya terus menggumamkan kata-kata menenangkan dan penghiburan tersebut guna menenangkan Nix dari tremor, ia mempercepat langkahnya untuk ke asrama ular.
Pemilik nama lengkap Alfa Alphard Black ini menarik napas lega mendapati Marcus Flint, Cassius Warrington, Graham Montangue serta Miles Bletchey ada di depan pintu Slytherin tengah menunggu. Satu hal yang ia ketahui dengan pasti dari keluarga Black lainnya adalah Slytherin akan saling melindungi. Ia pun menyerahkan Nix pada Marcus karena ia mengetahui betapa kapten Quidditch Slytherin itu memuja Phoenix dalam arti sebagai junjungan di Slytherin sebagai Lady Slytherin yang pantas dalam memimpin para ular.
Melihat tubuh Lady-nya yang mengigil serta wajahnya yang pucat membuat Marcus meminta Cassius dan Graham untuk membawa Nix kedalam dan memperingatinya untuk bersikap hormat serta lembut, sementara Alfa menatap Prefek Slytherin tersebut dengan datar lalu memberitahu Marcus apa yang terjadi dengan tenang, meski Marcus tahu bahwa itu adalah ketenangan yang menipu sebelum menghabisi lawan, karena Black terkenal tidak akan melepaskan mangsanya sedikitpun dan tidak kenal ampun. Kini Alfa dan Marcus pergi mencari Severus Snape dan juga Minerva McGonagall, sementara untuk para sepupu Al menyuruh Graham untuk memanggil mereka.
Kejadian yang menimpa satu kembar Malfoy menyebar dengan cepat dikalangan asrama ular tersebut. Sebagian besar siswa maupun siswi Slytherin yang berada di common room mengawasi Lady mereka. Tanpa komando mereka mengelilingi Sang Lady walau memberikan jarak, tidak terlalu dekat ataupun jauh namun masih bisa menatap Lady mereka agar sewaktu-waktu bila dibutuhkan mereka akan dengan mudah melayani Phoenix. Meski begitu, masih ada yang berbincang dengan pelan,mengerjakan tugas ataupun membaca buku, namun mata mereka sesekali tertuju pada Nix yang masih duduk diam di sudut kiri dekat perapian, mata gadis Malfoy tersebut menatap kosong pada benda dihadapannya namun pikirannya melanglang buana entah kemana.
Ginny Potter dan Astoria Greengrass mempercepat langkah mereka menuju asrama, begitu mendengar kabar mengenai Nix dan Al dari Evan Malcom anak Slytherin yang seangkatan dengannya untuk mengabari kedua gadis tersebut atas suruhan Miles, anak itu tampaknya senang bergosip layaknya perempuan. Astoria dan Ginny segera berjalan setengah berlari menuju asrama. Ginny benar-benar mengutuk Percy dan bersumpah akan menghabisinya meski ia berbagi darah namun ia tidak sudi mengakui seorang penjahat, urusan dia menghadapi para saudara lainnya adalah urusan belakang, bahkan bila itu harus menghadapi ibu kandungnya.
Hati kedua gadis itu mencelos mendapati Nix yang masih sangat pucat sedang melamun dan sesekali air mata lolos membentuk aliran sungai kecil di pipi pucatnya meski tanpa suara, mata gadis melamun itu terlihat memiliki pandangan yang kosong yang menakutkan seolah tidak ada kehidupan dan tidak merespon apapun. Ginny langsung memeluk Nix, dan Astoria disampingnya mengusap punggung Nix dengan lembut.
"Aku ingin orang tuaku dan Draco" pinta Nix dengan suara yang kecil setelah beberapa waktu masih membisu yang membuat semua orang khawatir.
Tanpa berucap Astoria segera menghubungi Malfoy Manor, sedangkan Ginny menghapus air matanya yang tak ia sadari keluar dan masih memeluk Nix, kakak perempuannya yang paling ia sayangi. Ginny yang terkenal lembutpun kini memiliki pandangan membunuh, rambut merahnya sedikit kaku karena amarah, mata biru khas Weasley kini menggelap penuh kebencian, otaknya segera menyusun rencana pembalasan, pertama-tama ia harus bertemu Daniel Potter kakaknya, karena Daniel adalah King Of Gryffindor, pasti ia akan bisa mengurus Percy, selanjutnya ia akan ikut para Black dalam menyiksa Percy ataupun pengganggu lainnya yang akan datang nanti. Bibir gadis angkat keluarga Potter tersebut menampilkan seringai sadis dan hawa suram, membuat sebagian siswa yang melihatnya merinding.Dengan pikiran tersebut Ginny meminta tolong pada siswi Slytherin yang lain untuk menemani Nix. Ia pun segera berlari menuju kelas Daniel.
Sementara itu Astoria yang sudah menghubungi keluarga Nix, namun tidak ada yang menjawab fire call-nya seketika gadis manis tersebut menjadi jengkel, namun ia terus menghubungi keluarga Malfoy. Karena Lucius sedang berada di Gringotts bersama Narcissa tentu gadis tersebut menjadi sangat lama menunggu orang untuk menerima panggilannya. Namun panggilan Astoria yang sejak tadi diabaikan kini di terima oleh Abraxas dan Greengrass termuda itu segera memberitahu apa yang terjadi dengan Phoenix, membuat mantan kepala keluarga Malfoy tersebut langsung menuju Hogwarts.
Abraxas menggunakan jaringan Floo dan setelah sampai di Common Room Slytherin, mata biru keperakkannya menemukan sang cucu perempuannya tengah tertidur dipelukkan gadis bungsu Greengrass. Tanpa kata, Astoria perlahan mundur tanpa membangunkannya dan hanya duduk di sofa lainnya ketika Lord Abraxas mengambil alih. Nix merasakan tangan besar yang akrab sedang mengusapnya dengan lembut, tubuh mungilnya pun dipindahkan kepangkuan yang ia ketahui itu adalah kakeknya. Perlahan ia mengerjapkan matanya dan memfokuskan pandangan menatap sang kakek dan terlihat ingin menangis kembali, bibirnya bergetar dan memaksakan suara keluar darinya.
"Ka-kakek, hiks...hiks.. aku merasa kotor dan tidak pantas sebagai contoh Lady yang sempurna, seperti yang diajarkan Mother dan keluarga Black. Mereka pasti kecewa dan jijik padaku" ujar Nix pelan sambil terisak, hati sang kakek terasa panas mendengar ratapan sang cucu kesayangan karena seorang bajingan kecil yang kotor, namun dengan pengendalian yang luar biasa ia menekan itu dan membisikkan kata-kata yang menenangkan "Shusshh tidak apa-apa sayang, kamu tidak perlu khawatir Princess itu kecelakaan. Aku tidak marah padamu, dan yang lainnya akan memahamimu. Bila ada yang berani menghinamu, percayalah aku sendiri yang akan menghabisinya untukmu Little Princess"
Selang beberapa saat kemudian, semua sepupu Nix kecuali Alfa dan Draco bahkan Daniel ditemani Ginny sudah ada di commom room slytherin, wajah mereka menyiratkan kebengisan dan haus darah aura pureblood yang berkuasa dan superior menguar dari mereka meski masih muda. Lalu Profesor Snape masuk dan diikuti Profesor McGonagall. Alfa memposisikan dirinya sejajar dengan para sepupunya.
"Lord Abraxas, maaf atas kelalain ini yang menyebabkan kerugian pada Miss. Malfoy" buka suara McGonagall dengan tegas namun lembut.
"Aku ingin bocah kurang ajar itu diberi pelajaran dan menurut etika bangsawan ketika seseorang berani melecehkan anggota keluarga pureblood haruslah dicambuk dan dituntut pada pengadilan keluarga korban" ujarnya dingin tanpa celah untuk dibantah, Profesor Transfigurasi itu tahu betul mengenai aturan tersebut terutama yang berasal dari darah bangsawan kuno yang masih memegang erat tradisi.
"Baik aku akan mengkonfirmasi dan memberikan kabar ini pada Kepala Sekolah dan juga keluarga Weasley."
"Minerva sepertinya kau melupakan sesuatu, biar kukatakan. Aku ingin kau mendetensi bocah itu dan juga Ronald Weasley beserta teman-temanya karena aku menangkap bahwa mereka mengganggu ular-ularku dan dengan sengaja memprovokasi. Dan satu lagi aku mengambil 150 poin dari Gryffindor dan kau juga harus mengurangi poin asramamu itu karena tindakan anak singamu yang sudah keterlaluan" ujar Severus menyunggingkan seringai sombong. McGonagall megap-megap dan terlihat marah terlebih Severus sendiri memberikan bukti tindakan anak singanya, dengan kejam dan tegas profesor transfigurasi itu memotong poin asrama gryffindor hingga 300 poin, ia begitu kecewa karena gagal mendidik para singa dan diperparah di Albus yang tampak memanjakannya hingga membuat para singa nya menjadi idiot yang kasar. Pemandangan tersebut membuat para slytherin tersenyum sombong, sementara Al dan Daniel tidak begitu peduli selama Phoenix bisa aman, poin asrama bukanlah apa-apa.
Setelah McGonagall pergi untuk memberi tahu kejadian ini pada kepala sekolah, serempak mereka tersenyum menyeramkan dengan hawa suram yang berat dan berbisik pelan dengan tenang namun sarat akan kedengkian dan janji pembalasan dendam
Die You Bastard!
Tbc
Hika : Yo brotah and sistah apa kabar? Sehat selalu yak
Ka Xie : Nak kemana saja kau hah? Readers jamuran tuh nungguin?! kalau berani bilang malas emak taro nanti di kandang Nagini.
Hika : Ampun mak, Emak jangan kedjam napa sama aing/kitty eyes, dan gagal malah digetok centong sayur/
Ka Xie : Gausah melas, jawab aja napa. Jangan bertele-tele udh kek grab nyasar gak tau juntrungannya.
Hika : Ish, iya iya. Jadi begini readers ku yg budiman nan cogan atau cecan yang tengah membaca ini. Aing itu sibuuuuuuuuuuukkkkkk banget nget nget kalau ada waktu longgar aing gunain buat istirahat, sempet jatuh sakit juga, selain itu aku ngalamin stress lagi dan curhat-curhatan ala mamah dedeh.
Ka Xie : Huft yah memang begitulah Hika, harap saling memaklumi yah, saya jg jadi tong sampahnya Hika soalnya, dan sebaliknya jg. Ingat kami author itu manusia bukan robot.
Hika : Dan aku mau ksh wejangan buat kalian yah. Baca baik-baik resepin ke otak, aing mau ngegas nih kek motor racing. WOIII LU PADA KAUM READERS YG HOBI KOMEN NEXT NAX NEXT MENDING KAGAK USAH KOMEN NYAMPAH AJA LU, KALO OGAH KOMEN KSH BINTANG AJA KALO KAGAK YAUDAH GAK USAH LU LAKUIN KAMPANG. DIKATA NIH AUTHOR KAGAK ADA KEHIDUPAN DI RL NYA? SUE BENER LU KAUM-KAUM PENUNTUT KOMEN NEXT, KALO TULISAN JELEK LU HUJAT, KALO GAK SESUAI EKSPETASI LU NGEDUMEL. MAU LU APA SIH? KALO MAU SESUAI YANG LU IMPIKAN DIBENAK LU TUH CERITA ELU AJA SONO YANG BUAT. AUTHOR NULIS BUKAN BUAT NGIKUTIN APA MAU LU, INI BUKAN GW DOANG TAPI SEMUA AUTHOR YANG NGALAMIN SAMA KEK GINI. SIALAN EMANG. TAU DIRI DAH LU PADA YANG SUKA KOMEN NEXT DOANG, MENDINGAN NEXTAR BISA DIMAKAN.
Ka Xie : Udah selesai unek-uneknya?
Hika : Udeh Mak, btw aing minta maaf kalo tuh kata-kata kasar abis kadang warga 62 dikasarin dulu baru sadar, meski kadang ada jg yang gak kek gtu. Tapi sekali lagi mon maap, bubay semuanya. Salam sayang, cinta, gesrek dari Hika dan Ka Xie
Ka Xie ada bonus pict untuk cast dari tokoh PM, dan untuk tokoh lainnya seperti Corvus, Pollux, Daniel dan Alice Reed(istri Regulus Black yg orang jepang) itu silahkan kalian beri saran kami. Misal yg jadi Corvus nya Justin Bieber aja kak, terserah kalian. Nanti tingal kami bandingkan deh siapa yg cocok. Jadi mohon bantuannya yah Readers Budiman nan cogan atau cecan.
Tom Holland as Alfa Alphard Black
Kento Yamazaki as Leo Arcturus Black
