Chapter 15 : The Revenge Pt 2
A/N : Diperingatkan bagi kalian pembaca yang baik hati dan berbudi luhur para cecan atau cogan untuk meninggalkan jejak, berupa bintang dan komen nya. Atau kalau kalian males, cukup baca dan gausah aneh-aneh dengan komen "Next" atau "Next ka/author" kalau sampai ada komen kek gitu jangan salahkan saya atau Ka Xia untuk gak update bukan hanya berbulan-bulan mungkin dlm jangka waktu yang gak ditentukan bisa aja setahun.
Itu ultimatum dari kami. Ingat itu Saya dan Hikari sudah capek ngotak dan ngetik, kalian tinggal baca aja gak usah banyak mau nya kalau cuma kasih komen kek gitu, kecuali kasih saran yang berguna untuk pengembangan cerita ini bukan sekedar ngatur. Inget kami punya kehidupan di RL bukan nolep. Paham kalian?!!
Phoenix Malfoy
Setelah adanya pembicaraan tersebut dan juga sekembalinya keceriaan Phoenix, para orang tua pulang kekediaman masing-masing dan tentunya memberikan nasihat pada anak mereka masing-masing untuk selalu berhati-hati dengan Albus Dumbledore dan beberapa antek-antek dalam pelatihannya. Phoenix sendiri dibawa pulang dan beristirahat dirumah saja untuk menenangkan diri dahulu atas saran Severus yang diterima dengan sangat baik oleh Narcissa dan Lucius.
Sementara itu kita beralih pada Albus Dumbledore yang kini ada di kementrian tengah berbincang dengan Cornelius Fudge Menteri yang tidak kompeten dan hanya peduli jabatannya meski banyak sekali korup didalamnya. Dengan sepoci teh dan beberapa kudapan manis dimulai perbincangan tersebut.
"Cornelius temanku yang baik, bisakah kau membantuku? Aku tengah khawatir dengan dua muridku yang diancam oleh keluarga yang memsupremasikan darah murni mereka yang kuduga sebagai pelahap maut yang loyal pada Voldemort" ungkapnya dengan kekhawatiran yang sangat meyakinkan didukung oleh wajah simpati ala kakek baik hati.
"Oh benarkah itu Albus? Tolong ceritakan padaku biarkan aku membereskannya dan menunjukkan bahwa kementrian tidak boleh ditentang dan benar" ujar Cornelius dengan sombong dan menunjukkan betapa dia berkuasanya atas pemerintahan dunia sihir, jujur saja Albus merasa muak dan ingin mengirim heks namun ia sadar itu hanya menghambat saja dan membuang sihir dengan percuma.
"Ya, kau tahu mengenai Malfoy? Kurasa Lord Malfoy memiliki kesalahpahaman dan juga menarik kesimpulan berlebihan dalam menangani hal yang biasa dilakukan remaja" ujar Albus dengan nada keprihatinan palsu yang sayangnya tersamarkan. Laki-laki tua dan manipulative ini menceritakan perkara kejadian dengan modifikasi disana-sini, membuat seolah-olah itu hanyalah kenakalan remaja biasa dan dapat ditolerir berbeda dengan cerita yang sebenarnya. Cornelius yang bodoh tentu saja percaya dengan mudahnya.
"Tapi Albus, kurasa keluarga itu tidak akan menyerah dengan mudah terlebih Lucius sudah bekerja untukku sudah dipastikan ia memiliki hak untuk menuntut, ia memiliki suara di wizengamot suka atau tidak nya kau Albus, ku yakin ini tidak akan mudah"
"Cornelius tenang saja, setiap hal ada celahnya sekecil apapun itu bisa kita manfaatkan. Disini aku menemukan celah, keluarga Malfoy adalah lingkaran pureblood baru di Inggris, mereka adalah imigran dari Perancis beberapa abad lalu sehingga ia tidak bisa menuntut begitu saja terhadap kementrian"
"Oh kau benar Albus, baiklah ketika akan ada pengajuan siding aku akan memotongnya"
Albus yang mendengar hal tersebut tentu saja puas dengan hasil perbincangan, dan segera ia pamit dari sana tidak ingin mendengarkan omong kosong dari Menteri bodoh namun berguna baginya untuk tetap menguasai Hogwarts dan mengembangkan senjata potensial dari beberapa murid untuk ia susupkan di setiap sendi dunia sihir hingga akan memudahkannya mengejar kekuasaan yang ia impikan.
Satu hal yang pak tua itu lewatkan, keluarga yang dilawannya bukanlah keluarga sembarangan. Dan sepertinya ia akan medapatkan kejutan nanti.
Beralih saat ini di Riddle Manor, disana terdapat gadis kecil berambut hitam dan bermata zamrud tengah berbicara diruang rahasia milik Lord Riddle dengan basilik yang menjadi tempatnya bersandarnya. Gadis tersebut adalah Phoenix Malfoy yang kini berpenampilan seperti Harry Potter versi perempuan. Hal ini dikarenakan amarah dan kekuatan sihirnya yang besar mempengaruhi bola mata tersebut sehingga kembali pada wujud aslinya. Tom yang merasakan rembesan sihir yang kuat dan tidak biasa ini menuju sumber sihir tersebut dan menemukan Phoenix yang bersandar dan bergumam pelan pada basiliknya Mortem.
'Mortem ada apa dengan Phoenix?'
'Hatcling, ingin berbicara denganmu, dengarkanlah dia sampai selesai dan jangan menyela.' setelah mengucapkan itu Mortem pergi ke ruangan sebelahnya.
'Kakek bila aku menceritakan kebenaran apa kau akan marah dan membenciku?'
'Tergantung dengan informasi apa yang kudapat nanti Heiress of Darkness, tapi soal membenci kurasa aku tidak mampu membenci penerusku sendiri.'
'Kakek bawakan aku pensieve kalau begitu, dan bila kau akan membunuhku setelah ini katakan pada semua orang aku menyayangi mereka.'
'Semarah apapun aku, aku tidak mungkin membunuhmu itu adalah hal terlarang. Sebelum aku melukaimu lebih baik aku membunuh diriku sendiri.'
Tanpa diucap dua kali, Tom segera menyuruh peri rumahnya Mipsy untuk membawakan pensieve, dan beberapa detik kemudian pensieve tersebut sudah ada didepan Tom. Phoenix berjalan kearah pensieve dan menarik ingatannya dengan tongkat sihirnya, lalu menggandeng Tom untuk memasuki ingatannya.
'Tidak kumohon jangan Harry…jangan Harry…jangan Harry'
'Minggir kau wanita bodoh, aku akan membunuh anak nakal itu dan kau bisa hidup'
'Kumohon jangan Harry dia hanya bayi'
'Minggir atau kau memilih mati!'
'Kumohon kasihinalah Harry, jangan dia..kumohon'
'Avada Kedavra'
Tom yang melihat itu sangat syok, itu adalah gambaran dirinya dirumah Potter dan hendak membunuh bayi berumur 18 bulan, Tom menatap Phoenix dengan tidak percaya, tatapannya menyiratkan pertanyaan dan dimengerti oleh gadis itu "Ya kakek, aku adalah reinkarnasi dari Harry Potter disaat malam Samhain atau Halloween 31 Oktober saat kejadian itu berlangsung karena sebuah ramalan. Apa kau masih ingin melanjutkan ini?". "Ya lanjutkan aku perlu tahu semua nya"
Gambarpun berganti dimana Severus Snape terlihat sedih dan melihat bayi itu dengan tatapan yang sulit diartikan dan berlalu dari sana setelah memeluk Lily Potter, hingga datang Sirius Black menggendong bayi Harry sambil terisak karena kedua sahabat baiknya telah tiada, namun Hagrid datang dan mengambil Harry dari tangan Sirius. Sementara Sulung Black tersebut entah pergi kemana yang diberitahu Phoenix mengejar pengkhianat dimana itu wormtail, Tom bersyukur sudah membunuh tikus tersebut dikehidupan ini. Lalu berlanjut dimana Minerva McGonagall dan Albus Dumbledore serta Hagrid menaruh bayi Harry dikeluarga Dursley meski terlihat Minerva begitu enggan meninggalkannya.
Kini berganti kembali gambaran mengenai Harry berusia tiga tahun yang memiliki tugas rumah tangga yang tidak mungkin ditanggung oleh anak sekecil itu, Tom mengepal rahangnya dan bersiap akan membunuh itu mengingatkannya akan masa kecilnya, dan semakin ia melihat gambaran itu semakin murka dan merasa bersalah, hingga ketika Harry berusia sembilan tahun, Tom melihat salah satu rekan paman Harry melakukan pelecahan seksual meski tidak sampai mengambil kesuciannya dan Harry kecil dengan tidak sengaja mengeluarkan sihirnya dan kabur hingga ketika pulang anak itu mengalami penyiksaan yang tidak manusia. Tom melihat Phoenix bergetar dan terlihat bisa terjatuh ataupun pingsan saat ini, dengan sigap Tom menggendongnya dan memeluknya. Pantaslah ketika Nix dicium oleh bocah itu ia ketakutan.
. Gambar demi gambar terus berganti menceritakan kisah Harry Potter dari tahun pertamanya hingga ditahun kelima, dimana Harry bertarung melawannya di kementrian sihir di ruang ramalan. Dan kehilangan Sirius akibat Bellatrix yang melemparkan kutukan padanya hingga terjatuh di Veil of Death. Dan berlanjut ditahun keenamnya dimana Harry berburu semua hocruxnya setelah kematian Dumbledore dan ditahun ketujuh mereka kembali bertarung dihutan kematian Harry berhasil membunuhnya dan seorang pelahap maut yang sekarat berhasil menembakkan kutukan pembunuhan pada Harry namun bertepatan dengan itu ia melihat Harry dan Albus Dumbledore tengah berbicara disebuah limbo dengan kereta Hogwarts kuno berwarna merah klasik yang dipakai sejak dulu. Dan kenangan berhenti disana, hening merajai keduanya karena banyak pikiran yang berpacu dikepala, namun dipecahkan oleh Phoenix.
"Jadi apa kau akan membunuhku kakek?"
"Tentu saja tidak, aku tidak akan melakukan hal gila seperti itu. Kurasa aku menemukan kejanggalan disini, apa ini sudah semuanya?"
"Antara ya dan tidak, apa yang kau lihat itu adalah kebenaran dan sisanya aku harus meminta izin dahulu bila aku ingin menumpahkan rasahia terdalam. Jadi jangan mendesak ku dahulu"
Tom mengangguk dan menyuruh Phoenix beristirahat dikamar yang memang khusus disediakan baginya di bagian Riddle Manor ini bila datang menginap. Waktu terus berlalu dan selesainya mereka makan malam Nix meminta waktu Tom untuk kembali ke pembicaraan mereka tadi siang. Tom membawa mereka keruang kerjanya, dan duduk disofa nyaman dekat perapian.
"Jadi kau sudah siap?" tanya Tom.
"Ya" dan dengan jawaban singkat itu muncullah sesok berjubah hitam besar dengan tudung menutupi kepala dan wajahnya ditangan kirinya tengah memegang sabit, itu adalah Death.
"Mistress ada apa memanggilku?" ujar suara dingin tersebut, membuat Tom sedikitnya menggigil, dan juga takjub karena penerusnya merupakan Master of Death.
"Death jelaskan pada kakek Tom, dan juga pembicaraan kita" perintah Phoenix.
"Baiklah, Thomas Marvolo Riddle atau kau seharusnya Thomas Marvolo Slytherin seharusnya kau adalah master of death karena berkah sihirmu namun karena jiwamu yang telah rusak saat pembuatan hocrux, Time, Destiny, dan Fate mengutukmu. Hingga dengan kebaikan yang dibawa oleh keturunan Potter dan juga tenunan takdir mengenai ramalan malam samhain itu. Kami berharap dunia sihir menjadi lebih baik, namun sekali lagi hal itu dikacaukan oleh kelemahan Albus Dumbledore dengan pikirannya demi kebaikan yang lebih besar. Ia sendiri bukanlah dirinya melainkan ia dikendalikan orang lain hingga ketika sadar ia memilih mati, dan aku tidak bisa mengatakan siapa itu. itu adalah tugas Phoenix dan juga kau Tom. Harry terlahir kembalipun atas perintah Fate yang kini menjelma menjadi Phoenix Malfoy, jagalah dia dengan baik"
Dengan itu Death menghilang, sunyi merayapi ruangan tersebut hanya derak kayu dimakan api yang samar memecah kesunyian itu. Phoenix pun beranjak dari sofa hendak kekamarnya setelah mengucapkan selamat malam yang tidak ditanggapi Tom, namun ketika gadis itu hendak memegang kenop pintu Tom membuka suaranya. "Apa isi ramalan itu?"
"Akan datang kekuatan yang tidak diketahui mengalahkan Pangeran Kegelapan dengan ditandai dia yang sederajat dan menentangnya tiga kali, lahir pada bulan ketujuh akhir." "Dan kau menandai aku sebagai tandinganmu, dan dimasa ini mengapa kau seharusnya menghadapi anak keluarga Potter itu tidak terjadi karen Fate dan Death mengubah tenunan takdir yang mana Destiny juga kembali merajutnya. Kau tahu kakek? Seharusnya keluarga Black yang tersisa hanyalah Bellatrix dan Narcissa karena Andromeda dipungkiri dari keluarganya. Namun sebagai hadiah untukku semua alur yang ku ketahui diubah, namun aku harus tetap mengganti nyawa yang seharusnya mati"
"Oh itu sebabnya, terkadang kau menyuruhku untuk mengambil nyawa orang yang kau kehendaki atas perintah Death saat kau meminta kado ulang tahunmu ke 9?"
"Bisa dibilang begitu, dan selamat malam kakek"
"Malam Nix"
Kita beralih pada keluarga Weasley, kini Molly Weasley terlihat ketakutan saat Arthur memberi surat peringatan dari keluarga Malfoy padanya dengan tatapan terdingin yang belumpernah dia lihat sebelumnya. Arthur tidak ingin berbicara apapun, terlampau marah pada Percy dan Ron serta istrinya yang terlihat terlalu memanjakan anak-anak itu karena pikiran mereka selaras berbeda dengan anak-anaknya yang lain serta Arthur.
"Aku tidak akan menyangkal ataupun mengelakkan hal ini, bila memang harus melalui sidang keluarga aku tidak membantu. Sudah cukup Molly, kau sudah membuang Si Kembar lalu Ginny anak perempuan kita satu-satunya. Sekarang kau membuat masalah melalui anak-anak yang kau manja. Molly sadarlah kau jangan mengikuti Albus dengan membabi buta."
"Diam Arthur! Kau tidak tahu betapa baiknya Albus membantu kita dengan melindungi kita dari pelahap maut busuk, Percy mendapat gelar Prefek nya dan Ron bisa berrteman dengan anak kelas atas. Dan Si Kembar dirawat oleh Black dan Ginny dirawat Potter, aku bisa meminta bantuan mereka untuk melepas hukuman itu pada kakak-kakaknya. Aku tidak membutuhkanmu"
"Kau wanita sombong Molly!" dengan itu Arthur keluar dari rumahnya dan pergi kekementrian untuk bertemu Sirius Black, agar dipertemukan pada si kembar dan memberitahukan hal ini pada mereka.
