VOCALOID © Yamaha Corp. & Crypton Future Media, Inc.


SECOND. Supermarket

"Len, Mama mana?"

Si bungsu ngelirik sebentar sebelum lanjut pake jaket. "Belum balik."

"Lah terus ini siapa yang ngasih?" Rin mengangkat sekotak bolu gulung dari atas meja.

"Oh itu dari Tante Luka, tadi nyariin Mama. Terus karena Mama nggak ada, dia nitipin itu."

Rin manggut-manggut.

"Boleh gue makan?"

"Terserah. Tapi jangan lupa sisain buat gue." Setelah ngomong gitu, Len jalan ke teras buat pake sepatu. Rin ngekor di belakang kaya anak bebek. Bolunya udah diletakkin di meja makan.

"Terus ini lo mau pergi ke mana?" tanyanya.

"Mau ke supermarket depan komplek, cari makan," jawab Len yang sedang berjongkok, tali sepatu diputer-puter. Duh ini gimana lagi cara ngikatnya. Gini nih kalo udah kelamaan bolos kegiatan pramuka, cara ngikat simpul aja lupa.

"Loh kan ada bolu gulung di dalem."

"Nggak cukup, Rin. Lo aja kalo makan kaya godzilla busung lapar yang baru dapet makan. Boro-boro setengah, secuil pun kali gue nggak kebagian."

Len hampir terjungkir ke depan karena punggungnya disepak dengan kekuatan titan colossal.

"WOY HAMPIR MATI GUE!"

Rin mendengus keras-keras. "Gue nitip dong."

"Apaan? Kerja lo nitip aja tiap gue ke supermarket. Gerak juga dong, olahraga, ntar jadi kuda nil mampus – eh ampun, plis jangan tampar gue pake itu!" Len langsung memohon kerendahan hati dari Yang Mulia Ratu Kagamine Rin ketika doi udah megang sandal jepit di tangan siap memberi pelajaran.

"Yaudah makanya gue nitip!" tukas Rin. Tangannya udah meraba-raba saku celana nyari lembaran uang tapi nihil, tidak ditemukan. "Uang gue di mana ya gue simpen?" ia bertanya retoris pada diri sendiri.

"Ogah ah. Kalo mau yuk jalan bareng gue. Nggak mau juga gue disangka jomblo ngenes jalan sore-sore sendirian." Mana ngelewatin taman yang penuh sama kapel-kapel laknat lagi.

Rin terkekeh geli. "Bukannya hidup lo emang udah ngenes?"

"Yaelah ikut apa nggak nih?"

"Iya, sabar, sabar, gue ambil jaket dulu." Dengan itu Rin langsung berlari ke kamar. Len sendirian di luar, udah kelar ngikat tali sepatu, yang hanya alakadarnya. Bodo amat sama simpul pramuka. Tanpa sepengetahuannya, ternyata itu ikat mati. Pas balik nanti baru kicep dia karena nggak bisa dibuka.

"Nggak usah pake mekap kali, Rin, kita cuma ke depan komplek."

"Siapa juga yang mekapan! Lo kira gue tante-tante menor?!" Rin jalan cepet-cepet keluar kamar.

"Eh, Kakak, Abang. Mau ke mana?"

Dua pasang manik aquamarine bergerak menuju sumber suara. Mama Meiko membuka high heels-nya, kemudian menatap sepasang kembar fraternal di hadapannya. Baru pulang kerja.

"Eh, Ma. Iya, mau ke supermarket nih bareng Len, nyari makan."

"Tumber kalian berdua akur."

"Akur apanya, cuma genjatan senjata kok, Ma. Sumpah, Len nggak bohong!"

"Genjatan senjata apa. Bukannya lebih bagus kalo kalian beneran akur gini. Mama pun kan jadi adem liatnya."

"Hush, Ma, jangan bicara yang enggak-enggak deh."

"Bener, ntar kalo jadi kenyataan gimana?!" Rin ikut menimpali.

Mama Meiko cuma geleng-geleng kepala. "Oh iya, kebetulan kalian ke supermarket, tolong belikan minyak goreng ya," katanya sambil menyodorkan uang dua puluh ribuan ke tangan anak lelakinya. "Lebihnya kalian bagi dua."

Rin menatap uang di tangan Len sekilas, sebelum balik lagi menghadap Mama Meiko. "Hm, tapi, Ma, Rin nggak yakin itu ada –"

"Udah deh buruan pergi sebelum magrib." Bahu si kembar di dorong. "Hati-hati di jalan. Len, jagain Rin baik-baik."

"Apaan, Ma, kita bukannya mau take off ke luar negeri kali." Len kemudian menarik pergelangan tangan Rin. "Yok, jalan, jangan ngelamun."

Sambil menyamakan langkah dengan Len, Rin merotasi kedua bola matanya. Tangannya gandengan dengan saudaranya. "Bawel banget sih," gadis itu menggerutu. Keduanya mulai menjauhi pekarangan pagar rumah.

Udara sore emang dingin-dingin gimana gitu. Untungnya Len pake jaket, Rin juga. Kalo semisal Rin nggak pake, kan dia harus ngasihin jaketnya ke Rin.

Eh, iya dong, Len kan saudara yang baik.

"Katanya lo marahan sama Miku... iya?" Len bertanya skeptis. Gawat juga kalo Rin jadi marah gara-gara dia salah nanya. Bisa-bisa Len dilempar ke dalam taman berisi berpasang-pasang makhluk halus di pusat komplek. Sumpah, dia lebih baik diceburin ke kolam air es daripada dilempar ke sana.

"Kok lo tau?"

"Beritanya menyebar cepat banget di sekolahan kali. Mana lo femes begitu."

"Kaya lo enggak."

"Ya tapi intinya bukan itu."

Rin diam sejenak. Len sempat mikir kalo kakaknya itu bakal meledak karena amarah.

"Biasalah. Masalah cewek," jawab Rin singkat.

Hm, terus. 'Masalah cewek' itu gimana bentukannya? Len nggak ngerti.

Baru mau nanya lagi, tiba-tiba Rin menyela. "Tuh supermarketnya udah keliatan."

Mau nggak mau Len harus menelan pertanyaannya bulat-bulat. Yah mungkin bukan waktu yang tepat. Dia bisa nanya lain kali.

"Selamat datang di Indokaret."

Udah di luar dingin, di dalem malah tambah dingin gara-gara AC. Rin saling gosok lengan, yang tidak luput dari perhatian Len.

"Dingin?"

"Iyalah, namanya juga ruangan berAC."

"Bener sih." Len mendadak ngerasa bego udah nanya. "Sini gue genggam biar anget." Aduh si abang ini baik banget deh.

"Sini gue pukul kepala lo biar mampus."

"Niat gue baik loh padahal."

Ya gitu-gitu 'kan Len sayang banget sama Rin. Walaupun sering berantem.

Sepasang kembar berbeda jenis kelamin itu pun menyusuri rak-rak penuh makanan ringan. Di tangan kiri Len ada satu keranjang merah, sementara tangan kanannya dengan cepat menyambar segala macam makanan yang dikiranya enak. Kalo Len pake satu tangan, Rin main nyambar pake dua tangan sekaligus. A la profesional, katanya. Meh, padahal emang dasarnya barbar.

"Udah? Masih ada yang mau dibeli?"

Rin coba mengingat. "Ohhh! Minyak goreng Mama!"

Len bersyukur dalam hati. Untung ada Rin yang ingat. Kalo sempat lupa, bisa-bisa mereka berdua disuruh balik lagi, nggak peduli mau tengah malam atau bukan. Mama Meiko 'gitu orangnya. "Rak minyak di sebelah sana deh kayanya." Len nunjuk ke salah satu rak.

"Hm, Len?"

"Ya?"

"Banyak banget ya minyaknya."

"Iya."

"Ada yang botol kecil dan besar, ada yang model refill juga. Banyak jenis merk lagi." Matanya menjelajahi sepanjang rak dari atas, bawah, kiri, kanan, depan, dan belakang. "Mama ada nyebutin spesifiknya gimana nggak? Semisal merk dan ukuran?"

Len tersenyum kecil. Lalu geleng-geleng. "Enggak."

Rin ikutan senyum. "Mampus kita."

"Bawa handphone nggak?"

"Mau nelpon Mama?"

"Iya. Bawa?"

"Enggak sih."

Sialan. Kirain bawa.

"Terus gimana?"

"Ya ambil aja yang harganya sekitaran uang yang dikasih Mama."

Rin ngelus-ngelus dagu, gaya khas orang berpikir. Bulu kuduk Len naik, jadi merinding disko.

"Setau gue merk yang murah tapi terkenal itu kalo nggak salah Ajinapoto deh."

Ada kemauan keras dari lubuk hati Len untuk menabok orang yang ada di hadapannya. Tapi ditahan, bisa-bisa dia yang dibalas tabok sampe meninggal.

"Itu merk micin, Rin Sayang, bukan merk minyak goreng."

"Ah masa sih. Yaudah ambil yang merk Sonlight aja."

Len ngembusin napas nahan emosi. Sabar, Len, sabar. Tarik napas, buang, tarik lagi – "Itu merk sabun cuci piring, Rin."

"Kalo nggak merk Byegone."

Byegone? Rin mau ngebunuh kita sekeluarga kali ya.

"Itu merk obat nyamuk."

"Ngaco deh lo, mana mungkin –"

Dia udah capek, seriusan. Disambarnya refill merk Bemolay dan langsung berjalan cepat-cepat ke arah kasir. Diikuti oleh Rin di belakang yang udah melantunkan sumpah serapah karena ditinggalin.

"Totalnya empat ratus tiga puluh enam ribu tujuh ratus rupiah."

Rin dan Len terdiam. Mereka belanja apa aja ya kok bisa sebanyak itu?

"Len, gue pinjam uang lo dulu boleh ya? Dompet gue ketinggalan." Rin mengangkat jari telunjuk dan tengahnya. "Sumpah!"

"Tadi lo pas ngambil jaket kok bisa lupa ngambil dompet sekalian?" Si kembar laki-laki mendengus. "Emang ya lo, nggak bisa diharepin," cetusnya sambil merongroh saku celana.

Namun detik selanjutnya, Len tersenyum miris.

"Rin," panggilnya lirih.

"Hm?"

"Dompet gue juga ketinggalan."

Muka gue mau dikemanain ya?