VOCALOID © Yamaha Corp. & Crypton Future Media, Inc.


THIRD. Selingkuh

"WOW. Habis vaksinan apa lo? Udah kaya zombie aja tuh muka."

Rin mendelik tajam tapi nggak bilang apa-apa. Jalannya cepet, langsung duduk di sofa bareng Len yang lagi nonton opera sabun di tivi. Badannya disandarin.

Len ngelirik. "Serius, kenapa lo? Habis putus?" katanya 'gitu, habis itu ketawa.

"Iya."

Len langsung diam.

"Oh ngerti gue. Jadi lo nangis semaleman?"

Kembar perempuan merengut. "Kok lo tau?"

"Muka lo. Rambut berantakan, mata bengkak. Apalagi?" Dalam hati Len jadi prihatin. Dia nggak pernah liat Rin sekacau ini. Ada api amarah yang tersulut di dalam dirinya, homo sapiens mana yang berani banget buat Rin jadi 'gini. "Belum sarapan kan? Mau sandwich atau nasgor?"

"Tumben lo."

"Yaudah sih kalo nggak mau."

"Sandwich. Nggak pake keju." Len langsung beranjak.

Setelah ngebikinin Yang Mulia Ratu Kagamine Rin pesanannya, Len balik dan mendapati sebuah pemandangan yang lazim. Rin lagi nangis.

Sepiring sandwich diletakkan di atas meja. Len duduk menghadap Rin. Mau ngehibur, cuma nggak tau mau ngapain. Jadi dia langsung balik ngehadap tivi.

Rin menjatuhkan kepalanya ke bahu kanan Len, yang hampir aja ngelompat saking kagetnya. Untungnya enggak.

"Pacar gue selingkuh sama Miku."

Miku. Setau Len, Miku itu udah sahabatan sama Rin dari SMP, sama Gumi juga. Tiga orang itu biasanya ke mana-mana selalu bersama. Kaya nggak terpisahkan lagi. Tapi, selingkuh? Wow. Jadi ini 'masalah cewek' yang Rin maksud kemarin ya?

Begitu tangan Len terangkat buat ngelus kepala Rin, nangisnya jadi makin deras. Len tersenyum, senyum sedih. Hatinya ikut sakit. Mungkin karena orang-orang bilang anak kembar itu udah kaya satu tubuh.

Di sela-sela tangis, Rin melanjutkan, "Gumi tau, tapi dia nutupin itu dari gue. Dari situ gue tau, dia ada di pihak Miku." Tangan Rin bergerak melingkari perut kembarannya, wajahnya dibenamkan ke dada Len. "Terus sekarang gue sendirian."

Pelukan Len menguat. Tangannya menepuk-nepuk punggung saudarinya. "Siapa bilang? Masih ada gue kan?"

Rin nggak jawab apa-apa, masih nangis.

"Tenang aja, besok gue hajar tu cowok sampe mampus," ujar Len, mencoba menenangkan. Bukannya mereda, tangis Rin makin menjadi. Atau Len kira begitu.

Ternyata Rin sedang tertawa keras-keras, walaupun mukanya masih penuh dengan sisa bekas air mata.

"Hahaha. Lo? Ngehajar? Nggak cocok banget sama imej shota lo!" semburnya.

Len terkekeh. "Udah mendingan?"

Rin menoleh, tawanya udah berhenti. "Hm, iya."

"Besok jam istirahat mau gabung sama gue? Ada Kaito, Meiko, Luka, Gakupo, Mayu, Ia, dan Fukase, sih. Tapi ya… setidaknya lebih baik daripada makan sendirian kan?"

Kembar perempuan tersenyum kecil. "Len, thanks a lot," katanya.

"No problem, Sis. That's what brothers for, …right?" Len bales senyum. Lalu tiba-tiba ingat sesuatu. "Lah terus apalagi? Lo nggak laper? Atau mau gue aja yang makan sandwich-nya? Oh iya, lo kan udah bengkak kaya badak jadi –" Rin langsung angkat tangan siap nampar. "Eh, maksud gue langsing kaya kangguru – eh, eh, bukan 'gitu maksud –"

SLAP.

Pipi Len memerah.