Naruto akhirnya sudah diperbolehkan pulang setelah dirawat inap selama tiga hari di rumah sakit. Hal yang sangat ditunggunya untuk menghirup udara luar dengan bebas. Berlebihan memang, tapi sepertinya gadis Uzumaki benar-benar membenci suasana dan aroma rumah sakit. Bahkan Kurama mengomel karena Naruto terlalu sering menggerutu di dalam hati. Dan hal itu mengganggu sang rubah untuk tidur. Padahal ia sudah terlalu sering tidur karena tidak ada beraktivitas, menyalurkan chakranya pada sang wadah misalnya.
Namun, semua pemikiran itu ditepis kuat-kuat dari pikirannya. Naruto melupakan satu hal, Kurama adalah bijuu ter-tsundere yang ia pernah ia jumpai. Sangat berbeda dengan saudara-saudara sang rubah. Yang lain akan menunjukan rasa khawatirnya secara terang-terangan walaupun dengan cara yang berbeda. Bahkan Tanuki juga, meskipun mulut pedas rakun tersebut sedikit menusuk ke hati.
Tampaknya Kurama juga meringankan penyembuhan di dalam tubuhnya. Oleh karena itu sang rubah tampak lelah. Sepertinya ketika dirumah nanti ia akan mengucapkan terima kasih nya kepada sang rubah.
Naruto memiliki jadwal kunjungan ke perpustakaan Konoha, tentu saja untuk belajar. Kakashi tidak mau berlama-lama menjadi hokage. Maka dari itu, Naruto selalu dipaksa untuk mempelajari serba-serbi menjadi seorang pemimpin desa. Namun, sepertinya kali ini ia tidak akan mempelajari lanjutan pembahasan tersebut.
Tiba-tiba rasa keingintahuannya mengenai klan ibunya melonjak. Ia ingin membaca buku yang berkaitan dengan klan Uzumaki yang katanya memiliki kekkei genkai berupa rantai chakra. Naruto nengetahui hal itu dari ibunya. Menurut pengetahuan ibunya, seorang perempuan Uzumaki lebih berpotensi untuk membangkitkan kekkei genkai. Dulu ia sempat mencibir tentang keistimewaan perempuan klan ibunya yang dibalas dengan sebuah jitakan di kepalanya. Ibunya kemudian tertawa setelah menyadari kelakuan anehnya. Naruto mulai peka pada keadaan saat itu sekarang. Berarti maksud ibunya ia masih memiliki potensi. Kenapa pula ia terlambat menyadari hal sekecil ini?
Mungkin memang pada saat itu kapasitas berpikirnya masih dibawah rata-rata. Naruto kemudian mengangguk, menyetujui pemikirannya sendiri.
'sudah tidak peka, bodoh lagi'
Ia mendengar suara tawa Kurama yang menggema di bagian terdalam pikirannya. Tawa mengejek yang sangat khas untuk seorang rubah tua. Naruto membencinya. Sungguh.
Seolah menulikan kedua telinganya, mengabaikan geraman Kurama kerena ia merasa diabaikan. Naruto berjalan santai di tengah keramaian desa. Mengamati sekelilingnya yang kini tengah menatapnya dengan berbisik-bisik. Ah! Ia jadi mengingat masa lalunya. Menggeleng kecil untuk mengenyahkan pikiran negatif yang tiba-tiba berkumpul dipemikirannya. Naruto mempercepat langkahnya. Apakah ia yang masih menggunakan gaun tidur di siang hari menjadi alasan utama ia diperhatikan? Kalau memang benar begitu, ia jadi menyesali keluar dari rumah sakit tanpa mengganti baju terlebih dahulu. Walaupun sebelumnya ia mengenakan pakaian rumah sakit ketika dirawat. Tapi tetap saja. Hanya pakaian ini yang ia bawa.
Apa ia harus meminta tolong pada Sasuke untuk membawakan pakaian ganti padanya? Sepertinya tidak perlu. Ia hanya akan diolok-olok oleh temannya itu. Masih segar di ingatannya saat ia di ledek karena memakai pakaian tidur yang terlalu feminim. Padahal itu bukan keinginannya untuk mengenakannya.
Naruto mempercepat langkahnya, tidak peduli dengan beberapa orang yang kini tengah mengejarnya. Ia bahkan berlari kecil untuk menghindari segerombolan orang yang tiba-tiba mengejarnya. Apakah ia berbuat kesalahan?
Suara sosok familiar memanggil namanya. Detik itu juga Naruto membalikkan tubuhnya dan maniknya membelalak saat itu juga. Kenapa teman-temannya mengejar dirinya?
"Minna! Ada apa? Aku sedang buru-buru saat ini, kalian--"
"Ternyata sungguhan! Aku pikir Rokudaime mengada-ngada tentang dirimu yang sebenarnya adalah perempuan, namun sepertinya tidak!" Ujar Ino Yamanaka.
Naruto terkekeh pelan mendengarnya. Ah! Kakashi sensei memiliki mulut yang tidak bisa ditambal--tunggu! Naruto melotot menatap tubuhnya. Ia mengumpat pelan, juga merutuki gurunya yang memiliki mulut yang sangat bocor.
Ini tidak sesuai dengan ekspetasinya!
Mereka semua sudah mengetahuinya lebih awal dari rencananya. Sepertinya ia akan membuat perhitungan pada gurunya.
Gadis Uzumaki telah sampai ke kantor hokage. Ia membuka pintunya dengan kasar menggunakan telapak kakinya. Emosi telah menguasai dirinya saat ini, ia tidak perlu bersikap sopan untuk saat ini. Naruto ingin langsung menghajar gurunya itu kalau saja ruangan ini tidak kosong.
Sebenarnya dirinya sedikit bingung, kemana perginya gurunya itu. Tapi ia tidak ingin menanyakannya pada siapapun, ia akan mencarinya sendiri. Paling tidak ia sedang bersama Sasuke saat ini. Naruto meyakinkan hal itu dalam hati.
Mengabaikan temannya yang lain. Ia berjalan meninggalkan mereka yang tengah berdiri di ambang pintu. Tujuannya kini hanya satu, ruang terjemahan. Mungkin mereka tengah berdiskusi tentang gulungan yang dibawa oleh Sasuke selepas pulang misi.
Naruto merasakan beberapa chakra familiar yang tengah berkumpul di ruangan terjemahan kala dirinya berdiri di depan pintu. Termasuk gurunya. Ia mengetuk pintu dan masuk tanpa disuruh, well. Ia sudah meminta izin.
Menatap sang guru dengan garang, ia kemudian mengerjap. Kehadirannya kini menjadi pusat penglihatan lagi. Ia mendesah pelan, lalu berjalan menghampiri sang guru yang kini menaikan sebelah alisnya menatap dirinya.
"Kenapa kau memberitahukannya kepada mereka sekarang sensei?! Kau sungguh menjengkelkan!"
Ingin rasanya Naruto menonyor kepala sang guru kalau saja hal itu tidak termasuk dalam norma kesopanan.
"Klan Yamanaka adalah klan yang memiliki jutsu yang dapat memasuki pikiran seseorang kalau kau lupa. Ino menyadari bahwa kau sudah tidak kelihatan selama beberapa hari. Dan ia memasuki pikiranku dari jarak yang cukup jauh. Aku tidak menyadarinya. Well, kemampuannya sudah sangat meningkat, ku pikir ia sudah setara dengan ayahnya" jelasnya.
Alis Naruto berkedut. Ekspresi wajahnya sudah sangat masam. Memikirkan kembali kemampuan Ino. Gadis itu memiliki kemampuan yang hebat, termasuk kemampuan mengorek informasi terpanas untuk dijadikan bahan bergosip. Sepertinya kali ini topiknya adalah dirinya. Memikirkannya membuat Naruto memijit pangkal hidungnya. Semuanya tampak merepotkan, sepertinya perkataan Shikamaru ia benarkan.
Kedua manik safirnya mengerjap kala Sasuke terlihat oleh netra penglihatannya. Entah kenapa ia melihat lengan sang Uchiha dua alih-alih satu--karena sang empu menolak dengan keras untuk dipasangkan kembali lengannya. Apakah ia salah melihat? Atau memang Sasuke sudah berubah pikiran?
Sepertinya melihatnya dari dekat untuk memastikannya adalah pilihan yang tepat. Oleh karena itu, Naruto berjalan mendekati Sang teman dan menarik lengan kirinya. Sasuke sempat protes mengenai tindakannya yang terlalu tiba-tiba ini. Namun ia mengabaikannya. Senyuman tulus tercipta di bibir penuh berwarna merah mudanya. Ia langsung merangkul Sasuke ala laki-laki. Tubuh sang Uchiha menegang kala Naruto merangkulnya seperti itu. Kedua netra hitamnya menyipit, sepertinya ia perlu memberitahu apa itu personal space pada si pirang ceroboh ini.
"Oh, teme! Akhirnya kau mau memakainya! Jika kedua tangan mu sudah lengkap, sparing kita akan lebih terasa menyenangkan! Kau bisa mengeluarkan kekuatan penuh dari kedua tangan mu ketika melawanku! Kupastikan kau tetap akan kalah seperti pertarungan kita sebelumnya 'ske!" Ujar Naruto. Cengiran kecil tercipta di bibirnya.
Gadis pirang ini tampaknya antusias melihat keadaan sang teman yang baru mendapatkan lengan artifical. Sasuke ingin sekali rasanya nenjitak kepala si idiot disampingnya saat ini, apa ia berpikir dirinya memasang lengan ini hanya untuk sparing dengannya? Tentu saja tidak! Jutsu yang akan ia gunakan memerlukan dua tangan untuk menciptakan segelnya. Oleh karena itu, ia memantapkan hatinya untuk memasang lengan.
Sasuke tersenyum tipis, lalu melepas rangkulan sang teman. Ia masih harus membaca isi dari gulungan Otsutsuki yang baru saja selesai diterjemahkan, butuh waktu sedikit lama memang. Namun ia mengakui bahwa proses ini sudah termasuk cepat dibandingkan dengan negara lain.
Mengabaikan protesan Naruto, Sasuke memfokuskan dirinya untuk membaca gulungan.
Jika Sasuke sudah masuk kedalam mode serius, Naruto tidak bisa mengusiknya. Ia akhirnya menghela nafas berat lalu berbalik berjalan meninggalkan ruangan. Ia harus mengganti pakaiannya lalu keperpustakaan Konoha. Membaca gulungan Uzumaki. Seolah melupakannya kekesalannya, gadis itu pergi dengan hati yang berbunga-bunga
Kakashi sweatdrop melihat perubahan mood Naruto yang cukup drastis. Sungguh luar biasa. Memijat pelipisnya adalah salah satu cara untuk menenangkan pikirannya saat ini. Dan sepertinya ia membutuhkan novelnya untuk menenangkan pikirannya.
Satu
Dua
Tiga
Empat--blam! Naruto membanting gulungan peninggalan klan ibunya kelantai. Bibirnya masih menggerutu kala menatap banyaknya gulungan yang diperlukan. Ia sudah menghitungnya. Totalnya adalah lima belas buah. Dan ketika ia membaca gulungan tersebut sesuai urutan nomor yang ada. Sudut matanya tiba-tiba saja berkedut kesal.
Bagaimana tidak? Naruto yang pada dasarnya memiliki IQ yang tidak seberapa itu terpaksa harus membaca tulisan yang lebih mendominasi dari pada gambaran segel pembuka Kekkei genkai tersebut. Naruto bukanlah orang yang suka berpikir dengan rumit, ia lebih suka langsung mempraktikannya. Demi dewa jashin yang di sembah Hidan! Ia sangat membenci membaca sekarang.
Oh, sepertinya Naruto melupakan fakta bahwa seorang Hokage tidak akan pernah lepas dari yang namanya membaca, baik itu berupa lembar laporan, perkembangan gulungan jutsu, hingga arsipan penting lainnya. Batinnya merana kala menyadari hal ini.
Menggeram keras ia kemudian membawa tumpukan gulungan tersebut yang sebelumnya ia letakkan dalam dus ke salah satu petugas yang berada disana, ia meminta izin untuk membawa gulungan tersebut selama dua minggu atau pun lebih, sang penjaga tentu saja tidak mempermasalahkannya, ia mengatakan bahkan Naruto boleh memulangkannya satu tahun lagi. Gadis itu tersenyum sumringah lalu mengucapkan terimakasih dan beranjak dari sana.
Ketika membuka pintu keluar perpustakaan, ia mendapati Shikamaru yang tengah bersandar pada tiang listrik yang tidak jauh dari posisinya berdiri. Pemuda itu menggerling padanya lalu menguap kecil. Naruto menyatukan alisnya kala pemuda itu berjalan menghampirinya dengan malas.
"Pelatihan Hokage, datanglah ke kantor. Rokudaime ingin memberikan materi pembelajaran baru" ujar Shikamaru.
Pelipis Naruto sudah dibasahi oleh bulir-bulir peluh, materi pembelajaran yang diberikan gurunya bukanlah sekedar materi biasa. Melainkan luar biasa. Bahkan sangat, Naruto masih ingat betapa tingginya tumpukan buku yang diberikan oleh gurunya ketika pelatihan pertama. Dan ia harus menyelesaikan bacaannya dalam waktu satu hari.
Setelah selesai membaca, ia langsung terkapar dengan tubuh yang lemas. Bahkan ramen pun tidak bisa mengembalikan stamina tubuhnya. Dan ia berakhir dengan dirawat di rumah sakit selama sehari penuh.
Naruto menggeleng dengan keras, lalu tersenyum getir. Manik safirnya melirik dus yang sedang dipapahnya. "Katakan pada Kakashi-sensei, aku tidak bisa mengikuti pelatihan selama sebulan ini. Aku ingin beristirahat sejenak. Lagi pula, aku harus mempelajari gulungan yang baru saja ku pinjam. Ah! Sampaikan saja salam ku padanya. Katakan padanya untuk menikmati masa menjadi Hokage untuk beberapa tahun kedepan! Jaa ne!" Dan dengan begitu, ia langsung berlari meninggalkan Shikamaru tanpa perlu repot-repot mendengar balasan darinya.
Ah, sepertinya ia harus mempelajari hiraishin ayahnya. Setelah ia bisa mengeluarkan rantai chakra.
"seperti ini, ya. Konsentrasi, alirkan chakra ketitik keluarnya. Nghh, sedikit lagi! Oh, sungguh gila! Aku merasakan sesuatu keluar dari punggungku! Tahan... Dan"
Srak.
Duar.
Suara reruntuhan bangunan bersamaan suara rantai terdengar dari arah belakang tubuhnya. Jantungnya bergebu dengan cepat, dengan wajah masam ia menggerling ke belakang tubuhnya dan saat itu juga manik safirnya berkaca-kaca.
"RUMAH KU!!"
Disinilah Naruto berada. Dirumah sahabatnya, Uchiha Sasuke. Setelah melakukan debat panjang dengan gurunya, akhirnya dia perintahkan untuk menetap di rumah Sasuke di komplek perumahan Uchiha. Naruto medengus keras mendengar kemutlakan gurunya. Kenapa dari banyak temannya, hanya Sasuke lah yang dipilih? Kenapa tidak dengan teman perempuannya?
Mengacak surai pirangnya. Naruto mendaratkan tubuhnya di kasur empuk milik Sasuke. Ia tidak peduli harus tidur dimana. Intinya, saat ini ia tidak ingin tidur sendiri. Rumah ini bekas pembantaian yang dilakukan Itachi, kakak dari Sasuke sendiri. Bulu kuduknya meremang saat memikirkannya kembali.
Sial! Naruto adalah sosok yang sangat tangguh melawan musuh, tapi sangat lemah kalau sudah berhubungan dengan yang namanya hantu. Ia menyesali ketakutan tersebut hingga tidak sadar bahwa Sasuke telah selesai dari acara mandinya. Dan kini ia telah memandangnya sembari sebelah menaikkan alisnya.
"Kamarmu bukan disini" Ujarnya kaku. Naruto mengerjap, lalu mengambil handuk yang tersampir di pundaknya. Dan beranjak dari posisinya menuju kamar mandi.
"tapi aku mau disini, ayolah 'Ske. Lagipula ranjang mu sangat luas jadi kita bisa berbagi tempat bukan?" ujarnya sebelum ia menghilang dibalik pintu kamar mandi. Suara air berjatuhan terdengar setelahnya.
Sasuke menatap datar pintu kamar mandi yang tertutup, bayangan seorang gadis tengah menanggalkan pakaian tercetak dengan jelas dari sini membuatnya tersedak ludahnya sendiri. Astaga, ukuran--sial! Tidak kah si kuning itu tahu bahwa ia adalah laki-laki normal?
Menggerutu pelan, ia membaringkan tubuhnya di kasur dan memandang kosong langit-langit kamarnya. Berusaha mengenyahkan gelenyar aneh di tubuhnya. Tiba-tiba ia jadi ragu dengan alasan yang tidak ia ketahui.
Sebelum pergi berkelana--ia memberikan harapan kepada Haruno Sakura seolah ia akan kembali dan bersama dengan gadis itu. Selama perjalanannya ia selalu mengingat akan hal itu. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis, sedetik kemudian senyuman itu luntur bersamaan dengan perasaan aneh yang melingkupi hatinya saat ini.
Ia menyadari bahwa sedari dulu ia tidak memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis, ia hanya terobsesi pada kekuatan dan mencoba memutuskan ikatannya dengan Naruto karena pada saat itu ia telah memiliki perasaan terlarang pada satu-satunya teman yang paling mengerti akan dirinya. Ia berfikir dengan logis dan membenarkan bahwa semua itu adalah kesalahan. Hingga ia dengan nekat mencoba membunuh temannya itu.
Lalu, entah kenapa sekarang ketika Sasuke mengetahui gender asli sang teman, ia merasakan kelegaan yang sangat luar biasa menerpa hatinya. Seolah selama ini tubuhnya bereaksi seperti ia sudah lama mengetahui sang teman adalah perempuan.
Lalu kalau sudah lega, ia harus apa?
Jantungnya tiba-tiba saja berdetak lebih kencang dari biasanya. Membuat sang empu sontak memegangi dada untuk merasakan debaran tersebut.
"Dari dulu aku memang sudah mencintainya bukan?"
"Men.. apa?"
Sasuke langsung bangkit dari posisi tidurnya. Jantungnya nyaris saja copot kala mendengar suara disampingnya. Dengan kedua mata memicing, ia menggerling pada sumber suara--Naruto. Tampaknya ia sudah selesai mandi dengan rambut yang sedang dikeringkannya saat ini.
Bibirnya membentuk garis lurus kala melihat sang gadis mengenakan pakaian miliknya--tunggu! Pakaian miliknya? Seakan menyadari tatapannya, Naruto berdeham pelan lalu merebahkan diri diranjang. Manik safirnya masih menggerling pada Sasuke.
Apa-apaan sikapnya ini? Berinisiatif untuk menggodanya? Kalau benar begitu tampaknya gadis itu berhasil, karena Sasuke merasakan pusat tubuhnya sedikit ngilu.
"Aku tidak membawa baju lain. Jadi aku meminjam satu milikmu tidak apa kan?" Ujarnya enteng, lalu Naruto memunggunginya.
Rahang Sasuke mengeras saat menyadari bahwa Naruto tidak mengenakan celana dibalik kemeja kebesarannya. Ia bisa melihat kulit sang gadis yang entah kenapa tampak lebih putih daripada masih dalam rupa laki-laki. Sepertinya tampak halus bisa disentuh dibaliknya. Nafasnya memberat saat itu juga. Gadis ini sungguh gila! Bagaimana pula ia merasa nyaman hanya dengan menggunakan kemejanya tanpa menggunakan celana?
Ia tidak yakin kalau Naruto mengenakan bra--Sasuke menggeleng keras, pikirannya menjadi absurd hanya karena melihat kaki jenjang temannya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain selain sosok yang berada di depannya ini, sebelum suara erangan tertahan terdengar oleh telinganya. Maniknya menggerling pada sang gadis saat itu juga. Pusat tubuhnya semakin berdenyut ngilu.
Tangan Naruto meraba-raba punggungnya. Seolah hendak meraih sesuatu. Sasuke menghela nafas, mengabaikan sosoknya dan mengambil posisi berbaring dengan menghadap ke punggung sang gadis.
Tangannya masih meraba-raba disana, lalu suara erangan jengkel keluar dari bibirnya. Manik sebiru lautnya menggerling pada Sasuke dari ekor matanya.
"Sasuke, tolong bukakan kaitan dibelakang sini. Tangan ku tidak sampai untuk meraihnya" Ujarnya lirih. Sasuke meneguk kasar salivanya. Gadis ini sudah gila!
Meskipun kejengkelan lebih mendominasi perasaannya, ia tetap melakukannya tanpa berkomentar sedikitpun.
Lagi pula, dirinya mendapatkan keuntungan 'kan?
Naruto mendesis pelan kala ia bisa bernapas dengan lebih lancar karena pengikatnya telah dilepaskan. Merogoh kedalam kemejanya, ia langsung menarik keluar branya, dan meletakkannya di atas nakas.
Sasuke mendelik melihat Naruto yang meletakan dalamannya di atas nakas, ia sontak memijat pelipisnya dan beranjak dari tidurnya, pangkal celana yang ia kenakan sudah terlihat basah. Ia tidak ingin si pirang itu melihat keadaannya yang sangat memalukan seperti saat ini. Oleh karena itu, ia harus menuntaskannya di kamar mandi.
Naruto menanyakan kemana dirinya akan pergi, namun ia tidak menjawabnya dan langsung masuk kekamar mandi dan menutup pintunya dengan keras pula. Gadis itu terlonjak kaget, melirik pintu kamar mandi melalui ekor matanya. Ia mengendikan bahu lalu memejamkan kedua matanya hingga kesadarannya memudar.
Sementara Sasuke yang berada dikamar mandi, sedang melakukan ritualnya dengan mulut yang ia bekap dengan erat menggunakan telapak tangannya, ia tidak boleh mengeluarkan suara laknat itu walaupun sebenarnya ia tidak bisa menahannya. Hanya dirinya yang bendengar lirih suaranya sendiri. Peluh membasahi tubuhnya.
Sebuah realisasi menerpanya. Sekarang ia mengerti kenapa gurunya menolak dengan keras keinginan murid pirangnya itu untuk menginap dirumahnya, ternyata inilah yang ditakutkan gurunya. Dan sekarang ia lah yang tersiksa oleh hormonnya ini.
Kedua matanya menyipit dengan alis yang menekuk dalam. Sepertinya ia harus memberikan hadiah untuk gurunya itu karena telah menyusahkannya dalam hal yang seperti ini.
Masih sekitar pukul empat pagi, Uchiha Sasuke sudah terbangun dari tidurnya. Dan kini, ia tengah melotot horor saat menyadari posisinya. Ia tengah di peluk erat oleh Naruto, seolah ia adalah guling. Belum lagi wajahnya yang bersentuhan dengan dada sang Uzumaki yang tidak sepenuhnya tertutup--tiga kancing teratasnya telah terbuka.
Bisa ia rasakan kulit wajahnya bersentuhan langsung dengan dada yang tidak tertutupi oleh kemeja. Seluruh tubuhnya terasa memanas. Apalagi pusat tubuhnya. Oh, sialan! Hidung mengendus aroma jeruk yang keluar dari sana--Sasuke sudah sangat ingin pergi sekarang.
Ia merintih saat pusat tubuhnya tidak sengaja bersenggolan dengan lutut sang gadis. Kenapa ketika beranjak dewasa, semua permasalahan semacam ini terkesan lebih merepotkan?
Otaknya masih berfikir dengan keras, bagaimana caranya ia lepas dari pelukan maut Naruto? Ia ingin menyelesaikan ini dengan cepat, pemikirannya tertuju pada suatu hal yang berhubungan dengan keadaan seperti ini, kalau saja tidak ada Kurama di dalam tubuh sang gadis. Harga diri Uchiha akan jatuh dan hancur berkeping-keping jika sang bijuu memergoki aksinya.
Itu sangat memalukan, sungguh.
Jika dibanguni dengan teriakanpun, gadis ini takkan bangun, kecuali memang sudah saatnya untuk bangun. Apa ia harus menunggu selama itu? Sepertinya tidak. Karena Naruto sedah melepaskan rengkuhannya dan mengganti posisi tidur dengan memunggunginya. Kemeja yang dikenakannya tersingkap hingga keatas perutnya. Hingga memperlihatkan lekuk tubuh bawahnya yang sempurna.
Damn! Ia berusaha keras untuk tidak mendaratkan tangannya untuk meremas bongkahan sintal yang tersuguhkan didepan matanya ini. Ia langsung berlari kecil ke kamar mandi dengan handuk yang dilampirkan di pundaknya.
Oh, sepertinya hal yang seperti ini akan selalu menjadi kesialan baginya.
Setelah selesai berpakaian, Sasuke langsung melesat ke rumah sang guru. Tidak peduli kalau saat ini masih terlalu pagi.
Kedua kakinya mendarat dengan mulus di depan rumah bernuansa tradisional yang erat. Rumah Hatake Kakashi, gurunya yang kurang ajar. Kaki kokohnya melangkah dengan cepat lalu mendorong pintu rumah tersebut dengan kasar. Ia menyelolong masuk tanpa permisi karena ia mendapatkan gurunya tengah membaca novel. Tidak menghiraukan kehadirannya.
"Apa yang membawamu kemari, Sasuke?" ujar Kakashi. Nada tenang yang dikeluarkan pria tua itu membuatnya sedikit kesal. Rahangnya mengatur dengan keras.
"Aku menolak usulan mu, sebaiknya si kuning bodoh itu tinggal disini saja, dia menyiksaku setiap saat dengan sikap bodohnya! Bisa kau bayangkan betapa menderitanya aku!" Serunya dengan nada berat. Mengingat kembali perempuan itu hanya akan membuat pusat tubuhnya sakit saja.
Kakashi meletakkan bukunya dipangkuannya. Manik hitamnya menatap lurus pada Sasuke, membuat yang ditatap menaikkan sebelah alisnya.
"Begitu pula denganku, kau tahu sendiri bagaimana aku selama ini, Sasuke. Aku tidak bisa menahan diri jika dia bersikap yang sama dengan ku. Aku akan di cap sebagai guru cabul ataupun pedofil jika hal tersebut menjadi kenyataan. Lebih baik dia bersamamu saja" Ujarnya tegas, kemudian ia mengangkat novelnya dan melemparnya pada Sasuke hanya untuk ditangkap olehnya.
"Lagipula, bukankah niat ku ini sangat baik? Membantu dirimu yang sedari dulu menyalahkan ketidaknormalan pada dirimu sendiri. Sekarang kebenaran sudah terungkap, apalagi yang akan kau tunggu? Lusa, aku akan mengumgumkan pada aliansi Shinobi mengenai gender asli Naruto. Dan hingga saat itu, kau harus memikirkan matang-matang keputusan mu" Lanjutnya.
Sasuke terdiam, namun manik hitamnya sudah menggelap.
"Jangan mempermainkan Sakura dengan ketidakjelasanmu, tegaslah pada perasaan mu sendiri. Tinggalkan Sakura jika kau memilih Naruto. Atau, tinggalkan Naruto jika kau memilih Sakura" Nasihat sang guru. Ia mengerjap beberapa kali sebelum mengeluarkan protesannya.
"Aku tidak pernah memainkan perasaan Sakura, ku pikir kau tahu itu, Kakashi" tegasnya.
"Memang, tapi dia yang terlalu berharap banyak padamu. Dan untuk Naruto. Kazekage sudah ku kabari terlebih dahulu mengenai kondisinya, dan ia memutuskan untuk langsung berkunjung, sepertinya ia dan rombongannya akan sampai sore nanti di desa kita. Ah, aku hanya mengingatkan. Kazekage memiliki ketertarikan terhadap Naruto jika kau lupa"
Apakah gurunya berniat untuk memanas-manasinya dengan mengungkapkan kenyataan sialan itu padanya? Tapi tampaknya ia sudah terpancing duluan. Emosinya sangat tidak stabil. Sharingan dengan pola rumit miliknya sudah aktif tanpa di sadari. Kakashi yang menyaksikannya mengerjap, Uchiha dengan segala obsesinya sangatlah merepotkan. Ia sangat tidak ingin terlibat, walaupun pada akhirnya ia juga terlibat karena ucapannya sendiri.
"Percepat misinya, aku tidak peduli dengan siapapun saat ini. Kami harus berangkat sebelum rombongan si merah sialan itu datang." Tegas Sasuke, kedua tangannya sudah mengepal dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Senyuman tercipta di bibir Kakashi yang tertutup masker, kedua matanya menyipit, ia senang melihat sikap Sasuke yang cemburuan. Ia menjentikkan jarinya ke udara. Keputusan sudah didapatkan.
"baiklah, kau akan kuberi misi dengan empat orang lainnya sebagai partner. Uzumaki Naruto, Haruno Sakura, Nara Shikamaru, Sai. Dan untuk sample yang berkaitan kau dapat mengambilnya di ruang lenyimpanan. Kalian akan datang pada pukul delapan pagi"
Sasuke protes dengan keputusan gurunya, apa-apaan dengan memasukan tiga orang lainnya?! Ia hanya ingin berdua dengan si kuning ceroboh agar lebih mudah menentukan keputusan untuk segera mengikat sang gadis sebelum pihak lain akan mengikuti jejaknya. Berdecih pelan, ia kemudian menatap gurunya yang kini sudah berdiri tepat di samping tubuhnya. Pria itu menepukan tangannya di pundaknya, lalu melontarkan kalimat yang membuatnya merona walaupun samar.
"Belajarlah dari novel ku, Sasuke. Dan untuk masalah Naruto. Ia adalah gadis yang akan langsung paham dengan tindakan praktik dari pada materi. Kuharap kau paham maksudku"
Ya, ia sangat paham dengan makna dari ucapan sang guru. Tindakan sperti praktik hanya akan ia lakukan jika ia sudah merasa terdesak dengan situasi yang genting ataupun suasana yang pas. Ia menanamkan hal itu dalam hati.
