Naruto terbangun dari tidurnya ketika ia merasakan telapak kakinya seperti dijilat. Mengerjapkan mata beberapa kali, lalu ia mendudukan tubuhnya. Mengerling pada seekor anjing yang tampak familiar di penglihatannya. Summon milik gurunya.
Mengerutkan dahinya, Naruto kemudian menguap dengan lebar. Dan menatap anjing didepannya.
"Ada apa Pakkun?" Tanya Naruto.
Pakkun menggeram kecil lalu menjilat kaki depannya, menatapnya dengan malas kemudian berujar. "Kakashi mencarimu. Kau akan mendapatkan misi panjang. Bersiaplah, pukul sembilan kalian akan langsung berangkat" Dan setelah mengatakan pesan, Pakkun hilang dengan kepulan asap.
Manik safirnya berbinar-binar, akhirnya ia diberikan misi oleh gurunya. Dengan cengiran khasnya. Ia langsung beranjak ke kamar mandi. Membersihkan diri sebelum melaksanakan misi adalah sebuah awalan yang bagus. Lagi pula, ini adalah misi pertamanya setelah pelindung tubuhnya terlepas. Jadi anggap saja ini adalah misi pertamanya dengan tubuh perempuan.
Bahunya bergetar antusias memikirkan jenis misi seperti apa yang akan diberikan oleh gurunya padanya. Ah, ia harus bergegas.
Naruto mandi secepat kilat lalu berpakaian. Ia mengernyitkan alis ketika mendapati baju misinya sudah tertata rapi di ujung ranjang. Namun seakan tidak memperdulikan hal itu ia langsung merogoh perkamen ninjanya dan mengambil sebuah gulungan. Naruto menggigit ujung ibu jarinya hingga berdarah, lalu mengoleskannya pada permukaan kanji yang terdapat pada gulungan. Tidak lama kemudian diatas kanji tersebut mengeluarkan dalaman yang ia simpan sebelumnya.
Naruto terkikik kala menyadari pakaian dalam dengan model seperti ini pernah ia gunakan dalam jutsu mesum miliknya. Ah, ia jadi bernostalgia. Menggeleng pelan, ia kemudian mengenakan pakaiannya dengan cepat. Dan menggerutu kesal kala celana yang di sediakan bukanlah celana panjang yang biasa ia gunakan. Melainkan celana pendek yang panjangnya tidak sampai pertengahan paha, siapapun yang menyiapkan pakaian semacam ini, Naruto mengutuknya. Ia kemudian menyisir rambut panjangnya dan membiarkannya tergerai.
Merasa tampilannya sudah beres, Naruto memasang kantung ninjanya di pinggang. Dan beranjak ke kantor Hokage, Naruto yakin dirinya tidak terlambat kali ini.
Naruto berlari di atap rumah penduduk. Hingga akhirnya menapakkan kaki di balkon ruangan Hokage. Ia menggeser jendela dan menyelonong masuk tanpa permisi. Netra safirnya menatap gurunya dengan penuh antusias. Ia mengambil posisi berdiri di depan rekannya yang lain. Ia menerkanya sebagai rekan karena ia melihat Sasuke berdiri di antara mereka.
"Ne, ne, Kakashi-sensei. Katakan padaku misi seperti apa kali ini?" Tanya Naruto sembari meletakkan tangannya di pinggiran meja.
Pelipis Kakashi berkedut kesal melihat Naruto yang terlalu ke depan. Hingga sosoknya memenuhi indra penglihatannya.
"Maa, ini adalah sebuah misi penyelidikan lanjutan klan Otsutsuki, detailnya akan di jelaskan oleh Sasuke. Dan untuk pemimpin disini, aku menunjuk Shikamaru. Baiklah, sekarang bubar!" Kakashi berujar dengan tegas, membuat Naruto merengut tidak suka.
Misi ini akan membosankan kalau hanya menyelidiki tanpa ada yang perlu di lawan. Naruto lebih suka misi yang menegangkan dan selalu terlibat dalam pertarungan. Semoga saja kali ini ada, mengingat bahwa ada tiga sosok selain Kaguya dari klan Otsutsuki yang masih hidup hingga saat ini. Tapi, kalau untuk kekuatan musuh, semoga saja Otsutsuki lainnya tidak sekuat Kaguya.
Bisa sangat merepotkan kalau kekuatannya setara dengan dewi kelinci. Ia harus menyegel tiga orang lagi. Satu orang saja, kekuatannya seolah menguap dari tubuhnya. Bagaimana pula tiga orang secara beruntun? Memikirkannya saja sudah membuatnya bergidik ngeri.
Sasuke tiba-tiba berujar hingga membuat Naruto hampir terjungkal, ia mendelik sebal pada Sasuke yang berseru dengan kata-kata yang menusuk. Dan, hei! Apa-apaan pula dengan panggilan itu. "Hei, idiot. Ayo! Kau membuang waktu ku dengan Sia-sia"
Ia menarik kerah kemeja misi Naruto dari belakang, sehingga membuat sang empu terseret dan sedikit terbatuk karena ia merasa lehernya seperti dicekik.
"Lepaskan aku! Berengsek! Aku bisa berjalan sendiri!" tukasnya.
Sasuke menghentikan langkahnya saat mereka semua sudah keluar dari ruangan Hokage. Ia melepaskan cekalan tangannya pada kerah Naruto--yang langsung membuka satu kancing teratasnya ketika dilepaskan. Ia kekurangan pernapasan. Menatap nyalang Sasuke. Naruto mendaratkan tendangan keras pada tulang kering Sasuke.
Sang Uchiha memang tidak bereaksi apapun ketika mendapatkan serangan dadakan. Namun sebelah mata yang menyipit kelihatan bahwa ia menyembunyikan rasa sakitnya dengan baik.
"Kau! Berengsek! Kenapa kau suka sekali menarik-narik ku!" Omel Naruto. Tangannya menarik kerah jubah berpergian Sasuke hingga wajah mereka sejajar. Kini Naruto tidak perlu lagi mendongak untuk menatap temannya secara menyebalkan lebih tinggi darinya.
Tiga orang lainnya mengerjap sebelum salah satu dari mereka--Haruno Sakura menghampiri Naruto dan menepuk pundaknya. Sang gadis Uzumaki masih dengan emosi yang menguasai tubuhnya memalingkan wajahnya--hendak memaki orang yang hendak menghentikan mereka. Namun ketika menyadari bahwa orang itu adalah Sakura. Mulut Naruto seolah kaku hanya untuk sekedar berbicara. Tenggorokannya mendadak kering. Ia meneguk kasar salivanya.
"A-ah, Sakura chan. Lama tidak berjumpa, hmmm. Ku pikir sudah seminggu yang lalu, he..hehe" Ujarnya kikuk. Ia langsung mendorong Sasuke menjauh.
Sakura sebenarnya tidak mempermasalahkan mereka yang sudah tidak berjumpa selama berhari-hari, begitupun dengan pertikaian Naruto dan Sasuke. Ia hanya ingin mendengarkan kebenaran dari apa yang dilihatnya pada tubuh teman pirangnya, tentu saja langsung dari bibir temannya. Ia mungkin sedikit meragukan informasi dari Ino yang sedikit membual. Namun, sepertinya semua itu bukanlah sebuah omong kosong belaka.
"Bisakah kau jelaskan apa yang terjadi padamu, Naruto?"
Bisa dilihat dengan jelas oleh kedua netra emerald miliknya bahwa, Naruto kelihatan tidak nyaman dengan pertanyaannya. Bahasa tubuhnya mengatakan bahwa ia ingin pergi dari situasi yang menyulitkannya.
Sasuke menyadari ketidaknyamanan Naruto langsung mengambil alih jawaban. Manik hitam kelamnya melirik temannya yang bersurai merah muda.
"Ino sudah mengatakannya padamu bukan? Itulah kebenarannya" ujarnya lugas.
Sakura mendengus keras sembari memutar kedua bola matanya dengan malas. Hidupnya sudah terlalu banyak diuji oleh cobaan yang selalu tidak masuk akal. Dan kali ini datang dari Naruto. Sakura langsung memijit pangkal hidungnya. Ia berharap kedepannya tidak akan ada yang muncul seperti hal ini ataupun yang lebih merepotkan dari ini.
"Tidak ku sangka bahwa kau memanglah dickless, Naruto" Celetuk Sai tiba-tiba. Alis Naruto berkedut kesal, meskipun tidak memungkiri bahwa wajahnya sekarang memanas.
"Berisik sekali kau!"
Sasuke melihat semua itu dengan bibir yang membentuk garis lurus. Waktunya terbuang sia-sia dengan pertikaian tidak berfaedah ini. Ia hanya ingin mempersingkat waktunya, hanya untuk menyempatkan diri membaca buku yang dipinjamkan Kakashi padanya.
Pandangannya semakin menggelap melihat interaksi Naruto dan Sai yang tampak akrab. Ia tidak menyukai hal ini, tampaknya ia melupakan fakta bahwa Naruto adalah sosok yang sangat friendly. Tak jadi soal, kalau ia memiliki teman di sepanjang perjalanan misinya, bahkan termasuk orang yang sulit didekati sekalipun. Naruto memang memiliki aura yang seperti itu, bukan?
Sasuke kemudian berujar dengan nada datar yang teramat kaku, ia mengatakan bahwa mereka harus berada di atap bangunan hokage. Agar memudahkan pembukaan pintu antar dimensi. Yang lain hanya mengangguk dengan kaku. Mereka kemudian pergi di temani oleh asisten sementara Kakashi selama Shikamaru pergi. Shina nama perempuan itu. Mereka tiba di atap dengan pemandangan pertama kali yang mereka lihat adalah Kakashi yang sedang bersandar di pagar dan menatap lurus mereka semua.
Pria itu berjalan mendekati Sasuke--seolah memberikan kode yang hanya diketahui oleh mereka berdua saja. Naruto merengut kala menatap kedua orang di depannya ini. Ia memiliki firasat yang tidak menyenangkan hanya dengan menatap guru dan sahabatnya ini. Lalu berdecih pelan, hendak menghampiri kedua orang yang tampak berbincang-bincang kecil sebelum suara rubah tua bergema di pikirannya.
"Sepertinya akan menyenangkan jika melihat mu dipojokan, hingga saat itu tiba, aku akan menyaksikan saja tanpa perlu campur tangan dengan urusan merepotkan semacam itu"
Di alam bawah sadarnya, Naruto menatap sang rubah dengan raut kebingungan yang tercetak jelas di wajahnya, ia hendak mengutarakan sesuatu, namun sang rubah mendahuluinya untuk berbicara.
"Tch, kenapa pula aku harus mendapatkan wadah seorang perempuan selama tiga kali berturut-turut?! Apakah mereka sengaja mempermainkan ku? Lama-kelamaan telinga ku bisa tuli kalau seperti ini" Gerutu sang rubah dengan penuh emosi.
Apakah sesosok bijuu bisa mengalami sikap emosional bulanan seperti ini? Ah, Naruto tampaknya salah memperkirakannya. Karena Kurama selalu emosional setiap harinya. Tapi untuk yang kali ini, ia tidak mengetahui alasan yang pasti sang rubah mengomel hingga menarik kesadarannya ke alam bawah sadarnya.
Telinga yang bisa tuli? Naruto bahkan merasa ia tidak membuat keributan belakangan ini. Apakah Kurama sedang membual padanya?
"Ada apa dengan--"
"Pergilah, Aku ingin tidur!"
Naruto berdiri dengan tubuh kaku di luar sana, hampir terjungkal saat kesadaran menerpanya dengan kasar, Apa-apaan dengan sikap kurang ajarnya itu?! Kurama benar-benar sedang mendapatkan tamu bulanan kalau begini! Tidak biasanya sang rubah bersikap seperti ini.
Sentilan keras di dahinya membuatnya tersadar dengan sepenuhnya. Mendelik sebal pada pelaku yang ternyata adalah Sasuke, kenapa semua orang sepertinya semakin menjengkelkan?
"Apa?!"
Sasuke mengerjap, seharusnya ialah yang merasa jengkel karena gadis dihadapannya ini melamun disaat yang tidak tepat. Kenapa pula malah dirinya yang kena marah?
"Masuk ke lubang dimensi, Usuratonkachi. Kau benar-benar sangat lambat berpikir atau apa? Mereka semua sudah masuk sedari tadi"
Naruto melotot kesal padanya. Sasuke tidak peduli, ia mendorong pundak sang gadis hingga ia masuk kedalam lubang dimensi dengan teriakan feminim yang bisa menulikan pendengarannya saat ini juga. Tidak lama, ia menyusul yang lain memasuki Lubang dimensi bersamaan dengan lubang yang menghilang bersamaan angin lalu.
Kakashi tersenyum dibalik maskernya, ia menaruh banyak harapan pada murid Uchihanya.
"Semoga berhasil, Sasuke"
oOo
Mereka semua mendarat dengan mulus, kecuali seorang gadis bersurai pirang yang mendarat dengan posisi menungging sembari mengeluh kesakitan. Tiga dari empat orang disana tertawa terbahak belihat tingkah absurdnya. Tapi tidak dengan Sasuke, ia merasa bahwa Naruto dengan posisi seperti itu--seolah menggodanya untuk berbuat--Sasuke mengusap wajahnya gusar. Kenapa ia jadi sering berpikiran mesum seperti ini?
Tangan kanannya menjulur untuk membantu sang teman yang kini tengah menatapnya dengan bengis. Meraih tangannya dengan kasar, gadis itu bangkit lalu membersihkan pakaiannya yang sedikit berabu dan juga salju?
Sasuke menahan senyuman yang memaksa untuk muncul menghiasi wajahnya yang ketiadaan ekspresi. Sosok yang berada di depannya ini sangatlah menghiburnya. Ia bahkan berharap kalau hanya mereka berdua yang berada disini. Ia akan segera mengutarakan keinginannya untuk menjadikan gadis ini sebagai bagian dari hidupnya. Namun, sepertinya semua itu hanyalah angan-angannya saja. Karena ada sosok lain disini.
Sasuke bahkan lupa dengan tujuan awal mereka disini. Untuk menyelidiki lebih lanjut reruntuhan klan Otsutsuki yang memberikannya petunjuk berupa gulungan. Ia menepuk keras dahinya. Sangking fokusnya ia pada masalah pribadinya, ia melupakan fakta ini.
Netra hitam lekatnya menatap ke seluruh penjuru daerah perbukitan tempat mereka mendarat, cuaca menggelap. Tampaknya ada perbedaan garis waktu antara lokasi ini dan desanya. Bisa ia rasakan salju mulai turun--mengenai puncak hidungnya kala ia mendongak menatap langit yang gelap, mungkin sudah malam? Sepertinya mereka harus mencari tempat untuk beristirahat, karena dengan cuaca yang tampak tidak mendukung ini, mereka akan memulai misi besok.
Tidak lama kemudian, Shikamaru selaku ketua dari kelompok misi ini, menyarankan hal yang sama seperti yang ada di pikirannya. Mereka mengambil jalur ke arah utara saat Naruto melacak adanya perumahan menggunakan sennin mode. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman tipis, memikirkan tentang sosok gadis pirang disampingnya, Naruto merupakan paket lengkap yang sangat langka sebagai seorang perempuan, memiliki skill bertarung yang tidak bisa diremehkan, kekuatan yang seolah tidak terbatas. Juga memiliki hal-hal yang diperlukan sebagai syarat dari bentukan ibu rumah tangga yang baik.
Well, Kakashi menceritakan padanya bahwa belakangan ini, Naruto mulai menyukai kegiatan seperti halnya memasak. Ia dan gurunya memiliki pemikiran yang sama, apa yang membuat gadis itu repot-repot untuk memijakan kakinya di dapur. Karena yang mereka ketahui, Naruto biasanya hanya bisa merebus air panas saja. Namun pemikiran tersebut Kakashi tepis keras-keras. Kenyataannya masakkan perempuan Uzumaki itu sangatlah lezat.
Ah, memikirkan hal tersebut membuat Sasuke ingin merasakannya juga. Tapi, tampaknya tidak bisa untuk saat ini.
Ya, mereka sedang melaksanakan misi. Fakta tersebut membuatnya mengumpat dalam hati, ia teringat bahwa ada orang lain juga selain mereka berdua, Sasuke tidak perduli dengan hal itu. Ketika sampai nanti, ia hanya ingin mengambil letak ruang inapnya yang agak jauh dari mereka semua, tentu saja untuk membaca novel dari Kakashi.
Sasuke sendiri sebenarnya sudah mengetahui cara manusia bereproduksi, ia adalah seorang laki-laki, jangan lupakan hal itu. Namun, ia ingin membacanya untuk mencari referensi, mungkin?
Mereka semua mendarat tepat di teras rumah bertingkat yang tampak lusuh tidak berpenghuni, melihat hal tersebut, membuat Naruto menjerit tertahan. Padahal sebelumnya ia sudah melacaknya terlebih dahulu. Dan kenapa seperti ini hasilnya? Tampaknya rumah ini sudah ditinggalkan selama bertahun-tahun oleh pemiliknya. Naruto yang sedari tadi memimpin rombongan, mencuri-curi pandang ke belakang tubuhnya--teman-temannya berada. Ia menyengir sembari menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
"A-ah! Energi rumah ini ketika ku lacak seperti ada penghuninya. Ku harap bukan lah penghuni yang sudah lama mati, hehehe" Ujarnya kikuk.
Mereka semua serempak menepuk dahinya masing-nasing. Sebuah realisasi menerpa Sasuke, manik hitam kelamnya menggerling pada pintu rumah yang mendadak berbunyi. Lalu, Sakura adalah orang yang pertama kali berjalan mendekati pintu masuk dan membukanya secara perlahaan, memberikan kode untuk mengikuti langkahnya. Yang lain menuruti saja. Berbeda dengan Naruto yang berjalan dengan posisi paling belakang. Ia merutuki ketakutannya di dalam hati.
Atmosfer udara tiba-tiba berubah menjadi mencengkam. Membuat sang gadis menggigil secara tiba-tiba. Kedua manik safirnya mengerjap kala menyadari suhu udara lebih dingin dari biasanya, ah! Ia lupa bahwa saat ini tengah turun badai salju. Naruto mengusap kedua telapak tangannya secara bersamaan lalu ditiupnya telapak tangannya.
Teman-temannya sudah memasuki rumah itu, dan hanya Naruto sendiri yang berada diluar rumah membuatnya berlari kecil menyusul yang lain. Hingga ada sesosok berwarna hitam menerjang ke arahnya. Membuatnya terdorong kebelakang hingga jatuh di tumpukan salju.
"AKHHH DINGIN!"
Dan disinilah mereka sekarang. Di depan perapian unggun. Tengah menghangatkan diri dengan cara masing-masing. Kalau untuk Naruto. Gadis itu tengah menyusun bajunya yang basah di dekat perapian. Agar mempercepat waktu kering, katanya.
Sakura memintanya menanggalkan pakaian secepatnya setelah menyadari pakaiannya telah basah, dan oleh sebab itulah mereka membuat dua api unggun. Untuk para laki-laki mereka membelakangi perempuan--karena saat ini naruto tidak mengenakan pakaian. Hanya dalaman yang untungnya saja tidak terlalu basah.
Naruto pernah mendengar bahwa seseorang yang sedang kedinginan di tengah badai salju harus melakukan aktivitas yang menghangatkan tubuh. Hal tersebut membuatnya menyerukkan kepada yang lain bahwa ia mendapatkan ide.
"Apa itu?" Bingung sakura. Kemudian matanya membelalak saat menyadari arti ucapan Naruto. "Apakah maksudmu dengan cara yang seperti 'itu'?" lanjutnya dengan nada yang tidak percaya.
Naruto menjawabnya dengan cengiran. Tubuh ketiga laki-laki disana tiba-tiba menegang kala menyadari keputusan nekat Naruto. Tampaknya Sai dan Shikamaru tidak ingin terlibat. Mereka juga diberitahukan misi lain yang harus di kerjakan oleh sang Uchiha, oleh sebab itulah mereka berdua mengalihkan pandangannya pada Sasuke yang facepalm.
"Ya, tentu saja. Untuk menghindari ketidaksukaan di antara kita semua. Aku memutuskan untuk membuat bunshin yang akan diambil alih kesadarannya oleh Kurama untuk menghangatkan ku." ujarnya enteng
Mereka semua tersedak ludahnya sendiri. Apa-apaan dengan meminta bantuan hal seperti itu pada seekor bijuu? Dan lagi, bunshinya Sendiri? Pandangan Sasuke mulai menggelap. Ia tidak menyukai meputusan ini.
"Idiot, bagaimana mungkin kau melakukannya dengan bunshinmu--"
"apa yang kau pikirkan?! Aku hanya ingin mendapatkan kehangatan dengan berpelukan!" Ucap Naruto tidak percaya.
Ucapan Naruto diserap dengan baik olehnya. Tampaknya ia salah paham disini, mungkin yang lain juga. Ia melupakan bahwa gadis itu adalah orang yang paling optimis yang pernah ia kenal. Sangat tidak memungkinkan jika Naruto berfikir Untuk--damn.
"Aku mengantuk. Sakura-chan, kalau pakaianku sudah kering, jauhkan dari api oke? Aku mengandalkanmu"
Naruto merebahkan diri di atas jubah misi yang telah dibentangkan diatas tanah. Ia sempat menggerutu sebal dengan mengatai lantai rumah yang terlalu dingin dan sangat keras. Tidak nyaman memang. Namun, ia seorang ninja bukan? Ia harus membiasakan diri untuk beristirahat di tempat yang tidak memungkinkan sekalipun. Jadi, anggap saja dirinya sudah terbiasa.
Ketika menemui posisi yang pas untuk mengistirahatkan tubuh. Naruto memejamkan kedua manik safirnya, dan tidak lama. Ia sudah memasuki alam mimpi.
Sakura yang berada disamping Naruto tersenyum tipis, lalu menyelimutkan kain penghangatnya ke tubuh sang teman. Ia masih punya hati untuk tidak membiarkan temannya yang tidur hanya menggunakan dalaman dicuaca yang seperti saat ini. Setidaknya ia sedikit membantu temannya disini.
Manik emeraldnya memandang kepenjuru ruangan, ia melihat masih ada beberapa pintu yang tertutup di dalam ruangan yang mereka tempati saat ini, ia beranggapan bahwa ruangan ini semacam ruangan keluarga. Dan, yang lainnya adalah kamar?
Bukankah mereka seharusnya beristirahat dikamar saja? Daripada mereka beristirahat berkumpul menjadi satu tanpa menghargai privasi masing-masing. Sakura tidak menginginkannya. Oleh karena itu, ia beranjak dari duduknya setelah memastikan kain penghangatnya menyelimuti Naruto secara menyeluruh. Dan saat ini ia menerka bahwa pergerakan dari tubuhnya menjadi pusat perhatian ketiga laki-laki yang berada tidak jauh dari posisinya. Hingga membuatnya mengerling kebelakang dan mendapati Shikamaru yang menatapnya dengan alis yang terangkat sebelah.
"Ada apa?"
Sakura menggeleng kecil lalu memegang kenop pintu dan membukanya--ternyata ruangan tersebut tidak dikunci. Ia langsung melengang masuk kedalam dan benar saja, ia mendapati sebuah ranjang yang berukuran besar didalamnya.
Ia kemudian memerintahkan teman-teman yang lain untuk memeriksa ruangan yang masih tertutup pintunya. Dan mereka semua memberikan jawaban yang sama. Kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang penuh dengan kelegaan. Manik emeraldnya tidak sengaja menatap orang terkasihnya yang kelihatan tidak nyaman akan sesuatu. Mulutnya sangat gatal untuk bertanya, hingga akhirnya pertanyaan tersebut keluar dari mulutnya.
"Ada apa, Sasuke-kun?"
Pandangan sang Uchiha terakhir mendarat padanya, lalu kembali mengerling pada dua orang lainnya--hingga berhenti pada Naruto. Alisnya menekuk dalam kala menyadari Sasuke yang memandang Naruto dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia masih menerka, apakah Sasuke memiliki masalah pribadi pada Naruto.
"Ada yang ingin ku katakan pada kalian semua. Ini sangat penting, tentang ku, tentang misi ini." Ujarnya sebelum mengalihkan pandangannya dari Naruto. Hati Sakura mencelos, kala menyadari kegugupan dari nada bicara orang terkasihnya.
Ada apa ini?
Atmosfer udara tiba-tiba saja berubah hingga suasana ruangan menjadi tegang. Sai yang menyadari hal ini pertama kali tersenyum maklum, lalu menyuruh mereka semua untuk membicarakannya sembari duduk dengan posisi yang agak menjauh dari Naruto. Sepertinya kemampuannya untuk membaca gerak-gerik seseorang telah meningkat. Hingga ia dapat menyimpulkan bahwa Sasuke sedang menyukai seseorang. Lalu, dengan pandangannya yang sedaritadi tertuju pada Na--oh tidak, ini akan merepotkan, pikirnya.
Sepertinya menyaksikan kisah cinta segitiga dengan posisi terdepan sangat menyusahkan baginya. Ia cukup mengetahuinya dari novel yang dibaca, ia sungguh tidak ingin mengetahuinya di kehidupan keseharian seperti ini. Hanya membacanya saja membuat emosi tiba-tiba menguasai tubuhnya--hingga secara tidak sadar ia telah membakar novel tersebut karena kerumitan dari alur ceritanya.
Pelipisnya sudah dibasahi oleh peluh yang menetes dengan cepat ia menyekanya. Ia tengah berusaha untuk menahan diri agar tetap terduduk diantara orang-orang yang membuatnya gemas akan kisah cintanya. Manik hitam kelamnya kini terpantri pada Sasuke yang enggan berbicara sejak mereka telah duduk dan bersiap untuk mendengarkan ceritanya. Sudut matanya tiba-tiba berkedut kesal.
Dengan senyuman khasnya, Sai kemudian berujar dengan pedas. "Lalu? Apa yang ingin kau katakan? Kau tidak mengatakan apapun sejak tadi, dan itu membuatku kesal. Kenapa kau sejak dahulu selalu selalu menjengkelkan, Sasuke?"
Tubuh Sasuke tersentak, lalu ia mengangguk kecil. Ia mengangkat kepalanya yang sedaritadi tertunduk. Pandangan matanya menelusuk tajam. Lagi pula, seorang Uchiha memang seperti itu kala menatap lawan bicaranya, bukan?
"Aku ... bukan lah laki-laki yang normal, tadinya." Sasuke menggantungkan kalimatnya. Manik hitam kelamnya kini dipejamkan, sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman. "Orientasi sexualku sudah menyimpang setelah klan ku dibantai habis oleh kakak ku, Uchiha itachi. Walaupun dia melakukannya demi desa tercintanya, tetap saja. Hal tersebut membuat jiwaku terguncang.
Aku menyadarinya ketika pertarungan perpisahan kami di lembah akhir, aku memutuskan untuk tidak berdekatan lagi dengannya, mencoba memutuskan ikatan yang kami miliki dengan cara membunuhnya. Karena aku sadar, aku tidaklah normal, aku memiliki ketertarikan terhadap sesama jenis.
Hal tersebut masih berlanjut hingga aku berumur delapan belas tahun, ketika aku kembali dari misi panjang, aku pulang ke desa dan mendapatkan fakta yang menamparku dengan keras. Orang yang kusukai ternyata perempuan. Aku merasakan kelegaan yang luar biasa menerpa hatiku. Selama ini aku menganggap diriku tidak normal. Tapi ternyata tidak, tubuhku sudah bereaksi terlebih dahulu sebelum otakku mampu menyadarinya.
Hingga akhirnya Kakashi menyadari semua kegelisahan ku. Dan ia memberikanku ini." Sasuke melempar sebuah buku dengan sampul yang berwarna hijau yang tampak familiar ke tengah-tengah mereka. Beberapa pasang mata memandang buku tersebut dengan mata yang membelalak.
"Icha-icha taktiks?!" seru mereka bersamaan. Sasuke mengangguk kaku lalu melanjutkan ceritanya.
"Rencana ini akan digunakan jika semuanya tidak berjalan sesuai rencana. Selain keras kepala, ia juga sosok yang tidak pernah menyadari keadaan yang menimpanya. Dan hal ini merupakan misi untukku yang diberikan Kakashi" lanjutnya, kali ini disertai dengan helaan nafas gusar.
Gadis bersurai merah muda yang sedari tadi menyimak ucapan orang terkasihnya mengerjap. Dadanya tiba-tiba saja terasa sesak. Ia menyadarinya, ia mengetahui dengan jelas siapa sosok yang dimaksud oleh Sasuke. Lidahnya sangat kelu saat hendak bertanya. Namun, ia hanya perlu memastikannya saja bukan? Ia sangat yakin jika observasinya saat ini menumpul.
"Dia adalah Naruto, bukan? Orang yang kau maksud adalah Naruto, ya 'kan?" Ujarnya dengan senyuman getir. Kesedihan tercetak jelas di wajahnya. Sakura terkenal karena ia merupakan ninja yang tidak bisa menahan emosi bukan?
Sakura tidak mendapatkan jawaban apapun dari Sasuke, namun ia dapat melihat kejelasan tersebut melalui anggukan kaku Sasuke, seolah membenarkan pertanyaanya. Tangisannya tumpah saat itu juga. Siapapun yang mendengarnya akan merasa pilu. Oleh karena itu, Shikamaru dan Sai menepuk pelan pundak sang gadis dan mengucapkan beberapa kalimat penenang.
Keempatnya diam membatu saat mereka mendengarkan suara amukan yang menginterupsi kegiatan mereka.
"kenapa berisik sekali-ttebayo?!" Omelnya ditengah ambang pintu. Kedua manik emerald Sakura membelak saat itu juga. Ia mengerling pada tiga kaum adam yang berada disana--untungnya mereka semua serempak mengalihkan pandangannya ke objek lain.
"Naruto! Kenapa kau tidak memakai pakaian mu!"
Naruto mengerjap. Menaikkan sebelah alisnya, mulutnya hendak menyerukan perkataan--kalau saja ia tidak merasakan dinginnya angin malam menusuk ke kulitnya. Kini, giliran Naruto lah yang membelalakan manik safirnya.
"Ha--KYAAAAAAAAAAA!!"
Mereka semua hanya memikirkan satu hal.
Mengapa orang yang kuat malah memiliki sifat dan pemikiran yang bodoh?
