Matahari telah menunjukan wujudnya sekitar dua jam yang lalu. Namun, gadis bersurai pirang masih betah menelusuri alam mimpinya tanpa terusik dengan cahaya matahari yang menyorot tepat kearah wajahnya. Terdengar suara dengkuran halus yang keluar dari bibirnya.

Pola tidur yang cukup berantakan untuk seorang gadis terlihat janggal. Namun, seperti Naruto tidak mempermasalahkan hal tersebut. Selama ia tidak dituntut untuk menjadi seorang gadis yang anggun. Ia dapat melakukan hal apapun yang disukainya. Termasuk bangun kesiangan ...

Shikamaru, selaku ketua tim yang sebenarnya sangat malas hanya untuk sekedar membangunkan Naruto. Karena ia pun sama halnya seperti gadis itu, ia masih mengantuk dan dibangunkan secara paksa oleh Sakura yang tampaknya sudah sangat frustasi untuk membangunkan temannya yang tidak membuahkan hasil sama sekali.

Oleh karena itu, ialah yang disuruh untuk membangunkan Naruto. Memangnya, jika ia yang membangunkan akan efektif? Sepertinya gadis bersurai merah muda itu salah memilih orang.

Namun, sebagai orang yang bertanggung jawab. Shikamaru tentu saja mengiyakan permintaan ninja medis tersebut. Dan disinilah dia sekarang.

Wajahnya facepalm saat melihat Naruto yang sudah terduduk dengan sempurna dengan kedua mata yang masih terpejam erat. Apakah gadis itu berniat tidur sambil berjalan?

Jika memang benar begitu, ia hanya perlu menyandarkannya saja 'kan?

Tapi, tampaknya semua itu tidak diperlukan, karena Naruto sudah beranjak dari posisinya dan berjalan dengan langkah lunglai entah kemana.

Ia mengerjakan matanya. Merasa ceroboh karena kehilangan jejak Naruto, padahal sedari tadi ia telah berdiri di ambang pintu. Kenapa pula gadis itu malah pergi disaat ia ingin menyampaikan suatu hal yang penting?

"Mendokusai"

Pemuda bermarga Nara itu mengendikan bahunya. Lalu berjalan berbalik ketempat perkumpulan mereka. Ia mendapatkan banyak pertanyaan ketika sampai. Dan ia hanya menjawab yang ia tahu saja.

Manik hitamnya mengerling pada Sasuke yang hendak bangkit, kemungkinan besar untuk mencari sosok Naruto. Namun, lengannya di cekal oleh Sakura. Gadis itu menggeleng pelan. Lalu melontarkan kalinat yang membuat Sasuke terduduk kembali dengan pipi yang merona samar.

"Aku memberitahunya, bahwa ada kolam air panas di sekitar sini. Aku baru saja dari sana. Mungkin, Naruto juga ada disana. Untuk membersihkan diri. Apa kau berniat untuk mengintipnya seperti yang biasa dilakukan oleh Jiraiya-sensei?"

Sasuke diam sepenuhnya. Membuat Sakura tersenyum samar. Pemuda berkulit pucat di antara mereka hanya mengulas senyum seperti biasa.

Melihat permasalahan internal anggota tim tujuh sangat merepotkan, pikir Shikamaru. Kalau dipikir-pikir, mengapa pula Rokudaime menetapkannya pada tim penelusuran kali ini? Tidakkah pria itu mengetahui bahwa ia lelah menyaksikan permasalahan asmara seperti ini? Padahal kisah asmara yang dialami olehnya sama merepotkannya. Ah, sepertinya hanya ia yang terlalu malas untuk mengutarakannya pada kakak dari Kazekage, Temari.

Menghela napas, Shikamaru mengambil posisi duduk disebelah Sai. Ia menyerngit saat melihat Sasuke mengeluarkan tujuh buah plastik kecil dari saku celananya. Meskipun tidak terlalu jelas, ia melihat beberapa helai rambut dengan warna yang berbeda terdapat pada masing-masing plastik.

Apakah Sasuke berniat untuk menggunakan jutsu terlarang?

Rasa ingin tahunya sudah terjawab karena begitu sasuke meletakkan sample tersebut ditengah-tegah mereka. Ia langsung menjelaskan strategi apa yang akan dilakukannya jika situasi terdesak, atau menghadapi jumlah musuh yang diluar batas kemampuan mereka dalam menanganinya nanti.

Sasuke juga menjelaskan bahwa ia sudah mendapatkan beberapa tumbal yang di tangkapnya lalu menjebaknya ke dalam genjutsu sebelum memasukannya kedalam gulungan penyimpanan.

Sudah mengantisipasi sejak awal, huh? Pemuda bermarga Nara tersebut mendengus, lalu menanyakan hal yang membuat perasaanya tidak enak sedari tadi.

"Apakah kau akan membangkitkan kembali Uchiha Madara?" tanyanya dengan nada yang tenang. Meskipun begitu. Shikamaru sudah terlebih dahulu menunjukan raut wajah yang berbalik dengan nada bicaranya. Ia ketakutan.

Siapa pula yang tidak takut pada kekuatan mengerikan seorang Uchiha Madara? Ia bahkan hampir mati dulu pada perang dunia shinobi ke empat. Sepertinya membangkitkan kembali sosoknya adalah keputusan yang salah. Sebab, Madara hanya akan kembali mengamuk jika dibangkitkan kembali. Dan perang akan kembali berlanjut.

Manik hitamnya mengerjap, menyadari bahwa pemirikirannya sudah terlalu jauh.

"Ya, Madara akan kubangkitkan dengan kontrol tubuh yang ku pegang seluruhnya. Akan kupastikan ia tidak berbuat bodoh kali ini." Tukas Sasuke.

Tiga dari empat orang yang berada di ruangan tersebut membelalak. Tampak terkejut dengan keputusannya. Hingga sesaat kemudian mereka berhasil menguasai tubuhnya.

Sai adalah orang pertama yang menyadarinya, ia kemudian bertanya. Keraguan terdengar jelas dari nada bicaranya. "Lalu, lima orang lainnya? Apakah para Kage terdahulu juga akan dibangkitkan?"

Anggukan ringan didapatinya. Membuat perasaannya sedikit tenang. Well, jika si Uchiha pembuat onar itu berulah, ada para kage yang menjadi tameng mereka. Ia bernapas lega untuk saat ini.

Diskusi mereka masih terasa janggal, terlebih satu orang lainnya masih belum disebutkan--tentu saja Sakura mengetahuinya walaupun tanpa diberi tahu. Ia mengangguk pelan.

Suara pekikan feminim terdengar sangat nyaring, disusul dengan masuknya seorang gadis pirang dengan terburu-buru. Para audiens sontak memusatkan perhatian padanya. Mereka sontak panik melihat Naruto datang dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.

Apakah terjadi sesuatu ketika Naruto sedang pergi mandi sendirian tadi?

"Apa yang--"

"Aku lupa membawa gulungan penyimpan ramen ku! Ah, bagaimana ini?! Aku lapar" serunya dengan panik.

Sasuke facepalm. Kepanikan Naruto memang sangat mengacaukan suasana hatinya. Lagi pula, tidak bisakah ia bersikap dengan normal barangkali sesaat saja?

Hanya gara-gara makanan berlemak seperti itu saja sudah membuatnya sepanik ini. Sepertinya memijat pelipisnya dapat menurunkan tingkat kekesalannya. Sasuke berusaha sekuat tenaga untuk tidak menghujat tingkah laku si tidak peka yang menyebalkan dihadapannya ini.

Suara tawa terbahak tiba-tiba mengisi ruangan yang mendadak sunyi semenjak kehadiran si pirang. Para audiens langsung saja menaruh pusat perhatiannya pada pemuda berkulit pucat yang biasanya hanya tersenyum maklum menanggapi berbagai situasi yang merepotkan.

Tapi, kali ini ... Sepertinya adalah sebuah kejadian langka--

"Oh, dasar! Si bodoh yang pelupa! Huh, setidaknya aku membawa makanan yang cukup selama menjalankan misi. Ini, tangkap!" Sai berujar dengan sangat jujur. Ia melemparkan sebuah makanan kemasan pada Naruto yang hanya ditangkap olehnya. Sudut matanya berkedut, hei! Naruto juga tahu jika dirinya tidaklah pintar. Setidaknya jangan disebutkan secara frontal seperti itu! Ia juga masih memiliki rasa malu, terlebih saat ini ada sosok bermulut pedas yang suka mengkritiknya.

Naruto hanya mendengus keras, tidak ingin membalas ledekan mantan Anbu Ne tersebut. Terlalu malas untuk berdebat dipagi hari--walupun saat ini sudah siang.

Naruto membaca lamat-lamat tulisan yang terdapat dikemasan makanan pemberian Sai. Kedua matanya membelalak saat itu juga. Roti dengan rasa sayur. Demi apapun, wujud tanaman aneh berwarna hijau tersebut adalah hal yang paling ia benci. Dengan ekstrak sayuran di roti pasti akan lebih buruk lagi.

"Ino yang memilihkan rasa sayuran untukku. Katanya, aku harus memakan roti ini ketika sedang menjalankan misi, karena ia tidak bisa mengirimi bekal untuk ku. Ah, ia juga mengatakan bahwa sayuran itu sangat menyehatkan bagi tubuh. Juga mempercantik kulit." Jelas Sai.

Senyuman miring dan ekspresi janggal tercipta diwajah Naruto. Gadis pirang itu berjalan mendekati Sai, lalu menyikut pelan perutnya.

"Sudah ada kemajuan, huh? Berterimakasihlah padaku. Sekarang kau akan mendapatkan istri yang cantik seperti Ino."

Naruto menggoda Sai hingga membuat semburat kemerahan muncul di kedua pipi pucatnya. Pemuda itu berdeham keras, lalu beranjak dari posisinya--mengakibatkan Naruto hampir terjengkang kebelakang. Gadis bersurai pirang itu mengomel atas pergerakan tidak terduga dari sang pemuda.

Interaksi keduanya tidak luput dari penglihatan Sasuke. Matanya menggelap, ia tidak menyukai kedekatan keduanya yang seperti ini. Tidak bisakah semuanya kembali normal seperti saat Naruto dan tim tujuh dengan anggota yang baru menemuinya? Oh, sepertinya Sasuke saja yang tidak normal. Tiba-tiba saja ia menjadi seseorang yang protektif sepeti saat ini.

Shikamaru melihat semuanya. Bagaimana ia melihat Sakura yang sedari tadi tertunduk lesu, sesekali melirik Sasuke. Sasuke yang menatap interaksi Naruto dan Sai dengan penuh kejengkelan. Sai yang sedang merona yang mungkin sedang memikirkan rekan se-timnya Ino. Dan Naruto yang mulai memakan rotinya dengan ogah-ogahan tanpa menyadari kalau ia sedang ditatap oleh Sasuke.

Pelipisnya sudah dibasahi oleh keringat. Memikirkan hal seperti ini lebih merepotkan daripada memikirkan strategi penyerangan perang dunia shinobi ke empat.

Atau kah Tuhan sedang menghukumnya dengan cara seperti ini karena ia telah menggantungkan hubungannya dengan kakak Kazekage? Kalau memang benar begitu, ia berjanji. Selepas pulang dari misi, ia akan langsung berangkat ke Suna untuk mempersunting Temari menjadi istrinya. Sepertinya tidak perlu pacaran atau apalah. Karena itu sangat merepotkan.

Menghela nafas, ia mengerling pada jendela usang. Matahari sudah semakin terik, jika mereka bergerak sekarang. Suhu udara tidak sedingin saat malam hari.

Lagi pula, mereka semua telah berkumpul. Sepertinya akan lebih baik lagi jika mereka melanjutkan pencarian mengenai reruntuhan Otsutsuki yang menurut prediksi Sasuke, letaknya sudah tidak jauh dari lokasi mereka saat ini. Mereka sudah berada di dimensi yang sama dengan kastil Kaguya. Shikamaru mengangguk sekilas. Ia mengerling pada yang lain. Menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya. Keputusan sudah didapatkannya.

"Kita bergerak, sekarang!"

oOo

Shikamaru memecah persatuan mereka menjadi beberapa tim. Menurutnya, akan lebih menghemat waktu jika mencari kesegala arah dalam waktu yang bersamaan. Oleh karena itulah ia membentuk tim lainnya. Shikamaru yang bersama Sakura, ia tidaklah pandai dalam melacak keberadaan musuh, sungguh. Tapi setidaknya, ia dapat dengan mudah menganalisis keadaan. Ia bukanlah orang terkuat di antara rekannya yang lain, hingga ia memutuskan Sakura akan menjadi rekannya. Shikamaru hanya beranggapan bahwa otak strategi akan di incar paling awal dalam sebuah pertarungan bukan? Setidaknya Sakura dapat membantu menyembuhkannya apabila ia terluka parah nantinya.

Sai ia buat dalam formasi sendirian, lagi pula Sai dapat melacak informasi dengan baik tanpa bantuan orang lain. Mengingat ia merupakan anbu asuhan Danzo.

Sementara Sasuke, sudah jelas ia pasangkan Dengan Naruto. Selain dengan menyatukan mereka kedalam tim yang sama agar masalah pribadi sang Uchiha terselesaikan, Shikamaru juga memiliki alasan yang kuat untuk menyatukan mereka.

Dengan kemampuan melacak Sennin mode milik Naruto, tim mereka di letakkan di posisi terdepan. Juga dengan kemampuan teleport milik Sasuke, Shikamaru setidaknya telah mengantisipasi jika terjadi sesuatu padanya dan Sakura. Sasuke akan dengan mudah melacak keberadaan mereka, dan mungkin akan membantunya.

Rokudaime sendiri telah memberikan beberapa alat berkomunikasi jarak jauh padanya, sebelum mereka berangkat. Dan ia memberikannya satu pada setiap rekannya. Ia juga menyuruh yang lain untuk segera menguhubunginya jika melihat sebuah pergerakan.

"Aku tidak melihat apapun disini."

Suara dengusan keras menyusul setelah ucapan sang gadis dicerna baik oleh pendengarannya. Kedua alisnya menekuk dalam sembari mengerling kepada Sakura melalui ekor matanya. Dalam hati, ia menyetujui ucapan rekannya. Mereka sudah melacak di udara menggunakan lukisan hidup milik Sai sejak berjam-jam yang lalu. Hingga matahari menunjukan pergantian waktu dengan memperlihatkan tanda-tanda tenggelam, digantikan oleh bulan.

Rekannya yang lain juga belum ada yang menghubunginya guna memberikan informasi terkait pencarian masing-masing. Ataukah mereka juga belum melihat keberadaan musuh, sama sepertinya?

Tapi, dilihat dari ketiadaan mahluk hidup selain tumbuhan di sekitar mereka membuatnya bertanya-tanya. Apakah wilayah ini sudah lama tidak dihuni?

Semua yang berada disekitarnya sangatlah janggal. Walaupun tidak dihuni oleh manusia, setidaknya sejenis serangga atau hewan kecil lainnya sudah pasti ada, bagaimanapun juga wilayah ini merupakan hutan yang tampak subur. Namun nyatanya ...

Sebuah realisasi melintas di benaknya. Membuat Shikamaru mengumpat pelan. Mengerling pada keadaan disekitarnya--ia mengenali kawasan ini. Lokasi dimana mereka berpencar. Peluh sudah membasahi pelipisnya. Semuanya terlihat sangat nyata. Ia bahkan tidak menyadarinya sama sekali.

"Bukankah seharusnya kita melacak musuh di sekitar reruntuhan kastil Kaguya? Ini semua perasaanku saja atau memang sedari-tadi kita hanya mengitari wilayah ini secara berulang?" Ujarnya kaku, namun juga serius.

Sakura tampaknya menegang kala menyadari keadaan yang melingkupnya. Manik emeraldnya membelalak saat itu juga.

"Kau benar! Astaga, kenapa bisa seperti ini? Padahal kita sudah mengikuti arahan lokasi yang diberikan oleh Sasuke-kun. Ataukah kita dijebak oleh seseorang?" Histeris Sakura, namun dengan suara yang kecil.

Shikamaru mengangguk kaku, meneguk kasar salivanya.ia kemudian memutar arah hingga berbalik dengan arah tujuan mereka. Bagaimanapun, ini semua tidak bisa diteruskan untuk saat ini.

Ilusi.

Ia sangat yakin dengan firasatnya kali ini. Namun, sejak kapan? Shikamaru bahkan tidak merasakannya sejak awal. Ataukah yang menjebak mereka kedalam sebuah ilusi adalah seseorang yang memiliki darah Uchiha? Karena, pengendali ilusi terkuat dan terhebat adalah klan Uchiha. Namun, siapa?

Sebuah kilasan percakapan terngiang kembali di pendengarannya. Tampaknya ia melupakan fakta bahwa klan Otsutsuki juga memiliki kekuatan pembuat ilusi. Dengan dua buah byakugan dan sebuah sharinnegan. Kekuatan tersebut lebih dari mampu untuk mengendalikan mereka.

"Genjutsu! Kita telah dijebak sejak awal! Aku yakin yang lain juga begitu."

Penglihatannya semakin menajam saat melihat seutas tali kemerahan melayang kearahnya--tebakannya meleset. Tali tersebut menyerang jutsu milik Sai, dan menghancurkannya. Hingga membuat mereka terjatuh dari ketinggian.

"Sialan!" Makinya kala itu. Merapalkan sebuah nama jutsu diikuti dengan segel tangan sederhana, pemuda bermarga Nara kemudian jatuh dengan sangat cepat, seolah gravitasi menariknya kedalam titik pusatnya.

Shikamaru mendarat pertama kali. Ia menapakkan kaki dengan perlahan pada puncak pohon, lalu meraih tangan Sakura yang telah dekat dalam jarak jangkauannya.

"Shika! Awas, dibelakangmu!"

Pekikan nyaring Sakura membuat konsentrasinya buyar. Dengan refleks, ia melompat kebawah pohon bersamaan dengan Sakura, karena ia yang menarik lengannya. Shikamaru mengeluarkan sebuah kunai, lalu memegangnya erat.

Srak.

Suara juluran tali kembali terdengar. Kali ini Shikamaru dibuat menggeram kesal olehnya. Dengan arah serangan yang di arahkan kepadanya--

"Sakura! Menunduk!"

Ctang! Shikamaru menangkis pergerakan tali tersebut dengan kedua mata yang membelalak. Terkejut dengan tali kemerahan yang ternyata memiliki tekstur sekeras baja.

Sial! Ini sangat buruk. Ia kemudian menyalakan alat komunikasinya dan mulai memberikan kode, namun nyatanya, tidak ada satupun dari mereka yang mengaktifkan benda tersebut. Dan hal itu membuatnya menjadi kesal, kenapa harus disaat seperti ini?

Dedaunan berjatuhan dari atas pohong seketika menarik perhatiannya. Ia mendongak keatas, guna melihat apa yang terjadi diatas sana--Wujudan seorang pria berkulit putih pucat yang mengenakan busana aneh terlihat di penglihatannya. Kala menyadari sepasang mata milik pria aneh tersebut. Shikamaru lagi-lagi dibuat terkejut dengan apa yang dilihatnya.

Mata itu ...

"Ku pikir sudah saatnya, untuk ukuran mahluk rendahan. Kalian boleh juga. Tapi, tidak akan kubiarkan kalian mengusik kesenangan Momo-dono!"

oOo

Sementara itu, di tempat yang berbeda. Naruto dan Sasuke tengah terlibat dalam sebuah pertarungan sengit, dengan lawan Otsutsuki yang mengaku sebagai yang terkuat diantara yang lainnya. Otsutsuki Momoshiki.

Batin Naruto mencibir, kala mendengarkan cerita Momoshiki dengan seksama. Bagaimana pria pucat itu menjelekkan Kaguya yang memakan buah chakra. Mengatai bahwa wanita itu orang yang serakah akan kekuatan. Apa-apaan itu?! Bukankah semua Otsutsuki juga gila akan kekuatan? Untuk apa pula ia menjelekkan sesamanya?

Naruto dibuat pusing hanya dengan memikirkannya. Sungguh, ia benci hal yang membuatnya berpikir dengan keras seperti ini.

"Naruto! Jangan melamun, serang dia!"

Tersadar akan kebodohannya, Naruto langsung melesat untuk merobohkan si pucat dalam satu kali serangan. Rasengan telah disiapkannya ditangan kanannya. Ia mendorong perputaran chakra ke punggung Momoshiki, hanya untuk diserap olehnya.

Sepertinya Naruto juga melupakan fakta bahwa klan Otsutsuki memiliki kemampuan menyerap ninjutsu. Sama seperti Madara ketika dalam mode jinchurikii juubi. Hanya taijutsu dan senjutsulah yang mempan untuk menyerangnya. Mengerling pada Sasuke, mereka kemudian saling mengangguk, seolah saling mengetahui cara untuk menyerang balik tanpa berdiskusi terlebih dahulu.

Gadis itu melesat bersamaan dengan pergerakan Sasuke yang sangat cepat bagaikan kilat. Mereka menyerang dengan sangat terkoordinasi. Dengan Naruto yang menyerang dari belakang serta Sasuke yang menyerang dari depan.

Mereka melayangkan sebuah tendangan dalam kekuatan penuh, membuat Momoshiki jatuh tersungsur seketika. Pria itu menggeram kesal bukan karena rasa sakit yang di terimanya akibat dua manusia rendahan ini, bukan. Ia memikirkan tentang mahluk rendahan yang beraninya mengotori jubah kekuasaannya, yang selama ini tidak pernah kotor akibat kekalahan konyol semacam ini.

Momoshiki tidak bisa menerimanya. Oleh karena itu ia mengeluarkan beberapa pil dari permukaan tangan kanannya yang terdapat sebuah rinnegan. Lalu menelannya dalam satu kali tegukan. Luka lecet yang diterimanya meregenerasi dengan perlahan bersamaan dengan sebuah jutsu yang dikeluarkannya melalui tangan kirinya dengan kekuatan dua kali lipat dari yang ia terima sebelumnya.

Selama delapan belas tahun hidupnya, Naruto belum pernah merasakan hawa membunuh sepekat ini--lupakan, sekuat ini. Kaguya sendiri tidak mengeluarkan hawa seperti ini ketika pertama kali muncul dari sosok Madara.

Apakah Momoshiki memiliki kekuatan yang lebih besar dari Kaguya? Memikirkannya saja membuat tubuh Naruto bergetar karena sedikit rasa ketakutan.

"Naruto, gunakan Mode ku. Aku akan menyalurkan chakra sebanyak yang bisa aku lakukan!"

Naruto tersentak dengan suara Kurama yang tiba-tiba mengiang di dalam kepalanya. Geraman sang rubah sangatlah keras, sedikit menganggu Naruto. Namun, rubah ini hanya akan memberikan respon seperti ini ketika ia melawan musuh yang sangat kuat bukan?

Tanpa berkata apapun Naruto mengangguk patuh. Ia memejamkan kedua matanya. Menarik aliran chakra Kurama hingga tubuhnya diliputi oleh chakra kejinggaan. Rambut panjangnya telah melambai tinggi di udara. Kelopak matanya diliputi warna kemerahan. Mode Kurama bersamaan dengan Sennin mode sangat membantu dalam melakukan penyerangan.

Dan ketika ia membuka matanya. Ia melihat Sasuke yang tengah berlari kencang kearahnya.

"Ini sangat mustahil, aku akan membentuk bala bantuan. Kau harus mengalihkan perhatiannya sebentar. Sementara aku, akan menyiapkan jutsu." dan setelah mengatakannya, laki-laki itu mengambil jarak yang cukup jauh darinya. Naruto bahkan belum sempat melakukan serangkaian protes mengenai sikap Sasuke yang menyuruhnya sesenaknya.

"Si berengsek itu" Geramnya.

Mengabaikan suasana hatinya yang mendadak menjadi buruk. Naruto berlari dengan kecepatan yang melampaui gerakannya sebelumnya. Dalam mode Kurama juga dapat membuat Naruto bershunshin kesegala arah yang dikehendakinya. Gadis itu menerjang punggung Momoshiki, hanya untuk ditangkap pergelangan kakinya. Pria itu menyeringai dengan kedua mata byakugan yang aktif. Cengkraman di kaki kanannya semakin erat. Hingga membuat sang gadis meringis kesakitan. Padahal sudah ditambahkan dengan Sennin mode, tampaknya kekuatan pria ini bukanlah tandingannya.

"Aku melihatnya" Momoshiki menggantungkan ucapannya. Melirik tangan kanan artifical miliknya yang terbalut perban dengan rapi. "Kau--tidak, kalian berdua memiliki kekuatan dan darah seperti kami. Siapa kalian sebenarnya?" Lanjutnya dengan kejengkelan diakhir kalimat. Ia melemparkan tubuh Naruto ke permukaan batuan keras hingga menyebabkan hancurnya batuan tersebut.

Naruto mendesis kesakitan. Sedetik kemudian ia menyeringai. "Tentu saja, aku adalah reinkarnasi dari anak Hagoromo Otsutsuki."

Pandangan Momoshiki menggelap, pria itu meraih kain tipis yang menutupi kepalanya, lalu membuangnya kesembarang arah. Lalu, ia berjalan dengan berwibawa kearahnya.

"Hagoromo, putra dari Kaguya. Oh, si aib itu sudah menjadi seorang nenek ternyata. Sungguh tidak berguna, Kecintaannya terhadap mahluk rendahan seperti manusia tampaknya telah diteruskan melalui anak cucunya. Manusia hanya menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan apa yang dilindunginya. Mereka serakah--" Momoshiki meraih kerah baju Naruto dan menariknya hingga wajah mereka sejajar. "--Dan kekuatan yang kau miliki adalah milik kami, para Otsutsuki. Kalian manusia rendahan tidak kan bisa memilikinya!"

Momoshiki kembali tidak berekspresi. Cekalan tangannya terasa kosong. Mahluk yang dibencinya telah hilang dari genggaman tangannya. Tiba-tiba kilatan jingga muncul di hadapannya. Rahang bawahnya terasa seperti di tendang oleh seseorang, namun pandangannya tidak melihat apapun. Kecepatan macam apa ini?

Hancur sudah harga dirinya sendiri sebagai seorang dewa. Diserang secara diam-diam, bahkan kekuatan matanya telah aktif sedari tadi, tapi apa yang dilihatnya? Hanya sebuah kilatan menjengkelkan yang mulai mengganggu penglihatannya. Oh, baiklah. Sepertinya ia mulai membenci warna tersebut.

Tiba-tiba kepulan asap mengelilinginya. Bersamaan dengan teriakan feminim yang dapat menulikan telinganya.

"Bijuu rasenshuriken!"

Ledakan berskala besar terjadi setelahnya. Naruto mengusap ujung hidungnya. Lalu tersenyum penuh kemenangan. Sepertinya bunshinnya telah melakukan pekerjaan dengan baik. Karena, Naruto mengambil posisi ditengah-tegah antara lokasi Sasuke dan Momoshiki. Ia masih penasaran dengan Sasuke yang sedari tadi tidak memunculkan diri dihadapannya guna membantunya melawan alien sialan itu. Sebab itulah ia mendekat.

Gelombang angin tiba-tiba terasa sangat kencang, Naruto bahkan sampai menambahkan chakra telapak kakinya, agar tidak tumbang. Sementara kedua tangannya masih sibuk melindungi matanya.

"Apalagi kali ini?"

oOo

"Kuchiyose edo-tensei!"

Susunan tubuh enam orang pria telah melebur dalam bentukan kertas, membentuk tubuh baru yang Sasuke panggil. Jantungnya tiba-tiba saja berdebar berkali-kali lebih cepat. Ia sangat mendambakan kehadiran sang kakak. Sebelumnya ketika mereka berpisah karena kakaknya telah melepaskan jutsu terlarang tersebut. Ia masih belum mengucapkan beberapa kata yang sangat ia ingin utarakan pada kakaknya.

Sebelah matanya menyipit bersamaan ketika ia merasakan kekuatannya seolah menguap dari tubuhnya. Ia sekarang mengerti resiko akan jutsu ini.

Sasuke mengerjap, ia masih mengingat ketika Kabuto mengendalikan ratusan mayat hidup secara bersamaan. Sungguh, kekuatan yang didapatnya dari Orochimaru tampaknya sangat memberikan dambak besar. Pria itu sanggup mengendalikan tanpa merasakan lelah sama sekali.

Bentukkan keenam tubuh pria yang Sasuke panggil sudah semakin jelas. Bisa dilihatnya ekspresi kakaknya membatu kala melihatnya. Sasuke tersenyum samar. Bibirnya sudah terbuka, hendak mengutarakan beberapa kata sebelum ia melihat serangan mendadak yang mengenai mayat hidup lainnya.

"Rasengan!"

Bentukan tubuh pria bersurai pirang masih belum terselesaikan, tapi sudah mendapat serangan dadakan hingga separuh tubuhnya hancur. Mayat hidup lainnya sudah dalam bentuk sempurna langsung siaga akan serangan yang akan datang nantinya. Semua kesempatan itu Sasuke ambil alih dengan mengontrol penuh gerak tubuh mereka. Ketika melihat penyerang. Tubuh Sasuke kembali tenang.

Ya, sosok itu adalah Naruto yang sedang menepati janjinya untuk menghajar sang ayah.

Salah satu dari mayat hidup lainya tampak mendengus keras. Kemudian suara makian tertuju padanya.

"Bocah ini lagi, sialan! Apa maumu!?"

Uchiha Madara tampak tidak menyukai dirinya yang kembali dibangkitkan. Tapi Sasuke tidak ambil pusing. Ia mengabaikan sosoknya dan kembali melihat perdebatan antara ayah dan anak yang tampak menarik perhatiannya. Membuat mantan tertua Uchiha mengumpat keras.

"Berengsek! Kenapa kau melakukan semua ini padaku ayah?! Apa kau ingin membuat orientasi seksualku melenceng?! Kalau iya, tampaknya kau berhasil! Karena aku sudah tertarik pada sesama jenis!" Seru Naruto dengan lantang.

Sosok yang diserang Naruto membelalakkan matanya. Begitu juga dengan sosok lain yang dibangkitkan. Terlebih dengan penampilan unik sang gadis pirang yang serupa dengan Naruto yang masih dalam rupa laki-laki. Rambut pirang yang panjang melambai diudara di liputi oleh chakra kejinggaan.

Sosok yang dipanggil ayah oleh Naruto. Namikaze Minato menggeleng dengan cepat, lalu berujar. "Maafkan Ayah! Ayah tidak bermaksud seperti itu sungguh! Ayah hanya ingin kau menjalani kehidupan ninja dengan tenang tanpa disuruh untuk menyadap informasi menggunakan cara kotor oleh petinggi desa, karena aku dan Kushina tidak ada disamping mu, menemanimu selama masa pertumbuhanmu!" Ujarnya dengan peluh yang sudah membasahi pelipisnya. Ringisan di bibir ayahnya membuat Naruto jengkel.

"Alasan macam apa itu?! Tentu saja aku tidak akan mau melakukannya Itu sangat menggelikan!" Ucapan Naruto tampaknya tidak sinkron dengan hatinya. Karena ia memang pernah melakukan semacam itu ketika menyadap misi, ia menggunakan henge miliknya.

"Kau pasti melakukannya! Kakashi sudah menceritakannya padaku ketika kau tidak sadarkan diri karena Kurama diekstak dari tubuhmu! Saat itu pelindung yang kuberikan padamu masih aktif, bagaimana jika kau melakukannya sekarang?!" bentak Minato dengan nada dingin.

Naruto langsung pucat pasih mendengarnya. Mode Kurama tiba-tiba saja dilepasnya hingga chakra kejinggaan yang meliputi tubuhnya hilang tidak tersisa. Rambut panjangnya telah turun. Ah, seperti gurunya yang satu itu perlu ia beri pelajaran ketika pulang dari misi nanti. Naruto langsung menyengir sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kalau sudah begini ia tidak bisa mengelak bukan?

"Ah, itu-itu, itu sangat menyenangkan! Lagi pula, selama hal itu membantu desa, aku pasti akan melakukannya! Kau tidak bisa melarangku untuk melakukannya ayah"

Minato tidak membalas ucapan putrinya. Ia hanya merogoh saku yang terdapat di rompi jounin yang dikenakannya. Lalu ia mengeluarkan sesuatu berupa helaian rambut berwarna merah yang sangat panjang.

Minato mengerling pada sasuke yang masih terdiam memperhatikan dirinya. Ia tersenyum, lalu berujar "Sasuke, apakah kau masih memiliki satu tubuh lagi? Sepertinya aku perlu memberitahukan hal ini pada Kushina--"

Bruk.

Naruto langsung memeluk kedua kaki ayahnya dengan erat. Bahkan sangat. Minato dibuat meringis karena ulah dadakannya. Kedua mata Naruto sudah berkaca-kaca.

"Tidak! Jangan ibu! Aku sudah pernah di pukul olehnya! Dan itu sangat menyakitkan, aku tidak mau lagi!" Dan sekarang Naruto sudah menangis tersedu-sedu di kaki ayahnya.

Para audiens yang menyaksikan hal ini dibuat menganga tidak percaya. Sudah dikejutkan oleh perubahan Naruto, mereka dikejutkan lagi oleh sifat cengeng Naruto.

"Usuratonkachi"

Tangisan Naruto langsung berhenti. Sudut matanya berkedut jengkel. Ia memejamkan kedua matanya hingga dua buah rantai chakra muncul dari tulang ekornya dan langsung menjulur kedalam tanah, lalu keluar tepat dibawah kaki Sasuke dan melilitnya dengan kencang.

Naruto beranjak dari posisi lalu melangkahkan kaki mendekati Sasuke. Rantai chakranya keluar dari dalam tanah bersamaan dengan langkah kakinya.

Diraihnya kerah kemeja Sasuke hingga wajah mereka sejajar. Raut wajahnya menunjukan kemarahan yang amat ketara. Sasuke mencoba untuk tidak gentar. Wajahnya masih menunjukan ketenangan berbeda dengan jantungnya yang berdetak sangat kencang.

"Kau! Bisa-bisanya mengataiku idiot disaat seperti ini?! Kau hanya akan semakin membuatku kesal saja!" omel Naruto. Tangannya beralih mencengkram kedua pundak sang Uchiha, lalu mendorongnya.

Sasuke sampai kehilangan fokus untuk memegang kendali para tentara edo-tensei. Alhasil, mereka semua lepas dari kendalinya. Namun tidak bereaksi berlebihan, terutama Madara. Hal itu membuat sasuke bertanya-tanya.

Suara benda terjatuh dibawah kakinya membuat pandangan Sasuke terpantri pada benda tersebut, kedua manik oniksnya membelalak saat itu juga, dengan gerakan cepat ia meraih benda tersebut--namun, sudah lebih dulu diambil Naruto. Gadis itu menyerngit menatap dirinya, dengan tangan kanan yang menunjukan sebuah buku padanya. Sasuke merasakan bagaimana wajahnya terasa panas.

Dan Sasuke teramat yakin, saat ini dirinya tengah menjadi pusat perhatian oleh yang lainnya. Menyadari ketiadaan suara disekitarnya.

"Icha-icha taktiks? Oh, ayolah Sasuke. Aku tahu belakangan ini kau sering bersama Kakashi-sensei, tapi tidak ku sangka kau jadi meneruskan kebiasaannya membaca buku porno, terlebih disaat genting seperti ini?!" Ujar Naruto tidak percaya. Ia kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum miring. Dan melemparkan buku tersebut kepada Sasuke--hanya untuk ditangkap olehnya, dengan gerakan kilat. Ia memasukannya kedalam perkamen ninjanya.

Dengan kedua mata yang menyipit, Sasuke berdeham dengan keras. "Aku tidak membaca--"

"Momoshiki masih memulihkan diri saat ini! Kita harus segera memusnahkannya sebelum alien itu kembali berulah!" Naruto menggantungkan ucapannya. Manik safirnya mengerling pada Itachi yang berdiri kaku menatapnya. Helaan nafas terdengar setelahnya. "Aku juga tidak merasakan chakra Sakura dan shikamaru saat menggunakan sennin mode! Apa yang terjadi disana? Sai juga! Aku tidak merasakan chakranya. Apa mereka melawan Otsutsuki juga?" panik Naruto.

"Otsutsuki? Keluarga Kaguya? Mereka masih ada?" Tanya Hashirama yang sedari tadi terdiam.

"Kaguya! Wanita berengsek itu! Dia menghancurkan rencana yang sudah kususun secara matang sejak lama! Dia tidak akan kumaafkan!" Geram Madara. Kedua matanya yang tadinya berbentuk Sharingan. Kini telah berubah menjadi rinnegan. Tingkat terakhir perkembangan dari mata klan Uchiha.

Pria bersurai putih yang sedaritadi menyimak pembicaraan menghela nafas. Netra kelabunya mengerling pada Uchiha yang telah membangkitkannya. "Rikuudou sennin tidak memperbolehkan siapapun menggunakan jutsu ini lagi. Jutsu ini adalah jutsu yang dapat merusak keseimbangan alam. Tidak seharusnya kami yang sudah tiada berada disini lagi." ujarnya dengan tegas.

Sasuke mengangguk paham. Lalu berujar. "kami tidak ada pilihan lain selain menggunakan jutsu ini. Yang kami hadapi adalah tiga orang dari klan Otsutsuki, kekuatannya setra dengan Kaguya. Setidaknya Hagoromo sendiri akan mengerti dengan cara seperti inilah yang akan membantu kami. Umat manusia melindungi dunia ciptaannya." tukasnya.

Dengusan keras terdengar setelahnya. Tapi Sasuke tidak ingin peduli. Terlihat dari ekor matanya Naruto tengah menggumamkan sesuatu. Gadis itu bergerak dengan gelisah lalu menghilangkan rantai chakra miliknya. Sennin mode diaktifkannya bersamaan dengan mode Kurama. Geraman tertahan miliknya berhasil menarik perhatian semua orang disana.

"ada apa, Naru?" Tanya Minato khawatir.

"Dia datang!" Serunya lantang. Semuanya langsung memasang posisi siap bertarung.

Permukaan tanah yang dipijakinya tiba-tiba retak. Suara gemuruh terdengar setelahnya. Naruto yang memang sudah memprediksi ini sejak awal tidaklah terkejut. Apalagi ia merasakan chakra ketiga temannya yang mulai melemah.

Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Ledakan chakra menguar dari tubuhnya. Rambutnya yang berkibar diudara seolah melambangkan betapa besar chakra yang dikeluarkannya saat ini. Naruto merasakan bagaimana kedua matanya memanas dan mengabur, air matanya tidak sempat ditahan meleleh begitu saja.

Suara beberapa kaki mendarat dari jarak yang cukup jauh dari hadapannya. Pandangannya menyendu kala melihat teman-temannya yang seolah menjadi sandera oleh sosok Otsutsuki tersebut. Dan kini. Ia melihat jumlahnya bertambah menjadi tiga orang. Seringaian bak setan tertuju padanya. Salah satu diantara mereka yang bertubuh cukup tambun melemparkan tubuh teman-temannya ke arahnya.

"Shika! Sai! Sakura!"

Naruto menciptakan tangan chakra kurama di sisi tubuhnya. Lalu menangkap tubuh temannya. Manik safirnya meneliti keadaan teman-temannya yang kini tengah tidak sadarkan diri. Tidak terdapat luka di tubuh mereka. Lantas, apa yang membuat chakranya melemah?

"Chakra mereka sangat hambar. Sangat cocok untuk manusia rendahan seperti kalian." Seru sosok Otsutsuki lainnya. Seketika menarik perhatian Naruto.

"Tapi, aku sangat penasaran bagaimana rasa Chakra mereka yang berasal dari darah kita yang di bumi. Bolehkah aku mengambilnya, Momoshiki-dono?" tanya sosok pria yang membawa kail pancing yang cukup aneh. Gelak tawa terdengar setelahnya.

"Mereka adalah milikku. Kau tidak boleh mengusiknya. Tapi, kau boleh mencicipinya ketika aku mengizinkanmu untuk melakukannya. Tentu saja, disaat aku tidak bisa melawan mereka lagi" Kedua mata byakugannya telah diaktifkan. Entah kenapa Naruto merasakan pandangan alien tersebut tertuju padanya, dan lagi. Dengan seringaian menjijikan itu.

"Keturunannya kelak akan menjadi wadahku yang selanjutnya. Jiwaku akan terus mengambang sampai tiba saat anaknya terlahir kedunia ini. Karena aku melihatnya." kini pandangan Momoshiki terpantri pada Sasuke yang berada di sebelah Naruto. "Takdir dari dua manusia yang memiliki kekuatan dewa. Mereka akan membentuk dua keturunan serupa namun tidak sejenis secara bersamaan, kekuatan yang terang dan kekuatan yang gelap. Sama seperti orang tuanya, mereka akan saling melengkapi."

Jantung Sasuke berdetak lebih kencang dari biasanya. Alien itu seperti merapalkan sebuah kilasan masa depan yang sangat dinantinya. Bersama dengan Naruto? Mereka akan memiliki keturunan. Tapi apa maksudnya dengan menjadikannya wadah?

Naruto merasakan hatinya mencelos. Mahluk ini sangat tidak berperasaan, ia tidak menyukainya, sungguh. Dengan menggunakan anaknya menjadi wadahnya? Dan lagi, yang pelum ia proses pembuatannya? Apakah pria ini sudah gila? Tampaknya begitu.

Seringaian bak setan kembali tercipta bersamaan dengan tangan pria tersebut yang terangkat keudara. Membentuk sebuah bola hitam besar yang memiliki skala ledakan yang mungkin, akan lebih dahsyat dari bijuu-dama.

"Semuanya akan dimulai besok malam! Kalian tidak akan menyadarinya. Karena semuanya mengalir tanpa kalian sadari. Skrenario sudah tercipta. Dan kalian hanya akan menjadi pion sebagai pemainnya!"

Deg!

Naruto merasakan dadanya seperti ditekan oleh sesuatu yang tidak kasat mata. Sangat menyesakan, bahkan kedua matanya menyipit dengan kedua tangan yang memegangi dadanya. Naruto bahkan tidak sanggup memapah berat tubuhnya sendiri saat ini, hingga ia jatuh berlutut--masih dengan menggunakan mode Kurama. Nafasnya tersegal-segal.

Sensasi ini sama seperti ketika ia mengetahui kebenaran tetang Itachi, dan mendengar berita bahwa Sasuke temannya bergabung dalam organisasi Akatsuki. Naruto menggerang kesakitan saat ia melihat Kilasan-kilasan ingatan yang tidak ia ketahui milik siapa melintas di pikirannya. Sangat samar dan juga membingungkan. Naruto membelalakkan kedua matanya saat ia mendapatkan kilasan gambaran dua orang anak kecil. Yang laki-laki memiliki surai raven dengan warna mata biru sepertinya. Dan satunya lagi perempuan yang memiliki surai pirang sama seperti dirinya, dengan kedua mata yang berwarna hitam kelam.

"Siapa mereka?" gumam Naruto, sedikit kebingungan.

Denyutan menyakitkan tercipta di kepalanya. Naruto sampai menarik kuat rambutnya. Ringisan kesakitan tercetak jelas diwajahnya. Kedua matanya menyipit saat merasakan geraman murka Kurama memenuhi kepalanya bersamaan dengan energi yang terasa sangat panas mendesak keluar dari tubuhnya. Tampaknya, Kurama juga merasakan hal yang sama sepertinya.

Semua gerak-gerik Naruto tidak luput dari pandangan Sasuke. Sang Uchiha hendak menolong, sebelum ledakan chakra kemerahan melingkupi Naruto. Ia melompat mundur dengan segera. Postur tubuhnya memasang posisi bertarung jikalau situasi yang memaksanya untuk melakukannya.

"Kyuubi! Perasaan ini, sama seperti delapan belas tahun yang lalu! Ketika Kyuubi menyerang desa Konoha! Apakah dia dikendalikan lagi oleh seseorang?" Panik Minato. Kedua matanya membelalak saat itu juga, seperti mendapatkan sebuah kilasan akan memori masa lalu. "Apa Naruto baik-baik saja? Kushina dulu hampir sekarat saat Kyuubi dikeluarkan dari dirinya paska melahirkan!" jelasnya.

Hashirama mendengarkan ucapan Minato dengan seksama sebelum berseru dengan tiba-tiba, mengagetkan para audiens yang berada disana. "Tenang saja Yondaime, jika memang begitu adanya. Aku akan menahan Kyuubi menggunakan segel--"

Dehaman keras terdengar setelahnya, membuat Hashirama menghentikan ucapannya--mengerling pada seorang Uchiha yang bersurai hitam panjang, Itachi. Sebelah alisnya naik. Memasang raut wajah kebingungan kala melihat Shodaime yang memiliki sifat absurd, sangat tidak cocok untuk seorang dewa shinobi. Ini semua tidak seperti ekspetasi yang menganggap Hashirama adalah orang yang berwibawa dan tegas. Terlalu berbeda.

"Naruto masih dalam kontrol tubuhnya. Tenang saja. Hanya saja ia mendapatkan bantuan chakra yang sangat besar dari Kyuubi, sehingga Naruto tidak mampu mengontrolnya." jelas Itachi setelah menganalisis keadaan dengan seksama.

Pusaran kemerahan yang melingkupi Naruto dengan perlahan memudar. Hingga menampakan wujud sang gadis walaupun samar. Sasuke langsung mendekati Naruto. Langkahnya terhenti saat ia merasakan sebuah penghalang tak kasat mata ditabraknya. Apakah gadis itu sengaja memasang ini?

Naruto yang berada disana dengan perlahan bangkit dari posisinya. Kepala Naruto terasa sangat ringan, seperti akan kehilangan kendali atas tubuhnya. Namun, berbeda dengan pandangannya yang semakin terlihat jelas. Begitu pula dengan telinganya. Ia seperti dapat mendengar dengan sangat jelas, bahkan hembusan angin yang ringan terdengar jelas olehnya.

Kedua alisnya menekuk dalam kala menyadari penglihatannya terhalangi oleh sesuatu yang berwarna merah. Naruto merabanya. Dan mendapati rambutnya lah yang berubah menjadi merah. Saat itu kedua matanya membola dengan sempurna.

"Bentuk transformasi terakhir dari Chakraku. Kitsune. Aku menjamin pertarungan akan kau menangi jika kau memakai mode ini, karena aku tak bisa membantu mu dalam mode rubah chakra. Aku bisa ditarik keluar, dan kau akan langsung mati."

Senyuman lemah terlukis di bibir merah darah sang gadis. Ia mengangguk pelan lalu membenarkan posisi tubuhnya. Manik biru safir yang kini telah berubah menjadi merah pekat menatap lurus sosok alien yang berdiri tidak jauh dari dirinya. Tersenyum miring sembari menatap remeh ketiga sosok yang kini tengah membatu melihatnya.

Terkejut, huh?

Sebuah bola hitam tiba-tiba muncul dari permukaan tangannya, lalu berubah bentuk menjadi sebuah tongkat hitam panjang dengan ujung yang sangat tajam.

"kalian tidak akan lari, 'kan? "