Belum pernah ada hal yang dapat membuat suasana hati Momoshiki memburuk sebelumnya. Di beberapa pertarungan rendahan yang ia lakoni,ia selalu menang telak. Tentu saja, karena dirinya kuat. Lagi pula, bukankah semua anggota otsutsuki juga kuat?
Namun, kini. Momoshiki merasakan suasana hatinya cukup memburuk. Melawan dua mahluk rendahan yang menjengkelkan, namun juga kuat. Sama halnya seperti dirinya. Oh, apakah ia baru saja mengakui bahwa ada orang lain yang memiliki kekuatan yang setara dengan dirinya?
Tampaknya begitu. Bagaimanapun juga, perempuan yang satu ini sama menjengkelkannya seperti Kaguya.
Momoshiki tidak pernah menyukai sosok perempuan karena kecerobohan dan ketamakkan yang dilakukan oleh anggota klannya tersebut. Jika bisa disebut dengan trauma. Mungkin bisa.
Karena traumanya terhadap perempuan, mungkin klan Otsutsuki akan punah. Jangan lupakan bahwa hanya beberapa anggota klan saja yang tersisa saat ini. Dan lagi, semuanya adalah laki-laki. Termasuk yang berada dibulan, untuk orang itu. Ia akan menemuinya nanti. Karena menurutnya, takdir telah tertulis dengan jelas di telapak tangannya. Tapi, siapa yang menyangka bahwa beberapa saat lagi akan ada sebuah pertarungan yang menyenangkan? Semuanya terlalu cepat.
Sebagai anggota inti klan Otsutsuki, Momoshiki ingin melihatnya di kursi terdepan. Menyaksikan bagaimana cinta yang membodohi Kaguya meracuni pemikiran dia yang berada dibulan hingga akhirnya semuanya berbalik dari takdir yang tertulis.
Semua itu akan ia lakukan ketika ia sudah memiliki kekuatan dari sosok perempuan didepannya ini.
Sudut bibir Momoshiki tertarik membentuk sebuah seringaian. Ini adalah puncaknya. Dan ia harus memenangkannya. Mengerling pada bawahannya, Kinshiki. Lalu ia berujar dengan tenang. "Kau lihat disana, Kinshiki. Ada banyak pengganggu yang menghalangi pemandanganku."
Seakan mengerti dengan ucapannya, Kinshiki menunduk hormat pada Momoshiki. "Apa perlu hamba memusnahkan penghalang anda, Momoshiki-dono?" tanyanya.
"Ya, secepatnya." timpal Momoshiki.
Dan saat itu juga pengawalnya melesat ke arah berkumpulnya sosok manusia rendahan yang tampaknya baru saja dibangkitkan. Oh, lihatlah. Selain serakah, manusia juga merusak keseimbangan alam dengan jutsu yang mereka ciptakan seperti ini.
Kini, Momoshiki menaruh pusat perhatiannya pada sosok yang sedari tadi masih setia berada disampingnya. Kedua matanya menyipit. Kelihatan tidak suka dengan kehadirannya. Sedangkan yang ditatap mengendikan kedua bahunya.
"Aku tidak tertarik untuk ikut campur dalam pertempuran kali ini. Bolehkah aku hanya menyaksikan saja, senpai?"
Berdecih pelan. Momoshiki berjalan menjauhi Urashiki. Sosoknya adalah mata-mata yang paling berguna bagi klannya. Jadi, untuk kali ini. Anggap saja ia memberikan pertunjukan yang akan membuat Urashiki takjub.
Mulut sampah yang gemar mengomentari itu akan ia bungkam dengan kemenangan yang akan ia peroleh nanti. Dan juga kekuatan milik perempuan itu. Ia harus memilikinya. Tidak seharusnya mahluk rendahan memiliki kekuatan yang sangat besar seperti itu. Hanya ia yang boleh.
"Kalian tidak akan lari, 'kan?"
Tampaknya Momoshiki tidak dapat menahan geraman kesal ketika mendengan lontaran kalimat yang menyiratkan seolah dirinya penakut. Namun, saat menyadari situasi. Tubuhnya mematung. Sedetik kemudian, ia menyeringai lebar.
"Kekuatan itu, harus ku miliki. Rubah."
Gelak tawa terdengar setelahnya. Sangat nyaring. Padahal keadaan sekitar masih bisa dikatakan riuh oleh desiran angin. Jujur saja, respon semacam ini seolah melukai harga dirinya. Apakah ucapannya lucu?
Ya, mungkin bagi Naruto begitu. Lagi pula ia hanya ingin mengetes kontrol emosi seorang Otsutsuki. Penyerangan secara verbal ternyata mampu memancing emosi sang alien. Naruto tersenyum miring sebagai respon atas keberhasilannya.
Tidak seperti Kaguya yang tetap menahan emosinya dulu. Momoshiki cenderung tidak bisa menahan emosinya. Mungkinkah ini perbedaan antara laki-laki dan perempuan? Tapi, kalau dipikir-pikir Naruto juga sama halnya seperti Momoshiki.
"Rubah ini adalah temanku! Jika kau ingin mengambilnya, maka langkahi dulu mayatku!" serunya sesaat sebelum menghilang bagai kilatan kemerahan.
Kesiagaan Momoshiki meningkat saat ia tidak menangkap keberadaan Naruto melalui penglihatannya. Refleks, byakukan diaktifkannya. Namun, apa yang dilihatnya sama sekali bukanlah harapannya.
Sebuah tongkat hitam melaju ke arah Momoshiki--hanya untuk ditangkapnya. Pria itu mendesis sebal kala menyadari tongkat tersebut menyerap kekuatannya. Dengan cepat ia menghantamkannya ke permukaan tanah.
Kedua mata byakugannya yang masih aktif tersebut mendelik kesal. Ia mengenali energi yang terkandung didalam tongkat hitam tersebut. Gudoudama adalah senjata para Otsutsuki yang tercipta dari perpaduan chakra yin dan yang sang pengguna yang memiliki berbagai macam elemen dasar kekuatan. Lalu, mengapa pula dirinya yang berasal dari klan tersebut merasakan efek dari memegang tongkat tersebut?
Kepulan asap tiba-tiba meliputi tongkat hitam tersebut, bersamaan dengan sebuah tangan yang terulur dengan pola rumit aneh di telapak tangannya.
"Sekarang, Naruto!"
Kilatan merah kembali memenuhi indra penglihatan Momoshiki. Kali ini berdampingan dengan kilatan ungu. Kedua matanya membelalak saat menyadari posisinya; ia berada ditengah-tegah dua manusia rendahan, Naruto di sisi kanan dan Sasuke di sisi kiri tubuhnya.
Kedua bahunya sudah dipegangi oleh tangan dari dua sosok sialan. Suara penyebutan segel terdengar memekik telinga setelahnya. Selanjutnya, suara gemuruh tanah bersamaan dengan terangkatnya tubuh Momoshiki ke Udara. Bongkahan tanah dengan tekstur padat langsung menghantam tubuh pria pucat tersebut. Hingga membentuk sebuah bulatan padat menyerupai bulan.
Kegiatan semacam ini sangatlah menguras tenaga, oleh karena itulah Naruto langsung kehilangan keseimbangan tubuh kalau saja Sasuke tidak menangkap pundaknya dari belakang.
Nafas sang gadis memburu, sebelah matanya menyipit dengan bibir yang membentuk cengiran khas yang sangat di senangi sang raven. Lengan atas Sasuke diremas sehingga membuat sang empu menaruh pusat perhatiannya pada Naruto. Kedua matanya mengerjap lucu saat ia melihat perubahan mencolok dari gadis disampingnya.
"Ini sangat melelahkan."
Sosok lain dari klan yang sama seperti Momoshiki nenyeringai. Kedua tangannya terangkat lalu menepuk-nepuk di udara. Ekspresi wajahnya menunjukan bahwa ia terlihat puas dengan pertunjukan yang diberikan oleh atasannya.
"Kekuatan yang menakjubkan. Tapi, apakah kalian yakin Momoshiki-senpai dapat dikalahkan dengan jutsu penyegel yang sama seperti Kaguya? Tingatan kekuatan mereka berada di level yang jauh berbeda. Tentu saja yang unggul adalah Momoshiki-senpai." ujarnya dengan seringaian.
Naruto mematung. Begitu pula dengan Sasuke. Ucapan Urashiki tampaknya sedikit mengguncang keyakinan mereka terhadap Momoshiki yang berhasil mereka segel. Keduanya saling bertatapan, dari sorot mata masing-masing. Keduanya menyiratkan hal yang sama.
Ini belum berakhir.
Urashiki mendongak keatas--tepat pada bulatan tanah bertekstur padat. Ia meraih gagang pancing chakranya. Lalu memainkannya keudara. Senyuman mengejek tercipta di bibirnya.
"Aku tahu kau tidak akan kalah dengan begitu mudah, Senpai." Teriaknya. "Kupikir sudah saatnya kau memberikan serangan penghabisan untuk mereka." lanjutnya.
Suara ledakan dari atas sana mengisi kekosongan di malam yang sunyi. Semua eksistensi tertuju pada pusat suara. Bongkahan tanah berjatuhan bak meteor yang menghujami permukaan bumi. Tanah tersebut berjatuhan di daerah sekitar termasuk dibentukan kawah bekas tanah tersebut terangkat.
Sosok pria berkulit pucat terlihat setelahnya. Momoshiki menepuk-nepuk jubahnya yang kotor akibat terjebak didalam kubangan tanah.sorot matanya menunjukan kemurkaan yang teramat.
"Kalian akan ku musnahkan!"
oOo
Sepasang mata emerald yang disembunyikan oleh kelopak mata yang sedaritadi terpejam, dengan perlahan menunjukan keindahannya. Pandangan mata kosong yang pertama kali tersajikan. Disusul dengan kerjapan pelan setelahnya.
Sebuah benda tajam berwarna merah melaju tepat di depan wajahnya, dan menancap tidak jauh dari tempatnya berada. Kedua matanya langsung melebar, dan ia bangkit dari posisi saat itu juga. Namun, ia mengurungkannya saat merasakan tubuhnya terasa seperti kehilangan tenaga, bahkan hanya sekedar untuk bangkit.
Haruno Sakura menggigit ibu jarinya hingga berdarah, lalu mengusapkannya di telapak tangan yang lain. Merapalkan sebuah jutsu pemanggil, tidak lama seekor siput penyembuh muncul dengan ukuran kecil. Summon yang dipanggilnya memiliki ukuran tubuh yang kecil, sama seperti kapasitas chakranya saat ini. Namun, ini semua sudah cukup untuk memulihkan keadaannya.
Sang siput langsung melaksanakan tugasnya tanpa dipinta terlebih dahulu. Seperti sudah mengetahui keadaan disekitar.
Kepala Sakura tiba-tiba berdenyut--membuat sang empu meringis kesakitan. Penyembuhan dari Katsuyu tampaknya tidak berjalan dengan cepat seperti yang diharapkan. Ingatan tentang chakranya yang ditarik paksa dari tubuhnya melintas di pikirannya.
Sakura tidak perlu menunggu sembuh sepenuhnya. Ia sudah beranjak dari posisinya dan mendapati satu rekannya yang lain tengah terbaring tak sadarkan diri. Sementara pemuda berkulit pucat berdiri tepat didepannya dengan sebilah pedang yang sudah disiapkan.
Apakah Sai menjaga mereka sedari tadi?
Perasaan gadis bersurai merah muda menjadi campur-aduk. Dengan ragu ia memanggil rekannya yang terjaga--hanya untuk di potong dengan sebuah perintah yang tampak mutlak.
"Kekuatanmu sudah pulih bukan? Sembuhkan Shikamaru, aku akan berjaga disini. Meskipun tidak ada bahaya untuk saat ini. Tapi aku masih mewaspadai dia yang masih diam menyaksikan pertarungan." Ujarnya kaku.
Pandangan sang pemuda masih berfokus pada Urashiki yang masih duduk bersimpuh diatas batuan. Sosoknya jelas-jelas mengabaikan mereka dan lebih memperhatikan sebuah pertarungan besar yang lebih menarik.
Sakura mengangguk pelan, ia merasakan kekuatannya sudah mulai berangsur membaik. Lalu ia menurunkan Katsuyu dari pundaknya. Dan meletakkannya diatas dada Shikamaru.
"Katsuyu-sama, tolong--"
"Baiklah Sakura-chan"
Matanya tidak sengaja melirik benda yang ternyata berupa kapak kemerahan. Belum pernah dilihatnya jenis senjata semacam ini, terlebih berwarna merah--apakah senjata ini milik Otsutsuki?
Tubuhnya tiba-tiba gemetar dengan alasan yang tidak diketahui dengan pasti. Namun, perasaannya sama seperti ketika melihat kemunculan Kaguya.
Banyak hal yang mengganggu pikirannya saat ini. Dan semuanya juga terasa sangat janggal.
Beberapa akar julur kayu keluar dari permukaan tanah, hingga menjulur tinggi. Seperti hendak menangkap sesuatu. Kedua matanya membola saat itu juga.
Sakura merangkulkan lengan shikamaru di pundaknya. Lalu mengambil jarak yang cukup aman dari pertempuran.
"Kenapa lama sekali." gumam Sakura.
Manik emeraldnya mengerling pada sang Nara. Ia mendapati gerakan kecil dari tubuh Shikamaru diikuti dengan terbukanya mata sang pemuda.
"Bagaimana dengan yang lain?" tanya Shikamaru dengan nada bicara yang berbisik.
Sang Nara mendapat jawaban berupa gelengan kecil dari Sakura. "Seperti yang kau lihat, kita mungkin baik-baik saja. Tapi, aku tidak tahu dengan keadaan Sasuke-kun dan Naruto. Semoga saja mereka tidak kenapa-napa."
Ledakan besar terjadi setelahnya. Api berkibar tinggi sekali, hingga membakar pepohonan yang berada disekitarnya. Lagi-lagi dahi Sakura mengernyit menyingkapi semua ini. Siapa yang sedang bertarung dengan sosok Otsutsuki yang ini?
Tampaknya yang bertempur di sana bukan Sasuke ataupun Naruto. Karena tidak ada chakra familiar yang dirasakan Sakura. Semuanya tampak asing, ia mengerjap. Salah satu chakra dari mereka mengingatkan dirinya akan sosok berbahaya pada saat perang satu tahun yang lalu.
Uchiha Madara.
Butuh waktu beberapa menit bagi Sakura untuk mengontrol rasa ketakutannya yang secara tiba-tiba memuncak. Dirinya tidak sekuat kedua sahabatnya. Ia merasa kekuatannya berada jauh di bawah mereka, seberapa keraspun usahanya untuk menyetarakan diri. Ia masih tertinggal jauh.
Bagaimana jika mereka diserang disaat keadaan yang seperti ini?
Keadaan yang melingkupnya membuat pikirannya berkecamuk, belum lagi dengan keadaannya yang masih belum pulih sepenuhnya.
Sakura masih teringat saja. Disaat ia menghadapi Madara, dengan mudahnya pria itu menancapkan sebilah tongkat hitam yang tajam ke perutnya. Dan lagi, ada sebuah pelindung aneh yang menghalanginya untuk memberikan serangan pada Madara. Ia tidak memiliki kekuatan spesial seperti kedua temannya, yang dapat melihat ataupun merasakan penghalang tak kasat mata milik Madara.
Sakura hanyalah seorang kunoichi biasa, yang kebetulan berguru pada salah satu Sannin legendaris--Tsunade Senju. Hanya mewarisi ilmu medis dan Human Strength. Byakugou didahinya juga tidak dapat membantu banyak jika ia menggunakannya dalam pertarungan tunggal.
Memprediksi bahwa dua rekannya yang lain tidak akan mampu untuk menghadapi kekuatan sang Uchiha. Sakura hanya dapat menyusun formasi penyerangan dengan dua sahabatnya. Ia merasakan kekuatannya akan tertutupi dan berguna jika disandingkan dengan mereka.
Sai memerlukan sedikit waktu untuk menggunakan jutsu melukisnya. Sedangkan untuk Shikamaru, Sakura yakin posisi yang tempat untuknya adalah di bagian terbelakang formasi.Otak strategi tidak seharusnya turun langsung dalam peperangan.
Lihatlah, memikirkannya saja membuatnya meringis. Pemikiran yang payah untuk orang yang terkadang memiliki sikap bijaksana dalam menyingkapi berbagai hal yang merepotkan. Ternyata ia tidak cocok didalam bidang ini.
"Shodaime-Sama kelihatan sedikit kesulitan menghadapi mereka--apa perlu kita turun tangan? Sepertinya diperlukan, walaupun sebelumnya Sandaime telah melarang keras kita untuk ikut campur. Bagaimana ini?" Sai melontarkan kalimat yang membuat suasana diantara mereka menjadi hening.
Sakura mengerjap, merasa disorientasi dengan keadaan disekitarnya. Dan lagi, kenapa Sai menyebutkan Shodaime--
"Ah, sudah dimulai rupanya. Hmm-mm kita harus kesana. Aku tidak sampai hati memperlakukan para kage yang dibangkitkan hanya untuk menjadi senjata, sementara kita hanya menyaksikan dari kejauhan. Tidak kah semua ini terasa tidak adil bagi mereka?" pikir Shikamaru.
Anggukan persetujuan dari Sai membuatnya menyeringai kecil, ia kemudian bangkit dengan perlahan. Katsuyu hilang menjadi kepulan asap setelahnya.
"Sasuke-kun telah membangkitkan mereka? Lalu bagaimana dengan Madara?" tanya Sakura. Raut wajahnya menunjukan keterkejutan yang teramat. Namun juga ketakutan disaat yang bersamaan.
Shikamaru hanya mendengus pelan. Melihat reaksi gadis bersurai merah muda disampingnya yang tampaknya melupakan kesepakatan mereka sebelumnya. Ia tidak ingin menjelaskan ulang dialog yang teramat panjang dari Sasuke. Itu sangat membuang waktu dan sangat merepotkan.
Hal yang sama juga dipikirkan oleh Sai. Senyuman palsu miliknya adalah sebuah topeng yang menutupi keinginan terdalamnya untuk mengumpat keras. Namun, saat ini semua itu tidak penting.
Sang ketua dari tim utusan Desa Konoha memberikan beberapa instruksi mengenai tindakan apa yang akan mereka ambil jika situasimendesak. Anggukan dari kedua rekannya menjadi penutup diskusi. Mereka melesat ke tiga arah yang berbeda dari tempat sebelumnya.
Sai sengaja mengambil posisi memantau situasi. Seperti yang direncanakan sebelumnya, ia harus mengirimkan situasi kepada rekannya yang lain. Sebelum bertindak lebih dalam.
Kedua matanya dipejamkan, radar pendeteksi chakra miliknya telah diaktifkan. Kedua alisnya menekuk dalam saat merasakan aura yang sangat menusuk ini--bahkan membuat tubuhnya gemetar. Nafasnya menderu oleh luapan ketakutannya. Sai belum pernah merasakannya sebelumnya. Namun, yang pasti. Orang ini sangat berbahaya.
"Aura jahat ini, lebih pekat dari chakra Madara ketika menjadi jinchurikii juubi. Tapi, siapa?" gumamnya pelan.
Memikirkan kembali tentang Madara. Pria kuno itu jelas-jelas tengah bertarung melawan Otsutsuki bertubuh gempal. Jadi, tidak mungkin jika pemilik chakra ini adalah dirinya.
Kilatan petir membuat Sai mundur dari posisinya. Kesiagaannya meningkat ketika angin tiba-tiba berhembus sangat kencang dari arah pukul dua. Dan lagi, chakra yang menghambur di udara juga berasal dari sana--tangan kanannya merogoh gulungan kertas miliknya di perkamen ninjanya.
Sembari mengamati lebih teliti pergerakan dari sana. Mikrofon penghubungnya di aktifkan.
"Shikamaru, apakah kau mendengar perkataanku?" ujarnya dengan nada keras. Desiran angin yang terlalu kencang membuatnya mengumpat rendah. Ia bahkan tidak mendengar jawaban dari sang Nara, meskipun mereka saling terhubung.
Angin sialan.
Gulungan kertas dibentang kecil oleh Sai. Lalu, ia menuliskan informasi yang diperlukan. Nama jutsu disebutkan, tidak lama, tulisan tersebut bertransformasi menjadi seekor tikus.
Tugasnya sudah selesai. Kini, Sai berjalan berlawanan arus dengan angin yang berhembus kencang. Ia tidak peduli dengan kedua matanya yang kemasukan debu. Ia hanya mengikuti kata hatinya yang menyuruhnya ke sana. Ia berfirasat temannya yang lain berada di sana.
Ketika ia melihat sebuah pertarungan dengan lebih jelas disana. Kedua matanya membelalak. Ini semua tidak seperti perkiraan yang sebelumnya, skala kekuatan yang mereka miliki jelas-jelas sangat berbeda jauh.
Masih dengan tekad yang kuat. Sai melangkah maju--meski tubuhnya seperti hendak tertiup oleh angin. Matanya menyipit kala ia merasakan chakra familiar yang terdapat di sana. Yang lama-kelamaan menjadi samar, nyaris hilang.
Apakah telah terjadi hal yang buruk pada rekannya?
Pemikiran tersebut dibenarkan dalam hati, kala ia menabrak sebuah penghalang tak kasat mata. Decakan rendah tidak dapat ditahannya. Sai masih memikirkan cara untuk masuk kedalam sana--setidaknya membantu rekannya.
Kepulan asap tercipta di sisi tubuhnya. Membuat Sai menoleh seketika. Shikamaru dan Sakura telah mendarat disebelahnya menggunakan shunshin.
Shikamaru yang menyadari kejanggalan yang ada bertanya pada Sai mengenai dirinya yang tidak memasuki area pertarungan. Ia menggeleng keras, lalu menjelaskan bahwa ada barrier tak kasat mata disini.
"Aku mungkin bisa merobohkan pelindung ini, kalau saja tidak sekuat buatan para kage terdahulu; pelindung empat arah. Bagaimana menurutmu?"
Anggukan dari kedua rekannya didapatkan Sakura.
"Tidak ada salahnya jika kita coba terlebih dahulu."
Kemudian, kedua pemuda tersebut mengambil langkah mundur ketika melihat sang gadis telah menyiapkan kepalan tangan yang tampaknya cukup untuk merobohkan pertahanan tersebut.
Teriakan melengking Sakura terdengar bersamaan dengan suara yang mirip seperti pecahan kaca diudara. Ia menyeringai puas saat melihat udara yang kini mulai menampakan suasana asli dari sekeliling mereka. Raut wajah Sakura tiba-tiba saja berubah menjadi ekspresi kosong.
Ia mengenali pelindung ilusi ini, karena sebelumnya juga ia dijebak oleh pelindung ilusi sialan yang sama. Terlebih penciptanya adalah Otsutsuki Urashiki...
Sakura menggertakkan rahangnya. Mengingat kembali ia yang dikalahkan dengan mudah oleh alien perusuh tersebut. Kemungkinan besar akan terdapat lebih dari satu anggota klan Otsutsuki.
Hanya satu orang saja sudah lebih dari cukup untuk melumpuhkan dirinya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kuatnya mereka jika kekuatannya digunakan secara serempak.
Tampaknya kematian tidak dapat di elakkan.
"Lagi?" Nada bicara Shikamaru yang terdengar letih membuat Sakura mengerjapkan kedua matanya. Ia mengerling pada dua rekannya yang berdiri kaku di sampingnya, terlebih dengan kedua mata terpaku pada lingkungan yang tertutup pelindung.
Sakura mengernyit, ia mengikuti arah pandang kedua rekannya. Kini, pandangan matanya tampak kosong.
Ternyata ia salah pada paradigma bahwa ini tidak akan merepotkan.
Pelindung tersebut juga memberikan ilusi terhadap orang yang melihatnya. Ini sama seperti jebakan pertama yang ia dapatkan. Bahkan ketika melihat kedalam sana, bisa ia lihat dengan jelas ketidak-berdayaan tubuh Naruto dan Sasuke; yang kini telah terduduk dengan tongkat hitam yang menancap tepat di setiap titik chakranya.
Berbeda dengan Sasuke yang masih sanggup bertahan. Kondisi Naruto jauh dari kata baik. Bisa ia lihat dari sini teman pirangnya itu tengah tidak sadarkan diri.
Kedua manik emerald miliknya memanas. Tanpa mengatakan apapun pada dua rekannya. Ia melesat masuk kedalam pelindung, yang mana didalamnya berbentuk seperti kawah yang cukup dalam. Pasti pertarungan disini sangat mengerikan hingga memberikan dampak pada lingkungan sekitar seperti ini.
Sakura mendarat dengan sempurna. Kini ia memandang awas sosok pria pucat yang berdiri tidak jauh dari lokasi Naruto dan Sasuke. Pria itu memandang lurus dirinya. Fisik yang tampak aneh tersebut membuat Sakura sedikit bingung. Sepasang tanduk yang panjang, begitu pula dengan rambut putihnya yang menjuntai hingga pertengahan betis. Dan lagi, tanda apa pula yang ada di tubuhnya? Apakah itu semacam kekuatan mereka?
Otsutsuki adalah klan yang sangat misterius. Bahkan kekuatan setiap orangnya memiliki karakter tersendiri. Seharusnya, Sakura tidak perlu terkejut lagi melihat kekuatan Otsutsuki yang terbilang cukup aneh, namun sangat kuat. Mengingat ia pernah berkontribusi dalam penyerangan Kaguya bersama anggota tim tujuh.
Tapi, yang kali ini berbeda. Pancaran chakranya sangat berbeda dengan wanita Otsutsuki. Jika dibandingkan, mungkin pria dengan sebuah mata rinnegan emas inilah yang lebih unggul.
Ternyata sifat arogan setiap anggotanya muncul karena kekuatan mereka yang layak disebut seperti dewa. Tidak mengherankan. Ia sendiri mengakuinya, perbandingan kekuatan mereka yang terbilang cukup jauh, membuat Sakura sedikit bimbang akan keputusannya.
Shikamaru dan Sai tidak menyusul ia yang masuk kedalam area pertarungan. Sakura mendongak menatap bagian pelindung yang ia hancurkan tadi, namun yang dilihatnya adalah dinding hitam yang pekat. Apakah sekarang ini ia seperti seekor tikus yang masuk kedalam jebakan?
Otsutsuki sialan.
Sakura menggertakan rahangnya. Ia mulai berspekulasi tentang kegagalannya kali ini. Namun, alangkah lebih baiknya jika semua hal diawali oleh keoptimisan yang melekat erat pada sosok Naruto.
Benar, demi kedua temannya. Demi keselamatan dunia shinobi, ia harus berjuang hingga titik penghabisan disini. Tidak perduli dengan ia yang mati dalam pertarungan ini.
Sakura membentuk segel tangan sederhana. Titik byakugou didahinya bersinar, menandakan bahwa tanda tersebut bereaksi terhadap segel pembuka, tidak lama setelahnya, garis membentuk pola merambat keseluruh anggota tubuhnya. Pelepasan chakra yang cukup banyak membuat Sakura hampir kehilangan keseimbangannya.
Ingatan mengenai hasil diskusi tim tujuh pada saat perang dunia shinobi keempat melintas dipikirannya; Ninjutsu yang tidak akan mempan pada orang yang memiliki rinnegan. Senjutsu yang mampu mengenai, namun ia tidak menguasainya. Dan Taijutsu adalah cara yang paling ampuh dalam menghadapi pengguna rinnegan.
Dari semua poin, hanya yang ketiga yang tampaknya dapat digunakan saat ini. Ia akan beruntung apabila lawan tidak menggunakan tongkat hitam penyerap chakra.
Sakura merogoh perkamen ninja miliknya. Meraih beberapa kunai dan shuriken, lalu melemparkannya dengan titik objek pada pria sialan yang saat ini tengan menyeringai kepadanya. Ia melesat saat itu juga, berlari dengan cepat, tanpa sadar telah menekankan chakra pada telapak kakinya. Retakan tanah terlihat jelas sepeninggalnya tapak kakinya.
Momoshiki menangkis semua lemparan senjata yang tertuju padanya dengan santai. Seolah tidak menganggap serius apabila benda rendahan itu melukai dirinya. Ataukah ia terlalu menganggap remeh semuanya hingga ia tidak menyadari seseorang menyeramgnya dari belakang. Penyerangan secara diam-diam seperti ini membuat Momoshiki tidak dapat membentuk sebuah pertahanan diri hingga dirinya harus merelakan punggungnya terkena pukulan yang entah kenapa terasa sangat menyakitkan.
Ia terpental diudara, dan segera menyeimbangkan kembali posisi tubuhnya dengan menapakan satu tangannya sebagai tumpuan untuk menghentikan ia yang hendak menubruk sebuah bongkahan batu yang cukup besar.
Tubuhnya terasa seperti remuk. Momoshiki yakin beberapa tulangnya patah, termasuk yang dipunggung. Sebagai orang yang memiliki kekuatan dewa, terlebih setelah ia mengonsumsi chakra bawahannya. Regenerasi tubuhnya meningkat dengan drastis. Kini ia tidak merasakan sakit lagi.
Bangkit dengan emosi yang menguasai tubuhnya. Momoshiki mengeluarkan tongkat hitam dari kedua mata rinnegan ditelapak tangannya, lalu menggenggam nya dengan erat.
"Seharusnya saat ini aku sudah selesai menyerap kekuatan di pirang. Tapi, kau datang dan mengacaukan semuanya. Tidak akan kubiarkan kau lepas dari genggamanku. Manusia rendahan!" Teriakan Momoshiki yang teramat murka seolah memengaruhi keadaan sekitarnya. Permukaan tanah tiba-tiba saja bergetar. Bunyi gemuruh berasal dari dalam tanah membuatnya awas seketika.
Tubuh Sakura bergetar hebat kala menatap tongkat hitam itu. Ketakutan akan pengalaman bertarung Sebelumnya telah mengajarinya tentang rasa sakit yang sebenarnya. Bagaimana kekuatannya terasa seperti terhisap ketika benda tersebut ditusukan ke perutnya oleh Uchiha Madara.
Seringaian tercetak dibibir sang gadis, meski peluh membasahi pelipisnya. Menatap pria alien tersebut dengan tatapan yang sedikit meremehkan.
Kemungkinan besar ia akan kalah disini. Namun pemikiran tersebut ia tepis. Melihat bagaimana sang pria masih belum beranjak dari posisinya, walaupun dari raut wajahnya menunjukan kekesalan yang teramat. Jarak ia dengan Momoshiki mungkin tidak lebih dari dua puluh meter.
Tiba-tiba saja ia merasa optimis. Dengan begitu, Sakura berlari mendekati kedua temannya dan mengabaikan sang pria alien yang kini tengah memakinya--ia tidak peduli. Prioritasnya saat ini adalah Naruto dan Sasuke.
Ketika ia menapakkan kedua kakinya di depan kedua sahabatnya. Ia tersenyum getir. Naruto tidak menunjukan tanda-tanda bahwa ia baik-baik saja, ia kehilangan kesadaran. Sasuke bersimpuh dengan sedua lututnya. Paha sang kelaki ditusuk dengan sengaja menggunakan tongkat hitam, menotok aliran chakra sehingga menyebabkan ia tidak bisa bergerak.
Sasuke melirik sekilas pada Sakura lalu kembali memusatkan perhatiannya pada Urashiki yang masih setia mengamati mereka sedari tadi. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan menyerang. Namun, tetap saja ia harus waspada. Masih belum jelas bagaimana kekuatan pria tersebut. Bahkan sejauh penyelidikan yang Sasuke lakoni, pria tersebut belum pernah menunjukan kekuatan aslinya, selain alat tempur berbentuk gagang pancing yang selalu ia bawa kemana pun.
Berbicara mengenai klan Otsutsuki, pastinya anggota klan inti seperti Urashiki dan momoshiki memiliki kekuatan mata berupa rinnegan. Entah apa yang membuat Urashiki memilih untuk mengabdi menjadi bawahan Momoshiki, yang pasti, ia berbahaya.
Orang yang jenius cenderung mengamati lebih jauh sebuah pertarungan sebelum memutuskan untuk menjadi bala bantuan jika situasi yang sudah memungkinkan, atau jika sudah mendapatkan informasi mengenai kekuatan lawan.
Kecurigaan Sasuke semakin terbukti ketika melihat sepasang mata byakugan yang telah diaktifkan memperhatikan mereka dengan seksama. Tentu saja disertai seringaian menjengkelkan.
Kini, Urashiki telah bangkit dari posisinya setelah sekian lama ia duduk manis disana. Alat tempurnya telah di pegangnya. Sasuke tidak bisa menahan decakan kesal ketika pria tersebut mengambang diudara.
Ini masalah besar.
Sasuke teramat paham mengenai ini semua. Urashiki ingin mendesak lawannya terlebih dahuku. Membuatnya lemah atau--
Oh tidak.
Ia mengerling pada sakura yang saat ini tengah berusaha keras membuat Naruto sadar kembali. Gadis pirang itu sudah terlalu banyak mengeluarkan pasokan chakranya. Terlebih, saat ini benda hitam sialan yang menusuk perutnya menyerap chakranya. Padahal klan Uzumaki memiliki pasokan chakra yang besar. Tak disangka penggunanya dapat melewati batas penggunaannya hingga kolaps. Dan lagi, Naruto merupakan seorang jinchurikii, bijū yang ada ditubuhnya tentu akan menyalurkan chakra kepada inangnya. Apakah masih kurang juga?
"Hentikan Ninjutsu medismu, Sakura. Selama ada tongkat hitam itu ditubuhnya. Pengobatanmu akan Sia-sia." Ujar Sasuke kaku.
Sakura sontak saja menghentikan pengobatannya dan kini kembali menoleh pada tempat Momoshiki berada. Dan tidak ada siapapun disana. Ia tidak bisa untuk tidak menggertakkan giginya dengan kesal. Masalah satu belum selesai, dan kini datang pula masalah yang lebih rumit.
"Momoshiki--"
Sret! Sakura menghentikan ucapannya ketika ia merasakan sebuah benda menusuk perutnya dalam sekali. Ia memuntahkan darah saat itu juga, tampaknya titik byakugou didahinya tidak dapat bekerja saat ini juga. Juluran pola hitam di kedua lengannya telah memudar, yang sepertinya telah terhisap oleh tongkat hitam ini.
Tubuhnya melemas hingga berat tubuhnya sendiripun tidak dapat ditahannya. Ia jatuh tersungkur dihadapan Naruto. Kesadarannya memudar, dengan susah payah ia berujar dengan lemah. Seperti berbisik pada sang gadis pirang.
"Naruto, selamatkan dunia shinobi--aku mohon."
Deg!
Gadis bersurai pirang mengerjapkan kedua matanya dengan perlahan, hendak bangkit namun ia urungkan ketika ia merasakan sakit yang menjalar hampir keseluruh tubuhnya.
Ia mendesis pelan sebelum akhirnya penglihatannya kembali jernih. Kedua matanya membelalak. Perasaan marah tiba-tiba saja menguasai tubuhnya ketika melihat teman baiknya ini terkulai tak sadarkan diri. Geraman Kurama mengenai pertahanan tubuhnya pun ia abaikan.
Sasuke yang menyadari Naruto teralh sadar merasakan kelegaan yang luar biasa. meskipun keadaan ia sama saja seperti sang gadis. Tidak berdaya karena alien sialan menutupkan titik chakranya.
"Naru, kau baik-baik saja?"
Kerlingan didapatkannya, dengan sorot mata yang paling menyedihkan yang pernah Sasuke lihat. Air mata telah berlinang melalui sudut matanya. Sungguh, ia sungguh tidak tahan untuk merengkuh sang gadis saat ini.
Momoshiki melangkah melalui celah yang terdapat di antara ia dan Naruto. Tangan pucat sang pria meraih surai merah muda Sakura, menjambaknya hingga tubuh sang gadis seolah berdiri. Tangan kanan sang pria yang masih terdapat tongkat hitam diarahkan pada leher Sakura.
"Lemah. Kalian mahluk rendahan sangat lemah. Pertahanan kalian akan runtuh hanya dengan melihat orang yang berarti bagi kalian tersakiti--seperti ini." Dengan mudahnya Momoshiki melemparkan tubuh Sakura ke bebatuan besar yang berada di arah depan. Hingga suara debuman keras terdengar setelahnya.
Sasuke mencoba untuk mengontrol emosinya walau saat ini ia sangat kesal dengan ucapan Momoshiki. Berbeda dengan Naruto yang sudah terpancing emosinya. Kini rantai chakra telah keluar dari punggungnya dan menusuk kedalam tanah.
Tawa sang pria pucat semakin menjadi saat melihat rantai aneh yang keluar dari tubuh sang siluman rubah. Ia menjilati bibirnya lalu menyeringai. Dari semua orang yang pernah ia lawan, belum pernah ada yang seunik ini. Apakah ia tengah beruntung saat ini.
Rantai chakra tiba-tiba keluar dari permukaan tanah, tanpa berkata apapun, Naruto membuat kontrol rantainya ntuk melilit tubuh Momoshiki. Sang pria mendesis marah setelahnya.
Sasuke tidak bisa menahan senyuman kala melihat Naruto. Masih sanggup berjuan meski keadaan sudah mendesaknya hingga hampir mati.
Deg! Sasuke merasakan mata kanannya berdenyut sakit sekali. Namun juga ia seperti melihat sesuatu gambar yang kelihatan samar, desakan serpihan memori melakui penglihatannya membuat matanya berpedar kemerahan dengan pola rumit, mangekyō sharingan. Dengan sudut mata yang telah mengeluarkan darah.
Sangat menyakitkan. Terlebih saat sebilah tongkat ditarik dari pahanya--tunggu. Sasuke langsung menoleh, kedua matanya melebar, sedetik kemudian ia menyeringai.
"Well, kau datang tepat waktu. Madara."
Uchiha madara kini berdecih pelan sembari menarik tongkat-tongkat yang masih menancap ditubuhnya. Kedua mata sang mayat hidup berwarna ungu dengan pola riak air. Rinnegan. Setidaknya Sasuke merasa bersyukur karena memilih mantan tertua klan Uchiha untuk dibangkitkan. Kekuatannya tidak perlu diragukan lagi. Lagi pula, sosoknya ini merupakan salah satu pion yang membuat onar dalam masa perang dunia keempat satu tahun yang lalu.
Sasuke mendengus keras. Melihat seringaian yang tiba-tiba muncul di bibir Madara.
"Aku ingin menghajar sejenis mahluk sialan yang ikut serta menghancurkan rencana brilian yang telah lama ku susun. Sepertinya sangat menarik. Ah, andaikan saja aku punya darah saat ini."
