Emosi yang tidak terkendali adalah salah satu hal yang harus dihindari, terlebih dalam pertarungan. Emosi hanya akan membutakan penglihatan tanpa perlu menyadari kenyataan yang ada.

Tinggal di dalam tubuh Naruto selama delapan belas tahun, seharusnya membuat Kurama mampu menghentikan emosi tak terkendali tersebut, terlebih selama ini ia lah yang memancing dan mengatur emosi inangnya.

Namun, kali ini berbeda. Kemarahan kali ini murni bukan ulahnya. Bahkan sudah berulang kali ia hendak mengambil alih kesadaran tubuh Naruto, ia tetap tidak bisa mengontrolnya. Kurama hanya teringat akan peristiwa delapan belas tahun yang lalu, kembali terjadi.

Saat ia lepas kendali.

Dan saat itu, ia hampir membumi-ratakan Desa Konoha.

Yang ia khawatirkan bukan masalah ia yang lepas kendali. Karena, jika ia keluar dari tubuh inangnya pun ia tidak akan membuat kericuhan. Karena kali ini ia tidak ingin keluar dan menuntut kebebasan.

Selain memberikan dampak berupa kematian pada Wadahnya. Kemungkinan besar yang memang benar adanya, ia akan diserap oleh mahluk pucat yang paling ia benci setelah Madara-para Otsutsuki. Tentu saja Hagoromo dalam pengecualian.

Sebagian besar Chakranya mulai Tersedot keluar dari tubuhnya. Dan ia sangat paham. Saat ini, Naruto menggunakan Ckakra miliknya. Chakra gelapnya.

Kurama mendesis saat merasakan tubuhnya yang mulai terasa melemah. Sebagian besar kekuatannya yang ditarik secara paksa membuatnya cukup lelah. Namun, ia tetap memaksakan diri untuk tetap tersadar. Karena ia tahu,

Naruto akan sangat berbahaya jika seperti ini.

Meskipun seandainya Naruto yang akan unggul seperti dua tahun yang lalu-ketika ia melawan bocah Uzumaki dengan mata Rinnegan 'titipan' Madara. Tetap saja pengguna Rinnegan yang kali ini tidak bisa diremehkan.

Rinnegan dikedua telapak tangan Momoshiki hanya akan membuat Naruto dalam bahaya. Dari yang sejauh ia analisis. Momoshiki mampu menyerap Ninjutsu dengan mudah melalui rinnegan ditelapak tangan kanannya. Lalu mengembalikan ; menyerang balik pemilik jutsu tersebut melalui telapak tangan kirinya, tentu dengan kekuatan dua kali lipat dari yang ia terima.

Ōtsutsuki memang tidak dapat diremehkan.

Kurama mendengus keras sembari memposisikan tubuhnya unyuk duduk. Dengan kedua tangan yang menangkup didepan dada, dengan posisi ini ia akan mengumpulkan chakra. Ia tidak akan bisa menahan diri untuk tetap terjaga tanpa memperoleh chakra tambahan.

Sementara diluar alam bawah sadar Naruto. Terlihat Uchiha Madara yang tengah menahan jengkel yang teramat. Melihat reinkarnasi Ashūra generasi baru yang sangat bodoh cukup membuat emosinya tersulut.

Bagaimana tidak, keadaan perempuan Uzumaki tersebut masih belum terlepas dari belenggu tusukan tongkat hitam. Dan kini ia malah mengeluarkan chakra kyūbi dalam jumlah yang cukup banyak-hanya untuk diserap oleh tongkat hitam. Dan membuat alien sialan tersebut menyeringai sembari mengepalkan kedua lengannya.

Tongkat tersebut terhubung pada pemiliknya, Madara sangat mengetahui hal itu. Karena setahun yang lalu, ia pun pernah menggunakannya untuk mematikan pergerakan tubuh lawannya ketika berperang. Dan tentu, dengan refleks ceroboh Naruto hanya akan memberikan keuntungan pada Momoshiki.

Reinkarnasi Ashūra memang selalu ceroboh, dan cenderung bodoh. Seperti halnya Hashirama. Namun kali ini, Madara mengakui bahwa yang kali ini berkali-kali lipat bodohnya. Tidak seperti reinkarnasi Indra yang bijak dalam bertindak, serta memiliki kekuatan yang setara dengan pola pikirnya yang cenderung cerdas dan kuat.

Tiba-tiba saja Madara merasa bangga karena telah terlahir dengan Darah Uchiha di tubuhnya.

"Meskipun Naruto dalam mode serius, dia tetap saja Idiot."

Sasuke mewakili isi hati Madara. Pria tersebut hampir saja mengacungkan kedua ibu jarinya. Namun, ia mengurungkannya, mengingat bagaimana tingginya harga diri seorang Uchiha. Ia tidak akan menodainya.

Kini, sepasang mata berpola riak air mengerling pada Uchiha terakhir. Yang dibalas tatap oleh Sasuke. Seolah memberikan sebuah ancang-ancang untuk menyerang. Sasuke mengangguk paham. Ia mundur beberapa langkah.

Madara hendak membentuk segel tangan-namun, telah didahului oleh Hashirama, yang entah sejak kapan muncul di hadapannya. Madara berdecih setelahnya.

"Kau tidak mengetahui kunci segelnya. Cukup awasi situasi, dan biarkan aku yang melakukannya." tukas Hashirama.

Kerjapan mata adalah refleks dari benarnya ucapan teman lamanya. Madara mengakuinya. Selama ini ia tidak pernah mengentikan kekuatan tak terkendali kyūbi, ia selalu memanfaatkan rubah tersebut untuk menenuhi kekuatan tempurnya. Well, kecuali ia nekat mengontrol kyūbi nenggunakan sebuah genjutu yang ia tanam secara paksa melalui mata kereka yang saling terhubung.

Hashirama meringis menatap Madara, kemudian ia memerintahkan mantan pemimpin klan Uchiha tersebut supaya bersiaga-Mencabut tongkat hitam tersebut.

"Jangan memerintahkanku seenaknya, aku melakukan ini karena aku masih terikat dengan bocah Uchiha itu."

Hashirama tergelak sesaat, hingga kemudian ia kembali fokus dengan keadaan yang semakin rumit-menurutnya. Tangannya ditangkup di depan dada, kedua tangannya membentuk kunci segel. Senjutsū Mode telah diaktifkan. Bilur kehitaman tercetak jelas, melingkari kedua matanya. Ia merapalkan nama jutsu dengan keras. Bersamaan dengan itu. Juluran kayu mencuat dari dalam tanah, menuju kearah Naruto.

Juluran kayu tersebut membentuk kurungan seperti sarang burung, beberapa juluran kayu yang lainnya melilit kedua tangan dan kaki Naruto. Hashirama menghela nafas sejenak, lalu ia menapakkan telapak tangannya pada permukaan tanah yang dipijakinya. Satu juluran kayu yang berpedar kehijauan diujungnya membentuk sebuah telapak tangan, kayu tersebut diarahkan Hashirama untuk menyentuh dahi dari wadah Kyūbi. Teriakan Naruto menggelegar setelahnya. Bahkan ikut mempengaruhi arah mata angin. Ia sampai harus memberikan chakra pada telapak kakinya agar tidak terseret angin.

Kekuatan yang sangat besar.

Teknik ini adalah teknik penguncian aliran chakra rubah ekor sembilan, yang hanya dikuasai olehnya, mungkin lelaki yang menerima sel DNA nya juga bisa melakukannya, walaupun tidak se-efektif dirinya. Teknik yang sama ketika pertama kalinya Kyūbi mengamuk, yang sebelumnya ia segel dalam tubuh Mito Uzumaki, Istrinya.

Tingkat keras kepala mahluk tersebut tampaknya sudah mulai berkurang. Dan bocah Uzumaki ini adalah penyebab dari perubahan kepribadiannya. Hashirama bersyukur akan hal itu.

Madara langsung mencabut tongkat hitam di tubuh Naruto ketika ia merasakan ketiadaannya chakra negatif dari rubah tersebut.

Keningnya sedikit berkerut saat merasakan tongkat tersebut menghisap chakra miliknya dengan perlahan. Padahal ia memiliki rinnegan, seharusnya hal ini tidak akan berpengaruh padanya.

Keyakinannya tampak tercoreng saat ia menyaksikan kebenaran yang ada. Oleh karena itu, Madara langsung melempar tongkatnya ke sembarang arah. Ia tidak peduli jika tongkat itu nantinya akan mengenai yang lain.

Gerutuannya tidak dapat ditahan saat ia melihat lebih teliti tubuh bocah Uzumaki dihadapannya. Tongkat hitam yang menancap ia perkirakan memiliki jumlah yang lebih banyak dari Sasuke.

Kekuatan Kyūbi dan chakra melimpah anggota klan Uzumaki tampaknya membuat para keparat Otsutsuki itu sedikit kewalahan melawan Naruto, hingga mereka melakukan tindakan berupa pemotongan aliran chakra dengan tongkat seperti ini.

Jujur saja, hal semacam ini cenderung sia-sia. Karena tingkat regenerasi Naruto sangatlah cepat. Para Otsutsuki ternyata hanya sekumpulan orang sombong yang berkepala kosong.

"Bagaimana dengan teman Naruto yang disana?"

Yondaime mendarat disebelah Naruto, ia dengan sigap memeriksa keadaan putrinya yang jauh dari kata baik-baik saja.

Sasuke mengerling singkat pada Minato. Lalu ia berujar dengan skeptis. "Mereka akan menolongnya. Saat ini mereka tengah menyusun strategi yang tepat saja."

Minato mengangguk paham. "Aku takkan memaafkan diriku sendiri jika Naruto kembali diambang kematian seperti satu tahun yang lalu—"

"—jangan berlebihan, dia hanya kelelahan, bukannya sekarat ataupun hampir mati." Sungut Madara. Sedari tadi ia merasa jengkel sendiri memperhatikan mimik wajah Yondaime yang begitu khawatir pada anaknya. Bukannya ia tidak paham mengenai perasaan si kuning. Hanya saja waktunya tidak tepat.

Hashirama menghela napas pelan. Diliriknya Tobirama yang mengendap di belakang Momoshiki. Sebelah alisnya terangkat, melihat tingkah laku adiknya itu. Baru kali ini ia menunjukan kecerobohannya dengan menyerang secara terang-terangan seperti ini.

Tidak ada rancangan strategi. Ia bergerak melalui nalurinya sendiri. dan ini sangat mengejutkan sekali.

Hingga suara Tobirama terdengar dalam benaknya. Ah, komunikasi semacam ini mengingatkannya pada klan Yamanaka.

"Aku akan menyerangnya, sama seperti Madara saat itu, lagi pula aku hanyalah mayat hidup. Ini tidak akan membunuhku untuk yang kedua kalinya."

Terdapat jeda hening cukup lama, sebelum Hashirama menjawabnya.

"Dia berbeda dengan Madara. Dia Ōtsutsuki, kemungkinan besar dapat menghentikan regenerasi tubuhmu."

"Aku mengerti."

Keuntungan menjadi ninja tipe sensor adalah dapat menotok chakra sendiri hingga titik penghabisan. Bahkan membuat lawan pun tidak akan menyadarinya. Tobirama bersyukur akan hal itu. Telapak tangan kirinya terjulur kedepan. Beberapa lembar kertas keluar dari permukaan tangannya, kertas yang terdapat huruf kanji rumit dipermukaannya. Sementara tengan kanannya ia letakkan didepan dada dengan membentuk segel tangan hewan.

Lembaran kertas tersebut menempel pada tubuh Momoshiki satu persatu, dimulai dari kakinya. Pergerakannya halus sekali. Bahkan Momoshiki tidak menyadarinya hingga kertas tersebut merambat ke tangannya. Dan saat itulah ia mendesis marah. Seperti halnya penguncian pergerakan tubuh. Rinnegan dikedua telapak tangannya telah ia aktifkan. Namun, tidak ada jutsu apapun yang dapat di hisapnya.

"Sialan!"

Tumpukan kertas tersebut sudah sampai batas leher Momoshiki, hingga kemudian telapak tangan Tobirama di letakkan pada pundak sang Ōtsutsuki. Ia bergumam rendah—"Kau tidak akan mati dengan semudah itu, tapi kau akan kehilangan sebagian besar tenaga pemulihan diri dalam jangka waktu yang cukup lama." —sebelum meleburkan diri menjadi banyak lembaran kertas bertuliskan kanji rumit. Kertas tersebut langsung melekat pada tubuh Momoshiki, sampai tidak ada celah sama sekali.

Kanji di kertas tersebut menyala sangat terang sekali. Bersamaan dengan itu. Tubuh Momoshiki menjadi membesar. Kedua mata Hiruzen melebar. Ia langsung berseru dengan panik. "Semuanya! Menghindar dari Nidaime-sama!"

Dan ledakan besar pun terjadi setelahnya. Daerah cangkupan ledakannya cukup besar. Hiruzrn sendiri terkena dampaknya, walaupun sedikit. Lengannya juga terkena dampak ledakan. Namun dengan cepat langsung beregenerasi dengan kepingan kertas kecil yang membentuk lengan barunya.

Ia mengerling Minato yang masih sibuk memberikan sisa chakranya pada Naruto. Sementara Sasuke, pria itu masih betah berdiam diri disamping Ayah dan Anak itu. Ah, tidak. Sasuke menganalisis pertarungan dengan kedua matanya.

Kedua mata Hiruzen menyipit. Selagi menatap Sasuke lekat-lekat. "Apa yang kau lihat?" ujarnya kemudian.

Sang Uchiha menoleh singkat padanya. Lalu berujar dengan rendah. "Sai dan Shikamaru. Mereka berhasil masuk."

"Apa para bijū tidak membantu proses penyembuhan Naruto?" Madara berdecak pelan. "Ada apa dengan semua ini."

"Lukanya cukup parah. Kau tidak bisa memaksakan mereka untuk membantunya. Lagi pula, dia sudah berjuang sedari tadi. Anggap saja kali ini kita lah yang berjuang."

Hashirama mengangguk setuju. "Pada zaman ku dulu, perempuan tidak dibenarkan untuk turun ke medan perang. Kecuali jika kekurangan pasukan. Tapi bocah ini... Aku tak habis pikir."

Sasuke menghela napas. "Target utamanya adalah bijū yang berada di dalam tubuhnya. Mau tidak mau, ia juga harus terlibat dalam pertarungan kali ini." ia sedikit berjengit kaget ketika mendengar suara berisik yang cukup nyaring terdengar di telinga kanannya.

"Kau bisa mendengarkan suaraku, Sasuke?"

"Hn, bagaimana keadaan disana?"

Kali ini suara desiran angin yang berhembus kencang terdengar di seberang sana. Bahkan umpatan Shikamaru terdengar sangat besar. Sasuke menyimpulkan, saat ini tengah terjadi sesuatu.

"Akh, sial! Urashiki mengaktifkan rinnegan, dia kabur melalui pintu dimensi!"

Sasuke langsung memandang keseluruh daerah yang dilingkupi pelindung ilusi, yang isinya tidak lebih dari tanah dan banyak bongkahan batu, menyerupai bukit. Namun, sebuah batu yang tampak besar dari yang lainnya membuat Sasuke menaruh eksistensinya pada batu tersebut. Sedari tadi memang Urashiki hanya duduk disana—hanya untuk melihat pertarungan tanpa berinisiatif ikut campur ataupun menolong rekannya.

Alisnya bertaut kala mendengarkan Urashiki yang mengaktifkan rinnegan. Sejauh yang Sasuke ketahui, sosok tersebut tidak memiliki tanda-tanda jika memiliki kekuatan mata yang sama sepertinya. Di pertarungan pun Urashiki sering menggunakan mata byakugan.

Pikirannya sudah berkemelut membayangkan semua kekacauan yang tiada akhirnya seperti sekarang ini. Lalu, terungkap pula jenis kekuatan musuh yang mungkin berkali-kali lebih merepotkan dari Madara...

kesialan macam apa yang kali ini akan diterimanya kali ini?!

Sasuke menghembuskan napas pelan. Lalu berujar dengan kaku. "Pastikan dia tidak muncul di kawasan ini dalam waktu dekat. Naruto belum sadarkan diri, keadaan akan semakin rumit jika dia tidak membantu—"

"Naruto telah sadar!"

Pekikan Yondaime membuat seluruh audiens menaruh perhatian pada Naruto yang kini tengah mengerjapkan kedua matanya. Keningnya mengernyit saat merasakan dirinya tengah menjadi pusat perhatian.

Sebuah kilasan ingatan membuat Naruto sepenuhnya sadar. Kini raut wajah khawatir langsung menghiasi wajahnya yang masih pucat.

"Dimana Sakura-chan?"

Dan sifat semacam ini pula yang tidak Sasuke sukai dari si kuning idiot ini, selalu menghawatirkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri—yang bahkan hampir mati?! Julukan yang ia berikan pada Naruto memang benar adanya. Kata 'idiot' memang selalu berkaitan erat dengan Naruto.

"Dia aman... Shikamaru membawanya ikut serta kedalam tempat persembunyian mereka. Lokasinya tidak jauh dari tempat ini." ujar Sasuke.

Naruto bangkit dengan perlahan dari posisinya. Ia sedikit timbung ketika berdiri tegak, Yondaime bahkan merasakan sudut matanya berkedut jengkel saat melihat putrinya yang memiliki sifat keras kepala—bahkan melebihi Kushina, istrinya.

Ia menahan pudak Naruto agar tetap berdiri tegak, seperti keinginan si empu. "Aku takkan memaafkan diriku sendiri jika anakku sampai harus berkorban disini." geram Minato.

Naruto menggeleng keras, lalu melepaskan kedua tangan ayahnya yang masih menahan pundaknya. "Aku bukan orang yang lemah, Ayah. Kau tahu itu dengan baik." lirih Naruto, meskipun begitu. Cengiran lebar tetap menghiasi bibirnya.

Minato jadi tertular senyuman anaknya. Ia mengangguk pelan. Well, putrinya mewarisi sebagian besar karakter Kushina, bahkan dalam berperilaku sekalipun. Ia hanya turut andil dalam memberian genetika saja. Padahal dulu, ketika Kushina sedang mengandung, ia berharap anaknya kelak akan mewarisi sifatnya. Namun, Kami-sama berkehendak lain. Meski begitu, ia tetap mensyukurinya.

Melihat kerjasama kelompok tujuh yang di naungi Kakashi membuat Minato terharu. Karakter ketiganya membuatnya ia mengingat ketiga muridnya dulu, sebelum insiden peperangan antara Kirigakure dan Konohagakure yang mengharuskan para genin yang baru mendapatkan pelatihan sebagai shinobi turun kemedan pertempuran...

Keningnya berkerut, berbicara tentang Kakashi, ia tidak melihat muridnya itu sejak tiga hari yang lalu—sejak ia pertama kali dibangkitkan. Ataukah ia sedang berada pertempuran di lain tempat?

Minato mengerling pada Uchiha Sasuke. Ia menanyakan tentang keberadaan Kakashi yang cukup janggal dengan semua yang terjadi disini. Namun apa yang didengarnya membuatnya merasa ... Takjub, seruak rasa bahagia menyusup ke hatinya. Bibirnya mengulas senyum bahagia.

"Tidak, Kakashi sendiri telah menjabat sebagai Hokage sejak satu tahun yang lalu—tepat setelah usainya perang dunia shinobi yang keempat. Dia mengutuskan kami berlima untuk menyelesaikan misi ini."

Sungguh Minato merasa sangat senang saat ini. Ia hendak melontarkan sebuah pertanyaan—hanya untuk di interupsi oleh suara berat khas Nidaime. Pria itu menyerukan kalimat yang membuat seluruh audiens menegang.

"Biasanya penyegelan dengan metode seperti ini akan menunjukan tingkat keberhasilan yang cukup memuaskan, setidaknya delapan puluh persen. Tapi, ini semua tidak berlaku untuk para ōtsutsuki. Kekuatan mereka jelas-jelas berada jauh dari kita." Tobirama kemudian menatap lamat-lamat Naruto. Meskipun saat ini ia sungguh gatal untuk bertanya mengenai—tidak penting untuk saat ini menuntaskan rasa penasarannya. "Bagaimana cara kalian mengalahkan Kaguya?"

Yang ditanya malah menggigit bibir bawahnya. Naruto kelihatan tidak yakin dengan apa yang ia ingat, sungguh, ia bukanlah tipe orang yang memiliki daya ingat yang tinggi. Tidak, Naruto sangat lemah dalam hal itu. Oleh karena itu ia berujar dengan alis yang bertaut. "Kami tidak mengalahkannya, Nidaime. Hagoromo--jiji hanya mengatakan bahwa Kaguya hanya dapat disegel, levelnya berada jauh diatasnya, begitulah katanya." ujarnya.

"Teknik penyegelan milik Nidaime sangat ampuh untuk orang yang cukup kuat. Dan lagi, segel bulan yang Naruto dan Sasuke lakukan sebelumnya tidak berdampak apapun pada Momoshiki. Kemungkinan untuk membunuh pula hampir mustahil." Keluh Hiruzen. Suara yang kelelahan tersebut mengingatkan Naruto ketika ia berbuat onar dulu, Hiruzen akan mengeluh tentang kenakalannya. Ia tersenyum samar.

"Tidak diketahui cara yang ampuh untuk menyegelnya, lagi pula—berdasarkan kekuatannya. Kaguya lebih unggul saat ini, mungkin karena dia memiliki Jūbi di tubuhnya. Sedangkan Momoshiki tidak memilikinya."

Kalimat yang diutarakan Naruto membuat orang-orang disana tercenung sejenak. Mereka memikirkan kebenaran yang ada, hingga pada titik ini. Sebuah harapan baru muncul. Tobirama mengerling pada Sasuke, yang sedari tadi terdiam memegang mata kanannya.

"Ada apa?"

"Penglihatan kami terhubung." Sasuke menghela nafas sejenak. "Itachi berhasil menyusup kedalam dimensi ruang waktu milik Urashiki. Dia... Menyalakan amaterasū disana. Hampir membakar keseluruhan ruang lingkup."

Naruto mengerjap. Ia bahkan baru menyadari bahwa sejak para Hokage terdahulu bertarung dengannya. Ia tidak melihat keberadaan Kakak Sasuke.

Itachi adalah orang jenius yang selalu memikirkan konsekuensi akibat tindakannya terlebih dahulu sebelum bertindak. Berbeda dengannya yang selalu bertindak atas kemauannya, tanpa memikirkan konsekuensi.

Lalu, perasaan ini... Mengapa ia merasakan sebuah kejanggalan disini?

Benar.

"Bagaimana dengan Momoshiki?" tanyanya khawatir.

"penyusunan tubuh mereka ketika terluka hampir mirip dengan Edo Tensei. Namun, regenerasinya lebih cepat. Penyusunannya pula juga berbeda. Chakra mereka membentuk molekul baru yang benbentuk sebuah susunan yang padat. Dengan tingkat penyembuhan mereka yang seperti itu pula mereka akan lebih cepat kelelahan—kehabisan chakra."

Dan, bukankah hal yang semacam ini seperti memberikan sebuah keuntungan bagi mereka semua? Dengan persediaan chakra yang berkurang, ditambah dengan penggunaan jutsu diluar batas toleran. Momoshiki mungkin dapat terkalahkan, dibandingkan dengan prediksi yang sebelumnya.

"Aku memiliki rencana."

Kepingan Mozaik terbentuk diudara. Lubang kehitaman mengisi celah yang terbuka lebar. Energi yang terpancar dari celah tersebut seolah menyedot masuk siapapun yang berada di jarak yang tidak jauh dari sana.

Lubang dimensi.

Namun, berbalik dengan energi yang terpancar, seorang pria yang mengenakan jubah putih keluar dari sana. Keadaannya sudah tampak lebih baik dari sebelumnya, walaupun tidak dapat dipungkiri pakaian yang dikenakan sudah jauh dari kata 'layak'.

Beberapa bagian tubuhnya menunjukan ketidaksempurnaan regenerasi tubuhnya. Hal ini dapat disimpulkan sekilas ketika melihat tanduknya yang sudah patah sebelah kiri. Dan terdapat retakan yang cukup parah di tanduk sebelah kanan. Segel kekuatannya telah memudar, tidak sehitam saat pertama kali ia mengaktifkannya. Telapak kaki yang memerah, seakan tidak dilapisi oleh kulit sama sekali.

Meskipun dengan keadaan yang cukup riskan. Momoshiki, masih berjaga dengan kedua tangan yang mengeluarkan tongkat hitam dengan ujung yang tajam. Sudut bibirnya terdapat memar dan darah kering. Jika dilihat lebih teliti, kedua mata byakugannya aktif dengan urat mata yang timbul sangat banyak di wajahnya. Bahkan, terdapat bekas darah yang mengalir dari sudut matanya.

Pengaktikfan teknik mata khas klan Hyūga yang berlebihan, baru kali ini para audiens disana menyaksikannya. Sampai berdarah seperti itu... Hal semacam ini akan dianggap wajar apabila mata Sharingan lah yang seperti itu, bagaimanapun juga, kekuatan mata khas klan Uchiha dapat diibaratkan semacam hubungan timbal balik. Walaupun lebih cenderung merugikan penggunanya.

Sebelum pintu dimensi hendak tertutup, seekor siluet hewan berwarna hitam keluar dengan kilatnya. Jangan lupakan api yang masih menyala disana. Tanpa ditebak pun mereka semua mengetahui summon siapa itu.

Milik Itachi Uchiha.

Momoshiki meraung marah. Seperti adanya dorongan gravitasi yang melingkupi dirinya. Bebatuan yang berada disampingnya terdorong hingga jarak yang cukup jauh. Membentuk sebuah kawah kecil. Pria itu kemudian menerbangkan diri, hingga tubuhnya benar-benar berada diudara. Tidak menapak bumi lagi.

Bilah tongkat hitam yang masih terhubung melalui rinnegan di telapak tangan kiri Momoshiki, semakin memanjang dengan bentuk yang tidak beraturan; setiap sisi memiliki cabang hingga jarak cangkupannya cukup lebar. Membentuk sebuah jaring. Tepak tangan kanannya mengeluarkan sebuah pil kecil berwarna merah darah yang pekat. Lalu menggenggamnya dengan erat.

"Benar-benar menjijikan! Ruang dimensi milikku benar-benar rusak sekarang ini. Dan aku kecolongan dengan taktik murahan seperti ini." Suara Momoshiki yang memberat seolah mengapung diudara. Nada kebencian terdengar sangat jelas. "Kalian sangat membahayakan keseimbangan alam! Urashiki! Si bedebah itu takkan ku maafkan!"

"Matilah mahluk rendahan!"

TBC.

AN.

Hallo!

Hmm, baru kali ini aku nulis note dibagian akhir cerita kwkwk.

udah ah, intinya aku mau ngasih tahu sama reader-san.

Aku bakalan up lama setelah ini. mungkin kalau sempat ya, seperti biasa seminggu sekali, arau dua minggu atau kalau sempat lagi :') ff ini akan aku tamatin awal tahun nanti, yey!

btw, terimakasih untuk para pembaca yang udah Follow favorite Review cerita ini. aku senang loh bacanya kwkwkw.

sekian.

salam dari aink * 3