Title: Sugar

Cast: Xi Luhan, Oh Sehun, Wu Kris, Kim Jongin, DLL(OC)

Rate: -_-

Genre: Romance

Disclamer:

Luhan punya Sehun, dan Sehun punya Luhan.

.

.

.

Alur amburadul, Typos dimana-mana, gaje, EYD berantakan. .

.

.

Please Enjoy This Story~

.

.

.

Canggung, Itulah yang dirasakan Luhan sekarang. duduk satu meja dengan 2 pemuda asing yang baru ia lihat hari ini. Tunggu—dua? Luhan mengernyit melihat Jongin duduk bersama Sehun diseberang meja.

"Tolong anggap saja aku tidak ada key?" Ujar pemuda dengan kulit eksotis nyengir lebar.

Sehun memutar bola matanya jengah sedangkan Luhan hanya bisa tersenyum aneh.

"Jadi?"

Luhan menegakkan posisi duduknya ketika Sehun menatapnya tajam.

"Ada urusan apa kau ingin bertemu denganku?"

Jongin menyikut lengan disebelahnya cukup keras, "Ush.. Sehun kata-katamu tajam sekali. Kau harusnya lebih lunak sedikit padanya. Dia manis sekali."

Sehun menatap mahluk hitam disebelahnya tajam, "Diam!"

Luhan terkikik tanda sadar melihat percakapan lucu keduanya tapi Sehun melotot tajam padanya jadi Luhan cepat-cepat menutup rapat mulutnya.

"apa yang kau tertawakan?"

Luhan menggeleng membuat mahluk judes di seberang meja mendengus dan jongin tekekeh disampingnya.

"Jadi apa tujuanmu datang kemari nona?"

Bola mata Luhan mengerjap imut. Nona? Apa Luhan tampak seperti perempuan sekarang?

"Bhahahaha~~~!" Jongin seketika tertawa terbahak-bahak bahkan sampai memukul-mukul meja.

Sehun memukul keras lengan pemuda disampingnya, "Kenapa kau tertawa Kim Jongin?" tanyanya terlihat marah.

"Oh Sehunn~ maknaeku yang manis~ Dia ini laki-laki… bhaha~" Jelas Jongin masih sambil tertawa seperti orang idiot.

Sehun berkedip sesaat seperti orang bodoh, matanya bergulir menatap Luhan di seberang meja intens membuat si mungil Luhan tidak nyaman.

"Kau benar-benar laki-laki?"

Luhan mendengus, memutar bola matanya bosan, "Apa aku terlihat seperti wanita?" Tanya Luhan balik dengan kesal dengan fakta bahwa dirinya dikira seorang perempuan.

Sehun berdeham melipat tanganya didepan dada berpose sok cool, "Kau terlihat cantik untuk ukuran seorang laki-laki."

Blush! Luhan merasakan pipinya terasa panas mendengar kata cantik meluncur dari mulut Sehun. Tunggu—kenapa dia harus merona seperti itu? padahal Luhan paling tidak suka dibilang cantik oleh siapapun.

"Aku memang laki-laki."

Sehun manggut-manggut, Luhan tidak mengerti apakah si albino diseberang itu sedang mengejeknya atau mengerti maksudnya?

"Dia laki-laki yang manis dan cantik." Komentar –tidak penting- Jongin dengan senyuman lebarnya.

Sehun memutar bola matanya jengah dengan percakapan aneh itu, "terserah."

"Jadi ada urusan apa kau denganku?" Ulang Sehun untuk ke tiga kalinya.

Luhan terlihat ragu sejenak tapi mungkin lebih baik jika langsung ditanyakan saja.

"A-apa kalian mengenal Kris?" Tanya Luhan akhirnya. Well yeah dia masih tidak lupa tujuanya repot-repot datang ke café itu.

Luhan melihat dua orang di depanya terlihat kaget mendengar pertanyaanya. Tapi sesaat kemudian ekspresi dua orang itu berubah, Jongin terlihat seperti orang yang sedih tapi menutupinya dengan senyuman dan Sehun terlihat lebih dingin dari sebelumnya. Luhan meruntuki dirinya sendiri, apakah Kris sedang menjebaknya? Atau mungkin Luhan bertanya pada orang yang salah dan malah membuatnya menggali kuburanya sendiri?

"Tentu kami kenal." Jawab Jongin.

Sebuah helaan napas meluncur dari celah bibir Luhan tanpa sadar mendapati dirinya tidak salah alamat untuk bertanya.

"Ada urusan apa kau dengan Kris hyung?" Tanya Sehun dengan nada yang benar-benar tidak bersahabat. Lebih tidak bersahabat dari sebelum-sebelumnya. Luhan bertanya-tanya dalam hati apakah dia ini musuh Kris atau apa?

"A-aku hanya ingin tau kabarnya saja." Ujar Luhan bohong. Tentu saja ia tidak bermaksud membohongi dua orang itu tapi karena Kris yang mengancamnya jadi terpaksa Luhan harus menjaga rahasia bahwa Kris tinggal di apartemenya untuk dirinya sendiri. Tidak ada yang boleh tau tentang ini.

"Kau temanya?" Tanya Jongin terlihat tertarik.

Luhan mengangguk seperti robot.

"Apa dia baik-baik saja?"

Jongin tersenyum tipis dengan wajah yang masih sendu, "Kau mungkin belum tau ya. Kris hyung sudah lama pergi dari rumah. Uhm.. kami tidak tau dimana dia sekarang."

'Dia ada dilemariku jika kau mau tau.'

"Be-begitu ya." Luhan meringis tak tau harus berekspresi seperti apa karena sungguh—dia tidak pandai berbohong.

"Dari mana kau mengenal Hyungku?"

"H-hyung-ku?"

Jongin terkekeh, "Kris itu hyungku. Yeah walaupun kami beda ayah."

Luhan mengangguk-angguk mencerna informasi barusan. Mata rusanya tak sengaja menatap mahluk es di sebelah Jongin yang masih saja menatapnya tajam.

Jongin tersenyum tipis tampaknya bisa membaca isi pikiran Luhan jadi ia cepat-cepat menjelaskan, "Sehun bukan adik Kris kalau kau mau tau. dia hanya sedang numpang bekerja disni untuk menghindari ayahnya.".

"Aku tidak sedang menghindari ayahku." Sahut Sehun tidak terima.

Jongin memutar bola matanya jengah, "Abaikan dia. Dia tsundere akut." Bisik jongin pada Luhan tapi Sehun masih bisa mendengarnya dan si albino itu makin kesal dengan godaan Jongin padanya.

"Kim Jongin!" Teriak Sehun terlihat amat kesal tapi jongin bukanya takut malah terkekeh senang telah membuat jengkel si maknae.

Luhan ikut merasa lucu melihat ekspresi menggemaskan Sehun yang sedang marah. Tapi melihat Sehun menatapnya dengan tatapan seolah bicara –kau-akan-mati-jika-menertawakanku- maka Luhan memutuskan untuk diam saja menahan sudut bibirnya untuk tidak melengkung membentuk senyum apapun.

.

.

.

Kediaman Keluarga Xi pukul 1 siang—terdengar bunyi bell nyaring ke seluruh penjuru rumah. Yoon Hye yang merupakan kepala pelayan rumah menghentikan aktivitasnya mengawasi para koki didapur, wanita cantik dengan pakaian maidnya itu berjalan tergesa-gesa menuju pintu utama rumah. Seulas senyum terlukis dibibir wanita cantik itu mendapati sosok pemuda manis berdiri di depan pintu rumah.

"Tuan muda—" wanita cantik yang selalu anggun itu tak dapat menyelesaikan kata-katanya karena Baekhyun tiba-tiba memeluknya erat.

"Bibi~ aku kangenn~" kata Baekhyun manja.

Yoon hye terlihat tak kaget dengan aksi si tuan muda keduanya itu. Dia malah balas memeluk Baekhyun erat. Membiarkan si pemuda dengan wajah manis itu bermanja-manja padanya. Setelah beberapa saat Baekhyun menarik dirinya dan tersenyum lebar pada Yoon Hye.

"Bibi kenapa tidak pernah main kerumahku? Aku kan jadi main sendirian terus." Ujarnya terdengar seperti merajuk.

Yoon hye tersenyum mengelus pipi tuan mudanya dengan sayang, "Tuan Muda Baek kan bisa main bersama pelayan dibaru dirumah tuan."

Bibir Plum baekhyun mengerucut imut, "Mereka tidak asik."

Pelayan wanita itu terkekeh melihat sikap manja tuan mudanya. Yep! Tuan muda karena sebelum Yoon Hye bekerja di kediaman keluarga Byun beberapa tahun yang lalu. Ia pindah tempat kerja karena Ibu Luhan yang meminta langsung pada Ibu Baekhyun agar dirinya pindah bekerja padanya.

"Oh ya bibi~ Luhan dimana?" Tanya Baekhyun heran mendapati sekitarnya yang sepi.

"Tuan Muda Luhan sedang pergi. Mungkin sebentar lagi pulang, tuan muda baek tunggu saja dikamarnya."

Baekhyun mengangguk singkat, memeluk Yoon hye sekali lagi dan memberikanya sebuah kecupan singkat dipipi kemudian beranjak menaiki tangga utama menuju lantai dua dimana kamar Luhan berada. Pemuda manis itu berhenti didepan sebuah pintu dengan warna putih. Diputarnya knop pintu kamar Luhan yang memang tidak pernah dikunci. Kaki pendek Baekhyun melangkah memasuki kamar…

.

.

.

"Luhan mampirlah kesini lagi kapan-kapan."

Luhan tersenyum pada Jongin yang mengantarnya sampai ke pintu depan café.

Pemuda dengan mata rusa itu mengangguk, "tentu."

Jongin balas tersenyum lagi. Perbincangan cukup lama mereka beberapa saat yang lalu tampaknya membuat Luhan dan Jongin cukup dekat. Luhan mengakui itu, ia merasa bisa menjadi teman baik dengan Jongin mungkin ia juga akan lebih sering mampir ke café itu mulai sekarang untuk sekedar ngobrol dengan Jongin. Tapi untuk Sehun… uh..uhm… Luhan tak yakin mereka bisa dibilang bisa dekat karena si patung es itu terus saja menatapnya tajam.

Diam-diam Luhan melirik takut-taku pada patung es disebelah Jongin.

"Pst!" Jongin menyenggol Sehun disebelahnya yang sejak tadi diam seraya melipat tanganya.

"Apa?" tanyanya jutek.

"Katakan sesuatu." Jongin berbisik pada Sehun tapi Luhan bisa mendengarnya.

Sehun berdecak malas, "Jangan datang lagi." Ujarnya kemudian masuk kedalam café.

Baik Luhan dan Jongin saling berpandangan kemudian terkikik bersamaan.

"Bukankah dia sangat imut?" ujar jongin sepelan mungkin. Well yeah dia bisa merasakan tatapan leser dari Sehun dibalik kaca menembus kepalanya.

Luhan ikut terkikik, mengangguk menyetujui.

Keduanya saling melempar senyuman singkat sebelum akhirnya Luhan memutuskan bahwa dirinya harus cepat beranjak dari sana sebelum sore menjelang.

.

.

.

Luhan sampai dirumahnya tepat pukul 4 sore. Bibi Yoon Hye menyambut kepulanganya dengan senyuman hangat dan Luhan tak kuasa untuk tidak membalasnya dengan senyuman juga. Pemuda cantik itu membiarkan bibi Yoon Hye menuntup pintu sedangkan ia sendiri hendak berjalan menaiki tangga menuju kamarnya tapi tiba-tiba saja sebuah tangan menarik lengan kaosnya.

"Baek?" Gumam Luhan dengan kening berkerut kebingungan melihat sepupunya dengan wajah pucat pasi mencengkram erat lenganya.

"Lu-Luhan.." Baekhyun terlihat sangat ketakutan dengan bola mata bergetar gelisah dan itu membuat Luhan cemas.

"baek ada apa? Apa terjadi sesuatu padamu?"

Baekhyun menggeleng. Wajahnya sudah basah oleh keringat dingin yang mengucur deras.

"Lu-Luhan sebaiknya kau pindah kamar!"

Kening Luhan mengernyit mendengar ucapan tiba-tiba sepupunya. Oh tidak! Jangan bilang Baekhyun masuk ke kamarnya.

"K-aku masuk ke kamarku?"

Baekhyun terdiam, ekspresinya bercampur antara resah dan takut menjadi satu dan Luhan bisa menganggapnya sebagai jawaban 'Ya'.

"Baek—" Luhan meremas sisi lengan sepupunya erat.

"Baek katakan, apa yang kau lihat dikamarku? Apa yang kau temukan?" Tanya Luhan tak sabaran. Dia mulai ketakutan dengan fakta bahwa Baekhyun tadi masuk ke kamarnya dan bisa jadi sepupunya itu menemukan Kris di lemari.

"A-aku tidak melihat apapun Luhan tapi aku yakin kamarmu itu berhantu Luhan! aku bisa merasakanya.. sesuatu yang jahat ada disana!" Ujar Baekhyun terbata masih terlihat sangat pucat dan ketakutan.

'Aku tidak melihat apapun' cukup untuk membuat Luhan merasa lega. Well~ Luhan tidak tau apa yang menyebabkan Baekhyun seperti itu tapi mungkin itu semua ulah jahil Kris yang mengerjai sepupunya. Ia yakin sekali karena Baekhyun bicara soal kamarnya yang berhantu padahal seumur-umur Luhan sangat tahu bahwa kamarnya itu aman-aman saja dari gangguan mahluk mistis manapun.

"Baek tenang.." Ujar Luhan lembut seraya mengusap punggung sepupunya yang masih saja bergetar ketakutan. Pemuda bermata rusa itu membawa baekhyun keruang tamu dan mendudukanya disana. Dipanggilkanya seorang pelayan untuk membuat teh hangat untuk baekyun. Sembari menunggu tehnya jadi Luhan menemani sepupunya sambil terus mengusap punggungnya agar merasa lebih tenang. Ketika tehnya sudah datang Luhan membantu baekhyun meminumnya. Setelah beberapa tegukan Luhan mendapati tubuh baekhyun mulai rileks dan tidak lagi menggigil seperti orang terserang demam.

"Kau sudah merasa baikan?" tanyanya disambut anggukan Baekhyun.

"Lu-Luhan…"

Luhan menggeleng pada sepupunya, "Tidak ada hantu Baek. "

Baekhyun terlihat tidak setuju dengan ucapanya tapi dia memilih untuk tidak berkomentar lagi.

"Kau masih mau disini atau pulang?" Tanya Luhan lagi setelah mendapati baekhyun terdiam cukup lama.

"P-pulang saja."

Luhan mengangguk hendak beranjak dari kursinya tapi Baekhyun cepat-cepat menahan tanganya.

"Baek aku hanya pergi untuk meminta pak Kim mengantarmu pulang."

Baekhyun menggeleng, "Aku ikut saja."

Luhan menghela napas lelah. Well~ sepertinya sepupunya itu mengalami trauma mendalam pada rumahnya dan tolong ingatkan Luhan untuk memberi Kris pelajaran setelah ini.

.

.

.

Luhan melambai pada sosok baekhyun yang juga tengah melambai dari dalam mobil yang mulai melaju. Sebuah helaan meluncur dari celah bibir pemuda dengan mata rusa itu ketika mobil yang baekhyun tumpangi menghilang dari pandanganya. Luhan kemudian beranjak masuk kedalam rumah. Hari memang sudah mulai gelap dan Luhan memutuskan untuk setidaknya dia perlu makan dulu baru mandi. Well~ perutnya sudah sangat lapar sekarang. ia telah melewatkan makan siangnya begitu saja dengan hanya meminum segelas jus. Padahal seharusnya dia bisa memesan makanan di café siang tadi tapi karena keasikan ngobrol dengan Jongin, Luhan jadi melupakan masalah perutnya.

"Bibi aku lapar~" keluhnya pada sosok Yoon Hye yang sedang menyalakan lampu.

"Makanan akan segera siap dalam 5 menit. Tuan Muda Luhan sebaiknya mandi dulu baru makan."

Bibir Luhan manyun, "Tapi aku ingin makan dulu baru mandi."

Yoon Hye menggeleng tegas , "Mandi dulu baru makan."

Dan setelahnya perdebatan kecil itupun dimenangkan oleh sang pelayan rumah. Luhan dengan kaki menghentak-hentak menaiki tangga menuju kamarnya. Dibantingnya pintu dengan kasar. Pemuda cantik yang –masih- marah itu menatap kamarnya yang masih seperti terakhir kali ia lihat. Bersih dan rapi hanya saja sedikit berbeda dengan adanyaa sebuah majalah terbuka di atas tempat tidur dan seprai tempat tidur yang sedikit kusut-Luhan yakin itu adalah ulah Baekhyun. Mengingat sepupunya yang tadi katanya sempat masuk kamarnya dan ketakutan. Luhan tentunya masih ingat untuk memberi pelajaran pada Kris kali ini. Jadi pemuda mungil yang tambah kesal itu menghampiri lemari. Menendang benda persegi itu sampai pintu lemari dibuka dari dalam. Luhan mendengus melihat Kris yang lagi-lagi dengan baju yang kemarin dan wajah bosan menatapnya.

"Apa?" Tanya Kris yang terlihat sebal dengan ulah Luhan.

"Kau—" Luhan menunjuk Kris dengan jarinya tapi baru kata itu yang keluar bunyi nyaring perutnya yang lapar merusak moment menegangkan itu. Kris terkekeh menyebalkan dan Luhan merasakan wajahnya bersemu malu. Perut sialan! Jeritnya dalam hati.

"Sebaiknya kau urus perutmu itu dulu Luhan. Kau mungkin belum tau tapi minggu lalu sudah ada orang yang mati konyol menahan lapar, dan jangan sampai minggu ini kau yang menjadi headline news minggu ini."

"Haha~! Terdengar lucu Kris!" Sahut Luhan sarkastik.

Si cantik yang sedang kelaparan itupun meraih setelan piamanya dengan cepat dari dalam lemari kemudian berjalan menghentak masuk kedalam kamar mandi meninggalkan Kris yang tersenyum jahil menatapnya.

.

.

.

Luhan baru saja menyelesaikan makan malamnya ketika telpon di dekat tangga berbunyi nyaring. Pemuda cantik yang kebetulan hendak berjalan menuju tangga itupun langsung saja mengangkat gagang telpon.

"Hallo?"

"Luhan?" terdengar suara wanita yang familiar diseberang.

Suara itu. Luhan merasakan tenggorokanya seketika kering, "Ibu?"

"Kau dirumah sekarang?"

"Y-ya."

"Jam berapa kau pulang besok?"

Luhan menggigit bibirnya, berpikir apakah sebaiknya berkata jujur atau tidak.

"Jam 1." Ujarnya akhirnya memutuskan untuk jujur saja.

"Ibu jemput kau dikampusmu besok."

"Kena—" Belum sempat Luhan bertanya telpon sudah ditutup sepihak. Ibunya tak memberi Luhan penjelasan apapun tentang maksud dari ucapanya.

Menghela napas lelah, Luhan meletakan gagang telpon pada tempatnya semula. Bahunya seketika merosot mengingat ibunya akan menjemputnya besok dan Luhan punya feeling kuat bahwa itu pasti ada hubunganya dengan rencana perjodohanya dengan pilihan ibunya. Luhan belum siap menikah! Tapi kenapa ibunya ingin sekali menjodohkanya? Oke Luhan memang jomblo. Tapi itu bukan karena dia tidak laku. Tidak! ia jomblo karena ibunya yang terlalu membatasi pergaulanya sampai dia tidak punya kesempatan untuk melirik gadis dan lagi pula ia ragu ibunya akan begitu saja menyambut baik gadis yang dia bawa kehadapanya. Uh- mengingat selera ibunya yang tinggi Luhan sangsi ada gadis yang bisa lolos dari seleksi sang ibu.

"Anda baik-baik saja tuan?"

Luhan menoleh seperti orang linglung pada Yoon Hye yang menatapnya dengan raut wajah khawatir.

"Hanya pusing." Jawabnya jujur. Well~kepalanya memang sungguh pusing gara-gara ibunya.

"kalau begitu sebaiknya anda istirahat."

Luhan mengangguk menyetujui ide itu. Setelah member Yoon Hye ucapan selamat malam, Luhan lantas menaiki tangga menuju kamarnya. Pemuda cantik itu membaringkan tubuhnya begitu saja ditempat tidurnya terlihat sangat-sangat kelelahan.

Pintu lemari berderit terbuka menampakkan sosok Kris yang duduk didalam lemari menatap pemuda cantik itu dengan kening berkerut heran.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Kris.

Luhan menggeleng, merubah posisinya menjadi menghadap Kris dilemari.

"Aku akan mati besok Kris." Gumam Luhan putus asa.

"Oh kalau begitu selamat tinggal Luhan. sampai ketemu lagi di alam baka!" ujar Kris bermaksud lagi-lagi menggoda Luhan. Tapi tepat satu detik kemudian sebuah bantal melayang hampir mengenai Kris tapi untung saja pemuda tampan itu sigap menjadikan pintu lemari sebagai tameng sebelum bantal maut itu menghantamnya.

"Tidak kena we~" Ujarnya kekanakan sambil menjulurkan lidah dan itu benar-benar membuat Luhan makin kesal saja pada si tampan itu. Beranjak dari posisinya Luhan menghampiri Kris didalam lemari tapi Kris sudah lebih dulu menutup pintu rapat.

"Ya Buka lemarinya Kris! Aku akan membunuhmu!" Teriak Luhan sambil berusaha membuka pintu lemari.

"Tidak mau!"

.

.

.

15 menit berikutnya Luhan sudah mendapati dirinya duduk kelelahan didepan lemari setelah bermenit-menit sekuat tenaga membuka pintu lemari dengan berbagai cara tapi tak berhasil. Luhan bertanya-tanya bagaimana Kris bisa mempertahankan pintu itu tetap tertutup dari dalam? padahal kuncinya saja Luhan yang pegang. Apa mungkin Luhan yang terlalu lemah atau Kris saja yang terlalu kuat? Entahlah! Luhan harus mengakui bahwa mungkin Kris ini lebih kuat darinya.

Pintu lemari berderit terbuka menampakkan sosok Kris yang tersenyum tampan padanya.

"Haus?" Tanya Kris dengan senyum tampanya yang menyebalkan.

Luhan mendecih membuat Kris tersenyum makin lebar. Pemuda tampan itu melemparkan sesuatu pada Luhan yang refleks menangkapnya. Luhan menatap kotak kardus ditanganya yang ternyata sekotak susu putih.

Pemuda cantik itu menatap Kris sengit tapi tak ayal mengucapkan terimakasih.

"terimakasih Kris." Ujar Luhan masih merasa dongkol mendapati fakta bahwa dirinya kalah dari si tampan itu. Tunggu—kenapa juga dia merasa harus kalah? Yang mereka lakukan tadi bahkan bukan suatu permainan.

Luhan menggeleng dengan pemikiranya sendiri.

"Kau sudah bertemu dengan Sehun seperti yang aku bilang kemarin?"

Luhan mengangguk seraya mencoba memusukkan sedotan plastic pada lubang kotak susunya.

"Bagaimana menurutmu? Tampan kan?"

Luhan yang saat itu sedang menyedot susu kotak miliknya hampir tersedak mendengar pertanyaan Kris. Luhan terbatuk keras sedangkan Kris terkekeh melihat penderitaan Luhan.

"Aku anggap tersedakmu sebagai jawaban 'ya'."

Luhan melotot pada si tampan didalam lemari, "Kau bercanda? Dia tidak tampan! Sangat luar biasa menyebalkan.. dan..dan… dia tatapnya dingin seperti es." Ujar Luhan menggebu-gebu mengingat bagaimana pertemuanya dengan Sehun tadi siang.

Kris hanya mengangguk-angguk dengan ekspresi seolah-olah tidak mendengar kata yang baru saja Luhan ucapkan.

"Aku pikir es saja bisa mencair oleh sinar matahari Luhan."

"A-apa?"

"Uhm.. Lupakan bagaimana dengan Jongin?"

Luhan berpikir sejenak mengingat-ingat percakapanya dengan Jongin, "Dia..Menyenangkan." ujar Luhan tersenyum.

"Sudah kuduga kalian akan cocok."

Luhan berkedip-kedip bingung, "H-ha?"

Kris menggeleng dengan seulas senyum mengembang dibibirnya. "Tidak. aku hanya bicara pada diriku sendiri."

Luhan menatap si tampan itu dengan ekspresi aneh.

Kemudian hening, Luhan sibuk dengan pemikiranya sendiri dan susu kotak ditanganya sedangkan Kris sibuk untuk menatap Luhan yang terlihat sangat imut ketika sedang melamun seperti itu.

"K-Kris?"

"Hm?"

Luhan mendongak menatap Kris yang selalu terlihat tersenyum padanya.

"bolehkah aku tau alasanmu kenapa kau menyuruku bertemu dengan Sehun dan bukan Jongin?" Tanya Luhan bingung. Memang sih Kris sendiri yang bilang jika ingin mencari tau tentangnya bertanyalah pada Sehun. Tapi setelah dipikir-pikir jika itu hanya soal mengumpulkan informasi saja Kris seharusnya menyuruhnya mencari Jongin saja dan bukan Sehun karena siang tadi yang bicara padanya adalah Jongin dan Sehun hanya diam memelototinya dengan aura yang membuatnya merinding.

Kris erkekeh, "Kau akan tau Luhan. Segera."

.

.

.

TBC