Title: Sugar
Cast: Xi Luhan, Oh Sehun, Wu Kris, Kim Jongin, DLL(OC)
Rate: -_-
Genre: Romance/fluff(?)
Disclamer:
Luhan punya Sehun, dan Sehun punya Luhan.
.
.
.
Alur amburadul, Typos dimana-mana, gaje, EYD berantakan. .
.
.
.
Please Enjoy This Story~
.
.
.
CHAP 3!
.
.
.
Luhan telah menyelesaikan kelas pertamanya pagi ini. Masih ada satu kelas lagi yang harus diikutinya 1 jam mendatang. Ia putuskan untuk setidaknya mencari hal lain yang bisa dilakukan untuk mengisi satu jamnya kedepan dan Luhan sudah putuskan untuk mencari Baekhyun saja. Luhan yakin sepupunya itu pasti sekarang sedang menghabiskan waktunya dikantin dikarenakan lupa sarapan pagi. Luhan sudah hafal tabiat buruk Baekhyun yang satu itu karena Luhan sendiri sering menemani sepupunya makan dikantin. Uhm~ walaupun sebenarnya hanya baekhyun yang makan sih dan dia hanya sekedar menemani sepupunya makan sambil ngobrol. Oke~ ngobrol! Luhan suka sekali ngobrol dan ia akan pastikan untuk mengobrol selama satu jam kedepan.
Kelas sudah setengah kosong ketika Luhan akhirnya beranjak dari kursinya sambil menenteng beberapa buku ditangan. Tasnya yang kecil memang tidak cukup untuk menenteng buku sebanyak itu jadi sisanya Luhan terpaksa bawa dengan tangan—itu lebih baik dari pada ia harus memakai tas besar seperti siswa SMA. Hell~ dia fashion itu juga penting. Apalagi untuk seorang yang menawan sepertinya.
Pemuda cantik itu berjalan cepat menuju tujuan utamanya yaitu kantin mengabaikan berpasang-pasang mata yang menatapnya penuh kekaguman. Mata rusanya berpendar cantik meneliti setiap sudut kantin dengan harapan menemukan sosok mungil sepupunya tapi ternyata tidak ada dimanapun. 'aneh' pikir luhan heran.
Dikeluarkanya ponsel dari saku jaketnya untuk mendial nomor baekhyun. Terdengar beberapa kali bunyi 'tut' panjang sampai akhirnya terlponya diangkat.
"Hallo?" Itu suara Baaekhyun.
"Baek? Kau dimana?"
"Di perpus Luhan."
Alis Luhan menyatu mendengar sepupunya berada di perpustakaan.
"Kau ada tugas?"
"Tidak!"
Luhan makin heran sekarang, "Aku kesana."
"Okee~"
Telpon pun ditutup. Luhan memasukkan kembali ponselnya kedalam saku jaketnya, kakinya berjalan cepat menuju perpustakaan yang berada digedung seberang.
.
.
.
"Baek!" Sapa Luhan seraya mendudukan dirinya disamping Baekhyun yang terlihat sedang sibuk membaca buku tebal dimeja.
Baekhyun mendongak mendengar suara sepupunya, pemuda imut itu tersenyum lebar melihat kedatangan Luhan.
"Luhannie~" Rajuk manja Baekhyun seraya memeluk singkat sepupu cantiknya. Luhan hanya diam membiarkan Baekyun memeluknya erat. Sepupunya yang satu ini memang sudah biasa bersikap manja pada siapapun termasuk pada Luhan sendiri.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Luhan heran mendapati banyak buku dengan simbol aneh berserakan dimeja.
"Apa ini untuk klub penelitian supranatural yang kau ikuti?" Luhan tentunya masih ingat sepupunya itu mengikuti salah satu klub paling aneh dikampusnya. Klub penelitian supranatural dan mungkin kali ini baekhyun sedang membutuhkan bahan penelitian untuk klubnya tersebut.
Baekhyun menggeleng imut, "Ini untukmu."
"APA?!" Teriak Luhan cukup keras sampai membuat penjaga perpus mendesis tajam padanya.
"Baek apa maksudmu?" Tanya Luhan seperti bisikan tak ingin lagi mendapati pelototan dari penjaga perpus.
Baekhyun menghela napas menutup buku yang dibacanya. "Ini untuk kamarmu Luhan."
Luhan menatap sepupunya dengan tatapan seolah berkata 'kau tidak sungguh-sungguh kan?'.
"Ada apa dikamarku?"
Baekhyun menghela napas sesaat, "Baek ada sesuatu disana. Aku bisa merasakanya. "
Dan sesuatu itu adalah Kris! Batin Luhan gemas.
Luhan menggeleng untuk menolak niat baik sepupunya, "Baek kau tidak perlu repot-repot. Tidak ada hal aneh dikamarku. Aku baik-baik saja."
"Kau yakin baik-baik saja?"
Luhan mengangguk dengan wajah –amat sangat- meyakinkanya yang pasti membuat sepupunya melunak.
"Baik. Tapi kalau ada apa-apa kau harus cerita padaku."
Luhan mengangguk setuju setidaknya dengan ini dapat menjauhkan Baekhyun sementara waktu dari ketertarikan dengan kamarnya, "Oke~"
Baekhyun mengulas senyum manis melanjutkan membuka bukunya lagi. Luhan mengernyit melihat sepupunya berniat kembali fokus pada bukunya.
"Aku kira kita akan pergi setelah ini?" Tanya Luhan bingung.
Baekhyun tersenyum, "Sebentar Luhan buku ini bagus, aku ingin membacanya untuk penelitian supranaturalku minggu depan."
Luhan hanya bisa memutar bola matanya. Sementara Baekhyun sibuk membaca, Luhan putuskan untuk mengambil salah satu buku dimeja. Keningnya berkerut membaca judul buku itu 'Cara ampuh mengusir setan'.
'Sepupuku ini pasti sudah mulai gila' Pikir Luhan melirik Baekhyun yang sibuk membaca disampingnya. Sang objek yang merasa diperhatikanpun menoleh dengan ekspresi polosnya yang menggemaskan.
"Apa?"
Luhan menggeleng, "Tidak ada apa-apa Baek."
.
.
.
Tepat pukul 11 siang seperti ucapan Luhan semalam pada ibunya, kelas pemuda cantik itu akhirnya berakhir. Kerepotan dengan setumpuk buku ditanganya Luhan tampak berjalan keluar dari kelasnya bersama beberapa mahasiswa yang lain. Luhan merasakan getaran di saku jaketnya, pemuda yang masih kerepotan dengan bukunya itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Wajahnya seketika pucat dengan setetes keringat dingin meluncur mulus dari sisi wajahnya melihat nama si penelpon, 'Ibu'. Iris rusanya menatap layar ponselnya ragu antara harus mengangkat telpon itu atau tidak. Tapi jika ia tidak mengangkatnya Luhan yakin ibunya bisa saja menguncinya seminggu didalam kamar dan Luhan tidak mau dihukum. Tidak! Walaupun dengan perasaan yang tak tentu dan benaknya yang berkecamuk menyuruhnya untuk lari Luhan tetap mengangkat telpon ibunya.
"I-ibu?" Ujarnya terbata, sarat akan nada takut.
"Kelasmu sudah selesai?"
Ludah tercekat, "Y-ya."
"Ibu sudah ada didepan kampusmu."
Luhan merasakan tenggorokanya kering sampai ia harus menelan ludahnya susah payah, "B-baik. A-aku segera kesana."
Bip
Telponpun ditutup dari seberang. Luhan menjauhkan benda elektronik itu dari telinganya menggenggam benda itu erat tanpa sadar. Otaknya berkelana entah kemana, ia bahkan tidak sadar berdiri mematung cukup lama ditengah jalan sampai kemudian seorang pajalan kaki lain menabraknya tanpa sengaja membuat buku yang dibawa luhan terlepas dari tanganya berserakan begitu saja dilantai. Barulah setelah insiden tak sengaja itu Luhan tersadar dari lamunanya sendiri.
"Hei!" Teriak Luhan jengkel menunduk menatap bukunya yang berserakan dilantai.
Luhan mengalihkan pandanganya pada sekitarnya mencari orang yang tadi sempat menabraknya. Bola matanya berhenti pada sesosok tinggi dengan mantel hitam yang berjalan cepat. Orang itu yang tadi menabrak Luhan! Dengan kemarahan diubun-ubun kaki kecil Luhan berlari cepat menyusul sosok tinggi yang terlihat masih berjalan santainya.
Dan Gothca! Luhan berhasil menarik lengan sosok tinggi itu, "Tunggu!"
Bibir plum luhan sudah membuka siap mendamprat sosok tinggi yang seenaknya menabraknya lalu pergi begitu saja tanpa minta maaf dengan kata-kata tajam tapi ketika pemuda yang lebih tinggi itu berbalik, Luhan malah tidak bisa berkata apa-apa. Mata rusanya membola melihat sosok tampan pemuda albino didepanya.
"S-sehun?" gumamnya tanpa sadar.
Pemuda yang lebih tinggi juga terlihat sama kagetnya seperti Luhan tapi cepat-cepat mengganti ekspresinya menjadi datar.
"Oh lihat siapa yang aku temukan disini? Bambi yang tersesat?" Ujar Sehun dengan nada kental akan ejekan membuat rusa cantik didepanya merengut kesal.
Luhan membuka mulutnya terlihat ingin balas ejekan itu tapi sebuah telpon berdering mengintrupsi keduanya. Luhan melihat sehun mengeluarkan ponsel dari sakunya dengan sebelah tanganya yang bebas dari cengkraman luhan. Wajah si albino tinggi berubah kesal melihat layar ponselnya sendiri tapi kemudian mengangkatnya juga.
"Apa?" Tanya sehun terdengar sangat jengkel ditelinga luhan.
"…."
"Aku sudah bilang aku tidak mau!" Oke~ Sehun benar-benar terlihat jengkel dan sungguh itu imut dimata Luhan. uhm.. Jika dia tidak lupa bahwa ia sedang jengkel pada si albino es didepanya luhan mungkin sudah terkikik.
"…."
"Apa sekarang kalian mengancamku?"
"…"
"KENAPA KALIAN SENANG SEKALI MENGATUR HIDUPKU!" Teriak Sehun keras pada sang penelpon diseberang kemudian mematikan sambungan itu sepihak.
Mata rusa Luhan terus terpaku pada gerak gerik si albino didepanya. Dalam hati ia bertanya-tanya siapa gerangan yang menelpon sehun barusan sehingga membuat si es itu kesal luar biasa seperti itu? apa itu pacarnya?
"Telpon dari siapa?" Tanya Luhan tanpa bisa mengerem mulutnya. Ops!
Sehun menatap tajam pemuda cantik didepanya, "Bukan urusanmu bambi." Ujarnya kemudian menyentak lenganya keras sampai tangan luhan yang sejak tadi menarik lengan mantelnya terlepas.
"Well~ aku harus pergi." Ujar dengan seringai tampan tersungging dibibirnya. Dan entah kenapa Luhan mengagumi bagaimana wajah tampan dengan seringai itu sungguh kombinasi yang luar biasa sampai membuatnya tidak bisa berkedip dan otaknya blank seketika. Bahkan luhan hanya diam saja seperti orang bodoh ketika sehun berjalan melewatinya.
Pemuda itu baru tersadar dari kebodohanya barusan ketika sehun sudah berjalan cukup jauh darinya.
'Apa yang terjadi barusan?' Ujar Luhan dalam hati kebingungan dengan dirinya sendiri.
Sebentar—Ini bukan saatnya untuk berpikir yang aneh Xi Luhan! Ibumu sudah menunggu! Sial! Luhan buru-buru menghampiri bukunya yang berceceran dilantai.
.
.
"Kenapa lama sekali?"
Luhan memaksakan menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Baru sedetik ia masuk kedalam mobil ibunya sudah menondongnya dengan pertanyaan bernada kesal dan raut jelas menunjukkan kemarahan. Oke luhan tau ibunya tidak suka menunggu tapi ini sungguh bukan suatu rencana dia datang terlambat.
"Ada sedikit masalah." Cicit Luhan dengan nada yang dibuat sesopan mungkin.
Sosok wanita dengan mantel bulu tebal disampingnya mendengus, bola matanya yang setajam pisau bagi luhan menatap penuh intimidasi pada sang anak sampai membuat Luhan tak kuasa merasa begitu kecil. Tubuhnya serasa menciut kecil sekali seperti semut dan sang ibu terlihat seperti raksasa lapar dimatanya.
Awalnya Luhan pikir ibunya akan mengatakan hal pedas lagi jadi dia hanya menunggu sambil menunduk ketakutan tak berani menatap balik pada ibunya. Tapi tenyata tidak! untunglah ibunya memilih mengabaikanya dan malah bicara pada supir didepan.
"Jalan Pak." Luhan mendengar ibunya berkata pada Pak Kim yang menyetir di depan. Pria yang sudah berusia setengah abad itu mengangguk patuh.
Setelahnya luhan mendengar mobilnya distarter dan merasakan mobilnya mulai melaju.
Selama diperjalanan yang entah menuju kemana-Luhan sama sekali tidak tau—Luhan mendapati atsmofer didalam mobil sungguh menyesakkan baginya. Rasanya ia sulit bernapas, tidak! bukan karena ia mendapati asmanya kambuh tiba-tiba sehingga dia butuh masker oksigen untuk pertolongan. Tapi jujur saja satu ruang dengan ibunya sungguh membuatnya merasa sesak napas karena terlalu gugup dan takut disaat yang bersamaan. Luhan tau dia harusnya tidak merasa seperti itu tapi ia juga tak kuasa untuk mencegah dirinya sendiri merasa demikian pada ibunya. Tapi fakta bahwa mereka jarang berkomunikasi dan bertemu dan aura serta pembawaan ibunya yang anggun dan berwibawa yang sungguh bertolak belakang denganya membuat Luhan merasa bukan seperti sedang duduk dengan keluarganya tapi lebih seperti duduk dengan atasanya yang galak.
Sibuk dengan pikiranya sendiri Luhan sampai tidak fokus memperhatikan kemana ibunya membawanya. Pemuda itu hanya menurut saja ketika ibunya menyuruhnya turun dari mobil ketika mobil mereka sampai disuatu tempat. Rasa heran menghingapi benak pemuda cantik itu ketika mendapati mereka berhenti disebuah butik yang paling terkenal di kotanya dan Luhan tau benar itu butik milik ibunya. Luhan sebenarnya ingin bertanya tapi ia memilih menyimpanya untuk nanti saja karna ibunya sudah melangkah lebih dulu masuk kedalam butik dan Luhan mau tidak mau mengikutinya dibelakang.
Seorang pelayan wanita yang sangat cantik menyambut kedatangan Luhan dan Ibunya dengan senyuman manis,
"Selamat datang Nyonya besar." Pelayan wanita itu membungkuk hormat.
"Ambilkan satu setelan jas terbaik untuknya." Luhan merasakan tubuhnya menegang ketika ibunya menunjuknya.
Luhan melihat pelayan wanita cantik itu mengucapkan kata "Baik." Kemudian berjalan menghampiri Luhan.
"Mari ikut saya tuan muda." Ujar pelayan wanita cantik itu penuh kesopanan. Luhan sebenarnya enggan beranjak tapi ketika melihat ibunya menatap tajam padanya Luhan tak kuasa untuk menolak. Ia hanya bisa pasrah saja berjalan mengekori pelayan wanita itu kebagian setelan jas untuk pria. Luhan hanya diam saja membiarkan pelayan wanita itu memilihkan setelan jas untuknya.
"Coba yang ini tuan muda." Ujar pelayan wanita itu seraya menyodorkan sebuah jas berwana putih yang terlihat menawan. Luhan menatap jas itu cukup lama, terlihat sangat enggan untuk mencobanya. Luhan sungguh ingin menolak tapi matanya tanpa sengaja melirik ke bagian ruang tunggu dimana ibunya sedang melotot padanya dan Luhan lagi-lagi mendapati dirinya tak bisa berkutik.
"Dimana ruang gantinya?" tanyanya pada sang pelayan wanita.
"Silakan ikuti saya tuan." Dan Luhan pun hanya bisa mengehela napas lelah seraya melangkahkan kakinya mengekori pegawai wanita itu keruang ganti. Tuhan~ semoga ini cepat berakhir, batin pemuda cantik itu lelah.
.
.
.
Namanya juga cuma berharap, pada nyatanya penderitaan Luhan belum berakhir begitu saja. Setelah dari butik mobil yang luhan tumpangi berhenti didepan sebuah hotel mewah. Luhan pikir ini dia~ acara inti yang sungguh sangat tidak ingin ia hadapi. Luhan ingin kabur saja tapi kabur sama saja artinya dengan mati. Ia tidak mungkin bisa kabur dengan ibunya yang terus saja mengawasi gerak-geriknya sejak tadi. Pemuda cantik itu tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya patuh mengikuti ibunya memasuki gedung hotel yang tingginya menjulang dengan jantung yang berdetak tak karuan dan perut yang serasa diaduk-aduk. Dia mual! Dia butuh obat magh! Obat pencahar! Atau apapun itu yang dapat membuatnya merasa lebih baik.
"Kau terlihat pucat." Luhan menoleh pada sang ibu yang menatapnya dengan heran ketika mereka masuk lift.
Seulas senyum luhan paksakan mengembang, "Ha-hanya gugup."
Wanita paruh baya itu mengangguk-angguk, "Jangan lupa untuk selalu menjaga sikapmu Luhan."
Sekarang Luhan bukan hanya perut dan jantungnya yang bermasalah tapi seluruh tubuhnya terasa mengigil seperti terserang demam.
"B-baik."
Hyo rin tersenyum tipis tampak puas dengan jawaban patuh anaknya. Lift yang sejak tadi mereka tumpangi berhenti dilantai 11. Luhan melihat ibunya keluar dari lift jadi ia lagi-lagi hanya bisa pasrah mengikutinya begitu saja. Mereka berbelok beberapa kali sampai akhirnya bertemu dengan sebuah lorong dimana hanya ada satu pintu diujung. Pintu itu-Kaki Luhan bergetar menghampiri pintu itu, ia ingin lari sekarang juga! Luhan ingin lari! Pikiranya menyuruhnya untuk lari tapi kakinya terus saja berhianat karena terus saja mengikuti ibunya menghampiri pintu itu. Jantung Luhan bertalu-talu berkali lipat lebih cepat melihat ibunya memutar knop pintu.
Ceklek~ terdengar bunyi knop pintu yang terbuka ketika ibunya memutar knop emas pintu—
Luhan meremas tanganya sendiri yang berkeringat dingin—
Pintu berderit membuka perlahan—
Luhan merasa pandanganya mulai berkunang-kunang. Kepalanya pusing—
Pintu terbuka sepenuhnya—
Pandangan Luhan gelap seketika.
.
.
.
Luhan membuka matanya perlahan. Kening pemuda cantik itu berkerut mendapati warna krem menyapa matanya ketika pertama kali ia membuka matanya. Aneh! Seingatnya tidak ada satupun ruangan dirumahnya berwarna seperti itu. Tiba-tiba Luhan teringat sesuatu—Perjodohan! Pemuda cantik itu cepat-cepat beranjak dari posisi berbaringnya yang nyaman.
"Kau sudah bangun bambi?" Suara itu! Luhan menoleh cepat pada sosok yang duduk disofa merah marun didekat tempat tidur.
"Oh Sehun?!" Iris rusanya menatap takjub sosok tampan dalam balutan jas hitam tengah menatapnya dengan tatapan dingin dan wajah yang datar.
'Apa ini mimpi?' bantin luhan heran. Pemuda cantik itu menampar wajahnya sendiri tapi sakit! Ini bukan mimpi ternyata.
"Kau ini bodoh atau apa?" Sehun menatap Luhan dengan ekspresi aneh.
"Apa ini mimpi?" Tanya Luhan dengan ekspresi bodohnya.
Sehun memutar bola matanya jengah,
"Apa perlu aku menyirammu dengan sember air untuk membuktikan ini mimpi atau tidak?" Balas Sehun sarkastik.
Luhan mendengus mendengar ucapan menyebalkan sehun. kenapa dia begitu menyebalkan? Pikir Luhan heran.
Tunggu dulu—kenapa sehun ada disana padahal seingat Luhan terakhir kali ia ada dilorong hotel dan…dan…ibunya membuka pintu lalu semuanya gelap.
Bola mata Luhan menatap sekeliling dengan tatapan bingung. Tempat itu tampak seperti sebuah kamar baginya. Kamar yang sangat bagus dan mewah dengan jendela besar, tempat tidur yang nyaman, dan lemari besar serta sofa merah marun yang terlihat sangat empuk. Pandangan luhan berakhir pada sosok Sehun yang masih duduk disofa dengan tangan terlipat angkuh.
"I-ini dimana?" Tanyanya kebingungan.
"hotel." Jawab sehun enteng.
Bola mata rusa Luhan membola mendengar kata 'hotel'. Otaknya berkelebat alasan-alasan yang logis kenapa dia berada di sebuah kamar hotel dengan Oh Sehun padahal tadi dia bersama ibunya. Apa jangan-jangan Sehun sedang menculiknya?
"A-apa kau sedang menculikku?" Tanya Luhan polos.
Pemuda yang duduk diseberang sofa terlihat menahan tawa mendengar pertanyaan konyol itu. sekelebat ide muncul di kepala si albino untuk menggoda bambi yang sekarang sedang ketakutan itu.
Sehun beranjak dari singgasananya, menghampiri sosok Luhan yang hanya diam menatapnya dengan mata berkedip-kedip imut. Sehun mendekatkan wajahnya pada Luhan yang refleks memundurkan wajahnya.
"Menurutmu sendiri?" Tanyanya dengan seringai tampanya. Matanya menatap intens setiap jengkal tubuh Luhan dan itu membuat si rusa cantik didepanya segera menyambar selimut untuk menutupi tubuhnya sendiri.
"Ke-kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Luhan yang terlihat sangat gugup. Jantungnya sudah berdetak tak karuan melihat tatapan sehun padanya.
Sehun menyeringai senang terlihat sangat menikmati menggoda Luhan. Ini akan menarik! Pikirnya.
Bambi yang sudah terpojok makin ketakutan ketika sang predator makin mendekat, siap memangsanya kapan saja. Oh sehun melepas sepatunya, merangkak naiki tempat tidur. Luhan yang ketakutan melihat Sehun dan tatapan lapar padanya otomatis mundur tapi Sehun tetap merangkak mendekati si rusanya yang ketakutan. Tubuh mungil Luhan tak bisa lagi berkutik ketika merasakan ujung dari tempat tidur. Sehun menyeringai mendapati Luhan yang sudah terpojok.
"Ja-jangan mendekat." Ujar Luhan seraya mendorong lemah sosok sehun yang tak bergeming bahkan si jangkung itu makin mendekat padanya, mengunci tubuh mungil itu dibawahnya. Tangan yang lebih besar menangkap tangan mungil luhan, menguncinya disisi kepala pemuda itu. Wajah mereka begitu dekat bahkan Luhan bisa merasakan hembusan napas Sehun yang berjarak beberapa senti darinya.
Si bambi yang merasa dirinya dalam bahaya menutup matanya, Sehun benar-benar puas melihat pemuda cantik itu ketakutan dibawahnya seperti itu. tapi ini belum selesai! Sehun menyeringai setan.
Tanganya bergerak mengelus pipi Luhan, "Nah bambi—"
Kreeettt~
Tepat ketika itu pintu kamar berderit terbuka menampakkan sosok 3 orang paruh baya mematung didepan pintu melihat pemandangan yang sangat langka itu, "Omo~~"
Kedua sejoli yang sedang dalam posisi absurd itu menoleh kearah pintu dan wajah keduanya seketika horror.
"I-ini tidak seperti yang kalian pikirkan."
.
.
.
TBC
