Title: Sugar
Cast: Xi Luhan, Oh Sehun, Wu Kris, Kim Jongin, DLL(OC)
Rate: -_-
Genre: YAOI, Romance/fluff(?)
Disclamer:
Luhan punya Sehun, dan Sehun punya Luhan.
.
.
.
Alur amburadul, Typos dimana-mana, gaje, EYD berantakan. .
Chapter ini sungguh membosankan! Author ingatkan! Ini membosankan! Bahkan aku nulisnya ajha bosen. Ahaha~ Buat yang ngikutin dibaca ajha. Aku kurang yakin chapter ini ngaruh banget ke cerita(nah loh?) tapi kayaknya ngaruh sih. XD
.
.
.
Please Enjoy This Story~
.
.
.
CHAP 4!
.
.
.
Luhan meyakinkan dirinya sendiri bahwa ruangan yang sekarang ia tempati ini seharusnya terasa hangat. Perapian didinding sebelah barat Luhan yakin bekerja dengan baik menghangatkan ruangan itu. luhan tau karena ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana api merah besar menjilat-jilat kayu bakar yang sengaja dimasukkan untuk membuat hangat ruangan yang ia tempati. Luhan yakin seharusnya hangat, tapi pada kenyatanya tidak sama sekali! Pemuda cantik itu malah merasakan tubuhnya malah menggigil. Tak ada angin dingin yang bertiup dari manapun. Luhan yakin semua jendela didalam ruangan pertemuan didalam salah satu hotel itu sudah ditutup dengan rapat. Tak ada celah sedikitpun bagi udara musim dingin diluar untuk masuk—semua sudah tertutup rapat. Jadi sungguh luhan bertanya-tanya dari mana hawa dingin itu berasal?
Dan lagi bukan hanya dingin saja kenapa bulu kuduknya juga terasa meremang? Luhan yakin dia tidak sedang syuting film horror sekarang. tak ada hantu yang akan muncul dari manapun untuk menakutinya dan membuatnya menjerit. Ia aman! Sangat aman dan tidak sendirian! Ia bersama 4 orang lainya yang duduk di ruangan mewah dan cukup besar itu. Iris rusa luhan menatap satu persatu pada sosok orang disekelilingnya, ada sang ibu yang duduk disampingnya dengan raut wajah angkuhnya seperti biasa Luhan tidak tau apa yang adda dipikiran wanita itu sekarang, dan-mata bulat luhan beralih pada sosok pria setengah abad yang tampan dan berkarisma dikursi seberang yang terpisah meja denganya, pria itu menatapnya sambil tersenyum penuh wibawa membuat Luhan ikut menampilkan seulas senyuman singkat, lalu ada seorang wanita yang mungkin seusia ibunya. Wanita itu terlihat sangat cantik sekali dengan gaun indah dan perhiasan. Sungguh! Benar-benar mengingatkanya pada sosok ibu luhan hanya saja wanita diseberang itu terlihat sangat hangat dan cerita. Luhan yakin karena wanita itu terus saja tersenyum padanya padahal Luhan tidak tau alasanya. Dan terakhir ada sosok Oh Sehun duduk disamping wanita cantik paruh baya tadi dengan kepala menunduk dalam.
Terdengar suara dehaman dari wanita cantik yang Luhan yakini itu adalah ibunya Sehun. "Jadi—sejak kapan kalian saling kenal?"
Luhan merasakan lidahnya kelu seketika. Oh! Apakah Luhan sedang masuk acara inti sekarang? acara perjodohan ini akhirnya sudah dimulai. Tapi kenapa tak ada gadis disini?
Luhan melihat ibunya sehun tersenyum cangat cantik padanya, "Apa diam-diam kalian ternyata sudah berpacaran?" kalian—luhan menggaris bawahi kata itu. dia dan Oh Sehun? pacaran? Apa ini lelucon?
"Apa?!" Bukan! Kalian pasti berpikir itu suara Luhan tapi itu sebenarnya adalah suara Sehun!
"Berapa lama?" Tanya ibunya sehun mengabaikan suara anaknya.
"IBU!" Teriak Sehun kesal.
Ibunya Sehun mendesis. Menyikut keras ulu hati sang anak sampai anaknya meringis menahan sakit atas serangan telak itu. "Shhh… Sehunnie~ diamlah kau membuat uri Luhan takut dengan suaramu yang menggelegar itu."
Sehun mengaduh matanya menatap ibunya dengan tatapan tajam tapi wanita yang telah melahirkanya itu terlihat santai saja bahkan mengabaikan tatapan anaknya dan lebih memilih berpaling pada pemuda canti diseberang.
"Jadi—bagaimana Luhan?" Tanya Ibu sehun lagi. Tak kehilangan fokusnya pada pertanyaanya tadi. Semua mata kini berfokus pada pemuda cantik yang sejak tadi diam itu dan Luhan merasakan tubuhnya mengegang. Apalagi melihat wajah datar ibunya. Tuhann~ Luhan harus berkata apa sekarang?
"K-kami—"
"Aku tidak mengenalnya." Sela Sehun tiba-tiba membuat semua mata beralih pada sosok pemberani Sehun yang telah dengan percaya diri mengatakanya dengan lantang.
"APA?" Teriak Ibunya Sehun shock.
"Apa kau sedang bercanda Oh Sehun?" Tanya wanita cantik itu terdengar sangat marah.
Kepala sehun menggeleng kepalanya kembali menunduk dalam, "Aku tidak sedang bercanda."
"Kau tidak mengenal Luhan tapi kau sudah berniat melakukan 'itu' denganya?" Kata ibu sehun terdengar marah.
"Sudah kubilang itu tidak seperti kelihatanya. Kalian salah paham! I-itu hanya lelucon!"
Ibunya Sehun menggeleng tatapanya menghakimi sang anak, "Itu bahkan sama sekali tidak lucu Oh Sehun!"
Sehun menunduk lagi terlihat sangat tak berdaya, "Aku tau."
Ibunya sehun menghela napas sesaat, "Kalau begitu kita majukan tanggal pernikahanya!"
"APA?!" Teriak Luhan dan Sehun hampir bersamaan.
"Ayah setuju." Kata pria paruh baya yang sejak tadi hanya diam menonton.
Luhan melihat ibunya sehun tersenyum amat sangat cerah seperti mentari pagi yang menyilaukan. Bola mata wanita cantik itu bergulir pada sosok anggun yang sejak tadi tampak sangat tenang disamping luhan.
"Bagaimana menurutmu Hyo Rin-ah?"
Luhan melirik ibunya takut-takut. Jangan~ tolong jangan diterima ibu.
Wajah putih luhan seketika memucat melihat seulas senyum mengembang dibibir ibunya, "Kedengarnya bagus."
"Tidak!" Teriak Sehun menggelegar. Pemuda tampan itu terlihat amat sangat gusar dan cemas seperti Luhan dan Luhan sungguh mengapresiasi keberanian Sehun untuk memprotes usul gila itu.
"Kami tidak akan menikah!" Ujar Pemuda albino tampan itu dengan tegas.
"Oh sehun! apa maksudmu?" Tanya Ibu pemuda tampan itu yang terlihat mulai kesal.
"Kami tidak akan menikah! Aku tidak mau menikah denganya!" 'Aku juga tidak mau menikah denganmu bodoh' bantin Luhan kesal.
"Oh Sehun! Kita sudah sepakat! Kau ingat?"
Luhan melihat wajah sehun memucat seketika dengan bola mata yang bergerak-gerak gelish. Luhan bertanya-tanya dalam hati kesepakatan apa yang mereka buat sampai membuat wajah si es itu bisa sepucat sekarang. Bahkan tak hanya itu, Sehun terlihat seperti kalah dalam perdebatan itu. pemuda albino itu malah mengerang seraya mengacak rambutnya frustasi. Oke! Jika sehun saja kalah Luhan yakin suaranya tidak berguna disini.
Ibunya Sehun tersenyum sumringah, "Nah~ sekarang semuanya sudah sepakat. "
"Kita belum mendengar suara Luhan." Ujar ayahnya sehun.
Semua mata seketika berpusat pada Luhan.
"A-aku…" Luhan melirik takut takut pada semua orang didalam ruangan itu yang menunggu jawabanya. Ada ibunya yang menatapnya tajam, ada ayahnya sehun yang tersenyum menatapnya, ada ibunya sehun yang menatapnya penuh harapan dan Sehun yang menatapnya datar.
Luhan memejamkan matanya. Menghirup napas dalam-dalam, "A-aku ber-bersedia."Ujar pemuda cantik itu terbata disambut sorak dari ibunya sehun.
"Aku tidak sabar menjadikanmu menantuku Luhannie~!" Jerit wanita paruh baya itu seraya melompat dari kursinya untuk memberikan sebuah peluhan erat pada Luhan. bahkan sampai membuat pemuda cantik itu sesak napas.
.
.
Luhan sampai dihalaman rumahnya ketika hari telah menjelang malam. Pemuda cantik itu turun dari mobil ibunya dengan wajah yang terlihat sangat lelah.
"Luhan." Luhan melongok lagi melalui celah pintu mobil untuk melihat ibunya yang terlihat engan beranjak dari mobil.
"Ibu ada perjalanan bisnis untuk 2 minggu kedepan. Pastikan rumah kau jaga baik-baik."
Luhan menggangguk patuh pada sang ibu, memang sudah menjadi hal biasa ibunya pergi untuk waktu yang sangat lama untuk urusan bisnis. "Baik."
Hyo rin—sang ibu tersenyum tipis dalam mobil. Luhan memutar tubuhnya hendak beranjak dari sana tapi sang ibu memanggilnya lagi.
"Luhan."
Belum sempat Luhan berbalik sang ibu sudah melanjutkan kata-katanya, "Kau sudah berusaha keras hari ini. Ibu bangga padamu." Tubuh luhan mematung ditempatnya mendengar ucapan itu. ia berbalik cepat untuk menatap wanita yang telah melahirkanya tersebut tapi ternyata mobil sang ibu ternyata sudah melaju.
Mata rusa luhan menatap mobil itu sampai hilang dari pandangan, ucapan sang ibu berputar dikepalanya.
'Kau sudah berusaha keras hari ini. Ibu bangga padamu.' Seulas senyum manis mengembang diwajah pemuda cantik itu.
Luhan lantas beranjak menuju pintu rumah. Ia mengetuk pintu kokoh rumahnya. Beberapa saat menunggu pintu terbuka menampakkan Hye Jin dan pakaian pelayanya menyambut Luhan dengan senyuman hangat.
"Selamat datang Tuan Muda Luhan." Ujar Hye Jin seraya membungkuk sopan.
"Terimakasih bibi." Balas Luhan tersenyum tipis seraya beranjak memasuki rumah sedangkan Hye jin menutup pintu.
"Anda sudah makan?"
Luhan mengangguk mengiyakan. Ia memang sempat makan dihotel tadi ternyata tak hanya berbincang mereka juga makan malam. Kata ibunya sehun makan malam dapat mempererat tali silaturahmi antar sesama.
"Kalau begitu saya buatkan susu dan snack saja ya? Anda terlihat sangat lelah."
Luhan mengangguk menyetujui ide itu.
"Tuan mandi saja dulu. Nanti saya bawakan ke kamar tuan." Ujar Hye jin lagi.
Luhan mengangguk lagi menyetujui ide itu. pemuda cantik itu kemudian menaikki tangga menuju kamarnya tapi kemudian ia teringat sesuatu.
"Bibi—" Panggilnya pada Hye Jin yang hendak berjalan ke dapur.
"Tidak usah mengantarnya kekamarku. Aku akan kedapur mengambilnya sendiri."
Hye jin mengangguk mengerti kemudian melanjutkan jalanya menuju dapur.
Luhan menghela napas lega, untung dia ingat kalau ada Kris dikamarnya. jangan sampai deh, wnita itu masuk kamarnya. Jangankan orang, cicak, kecoa, bahkan tikus saja Hye jin bisa dengan mudah mendeteksi keberadaanya. Luhan benar-benar akan tamat tiwayatnya jika sampai Hye jin masuk ke kamarnya dan menemukan kris. Oh My~ Luhan harus pastikan itu tidak akan pernah terjadi.
Luhan mengangguk mantap dengan pikiranya sendiri. Ia berjalan lagi meniti tangga menuju kamarnya. Dikeluarkanya kunci dari saku jasnya, Yep semenjak Kris ada di kamarnya Luhan akan lebih berhati-hati menjaga wilayah kekuasaanya tersebut agar tidak kecolongan dimasuki orang jadi Luhan akan pastikan ia tidak lupa selalu mengunci pintu ketika ia pergi.
Dimasukkanya kunci ke lubang kunci kemudian ia putar. Suasana kamar yang sepi seperti biasa langsung menyergapnya. Luhan menghela napas melihat kamarnya sendiri. Kakinya bergerak menuju lemari. dibukanya pintu kayu itu menampakkan sosok Kris yang tengah duduk meringkuk didalam lemari denganmata terpejam. Pemuda tampan itu tidur rupanya. Luhan ingin membangunkan pemuda tampan itu, ia ingin cerita banyak hal. Tanganya bergerak menuju bahu kris untuk mengguncangnya. Tapi terhenti seketika, Luhan menggeleng. Tidak! mungkin besok saja Luhan cerita pikirnya. Kemudian mengambil setelan piama dari dalam lemari. pintu lemari ia tutup rapat kembali.
.
.
.
Luhan membuka matanya ketika mendengar bunyi alaram dimeja disamping tempat tidurnya. Dipencetnya tombol di alaram itu untuk menghentikan bunyi nyaring dari alaram yang sengaja di set semalam. Luhan bangun dari tempat tidurnya seraya menguap lebar, tepat ketika itu pintu lemari terbuka menampakkan Kris yang tengah menggigit sebuah roti manis ditanganya.
"Selamat Pagi cantik." Sapa Kris manis. Luhan menoleh pada Kris dan memberinya sebuah roll eyes sebagai balasan atas pelecehanya dengan kata cantik. Luhan membenci siapapun yang memanggilnya cantik! Tapi untuk Sehun? Luhan juga tak tau mengapa tapi Sehun merupakan pengecualian baginya.
"Oh! Kenapa wajahmu merengut seperti itu?" Tanya Kris dengan wajah sok bingungnya padahal Luhan tau Kris tengah menggodanya sekarang.
"Shut Up!" Makinya kesal seraya mengacak rambutnya mengabaikan Kris yang tergelak didalam lemari. Kepalanya masih setengah pusing sekarang. Luhan yakin dia masih butuh tidur sekarang tapi tidak bisa. Luhan ada kelas pukul 8 nanti atau tepatnya 1 jam dari sekarang dan Luhan tidak mau lagi-lagi melewatkanya dengan hal yang tidak berguna seperti tidur. Jadi, Luhan putuskan untuk beranjak susah payah dari tempat tidurnya yang nyaman.
"Jadi bagaimana?" Tanya Kris tiba-tiba.
Luhan yang baru satu langkah menjauh dari tempat tidur menoleh pada pemuda tampan itu dengan alis bertaut.
"Apa?"
Kris memutar bola matanya, "Acara kemarin!"
"Kau tau?" Tanya Luhan heran mendapati Kris sudah tau lebih dulu tentang 'kemarin' padahal Luhan bahkan belum cerita apapun pada Kris. Aneh!
"Tentu saja Luhan. "
"Apa ini bagian dari rencanamu?"
Kris mengerjap sok polos, membuat Luhan benar-benar gemas. Si cantik berdecak pinggang menatap tajam Kris, "Kau ini sebenarnya siapa Kris?"
"Aku?" Kris menunjuk dirinya sendiri.
Luhan mendengus, "Apa kau itu mata-matanya Sehun?"
Kris tergelak lagi, Luhan bersyukur kamarnya itu kedap suara jadi tak ada yang akan mendengar tawa menyebalkan Kris.
"kau pikir aku mata-mata sehun?"
Luhan mengangguk mengiyakan, tanganya sudah meilat didada menatap Kris dengan tajam.
"Kalian pasti bersekongkol! Kau pasti bagian dari rencana konyol perjodohan ini kan?" Tuduh Luhan.
Kris menggeleng cepat, "Aku tidak andil bagian apapun dalam perjodohan ini Luhan. aku memang mengenal Sehun tapi aku bersumpah bahwa aku bukan bagian dari masalah perjodohanmu. Aku disini karena alasan lain!"
"Oh jadi alasan apa itu tuan Kris?"
Kris tersenyum dengan tampanya, "Uhm.. wel.. yeah.. itu karena aku ingin kau membantuku sembunyi sementara waktu."
Luhan menghela napas terlihat mulai tak sabar dengan alasan tak jelas itu, "Sembunyi dari apa?"
Kris terdiam sejenak Luhan yakin pemuda itu tengah berpikir sekarang, "Luhan… Aku ada disni karena suatu alasan tapi aku belum bisa memberi tahumu. Mungkin suatu saat. Dan.."
"Dan?" Luhan menunggu.
"Dan lihat sisi positifnya aku disini."
Luhan mendengus lagi, "Tak ada sisi positif apapun kau tinggal di lemariku Kris. Kau bahkan menghabiskan semua cemilanku disana." Ujar Luhan marah.
Kris tergelak lagi, "Well yeah.. tapi aku yakin kau senang aku disini. Kau punya teman bicara sekarang."
Great! Kata-kata itu membungkam Luhan seketika. Pemuda cantik itu kemudian berjalan menuju kamar mandinya.
.
.
.
Luhan tengah sibuk dengan roti panggang dan selai kacangnya ketika terdengar ketukan dari arah pintu depan.
"Bibi!" Seru Luhan tapi beberapa saat menunggu tak ada sahutan dari manapun. Mungkin dia sibuk—pikir Luhan. Dengan terpaksa Luhan berjalan menuju pintu depan sambil menggerutu untuk siapaun yang mengganggu waktu sarapan paginya. Orang sialan mana yang sepagi itu bertamu? Luhan benar-benar akan mendamprat siapaun itu! walaupun itu adalah tukang pos sekalipun Luhan akan memarahinya.
Luhan membuka pintu, mulutnya seketika terbuka dengan mata membola melihat sosok pemuda tampan albino didepan pintunya.
"Sehun?" Gumam Luhan seperti orang bodoh.
"Waw! Selamat pagi Luhan! Senang bertemu denganmu. Apa kau baik-baik saja? Kau sampai dengan selamat kan semalam?" Tanya Sehun dengan nadanya yang sok ramah, terkejut dan itu merupakan sebuah penghinaan bagi Luhan.
"Hentikan tingkah menjijikanmu itu Oh Sehun! Kau bisa membuatku memuntahkan sarpan pagiku." Ujar Luhan jengkel.
Sehun memutar bola matanya jengah, ektingnya sudah ketahuan rupanya.
"jadi kenapa kau kesini tuan Oh?"
Sehun menatap Luhan tepat dimatanya dan itu sungguh membuat Luhan gugup ditatap seperti itu.
"Ke-kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanyanya.
"ku sungguh membencimu Xi Luhan."Ujar sehun tiba-tiba.
"H-ha?" Luhan mengerjap imut.
Sehun memutar bola matanya lagi, "Ibuku menyuruhku mengantar jemputmu mulai sekarang."
Iris rusa Luhan membola, "A-apa?"
"Kau tidak dengar apa yang ku katakan? Apa kau tuli?" Tanya Sehun sinis.
Luhan menghela napas dengan sikap menyebalkan Sehun. Sungguh hari yang buruk bertemu mahluk menyebalkan itu sepagi ini.
"Tidak perlu repot-repot mengantarku tuan Oh! Aku bisa berangkat sendiri dengan supirku."Ujar luhan menolak.
"Tidak bisa!"
Luhan menatap sehun aneh, "Kenapa?"
"Kau harus berangkat bersamaku!" Kata Sehun ngotot.
"Sudah kubilang—"
"Oh Lihat siapa ini yang datang?" Kedua orang yang sedang berdebat itu menoleh pada suara wanita dibelakang Luhan. wanita yang tak lain adalah Hye jin itu berjalan menghampiri Luhan dan Sehun yang masih ditengah pintu.
"Oh apa ini yang namanya Tuan Oh Sehun? calon suami tuan muda Luhan?"
Luhan melotot horror pada pelayanya yang tersenyum manis pada Sehun, tunggu—dari mana Hye Jin tau tentang perjodohan itu?
Hye jin yang merasakan Luhan terus menatapnya dengan bingung kembali mejelaskan, "Ibu anda pernah cerita pada saja tuan."
Sudah ia duga~ orang-orang disekitarnya sudah tau duluan sebelum Luhan tau. Oh harusnya Luhan tau bahwa ini merupakan konspirasi dari orang-orang disekitarnya. Luhan harusnya sudah menyadari ini.
"Tuan Oh mau menjemput tuan muda ya? "
Sehun mengangguk mengiyakan, "Ya."
"Silakan masuk dulu. Tuan pasti belum sarapan kan? Masuklah dan sarapan bersama tuan muda." Ujar Hye Jin ramah yang disambut anggukan setuju dari sehun.
"Bibi—"
"Mari tuan kita ke ruang makan." Ujar Hye jin seraya menuntun Sehun ke ruang makan mengabaikan Luhan yang cemberut di pintu depan. Luhan bersumpah bahwa dia sempat melihat seringai kemenangan dari sehun sebelum sebelum pemuda albino menyebalkan itu menghilang masuk lebih jauh kedalam rumah.
.
.
.
"Luhan!"
Pemuda cantik yang dipanggil menoleh pada sosok mungil Baekyun yang berjalan riang kearahnya. Kening Luhan mengernyit melihat wajah Baekhyun yang luar biasa terlihat bahagia. Wow! Apa kiranya yang membuat sepupunya itu bisa sebersinar itu?
"Baek—jangan lari-lari kau bisa jatuh." Nasehat Luhan merasa cemas melihat Baekyhyun berlari kearahnya seperti sedang dikejar maling.
"Luhan! Luhan!" Baekhyun mengguncang bahu luhan keras sampai membuat pemuda canti itu pusing.
"Y-ya baek? Tolong hentikan. Aku mulai pusing."
Baekhyun melepaskan bahu sepupunya, senyum masih mengembang dibibirnya. Dan itu membuat Luhan semakin bingung.
"Baek? Kenapa kau seceria ini?" Tanya Luhan heran.
"Coba tebak?"
Luhan mendesah panjang, "Apa kau habis menang lotre?"
Baekhyun menggeleng imut, "Klubmu menang penghargaan Klub terpopuler kampus?" Tanya Luhan ragu—tentu saja ragu. Klub itu bahkan tidak jelas! Dan untuk menjadi klub populer dikampus sangat mustahil.
Baekhyun menggeleng cepat tapi kemudian dia berkata, "Mungkin tahun depan. Tapi bukan itu."
Luhan menghela napas lelah dengan tebak-tebakan konyol sepupunya.
"Ada apa?"
Baekhyun menjerit, "Aku seceria ini karena kau Luhan!"
Kening Luhan berkerut samar, "A-apa?"
"Kau sedang berkencan dengan Oh Sehun kan sekarang?" Tanya Baekhyun dengan alis naek turunya bermaksud menggoda Luhan.
Iris rusa Luhan membola, "Ka-kau!"
"Kau sedang berkencan dengan Oh sehun!" Teriak Baekyun keras. Luhan sampai harus membekap mulut sepupunya itu agar yang lain tidak mendengar. Tidak! tidak ada orang dikampus yang boleh tau tentang ini. Luhan mungkin tidak akan ambil pusing dengan kemungkinan bahwa orang tau tapi sehun pasti berbeda.
"Sssttt Baek jangan keras-keras. " bisik Luhan masih dengan membekap mulut cerewet sepupunya. Setelah Baekhyun mengangguk setuju untuk diam barulah Luhan melepaskan bekapanya pada Baekhyun.
"Kau bagaiman kau tau?" bisik Luhan heran. Matanya menatap sekeliling kantin dengan was-was takut ada yang mendengar teriakan Baekhyun tadi tapi untunglah tak ada yang dengar. Aman terkendali!
"Aku melihat kau turun dari mobilnya pagi ini."
Luhan melotot horror, padahal ia sudah mewanti-wanti hal seperti ini dengan tak masuk dari gerbang depan tapi kenapa sepupunya itu tangguh sekali sih? Apa dia punya penciuman anjing? Atua telinga super?
"Jadi—apa oh sehun orangnya?" Tanya Baekhyun lebih bersemangat lagi.
Luhan menghela napas dengan wajah lelahnya, "Ya."
Baekhyun menutup mulutnya dengan ekspresi takjub, "Kau sungguh sangat beruntung Xi Luhan!"
"Apanya?" Tanya Luhan tak mengerti.
"Kau sungguh beruntung menjadi calon pendamping hidup Oh Sehun! si pangeran es kampus kita ini." Jelas Baekhyun.
"Apa dia begitu terkenal?"
Baekhyun memutar bola matanya jengah dengan kepolosan atau mungkin ketidak updatean sepupunya, Baekhyun maklum sih. Luhan kan kuper dikampus.
"Oh Sehun itu salah satu yang paling HOT dikampus Luhan! Banyak gadis yang menyukainya tapi tak ada yang berhasil merebut perhatianya dan KAU! Kau sungguh beruntung! Aku sampai iri!" Jerit Baekhyun heboh membuat beberapa pasang mata menatap mereka aneh.
"Sssttt Baek jangan keras-keras. " desis Luhan tajam membuat Baekhyun membentuk sebuah senyuman minta maaf.
"Maaf.. Aku hanya terlalu senang."
Luhan mengangguk memaklumi walaupun ia mulai kesal dengan percakapan ini. tunggu—jika Baekhyun merupakan salah satu orang paling update yang dikenalnya mungkin saja Baekhyun kenal dengan Kris?
"Kau?" Luhan terlihat ragu sejenak.
Baekhyun menatapnya, "Ya?"
"Kau tau Kris?" Tanya Luhan lagi.
Alis baekhyun bertautan, ekspresinya bingung, "Siapa itu Kris?"
Kali ini gentian Luhan yang bingung, aduh~ sepupunya ini ternyata tidak tau siapa itu Kris. Apa Kris bukan anak kuliahan sepertinya? Padahal Luhan kira jika Sehun mengenal Kris Baekhyun mungkin tau Kris dan Luhan bisa mengorek beberapa informasi di luar tapi ternyata diluar dugaan sepupunya malah tidak tau dan Luhan juga tidak akan memberi tahu.
"Bukan siapa-siapa Luhan."
Baekhyun mendesis, "Aishhh… apa itu nama orang yang diam-diam kau sukai?"
Bola mata rusa Luhan mengerjap, "A-apa?"
Baekhyun menyeringai, "Oh ahahaha~ Apa aku benar?"
"Bukan!" Bantah Luhan mentah-mentah, ia tau Bakhyun hanya sedang menggodanya saja karena sepupunya itu malah terbahak keras.
.
.
.
Jam pulang telah tiba. Luhan bersorak hore dalam hatinya. Ia berjalan riang keluar kelasnya bersama lagi-agi setumpuk buku ditangan. Senyumnya seketika pudar melihat sosok pemuda albino bersandar pada tiang didepan kelas seraya menatapnya angkuh.
"Yo!" sapa Sehun sok akrab.
Luhan mendecih, berniat mengabaikan pemuda tampan berkulit –sangat- putih itu tapi sehun menarik lenganya.
"Kau mau kemana?" Tanya sehun heran.
"Toilet!" Jawab Luhan membuat sehun melepaskan lenganya begitu saja.
Luhan hendak berjalan lagi tapi kemudian ia berbalik menatap sehun yang juga terlihat ingin mengikutinya.
"Kenapa kau mengikutiku?" Tanya Luhan heran.
Sehun memutar bola matanya malas, "Kita kan pulang bersama."
Luhan memutar bola matanya, "Aku bilang tidak perlu. Kenapa kau ngotot sekali sih?"
Sehun berdecak terlihat sama kesalnya dengan Luhan.
"Aku janji tidak akan bilang pada ibumu bahwa kita tidak pulang bersama. Jadi pulanglah, aku akan menelpon supirku." Ujar Luhan lagi.
Sehun menggeleng, "Tidak. aku bilang kita pulang bersama."
Luhan menatap aneh sehun. ada apa denganya? Dan lagi.. Luhan menatap kesekeliling dan mendapati tatapan heran orang-orang disekitarnya. Oh!
Luhan yang menyadari mereka menjadi pusat perhatian lantas berjalan cepat meninggalkan Sehun yang mengekori dibelakangnya sambil berlari kecil,
"Hei! Tunggu aku bambi!" Seru sehun mengejar bambinya.
Keduanya tak menyadari sesosok gadis menatap mereka tidak suka. Tepat kearah Luhan. Seulas seringai licik terukir dibibirnya.
.
.
.
"Kling"
Binyi bell pintu café terbuka. Jongin yang saat itu tengah melayani pelanggan refleks menoleh kearah pintu. Seulas senyum mengembang melihat sang maknae tersayang berjalan memasuki café dan seorang pemuda cantik mengikuti dibelakangnya. Luhan?
Jongin berjalan menghampiri kedua orang yang datang bersama tadi.
"Hi Luhan!" Sapa Jongin ramah.
"Hi." Balas Luhan menuglas senyuman manis.
"Hi maknae!" Sapa Jongin dengan senyum bodohnya –dimata- sehun.
Sehun mendengus, berjalan begitu saja melewati Jongin seolah-olah tidak melihatnya. Luhan hendak berjalan mengikuti si albino itu tapi Jongin mencegahnya.
"Kau mau ikut dia ke ruang ganti?" Tanya Jongin.
Luhan mengerjap, "Apa?" Oh Luhan ingat sekarang bahwa Sehun merupakan pelayan tetap dicafe itu. dan Luhan disana karena ia tadi sempat memaksa sehun membawanya ke café padahal Luhan tau sehun akan bekerja.
"Oh ahaha~ aku hanya.. uhm.." Luhan menggaruk tengkuknya kikuk dengan tatapn Jongin padanya.
"Luhan duduklah aku buatkan kopi ya?" Tawar Jongin yang disambut anggukan Luhan.
"Tapi maaf ya, café sedang penuh dan kami kehabisan kursi. Duduklah didalam, setelah selesai kita ngobrol."
Luhan menatap sekeliling café yang memang terlihat penuh. Maklum saja ini waktu bersantai bagi orang-orang untuk menghabiskan waktunya dengan makan atau ngobrol.
"Ayo ikut aku." Luhan mengangguk patuh mengekori jongin masuk melewati meja-meja pelanggan dan sampailah ia di sebuah ruangan yang cukup hangat dengan perapian dan tembok bata serta lampu temaram yang berpendar cantik. Sungguh! Luhan tak menyangka ada ruangan seperti itu di dalam café.
"Ini ruangan untuk para pegawai istirahat sebenarnya." Jelas Jongin yang melihat Luhan hanya diam saja melihat ruangan itu.
"I-ini ruangan yang indah." Kata Luhan dengan kagum.
Jongin tersenyum membenarkan, "Yak an? Hangat? Ini merupakan spot favoritku dan ibuku."
"Ibumu?" Tanya Luhan cukup terkejut.
"Ya. Beliau kadang mampir kesini. By the way ini café milik ibuku." Jelas Jongin lagi sedangkan Luhan hanya mengangguk-angguk mengerti.
"Luhan duduk saja disana aku akan membuatkanmu kopi sebentar." Ujar Jongin seraya menunjuk sofa disisi ruangan. Luhan mengangguk patuh, ia kemudian duduk manis di sofa hitam itu membiarkan Jongin berlalu entah kemana mungkin dapur.
Sementara menunggu kopinya tiba mata Luhan menatap sekeliling, masih kagum dengan nuansa hangat dari ruangan yang ditempatinya sekarang. Itu bukan tampak seperti ruangan yang digunakan untuk istirahat! Luhan berpikir pasti lebih dari itu. Mata luhan menatap dinding bata dan mendapati banyak bingkai foto dipajang di dinding—foto para karyawan yang pernah bekerja disana. Mata Luhan meneliti satu persatu bingkai foto itu dan menemukan satu foto dengan Kris didalamnya bersama seorang wanita paruh baya sang terlihat sangat ramah wajahnya mirip dengan Kris mungkin itu ibunya Kris? Luhan yakin itu. tapi tunggu—Luhan merasa pernah melihat wanita dalam foto itu? tapi dimana? Otak Luhan bekerja ekstra untuk mengingat dimana ia pernah melihat wanita dalam foto itu. dijalan? Pikir Luhan tapi sepertinya bukan!
Luhan tidak tau.. Luhan tidak ingat…
.
.
.
TBC
.
.
.
