(tulisan bercetak miring dan bold adalah narasi)

Sexy Lu.

MainCast:Luhan(GS), Sehun, Kris

Pairing: Hunhan, Krishan, slight Chanbaek&Kaisoo

Rated: M

Warning: typos, cerita aneh, mature content

GS, DLDR.

enjoy

.

.

Chapter 2

Aku mengangkat sebelah alisku. Menunggu kalimat selanjutnya. Hening diantara kami, namun Sehun masih saja memandangku dengan tatapan intimidasi. Heol, apa yang dia pikirkan? Apa dia sedang menilai penampilanku?

Astaga, memangsih kulitku tidak seputih kulitnya, namun tinggiku tak berbeda jauh dari dia. Aku juga cantik (menurut ku dan beberapa pelanggan). Aksiku di ranjang juga tidak diragukan lagi, mengingat aku termasuk wanita panggilan dengan bayaran tinggi untuk usiaku.

Tiba tiba suara ponsel terdengar. Jelas itu bukan ponselku karena bunyi nya berbeda. Sehun mengerjap ngerjapkan matanya, seolah tersadar oleh suara mengganggu itu. Ia merogoh saku celana dan mengambil ponselnya.

"yeoboseyo?"

"…"

"begitukah?" raut wajahnya berubah sangat serius.

"….."

"baiklah, aku akan kesana" dan panggilan ia matikan. "oke Luhan, kita sambung lagi nanti. Saya ada keperluan mendesak" katanya sambil memasukan kembali ponsel itu kesakunya tanpa memandangku. Aku tak merespon apa apa. Kemudia lelaki putih itu mendongak, menatapku beberapa detik. "sampai bertemu di kampus" katanya. Lalu aku mengantar pria itu sampai pintu.

"terima kasih." Kataku singkat yang dibalas dengan senyuman kecil. Dan laki laki itu pun menghilang dibalik pintu.

Sekarang, aku sudah tau pasti bahwa Tuan Oh sedang mengincarku, untuk suatu hal yang aku tak tau.

ooo

Aku sedang berjalan di lantai tertinggi gedung fakultasku. Siang itu sepi sekali. Mungkin karena kebanyakan mahasiswa sedang ada dikelas dan lantai ini jarang tersentuh. Entahlah, sepertinya mahasiswa kampusku malas menaiki tangga ke lantai tertinggi (kau tak taukan lift butut kampus ku suka rusak tanpa alasan yang jelas) dan beberapa mahasiswa bodoh lainnya menganggap lantai ini angker.

Tapi aku tak perduli. Aku tak takut dengan hantu. Sebenarnya aku juga tak nyaman dengan lantai tinggi ini karena aku benci ketinggian. Hanya saja, suasana disini hening dan aku bisa menyendiri. Terkadang, aku butuh waktu sendiri saat kepalaku penuh dengan pikiran yang membuat otakku serasa ingin meledak.

Baru saja selesai merokok di selasar dekat lab, seseorang menarik lenganku dengan kasar. Aku meronta, tapi gerakannya terlalu cepat. Sepintas aku sepertinya mengenali pria ini. Dengan tergesa, ia membawaku masuk ke lab yang sepi itu dan menutup pintunya.

"YAK!" "ssttt!" kata pria di depanku sambil menaruh jari telunjuknya di depan mulut. Memintaku untuk diam. Aku mendengus. Aku kenal sekali pria gila ini. Junmyeon. Orang terkaya di jurusanku, atau mungkin se universitas? Entahlah, tapi mobil mahalnya yang sering gonta ganti menjelaskan bahwa pria ini pasti lahir dari keluarga konglomerat.

"mau apa kau?" aku melipat tangan di dadaku dan memandangnya malas. "hai Cantik. Kau sendirian?"

"apa aku harus menjawab itu? Kau punya mata kan?" Junmyeon menggeleng gelengkan kepala nya sambil berdecak. "astaga.. kau galak juga ya" ledeknya.

"apa yang kau lakukan. Kau merusak acaraku." Si pria kaya ini menaikan sebelah alisnya dan ikut ikutan melipat tangannya. Menampilkan senyum nya yang menyebalkan.

"aku malah sebenarnya ingin membuat acaramu jauh lebih menyenangkan"

Aku berdecak kesal. Astaga, apa dia selalu bertele tele seperti ini? Sebentar lagi aku ada kelas dan menit menit berhargaku terbuang begitu saja. "cepat katakan apa maumu!"

"baiklah sayang. Begini, pacarku sedang sakit. Sudah lama aku tidak mendapat jatah kau tahu? Dan aku sangaaaat membutuhkan 'itu'" katanya seduktif sambil memilin rambutku dengan sebelah tangannya. Aku mendengus sambil tersenyum remeh.

"dengar ya tuan Kim. Aku tidak akan melayani orang yang sekampus dengan ku, terutama yang sejurusan. Dan kau tau, pantang bagiku melakukan sex dikampus." Kataku penuh penekanan kemudian maju beberapa langkah, sampai aku benar benar berhadapan dengannya. "jadi… bersabarlah" lanjutku dengan senyum menyebalkan dan bersiap meninggalkannya.

Baru selangkah Junmyeon sudah menahan lenganku. "ayolah. Hanya oral sex saja" aku mendengus sambil mencoba melepaskan cengkramannya dilenganku, namun Junmyoen mengeratkan cengkraman itu. Aku mendongak. Emosiku mulai terpancing.

"aku akan membayarmu tinggi" aku terdiam.

"3 kali lipat dari bayaranmu biasanya" lanjutnya lagi, sepertinya ia bisa membaca pikiranku. Hey! Aku bukan gila uang. Tapi jujur saja aku sedang butuh. Apalagi insiden kemarin malam membuatku gagal mendapat bayaran. Cengkramannya mengendur dengan senyuman kemenangan, seolah ia tau bahwa ia berhasil menawar.

"Yasudah!" "yes" gumam Junmyeon dengan cengiran bahagia.

"ingat! Hanya sekali saja! Aku sedang terburu buru!"

"baiklah cantik. Kalau begitu, ayo kita mulai sekarang!" dan bak anak kecil yang sedang kebelet buang air kecil, Junmyeon membuka ikat pinggangnya dan menurunkan celananya sampai lutut, diikuti boxer dan underwear mahalnya sampai aku bisa melihat kejantanannya itu.

"ayo sayang" aku berlutut sambil memutarkan bola mataku malas.

Kemudian aku memasukan batang junior itu ke mulutku, mengulumnya. Mengisapnya dengan kecepatan tertentu. Pelan pelan sambil menjilat pucuk juniornya. Aku mendongak, mengintip ekspresi Junmyeon yang mulai menggeram.

"ah.. terus Lu" katanya sambil terpejam. Aku menjilat nya dari bawah sampai ujung lengkap dengan tatapan seduktif "ah fuck!" kemudian kembali mengulumnya dengan cepat. Terus begitu. Junmyeon menjambak rambutku pelan, aku bisa tau ia sangat menikmati blowjob yang kuberikan.

Dan saat ia mendorong kepalaku agar mengulum lebih dalam, saat itu aku tau dia akan mencapai klimaksnya. Setelah beberapa kali kuluman, Junmyeon menyemburkan spermanya ke mulutku dengan desahan puas.

Aku menelannya lalu segera bangkit. "nikmat sekali sayang." Katanya terengah. Segera aku mengambil tissue di tasku, membersihkan bibirku. "cepat. Mana bayaranku." Kataku sambil memoles lagi lipstick yang memudar sementara Junmyeon sedang sibuk memakai celananya lagi.

Aku menaruh kembali lipstick ku di tas bersamaan dengan Junmyeon yang sudah kembali memakai celananya. Ia merogoh sakunya, mengambil dompet dan memberiku berlembar lembar won. Baguslah, ia menepati janjinya membayarku dengan bayaran tinggi.

"aku pasti akan memintamu lagi Lu. Aku rela membayarmu lebih tinggi. Memang tak salah rumor yang beredar. Teknikmu benar benar hebat!" katanya. Aku mengambil uang itu, memasukannya ke tas. "in your dream baby. Yang tadi itu adalah yang pertama dan terakhir" kataku dengan senyum mengejek dan berjalan keluar Lab.

Namun, betapa kagetnya aku. Baru saja membuka pintu lab dan berbelok selangkah ke kanan, aku mendapati Sehun sedang berdiri menyandar di dinding sambil bersedekap.

"sudah selesai?" tanya nya dingin. Aku diam. "apa maksudmu?"

"sudah selesai dengan urusanmu?"

"aku hanya mengambil sesuatu yang kuperlukan" tepat saat aku menyelesaikan elakanku, Junmyeon keluar sambil mengecek resletingnya. Memastikan benar benar tertutup. Pria itu tersentak begitu mendongak dan mendapati dosennya dan diriku di dekat pintu.

Dengan kikuk pria itu membungkuk dan melangkah pergi. Sehun mendengus remeh lalu menatapku dingin dengan sebelah alis terangkat. "begitukah?" aku diam, tak tau harus berbohong apa. "cepat ke kelas. Aku tak akan mentolerir keterlambatanmu datang ke kelasku" katanya lalu berbalik dan berjalan pergi.

Sial! Benar juga dia. Setelah ini aku ada kelas dengan Sehun. Hari ini akan menjadi hari yang menyebalkan.

ooo

Setelah kejadian itu, tatapan Sehun semakin tajam kearahku. Setiap ada jadwal dengan kelasnya ia akan memperhatikanku dengan tatapan setajam elang yang mencari mangsa. Awalnya tak begitu kupikirkan. Maksudku, aku saja terbiasa dengan pandangan menilai mahasiswa dan mahasiswi kampus ini, kenapa aku harus begitu memperdulikan tatapan Sehun?

Well, mungkin itu disebabkan karena Sehun adalah dosen ku. Dan sialnya aku baru tau dia juga dosen pembimbingku! Baiklah, Tuhan sepertinya sedang mempermainkanku.

.

.

Dan begitulah beberapa hari-hariku terakhir ini.

Saat itu sudah sore. aku baru menyelasaikan kelas terakhir ku dengan si Sehun minim ekspresi. Merasa terlalu banyak minum, aku memutuskan untuk ke toilet sebelum pulang. Rasanya tak lucu jika aku mengompol dijalan.

Baru saja keluar dari bilik kamar mandi, ada sebuah tangan yang menarikku dan mendorongku ke dinding. Aku mendongak. Mendapati tiga gadis gila sedang mengerubungiku. Seulgi, Irene dan Joy. Yeah, primadona kampus yang aku geser pamornya. Hahaha

"otakmu makin tak waras rupanya" kataku santai sambil membetulkan posisiku. Seulgi mendengus. "lihat, siapa orang yang sedang berbicara? Serasa dia punya otak saja" kata Seulgi bossy, diikuti tawa remeh dari Joy dan Irene. Sebenarnya aku heran, kenapa 2 perempuan ini mau mau saja jadi antek dari perempuan sakit jiwa seperti Seulgi.

"dengar ya Luhan. Aku muak dengan dirimu." Desisnya. "apalagi aku saat melihat tampang mu itu." Sahutku tak mau kalah.

Seulgi menggeram kesal, kemudian tanpa aku prediksikan sebuah tamparan melayang ke pipiku.

"YAK!" sebenarnya aku sudah biasa di bully seperti ini, hanya saja aku tidak membalas. Bukannya aku takut, tapi meladeni Seulgi menjatuhkan harga diriku yang sudah rendah ini. Dia bisa melakukan apa saja dengan uangnya. Sedangkan aku? Apa aku harus menyogok dengan mengangkang kan kakiku di depan ketua yayasan Universitas?

"berani berani nya kau bicara padaku!" dia gila atau apa? Jelas jelas dia yang mulai menarikku dan mengajakku bicara duluan. Benar benar perempuan tak punya otak.

Belum sempat berbicara apa apa, Joy sudah menyiramku dengan air bekas pel di ember dekat situ. astaga siapa janitor yang menaruh ember sialan itu disini?!

Dadaku naik turun, nafasku memburu menahan amarah dan rasa dingin yang membalut tubuhku. Sekujur tubuhku basah kuyup dengan air kotor.

"kenapa? Kau jijik? Bagaimana bisa kau jijik sementara dirimu sendiri jauh lebih kotor dari air itu." Katanya sambil terkekeh.

"dengar ya. Jangan menyentuh Junmyeon lagi. dasar wanita rendahan!" Lanjut Seulgi, lalu memberi kode pada 2 antek bodohnya untuk segera pergi. Dan ketiga wanita gila itu beranjak pergi dengan tawa yang kudengar semakin menjauh.

"dasar gila!" desisku. Lihat? Siapa yang rendahan? Apa dia tidak berfikir? Menyukai pria yang bahkan sudah memiliki kekasih dan bahkan tidak meliriknya sama sekali.

Aku memeras sedikit bajuku, berharap tidak begitu basah namun semuanya sia sia.

Dengan langkah besar besar aku keluar dari kamar mandi dan menuruni tangga untuk pulang ke apartemenku. Mengabaikan tatapan meledek orang orang yang memperhatikanku. Beberapa malah menertawaiku kencang kencang.

Aku semakin melangkah terburu. Sesekali aku mencoba memeluk tubuhku, mencoba menahan dingin. Tiba tiba sebuah tangan menarik lenganku saat aku sedang berjalan di koridor yang sepi. Aku sibuk menunduk sampai tak tau Sehun berjalan di belakangku.

Pria itu diam, sambil terus menarikku berjalan ke parkiran belakang, memutar agar menghindari tatapan anak anak yang lain.

"a-" "saya tak mengizinkanmu bersuara. Bicara sepatah kata saja akan saya potong nilaimu"katanya datar sambil tetap menatap lurus kedepan. aku mengernyit heran. Dia gila ya?

"ka-"

"1 poin baru saja hilang dari nilaimu nona Luhan." Oke. Dia benar benar gila.

"YAK!" "2 poin" lanjutnya masih dengan ekspresi yang sama.

Tak lama, kami sampai di parkiran mobil di belakang gedung. Sehun menekan tombol kunci mobilnya dan membuka pintu belakang, mengambil sebuah jaket yang ia taruh di kursi.

"pakai ini! Dan jangan bicara apa apa." Katanya sambil melemparkan jaket itu padaku yang reflek aku tangkap. Takut nilaiku makin habis dipangkas olehnya, aku buru memakai jaket itu. Ia menutup pintu belakang mobilnya.

"masuk kemobil" titahnya sambil berjalan ke pintu kemudi. Aku mendengus sebal dan akhirnya menuruti nya juga. Membuka pintu dan duduk di kursi depan. Sepanjang jalan, tak ada suara yang keluar dari mulut kami.

Pria ini benar benar membuatku bingung.

Dan tak lama, mobilnya sampai juga di apartemenku.

"sudah sampai. Pulang lah dan bersihkan dirimu. Jangan sampai telat untuk kelas besok pagi." Aku bergeming. Menoleh kearahnya dan memandangnya lekat lekat. Sadar sedang diperhatikan, laki laki itu menoleh, masih dengan tatapan datar.

"apa yang kau mau dari ku tuan Oh?" tanya ku. Pria itu masih bertahan dengan ekpresi datarnya. Apa urat urat wajahnya kaku?

"katakan saja." Lanjutku sambil mendekatkan wajahku ke depan wajahnya, pria itu tidak mundur se inci pun, malah ia juga memajukan wajahnya, membuat jarak kami sangat dekat.

"saya ingin….." katanya pelan dengan tatapan penuh arti.

"kau turun dari mobilku sekarang. Kau tau? Bau mu benar benar tidak enak." Lanjutnya penuh penekanan dengan senyum menyebalkan. Aku terdiam. Memproses kata katanya barusan.

Buru buru aku memundurkan kembali badanku dengan gusar. "terima kasih!" semburku lalu membuka pintu dan menutup pintunya keras. Melangkah cepat cepat masuk ke apartemen sebelum ku timpuk muka datar itu dengan sepatuku.

ooo

Sehun segera melajukan mobilnya kembali dengan pikiran yang berkecamuk di benaknya. tatapan nya tajam lurus kedepan seolah menimbang nimbang suatu keputusan. "ini mustahil" batinnya.

.

.

Aku baru saja selesai mandi dan sedang merebahkan diri di atas sofa reyotku. Film yang tersiar di tv kunoku sama sekali tak kuperhatikan. Pikiranku melambung pada seorang dosen kampus yang selalu saja muncul di pikiran, eh maksudku di kampus. Kenapa selalu kebetulan. Apa sih yang pria itu inginkan dariku?

Jika diingat ingat aku tak punya salah dengannya. Ya memang sih, nilaiku tak begitu bagus untuk mata kuliah yang di bimbing. Lalu aku harus bagaimana? Disaat aku mencoba memperhatikannya, Sehun pasti akan membalas tatapanku luar biasa tajam seolah aku baru saja menghancurkan mobilnya.

Pria ini… membuatku penasaran.

Sedang sibuk sibuknya memikirkan Sehun, tiba tiba ponselku berbunyi. Aku meraih benda yang kuletakkan dimeja itu. Ibu menelfon.

"hallo?" kataku sambil duduk

"apa kabar nak?" kata suara disebrang sana dengan Bahasa China. Oh iya, aku lupa, aku bukan orang Korea. Tapi Orang China yang menyasarkan diri ke Seoul.

"baik bu. Ibu sendiri apa kabar? Apakah uang yang aku kirimkan sudah ibu terima"

"sudah Luhan. Terima kasih. Jumlahnya lebih banyak dari biasanya. Apa kau baru naik jabatan?" ah iya, ibuku tak tau pekerjaanku di Korea. Aku bilang padanya aku bekerja paruh waktu di bidang penjualan.

Aku tertawa miris. "ah.. tidak. Bos ku memberikan bonus dari.. hasil penjualanku yang meningkat."

"oh begitu. Syukurlah."

"ada apa bu?" tanya ku begitu aku mendengar ibu menghela nafasnya di sebrang sana.

"Lu… ada sesuatu yang harus ibu ceritakan." Suara ibu berubah pelan.

"ada apa? Katakan saja bu."

"Max berniat menjual rumah ini. Penagih hutang tidak bisa memberikan waktu lebih. Jika kami tak membayar, pria itu akan menjual rumah kita." Ibu menghentikan kata katanya. Bisa kudengar suara nya bergetar menahan tangis.

"ibu sudah meminjam uang kemanapun tapi tak ada yang bersedia. Kau tau kan, utang kita saja belum sepenuhnya kita bayar pada mereka?" dan tangis ibu pecah juga.

"memangnya, berapa lagi yang harus kita bayar bu?"

" 1 juta yuan" aku tersentak. Astaga, aku harus mengangkang berapa kali untuk mendapat uang sebanyak itu?

"dan… kapan jatuh temponya?"

"minggu ini Luhan. Ibu benar benar kebingungan harus mencari dimana lagi. " aku memijit pelipisku. Tak tau harus menyelesaikan masalah ini bagaimana

"baiklah bu, ibu tenang saja. Aku pasti akan mencarikan uang itu" kataku kemudian, mencoba menyembunyikan keputus asaanku dari ibu.

"maafkan ibu Luhan. Ibu benar benar bingung, menjual rumahpun juga sepertinya tak cukup. Ibu benar benar tak berguna. Ibu menyusahkan dirimu."

"sudahlah Bu, tak apa apa. Kalau begitu, aku akan menghubungi ibu lagi. sampai jumpa bu,"

"sampai jumpa luhan, ibu menyayangimu"

Dan panggilan itu diputus. Aku melempar ponsel bututku dengan kesal ke sofa. "dasar pria brengsek!" geramku. Max. ayah tiriku yang pemabuk terus terusan meminjam uang disaat ia saja tidak punya penghasilan

Semntara ibuku yang hanya tukang cuci keliling harus menanggung semuanya.

Awalnya hidupku tak seterpuruk ini. Ayah kandungku meninggal diusiaku yang masih belia. Dan ibu menikah dengan bule keturunan amerika yang sangat baik dan mapan. Semuanya baik baik saja sampai perusahaan Max bangkrut. Pria itu stress dan mulai meneriakku aku dan ibu selama bertahun tahun. Semenjak saat itu kondisi keluargaku mulai jatuh perlahan tapi pasti.

Dan Max semakin gila, tak hanya meneriakkiku dan ibu, dia bahkan mencoba menjamahku. Dan malam itu saat Max di puncak kegilaannya dia hampir memperkosaku dan akhirnya ibu menyuruhku pergi untuk menyelamatkan diri.

Tao, temanku di China mengajakku ke Korea dan bekerja dengannya. Namun sial, harapanku hidup baru di Korea malah berbanding terbalik dengan kenyataannya. Aku dan Tao harus bekerja menjual diri. Miris memang. Kabur dari insiden perkosaan dan berakhir sebagai wanita pemuas.

Namun, aku mencoba menerima itu smeua. Setidaknya aku mendapatkan uang. Dan saat ini, uanglah segalanya.

Aku mengusap wajahku kasar. Mencoba mencari cara.

Dan dengan terpaksa, aku meraih ponselku dan menghubungi seseorang.

"hello sweetheart. Tumben sekali kau menghubungiku. Ada apa?" kata seorang wanita disebrang sana dengan nada manjanya.

"Tao.. aku butuh bantuanmu."

.

.

.

TBC

A/N:

Ga kebayang Luhan blowjob uri Suho. Hahahhaa tenang, mereka bukan pairing disini kok.

Makasih ya yang udah review, follow dan favorite cerita ini.

Aku tunggu terus Reviewnya Chingudeul. Dan jangan lupa cek ff Hunhan ku yang lain, THAT BOSS (ada adegan NC di beberapa chapnya wkkwkw)

Yehet!

-Moza:*