MALAM TANPA AKHIR

CAST : Oh Sehun, Luhan, Park Chanyeol, Do Kyungsoo, Kim Junmyeon, Lay, Kim Jongin, Byun Baekhyun

GENRE : Thriller, Horror, Tragedy, Mistery

RATED : T – M (For Crime Scenes)

AUTHOR : DeerUnicorn

It's Yaoi!

.

.

.

Sebagaimana kelembutan melahirkan kelembutan, kekerasan pun melahirkan kekerasan dan kekejaman melahirkan kekejaman...

.

.

.

26 Desember,

Tujuh hari sebelum ditemukan mayat-mayat itu...

Kantin kampus siang itu tak terlalu ramai. Ada cukup banyak mahasiswa yang tidak masuk kuliah, mungkin masih merayakan natal kemarin. Sehun tampak tengah menikmati makan siangnya di kantin sambil berbincang-bincang serius dengan kekasihnya, Luhan.

"Kau sudah bilang ke ayahmu tentang rencana kita?" tanya Luhan.

"Belum" Jawab Sehun. "Ayahku belum pulang sampai tadi malam. Tapi tidak usah khawatir. Ayahku pasti mengijinkan kita untuk menggunakan villa itu"

Luhan menyendokkan sendokan terakhir nasi goreng kimchinya, kemudian menelannya. "Aku benar-benar tidak sabar ingin menghabiskan malam tahun baru yang lain dari biasanya" katanya kemudian.

"Kau akan mendapatkannya di villa itu, Lu" sahut Sehun. "Di sana suasananya sangat hening dan sepi"

"Juga dingin?"

"Ya, bahkan lebih dingin dibanding awal musim dingin seperti sekarang"

Luhan tersenyum. "Kalau begitu, aku harus bawa selimut dan jaket yang tebal"

Sehun membalas senyum tersebut. "Aku yakin kau tidak akan membutuhkannya"

Saat tangan Sehun nampak menyentuh tangan Luhan, sepasang mata memperhatikan mereka tanpa berkedip.

Sehun dan Luhan tidak menyadarinya..

.

.

.

Beberapa mahasiswa terlihat keluar dari pintu ruang perpustakaan, bertepatan dengan langkah Junmyeon dan Lay yang memasuki pintu utama perpustakaan itu. Setelah mengisi buku tamu, keduanya langsung hilang di antara rak-rak buku tinggi yang berada di sana.

Mereka kini fokus berkutat dengan rak buku-buku sejarah dan biografi tokoh-tokoh dunia. Ada tugas kuliah untuk meresensi kisah sejarah dan biografi tokohnya.

"Lay-ie, siapa yang akan kau resensi?" tanya Junmyeon sambil meneliti judul-judul buku yang berjajar rapi di rak.

"Belum pasti. Mungkin Alexander The Great atau Napoleon. Kau?" Jawab Lay.

Junmyeon mengambil sebuah buku dari rak di hadapannya. "Mahatma Ghandi"

"Kau serius, Myeon?" tanya Lay sambil tersenyum.

"Ya, kenapa tidak?"

"Aku tidak pernah tahu kalau kau tertarik dengan Mahatma Ghandi"

"Aku tidak tertarik dengan ajarannya. Aku tertarik untuk meresensinya" jawab Junmyeon sambil tersenyum lebar,

Lay tertawa. Membayangkan Junmyeon yang suka bertengkar itu membaca ajaran ahimsa milik Mahatma Ghandi benar-benar hal yang konyol.

"Oh iya, Myeonie. Acara tahun baru kita tidak ada perubahan?" tanya Lay kemudian.

"Sepertinya iya" jawab Junmyeon sambil meraih satu buku lagi dari rak. "Teman-teman sudah sepakat untuk liburan malam tahun baru di villa Sehun"

"Sebenarnya aku kurang setuju, Myeon. Aku masih mau merayakan malam tahun baru di sini"

"Kau pasti akan menyukainya kalau kau sudah sampai di sana sayang" potong Junmyeon dengan senyum malaikatnya yang selalu mampu meluluhkan hati pacarnya itu.

Lay pun mengangguk. "Kau yang pasti akan menyukainya!"

Junmyeon tertawa pelan. "Kita akan sama-sama menyukainya sayang, percayalah"

"Kau sudah pernah ke sana, Myeon?"

"Ke mana?"

"Ke villa milik sehun"

"Belum" jawab Junmyeon, "Tapi kata Sehun, daerah tempat villanya itu sangat sejuk dan udaranya masih sangat segar. Di dataran tinggi, kamu tahu sendiri bagaimana murninya udara di sana. Itulah mengapa teman-teman yang lain sepakat untuk pergi ke sana. Sudah waktunya kita menghirup udara yang segar kembali"

"Di sana pasti dingin," kata Lay.

"Dingin, juga hening. Pokoknya jauh berbeda dengan di sini yang bising dan penuh polusi"

Lay seperti akan mengatakan sesuatu ketika tiba-tiba dia mendapati sepasang mata yang tengah memperhatikannya dari balik rak di hadapannya. Dia baru saja mengambil sebuah buku tebal dari rak itu dan dia pun baru menyadari bahwa ternyata ada orang lain yang berada di dekat mereka, di balik rak buku di hadapan mereka...

.

.

.

Di depan sebuah kelas di kampus yang sama, Chanyeol dan Jongin juga tengah berbincang sambil merokok. Dosen yang seharusnya mengajar pada jam itu belum juga datang, dan sepertinya tak akan datang.

"Memang enak jadi dosen," kata Chanyeol sambil menghembuskan asap rokoknya. "Kalau bolos tak perlu takut dengan presensi. Tidak seperti mahasiswa yang selalu diancam dengan presensi setiap kali tak masuk kelas!"

Jongin hanya tersenyum menahan tawanya mendengar komentar Chanyeol. "Kalau ingin menghitung ketidakadilan di kampus ini, kita memiliki setumpuk daftar, Yeol."

Chanyeol masih akan berkata lagi ketika Kyungsoo nampak datang dan mendekati mereka. Kyungsoo adalah salah satu teman mereka yang biasa ikut berkumpul bersama.

"Pak Lee belum datang?" tanya Kyungsoo datar.

"Baru saja sedang kami bicarakan," Kata Jongin. "Pak Lee sepertinya tidak datang hari ini"

"Baguslah"

"Loh? Kenapa malah bagus?" tanya Chanyeol heran.

"Aku belum membuat tugas"

Jongin langsung menepuk dahinya sendiri. "Astaga! Untung kau mengatakannya, Kyung! Aku juga belum membuat tugasnya Pak Lee"

Chanyeol kembali ke topik pembicaraan mereka semula, "Sistem kuliah kita memang brengsek! Dosen-dosen itu dengan mudahnya menyuruh mahasiswa mengerjakan tugas yang banyak, tapi ketika hari H dikumpulkan, dosennya tidak ada"

"Bukankah itu untung?" Sela Jongin.

"Untung untuk mahasiswa seperti kalian yang tidak mengerjakan tugas. Tapi mahasiswa lain sudah merelakan waktunya untuk lembur mengerjakan tugas itu, seperti aku misalnya"

Jongin menyeringai. Chanyeol sepertinya benar-benar antipati dengan kampusnya sendiri. Dan Jongin pun tahu bagaimana mengomporinya agar semakin panas. "Belum lagi dengan registrasi, Yeol..." pancingnya kemudian.

"Nah itu dia!" Chanyeol langsung menangkap pancingan itu. "Mereka menetapkan tanggal yang pasti untuk pembayaran registrasi setiap semester dan tidak mau peduli dengan cara kita membayarnya. Mereka hanya perlu tahu bahwa kita sudah membayarnya dan tidak terlambat walau sedetikpun. Tapi ketika jadwal pembagian nilai ujian keluar, tidak sesuai dengan jadwal"

Jongin tersenyum, sementara Kyungsoo tertawa lalu menepuk bahu Chanyeol. "Punya rokok?"

Chanyeol segera merogoh saku celananya dan menjawab sambil tersenyum, "Punya" lalu diberikannya bungkus rokok itu kepada Kyungsoo yang langsung diterimanya dengan senang. Kyungsoo mengambil sebatang, menyulutnya, lalu mengembalikan bungkus rokok pada Chanyeol.

Kyungsoo nampak menikmati rokoknya, sementara Jongin kemudian berkata, "Yeol, kau sudah tahu rencana malam tahun baru kita?"

Chanyeol juga menyulut rokoknya, kemudian menjawab, "Sudah. Kemarin Sehun sudah memberitahuku"

Kyungsoo lalu menyahut, "Jadi kita..."

Jongin menyela ucapan itu dan berkata, "Iya, jadi kita akan menghabiskan malam tahun baru di villa Sehun"

"Aku harus cepat-cepat mencari gebetan baru" Ucap Chanyeol kemudian seperti merenung.

Jongin langsung menyahut, "Kau itu sebenarnya aktivis kampus atau aktivis asmara, huh?"

Chanyeol hanya tersenyum lebar, "Bayangkan, Jong. Sehun dan Junmyeon pasti akan pergi dengan kekasih mereka. Apa aku harus sendiri sedangkan mereka dengan pasangan masing-masing?"

"Aku juga sendiri, Yeol. Kyungsoo juga"

"Siapa tahu kau juga berduaan dengan Kyungsoo nanti"

"Sialan" rutuk Jongin.

Rencana menikmati malam tahun baru di villa Sehun muncul secara spontan ketika Sehun, Jongin, Chanyeol, Junmyeon dan Kyungsoo tengah minum bir bersama di rumah Sehun beberapa malam yang lalu, saat rumahnya kebetulan sedang sepi. Mereka berbincang semalaman suntuk sambil menikmati minuman yang disediakan oleh Sehun. Hingga kemudian pembicaraan mereka sampai pada rencana untuk menikmati malam tahun baru yang tak lama lagi akan datang.

Biasanya, mereka menikmati malam tahun baru di jalanan, berbaur dengan banyak orang yang juga meikmati malam tahun baru di jalan raya. Junmyeon yang pada awalnya menyatakan kalau dia sudah jenuh dengan acara malam tahun seperti itu, lalu Jonginpun menyatakan pikiran yang sama. Mungkin karena terpengaruh Junmyeon dan Jongin, Chanyeol dan Kyungsoo pun ikut mengatakan kalau mereka juga ingin menikmati malam tahun baru yang lain dari biasanya.

Sampai kemudian Sehun mengusulkan untuk memanfaatkan villa milik keluarganya yang berada di pinggiran Jeonju untuk menikmati malam tahun baru mereka. Selama ini teman-temannya memang sudah tahu perihal villa milik keluarga Sehun, namun sampai waktu itu mereka belum pernah melihatnya. Karenanya, saat usulan Sehun itu diucapkan, teman-temannya pun menyetujuinya. Junmyeon bahkan langsung mengatakan kalai ia akan mengajak kekasihnya untuk ikut.

"Menikmati malam tahun baru di villa tanpa kekasih benar-benar sebuah pengalaman yang bodoh" kata Junmyeon waktu itu.

Begitulah, setelah rencana dimatangkan, dan baik Junmyeon maupun Sehun telah menyatakan rencana itu pada kekasih masing-masing yang tak terlalu mempermasalahkan. Bagi Luhan maupun Lay, menikmati malam tahun baru di manapun tak ada bedanya selama itu masih bersama dengan kekasih mereka. Sementara Chanyeol, sang aktivis kampus dan playboy, mulai menebarkan pandangan sekaligus tebar pesona untuk mulai menjerat mangsa berikutnya untuk ikut menikmati malam tahun baru bersamanya.

.

.

.

Sepulang dari kampus hari itu, Sehun mendapati mobil ayahnya sudah ada dalam garasi. Sudah empat hari ini ayahnya pergi ke Ilsan untuk menangani suatu urusan bisnis. Jadi ayah sudah pulang, batinnya.

Maka begitu masuk ke rumah dan mendapati ayahnya tengah duduk santai sambil membaca koran di ruang tengah, Sehun pun segera mendekatinya. Dia harus secepatnya membicarakan rencana untuk menggunakan villa itu untuk acara tahun baru bersama teman-temannya, sebelum ayahnya pergi lagi untuk waktu yang lama.

"Ayah" sapa Sehun. "Kapan pulang?"

Ayahnya segera menurunkan koran di tangannya dan tersenyum pada putranya. "Baru saja. Kau juga baru pulang kuliah?"

"Iya," sahut Sehun sambil duduk di salah satu sofa di hadapan ayahnya. Setelah menimbang sejenak, Sehun pun segera menyatakan keinginannya, "Yah, saya dan teman-teman memiliki rencana untuk menikmati malam tahun baru di villa kita yang di Jeonju itu..."

"Lalu?"

"Ayah mengijinkan?"

"Tentu saja" jawab ayahnya. "Tapi mungkin keadaannya cukup kotor, Hun. Sudah lama sekali villa itu tidak terpakai dan ayah juga sudah lama tidak ke sana. Kenapa tiba-tiba kamu punya rencana ke villa itu?:

"Saya dan teman-teman hanya ingin menikmati malam tahun baru yang berbeda. Di sana kan hening dan tenang"

"Asal kalian mau membersihkan villa itu, mungkin kalian bisa menikmati malam tahun baru yang menyenangkan di sana"

"Tidak usah khawatir, ayah. Saya bisa menyuruh Kyungsoo untuk membersihkannya"

"Kyungsoo yang penerima beasiswa itu?"

"Iya" jawab Sehun. "Dia selalu mau disuruh mengerjakan apa saja asal ada bayarannya. Dia pasti senang kalau dapat tugas ini"

Ayahnya hanya mengangkat bahu.

"Ayah benar-benar mengijinkan, kan?" tanya Sehun lagi memastikan.

"Tentu saja, asal kalian hati-hati dan tidak membuat ulah di sana"

Sehun tersenyum senang.

Villa milih ayahnya yang berada di Jeonju itu mulanya dimiliki oleh seorang pengusaha handycraft di Busan yang membangun villa itu sebagai tempat berlibur keluarganya. Ayah Sehun yang seorang pengusaha ekspor-impor berhubungan bisnis dengan pengusaha dari Busan itu, dan hubungan itu terjalin sudah cukup lama sampai kemudian terjadi masalah yang gawat menyangkut hubungan bisnis mereka.

Si pengusaha dari Busan terlilit hutang dalam jumlah cukup besar akibat spekulasi bisnis yang terlalu berani, dan hutang-hutang yang menumpuk itu juga terjadi pada hubungan bisnisnya dengan ayah Sehun. Si pengusaha dari Busan itu dituntut oleh banyak orang yang berhubungan bisnis dengannya, dan saat kasus itu sampai di pengadilan, perusahaan milik orang itu pun dinyatakan pailit. Aset perusahaan dan semua kekayaannya disita untuk membayar hutang-hutangnya, dan si pengusaha yang kaya raya itu pun dalam waktu singkat jatuh miskin.

Mungkin karena beratnya menanggung beban dan stres yang berat, si pengusaha itu pun lalu mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri di villanya. Dia menembak kepalanya sendiri dengan sebuah revolver yang entah ia dapat darimana, dan mayatnya baru ditemukan saat juru sita dari pengadilan mendatangi villa itu.

Sialnya, villa itulah yang diputuskan untuk dijadikan sebagai pembayaran hutang si pengusaha terhadap ayah Sehun, yang menerimanya dengan sangat segan. Ayah Sehun tidak membutuhkan villa itu, lagipula kisah bunuh diri dalam villa itu telah membuat seleranya langsung hilang. Jika villa itu tidak diterima, maka sekian ratus juta uangnya hanya akan lenyap. Maka villa itu pun diterima dengan berat hati. Hitung-hitung sebagai investasi, pikirnya waktu itu.

Beberapa waktu kemudian setelah semua surat kepemilikan villa itu telah sah berada di tangannya, ayah Sehun telah mencoba menjual villa itu melalui iklan di koran, bahkan juga telah menghubungi pialang properti untuk menjualnya. Tapi sampai hari ini villa itu tak pernah laku terjual. Mungkin berita bunuh diri yang terjadi di villa itu sudah cukup terkenal sehingga orang-orang menjadi enggan untuk memilikinya.

Dan sekarang Sehun, anaknya, tiba-tiba menginginkan menikmati malam tahun baru di sana bersama teman-temannya. Tak apa-apa, pikirnya. Mungkin villa itu memang sudah harus mulai dinikmati keindahannya.

.

.

.