Sexy Lu.

MainCast:Luhan(GS), Sehun, Kris

Pairing: Hunhan, Krishan, slight Chanbaek&Kaisoo

Rated: M

Warning: typos, cerita aneh, mature content

GS, DLDR.

enjoy

.

.

Chapter 4

Aku masih terdiam. Memproses kata kata Sehun barusan. Aku bukannya sok suci, sudah ku bilangkan kemampuanku di ranjang tak perlu diragukan lagi.

Namun situasi yang kuhadapi sekarang berbeda. Aku saja pantang melakukan sex dengan mahasiswa sekampus, apalagi dengan dosen!. Dan bagi kalian yang belum tau, Sehun adalah dosen pembimbingku.

Kebetulan yang 'hebat' bukan.

"eng.." belum sempat aku bicara, Dengan kasar Sehun memutar balik tubuhku hingga memunggunginya. Badanku hampir oleng tersandung ekor gaun ku sendiri.

"K-kau mau apa?!" namun Sehun tak mendengarkan kata kata ku. Ia malah langsung mencoba membuka resleting belakang gaunku secara paksa.

"fuck!" umpatnya kesal saat resleting tak kunjung terbuka. "Se-" "diam!"

Aku mendengus. Yasudah jika tak mau dibantu. Tapi jangan salahkan aku kalau akan sangat susah membuka gaun ini. Resletingnya kecil, dan Sehun mencoba membuka dengan terburu buru, pasti akan sangat memakan waktu.

Tapi ternyata aku salah, beberapa detik kemudian aku merasa gaunku mengendur dan sedikit melorot hingga payudaraku nyaris terekspos. Aku bisa merasakan hembusan nafas hangat Sehun yang memburu menyapa permukaan kulit punggungku.

Aku diam, menunggu reaksi selanjutnya.

Beberapa menit berlalu dalam diam. Perlahan nafas Sehun mulai melambat dan kembali teratur. Dan tanpa bicara sepatah kata apapun pria itu langsung beranjak pergi menuju sebuah pintu kamar yang kuasumsikan adalah kamarnya.

"ha-hanya itu?" kata ku kelabakan sambil mencoba menoleh, berkutat dengan ekor gaunku yang sekarang sangat menyebalkan. Langkah Sehun terhenti.

Ia membalikan badannya "memangnya kau berharap apa?" Tanya nya dengan smirk menyebalkannya itu sambil melipat tangannya di depan dada. Aku bersumpah, ingin sekali aku menonjok muka stoic nya itu. Aku bukannya mengemis ngemis untuk disentuh. Tapi… bukankah seharusnya ia melakukan 'sesuatu' padaku sekarang? Yah, kalian paham kan?

"bu-bukan apa apa. Omong omong aku tidur dimana? Lalu bagaimana aku ganti baju?! Kau tau kan aku tidak bawa pakaian ganti."

Sehun menatapku datar. "seperti yang kau bisa lihat sendiri. Di apartemen ini hanya ada 1 kamar. Kecuali kau mau tidur di sofa. Dan soal baju ganti….." Sehun menggantungkan kalimatnya sambil menatapku dengan tatapan menilai dari atas-kebawah, bawah-keatas.

"kupikir kau tak membutuhkan itu Nona Luhan." Katanya lalu kembali melangkah ke kamar. Aku mendengus. Apa dia akan membiarkanku telanjang selama 6 bulan begitu?

Masa bodo lah, aku lelah. Aku ingin segera mandi dan tidur. (itupun kalau Sehun mengizinkan aku tidur.)

Aku menyusul ke kamarnya. Saat itu Sehun sedang mandi, aku memutuskan untuk menunggunya dengan gaun melorot.

Sekitar 15 menit aku duduk dikasur, pintu kamar mandi terbuka juga, menampilkan Sehun dengan handuk yang melilit di pinggang menutupi kejantanannya dan handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut. Aku bisa melihat tubuh Sehun dengan otot perut nya yang kencang.

"mandilah, ada handuk baru yang sudah kusiapkan di dalam" kata Sehun sambil berjalan ke walking Closet didekat kamar mandi.

Lama sekali aku mandi. Aku suka saat air hangat dimalam hari mengguyur badanku. Kaca kaca sampai berembun. Sesaat aku bahkan lupa aku sedang ada dimana.

Saat ujung ujung jariku mulai keriput, akhirnya aku menyudahi mandiku, dengan hanya bermodalkan handuk yang melilit didadaku, akupun keluar dari kamar mandi. Saat itu, kamar sudah gelap. Sehun yang kupikir sudah tidur ternyata masih membuka matanya yang sedang sibuk menonton TV sambil tiduran dikasur. Pria itu sudah mengenakan kaus tidur sekarang. Aku bisa melihat Cahaya dari TV menari nari diwajahnya stoicnya itu.

"kupikir kau tertidur dikamar mandi." Sindir Sehun tanpa mengalihkan pandangan dari TV. Aku tak memperdulikan ocehannya.

"itu pakaian tidurmu sementara. Pakailah, kau bisa demam jika tidur dengan handuk basah." Kata Sehun sambil menunjuk meja dengan dagunya saat melihatku duduk dikasur masih dengan handuk yang melilit. Aku menoleh, ada sabuah kemeja tipis tergeletak disana.

Baguslah, setidaknya ia masih memikirkan baju tidurku.

Aku mengambil kemeja yang kebesaran itu. Jelas sekali itu milik Sehun.

Aku melepaskan handukku, tak perduli jika Sehun melihat-Toh juga nanti ia melihat nya kan?-lalu segera mengenakan kemeja tipis itu. Setelah selesai, aku kembali kekasur, merebahkan diriku dengan posisi memunggungi Sehun, lalu menyelimuti selimut tinggi tinggi sampai leher.

Aku lelah. Lagipula sepertinya Sehun tak ada niat melakukan apa apa.

Baru saja mau memejamkan mata bersiap tidur tiba tiba Sehun menyibak selimutku dengan kasar lalu menarikku hingga menghadapnya.

"kau tak benar benar mengira bahwa aku tidak akan mencoba apa yang sudah kubeli kan?" katanya dengan nada dinginnya itu. Belum sempat aku bicara, Sehun sudah mendekat dan mencium bibirku. Lumatannya menuntut. Memaksa. Mendesak. Seolah ia terburu buru dengan waktu (atau terbakar dengan nafsu?) entahlah.

Aku yang tak siap akhirnya hanya kelabakan beberapa detik sampai akhirnya mencoba mengikuti permainan lidah Sehun. Ciumannya panas dan handal. Bukan ciuman basah yang akan meninggalkan liurnya disana sini.

Kepala Sehun kemudian bergerak gerak mencari posisi yang pas, semakin bergerak, bergerak dan akhirnya ia menindihku dengan tangan yang menopang dikanan kiri tubuhku yang sudah terlentang.

Aku mengalungkan tanganku dilehernya. Kepala kami bergerak gerak mencoba mengeksplor mulut lawan masing masing. Dan saat itulah Sehun menggigit bibirku dan melesakan lidahnya masuk kedalam. Mengabsen deretan gigiku dan bertarung lidah seolah ia ingin menguasai mulutku.

Tak puas dengan ciuman, kepala Sehun turun dan mendaratkan lumatan lumatannya di leherku. Aku sedikit merinding saat merasakan nikmatnya ciuman itu dan hembusan nafas hangatnya menyapu kulit leherku. Aku menjambak rambut Sehun pelan untuk memberikan respon padanya bahwa aku menikmati.

Sehun melepaskan ciumannya sebentar lalu membuka kancing kancing kemejaku dan melepasnya begitu saja.

"kalau tau begini, aku tak usah pakai baju" kataku meledek Sehun yang sekarang sedang membuka kausnya sendiri.

"salah sendiri kenapa kau berganti baju didepanku." Katanya lalu melanjutkan Ciumannya ke dada. Ada sedikit perasaan senang saat mengtahui Sehun terangsang melihatku telanjang. Satu desahan keluar dari mulutku saat sebuah kissmark tercipta sempurna di dadaku.

Sehun turun lagi dan akhirnya 'bermain' dengan nipple ku menjilat jilatnya dan mengulumnya seolah akan keluar susu dari sana. Sementara tangannya yang satu lagi memainkan payudaraku dengan lihai.

Lubang V ku yang tak tertutup kain apapun sudah terasa basah. Aku sedikit bergerak tak nyaman. Tanganku yang tadi menjambak rambut Sehun beralih ke celananya dan menyusup masuk kedalam, meraba kejantanannya yang tersembunyi.

Dadaku sempat berdesir saat memegang penis Sehun yang menegang dan ukurannya yang diluar dugaanku. Besar sekali.

Aku bahkan berani bertaruh rasanya akan sakit saat ia memasukiku meskipun aku sudah pernah disetubuhi pria lain berkali kali. Aku tak pernah tidur dengan yang sebesar ini.

Sehun mendongak, menyadari raut wajahku yang sedikit aneh. Ia kemudian tertawa remeh. "mengagumi ukuranku, Nona Luhan?" diledek seperti itu aku jadi malu sendiri. Jika perempuan lain akan merona merah, beda hal nya dengan diriku.

Aku malah membalas ledekannya itu dengan senyum narcistic-ku sambil berkata. "bukankah, kau yang terpesona dengan sikembar sampai tak beranjak dari tadi"

Meledek sekaligus menyindir.

Sehun yang paham kemauanku lalu turun kemudian mengangkang-kan kakiku. Kepalanya ia hadapkan ke vaginaku yang sudah basah.

Dan kemudian pria itu memberikan jilatan sensual yang membuatku meloloskan desahan desahan. Aku bukannya wanita berisik saat diranjang (tergantung sih, bagaimana pelangganku meminta) tapi aslinya, aku tak seberisik itu.

Belum ada yang bisa membuatku mendesah karena tulus mendesah.

Sehun menjilat vaginaku dari klitoris, lubang kenikmatan, bahkan ke selangkangan. Ia juga memberikan kecupan kecupan singkat disana yang membuatku geli sampai aku tersenyum.

Dan saat ia merasa aku sudah semakin basah, jilatannya semakin liar dan ia pun memasukan lidahnya ke dalam lubang. Menyapa gua hangatku yang teriak minta diperhatikan.

Terus saja ia memainkan daging tak bertulangnya itu disana. Ini nikmat.

Ini terlalu nikmat untuk Foreplay. Bagaimana bisa ia sehebat itu dalam licking?

Saat sesuatu dalam diriku mulai sampai pada titiknya, aku ingin mendorong Sehun agar berhenti. Meminta untuk masuk ke langkah selanjutnya.

Namun Sehun menahan ku. Ia masih saja melanjutkan kegiatannya itu seolah menjilati lubangku adalah nafas untuknya.

"Sehun.. aku mau keluar" kataku setengah mendesah. Mendengar itu, Sehun semakin gencar menjilat dan mengeluar masukan lidahnya. Seolah mempersilahkan aku jika memang aku ingin keluar.

Dan benar saja, beberapa detik kemudian, aku merasa sebuah cairan luruh didalam lubangku dan keluar begitu saja.

Sehun menjilatnya lalu menelan. Tak menyisakan apapun kecuali vaginaku yang basah karena liurnya.

"Sekarang giliranmu." Kata Sehun sambil menurunkan celananya, menunjukan penis besarnya yang sudah mengacung. Aku mendudukan diriku. Sehun berlutut diatas kasur, mensejajarkan penisnya dengan wajahku.

Aku meraih batang kejantanannya, mengocoknya pelan. Memberikan jilatan jilatan sensual dari kedua bolanya hingga kepala penisnya itu. Terus saja begitu.

"jangan main main terus" katanya dengan suara Berat. Aku tersenyum licik sebelum akhirnya memasukan penis itu kedalam mulutku. Mengulumnya dengan ritme pelan. Perlahan lahan tapi pasti.

Sesekali aku bahkan menyedot penis itu seolah akan ada sesuatu yang keluar (dan memang akan keluar).

Sehun mendorong kepalaku agar mengulum lebih dalam. Dan aku menuruti meskipun agak sesak karena penisnya sangat besar.

Kuluman perlahan lama lama menjad cepat dan liar, tak hanya mengulum aku juga kembali menjilat, mengocok bahkan memainkan bolanya.

Sehun menggeram, membuatku sedikit tersenyum ditengah tengah kegiatan panas kami.

Terus saja aku seperti itu, kulum kulum, hisap, kocok, kulu klum, hisap, kocok, jilat, kulum.

Sehun bahkan menghentak hentakan pinggulnya mencoba membobol mulutku dengan penis. Jambakannya dirambutku mengeras bersamaan dengan penisnya yang berkedut dan tak lama kemudian, Sehun menyemburkan spermanya ke mulutku, bahkan sampai menetes. Aku menelan cairan asin itu, lalu menjilat beberapa tetes yang ada di dagu hingga tak bersisa.

Dan saat itu juga, Sehun bangkit lalu meraih kaus dan celananya, memakainya kembali lalu merebahkan dirinya disampingku. Bersiap untuk tidur.

Aku sempat diam beberapa detik.

Hanya sampai sini?

Tapi melihat Sehun yang memejamkan matanya, aku menghela nafasku kasar, lalu ikut ikutan mengambil kemeja. Memakainya lalu pergi tidur.

Kupikir kami akan melakukan seks. Bodoh sekali.

ooo

Esok paginya aku terbangun lebih dulu. Perlu beberapa waktu untuk menyadari bahwa aku sedang berada di apartemen Sehun. Ku kerjapkan mataku berkali kali. Ya siapa tau kan, yang semalam hanya mimpi?

Tapi, sosok Sehun yang tidur disampingku seolah menegaskan bahwa ini semua nyata. Seketika kejadian semalam seolah melesak masuk ke benakku. Mulai dari Sehun yang membeliku di acara sialan itu, serangan di kamar mandi oleh orang asing, hingga kegiatan panas yang menggantung.

Tapi jika kupikir pikir… tidak bisa disebut menggantung juga sih. Sehun mencapai klimaksnya. Begitu juga diriku. Astaga, bahkan dengan lidahnya saja aku sudah bisa orgasme!

Mengingat kejadian itu, entah kenapa wajahku terasa menghangat. Ini pasti karena aku malu sudah segitu payahnya. Masa bisa kalah hanya dengan lidah? Aku menepiskan pikiran itu sebelum kejadian kemarin terus terusan menggelayuti benakku.

Aku segera bangun dan mencuci muka serta menggosok gigi. Setelah selesai Aku pergi ke dapur meninggalkan Sehun yang sedang tertidur. Aku lapar. Semoga si dosen irit ekspresi ini punya makanan yang bisa kutelan.

Aku membuka kulkasnya.

Wow.

Kosong.

Dia tidak pernah makan atau bagaimana? Akhirnya aku memutuskan untuk membuat kopi hangat saja.

Aku duduk disofa mewah Sehun dengan secangkir kopi. Uap hangat yang mengepul menari nari di hidungku. Membuat aromanya semakin tercium.

Suasana apartemen sangat sepi meskipun langit pagi sudah cerah. Sebuah keheningan yang nyaman. Ingin sekali aku bisa memiliki apartemen sebagus ini dan hidup dengan tenang (tentu dari hasil pekerjaan yang halal)Aku tersenyum pahit begitu mengingat keinginan barusan. Tapi percayalah, itu hanya satu dari sejuta keinginan bodohku.

Tapi… ada yang aneh dengan Sehun jika dipikir pikir. Kenapa ia bisa selalu muncul? Lalu membayarku mahal mahal tapi hanya untuk foreplay?

Sedang sibuk sibuknya berfikir sambil menikmati kopi, suara ceklikan daun pintu mengalihkan perhatianku. Aku menoleh sepintas.

Itu Sehun.

Ia baru saja keluar dari kamar dengan keadaan khas orang bangun tidur. Rambutnya acak acakan, dengan kaus tidur dan celana boxer. Meskipun baru bangun tidur, aku masih bisa merasakan tatapan dinginnya itu. Aku berdecih lalu kembali meminum kopiku. Astaga, apa pria itu tidak pernah tersenyum? Atau setidaknya tampak bahagia.

"ada apa?" katanya sambil menatapku. Aku tersentak. Memangnya yang barusan tadi terdengar?

"ah tidak. Tidak ada apa apa." Kataku senormal mungkin, lalu kembali meminum kopiku. Sehun masih diam menatapku beberapa detik sampai akhirnya memalingkan wajahnya.

"kau sudah sarapan?" katanya kemudian sambil beranjak ke pantry. Mengambil sebuah gelas lalu menuangkan air mineral ke gelasnya.

"memangnya kau punya makanan yang bisa kumasak."

"aku tidak memasak. Aku selalu memesan makanan." Sahutnya datar lalu menenggak air itu sampai habis. Sehun lalu kembali ke kamar dan tak lama keluar lagi dengan ponsel yang menempel di telinganya.

"kau mau apa?"

"apapun" jawabku datar. Aku benar benar lapar. Sebaiknya Sehun cepat memesan sebelum dia yang akan aku makan. Saat panggilannya terhubung aku bisa mendengar Sehun sedang menyebutkan berbagai macam makanan pada seseorang disebrang sana –yang aku asumsikan adalah pelayan restoran. Ia masih menggunakan nada datar dan dinginnya itu.

Sekarang aku akan menjulukinya sebagai Jack Forst. Dia dingin seperti es. Kulitnya juga putih sekali seperti salju. Aku yakin jika rambutnya berwarna putih dan matanya sedikit besar, ia pasti mirip sekali dengan tokoh kartun itu.

"aku mandi dulu. Tunggu saja, sebentar lagi pesanannya datang." Kata Sehun sambil menutup panggilan lalu menaruh berlembar lembar uang dimeja untuk membayar makanan. Sedetik setelah ia menyelesaikan ucapannya, Sehun sudah balik badan dan masuk ke kamar.

Aku kembali meminum kopi ku yang sudah tidak begitu hangat. Tak lama kemudian, deringan bel terdengar. Ada tamu. Apa itu pengantar makanan? Cepat sekali.

"yaaa sebentar!" aku menaruh kopiku diatas meja, mengambil uang yang Sehun tadi berikan lalu membuka pintu.

Baru saja mau mengambil makanan dan membayar, alih alih pengantar makanan, yang berdiri di pintu malah seorang gadis bule luar biasa cantik. Kecantikannya benar benar menandingiku. Gadis itu tak hanya cantik tapi juga memiliki aura lembut dan elegan terpancar dari dirinya (bukan dari barang seharga selangit yang menempel di tubuhnya.)

Rambutnya panjang dan sedikit berombak diujung. Kulitnya indah sekali, matanya juga bulat, tidak seperti mataku.

Wanita itu mengerjap ngerjap dengan mulut sedikit menganga. Dia kenapa? Aku harus bicara apa? Baru saja mau membuka suara, si bidadari nyasar ini sudah bicara duluan.

"aigooooo~" katanya dengan bahasa korea lengkap dengan logatnya. Tunggu dulu, aku tak salah dengar kan? Dia benar benar bukan orang Korea, kok.

Dia masih menatapku sambil membelalakan matanya yang bulat itu-berbeda dengan milikku yang kecil-lalu tersenyum lebar sekali. dan jika kalian membayangkan sebuah wajah yang menyeramkan, kalian salah. Wanita ini tetap cantik meskipun dengan ekpresi bodohnya itu.

Aku berdehem. Acara saling lihat ini tak bisa diteruskan kan? Dia mau mengajakku adu tatap atau bagaimana?

"hai. Ada yang bisa kubantu?" tanyaku dengan nada sopan. Belum sempat menjawab suara Sehun sudah menginterupsi duluan.

"Monica?" katanya, aku dan wanita ini-yang baru kutau namanya Monica-menoleh kesumber suara. Sehun baru saja mandi. Masih menggunakan Bathrobe sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.

"Sehun." Katanya. Aku menyingkir agar Monica bisa masuk.

"jadi ini alasannya kau mengirimkan SMS padaku malam malam?" kata Monica sambil berjalan kearah Sehun.

"yeah." Sahutnya singkat. Dan sekarang keduanya sedang menatapku. Monica dengan tatapan penuh arti dan Sehun-yah kalian taukan-dengan sorot matanya itu. Handuk kecil yang ia pakai untuk mengeringkan rambut sudah bersandar dengan cantik dibahunya sekarang.

Entah kenapa aku merasa situasinya sedikit canggung sekarang. Apalagi saat Monica menatapku lekat lekat dari ujung rambut keujung kaki.

"kau bertemu dimana?" Tanya Monica si Bule berbahasa Korea sambil melipat tangannya.

"white mask." Monica terkekeh sebentar lalu mengangguk angguk mengerti

"kupikir ta-"suara bel menghentikan kalimat Monica barusan. Wanita itu menatap kearah pintu

"biar aku saja." Sahutku. Tentu saja kau Luhan, kau berdiri tepat di belakang pintu!. Aku membuka pintu dan mendapati si pengantar makanan yang kutunggu tunggu dari tadi baru datang. Pria itu sedikit menatapku dengan pandangan menyebalkan. Ya mau bagaimana lagi, aku hanya memakai kemeja kebesaran Sehun tanpa bawahan sama sekali. sebelum imajinasi pria tua ini semakin tak terkendali, Aku meraih makanan yang ia bawa lalu membayarnya.

Mengucapkan terima kasih lalu segera menutup pintu. Sedetik kemudian aku menyesal karena harus dihadapi oleh situasi canggung lagi.

"kau ingin sarapan bersama?" Tanya Sehun pada Monica begitu aku sedang sibuk menyiapkan sarapan diatas meja.

"ah awalnya kupikir iya, tapi aku ada urusan mendadak. Yeah, kau tau kan" Sehun mengangguk kecil.

"sampaikan salamku untuknya." Sahut Sehun singkat.

"nanti juga ia pasti mencarimu." Kata Monica sambil tersenyum manis. Mereka pun saling mengecup pipi masing masing. Dan si bule itu pun pamit. Sesuatu menangkap perhatianku. Sehun.. tersenyum? Hanya senyuman tipis yang samar. Tetapi tetap saja kan ia tersenyum.

Entah kenapa aku sedikit merasa iri.

Tunggu dulu…..

Kenapa harus iri?

Suara ketukan Heels Monica semakin dekat kearahku. Aku menoleh, wanita itu sedang berdiri di dekatku dengan senyumnya yang cantik-bukan cengiran lebar seperti tadi- lalu berpamitan padaku.

"aku pulang dulu ya…." Katanya sambil menggantungkan kalimatnya. Ah. Iya, ia tak tau namaku.

"Luhan. Aku Xi Luhan." Kataku buru buru sambil tersenyum, berusaha tak kalah manis.

"baiklah. Aku pulang dulu ya, Luhan. Sampai jumpa" katanya lalu pergi dan menghilang dibalik pintu.

Sementara Sehun sepertinya kembali kekamar untuk bersiap memakai baju.

.

.

Kami sarapan dalam diam. Pertama, karena Sehun memang jarang bicara dan aku sangat lapar. Sudah kubilangkan tadi aku kelaparan. Daripada aku membuang buang nafasku untuk bicara pada Sehun yang nantinya hanya menjawab sesingkat mungkin, lebih baik aku memenuhi perutku. Meskipun tak kupungkiri sih, aku masih penasaran siapa wanita tadi.

"apa kau tidak pernah makan?" Tanya Sehun sambil menatap mulutku yang masih sibuk mengunyah. Aku menelan kunyahanku sebelum menjawabnya. "aku lapar. Aku juga lelah." Sahutku singkat lalu kembali melanjutkan makan.

Beberapa menit kemudian, Sehun menyelesaikan sarapannya lebih dulu dariku. Sehun meminum jus nya sampai tegukan terakhir lalu membersihkan mulutnya dengan serbet diatas meja. Ia merogoh sakunya, lalu mengeluarkan dompet kulit berwarna hitam yang aku berani bertaruh harganya pasti sangat mahal.

"ini bayaranmu. aku bukan orang yang lalai dengan janji." Kata Sehun sambil mengeluarkan sebuah cek dari dompet lalu memberikannya padaku. Aku meraih selembar kertas itu, menatap nominal yang tertulis disana. 3 juta yuan tak kurang.

Aku mengerjap ngerjapkan mataku tak percaya. Jadi dia benar benar se-tajir ini?

"dan omong omong ada beberapa peraturan yang harus kau tau selama kau menjadi 'wanita'ku untuk 6 bulan kedepan." kata Sehun kemudian sambil bersedekap. Aku mendongak.

"apa itu?"

"kau tidak boleh dekat dengan pria lain. Kau harus menuruti apapun kemauanku yang artinya jangan mempertanyakan apapun keputusanku atau membantahku. Dan yang terakhir…"

"jangan pernah jatuh hati padaku." Katanya dengan intonasi tajam dan aura posesif yang tiba tiba menyelimuti ruangan. Hening beberapa detik. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu hal dalam diri Sehun yang tersembunyi.

Setelah kembali sadar, aku mendengus remeh."percaya diri sekali kau!"

"baiklah. Ku anggap kau sudah mengerti. Aku berangkat mengajar dulu." Sehun bangkit sambil mengambil tas yang selama ini ia bawa saat mengajar.

"dan satu lagi. Saat dikampus, sebaiknya kita bertingkah seperti dosen dan mahasiswa biasa. Aku tak mau menimbulkan asumsi public yang akan menyudutkan kita berdua." Lanjutnya, aku mengangguk paham. Tak usah disuruh aku juga akan melakukan hal itu!. Sehun lalu pergi meninggalkanku begitu saja.

Aku menatap kembali cek di depanku. Nominalnya jauh lebih banyak dari yang kubutuhkan. Aku bisa membayar hutang hutang lain dan memberikan ibuku hidup yang lebih baik ketimbang bersama si gila Max itu.

Mungkin, tinggal selama 6 bulan bersama Sehun tidak akan begitu buruk. Hanya 6 bulan kan. Ditambah bayarannya sangat mahal.

Tiba tiba aku sadar. Aku tidak memiliki baju. Dan tak mungkin aku kembali ke apartemen bututku dengan kemeja kebesaran ini. Masa iya aku harus pakai gaun lagi?.

Aku kembali ke kamar dan meraih ponselku. Mencoba menghubungi ketiga sahabat bodohku yang mungkin saja bisa membantu mengambilkan baju atau meminjamkan baju mereka. kebetulan ukuran kita nyaris sama semua.

Berkali kali aku menelfon, tapi tak satupun ada yang mengangkat. Tao, Kyungsoo, apalagi Baekhyun. Ponselnya masih tidak aktif. Apa lubangnya nya masih dihajar sampai pagi ini?

"ah sial. Mereka kemana!" sahutku kesal lalu membanting ponsel asal keatas kasur.

Yasudahlah, mau bagaimana lagi. Untung saja hari ini aku tidak ada kelas.

ooo

Seharian di apartemen Sehun benar benar membosankan asal kau tau. Apalagi disaat kau tidak memiliki baju atau kartu aksesnya. Kau tidak bisa keluar kemana mana. Aku sempat curiga, apa Sehun berencana mengurungku. (Dalam artian mengurung yang sebenarnya)

Akhirnya sepanjang hari aku memutuskan untuk membereskan apartemen Sehun yang sebenarnya tidak begitu kotor. Bahkan beberapa tempat terlihat seperti tak pernah tersentuh. Jujur, kupikir dengan apartemen sebesar ini, kurasa Sehun hanya melakukan aktifitasnya di beberapa tempat saja.

Setelah selesai bekerja sebagai bibi dadakan, aku baru sadar aku harus memberikan uang pada ibuku cepat cepat.

Aku meraih ponselku dan mencoba memesan tiket penerbangan ke Beijing besok. Setelah dapat tiket meskipun dengan harga yang cukup mahal, aku menghubungi ibuku. Aku lupa memberi tahunya bahwa aku sudah mendapatkan uang yang ia butuhkan. Ada perasaan lega begitu aku menyadari bisa membantu ibu.

"hallo Luhan?"

"hallo bu. Ibu dimana?"

"ibu baru saja selesai bekerja dan ingin pulang. Ada apa Luhan?" kata Ibu dengan suara lembutnya. Ia tak pernah terdengar mengeluh sedikitpun meskipun aku tau ia sudah muak dengan Max.

"ah. Aku ingin bicara bu."

"apa sebaiknya tidak menunggu ibu dirumah saja?"

"ah jangan… ini hanya sebentar bu."

"oke. Ada apa Lu?"

"bu, besok aku akan ke Beijing. bisakah kita bertemu? Di taman tempat ibu dan…" aku diam sebentar, mengatur nafasku untuk mengatakan kalimat selanjutnya.

"…ayah mengajakku piknik bersama pertama kali?"

Ibu terdiam. "ada apa Luhan…?" lanjut ibu dengan nada khawatir.

"tak apa apa. Aku akan mengabari ibu kapan aku sampai, mungkin siang atau sore hari. Ingat, jangan sampai Max tau."

"Luhan, apa semuanya baik baik saja?"

"iya bu. Semua baik baik saja."

"syukurlah. Baiklah kalau begitu ibu akan menemui mu disana. Ibu rindu sekali padamu Lu."

"aku juga bu. Sekarang pulanglah bu, sebelum semakin malam."

"kalau begitu, Ibu tutup dulu ya. Wo ai ni Lu,"

"wo ai ni, mama"

Panggilan kumatikan. Melihat baterai ponselku yang sudah berwarna merah, aku akhirnya memutuskan untuk men-chargenya dikamar.

Siang berganti sore, sore berganti malam, Sehun tak kunjung pulang. Memangnya pria itu sedang apa sampai belum pulang juga malam malam begini?

Sedang sibuk sibuknya menonton (atau hanya sekedar memandang) TV, tiba tiba pintu apartemen terbuka. Sehun baru saja pulang dengan berkantung kantung belanjaan. Sungguh pemandangan yang membuatku mengernyitkan dahi.

"kau belum tidur?" katanya saat ia mendapatiku masih terjaga di depan TV yang tak terlalu kuperhatikan.

"belum."

"aku bawa makanan. Dan ini pakaian serta segala kebutuhanmu. Kau perlu mengenakan baju besok. Kalau ada yang kurang, nanti kita beli lagi. Tanganku tak cukup jika harus membawa lebih banyak dari ini."kata Sehun sambil menaruh satu persatu kantung belanja diatas meja dan dikursi karena saking banyaknya. "akhirnya kau menyadari juga aku tak punya baju."sahutku sambil terkekeh lalu bangkit dan berjalan kearahnya. Membantu Sehun yang tampaknya sedikit kerepotan oleh belanjaannya yang membludak.

Benar saja, Sehun membelikan banyak sekali peralatan wanita untukku. Mulai dari baju, celana, sepatu, tas, pakaian dalam, aksesoris, peralatan mandi. Pokoknya benar benar banyak dan lengkap. Tak sampai situ, nafasku hampir tercekat begitu membaca merk barang barang yang ia belikan. Mataku tak menangkap satupun brand murahan. Gila! Berapa uang yang ia habiskan untuk ini!

"sebenarnya aku lebih suka kalau kau tidak mengenakan apapun. Tapi karena aku yang menculikmu kemari, aku harus bertanggung jawab kan." Katanya dengan smirk andalannya itu sambil mengeluarkan makan malam dari salah satu kantung.

Aku hanya mendengus lalu tersenyum. Sedikit senang Sehun masih memperhatikan ku.

Oh iya, aku belum memberi tahu Sehun soal rencanaku untuk pergi ke Beijing.

"Sehun?" Sehun yang masih sibuk membereskan makanannya hanya menggumam sebagai jawaban.

"Besok aku izin pergi ke Beijing." Sehun menghentikan gerakannya lalu menoleh kearahku.

"Beijing dimana? Ada urusan apa?" Tanya nya dengan nada dinginnya yang biasa.

"di Haidan. Bukan urusanmu." Sahut ku santai sambil masih merapihkan barang barang belanjaan tadi. Sial, ini terlalu banyak.

"tentu saja urusanku. Aku harus tau kau kemana. Kau sudah mengantongi 3 juta Yuan ku kurang dari 24 jam. Kalau kau pergi begitu saja bagaimana? Aku akan sangat rugi." Kata nya tajam sambil terus memperhatikanku, menunggu jawaban.

Aku mendengus tanpa membalas tatapannya. "bukankah kau sudah rugi? Beli mahal mahal hanya untuk licking". Sehun tak menjawab sindiranku. Pria itu malah melangkahkan kakinya lalu berdiri tepat disampingku. Aku sempat tersentak kaget begitu menyadari Sehun berdiri dengan jarak sedekat ini.

"sudah kukatakan bukan. Jangan pernah membantahku." Desisnya dengan mata setajam elang. Reflek aku menelan ludahku. Aura Sehun yang cuek dan jutek berubah menjadi aura menyeramkan.

"aku ingin bertemu ibuku Sehun." Kataku kemudian dengan nada sedikit melunak.

"harus besok?"

"ya. Karena besok jadwal kelasku hanya 1 dan… memang waktu yang tersisa hanya esok hari."

Sehun mengangguk ngangguk "baiklah aku ikut." Katanya yang lebih terdengar seperti sebuah keputusan Final. Aku ingin menolak sebenarnya. Kenapa ia harus ikut sih. Tapi karena rasa ngeri akan Sehun yang mengamuk dan tiba tiba melemparku dari apartemen, akhirnya aku setuju

Ingat, titah raja Sehun, tak terbantahkan.

"terserah kau saja. Penerbanganku jam 2. Sebaiknya kau cepat memesan tiket sebelum habis. Besok kita pergi ke Haidan park." Kataku kemudian. Setelah selesai mengeluarkan barang belanjaan, dengan susah payah aku membawanya ke kamar.

Menata barang barang itu di walking closet sehun, yang kurasa juga sudah menjadi milikku. Memangnya aku harus menaruhnya dimana lagi. Kamar mandi?

Setelah selesai menata, ponsel yang tadi sedang ku charge, berbunyi. Tao menelfonku. Aku mendengar langkah kaki Sehun yang mendekat. Mungkin ia mau ganti baju? Buru buru aku masuk ke kamar mandi agar obrolanku lebih leluasa.

"hey Lu. Maaf aku tidak sempat memegang ponsel. Kendrick tak melepaskanku sedikit pun hahahaha. Duh selangkanganku sampai sakit. belum pernah aku mendapat lawan seperti dia." Cerocos Tao saat panggilan baru kuangkat dengan suara terkekehnya yang agak menyebalkan.

"Kendrick?" aku mengernyit heran. Siapa Kendrick?

"pria yang membeliku kemarin."

"oh…" aku mengangguk angguk. Si bule itu namanya Kenndrick ternyata.

"ada apa Lu?"

"tidak. Tidak jadi. Aku sudah mendapatkan apa yang kumau." Kau telat Tao, Sehun sudah membelikanku berlusin lusin baju dan peralatan. Jauh lebih baik dari yang kupunya.

"hah?" kata Tao tak mengerti.

"lupakan. Oh iya omong omong… besok aku akan pergi ke Beijing." kataku pelan.

"mau apa kau?!" Bentak Tao seketika. Aku yakin sekali responnya seperti ini. Sejak kepergianku dari Beijing 3 tahun lalu, aku belum kembali lagi kesana. Tao menganggap selagi Max masih hidup disana, selamanya Beijing tak akan aman.

"ya memberikan uangnya pada ibuku tentu saja."

"kenapa tidak kau kirim saja seperti biasa!."

"Sehun memberikanku cek. Akan sangat memakan waktu jika aku harus mencairkannya dulu, memasukan ke rekening lalu mengirimkannya ke ibu. Ada batas limit nya, kau tau. Aku tak bisa melakukannya dalam sekali transaksi. Ditambah aku tidak punya waktu lagi Tao. Jatuh temponya sebentar lagi." Jelasku sejujur jujurnya. Memang itulah alasanku harus kembali –dan karena aku rindu dengan Ibu juga sebanarnya.

" Kau yakin?" suara Tao berubah pelan.

"hmm." Hanya bertemu sebentar, kupikir tidak akan apa apa 'kan?

Tao menghela nafasnya disebrang. "kau harus hati hati disana. Segera pulang jika urusanmu sudah selesai." Lanjutnya kemudian. Persis seperti ibu yang akan melepaskan anaknya. Astaga, aku kan hanya pergi beberapa jam.

"iya Tao. Aku mengerti."

"oke. Kabari aku terus."

"ya yaaa. Sampai jumpa" kabari dia terus? Dia saja sibuk digenjot dari tadi. Baru saja aku mematikan panggilan, Sehun sudah masuk ke kamar mandi dengan tubuh tak terbalut pakaian apapun.

"aku ingin mandi." Katanya singkat.

"baiklah aku keluar dulu." baru selangkah aku pergi, tangan Sehun sudah menahan lenganku.

"tidak perlu." Katanya dengan nada berat yang aku tau mengarah kemana.

Sehun menarikku kebawah pancuran hangat. Dan disanalah aku melakukan kegiatan panas lainnya bersama Sehun.

.

.

Aku keluar dari kamar mandi dan berjalan ke walking closet dengan Bathrobe baru dan handuk kecil yang kugunakan untuk mengeringkan rambut.

Aku memilih milih baju yang tadi dibelikan Sehun. Memangsih harus dicuci dulu, tapi mana perduli. Aku tak punya baju.

Sedang sibuk sibuknya memilih baju, pikiranku melambung ke beberapa menit yang lalu saat aku dan Sehun dibawah pancuran.

Lelaki itu masih bertingkah sama. Bukannya akan melakukan Sex, ia malah bermain dengan jarinya. Tapi aku yakin sekali Sehun menginginkan itu. Aku bisa mendengar gemuruh dadanya saat memeluk pria itu, matanya pun tersirat akan sebuah kelaparan.

Tapi… kenapa?

.

.

Setelah siap, aku dan Sehun makan malam bersama.

"kulihat rumah rapih. Kau yang membereskannya?"

"tentu, siapa lagi. Memangnya jika aku tidak ada, siapa yang membereskan apartemenmu?" tanyaku penasaran. Dia tinggal sendiri kan? Masa iya ia membereskan apartemen sebesar ini.

"bibi. Aku biasanya memanggilnya saat aku sudah pulang. Aku tak percaya meninggalkan orang asing ditempatku saat aku tak ada."

Aku mendengus saat mendengarnya. "lalu kau percaya padaku?" kataku sambil menaikan sebelah alis lengkap dengan sebuah smirk meledek.

Sehun meletakan sendok dan garpunya. Ia melipat tangannya sambil menatapku penuh arti.

"kau menganggap dirimu oang asing, nona Luhan?" Tanya Sehun. Aku yang dibalas seperti itu jadi bingung sendiri.

Hening beberapa menit sampai akhirnya Sehun memberikanku sebuah kartu akses apartemen. Dan bersamaan dengan itu, ia menyudahi makan malamnya. Meninggalkan ku dimeja sendiiran.

ooo

Esok harinya, setelah selesai kelas aku segera bergegas mencari Sehun. Aku lupa meminta nomor ponselnya. Bodoh sekali! bagaimana aku bisa tau dia dimana? Masa aku harus mencari ke seluruh gedung?!

Setelah pergi ke ruang dosen dan bertanya dimana Sehun, aku akhirnya tau sedang mengajar diruangan mana si Jack Forst itu.

Aku segera berlari ke lantai tiga, mengejar waktu yang semakin menipis. Aku mengetuk pintu lalu membukanya pelan pelan. Takut takut, Sehun masih bersama mahasiswanya.

Begitu pintu kubuka, aku bisa melihat Sehun sedang duduk dengan berkas berkas di depannya. Entahlah, mengecek tugas mahasiswa mungkin? Ada 2- 3 mahasiswa di ruangan itu yang sedang bersiap pergi.

"permisi, Tuan Oh?" panggilku

Sehun menoleh. "ya Luhan? Ada apa?". Aku membungkuk sopan lalu masuk ke ruangan. Bersamaan dengan mahasiswa lain yang pamit pulang lalu menghilang dibalik pintu.

"sekarang sudah mau jam 12." Kataku mengingatkan. Bukannya buru buru bersiap, Sehun tetap saja santai melakukan kegiatannya tadi.

"tentu, saya punya jam tangan." Katanya angkuh-masih dengan aktingnya itu meskipun kami sekarang hanya berdua diruangan sepi- lalu mengangkat sebelah tangannya, menunjukan jam tangan mahal sialan yang melingkar di pergelangan tangannya.

Hah? Apa apansih dia. Dia lupa?

"maksudku-" baru saja mau mengingatkan, tiba tiba suara ketukan dipintu menghentikan ucapanku. Pintu itu terbuka dan sesosok wanita yang ku kenal masuk dengan pakaian sexy murahannya.

Irene.

"selamat siang Tuan Oh. Sudah siap makan siang?" katanya dengan suara sok manis dan senyum menyebalkannya itu.

"ah, Irene" kata Sehun. Buru buru ia merapihkan berkas berkasnya, menjejalkan ke dalam tas lalu bangkit.

"Baiklah. Sebaiknya kita pergi sekarang." Kata Sehun. Aku hampir saja menganga tak percaya, namun untung saja mulutku ku tahan rapat rapat.

"saya permisi, nona Luhan." Kata Sehun lalu berjalan pergi menghampiri Irene. Meninggalkanku yang masih terpaku.

Aku bersumpah melihat Irene tersenyum mengejek kearahku saat Sehun sudah berjalan keluar kelas. Lalu ia membalikan badannya dan segera menyusul Sehun.

Dia suka pada Sehun?

Aku mendengus geli. Lucu saja jika dipikir pikir. Seulgi naksir Junmyeon dan pria itu malah mencariku saat kekasihnya tak ada. Irene naksir Sehun, tapi dosen itu malah tinggal seatap denganku.

Tapi mengingat kejadian barusan…. Hatiku aga mencelos. Bukannya Sehun mau pergi ke Beijing? katanya ia akan menemaniku. Tapi malah bersama Irene.

Beijing..

Beijing…

Astaga! Aku harus segera pergi!.

Saat kesadaranku kembali buru buru aku langsung melesat menuju bandara. Untung saja semua keperluanku sudah kubawa.

ooo

Sesampainya di Beijing aku segera menghubungi ibu dan menuju ke Haidian park secepat mungkin.

Akhirnya aku sampai juga ditempat penuh kenangan itu. Aku berjalan di taman dengan banyak pohon. Dadaku berdetak cepat. Rasa tak sabar bertemu ibu dan sedih saat mengingat kembali mendiang ayahku melebur jadi satu. Aku ingat saat itu aku masih kecil. Aku berjalan dituntun oleh ayah dan ibu sambil melompat lompat kegirangan. Ayah sampai kewalahan memegangi tanganku. Sedangkan ibu tertawa tawa bahagia.

Lalu setelah itu kami akan berjalan jalan dan ayah akan membelikanku apapun yang kuinginkan.

Itulah dulu kehidupan keluarga Xi yang bahagia dan makmur. Sebelum ibu dipinang oleh kolega kepercayaan ayah, Max. yang ujung ujungnya seperti ini.

Aku berhenti disebuah bangku taman. Dulu disini, aku dan kedua orang tua ku duduk menikmati angin musim panas sambil memakan es krim kesukaanku.

Beberapa menit aku bernostalgia sampai sebuah suara yang kukenal menyapa telingaku.

"Luhan?" kata suara itu. Aku menoleh. Itu ibu, dengan wajah letihnya dan pakaian lusuh sedang berjalan menghampiriku.

"ibu." Kataku sambil bangkit dan segera memeluk ibu. Badannya kurus sekali. aku bisa merasakan tulang nya dibalik baju tipis itu.

"Luhan… astaga ibu rindu sekali padamu nak. Kau baik baik saja?" Tanya ibu sambil terisak tanpa melepaskan pelukannya. "aku juga rindu padamu bu. Aku baik baik saja" jawabku mencoba tak menitikkan air mata setetespun. Aku harus terlihat kuat. Namun tetap saja, satu liquid berhasil lolos dari mataku.

"kenapa kau kemari, bagaimana kalau Max menemukanmu?" kata ibu mulai khawatir, pelukan kami terlepas. Aku menghapus airmataku buru buru.

"ayo, kita duduk dulu bu." Aku mengajak ibu duduk dibangku tadi. Hanya kurang sosok ayah. Yang tentu saja tidak akan kembali duduk disitu.

Aku membuka tas selempangku lalu mengambil sebuah amplop coklat kecil berisi cek dari Sehun.

"ini untuk ibu." Kataku sambil menyerahkan amplop itu. Ibu meraihnya dengan tatapan heran. Betapa kagetnya ibu saat membuka amplop dan menemukan cek dengan nominal 3x lipat dari angka yang ia butuhkan.

"astaga Luhan dari mana uang ini?" kata Ibu kaget begitu menatap Cek itu lekat lekat.

"kau mencuri? Apa yang kau lakukan?" ibu terus saja menyerangku dengan pertanyaan bertubi tubi. Rautnya yang kupikir akan senang malah terlihat bingung dan ketakutan. Ia berkali kali membaca cek itu dengan seksama.

"Luhan, kau baik baik saja kan di Korea?dan siapa Oh Sehun? Kau.. tidak melakukan yang tidak tidak kan?" Kata ibu akhirnya. Aku sempat tersentak. Sedikit miris mendengar pertanyaan ibu barusan.

"bu… aku bekerja sangat bagus sampai sampai bosku percaya untuk meminjamkan uangnya. Lagipula tak sepenuhnya di cek itu uang pinjaman. Disitu juga ada bonus bonusku selama ini yang belum kuambil." Ibu.. maaf harus berbohong padamu.

"benarkah?"

"iya ibu. Percayalah padaku." Kataku sambil menggenggam tangan Ibu. Ibu terdiam lalu mengulas senyum yang cantik meskipun tak muda lagi.

"astaga Luhan, terima kasih.. maafkan ibu menyusahkanmu. Terima kasih nak." Aku mengangguk sambil mengusap bahu ibu, menenangkannya agar tak kembali menangis.

"tapi kenapa jumlahnya sangat banyak?"

"bu.. sisa dari hutang Max, ibu gunakan juga untuk membayar hutang hutang yang lain ya? Ibu juga harus membeli tempat tinggal baru dan membangun usaha dengan modal dari situ. Aku harap uangnya cukup."

Mata ibu kembali berkaca kaca.

"Luhan, kau memang anak baik." Katanya. Melihat ibu seperti itu, aku jadi ingi menangis. sebelum aku ikut meneteskan air mata, aku menolehkan pandanganku kepada pemandangan di depan. Lalu menghirup banyak banyak udara nya yang khas.

"disini indah ya bu, aku jadi rindu ayah." Satu kalimat itu lolos begitu saja dari mulutku.

"iya nak. Sudah lama juga ibu tak kemari." Sahut ibu sambil ikut menatap pohon pohon didepan.

"ceraikan saja Max bu. Pergilah darinya. Hidup ibu akan jauh lebih baik tanpanya." Kataku serius sekali sambil menatap ibu penuh harap. Ibu kembali memandangku, lalu menghela nafasnya.

"kau tau kan ibu sudah ingin melakukannya tapi tak bisa." Aku tertunduk. Aku tau sekali. Max akan berusaha membunuh ku atau ibu jika ibu berani meninggalkannya. Hampir terjadi beberapa tahun lalu. Kalu bukan karena ibu yang menahan Max dan Tao yang menyelamatkan ku dari amukan itu, aku pasti tak ada disini.

"ibu juga tak bisa membeli rumah baru dan semacamnya. Karena kau tau, Max akan curiga."

"ibu akan menyimpan uang ini, dan terus bekerja sampai saat yang tepat." Lanjut ibu dengan senyum tegarnya yang selalu ia tunjukan.

"aku menyayangimu bu. Ibu bersabarlah. Akan kupikirkan caranya agar hidup kita membaik." Kataku sambil memeluk ibu lagi.

Beberapa menit, pelukan itu pun akhirnya terlepas meskipun aku dan ibu masih tak rela. "ibu harus pergi Luhan. Setelah ini ibu harus kembali bekerja." Ibu menatapku sedih, rasa rindu, menyesal namun terpaksa terlihat dari sorot matanya. Aku mengangguk mengerti

"baiklah. Kita akan bertemu lagi bu. Dan suatu saat aku akan membawa ibu pergi dari Max."

"sampai jumpa Luhan, ibu sangat menyayangimu. Jaga dirimu disana." Dan ibu pun bangkit berdiri. Mengecup kedua pipiku lalu mulai berjalan meninggalkan ku yang masih memandangnya lekat lekat.

Punggung ibu lama kelamaan tampak mengecil sampai akhirnya menghilang dibelokan.

Aku menghela nafasku. Penerbanganku ke Korea masih lama, lebih baik aku berjalan jalan sebentar.

.

.

Aku sampai di sudut taman yang sepi. Sedang asik asiknya berjalan menikmati hembusan angin sore di Haidian park, tiba tiba ada suara pria yang sepertinya ku kenal sedang memanggil diriku.

"Luhan?"

Aku menoleh, melihat seorang pria tua dengan rambut hingga kumisnya yang beruban sedang menatapku.

Sial, dia satu dari sekian banyak orang yang dihutangi Max. "Suatu kebetulan kita bertemu disini." Katanya sambil menghampiri ku dengan tatapan lapar yang sangat terasa.

"Tuan Fang." Sapaku datar. Mencoba senormal mungkin.

"ah.. kau sudah bertemu ayahmu? Katakan padanya untuk membayar hutang."

"oh, mengenai itu, aku yakin uangmu akan dibayar secepatnya."

"begitukah. Kau yakin sekali?" kata tuan Fang penuh selidik sambil menaikan sebelah alisnya. Aku mengangguk singkat, sambil menunjukan raut wajah cuek seperti biasa

"apa kau baru saja bertemu dengan ayahmu sampai seyakin itu?" aku menggeleng

"atau ibumu?" lanjut Tuan fang masih dengan tatapannya itu. Aku sedikit tersentak sepersekian detik. Buru buru aku menguasai diriku lagi.

"tidak. Aku kesini karena ada pekerjaan." Kataku kemudian. Tidak boleh ada yang tau Ibu baru bertemu denganku. Jika iya, itu bisa sampai ketelinga Max dan ibu akan kena akibatnya. Bagaimana jika Max merampas uang yang kuberi untuk ibu?

"begitu ya?" katanya seolah tak percaya. Aku mengangguk mantap. Percakapan ini harus segera dihentikan. Sempat aku menyesal kenapa harus berlama lama di Haidian park.

"yasudah kalau begitu, aku pulang dulu. Tuan Fang, aku pamit." Kataku sambil membungkuk.

Baru saja aku membalikan badanku untuk melangkah pergi, Tuan Fang menahan lenganku dengan tangan menjijikannya itu.

"tunggu dulu…" aku menoleh dengan tatapan tak suka. Mau apa dia?!

"sebenarnya ayahmu memberikan penawaran lain yang bisa meringankan hutangnya."

Alisku bertautan. Jangan bilang….

"ya, kau tau, Kita lihat bagaimana aksimu diranjang. Jika bisa membuatku terpukau, akan kuanggap setengah dari hutang ayahmu 300 ribu yuan itu Lunas. Jika tidak… aku bisa memotongnya sekitar 50 sampai 100 ribu. Lumayan kan?" katanya sambil menyeringai dengan tatapan mesum seolah menelanjangiku. Demi tuhan aku bahkan sempat melihat ia menjilat bibir bawahnya beberapa kali.

Aku mendengus. Apa katanya? Sehun membayarku berkali kali lipat dan bahkan pria itu jauh lebih tampan ketimbang pria tua ini. Mau mencoba menantangku? Bisa berdiri saja penisnya, sudah sukur.

"lepaskan tanganku." Desisku tajam sambil mencoba melepaskan cengkraman keparatnya ini.

"lalu kau mau apa? Teriak? Sepi sekali disini." Kata tuan Fang sambil mengeratkan pegangannya.

"lepaskan." Aku semakin berusaha melepaskan tanganku tapi tetap saja sia sia.

"ayo ikut aku." Kata pria itu kemudian menyeretku pergi.

"le-" baru saja dua langkah, sebuah suara lain terdengar dibelakangku.

"dia bilang, lepaskan." Kata suara itu, suara yang ku kenal dengan bahasa China yang fasih. Aku menoleh. Mendapati Sehun berdiri dengan tatapan datar dan satu tangan ia masukan ke saku.

"siapa kau?." Tanya tuan Fang. Kesal ada yang mengganggu acaranya.

"kau tak berhak tau namaku." Kata Sehun singkat.

"sombong sekali dirimu" dan detik berikutnya, tuan Fang sudah melepaskan tanganku dan melangkah kearah Sehun, melayangkan tinjunya yang dengan mudah bisa ditangkis oleh si Jack Forst. Tak tanggung tanggung Sehun melayangkan pukulannya yang mengenai rahang si brengsek Fang dengan telak. Membuatnya terhuyung.

Sebelum Fang tua mendongak, Sehun sudah menghantam ulu hatinya sampai pria itu jatuh tersungkur. Sehun bersiap memukul lagi tapi matanya menangkap beberapa orang sedang berjalan kearah mereka.

"kuanggap kau beruntung kali ini." Kata Sehun datar lalu menarikku segera pergi darisana.

.

.

"kenapa kau bisa diisini?" tanyaku heran saat kami sedang berjalan tergesa meninggalkan tempat itu.

"sudah kubilangkan, aku tak pernah lalai dengan janji."

"kita mau kemana?"

"pulang." Sahut Sehun singkat. Kami sudah ada di pinggir jalan dan bersiap memberhentikan taksi.

"tapi aku membeli tiker penerbangan untuk nanti malam." Kataku mengingatkan bersamaan dengan sebuah taksi yang berhenti di depan kami. Aku dan Sehun masuk kedalam.

"siapa bilang kau butuh tiket." Kata Sehun dengan smirk andalannya lalu meminta sang supir mengantarkan kami ke bandara. Tak perduli dengan diriku yang semakin mengernyit tak mengerti.

Sesampainya di bandara dan mengurus ini itu, aku sampai di lapangan terbang. Aku dan Sehun masuk ke sebuah mobil hitam yang tampaknya sedang menunggu kami dari tadi.

Aku celingak celinguk kebingungan sementara Sehun sedang sibuk dengan ponselnya, entah melakukan apa.

Mobil kami terus melaju sampai akhirnya berhenti di sebuah pesawat jet putih dengan inisial "O.S" di ekor pesawat. Para crew yang menyambut kami tersenyum sambil membungkuk hormat.

Aku sampai takjub begitu melihat interior private jet yang mewah ini. Well,aku memang orang berkecukupan dulu, tapi tak sampai memiliki private jet seperti ini.

"i-ini… milikmu?" tayaku kebingungan sambil duduk dikursi penumpang yang mewah.

"tentu saja." Sahut Sehun sambil tersenyum kecil.

Aku menyipitkan mataku. Semua ini… aneh.

"seorang dosen memiliki private jet dan tinggal di apartemen mewah?" tanyaku penuh selidik. Sehun menatapku dengan muka stoicnya.

Semua ini semakin aneh. Apartemen mewah, barang barang mahal, uang berlimpah, private jet. Terdengar tak rasional untuk seukuran dosen sepertinya. Ditambah Sehun masih sangat muda. Aku memajukan badanku kearah Sehun yang duduk disebrang

"sebenarnya… siapa dirimu Oh Sehun?"

.

.

.

TBC

A/N:

Hai, aku minta maaf karena telat update.

Jadi kemarin aku disibukan sama dinas dan tugas kantor yang menggunung. Lalu pas balik dinas…..

Aku sakit. huhuhu. Harus hospitalized beberapa hari makanya ga sempet megang laptop. Ini baru mendingan. Tadinya aku mau update 2 chap sekaligus tapi ga sempet karena masih belum totally recover T^T

Tapi tenanggg minggu ini katanya udah sembuh, dan aku bisa update cepet. Yeayyy.

Untuk beberapa Chingu yang nanya di review kemarin,aku mau jelasin sedikit. Yesh, Xiumin ga GS. Cuma beberapa cast aja yang GS.

Dan yang nyerang Luhan itu Kris. Karena disini, Tao ga Ship sama si naga itu.

Dan soal Chap ini,

kenapa adegannya ga hot? Karena mereka ga (atau belum) ada perasaan satu sama lain. Tapi pelan pelan semakin memanashhh.

Siapa Monica? Itu cast tambahan aja kok, sama kaya Kenndrick dan Max.

Apa hubungannya Monica sama Sehun? Siapa Sehun kok bisa muncul dimanapun dan duitnya banyak banget? Waktu itu Sehun mau ngomong apa?

Tenang tenang. Di 2 chap selanjutnya dijelasin lengkap dengan adegan ranjang yang beneran sex (iye. Disodok pake itu) antara Hunhan. *spoiler dikit*

Ada alasan khusus kenapa Sehun belum sex sama luhan,yang nantinya akan dijelasin.

Sekali lagi, jangan lupa Reviewnya ya Chingudeul.

Hehehe, yang follow dan Fav jangan lupa ninggalin jejak,

Gomawo :*

-Moza