Sexy Lu.
MainCast:Luhan(GS), Sehun, Kris
Pairing: Hunhan, Krishan, slight Chanbaek&Kaisoo
Rated: M
Warning: typos, cerita aneh, mature content
GS, DLDR.
enjoy
.
.
Chapter 5
Sehun menatapku dengan tatapan tenangnya itu. Sementara aku menunggu si albino ini membuka suaranya. Aku penasaran sekali. coba saja kalian pikirkan, memangnya berapa gaji dosen sampai dia bisa memiliki private jet?
Melihat ekpresiku-yang sepertinya tampak jelek-Sehun langsung mendengus geli. "kau belum berhak tau." jelasnya singkat dan padat. Pria itu juga tampak tak mau membahas masalah ini lebih lanjut.
Astaga, hampir saja aku melempar tasku ke muka menyebalkannya itu. apa salahnya hanya menjawab pertanyaanku? Sehun menjentikkan jarinya dan seorang crew pesawat datang menghampiri kami. Pria itu berbisik dan aku tak bisa mendengar ucapannya.
Aku masih memmperhatikan gerak gerik Sehun, tak berkedip sedikitpun. Tampaknya Sehun menyadari itu, dia langsung menoleh dan menaikan sebelah alisnya. Memandangku bingung.
"ada apa?"
"kau mencurigakan." Desisku tajam, mencoba mendominasi Sehun-meskipun aku tau tak berhasil.
"sekarang malah kau yang tampak mencurigakan" katanya lalu tersenyum remeh. Tak lama seorang crew menghampriiku dan memberiku sebuah kotak berwarna tembaga elegan lengkap dengan pita.
"apa ini?"
"buka saja" aku membuka kotak itu dan mengambil isinya. Sebuah gaun semi formal berwarna biru yang cantik. "ini untuk apa?" tanyaku heran masih memandang gaun selembut sutra itu.
"kita akan makan malam dengan seseorang hari ini" kata Sehun santai. aku mendongak. Bertemu seseorang? Apa dia sangat penting sampai sehun membelikanku gaun-yang aku yakin harganya mahal.
"siapa?"
"nanti kau juga tau."
"matikan ponselmu, kita akan lepas landas sekarang." Lanjut sehun sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya. Aku menurut, ikut mengeluarkan ponsel dari sakuku dan mengaktifkan mode pesawat.
.
Kami sudah diatas awan sekarang, tapi Sehun masih diam saja. Ia malah sibuk dengan buku tebal ditangannya. Aku memandangi pria yang sedang sibuk itu dengan tatapan lekat lekat. Sepintas, Sehun terlihat seperti pria kalem berhati baik. Apalagi dengan kacamata bacanya, sikap duduk yang tenang dan buku yang sedari tadi dia baca, Sehun tampak sangat.. er.. tampan?
Tampan dan hening. Seperti lautan tak beriak yang memicu rasa penasaran siapapun wanita yang memandangnya, tak terkecuali aku.
Dan memang tak bisa dipungkiri, tingkah Sehun sangat aneh. Aku semakin yakin ada sebuah hal besar yang disembunyikan dibalik ketenangannya itu.
"kenapa kau bisa ada Beijing? kebetulan sekali kau bisa menemukanku?" kataku memecah keheningan. Lidah ku sudah gatal juga gara gara dari tadi kita hanya diam.
"kau lupa? Kau yang memberi tahuku kita mau kemana? Dan sebenarnya aku sudah mencari carimu di taman itu. makanya aku bertemu denganmu saat senja." Jelas Sehun tanpa membalas tatapanku. Ia malah sibuk membolak balik halaman Buku yang ia baca. Bahkan intonasinya tadi seolah kesal karena aku mengganggu acara membacanya.
"aku tak tau kau akan kesini. Bukannya kau ada urusan dengan Irene?" awalnya kupikir suara ku akan terdengar biasa, tapi sialnya setelah kelimat itu keluar dari mulutku, nadanya lebih terdengar seperti orang merajuk. Dan kupikir hanya aku yang menyadari itu, tapi Sehun si dosen kurang ekspesi ini tampaknya juga menyadari nya. Ia yang dari tadi sibuk baca langsung mendongak. Menatapku beberapa detik dalam diam, sementara aku hanya membatu.
Sehun melepas kacamata bacanya dan semakin menatapku penuh selidik "kau cemburu?" tanya Sehun dengan smirk sialannya itu. Aku kelabakan.
"ya- yang benar saja. Kau sendiiri yang memintaku untuk tak menaruh perasaan padamu." Dan hanya itu lah kalimat yang berhasil keluar dari mulutku. Aku benci jika diriku sudah tergagap seperti ini. Sehun masih melihatku dengan smirk andalannya yang sangat kubenci. ingatkan aku lagi kalau aku sedang ada dipesawatnya sekarang, jika tidak sudah kulayangkan heels ku ke wajahnya.
"baguslah." Sahutnya santai lalu mulai memakai kembali kacamatanya dan melanjutkan membaca. Aku baru sadar pria itu belum menjawab pertanyaanku soal Irene.
Hey, tapi seharusnya aku tidak memusingkan itu kan? Maksudku, buat apa? Heol, memangnya aku cemburu? Tidak mungkin!
.
.
Disaat pesawat sebentar lagi mendarat, Sehun memintaku untuk berganti baju dan bersiap. Awalnya aku sangsi apa gaun ini muat. Tapi.. yeah, Sehun berhasil lagi. Tak hanya berhasil memberikan baju yang cocok denganku, sekarang ia berhasil membelikanku sebuah gaun cantik yang sangat pas. Aku curiga.. bagaimana ia bisa tau sedetail ini tentang wanita?
Singkatnya, aku dan Sehun pun tiba disebuah hotel mewah. Kami naik lift ke lantai paling atas, dimana terdapat sebuah restoran mewah dengan pemandangan memukau. Aku tak begitu menykainya sebenarnya, aku benci ketinggian.
Namun,aku bisa apa?
Suasana restoran itu tak ramai dan tidak sepi. Indah sekali dengan diiringi lagu romantic yang mengalun. Kami berjalan menuju sebuah meja di dekat jendela, terlihat seorang pria dengan wanita yang ku kenal. Monica, si bule ke korea koreaan. Keduanya tampak sedang sibuk berbincang diselingi senyum dan tawa kecil yang manis.
Monica menoleh saat kami tinggal beberapa langkah lagi dari mejanya. Disusul oleh pria yang sedang bersamanya tadi.
"ah, Luhan… kita bertemu lagi." Katanya sambil memelukku. Aku membalas pelukannya meskipun agak canggung, wanita ini ramah sekali. kelewat ramah malah sebenarnya.
Monica beralih untuk mengecup pipi kanan kiri Sehun seperti biasa.
"kenalkan ini Seokjin, sepupuku dan kekasih Monica" kata Sehun padaku setelah acara cipika cipiki nya selesai. Aku menoleh, menatap pria asing yang berdiri di samping Monica sedang menatapku.
"woahhh." Katanya pelan, namun aku masih bisa menangkapnya dari gerakan bibir tebal pria itu. Seokjin memandangi ku dengan tatapan takjub selama beberapa detik. Aku jadi salah tingkah sendiri.
"ah. Aku Kim seokjin, sepupu Sehun." Kata nya sambil membungkuk sopan.
"selamat malam tuan Kim" kataku sambil membalas bungkukkan nya. "aku Xi Luhan-" kata kataku menggantung, bingung mau melanjutkan apa. Aku siapa nya Sehun? Seokjin diam, menunggu kelanjutan kalimatku dengan senyumnya yang ramah.
"senang bertemu denganmu" akhirnya, hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.
" senang bertemu dengan mu juga Luhan, duduk lah." Kami berempat pun duduk. Mengelilingi meja bundar penuh dengan makanan yang sepertinya sudah disiapkan khusus untuk kami. Aku sangsi, apa Seokjin benar benar sepupu Sehun? Dia ramah sekali. Berbanding terbalik dengan saudara irit ekspresi nya ini.
"jadi, kalian baru tiba dari China?" tanya Seokjin membuka percakapan
"ya begitulah." Sehun menjawab sekenanya sambil meminum whine digelas tinggi dengan gaya khas anak bangsawan.
"ada urusan apa disana?" reflek aku melirik Sehun. Penasaran alasan apa yang akan ia sebutkan nanti. Tidak mungkin kan, dia menjawab "menghajar pria tua di Taman"?
"menemani Luhan." Jawab Sehun masih dengan nada datarnya.
"hmm begitu. Omong omong, kalian bertemu dimana?" sekarang giliran aku yang ditanya Seokjin
"eh?" astaga, apa pria ini selalu ingin tahu? Aku menatap Sehun, meminta bantuannya dalam menjawab pertanyaan Seokjin. Tapi pria sialan itu hanya bersikap acuh sambil meminum whine nya kembali dengan tenang. Seolah tak mau ikut campur dengan pertanyaan yang dilontarkan Seokjin.
"white mask Jinnie." Kata Monica menengahi. Sepertinya ia bisa membaca wajahku yang kebingungan. Aku hanya tersenyum kikuk, sementara Seokjin sudah tersenyum lebar sekarang.
"woah.. kalau begitu secara tak langsung aku mencomblangkan kalian." Aku mengernyitkan dahiku, kebingungan. Maksudnya apa?
"Seokjin adalah pemiliki hotel tempat white mask diadakan kemarin." Jelas Sehun. Aku mengangguk mengerti. Dengan begitu, kusimpulkan Seokjin bibir tebal ini sudah tau aku siapa. Maksudku hubunganku dengan Sehun.
"kau beruntung Luhan, bersama Sehun. Dia sangat perhatian." Kata Monica sambil melirik Sehun dengan senyum mengejeknya.
"benarkah?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku. Maksudku, ayolah, Sehun merupakan sosok perhatian sangat tidak masuk akal di otakku. Monica mengangguk semangat.
"dia sampai mengirim pesan padaku malam malam untuk minta bantuan mencari pakaian yang pas untukmu. Mengingat ia menculikmu dengan paksa kan dari acara itu." Lanjutnya sambil tertawa pelan.
"Sehun dan gairahnya." Celetuk Seokjin sambil tersenyum meledek, lalu meminum minumannya. Sementara Sehun yang menjadi tokoh utama perbincangan malam ini hanya mendengus lalu tersenyum miring.
Tampak seperti sudah terbiasa dengan kelakuan sepupu dan pacar bule nya itu.
Aku menatap Sehun dengan tatapan menyelidik dan senyum penuh keingin tahuan. Sehun yang menyadari itu menoleh padaku. Seolah mengerti pertanyaan yang berputar diotakku dan rasa penasaranku yang semakin kuat.
"banyak hal yang kau tak tau tentangku Luhan." Kata nya singkat.
"yup. Dan perlahan kau akan mengetahui semuanya. Dan jika saat itu tiba, sebaiknya kau persiapkan dirimu." Imbuh Seokjin dengan senyuman misterius. Sementara Monica hanya terkekeh.
Bagus. Sekarang aku tak hanya penasaran dengan Sehun.
Tapi juga ketiganya.
Apa sih yang mereka mau dariku?
ooo
Aku tak tau bagaiamana waktu bisa berjalan secepat ini. Sudah terhitung 2 minggu aku tinggal dengan Sehun. Tapi tetap saja rasanya canggung. Bahkan Sehun jarang sekali pulang ke apartemen. Aku malah merasa sebenarnya aku hanya tinggal di apartemen berbeda. Karna toh ujung ujungnya aku hanya akan bertemu Sehun di kampus atau tengah malam saat dia pulang.
Setelah mandi, ia akan naik keatas kasur dan tidur. Tanpa menyentuhku sedikit pun. Aku merasa diabaikan sebenarnya. Tapi, aku mau menuntut apa? Sudah bagus Sehun membayar ku lunas diawal. Tentu terserah dia kan mau melakukan appaun padaku?
Ah iya, ngomong ngomong uang tabunganku hampir menipis. Pertama, karena semua uang bayaran dari Sehun sudah kuberikan pada ibuku. Kedua, aku sudah tidak kerja dari desahan pria lagi, kan kalian tau aturan Sehun bagaiamana.
Sekarang, aku harus bekerja dan memenuhi kebutuhanku. Ya, memangsih, Sehun masih menanggung kebutuhan sehari hariku seperti makan dan lain lain. Tapi aku masih memilikiapartemen yang harus kubayar sewanya. Begitu juga dengan biaya kuliah.
omong omong soal kuliah, jika kau tanya hari hariku bagaimana, aku akan menjawab dengan satu kata: menyebalkan.
Entah karena aku yang sedang sensitive atau memang suasana kuliah menjadi lebih menyebalkan dari sebelumnya. Irene, semakin berulah.
Aku sudah muak dengan kepala geng mereka yang gila itu-Seulgi-sekarang malah si Irene bodoh ini ikut ikutan. Aku tinggal menunggu saja si aneh Joy mencari cari alasan untuk menindasku makin jauh.
Aku sering sekali melihat Irene-dengan gaya genit menjijikannya-akan datang pada Sehun, meminta bantuan pelajaran atau konsultasi nilai. Entahlah aku tak paham. Tapi yang jelas sikap Sehun pada Irene berbeda dengan sikapnya padaku.
Memang sih, ia masih dengan aura dingin tanpa ekspresinya, tapi ia tak pernah menyemprotkan kalimat tajam atau memandang Irene dengan tatapan dingin seperti ia memandangku.
Sehun maish tetap cuek. Namun tak sedingin jika ia bersamaku. Dan aku benci itu.
Entah karena apa.
.
.
"lihat! baguskan!" Suara nyaring Baekhyun menghiasi suasana Coffee shop pagi ini. Sekarang, kami berempat sedang mengadakan pertemuan dadakan 'wanita panggilan'. Setelah acara white mask, entah kemana para pria bajingan itu menculik teman temanku, karena akhirnya mereka susah sekali diajak bertemu. Sangat sibuk. Entah memang sibuk atau mereka tak sempat bangun dari ranjang karena terus diserang.
Intinya, baru sekarang kami bisa bertemu. Di sebuah kedai kopi sudut jalan. Kedai mungil yang nyaman tempat kami biasa bercerita-yang hampir semuanya tentang sex dan uang-.
"woaaa. Indah sekali." Kata Tao sambil menatap gelang berlian yang melingkar di tangan Baekhyun yang sedang ia pamerkan.
"dasar norak! Begitu saja kau bahagia!" sindir Kyungsoo sambil menyuap kue tiramissu nya.
"biar saja." Sahut Baekhyun acuh sambil terus memperlihatkan gelang indah itu.
"tapi baguslah dia memperlakukanmu dengan baik. Kupikir dia langsung menendangmu begitu menyadari dada ratamu itu." Lanjut Kyungsoo. Meskipun saling berkritik pedas, sudah aku bilang kan mereka bersahabat.
"bercermin lah sebelum bicara!." Semprot Baekhyun kesal.
"memangnya kalau kau sendiri bagaimana?" lanjut gadis sipit itu dengan nada menantang. Kyungsoo mendongak. Menyeruput sekali kopinya sebelum membuka suara.
"yah.. aku baru kembali dari liburan ku di Jepang. Lusa kami akan pergi lagi ke Hawaii. Menyenangkan bukan?"
"kalian speerti pasangan bulan madu saja." Kata Tao sambil terkekeh.
"omong kosong apa itu." Tandas Kyungsoo cepat, lalu kembali memotong kue lembek di piringnya.
"kau tau bagaimana akhir nasib wanita panggilan seperti kita kan? Tak akan ada pernikahan atau kehidupan percintaan serius." Kata nya penuh penekanan dengan tatapan serius dari mata bulatnya itu.
"yeah." Sahut Baekhyun sedikit tertunduk lesu. Kyungsoo mengedikkan kepalanya seolah berkata "ayolah Baek", dan Baekhyun akhirnya tersenyum kecil.
Kita semua tau soal itu. Makanya, kami tidak pernah membahas yang menyinggung kearah sana. Karena saat kau masuk ke lingkaran setan sebagai wanita panggilan seperti ini. Kau pasti sudah paham sekali jika banyak mimpi yang tak bisa kau raih.
Bahkan untuk membayangkan saja, itu terlalu muluk.
Suasana hening beberapa detik sampai akhirnya Kyungsoo membuka Suara.
"pria mu bagaimana Tao?"
"yah.. Kenndrick orangnya cukup tertutup dan tak begitu romantis, namun ia sangat memanjakanku dengan memberikan fasilitas yang hebat." Jelas Tao sambil nyengir Senang. Kyungsoo yang posisi duduknya langsung mengarah ke Jendela, bisa melihat limosin mewah lengkap dengan supir yang memakai seragam. Limosin yang mengantarkan Tao tadi.
"ah.. aku bisa lihat itu." Kata Kyungsoo mengangguk angguk.
Tao tertawa pelan. "walaupun begitu aku senang sih, karena kalau soal urusan ranjang Kenddrick sangat luar biasa." Ketiganya terkekeh sementara aku hanya diam. Tampaknya kehidupan sex ketiga temanku baik baik saja. Aku jadi sedikit... iri?
"hey Lu. Kau kenapa diam saja?" suara Baekhyun menginterupsi lamunanku. Aku yang dari tadi sibuk berfikir tentang sex life ku dan Sehun serta segudang keanehan pria albino itu, jadi tidak enak sendiri.
"ah.. ti-tidak, tidak ada apa apa." Kataku lalu meneguk Ice Cappucino ku, mencoba mengusir pikiran menyebalkan yang dari tadi berputar dikepala.
"bagaimana soal pasanganmu? Siapa namanya? Sehun ya?" Sekarang giliran Tao yang menatapku dengan tatapan penasaran.
"tidak bagaimana mana."
"kau benar dibayar lunas diawal?" tanya Kyungsoo memastikan. Tampaknya ia sedikit kaget, terlihat dari mata bulatnya yang semakin membulat sempurna. Aku hanya mengangguk
"lalu soal urusan ranjang bagaimana?" sialan juga pertanyaan Baekhyun. Oh kawan.. aku pun juga mempertanyakan hal yang sama.
"ah… soal itu…"
"kenapa? Kau malu? Waaah sehebat itukah dia?" Bagus sekali Tao, sahabat bodohku ini malah salah mengartikan. Aku menghela nafas sebelum menjawab rentetan pertanyaan mereka. Risih juga lama lama jika diperhatikan dengan tatapan penasaran seperti itu.
"malah kami belum sampai situ."
"Hah?! Kau Yakin?!"
"Benarkah?!"
"Bagaimana mungkin?!"
Suara tak percaya ketiganya bersahut sahutan ditelingaku, wajah mereka yang tadinya penasaran sekarang berubah menjadi ekspresi kaget tidak percaya. Wajar sih, siapa yang mampu menolak pesona ku diranjang? Mereka tau itu.
Lalu tiba tiba ada pria kaya yang membeliku dan tak menyentuhku. Tentu saja mereka kaget.
"apa dia gay?" tanya Baekhyun menerka nerka.
"tidak. Aku bisa jamin itu. Terlihat kok saat aku mem-blowjob- miliknya" kataku meyakinkan.
"mungkin kau kurang menggodanya." Imbuh Kyungsoo. Aku mendelik tak suka kearahnya. Ayolah, harus berapa kali aku jelaskan pada kalian soal pesonaku?
Kyungsoo yang kutatap seperti itu, jadi kikuk sendiri. "maksudku, kau tidak membuatnya terangsang. Kau kurang memancarkan pesona jalang menyebalkanmu itu!" lanjut Kyungsoo.
"tidak mungkin." Aku menggeleng pasti. Rasanya tidak mungkin.
"lalu menurutmu apa alasannya?"
"entahlah aku tidak tau" kataku pelan sambil mengaduk cappucino ku dengan malas.
"sweetheart, kurasa seharusnya kau harus melakukan sesuatu." Kata Tao sambil melipat tangannya lengkap dengan senyum nakal yang terbentuk dari bibir kucingnya itu.
"apa itu?" Tao menyeruput kopinya sebentar lalu kemudian membuka suara.
Menyarankan sebuah ide yang patut aku coba.
.
.
Setelah pembicaraan dengan ketiga temanku, sejujurnya tak banyak membantu menyelesaikan masalahku saat ini. Jujur saja, bukannya aku mau menjadi teman yang tak tau diuntung, tapi saran dari Tao, aku sangsi bisa berhasil pada Sehun atau tidak.
Ditambah dengan pikiranku yang lain seperti pekerjaan.
Ah iya, omong omong aku sudah diterima bekerja paruh waktu di sebuah bar dekat apartemenku yang lama. Yah. Memang sih tak jauh jauh dari kehidupan malam. Tapi setidaknya aku bukan bekerja dari desahan mereka.
Sebenarnya aku juga tidak mau mengambil pekerjaan ini, namun aku membutuhkan uangnya. Dan hanya di bar ini yang dapat mempekerjakan aku lebih cepat.
Semua pikiran menganggu ini akhirnya membuatku sering termenung di kelas. Aku bukan tipikal orang yang overthinking atas sesuatu. Aku cenderung seperti wanita yang masa bodoh.
Tapi jujur saja, aku penasaran dengan situas sialan ini.
Situasi dimana aku tidak mengerti apapun. Terlebih tentang pria menyebalkan yang bernama Oh Sehun.
.
.
Siang itu seperti biasa aku duduk di paling pojok ruangan kelas Sehun. Semua mahasiswa tampak sibuk mencatat, memperhatikan, pura pura memperhatikan. Sementara mahasiswi yang lain dan khususnya Irene (iya aku sekelas dengan pecundang itu) akan bertingkah genit. Seperti duduk dengan posisi mencolok, tersenyum centil, sengaja memainkan rambut, tebar pesona, Melontarkan pertanyaan yang tidak perlu untuk menarik perhatian dan masih banyak lagi.
Sementara aku? Aku memperhatikan kok. Memperhatikan mata tajam Sehun yang akan berubah sedikit melunak saat memandang muridnya yang lain.
Lalu akan kembali dingin saat melirik kearahku.
.
Kelas sudah berakhir. Hanya ada aku, Irene dan beberapa mahasiswi kecentilan lain yang masih menetap di ruangan itu.
Aku sebenarnya mau pergi, hanya saja aku masih belum selesai mencatat dan ada yang ingin aku bicarakan dengan Sehun.
Harus saat ini karena kami tidak memiliki nomor ponsel satu sama lain untuk saling menghubungi. Hebat bukan?
Aku hanya ingin ia pulang lebih cepat. Dengan begitu aku bisa berduaan dengannya dan mencoba saran dari Tao.
Sehun masih sibuk dengan berkas berkas dimejanya. Wajahnya tampak lebih tegas dengan raut serius seperti itu. Tak sengaja aku mendapati Irene yang sedang memperhatikanku dari sebrang ruangan. Matanya tampak tak suka.
Aku membalas tatapannya dengan tatapan polos yang menyebalkan. Membuatnya mendengus geli lalu memalingkan wajahnya sambil mengibaskan rambut panjangnya yang halus. Melihat itu tanganku gatal sekali, ingin menjambak rambut blonde nya itu.
Irene merapikan asal buku buku nya, lalu berjalan manja kearah Sehun.
"Tuan Oh?"
"hm? Ada apa nona Bae?" kata Sehun tanpa melihat Irene. Ia masih sibuk membaca berkas berkas di depannya. Irene yang sepertinya menyadari aku perhatikan, malah dengan senagaja membungkuk kearah Sehun dan membisikan sesuatu.
Aku bisa melihat Sehun yang sedikit kaget dengan posisi Irene yang terlalu dekat. Lalu pria itu menguasai dirinya dan tampak mendengarkan apapun yang sedang dibisikkan Irene dengan tenang.
"baiklah. Pergilah lebih dulu. Aku akan menyusulmu kesana." Kata Sehun setelah Ratu kecentilan itu kembali menegakkan badannya. Irene membungkuk manja lalu segera berjalan keluar kelas dengan langkah yang terlihat dibuat buat.
Tak lama setelah Irene menghilang dibalik pintu, Sehun bangkit dari mejanya. Buru buru aku mengambil tasku dan menghampirinya sebelum pria itu menghilang lagi.
"Se-Sehun!" Sehun yang sudah berjalan beberapa langkah menghentikan langkahnya lalu membalikkan badan dan menatapku dengan tatapan dingin penuh arti.
Oh iya, kita masih berada di kampus.
"ma-maksudku Tuan Oh."
"ada apa Nona Xi? Mengejutkan sekali. Aku pikir kau menjadi bisu mengingat sepanjang hari dikelasku kau hanya diam saja." Sindirnya.
"aku ingin bicara."
"kita memang sedang bicara."
"bukan begitu. A-"
"Tuan Oh?" baru saja mau membuka mulut, Irene sudah menginterupsi ku lagi. Sehun menoleh, mendapati Irene yang sedang berjalan kearah kami.
"kupikir kau sudah pergi lebih dulu nona Bae?" tanya Sehun datar(namun tidak sedingin saat dia bersamaku.)
"ma-maaf ada yang tertinggal di mejaku." Kata Irene sambil berlagak ke mejanya. Aku yakin sekali Irene hanya alasan saja untuk menunggu Sehun.
Sehun menatapku, menunggu aku melanjutkan pembicaraan barusan. Namun mengingat hubunganku dan Sehun harus dirahasiakan, ditambah adanya Irene yang aku yakin sekali akan menguping, niat ku menguap begitu saja.
"tidak jadi. Lupakan saja." Kataku cepat sambil bergegas pergi meninggalkan ruang kelas.
Meninggalkan Sehun dan Irene berdua
ooo
aku memperhatikan asap rokok yang terhembus dari mulutku. Lama kelamaan asap itu melambung, memudar dan kemudian menghilang. Aku tak ingat bagaimana pertama kali aku merokok. Dulu, aku hanya anak gadis baik baik yang manis.
Namun disaat aku menjadi wanita panggilan seperti ini, segala gaya hidupku pun berubah. Aku tak menyalahkan Tao yang memperkenalkanku kedalam dunia gelap. Karena toh awalnya, aku yang meminta sendiri, karena hanya ini pilihanku saat itu. Dan aku juga yakin, Tao tak menginginkan hidup seperti ini juga.
Kehidupan dengan Sehun beberapa akhir ini bisa dibilang seperti situasi baru dalam hidupku yang sebelumnya selalu monoton. Hanya berkutat dengan sex, dunia malam, hinaan, makian.
Datar. Aku bahkan nyaris apatis dengan lingkunganku yang lain karena aku sudah tak perduli tentang apapun. Namun Sehun datang dengan segudang misterinya yang membuatku penasaran.
Membuatku tertantang untuk mengetahui tentangnya lebih dalam. Untuk pertama kali, aku tertarik dengan partner sex ku.
Aku yakin aku hanya penasaran. Dan hubunganku dengan Sehun akan berakhir dan kembali normal seperti dosen dan Mahasiswi setelah 6 bulan kontrakku habis. Lalu, hidupku pun akan kembali monoton.
Oleh sebab itu, Tuhan, biarkan aku menikmati 6 bulan ini sebelum waktu penuh tantangan ini berakhir.
.
.
Cukup lama aku merokok di lantai atas gedung fakultas yang sering aku singgahi jika sedang ingin sendirian. Aku sudah kembali ke fakultasku dan bersiap menuju kelas berikutnya sampai saat aku tiba diruangan kelas, dan semuanya masih sepi. Hanya ada 3 mahasiswi yang paling aku tidak ingin temui di dunia. Irene, Seulgi dan Joy.
Aku menaikkan sebelah alisku, menatap aneh ke tiga wanita gila yang seharusnya tidak ada disini. 15 menit lagi kelas dimulai dan mereka tidak ada jadwal untuk kelas ini. Sebaiknya mereka pergi sebelum murid murid dan dosen datang. Atau sebelum aku lempar wajah mereka dengan meja.
Hari ini aku sedang malas berdebat dengan ketiga nenek sihir itu. Aku memutuskan mengacuhkan mereka dan berjalan santai menuju meja paling pojok atas. Jauh jauh dari trio sakit jiwa yang masih memandangku nyalang.
Baru selangkah dua langkah, Irene sudah berjalan cepat kearahku.
"kau ini benar benar tidak tau diri ya!" hardiknya. Ia menahan lenganku, memaksaku untuk diam ditempat.
"aku tak menyangka kau lebih rendah dari yang kupikir." Katanya lagi. Aku memutar bola mataku malas. "masuk akal. Mengingat kau sama sekali tidak bisa berfikir."
PLAK!
Sebuah tamparan melayang ke wajahku "jaga mulut hina mu itu!" suara tinggi Irene dan tawa mengejek Seulgi dan Joy terngiang ditelingaku. Aku bisa merasakan rasa anyir darah dari sudut bibir ku yang robek. Kuat juga tenaga wanita sinting ini. Cukup sudah. Aku sedang tidak dalam mood meladeni otak cetek mereka.
"apa lagi sih mau kalian?! Dengar ya, aku muak menghadapi muka jelek dan tolol kalian itu. Daripada mengangguku, sebaiknya benahi dulu penampilan atau kemampuan ranjang kalian. Jika sudah, baru temui aku lagi." Bentakku. Mengabaikan rasa ngilu disudut bibir saat aku berbicara.
Baru ingin kembali melangkah, tangan kurus Irene menyengkram lenganku kemudian mendorongku begitu saja
"DASAR WANITA JALANG! TIDAK PUNYA OTAK!" raungnya.
Bug! Brak! Bug!
"BERAPA BANYAK PRIA LAGI YANG KAU BUTUHKAN UNTUK MEMASUKIMU? APA SEMUA PRIA DI KAMPUS INI TAK CUKUP EOH?!"
Beberapa buah buku menghantam badanku yang masih tersungkur. Reflek hanya erangan kesakitan yang keluar dari mulutku. Irene masih melempariku dengan buku buku entah darimana, aku bahkan tak memiliki waktu untuk bangkit karena irene terus saja menyambit-ku sambil melangkah semakin mendekat. Alhasil, hanya tangan lah satu satunya pertahanan yang aku punya.
"Joohyun-ah. Aku rasa kau sedikit berlebihan" cicit Joy takut takut sambil menyebut nama asli Irene. "DIAM JOY!"
"SI PELACUR INI HARUS DIBERI PELAJARAN! MEMANGNYA KAU PIKIR AKU TIDAK TAU KALAU KAU SELAMA INI MEMPERHATIKAN TUAN OH! MENJIJIKAN!" kata Irene terus meraung kearahku, setelah buku buku habis, ia memukuliku dengan tas selempang mahalnya yang bermaterial kulit.
"Joohyun-ah.. hentikan.. bagaimana jika ada yang lihat" sekarang, Seulgi ikut ikutan membuka suara. Separah itukah kelihatannya sampai Seulgi dan Joy meminta Irene berhenti memukulku? Apa semenyedihkan itu?
Jangan kalian kira aku diam saja, aku sedang berusaha bangkit dari amukannya. Rambut berantakan yang menutupi wajah dan penglihatanku, heels dan rok span yang kukenakan tampaknya membuat aku kesusahan untuk berdiri. Ingat, tanganku harus tetap terus menutupi wajahku, jika tidak, aku bisa pastikan, wajahku akan babak belur.
"JANGAN MULAI SEULGI!"
"tapi ini masih dikampus Irene. Kau bisa kena hukuman"
"AKU TAK PERDULI!"
Nah, disaat kedua wanita gila ini sedang sibuk cekcok, aku memutuskan untuk bangkit berdiri. Sialnya, Irene menyadari itu dan dengan sigap ia melempar sebuah benda keras entah apa itu, tepat ke wajahku. Membuat darah menetes dari hidungku.
"JANGAN KIRA AKU SUDAH SELESAI DENGANMU JALANG!"
Aku bisa mendengar langkah Irene yang mendekat kearahku.
"Jika kau sangat membutuhkan uang, ambil ini! Dan jangan dekati Oh Sehun lagi!" kata Irene sambil melempar setumpuk uang yang kemudian berjatuhan kearahku.
Setelah puas, Irene keluar dengan langkah gusar diikuti Joy dan Seulgi yang sedikit terburu.
Meninggalkanku sendirian dengan kondisi berantakan. Buku dimana mana, uang berserakan dan darah yang terus menetes.
Dadaku naik turun. Menahan emosi yang nyaris meledak. Mataku panas, air mataku sudah mengambang di pelupuk mata, siap jatuh kepipiku. Entah air mata karena sedih atau rasa sakit disekujur badan dan wajah.
Sebelum para mahaiswa dan mahasiswi lain datang kemari dan menemukanku, aku segera bangkit dan berjalan tergesa. Bahkan berlari.
Menuju apartemen lamaku.
ooo
aku sudah mengganti bajuku dengan kaus tipis kebesaran yang memperlihatkan bra ku samar samar serta celana pendek jeans butut yang biasa kujadikan seragam baju rumahanku. Mimisanku sudah berhenti meskipun membuat hidungku merah sekali
saat sedang ingin membuat kopi sambil mengompres bengkak disudut bibirku karena tamparan Irene tadi, tiba tiba aku mendengar sebuah ketukan dari pintu apartemenku. Beberapa kali aku diamkan saampai ketukan ketiga,
aku langsung membuka pintu begitu saja, aku yakin itu hanya tukang susu yang mau menagih bayaran susu mingguan.
Ternyata aku salah besar.
Itu adalah Sehun, sedang berdiri dengan tangan disaku lengkap tatapan dinginnya yang lurus ke depan.
"mau apa kau kemari." Kataku heran (nyaris ketus). Aku menggeser badanku, mempersiapkan Sehun masuk ke dalam.
"sudah aku duga kau disini." Kata Sehun santai lalu duduk diatas sofa. Sementara aku kembali ke Pantry dan melanjutkan acara membuat kopiku yang tertunda.
"mau kopi?"
"boleh."
Apartemenku tidak besar, pantry dan tempat Sehun duduk tidak berjauhan. Jadi kami tak perlu berteriak teriak untuk berbicara satu sama lain.
"omong omong, bukankah kau seharusnya bersama Irene?" kesal sebenarnya saat menyebut nama Irene, tapi aku penasaran juga. Terakhir, harusnya kan Irene bersama Sehun. Bukannya bersamaku lengkap dengan setumpuk buku yang melayang disana sini.
Tapi aku mencoba tenang sambil terus fokus dengan 2 cangkir kopi di depanku.
"irene?" ulang Sehun.
"sejak kapan kau perduli padanya?"
Aku mendengus. "tidak. Aku perduli padanya? Lebih baik kau bunuh saja aku." Kataku serius sambil tertawa remeh. kami masih berbicara dengan posisi saling memunggungi. Sehun yang sibuk dengan TV( yang aku yakin tak benar benar ditonton olehnya) dan aku yang sibuk menunggu air panas untuk kopi.
"irene meminta kelas tambahan. Sejak sebelum hari kepergian kita ke China. Bagaimanapun juga dia muridku. Makanya aku setuju. Lagipula jika dipikir pikir, itu pilihan terbaik kalau tidak dia akan membuntutiku dan aku sangat jengah dengan itu."
"lalu. Apa kau sudah menyelesaikan urusanmu itu?" tanyaku sambil menuang air panas kedalam cangkir, kemudian mengaduknya. Membuat aroma kopi menguar memenuhi ruangan.
"ku batalkan. Aku ada perlu denganmu. Makanya aku mencarimu."
"mencariku?" aku mengernyit heran.
"yah.. aku mencarimu." Tak ada suara lagi dari aku ataupun Sehun. Yang ada hanya suara dentingan Sendok beradu dengan Cangkir.
Setelah selesai mengaduk, aku membawa kedua cangkir itu ke meja di depan Sehun.
"apa yang terjadi denganmu?" tanya nya saat aku membungkuk, menaruh Cangkir kopi di dekatnya. Aku menoleh, menatap Sehun yang sedang memperhatikan wajahku lekat lekat.
"bukan apa apa."
"aku tak suka dibohongi." Lanjut Sehun penuh penekanan.
"memang bukan apa apa Sehun. Ini hanya luka biasa." Kataku tak mau kalah sambil meneggakan kembali badanku.
"aku sudah biasa dengan hal seperti ini. hanya saja wanita gila itu tadi sedang terlalu emosi hingga hilang kontrol."
"wanita gila?" ulang Sehun dengan tatapan penuh selidik. Aku menghela nafasku
"lupakan.."
Baru saja mau beranjak, duduk disofa sebrang Sehun, pria itu menahan pergelangan tanganku.
"jelaskan padaku. Siapa yang berani menyentuhmu seperti itu, Xi Luhan?" titah Sehun. Rahang nya mengeras. Sepertinya emosi.
Aku membuka mulutku. Baru saja ingin menyahut, tiba tiba saran Tao untukku yang dia berikan pagi ini terngiang kembali.
"jangan menunggu. Seranglah dia lebih dulu Luhan. Kau wanita jalang, ingat. Bertingkahlah seperti jalang! Serang dia sampai ia bertekuk lutut padamu!"
Bagus. Sekarang suasananya sangat mendukung. Aku dan Sehun yang sedang berduaan. Baju tipis serta celana kelewat pendek. Dan matahari senja yang mengintip masuk dari jendela ruangan, membuat suasana apartemenku terlihat sexy dengan sinar warna jingga.
Aku mengatupkan mulutku lagi, lalu tersenyum nakal.
"sebenarnya badanku sakit sakit Hun. Dia melemparku dengan buku buku. Lihatlah." Kataku sok manja sambil melepaskan kaus tipisku. Memperlihatkan kulis putih mulusku yang penuh dengan lebam lebam.
Mata Sehun sedikit terbelalak. Entah karena dia kaget dengan lebam lebam ditubuhku, atau karena terpukau dengan kulit mulus dan dada ku. Aku anggap umpama pertama paling tepat, mengingat Sehun sudah pernah melihat badanku sebelumnya
(tapi saat itu kan gelap, bisa saja dia tidak melihat dengan jelas) –ah masa bodo lah, aku tidak perduli.
"lihat lebih dekat. Bibirku bahkan robek." Aku maju dan duduk dipangkuan Sehun. Tatapan pria itu kembali dingin, namun tampak tak masalah dengan posisiku yang duduk diatasnya sekarang.
"dan jika dipegang sakit sekali."
"sudah kau berikan obat?" tanya nya santai.
"kenapa kau tidak berikan saja sendiri padaku?" belum sempat Sehun mengucapkan apa apa, aku sudah memajukan wajahku dan melumat bibirnya. Aku sempat meringis beberapa saat karena merasa sedikit ngilu.
Tapi tak kuperdulikan. Aku masih melumat bibirnya. Sehun yang awalnya hanya diam akhirnya membalas pagutanku.
Entah bagaimana pagutan pelan kami menjadi lumatan yang menuntut. Dan bisa kupastikan itu karena aku yang memancing situasi panas ini. memang aku niatkan seperti itu kok diawal, hahaha.
Aku melingkarkan tanganku ke leher Sehun, sementara tangan pria itu masih diam di tempatnya. Ia belum menyentuh tubuhku sama sekali. tapi aku bisa merasakan kejantanannya menegang dibawah sana
"bra ini mengganggu." Kataku genit sambil melepaskan kaitan bra dan membiarkannya melorot begitu saja. Aku menarik kepala Sehun untuk memperdalam ciuman panas kami.
"Lu.."
"sst.." tanganku sudah menjelajahi dadanya dan membuka kancing kemeja Sehun satu persatu. Aku bahkan bisa merasakan kulit dada bidangnya. Tapi tiba tiba saja Sehun melepas pagutan kami secara sepihak. Aku membuka mata ku dan menatapnya tak suka.
"Luhan, hentikan." Katanya tegas, dengan tatapan berbeda.
"ayolah, ini pain killer untukku." Aku memalingkan ciumanku dan mendaratkannya di leher Sehun, mencoba menggoda pria itu lebih jauh. Aku bahkan menggerak gerakkan bokongku, memancing juniornya agar semakin tegang.
"Lu. jangan memancingku." Suara Sehun semakin berat. Terlihat sekali sedang menahan gairah
"hmmm. Kalau aku tidak mau bagaimana" kataku sedikit mendesah sambil terus melakukan pekerjaanku tadi. Aku tidak boleh berhenti disini. Kancing kemeja Sehun sudah terbuka sempurna, aku menyentuh otot perutnya yang bidang, mengelusnya sambil terus merambat turun kebawah. Baru saja mau melakukan serangan berikutnya, Sehun menahan kedua tanganku.
Aku kembali menatap wajah Sehun dengan tatapan kesal.
Tapi.. ada sesuatu disana, ada sebuah nafsu yang terpendam namun sinar mata yang berbeda.
Sinar mata yang mengerikan. Sinar yang sarat akan gairah namun lebih kelam. Penuh dengan rahasia. , seolah sebuah hal jahat sedang bersemayam dibaliknya.
"Xi Luhan. Jika kau ingin selamat. Jangan memancingku."desis nya tajam.
Dan entah kenapa, bulu kudukku merinding begitu saja.
.
.
.
.
TBC
A/N
Annyeong, aku kembali lagi. Aku senang banget ternyata banyak yang nunggu Sexy Lu sampe aku di PM :") terima kasih ya chingu yang udah setia baca ff abal ini. untuk rahasia akan terbuka mulai dari chap besok dan kita akan mulai masuk ke konflik pertama. (spoiler banget za)
Maaf kalau chap ini ga seperti yang diharapkan ya. Tadinya aku mau bikin mereka enaena sekarang tapi kayanya timing nya belum pas. Hehehe
Untuk readers baru dan yang mem fav dan follow cerita ini, jangan lupa juga ya reviewnya. Serius deh, review kalian penyemangat aku banget disaat tugas padet. Demi kalian aku sempetin nyolong waktu supaya tiap weekend bisa update:")
Sekali lagi gomawo and happy Christmas!
Yehet! Moza:*
