Sexy Lu.
MainCast:Luhan(GS), Sehun, Kris
Pairing: Hunhan, Krishan, slight Chanbaek&Kaisoo
Rated: M
Warning: typos, cerita aneh, mature content
GS, DLDR.
enjoy
.
.
Chapter 6
Suasana hening seketika. Bulu kudukku masih berdiri meskipun sudah beberapa detik berlalu. Sorot mata Sehun memang tidak sedingin dan setajam tadi, namun atmosfer yang berubah bersamaan dengan titahnya tadi memang sangat mengerikan.
"bangun dan ganti pakaianmu." Sehun berujar singkat sambil sedikit mendorongku agar bangkit dari pangkuannya.
"huh?"
"kita akan menemui seseorang. Pakai pakaian yang lebih layak."
aku berdeham sebentar, mencoba mencairkan kecanggungan tadi lalu bangun dari pangkuan Sehun. Aku bisa melihat dari ujung mataku Sehun sedang merapikan kembali pakaiannya saat aku berjalan menuju kamar, mengganti baju. Well, aku tidak hanya gagal, tapi juga malu setengah mati.
.
.
Aku masuk ke mobil Sehun dengan foundation tebal tebal di wajahku. Aku tidak mau rona keunguan di sudut bibirku menarik perjalanan menuju entah kemana, Sehun tampak santai seperti biasa. Seolah tidak ada yang terjadi. Aura dingin yang sempat menyelimuti kami juga sudah menghilang. Pria itu bungkam, tak tertarik untuk membahas apapun, apalagi kejadian tanggung tadi.
"apa kita akan bertemu dengan Seokjin?" aku mencoba bertanya, memecah keheningan yang selalu saja terjadi jika aku berdua dengan Sehun.
"tidak. Tapi mungkin kau akan sesekali bertemu dengan Seokjin disana"
"jangan tanya apapun sampai aku perbolehkan." Lanjut Sehun dengan nada tak terbantahkan seperti biasa. "kau hanya perlu setuju pada apapun yang aku katakan" oke, sekarang aku lebih mirip seperti pesuruhnya ketimbang pelacur pribadi Oh Sehun.
Aku mengedikkan bahuku, mencoba tak perduli dengan serentetan aturan yang susah dimengerti. Sementara Sehun, ia masih memandangi jalanan di depannya dengan tatapan datar.
.
.
Aku tidak bisa menyembunykan kernyitan dahiku saat mobil kami memasuki kawasan sebuah Rumah Sakit megah di Seoul. Aku menoleh kearah Sehun disampingku, pria itu tampak tak berminat menjelaskan apapun. Aku baru ingin membuka suara tapi aku urungkan lagi. Tidak boleh bertanya apapun sebelum diperbolehkan, ingat?
Kami memarkirkan mobil disebuah tempat yang agak terpencil. Aku sudah melepas sabuk pengamanku dan bersiap turun saat tiba tiba Sehun menahan lenganku.
"kau masih ingat di malam saat aku menyelamatkanmu?" aku mengangguk. Tentu saja aku ingat. Kejadian memalukan saat Sehun menyelamatkanku itulah yang membuat Sehun terus membuntutiku sampai sekarang.
"tentu kau masih ingat saat itu aku meminta mu melakukan sesuatu?" ah ya, tentu saja. Sebagai balasan karena saat itu ia menolongku. "lalu apa yang kau mau dariku?" Sehun diam sebentar, matanya masih menatap ku lekat lekat.
"ini lah yang aku inginkan."
"huh?" aku menoleh kebelakang, memperhatikan sekeliling parkiran rumah sakit. apa yang Sehun inginkan dengan parkiran rumah sakit?. "akan kutunjukan sesuatu padamu." Lalu Sehun pun membuka sabuk pengamannya dan turun dari mobil diikuti olehku yang mengekor di belakang.
Suasana rumah sakit itu seperti Rumah Sakit mahal pada umumnya. Dokter dokter dan pasien berlalu lalang, suster dan segala pekerja rumah sakit tampak sibuk. Sehun berjalan di depanku. Punggung tegapnya terlihat jelas sekali.
Ia terus melangkah tanpa mengatakan sepatah kata apapun. sampai kami tiba di bagian Gedung Rumah Sakit section rawat inap. Sehun terus berjalan kearah koridor yang dijaga ketat. Mereka menggunakan pakaian serba hitam dengan transmitter di telinga mereka. tapi anehnya, semua orang itu menunduk dan mempersilahkan Sehun lewat begitu saja dengan mudah.
Sekilas aku lebih merasa tempat ini seperti penjara tertutup ketimbang bangsal Rumah Sakit.
"Ia bersamaku." Kata Sehun santai saat seorang pria mencegatku. Dan di detik kemudian pria itu menyingkir dan mempersilahkanku lewat.
Akhirnya kami tiba disebuah pintu yang lagi lagi dijaga oleh 2 pria berpenampilan sama seperti tadi. Keduanya lalu membuka pintu untuk Sehun, dan saat itu aku semakin bingung dengan pemandangan di depanku.
Sebuah kamar rawat inap besar dengan seorang pria paruh baya yang terbaring disana. Matanya terpejam dengan banyak selang yang menempel di tubuhnya.
"Tuan Oh?" seorang pria menghampiri kami. Dari pakaiannya, ia terlihat lebih rapih dengan jas hitam. Pria itu menunduk sopan kearah Sehun yang masih menatap pria diatas ranjang itu dengan tatapan tak terbaca.
"bagaimana keadaannya?" tanya Sehun tanpa menolehkan pandangannya.
"masih seperti sebelumnya tuan. Beliau sedang tidur sekarang" Sehun melangkah menuju ranjang dan duduk disampingnya. Sementara aku masih berdiri di ambang pintu. Aku bisa melihat Sehun membisikkan sesuatu pada pria itu, tapi aku tak mendengar sama sekali ucapannya.
"Ms Adams, lama tidak bertemu." Aku menoleh kesumber suara dan mengerjapkan mataku bingung. apa yang barusan ia katakan tadi? Adams? Ia berbicara padaku?
"huh?" aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan, memastikan apa orang ini benar benar sedang bicara padaku atau orang lain.
"ada apa Ms Adams? Ada yang salah?" pria itu mengernyitkan dahinya. Aku rasa ia heran dengan tingkahku. Tepat saat aku ingin menyahut, Sehun sudah mengambil alih pembicaraan membingungkan kami.
"Seokjin sedang ada di Korea. Mungkin ia akan kemari. Terus kabari aku jika kau membutuhkan sesuatu atau ada perkembangan apapun." kata Sehun sambil berjalan menghampiri kami. "tentu Tuan." Pria itu mengangguk patuh pada Sehun yang sekarang sudah berdiri tepat disampingku.
"aku pergi dulu." Sehun menarik tanganku agar mendekat kearahnya dan kemudian kami meninggalkan ruang inap tersebut. Sehun masih merangkul pundakku sampai akhirnya kami sudah cukup jauh dari ruangan tadi.
"Adams?" aku menatap Sehun sambil menautkan kedua alisku. Meminta penjelasan dari segala hal yang semakin membuat kepalaku pusing. Tapi tampaknya dosen pucatku ini tak berniat membuka suara sama sekali. lama lama aku kesal juga.
"HUN!" beberapa orang yang berpapasan dengan kami memandangku tidak suka. Beberapa detik aku lupa bahwa aku dan Sehun sedang berada di rumah sakit. bukan suatu sikap yang terpuji bukan, membuat keributan di rumah sakit?
Sehun menghela nafas sekali lalu menghentikan langkahnya. Ia menoleh kearahku yang sekarang juga ikut ikutan berhenti. "dia Yunho dan orang yang memanggilmu Ms Adams adalah Siwon, orang kepercayaannya. Aku ingin kau menjaga Tuan Yunho. Sempatkan lah waktumu untuk menjenguknya. Ini yang aku minta darimu." Jelas Sehun tenang. Ada yang berbeda dari pria itu. Sehun tidak terlihat seperti tukang perintah seperti biasanya. Intonasinya lebih terdengar seperti memohon meskipun nada dingin dan tidak perdulinya masih terdengar disana.
"dan mulai sekarang namamu menjadi Bianca. Bianca Adams. Gunakan nama itu setiap kali kau mengunjungi tuan Yunho" nah. Ini yang semakin membingungkanku. Sumber dari segala tanda tanya besar di kepala ku adalah nama 'Adams' yang daritadi disebut sebut oleh Siwon.
"apa maksudmu?!"
"lakukan saja seperti yang aku pinta!" Sehun kembali ke sikapnya yang biasa. Awalnya aku masih ingin membombardir Sehun dengan banyak pertanyaan, tapi serius deh, jika kau melihat raut Sehun sekarang, kau pasti juga akan mengurungkan niatmu.
Sehun kembali berjalan, bukannya menuju kearah tempat parkir, Sehun malah membawaku ke bagian rawat jalan. . Beberapa pasien terlihat sedang duduk menunggu giliran konsultasi dengan dokter spesialis masing masing.
"kita mau kemana lagi?" "memeriksa lukamu." Sahut Sehun datar. "kurasa ti-" belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Sehun, dengan santainya membuka salah satu pintu ruangan dokter tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Seorang pria dengan jas Dokter yang tengah sibuk menuliskan sesuatu mendongakkan kepalanya. Ia tampak terkejut begitu menemui Sehun yang baru saja menerobos masuk ke ruangannya. Begitu juga dengan seorang suster yang berdiri tidak jauh dari meja dokter. Gerakan tangan nya terhenti saat membereskan peralatan.
"Sehun?" dokter itu memandang Sehun sedikit tidak percaya. Tapi Sehun malah bersikap santai dan tak perduli akan aksi serobotnya barusan.
"Dokter Cho." Sapanya singkat sambil duduk dan menyilangkan kaki dikursi depan meja dokter.
Sadar dengan tatapan saling pandang Dokter Cho dan susternya, Sehun membuka suaranya lagi. "jangan khawatir kan pasienmu didepan. aku tidak akan lama. Aku hanya ingin kau memeriksa temanku" lanjut Sehun sambil mengedikkan kepalanya kearahku. Dokter Cho tampak menimbang nimbang permintaan Sehun. Ia menghela nafasnya lalu memakai stetoskop yang mengalung di lehernya."baiklah kalau begitu"
Dokter Cho mulai memeriksaku, aku sempat mengintip Sehun dari balik pundak Dokter Cho. Sehun sedang termenung. Jelas sekali di wajah pria itu ia sedang memikirkan banyak hal. Sebuah raut yang baru pertama kali aku lihat dari wajah datarnya.
Dokter Cho selesai memeriksaku, ia kembali kemeja lalu berdeham sebentar. Sehun mengerjapkan matanya beberapa kali, seperti tersadar dari lamunannya barusan.
"tidak ada luka dalam yang serius. Dilihat dari lukanya, aku yakin ia baru saja mengalami tindak kekerasan.." Dokter Cho menggantungkan kalimatnya. Ia melirik kearah Sehun dengan tatapan selidik, sementara Sehun memalingkan pandangannya kearahku. Meminta penjelasan.
"a-ah, ini bukan karena Sehun. Aku… aku terjatuh dari tangga."
"terjatuh?" sebelah alis Dokter Cho terangkat. Tentu saja ia tidak percaya. Alasan bodoh untuk membohongi seorang dokter.
"kau punya obatnya?" Dokter Cho menoleh kearah Sehun yang baru saja membuka suara.
"kau tau aku punya itu Sehun." Sahut Dokter Cho santai sambil menulis sebuah resep diatas kertas. "obat hanya untuk mengobati. Tapi, Bukan kah lebih baik mencegah? Aku harap temanmu-ah siapa namamu Nona?"
"errr.." oke, aku bingung. apa aku harus menyebutkan Bianca atau Luhan. Hebat sekali, untuk sebuah nama diriku saja aku kebingungan.
"Luhan. " Jawab Sehun. Dokter Cho menatap Sehun dengan sedikit curiga. Dari tadi Sehun nyaris tak membiarkanku bicara dan menjawab semua pertanyaan yang seharusnya untukku. Tapi Sehun tampaknya tidak perduli. Ia masih memasang muka stoic nya, mengabaikan tatapan Dokter Cho yang jelas sekali sedang memikirkan sesuatu.
"Okay.. Nona Luhan. Aku harap kau menjaga dirimu dan kejadian ini tidak terulang lagi" Dokter Cho menyelesaikan tulisannya dan memberikan secarik kertas itu pada suster disamping.
"terimakasih dokter Cho"
"Anytime"
Sehun berdiri dan berbalik menuju pintu keluar, baru saja membuka pintu, Suara dokter Cho terdengar lagi.
"Sehun?" Sehun menghentikan langkahnya tanpa menoleh. "aku senang kau kembali." Dan di detik berikutnya Sehun melangkah keluar begitu saja. seolah tidak mendengar kalimat Dokter Cho tadi. Aku sempat melirik Dokter Cho saat membungkuk pamit. Aku melihatnya tersenyum kearah Sehun. Seulas Senyum disebuah wajah yang sedih
.
.
"kau cukup terkenal disana." Kataku sambil memakai sabuk pengaman. Langit sudah cukup gelap saat kami keluar dari Rumah Sakit. Sehun hanya mendengus sambil tersenyum kecil.
"yeah.. begitu lah."
Kami sudah keluar dari kawasan Rumah Sakit, berhenti disebuah lampu merah di dekat toko kue. Aku menimbang nimbang keinginanku untuk bertanya. Sehun masih dengan wajahnya yang datar memandangi orang orang menyebrang didepan, aku menoleh kearahnya sesekali. Mencoba membaca raut wajah Sehun apakah ini saat yang tepat untuk bicara.
"mengapa kau melihatku seperti itu?" kata Sehun tanpa mengalihkan perhatiannya Mungkin sadar akan tingkah ku dari tadi. Lampu berubah menjadi hijau. Para pejalan kaki berhenti menyebrang. Sehun pun menginjak gas mobilnya dan melaju kembali.
"eh… ituuu.. sudah bolehkah aku bertanya?" Sehun menaikan sebelah alisnya. Aku menunggu beberapa menit, tapi Sehun tidak merespon apapun. aku menghembuskan nafasku kesal. Astaga orang ini. tidak bisakah ia menyahut 'tidak' atau 'iya'? jika saja ia bukan 'pemilik'ku, sudah aku tendang ia keluar dari mobil.
"apa kau mau menjelaskan padaku siapa Yunho tadi?" niat awalnya aku hanya ingin bertanya, namun rasa jengah karena selalu di acuhkan sepertinya membuat intonasiku lebih terdengar seperti memerintah.
Sehun menoleh kearahku lalu tersenyum miring. "belum saatnya kau tau." . aku memutar bola mataku malas. "kau selalu menjawab seperti itu." percakapan ini hanya membuang nafasku saja. Daripada menghabiskan tenaga untuk membujuk Sehun bercerita, aku memutuskan untuk tidak melanjutkan bertanya dan mengalihkan perhatianku pada pemandangan gelap diluar jendela mobil.
"dan siapa yang membuat tubuhmu lebam lebam Luhan?" Sehun bertanya dengan intonasi serius. Aku bisa menjamin pria itu membutuhkan jawaban. Bukan hanya sekedar pertanyaan basa basi yang dilontarkan untuk membunuh keheningan. Aku tersenyum licik
"belum saatnya kau tau." cibirku lengkap sambil menirukan gaya dan nada Sehun berbicara. Ah, aku suka sekali saat menyindir pria berwajah stoic itu. Sehun mendengus remeh, "baiklah." Katanya. Dan senyum miring Sehun adalah satu satunya hal yang terakhir aku lihat sampai kami akhirnya tiba di apartemen.
.
.
Setelah selesai mengguyur tubuhku dengan air hangat dan berganti baju, aku merasakan perutku keroncongan. Aku baru menyadari seharian ini aku belum sempat makan apapun. dan tepat saat itu juga, aku mencium aroma sup tomat yang membuat perutku semakin lapar.
Aku keluar kamar dan menemukan Sehun sedang mengaduk panci yang mengepul. Pria itu masih belum mengganti baju, wajahnya terlihat sedikit berkeringat karena kepulan uap hangat.
"kau bisa memasak?" aku tak bisa menyembunyikan ekspresiku takjubku saat melihat Sehun sedang berkutat dengan peralatan masak. Sehun mendengus sambil terus mengaduk cairan kental itu. "banyak hal yang kau tak tau tentangku." Nah! Aku setuju sekali.
"ya. Sangat banyak." sindirku penuh penekanan sambil menghampiri Sehun. Mendengar itu Sehun hanya tertawa pelan.
"mandilah dulu. Biar aku yang melanjutkannya" aku berujar sambil memotong roti untuk membuat garlic bread. Sehun mengangguk singkat dan membiarkanku mengambil alih kegiatannya.
Aku menatap punggung Sehun yang semakin menjauh. Mungkin kalian tidak akan percaya, tapi aku bisa merasakan aura hangat darinya. Meskipun hanya sedikit. Dan hal itu yang membuatku semakin penasaran dengan pria albino ini.
.
.
aku sedang menyiapkan makan malam diatas meja saat Sehun keluar dari kamar. Aroma parfumnya wangi sekali. aku menoleh dan mendapati Sehun sedang berjalan sedikit tergesa menuju pintu dengan pakaian yang cukup rapih. "habiskan makanan mu lalu minum obat dan istirahat. Aku pergi dulu"
"tapi kau belum makan. Bagaimana kalau kita makan dulu?" Sehun melirik ke atas meja. Ia menyuap satu sendok sup dan satu gigitan garlic bread. "aku ada urusan dengan Seokjin. Nanti aku akan makan malam diluar dengannya." Kata Sehun lalu meminum air putih di dekat mangkuk sampai habis.
"Hun?"
"hm?"
"bisakah aku meminta nomor ponselmu? Kau tau, susah sekali menghubungimu."
"baiklah. Berikan ponselmu." Aku memberikan ponsel ku padanya, ia sempat mendengus geli saat melihat screen saver ponselku. Kenapa? Memangnya tidak boleh memasang foto diri sendiri sebagai screen saver? Sehun mengetik sesuatu disana, yang aku yakin adalah nomor ponselnya.
"kabari aku jika ada sesuatu." Sehun mengembalikan ponselku lalu berbalik. Tak lama, ia menghilang dibalik pintu keluar. Aku mendesah pelan, menatap 2 mangkuk sup yang masih mengepul diatas meja. Lagi lagi, aku harus menghabiskan malam ku sendirian
.
.
Setelah menghabiskan makan malam, aku memutuskan untuk membunuh rasa bosanku dengan berbicara dengan teman teman yang lain. Tapi sialnya, kurasa Kyungsoo dan Baekhyun sedang sibuk di ranjang sampai mereka tidak merespon panggilanku. Dan akhirnya hanya Tao yang merespon. Itupun setelah aku telfon berkali kali. Aku juga yakin ia masih berada diranjang saat menghubungiku, karena aku bisa mendengar suara Kenddrick yang mendesah puas.
Ewh, menjijikan.
"bagaimana? kau sudah melakukan apa yang aku sarankan?" Suara Tao terdengar nyaring diseberang sana.
"gagal total"
"apa maksudmu?"
Aku menghela nafas dan memijit pelipisku. "I-I don't know Tao, its just…"
"theres something weird about him."
"TENTU SAJA ANEH." Sembur Tao tiba tiba. Aku bisa mendengar Kenddrick yang menegur tidak suka. Tapi tampaknya Tao tidak perduli. Aku mengorek telingaku yang nyaris tuli karena pekikkannya. Wanita itu, tak bisakah ia hanya berisik di ranjang saja?
"Jika dia menolak pesonamu kemungkinannya di gay!"
"bukankah sudah aku bilang itu tidak mungkin." Apa aku harus menjelaskan lagi bagaimana aku mem-blowjob Sehun? Aku yakin sekali miliknya berdiri. Jadi pendapat bahwa Sehun gay, tampaknya tidak mungkin.
"baiklah baiklah~ lalu apa kau punya kesimpulan lain yang lebih masuk akal?" Tao berujar malas.
"entahlah. Semakin hari semakin aneh saja. dia membawaku ke sebuah Rumah Sakit dan memintaku menjadi suster illegal disana."
"suster illegal? Woah, setahuku otakmu tidak memenuhi syarat untuk apapun berbau kedokteran." Kata Tao sambil terkikik. Sialan pelacur itu. aku memutar bola mataku malas. "maksudku, ia memintaku menjaga seorang pasien misterius disana."
Tao belum menyahut apa apa, sayup sayup aku bisa mendengar ia meminta izin pada Kenddrik untuk permisi dulu. Aku masih menunggu Tao berbicara saat yang aku dengar hanya suara langkah kaki Tao yang sepertinya sedang berjalan menjauh.
"Lu, kau tidak merasa takut tinggal bersama pria itu?" kata Tao tiba tiba. Suaranya berubah drastis. Ia menjadi sangat serius. Sesuatu yang jarang sekali Tao lakukan. Mendengar Tao yang jadi super serius seperti ini, aku jadi panik sendiri. "a-apa maksudmu?"
"kau tau, dia terlalu misterius. Kau tidak takut kalau ternyata dia pembunuh berantai, berniat mengambil organ dalammu? Bisa saja pasien itu orang yang penting untuknya dan ia memerlukan organ dalammu."
Huh?
Apa yang barusan Tao katakan? Apa dia mabuk sekarang?
"oke Tao, tidak lucu."
"lagipula aku yakin Sehun punya uang yang banyak untuk membeli organ apapun yang ia mau tanpa membunuhku." Aku tidak ingin menyangkal karena biasanya, hal yang aku sangkal malah ternyata benar. Jadi aku memutuskan untuk berfikir logis jika memang Sehun.. yeah.. pembunuh berantai seperti si gila Tao katakan tadi.
"lalu.. darimana kah uang banyaknya berasal?" nah. Yang ini aku tidak tau mau menjawab apa.
"kau tidak tau?"
Aku menggeleng. lupa bahwa Tao tidak melihat.
"apa kau tidak curiga? Mungkin saja dia bisnis di pasar gelap?"
"lalu untuk apa ia membeliku dengan harga mahal hanya untuk mempreteli organ organku? Kurasa ia bisa menculik orang begitu saja kan?"
"nah itu yang aku belum tau." kami hening beberapa detik. Obrolan tentang hal ini membuat bulu kudukku semakin merinding. Ditambah aku sedang diapartemennya. Sendiiran. Di Malam hari.
Sangat Hebat.
Dan kurasa berbicara dengan Tao tidak membantu sama sekali.
"sudahlah. Aku ingin istirahat. Aku tutup sekarang telfonnya Tao. Bye."
"ah kau tidak seru. Yasudah. Jaga dirimu. bye"
Begitu panggilan kumatikan aku segera masuk kekamar dan menyelimuti tubuhku. Aku berusaha keras untuk tidur. Mencari cari posisi yang nyaman, tapi ucapan Tao terus terngiang di benakku. Dengan segudang keanehan yang Sehun miliki, statement nya tadi seolah memaksaku untuk mempercayai hal itu. hasilnya aku tidak bisa tidur semalaman, sampai akhirnya Sehun pulang.
Anehnya, semua kegelisahanku menghilang begitu saja saat Sehun merebahkan dirinya disampingku. Dan saat itu, aku baru bisa memejamkan mata dan tertidur pulas. Tepat saat Sehun memelukku dari belakang.
ooo
Aku bangun esoknya saat matahari sudah terang sekali. aku mengulat diatas ranjang dan saat itu aku baru menyadari Sehun tidak ada disampingku. Aku menajamkan telinga dan tidak mendengar suara apapun dari luar. Aku rasa Sehun sudah berangkat ke kampus.
Aku berjalan dengan langkah malas kekamar mandi. Membasuh wajahku di westafel dan menggosok gigi. Aku benci morning breathe.
Setelah merasa lebih segar aku keluar kamar dan mengambil air di pantry. Kerongkonganku kering sekali. aku meneguk cairan bening itu sambil menatap pemandangan kota Seoul dari ketinggian lewat jendela. Hal yang aku suka dari apartemen Sehun adalah, hampir semua dindingnya dibalut jendela dari langit langit sampai lantai. Pemandanganya indah.
Kota Seoul selalu indah dimataku. Aku selalu menyukai kota ini. namun pandanganku kemudian berubah saat aku mengadu nasib disini dan malah menjebloskan dirku sebagai wanita panggilan. Muali saat itu aku tidak pernah melihat Seoul seindah dulu.
Setiap kali aku sendirian, aku selalu berfikir akan kemana arah hidupku. Memang aku masih kuliah dan berniat untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Mengubah hidupku Kearah yang benar. Namun jika aku ingat titik dimana aku sekarang ini, aku ragu aku masih memiliki kesempatan itu atau tidak.
Maksudku, aku tinggal dengan pria asing yang sangat misterius. Kata kata Tao sebelumnya masih terngiang di kepalaku. Bagaimana jika asumsi Tao itu benar?
Apa aku bisa bertahan? Apa ini akhir dari kisah hidupku yang na'as?
Seburuk inikah aku akan berakhir?
Bukannya aku menjadi paranoid atau semacamnya. Jika kalian ada di posisiku kalian juga pasti akan mengerti.
Iya kan?
.
.
Aku menghabiskan separuh hariku dengan menonton TV yang sebenarnya tidak aku tonton benar benar. Ingatanku melambung kemana mana. Mulai dari hari pertama aku bertemu dengan Sehun sialan itu, saat dia menemukanku di pinggir jalan, saat ia membeliku, saat ia menemukan (atau menyelamatkanku) dari pria tua hidung belang di China.
Private jet, barang mahal, dan semua muanya.
Rasa penasaranku semakin memuncak dan akhirnya aku berada di titik dimana aku sangat marah. Aku kesal. aku muak dengan semua teka teki Sehun. Dan brengseknya pria itu tidak ingin mengatakan apapun.
Jika Sehun tidak ingin memberi tahu, okay, Fine! Aku akan bertanya pada orang lain.
Satu satunya keluarga Sehun yang aku kenal.
.
.
Hari sudah mulai gelap, aku hanya mempunyai waktu 2 jam sebelum bekerja di bar malam. Dengan bermodalkan nekat dan insting aku menuju ke Hotel tempat dulu diadakan White Mask. Memang tidak menjamin, orang yang ingin aku temui berada disana, namun hanya ini satu satunya harapanku.
"selamat Malam, ada yang bisa kami bantu Nona?" Seorang wanita dibalik meja Resepsionis menyapaku ramah.
"Hai. Aku Luhan. Aku ngin bertemu dengan tuan Seokjin. Apa ia ada?" Wanita itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia terlihat cukup kaget.
"hmm.. Tuan Seokjin? Apa anda sudah memiliki janji?"
"errr soal itu.. a-"
"Luhan?!"
Aku menoleh dan melihat seorang wanita bule yang familiar sedang berdiri tak jauh dariku. Sepertinya ia baru keluar dari Lift, mengingat aku melihat sebuah lift yang perlahan menutup di belakang wanita itu berdiri.
"Monica?" Monica menghampiriku. Meskipun rautnya heran, senyum menawannya tetap terhias di wajah cantiknya itu. "sedang apa kau disini? Dimana Sehun?"
"ah dia sedang pergi. Aku kemari ingin bertemu Seokjin sebenarnya."
"ah Seokjin. Tumben sekali. ada hal pentingkah?" Monica mengernyitkan dahinya heran. Apa ia cemburu? Pasti cemburu. Aku menghampiri Seokjin malam malam dihotel. Wanita mana yang tidak akan berfikiran macam macam.
"hmm bisa dikatakan begitu."
Namun aku salah. Monica tampaknya tidak curiga sedikitpun padaku.
"baiklah." Sahutnya masih dengan tersenyum. Ia merogoh ponselnya dan mengetikan sebuah pesan. Sepintas aku bisa melihat pesan itu ditujukan untuk Seokjin.
Setelah selesai mengetik pesan, Monica menoleh ke meja resepsionis disamping. "tolong antarkan dia ke president suite." Titahnya pada wanita yang tadi berbicara padaku.
"aku sudah memberi tahu Seokjin kau ada disini. Maaf tidak bisa mengantarkan mu. Aku ada urusan mendadak. Sampai bertemu lagi Luhan."
"terima kasih Monica." Setelah memberikan pelukan dan kecupan di pipi kanan-kiri, wanita bak model itu melangkahkan kaki bersepatu Heelsnya menuju pintu keluar Hotel. Monica masuk kedalam mobil mewah di lobby dan saat ia melaju pergi, aku berbalik dan mengikuti resepsionis itu menuju Lift ke unit president suite.
.
.
"Luhan! Sebuah kejutan kau menghampiriku kemari." Seokjin menyambutku ramah meskipun rambutnya sedikit berantakan dengan 2 kancing baju yang terbuka. Aku yakin sekali ia dan Monica baru saja menghabiskan kegiatan panas disini. Aku masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
"hai Seokjin." Sapaku sampil memberikan pelukan singkat. Seokjin melipat tangannya dan menatapku dengan Senyum yang masih terhias diwajah tampannya itu. "lalu, apa yang membawamu kesini?"
Kami berjalan menyusuri kamar itu. kamar luas dan mewah dengan aksen elegan yang kental.
"ada yang ingin aku tanyakan tentang sepupumu." Seokjin sempat mengerutkan dahinya. "sepupu? Maksudmu Sehun?"
"ya, Sehun."
Seokjin mengangguk singkat lalu berbalik dan menuju ke sebuah sofa putih besar. "duduklah dulu Luhan." Aku mengikuti Seokjin dan duduk disofa putih yang sangat nyaman. sementara si tuan 'rumah' menuju sebuah minibar di dekat situ. Seokjin mengambil dua botol minuman yang sudah terbuka. Satu ia bawa dan satu ia taruh diatas meja di depanku.
"jadi, apa yang ingin kau tanyakan." Tanya Seokjin santai sambil duduk. Pria itu menenggak minumannya sekali dan tampak sangat santai. sekarang, malah aku yang tiba tiba dilanda gelisah saat ingin membicarakan Sehun.
"Pertama tama kemarin aku pergi menemui Yunho. Sehun sempat mengatakan bahwa mungkin aku akan menemukanmu juga disana. Jadi aku asumsikan kau mengenali Yunho. Benar begitu?"
Seokjin yang sedang minum menghentikan kegiatannya. Membuat kedua pipinya terlihat sedikit mengembung. Ia menatapku lekat lekat. "tuan yunho? Tentu aku mengenalnya Luhan. Ada apa?" kata Seokjin setelah menelan minumannya dan menaruh botol itu diatas meja.
"sebenarnya apa hubungan Sehun dan Yunho?-Tidak. Bukan hanya itu yang aku tanya. aku ingin tau lebih banyak tentang Sehun. Ia sangat aneh. Ia mengajakku ke rumah sakit lalu memintaku untuk menjaga Yunho dan berpura pura menjadi Bianca adams. Pria bernama Siwon bahkan memanggilku Ms Adams sebelumnya. lalu yang kedua, Sehun seorang dosen tapi kekayaannya tidak wajar untuk seukuran dosen. Dan.. kau tau kan aku hanya wanita panggilan yang dibeli Sehun? Tapi.. ehmm"
"dia tidak pernah menyentuhku. ia seolah menghindariku. Jika memang seperti itu, untuk apa ia menghabiskan uang banyak untuk membeliku?" kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku tanpa titik dan koma. Rasa penasaran yang terlalu lama aku pendam sampai dititik yang tidak bisa dibendung dan akhirnya mendobrak keluar. Reaksi Seokjin yang hanya diam sempat membuatku berfikir bahwa pria itu tidak mendengar omonganku dengan jelas.
Tapi akhirnya Seokjin menghela nafas panjang lalu kembali melipat tangannya.
"dan apa pentingnya bagimu untuk tau soal sepupuku, Oh Sehun, Nona Luhan?" Seokjin berujar serius. Sebuah intonasi yang sedikit berbeda dari yang biasa ia gunakan. Ia menatapku dengan tatapan penuh selidik dan senyuman yang ambigu.
"Seokjin, aku tinggal ditempat yang sama dengannya, ia memiliki hak penuh atas diriku selama beberapa bulan kedepan. Jelas aku harus tau pria seperti apa yang aku tinggali bersama." tegasku tidak mau kalah.
"aku hanya ingin tau.. siapa sebenarnya pria itu." kata kataku sedikit memelan karena pikiranku yang sempat kembali menerawang ke beberapa kejadian terakhir.
"baiklah, tapi pertama tama Sehun akan menghajarku jika ia tau aku memberi tahumu soal ini."
"tenang saja, aku tidak akan membuka mulutku."
Seokjin tertawa renyah. "Luhan, Sehun bisa mengetahui apapun yang ia mau, singkatnya, ia selalu mendapatkan segala hal yang ia inginkan."
"tapi tenang, aku bisa mengurus hal itu." lanjut Seokjin santai seolah hal itu bukan hal besar. Ia menghela nafasnya dan kembali meraih botol minuman di meja.
"semua ini berakar dari satu hal." Katanya. Tatapan Seokjin tampak seperti menerawang.
"apa itu?"
Seokjin menenggak minuman nya sampai habis, membut pria itu mendesah nikmat saat cairan alkohol memenuhi lambungnya. Ia sempat sedikit memajukan posisi duduknya agar bisa melihatku lebih lekat.
"Luhan, taukah kau, kalau Sehun…
…adalah pembunuh?"
Aku tidak tau harus merespon apa, yang jelas badanku lemas seketika. Yang aku rasakan hanya detak jantung ku yang berdetak gila gilan.
Oh Tuhan.. selamatkan aku.
.
.
TBC
A/N:
Tenang, konfliknya ga berat kok. Kalau kalian mau aku update cepet, jangan lupa review ya.. aga susah bagi waktu tugas dan FF. review kalian penyemangat aku nulis:") *sementara sekarang reviewnya ga sampe 1% dari yang baca sebenernya huhu*
Anyway, siapa yang menunggu Kris? Yuhuuuu.
Prepare youself for the next Chapter!
Terima kasih yang sudah baca dan ninggalin review.
Gomawo:*
Tao dan Kenndrick sedang dalam perjalanannya menuju sebuah apartemen mewah di Seoul. Kenddrick mengatakan hari ini adiknya sedang berada di Korea dan Kenddrick ingin mengenalkan Tao padanya. Sungguh manis sekali.
Sepintas Tao nyaris berfikir bahwa hubungan ini layaknya hubungan pasangan kekasih pada umumnya. Namun, ingatan tentang nominal angka yang tersemat pada dirinya membuyarkan pikirannya tersebut.
"mungkin kau sempat bertemu dengannya. Ia juga berada di acara White Mask saat itu, tapi setelah acara selesai, ia langsung terbang ke Mexico tanpa pamit dulu." Jelas Kenddrick yang sedang duduk disamping Tao dalam sebuah Limousine. Keduanya sedang dalam perjalanan menuju apartemen sang adik.
"benarkah?"
"iya. Dia sempat menawar seorang gadis mati matian, tapi sepertinya ia kurang beruntung." Kenddrick bercerita sambil terkekeh. Tao mencoba mengingat kembali siapa saja pria yang berada di acara White Mask saat itu. tapi ia tidak tau pasti karena ia terlanjur pergi sebelum acara 'jual-beli' itu berlangsung.
"kita sudah sampai." Suara Kenddrick menyadarkan Tao dari lamunannya. Mereka sampai disebuah penthouse di pusat kota Seoul. Kenddrick memasukan kode kunci apartemennya sampai pintu itu terbuka.
Kenndrick dan Tao masuk ke penthouse tersebut dan menemukan seorang pria tinggi sedang berleha leha diatas Sofa di ruang TV
"Hey bro. menikmati waktumu di Mexico? Lain kali setidaknya bilang pada kakakmu dulu jika ingin membawa kabur private jet nya." Sahut Kenndrick santai sambil mendekat kearah pria itu. Sementara Tao yang berdiri canggung, hanya diam di tempatnya.
"tunggu sampai ayah memberikan private jet milikkya sebagai hadiah ulang tahunku." Pria itu terkekeh sambil bangkit dan memberikan brother Hug pada Kenddrick.
"How was mexico?" Kata Kenddrick sambil melepas pelukannya.
"hot. Sexy. Aku sudah kenyang meniduri wanita wanita disana tapi-"
"tapi kau masih penasaran bukan? Itukah sebabnya kau kembali ke Korea?" kata Kenddrick sambil tersenyum lebar. Pria itu, yang Tao asumsikan adik Kenddrick hanya tertawa "yeah you're right bro"
Sadar ada yang kurang, Kenddrick menoleh kearah Tao dan memberikan gesture untuk mendekat. "oh ya, kenalkan ini Tao. Wanita yang aku beli di white mask."
"Hai. Aku Zitao. Senang bertemu denganmu." kata Tao sambil tersenyum ramah. Pria itu menatap Tao dengan mulut sedikit terbuka. Seolah baru menemukan kekasihnya yang hilang
"kau bilang kau wanita yang ada di White mask?"
Tao mengangguk. Sedikit canggung karena diperhatikan seperti itu.
"apa kau mengenali wanita dengan gaun mermaid merah yang dijual sebelum dirimu?"
"tentu. Ia Luhan. Temanku. Ada apa?" mendengar itu adik Kenddrick tersenyum miring. Sebuah senyum kemenangan yang ambigu. "tidak. tidak apa apa." Ujarnya santai
"ah iya, Zitao. Aku Kris. Nice to meet you," kata pria itu sambil mengulurkan tangannya.
.
Tao, kau tak tau apa yang baru saja kau lakukan pada Luhan,
