Sexy Lu.
Main Cast:Luhan(GS), Sehun, Kris
Pairing: Hunhan, Krishan, slight Chanbaek&Kaisoo
Rated: M
Warning: typos, cerita aneh, mature content
GS, DLDR.
enjoy
.
.
Chapter 7
Aku keluar dari Hotel Seokjin sesegera mungkin. Kepalaku berputar cepat sekali. Bukan karena aku pusing, tidak. Aku baik baik saja. Tapi kenyataan yang baru saja seokjin Beberkan padaku seolah menamparku keras keras.
Apa yang harus kulakukan sekarang?
Aku menghambur begitu saja kedalam taxi yang baru masuk di area lobby. Penumpang sebelumnya yang belum sempat turun itu bahkan menatapku dengan tatapan horror. Supir taxi yang sedang bersiap menerima lembaran uang bayaran sampai terlonjak melihat sosokku yang melesak masuk kedalam.
Tapi aku tak perduli.
"Lucky One Bar" sahutku singkat, meminta sang supir mengantarku ke bar di daerah Gangnam tempat aku bekerja. Saat penumpang sebelumku akhirnya turun (meskipun maish menatapku dengan keheranan) akhirnya sang supir mengangguk kikuk lalu mengendarai taxi keluar dari Lobby Hotel.
Aku menghela nafasku, ini benar benar lebih rumit dari yang aku duga sebelumnya.
.
.
"pe-pembunuh?" aku mengulang kata kata Seokjin dengan mata terbelalak. Aku yakin sekali sudah membersihkan telingaku dengan rajin, aku tidak mungkin salah dengar. Seokjin mengedikkan kepalanya dengan santai, seolah pembunuh tidak membahayakan layaknya tukang kebun "yeah.. tidak bisa diakatakan pembunuh juga sebenarnya."
Aku bernafas lega, tak kupingkiri aku sedikit berharap Seokjin meralat omongannya
"lalu apa maksudmu?"
"begini Luhan, Keluarga Oh merupakan keluarga pebisnis tangguh. Tapi dibalik itu, mereka adalah sindikat mafia yang di perhitungkan di wilayah Asia Timur. Hareboji memiliki 3 anak. Dan semuanya sudah menikah dan memiliki keluarga masing masing. Jadilah, keluarga kami menjadi keluarga Oh, Keluarga Kim dan keluarga Cho. Ibuku adalah adalah anak pertama. Oh Tae Hee. Disaat kesehatan Hareboji menurun, beliau meminta anak anaknya untuk meneruskan organisasi bisnis gelap kami. Tapi ibuku menolak. Ibu menikah dengan ayah, Kim Ji Hoon dan akhirnya mereka meninggalkan kehidupan mafia lalu berfokus pada bisnis Real Estate kami.
Begitu juga dengan bibi Oh yang menikah dengan paman Cho. Mereka menolak dan memutuskan untuk berbisnis dalam bidang kesehatan. Seperti Mendirikan banyak Rumah sakit, klinik dan semacamnya. Anak Mereka, Dokter Cho Kyuhyun bahkan bekerja dirumah sakit dimana Tuan Yunho sekarang dirawat."
"lalu pimpinan organisasi dijatuhkan pada siapa?"
Seokjin melemparkan pandangan dengan senyum penuh arti kearahku. "bukankah kau sudah tau?"
"aku pikir kau bisa menebaknya."
"SUDAH KATAKAN SAJA, SEOKJIN!" semburku. Aku kesal sekali. bisakah ia berhenti membuatku penasaran dan langsung saja bicara sejelas jelasnya?
Tampaknya Seokjin sedikit terkejut dengan intonasiku yang meninggi tiba tiba, Pria itu sempat tersentak saat ingin menenggak minumannya.
"oke oke." Kata Seokjin sambil menenangkan dirinya kembali.
"pimpinan organisasi diambil alih oleh si anak bungsu, Paman Oh, atau yang biasa kami panggil dengan Tuan Yunho."
Nah, sekerang giliranku yang tersentak. Aku bisa merasakan mataku perih karena terbelalak terlalu besar. Jika bola mataku tidak terpasang diwajah, aku yakin mereka akan menggelinding keluar. Melihat responku yang hanya membatu dengan wajah bodoh Seokjin melanjutkan omongannya.
"benar Luhan, Yunho yang kau temui tadi adalah pimpinan mafia, anak bungsu hareboji. Ia adalah ayah dari Oh Sehun."
.
Kejadian itu berhenti diotakku saat supir taksi tiba-tiba berhenti. Ternyata aku sudah sampai di Lucky One bar. memang tidak terlalu memakan waktu karena tempatnya cukup dekat dan jalanan tidak begitu ramai. Aku mengambil beberapa won dari tas jinjingku dan memberikannya pada supir Taxi lengkap dengan kembaliannya yang lumayan banyak. Aku berjalan tergesa gesa kedalam bar dan bersiap.
Aku sudah terlambat.
ooo
"Luhan, darimana saja kau?" suara bosku, yang kami panggil dengan Mr JB menyapa indra pendengaranku saat aku sedang berjalan terburu menuju tempat bartender. Mr JB bukanlah orang bule, ia orang Korea tulen yang tergila gila dengan film James Bond. Agak dipaksakan juga sebenarnya, menjuluki dirinya sebagai Mr James Bond. pria itu pendek, bertubuh gempal dengan model rambut yang agak dipaksakan. Sama sekali tidak mirip dengan James Bond. Sepintas kau akan mengira ia tak beda dengan ahjusshi-ahjusshi hidung belang yang datang ke bar ini. tapi harus kuakui, Mr JB orang yang baik.
"ah Mr JB, aku sedang tidak enak badan kemarin." Kataku bersungguh sungguh saat Mr JB sudah berada tepat di depanku. Aku tidak bohong, kemarin kemarin aku baru saja dihantam buku oleh si gila Irene, Ingat?.
Mr JB menatapku lekat lekat, ia seperti memastikan bahwa malam ini aku cukup baik baik saja untuk bekerja. Aku melempar senyum simpul.
"baiklah. Ayo mulai bekerja." Katanya lagi, mempersilahkan ku untuk mulai bekerja mengantarkan minuman ke meja meja.
.
Saat itu aku sedang berada di meja bartender, Heechul,salah satu bartender yang bekerja malam ini sedang sibuk melempar lempar botol dan berlagak sombong pada customer customer wanita sexy yang berjejer duduk didepannya. Entah untuk mengharapkan tip yang besar atau selangkangan mereka. Aku tidak perduli.
Aku mengacuhkan kegiatan tebar pesona Heechul, dan otakku sibuk berfikir lagi.
.
.
"jadi kau mengatakan bahwa Oh Sehun adalah Mafia? Lalu apa kau bisa menjelaskan sikapnya yang aneh padaku? Dan siapa itu Bianca Adams?"
"anak itu…" Seokjin menyempatkan dirinya untuk tersenyum kecil sebelum melanjutkan kata katanya. Ia tampak menerawang sesuatu.
"Sehun tidak pernah menyadari ayahnya sendiri adalah pimpinan Mafia. Karena bisa dikatakan, Tuan Yunho sebenarnya juga tidak ingin Sehun menjalani hidup tidak tenang. Sehun nyaris tidak mengenali ayahnya. Namun aku bisa pastikan, ia sangat menyayangi Tuan Yunho. Bagaimanapun Juga, sebenarnya Sehun adalah pribadi yang baik.
"Sehari hari Sehun kecil hanya menghabiskan waktunya dengan para pelayan. Jangan tanyakan aku dimana ibu Sehun. Wanita itu meninggalkan Sehun dan Tuan Yunho begitu saja. kami berspekulasi bahwa wanita itu pergi karena tidak siap dengan kehidupan seorang keluarga mafia."
"lalu… apa ibu Sehun masih hidup?"
"Tuan Yunho mencarinya, lalu membunuhnya" Lagi lagi, Seokjin mengatakan hal itu dengan santai. seolah pembunuh, membunuh atau apapun dengan hal bunuh membunuh memang hal yang normal. Yaa tidak bisa disalahkan juga sebenarnya, mereka keluarga Mafia, sudah pasti hal ini biasa.
"rasa sakit hati bisa membuat orang buta, ya kan?" lanjut Seokjin saat menangkap gesturku yang tak begitu nyaman dengan obrolan ini.
"lalu siapa Bianca adams?" aku mencoba mengganti topik dari hal hal yang berbau pembunuhan. Semoga saja Bianca Bianca ini tidak dibunuh juga oleh Tuan Yunho. Seokjin menarik nafas dalam dalam seolah ia akan membeberkan hal yang sangat panjang
"pria seperti Sehun tentu dekat dengan banyak wanita bukan? Pria itu tumbuh menjadi orang yang sangat rupawan. Bisa dikatakan saingan beratku." Seokjin terkekeh pelan.
"berkali kali ia berganti wanita, sampai akhirnya 2 tahun lalu Sehun bertemu dengan wanita bernama Bianca adams. Tidak seperti kekasih Sehun sebelumnya, wanita ini bisa diterima dengan baik oleh keluarga kami. Wanita yang baik dan tulus. Tuan Yunho merestui keduanya. Dan bisa dikatakan sangat menyayangi Bianca. Tuan Yunho beranggapan, dengan Bianca lah Sehun bisa menjalani hidup normal dan bahagia. Ia bahkan merasa tenang jika suatu Hari Sehun meninggalkannya dan hidup bersama Bianca."
"lalu apa yang terjadi?"
"Bianca meninggalkan Sehun. Tak lama setelah itu, tuan Yunho mengalami kecelakaan-yang bisa kupastikan ini ulah dari saingannya. Sehun ingin sekali membawa Bianca kembali. Mungkin itu satu satunya cara tuan Yunho bisa sadar kembali. Dirawat oleh orang yang ia sayang. "
"yeah.. aku tau, kau pasti berfikrian bahwa untuk sekelas bos mafia, Tuan Yunho tampak sangat lembek. Melankolis dan berlebihan. Tidak menyeramkan seperti yang biasa ditampilkan di drama drama."
"tapi Tuan Yunho memang menyeramkan. Ia memang bengis. Tapi setiap orang keras pasti memiliki sisi lembut atau sisi kelemahan bukan? Jika hati tuan Yunho diisi oleh kebengisan, maka sebagian kecil hatinya yang lembut hanya diberikan untuk Sehun dan seseorang yang memberikan kebahagiaan untuk Sehun."
"seorang Bianca adams." Seokjin mengakhiri penjelasannya tentang cerita Romantis Oh Sehun dan Bianca adams. Ia kembali meminum minumannya.
"lalu, apa korelasi nya denganku?" kataku sambil ikut meminum minumaku yang belum tersentuh.
"entah kau percaya atau tidak, seolah dunia ini memang tidak normal. Anehnya, Kau sangat mirip dengan Bianca adams."
"hah?!" aku nyaris tersedak, aku bisa merasakan seidkit cairan alkohol masuk ke hidungku.
Apa yang Seokjin katakan barusan?!
.
.
Suara Heechul membuyarkan lamunanku, aku menoleh dan mendapati 1 botol minuman dan beberapa buah gelas di atas nampan
"tolong antarkan ini Luhan." Kata Heechul sambil kembali meracik minuman. Setelah tau kemana meja yang dituju, aku segera mengambil nampan itu dan menuju meja tersebut. Kondisi Bar cukup ramai dan padat, tapi tidak sepadat otakku. Rasanya banyak sekali pikiran yang berputar. Membuat kepalaku pusing.
Aku harus ba-
Prang!
"astaga, maafkan aku." Reflek aku kembali ke kesadaraan normalku saat bunyi nyaring itu terdengar. Dengan bagusnya aku baru saja menumpahkan gelas kepangkuan tamu, gelas itu lalu tergelincir dan jatuh berkeping keping dilantai.
"KAU BUTA?!" hardiknya, seorang pria tua jelek yang ditemani beberapa pelacur. Sepertinya aku kenal salah satu dari mereka.
"maaf-maaf.." kataku sambil memungut puing puing gelas, sementara si tua Bangka itu masih sibuk dengan sumpah serapahnya. Tak bisa kupungkiri, kejadian itu sedikit menarik perhatian sampai Mr JB datang menghampiri kami
"ada apa ini?"
Aku bisa mendengar keluhan dengan nada menyebalkan dari si tua Bangka itu pada Mr JB yang menanggapinya dengan setenang mungkin, untuk pria pemilik bar, Mr JB memang berbeda. Dengan sikap seperti itu, ia lebih cocok menjadi pemilik kedai kopi.
Setelah selesai memungut pecahan gelas, aku segera kembali ke belakang, masalah selesai saat Mr JB menawarkan 1 botol minuman gratis. Tapi kali ini, yang mengantarkan pesanannya adalah pelayan lain.
Mr JB memanggilku lagi saat aku baru saja keluar kamar mandi karena tanganku sedikit berdarah. Tanganku tak sengaja tergores pecahan kaca. Yeah, tidak besar. Tapi tetap saja harus dicuci.
"Luhan, ada apa yang terjadi padamu?" Mr JB kembali lagi muncul tiba tiba.
"tidak apa apa, aku minta maaf Mr JB." Kataku bersungguh sungguh. Aku belum lama kerja disini dan sudah memberikan kesan negative. Rasanya tidak pantas
"kau terlihat tidak fokus." Kata Mr JB saat melihat raut wajahku. Mungkin ia menyadari aku sedang banyak pikiran. Atau sebenarnya ia cenayang? Entahlah.
"hm.. terlihat sangat jelaskah?" Mr. JB mengangguk. "pulang dan beristirahat lah. Kau butuh meluruskan otakmu."
"tapi-"
"tenang saja aku tidak akan memotong gajimu. Lebih baik kau kuliburkan daripada membuat kekacauan terus. Kembali lagi saat kau sudah lebih baik" sahutnya singkat.
"terima kasih. Aku berjanji hal ini tidak terulang." Setelah anggukan singkat, bosku itu pun berbalik dan kembali pergi. Sementara aku menuju lokerku untuk berganti baju dan bersiap pulang.
Cukup lama aku menunggu taxi yang lewat, setelah 20 menit berdiri akhirnya ada sebuah taxi yang berhenti. Setelah mengatakan kemana arah tujuanku, aku hanya bisa menyendarkan kepalaku di jendela, menunggu sampai di apartemen Sehun.
Sehun..
Sehun..
Segala hal tentang Sehun lalu kembali teringat di otakku.
.
.
"ya, aku masih ingat saat Sehun menghubungiku dan Monica. Ia mengatakan bertemu Bianca dan betapa bahagiannya dia. Tapi ia tidak yakin karena perempuan itu terdaftar di absensi dengan nama lain. Sehun pun mengawasi mu sampai akhirnya kau datang ke pesta White Mask di hotelku. Ia harus memastikan kau Bianca atau bukan dengan membeli dirimu." Aku mengernyitkan dahiku. Setahuku, aku bukan anak kembar. Dan sangat kebetulan sekali Sehun bertemu denganku yang notabene nya sangat mirip dengan Bianca. Astaga, Tuhan pasti benar benar sedang mempermainkanku sekarang.
"Jika begitu., Sehun pasti mengalami kerugian besar besaran karena membeliku. Aku bukan Bianca. Ia baru saja membeli orang yang salah." Aku tertawa remeh lalu mengambil minumanku dan menenggaknya banyak banyak.
"tidak juga." kata Seokjin santai.
"setelah Sehun melihat tidak ada tanda lahir di punggungmu seperti yang Bianca miliki, itu membuktikan kau memang bukan orang yang ia cari. Tapi yaaa. Bukan artinya ia rugi. Malah bisa dikatakan ini memudahkan dirinya."
"memudahkan?"
"begini Luhan. Jika kau Bianca, cinta pertama Sehun, ia pasti sudah menjagamu mati matian. Ia tidak akan membiarkan orang lain menyentuhmu. Saat Sehun mencintai seseorang, sikapnya akan berbeda. Dan yang aku lihat terhadap dirimu bukan seperti itu. Mudah yang aku maksudkan adalah karena kau bukan Bianca, ia tidak perlu repot repot untuk menjagamu secara extra atau takut kehilanganmu. Ia tidak perlu terlalu khawatir jika suatu hari kau meninggalkannya. Intinya ia tidak harus berkorban banyak hal untuk melindungimu. Yeah, karena kau tau sendiri kan, bagaimana keluraga mafia."
"tapi… ia pernah menyelamatkanku di taman saat di China, ia juga terlihat marah saat aku dipukuli segerombolan wanita gila." Sahutku. Entah karena tidak terima, cemburu atau apa. Tapi nada yang terlontar dari mulutku terdengar berbeda. Aku tidak tau, karena aku pikir semua ini aneh. Jika Sehun merasa tidak harus terbebani untuk melindungi diirku, lalu kenapa ia terbang ke China dan memukuli pria hidung belang saat itu?
Seokjin tersenyum simpul "ia hanya melindungi asetnya Luhan, tidak lebih."
Oke, itu menyakitkan.
"kau asetnya sekarang. kau diperlukan untuk menemani tuan Yunho. Semua ini semata mata karena ayahnya, bukan karena ketulusan hati Sehun."
Harus kuakui itu menyakitkan. Aku juga bingung kenapa. Toh, sebelumnya aku juga bekerja pada para binatang. Lebih rendah draipada sebuah asset. Tapi entah kenapa mendengar Sehun menganggapku hanya sebuah asset, membuat sedikit rasa nyeri di sudut hatiku. Sial.
"jadi… aku hanya dibayar sebagai pengganti seseorang bernama Bianca? Sebagai duplikat?"
Seokjin mengangguk. "ya. Dan hanya bersifat temporer. Sehun masih mencari Bianca sekarang. tugasmu selesai saat ia menemukan wanita itu."
"aku tidak mengerti." Kataku sambil mendengus. "kau bilang Sehun ingin mencari Bianca, tapi sebelumnya kau mengatakan bahwa aku memudahkan Sehun. Jika aku Bianca pasti ia harus menjaga ku sepenuh hati. Lalu apa bedanya jika ia sudah menemukan wanita itu? ia juga harus menjaganya kan? Kalau memang ia tidak ingin repot repot menjaga Bianca, untuk apa ia mencari wanita itu lagi."
Seokjin tersenyum bijak "karena mereka masih memiliki urusan yang belum selesai. Dan jika ia sudah berhasil menemukan Bianca, lalu kondisi tuan Yunho sudah membaik. Bisa dipastikan ia akan keluar dari dunia mafia, mengganti identitasnya jika perlu dan memulai hidup baru. tepatnya Setelah Tuan Yunho sadar dan memutuskan siapa pengganti Sehun untuk melanjutkan takhta bisnis gelap ini."
"apa… ia berencana untuk pergi bersama Bianca?"
"aku tidak tau. dan itu bukan urusanku." Ada hening yang cukup panjang diantara kami. Aku berusaha memproses omongan Seokjin dari awal sampai akhir. Aku termenung. Sementara Seokjin,aku bisa merasakan pria itu sedang menatapku lekat lekat.
Ah iya, masih ada sesuatu yang belum terjawab. Aku mendongakan kepalaku dan menatap Seokjin yang tengah memandangku.
"Kau belum menjawab kenapa Sehun tidak pernah menyentuhku? Apa hanya karena aku bukan Bianca?"
"hahaha, Luhan, Sehun tidak sepolos itu. ia juga lelaki dan memiliki hasrat. Melakukan hubungan Sex tak harus berlandaskan rasa cinta bukan? Bagi laki laki, bermodalkan nafsu juga bisa."
"lalu?"
Seokjin diam sebentar, ia tidak meminum minumannya atau menerawang. Pria itu menjeda omongannya hanya untuk menatapku dengan tatapan lebih dalam dari biasanya. Ia memajukan sedikit badannya agar bisa lebih jelas memandangku-atau ingin lebih menekankan omongan yang akan ia bicarakan-entahlah. Tapi aku merasa suasana aga sedikit berbeda.
"Sehun memiliki sisi gelap. Ia akan berubah menjadi monster saat menyangkut 'ranjang'. Hanya Bianca yang tahan dan bisa memberikan kepuasan sesuai karena mereka melakukannya dengan cinta? Entahlah. Sehun sering meniduri wanita tapi ia bilang rasanya tak sehebat bersama Bianca." Seokjin kembali memundurkan dirinya sambil mengedikkan bahu
"Monica mungkin bisa menandingi Bianca, tapi tidak. tidak ada yang boleh menyentuh kekasihku."
"jika ia menarikmu di Ranjang-Bukan hanya sekedar foreplay atau memuaskanmu tanpa kejantanannya-kau pasti akan tumbang luhan. Dan ingat apa yang kukatakan, kau asetnya, ia tidak ingin kau lecet sedikitpun."
Kata Seokjin sambil tersenyum miring. Aku kesal. Mengapa rasanya Seokjin terdengar seperti sedang membandingkan kemapuan ranjangku dengan Bianca?
"jadi.. aku hanya barang rapuh yang ia jaga?"
Seokjin mengangguk singkat
"sampai waktu yang ditentukan? Dan Sehun adalah monster yang hanya bisa Bianca taklukan?" kataku lebih terdengar seperti pernyataan, bukan pertanyaan.
"itulah Sehun yang sebenarnya." Tegas Seokjin.
Flashback end
ooo
Aku turun dari Taxi dengan langkah gontai, mataku terbuka lebar lebar tetapi pikiranku entah terbang kemana. Sehun memiliki banyak sekali misteri. Sekarang aku baru mengetahui bahwa kehidupan sebagai Dosen hanyalah sebuah kedok.
Entah apa yang membuatku gelisah, menyadari Sehun adalah keluarga mafia, aku hanya dibeli untuk duplikat, atau kenyataan ia tidak akan mau menyentuhku. Tapi intinya aku merasa tidak nyaman.
Begini ya, aku jelaskan pada kalian. Jika kalian sering membaca buku atau menonton sebuah film dimana seornag wanita akan bersikap polos dan lucu, bisa kukatakan, itu semua bohong.
Tidak semua wanita seperti itu. Contohnya, aku.
Aku bagaikan macan betina yang kelaparan, aku juga memiliki kebutuhan dan Sehun tak memberikannya. Lalu aku tidak boleh dekat dengan pria lain? Memangnya dia siapa?!
Silahkan sebut aku murahan, tapi aku pikir perasaan ini wajar. Bayangkanlah, setiap hari aku tinggal bersama Sehun, pria tampan bertubuh atletis. Kami tidur seranjang! Bahkan sesekali berciuman dan melakukan kegiatan lain (meskipuntidak sampai Sex) Ayolah, jangan munafik. Jika kalian ada dalam posisiku kalian juga pasti akan meminta lebih.
Entah aku merasakan hal ini hanya karena penasaran pada kehebatan Sehun, merasa tersaingi oleh Bianca-karena harus kau tau, aku tipikal wanita yang tidak mau kalah-atau.. sebenarnya aku sudah menyukai Sehun?
Semoga Bukan alasan yang ketiga.
Aku sampai di depan pintu unit apartemen Sehun, setelah membuka pintu dengan acsess card dan memasukan password, pintu itu terbuka. Suasana apartemen temaram, hanya sebuah lampu baca yang menyala di dekat sofa besar di ruang TV
Aku melihat Sehun sedang duduk sambil membaca buku dengan kacamata bacanya. Segelas Kopi berada diatas meja. Aku bisa menebak, kopi itu sudah dingin dari tidak adanya asap yang mengepul keluar.
Sehun memakai celana tidur dan kaus yang serba panjang. Percayalah, jika kau melihat Sehun sekarang, kau pasti tidak akan mengira ia seorang dari keluarga Mafia. Ia layaknya seperti Dosen muda normal pada umumnya.
"Kau pulang larut?" Sehun bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari bacaannya saat ia mendengar suara pintu yang kututup.
"iya aku ada urusan." aku menyahut singkat.
"kemana?" pertanyaan Sehun barusan menghentikan langkahku yang tengah berjalan menuju kamar. Aku berhenti, lalu menoleh kearah Sehun yang berada tak jauh di sisi kiriku.
"apa urusanmu" hmmm terdengar cukup ketus. Tapi aku tidak perduli. Sehun menghela nafasnya dalam dalam lalu menutup buku yang ia baca. Pria itu melepas kacamatanya dan bangkit. Ia berjalan kearahku sampai akhirnya kami berdiri berhadapan.
"kemana kau pergi Luhan?" Sehun bertanya sambil melipat tangannya. Aku mendengus remeh. Aku perlu mendongak agar bisa menatap lurus lurus matanya.
"bisakah kau hentikan sikap protektifmu itu? kau tidak perlu repot repot mengkhawatirkanku. Tenang saja aku tidak akan bertindak bodoh dan membuat rugi dirimu. Aku tidak akan membuat asetmu ini dalam bahaya. Bagaimanapun juga kau sudah berinvestasi dengan jumlah tinggi kan?"
Sehun terdiam. Apa aku berbicara terlalu cepat sampai dia tidak bisa menangkap maksudnya? Tapi kemudian, ia membuka suaranya
"apa maksudmu?" tanya Sehun sambil mengernyitkan dahinya.
Apa aku harus menjelaskan semuanya? Tapi rasanya tidak. aku lelah sekali dan tidak ingin menemui Sehun sekarang. aku kesal padanya karena menyembunyikan hal sebesar ini padaku.
"sudahlah. Aku ingin istirahat." Aku berkata sambil menyingkir dari hadapan Sehun. Baru juga selangkah Sehun sudah menahan lenganku.
"lepas." Kataku mencoba tetap tenang. Bisa saja aku menendang selangkangannya sekarang, tapi aku takut ia akan meledakan kepalaku. Ingat kawan, ia itu mafia.
"aku sudah mengetahui soal dirimu." Kataku kemudian, mengurungkan diri untuk menendang dirinya. Cengkraman Sehun masih melingkar sempurna dilenganku. Aku berusaha tenang meskipun bisa ku akui dadaku berdegub kencang. Aku memalingkan wajah, berusaha mungkin agar Sehun tidak melihat jelas raut wajahku saat ini.
"setidaknya jika memang kau membeliku untuk menjadi seorang duplikat, katakan yang sebenarnya. Jika kau memang tidak mau menyentuhku, bilang saja. aku juga wanita dewasa yang memeiliki hormone Sehun!"
Cengkraman Sehun mengendur, aku menatapnya lagi.
"kau meremehkanku?" Sehun masih terdiam. Ia memandangku tanpa berkedip.
"entah bagaimana-mantan kekasihmu-Nona Adams memuaskanmu di ranjang, pasti sangat hebat sampai kau mengira aku tidak mampu seperti dirinya. Well, itu terserah kau. Tapi aku muak dengan kebohonganmu. Setidaknya kau beri tau padaku Sehun. apakah kau pernah berfikir menjadi aku?"
"bagaimana rasanya bersikap jadi orang lain, bagaimana jika nanti Tuan Yunho benar benar mengira aku Bianca, bagaimana nanti aku kehilangan kontrolku atas dirimu!"
Oke aku kelepasan soal yang terakhir. Sehun pasti mengira aku sudah menyukainya.
Sial.
Tapi sudahlah, aku tidak bisa menarik omonganku lagi. Aku menarik nafasku dalam dalam, mencoba menetralkan deguban ku yang tak normal.
"aku bukan gadis lugu, mungkin aku pernah menjadi gadis lugu, tapi tidak sekarang. Aku tidak masalah jika kau menjadi monster. Mungkin kau lupa, aku mengais uang dari desahan desahan monster hidung belang" kataku sambil tertawa pahit. Ya, para pelangganku pun bisa dikatakan sebagai monster.
"setelah mandi, aku akan tidur disofa. Mungkin lebih baik bagi kita tidak berada dalam 1 kamar yang sama." kataku sambil melepaskan cengkramannya. Aku berlalu begitu Saja, Sehun tidak menahanku lagi. Tapi tiba tiba sebuah suara (lagi lagi) menghentikan langkahku.
"apakah… kau baru saja merasa tergoda olehku?" tanya Sehun datar.
"aku tidak tahu." Kataku singkat tanpa membalikan badan. Baru saja mau melangkah lagi, tiba tiba Sehun menarik tanganku dan menempelkanku di dinding. Mataku terbelalak. Aku belum sempat mencerna apapun saat tiba tiba Sehun melumat bibirku.
Lumatannya menuntut, begitu dalam, jelas sekali sebuah ciuman yang panas. Sehun pandai berciuman asal kau tahu. Ciuman pria itu tidak basah, tidak meninggalkan air liur dimana mana. Jelas bukan sebuah ciuman dari Seorang Remaja yang baru kenal dengan kehidupan 'nakal'. Sangat lihai, sangat pandai dan sangat memabukan.
Kedua tangan Sehun menahan tanganku di dinding, sungguh, ciumannya ini membutaku sedikit keteteran untuk mengimbangi. Ia melepas ciuman di bibirku yang sekarang sudah membengkak, aku yakin sekali lipstick ku sudah habis dimakan olehnya.
Dadaku naik turun, entah karena nafasku memburu atau karena aku kekurangan oksigen? Entahlah aku tidak mau tau.
Sehun belum melepaskan cengkramannya. Tanganku masih menempel di dinding sejajar dengan kepalaku. Wajah Sehun hanya berjarak beberapa inci dari wajahku yang menghangat. Tidak mungkin itu karena minuman alkohol yang kuminum tadikan?
"how's it?" tanya Sehun dengan sebuah nada berat yang belum aku pernah dengar. Matanya sayu. aku juga bisa mencium aroma pasta gigi dan kopi dari mulutnya.
"good." Aku menjawab begitu saja seolah terhipnotis dengan wajah Sehun yang sangat dekat. Ia tak berkata apa apa lagi. Kemudian Sehun menarik wajahnya lengkap dengan sebuah smirk andalan lalu beranjak pergi sambil menarik tanganku.
"mau apa kau?! Semburku sambil mencoba mengimbangi langkah Sehun
"kau sudah melewati batas Nona Luhan. Aku membiarkanmu berada diluar garis tapi kau malah menerobos masuk. Kau masuk kedalam kehidupanku, mencuri tahu soal rahasiaku, sekarang, kau tidak akan aku biarkan keluar." Kata Sehun dengan penuh penekanan sambil berjalan. Meskipun pria itu tidak menatapku, tapi aku bisa merasakan aura dinginnya dari setiap kata yang meluncur. Kami berjalan menuju sebuah lemari kaca berisi botol wine mahal. Lemari itu terpaku begitu saja ke dinding. Aku tidak tau mengapa Sehun membawaku kemari.
Sehun melepaskan tangannya saat kami sudah berdiri di depan lemari kaca itu. tak lama, ia menekan tombol kecil yang terselip di dinding dekat lemari. Posisinya tersembunyi, aku bahkan tidak tau ada tombol itu.
"jika kau merasa kau ahli menangani monster di ranjang-" Kata Sehun bersamaan dengan lemari kaca tadi yang tiba tiba bergeser dan menunjukan sebuah ruangan dibaliknya. Aku tercengang atas kecanggihan apartemen Sehun dan merutuki diriku kenapa aku tidak menyadari tombol itu.
Tapi tiba tiba rasa tercengang ku berubah menjadi rasa kaget dan kepanikan saat melihat jelas apa ruangan dibalik lemari kaca itu.
Ruangan yang cukup luas. Berwarna burgundy yang temaram karena cahanya yang minim. Ada sebuah ranjang disana. Namun yang membuatku tercengang adalah banyaknya atribut Sex BDSM yang tersebar diruangan itu. Bondage, Borgol, Cambuk, penutup mata, beberapa tiang, dan alat alat lain yang aku tidak tau apa namanya.
Belum sempat kembali ke kesadaranku, Suara Sehun terdengar lagi. Pria itu sudah berdiri di belakangku sekarang dengan nafas yang mengelus tengkukku.
"-aku akan menunjukanmu, bagaimana Monster sesungguhnya." Kata Sehun dengan nada dingin dan berat yang membuat bulu kudukku kembali berdiri.
Oh Tuhan…. Ini benar benar gila.
.
.
.
I'm creeping in your heart babe
I will overturn you, break and swallow you,
Yeah I steal you and indulge in you
I will ruin you
I will live forever
Even if I die, I'm carved in your memory
Come here girl,
You call me monster
I will enter your heart
.
.
.
TBC
A/N:
Haaa maaf aku baru update. Aku usahain selalu update setiap weekend tapi banyak kendalanya :" aga down juga karena sidersnya banyak banget T^T
Okeoke, jadi sudah dijelaskan ya di chap ini. awalnya aku mau naro sex nya di chap sekarang tapi nanti malah kepanjangan hehehehe (mianhe). Jadi aku pending sampe chap depan
(its full mature content btw, jadi adik adik dibawah umur mohon jangan membaca ya)
Nah, kan rahasianya udah kebongkar nih.. kira kira kalian masih tertarik ga untuk baca Sexy Lu?
Jangan lupa reviewnya ya… terima kasih udah baca *kecupmanja*
Gomawo:*
-Moza
