Sexy Lu.

Main Cast:Luhan(GS), Sehun, Kris

Pairing: Hunhan, Krishan, slight Chanbaek&Kaisoo

Rated: M

Warning: typos, cerita aneh, mature content

GS, DLDR.

enjoy

.

.

Chapter 8

Entah kenapa atmosfer saat itu menjadi hening sekali. Aku bahkan bisa mendengar degub jantungku yang kencang. Kaki ku melangkah perlahan memasuki ruang burgundy tersebut, seolah tersedot oleh serangkaian alat yang masih membuatku tercengang. Jadi ini yang Seokjin maksud sebagai Monster?

Jadi ini yang seokjin coba katakana padaku bahwa… Sehun adalah seorang sadist?

Tunggu dulu.

Sehun?!

Aku membalikan badanku cepat cepat, menemukan Sehun sedang bersandar di dinding yang sudah kembali menutup. Ruangan itu menjadi temaram tapi aku bisa melihat jelas raut Sehun. Tidak ada smirk, tidak ada raut wajah datar. Yang ada hanya sorot mata tajam yang seolah menelanjangiku, aura Sehun begitu mencekam meskipun pria itu sedang melipat tangannya sambil berdiri santai.

Suara ku tercekat. Sial! Aku belum pernah menangani pria sadist sebelumnya. Aku tidak akan bohong, aku benar benar ketakutan. Kepercayaan diriku atas kehebatan Sex yang aku miliki menguap entah kemana. Ini benar benar gawat.

"Se-"

"diam." Sehun tidak membantah dengan nada tinggi. Melainkan ketenangannya yang luar biasa. Tapi tetap saja itu berhasil membuat aku bungkam dengan kengerian yang menjalar disetiap jengkal tubuhku.

"kau yang meminta ini kan Nona Luhan." Sehun menghampiriku sambil melipat tangannya.

"aku tidak akan membiarkanmu keluar begitu saja." Sehun berdesis dengan titahnya yang tak terbantahkan. Aku terdiam, semoga saja Tuhan masih menyelamatkanku diruangan ini.

.

.

Aku berlutut dengan keadaan telanjang sementara Sehun masih memakai pakaian lengkap. Ia menghampiri sebuah lemari yang berisi berbagai macam cambuk. Lalu memilih sebuah cambuk berwarna merah. Aku tersentak saat Sehun menutup lemari itu penuh emosi. Membuat suara benturan yang menyeramkan.

"tutup matamu." Kata Sehun pelan sambil berjalan kearahku. Aku bisa merasakan tubuhku gemetar saat derap langkah itu semakin dekat. Aku berusaha memejamkan mataku meskipun ketakutan yang aku rasakan memaksa membuka kelopak mata yang kini tertutup.

"buka tanganmu."

Aku membuka tangan kananku dan mengangkatnya perlahan. Rasa dingin menyapu permukaan kulitku sampai-plak! Sehun menampar tanganku dengan tangannya.

"sakit?"

"tidak."

"lihat, rasa sakit hanya diciptakan karena ketakutan." Sehun berkata lagi. Seolah mencemoohku atas rasa takut yang seharusnya tidak aku rasakan. Tapi mau bagaimana, aku baru mengetahui dia mafia dan mengurung diri dalam ruangan penuh peralatan seperti ini dengan seorang keturunan berdarah dingin, faktanya membuatku merinding.

Plak!

Yang ini sakit, Sehun mencambukku di punggung dengan cambuknya yang membuat perih.

Plak!

Plak!

Plak!

Rasa menyengat dipunggungku membuat setetes air mataku jatuh. Se-mengenaskan ini kah hidupku. Udara dingin tampaknya tidak membantu sama sekali. Tubuhku semakin berguncang. Entah berapa lama hawa dingin menusuk kulitku, rasa pusing mulai menyergap. Mungkin karena aku belum makan? Atau pikiranku berputar?

Entahlah, yang aku tahu rasa sakit itu semakin samar sampai akhirnya aku tidak sadarkan diri.

ooo

Aku terbangun diatas ranjang kamar Sehun dengan pakaian tidur. Aku mengedarkan pandanganku tapi Sehun tidak ada ditempat. Yang aku temui hanya secarik post it yang tertempel di dekat kasur.

"istirahatlah. Sebaiknya kau tidak usah pergi kuliah hari ini."

Aku berdecih. Selalu saja seperti ini. Selalu saja Sehun tidak menyelesaikan apa yang dia mulai. Aku mendesah pasrah. Apasih yang aku harapkan?

Sebaiknya, mungkin mulai sekarang, akut idak terlalu mencampuri urusan Sehun lebih dalam.

.

.

Setelah mandi (dengan kesusahan karena punggungku masih terluka) aku memutuskan untuk membuat kopi hangat. Aku sudah terbiasa dengan situasi hening ini sampai tiba tiba pintu menjeblak terbuka

"Good Mor-"-prang! Suara Monica yang tiba tiba mengagetkan ku membuat genggamanku terlepas. Kopi panas itu pecah dan tumpah dilantai.

"ah maaf maaf." Kataku seraya membereskan kembali pecahan itu. Kenapa aku jadi kagetan seperti ini? Mungkin tubuhku masih bereaksi waspada atas kejadian semalam. Monica dengan wajah khawatirnya segera berlari kearahku. Ketukan sepatu heelsnya menggema di pantry.

"tidak, aku yang minta maaf telah mengagetkanmu. Sekarang, kau duduk saja dan biar aku yang membereskan ini semua." Katanya sambil mengambil alih. Ia memaksa aku untuk duduk dimeja makan. Aku tdak enak sebenarnya, tapi aku sedang tidak dalam mood untuk bersih keras. Jadi aku turuti saja dia.

"Luhan, kau sudah makan?" tanya Monica setelah membereskan kekacauan tadi

"sudah." Bohong. Aku tidak ingin makan.

"bagus. Tapi kau harus makan lagi." katanya sambil menaruh sebuah kantung bersi makanan diatas meja makan didepanku."aku tidak menerima kata tidak." lanjut gadis itu saat ia menangkap sorot mata penolakan dariku.

.

.

Aku memakan sup itu dengan tenang. Hanya keheningan yang menyelimuti karena kau tidak berniat membuka suara apapun. Sementara Monica tengah menatapku dengan tatapan.. ehm.. iba?

"ingatkan aku untuk menghajar Sehun nanti." Katanya bersungguh sungguh.

"maksudmu?"

"tingkahnya sudah keterlaluan! Aku berharap Seokjin menghabisinya sekarang. bisa bisanya ia melakukan ini padamu! Ini sudah sangat berlebihan."

Aku tersenyum pahit "tidak Monica. Wajar kok. Bukan kah Sehun memang seorang sadist?"

"dominant." Koreksinya.

"maksudnya?"

Monica menghela nafas bijak sebelum akhirnya membuka suara. Menjelaskan padaku soelah dominant dan sadist adalah hal yang berbedah jauh. Seperti langit dan bumi.

"Lu, BDSM itu bukan suatu hal yang semerta merta melakukan kegiatan Sex gila gilaan. Tidak semuanya selalu sadistic. Aku tidak akan menjelaskan lebih jauh karena aku bukan ahlinya. Tapi dalam kasus Sehun, dia adalah dominant. Menikmati saat pasangannya menuruti kemauannya. Dia bukan pria sadistic yang akan menghajarmu lalu membobol lubangmu membabi buta. Tidak. Sehun tidak akan melakukannya jika kau tidak setuju."

"lalu.. kenapa dia melakukan ini padaku?"

"Sehun tidak ingin kau melewati batas lagi Luhan. Dia tidak ingin kau menggodanya lagi. Tidak bersih keras untuk tidur dengannya. Karena Sebenarnya Sehun dalam proses untuk meninggalkan kebiasaan tidak normalnya itu."

"semenjak Bianca meninggalkan Sehun, pria itu selalu berspekulasi banyak hal. Mungkin saja Bianca juga tidak tahan dengan kegiatan sex dominant-submissive mereka. Oleh sebab itu Sehun ingin meninggalkan kebiasaannya dan menjadi normal. Tapi seperti yang kau tau, kebiasaan lama susah hilang dan kau malah memperkeruh dengan menggodanya. Stop teasing him Lu!"

Aku menghela nafasku. Jadi dia semalam hanya menghukumku? Untuk membuatku takut, begitu? Wah, kau berhasil sekali bung.

"baiklah. Lagi pula dia juga tidak akan mendiuriku. Dia memerlukan wanita polos penurut diranjang untuk menjadi submissive kan? Sementra aku wanita jalang yang terkadang aggressive. Dia pasti tidak akan melirikku." Kataku kemudian sambil mengedikkan bahu. Monica tersenyum penuh arti.

"satu hal yang harus kau ingat, dia tetaplah pria dewasa yang normal. Ia tetap memiliki nafsu yang tinggi. hanya karena ia dominant, bukan berarti ia tidak pernah terangsang padamu." Katanya lagi. dari sorot matanya, sepertinya ia baru saja memberi tahuku bahwa Sehun bisa menerjang ku kapan saja.

Ayolah, itu tidak mungkin. Aku dan sehun tidak akan tidur bersama.

Cukup. Aku tidak akan menggodanya lagi.

Bukannya aku takut, tidak(sedikit sih) aku hanya…. Sudah lelah. Jika ia tidak menginginkanku, yasudah. Aku akan menjaga jarak dengannya.

ooo

Author P.O.V

flashback

Sehun menyatroni mansion Seokjin pagi harinya. Langkah kakinya menghentak penuh emosi, matanya kelam. Jujur saja, ia sudah naik pitam sekarang. Sebuah pistol sudah tersimpan sempurna di balik jas pria itu. ia akan meledakan kepala Seokjin nanti.

Dor! Sehun menembakan pintu kamar Seokjin hingga berlubang, peluru itu bersarang di pintu kamarnya yang anti peluru. Meskipun tidak tembus, tetap saja menimbulkan bunyi bising yang sangat kentara. Para pelayan dilantai bawah bahkan berlarian keatas, memastikan jika tuannya baik baik saja. Para pengawal Seokjin sekarang sudah membidik Sehun dari jarak jauh.

Kenop pintu berputar, membuat benda persegi panjang itu terbuka. Sehun dengan sigap mengacungkan pistolnya pada kepala Seokjin yang terlihat baru bangun tidur.

"this is how you visit your cousin?" Seokjin berujar malas, seolah ditodong pistol dikepala bukanlah hal besar. Cklek "put it down, Sehun." Monica berujar dengan nada dingin yang sama sambil menempelkan pistol di pelipis Sehun. ia tidak menyadari kekasih Seokjin itu berada dibalik pintu.

"kita mau begini terus atau mau masuk kedalam? Ayolah, aku belum memakai baju." Kata Seokjin santai. Sehun merasakan ujung besi pistol yang menempel pada rusuknya. Seokjin dengan sigap juga mengeluarkan senjata dan membidik sepupu kurang ajarnya itu.

"fine." Sehun memasukan kembali pistol miliknya, diikuti Monica dan Soekjin. Sang tuan rumah memberi isyarat pada para penjaga untuk mundur dan membiarkan mereka berbicara.

Sehun masuk kadalam ruangan itu. Berantakan. Seokjin memang tidak pernah bermain lembut jika bercinta. Seokjin hanya memakai boxernya sementara Monica memakai lingerie berbahan sutra.

"akan aku tinggalkan kalian bicara berdua." Kata Monica sambil bersiap keluar kamar.

"pergilah kerumahku, temani Luhan." Sehun berujar dingin, membuat Monica memutar tubuhnya dengan alis menukik tajam. Ia tahu Sehun seperti apa, dan yang ia takutkan, Sehun sudah melakukan hal yang tidak tidak pada Luhan "kenapa?"

"aku membawanya ke Burgundy Room. Dan… menghukumnya." Monica membelalakan matanya tidak percaya, sementara Seokjin hanya menggelengkan kepalanya pelan. "what?! Are you serious?! Se-"

"sudah, temui saja dia." Sehun memotong amukan Monica yang akhirnya membuat si bule itu berheti bicara dan segera bersiap mandi dan pergi. Meninggalkan Seokjin dan Sehun dalam urusan mereka semula.

"sejauh mana kau bicara pada Luhan?"

"sejauh apa yang ia ingin tanyakan." Seokjin berujar santai sambil menyodorkan kaleng bir yang tadi ia bawa. "jelaskan padaku!"

"tidak. aku akan memberikanmu 3 alasan."

"pertama, kau menggunakan bahasa banmal. Astaga, aku ini lebih tua darimu."

"yang kedua, kau menghambur masuk kerumahku. Menembaki pintuku. Menggangu morning sex ku. Sungguh tidak sopan."

"dan yang ketiga, aku ingin kau menghadapi rentetan pertanyaan Luhan sendiri. Tanyakan saja langsung padanya apa yang ia ketahui dariku. Kau bahkan bisa menjelaskan hal yang menurutnya kurang ia pahami. Apa yang aku katakan padanya kemarin hanya sebatas pihak ketiga yang memberikan jawaban."

Sehun terdiam, Seokjin menikmati detik detik ini. Saat dimana Sehun dibungkamkan oleh fakta.

"Sehun. Dia memiliki kontrak denganmu. Jika kau ingin semua berjalan dengan lancar. Hentikan permainan sembunyi sembunyimu. Dan jujurlah padanya."

Seokjin menenggak kaleng birnya sambil menerawang "aku melihat… Luhan orang yang baik. Ada sesuatu dalam dirinya dan aku bisa meraskaan itu. dia pasti mengerti. Yeah, memang dari luar tak bisa kupungkiri aura jalang dan nakalnya sanga terasa. Tapi ia bukan tipikal wanita berbahaya yang akan mencakarmu tiba tiba."

Sehun meraih kaleng bir dan meminumnya. Emosi pria itu sudah reda. Tidak perlu meminta maaf atas kerusakan yang ia timbulkan dirumah Seokjin, atau Karena telah mengacungkan pistol pada sepupunya. Mereka sudah terbiasa dengan hal itu. Senjata bagaikan gadget mutlak meskipun mereka bukan anggota aktif sindikat mafia.

"sudah ada kabar apapun soal Bianca?" Sehun menggeleng pelan.

"tenanglah.. Tuan Yunho pasti akan sadar. Dan semoga saat itu, Bianca kita sudah kembali."

ooo

Pintu apartemen terbuka. Saat itu aku sedang duduk diatas sofa ruang tengah saat Sehun masuk tanpa mengucapkan salam. Dari penampilannya, aku rasa ia tidak pergi ke kampus hari ini. Penampilannya terlalu casual, dan uhm, aku mencium bau alkohol dari mulut pria itu.

"kau sudah pulang rupanya. mandi lah, aku akan menyiapkan makan malam untukmu." Kataku kemudian sambil bersiap menuju dapur.

"aku sudah makan tadi."

"begitukah? oke, jika kau tidak mau makan malam. Ada yang bisa kubantu lagi?"

Sehun menggeleng, dari sorot matanya, ia seperti merasa janggal dengan tingkahku yang tiba tiba berubah. Jika sebelum sebelumnya aku akan menelanjangi Sehun dengan tatapan penasaran, kali ini aku malah bersikap seolah tidak perduli.

Iya, ini lah yang akan aku lakukan sekarang.

"jika tidak ada, aku akan pergi tidur. Selamat malam Sehun" aku duduk lagi di sofa lalu merebahkan diriku disana, menarik selimut yang tadi sudah kupersiapkan. Sehun mengernyitkan dahinya."Luhan, kenapa kau tidur di sofa?"

"sudah kukatakan, sebaiknya kita tidak berada dalam satu kamar yang sama." aku menyahut mencoba masa bodoh.

"masuk kedalam." Titah sehun dengan nada bossy nya seperti biasa. Ia bahkan tidak perlu waktu lama untuk berfikri sebelum bicara.

"ta-"

"turuti kata kataku." Aku menghembuskan nafasku kasar lalu segera masuk kekamar. Merebahkan diriku dan menarik selimut setinggi tingginya. Aku bahkan tidak menoleh saat Sehun menutup pintu kamar dan masuk kedalam kamar mandi. Aku juga tidak bergerak seinci pun saat dia membaringkan tubuhnya disampingku.

Hanya kegelapan dan bunyi jam berdetik yang menyelimuti malam kami.

"Sehun. Apa kau sudah tidur?" aku berujar tanpa membalikkan tubuhku. Malam itu tepat tengah malam dan aku masih belum bisa tidur sama sekali. aku bisa mendengar nafas Sehun yang teratur. Sudah pasti ia tertidur sekarang.

"aku minta maaf atas tindakanku kemarin."

"pergi menemui Soekjin tanpa izinmu. Menggodamu sampai akhirnya kau kembali membuka ruangan itu. Monica bercerita bahwa sudah lama kau mengubur dalam dalam kebiasaan Dominant-mu."

"aku juga bukan gadis submissive yang bisa menjadi slave mu. Aku liar. Entah aku juga tidak paham sejak kapan aku begini. Tapi Sehun… sex bukanlah kontak fisik semata bagiku. Kau tidak tau bagaimana perihnya menjalani hidup sebagai wanita panggilan." Ada rasa nyeri saat kenangan pahit itu sempat terbersit diotakku.

"aku tidak membicarakan sakitnya saat pelangganku membobol lubangku saat masih kering. Tapi batin hun." Entah kenapa, suaraku berubah menjadi lirih,rasa sakit itu kembali terasa nyata

"kau tau sendiri bagaimana para mahasiswa memandangku.,bagaimana mereka menilaiku. Mungkin dari luar aku terlihat baik baik saja. Tapi tidak. Rasanya sakit, aku marah. Kenapa Tuhan membuat hidupku seperti ini. Aku marah dan kesal karena aku tau pandangan mereka tidak sepenuhnya benar. Aku tidak punya pilihan." Yang kutahu selanjutnya, air mataku mulai menetes. Jatuh ke pipi lalu bergulir ke bantal.

"sex bisa memberikanku ketenangan. Memang selama ini, ketenangan yang aku inginkan belum aku raih. Mungkin karena aku belum melakukannya dengan orang yang tepat? you know, asal dasar suka sama suka. Aku tidak punya kekasih asal kau tau."

"siapa juga yang mau menjadi kekasih wanita panggilan seperti ku kan? Aku ini najis besar." Aku mendengus remeh. Tangisanku belum berhenti. Hidung yang mempet nyatanya membuat suaraku berubah. Tapi aku tidak menghentikan omonganku. Tidak perduli walaupun Sehun tiak mendengarnya.

"tapi setidaknya dengan melakukan Sex, aku mengiyakan pendapat mereka bahwa aku memang wanita menjijikan. Dengan begitu aku tidak akan ada alasan untuk marah. Dengan begitu, mereka benar, dengan begitu aku tidak perlu kesal karena penilaian keliru mereka."

"tapi aku mengerti. Ini masalahku. Bukan masalahmu. Setidaknya terima kasih telah membantuku Sehun. Setelah 6 bulan ini berakhir, aku harap Bianca kembali padamu." Kataku sambil mengahapus setiap tetes air mata yang jatuh dengan punggung tangan.

Dan aku menemukan kebahagiaanku.

.

.

Keesokan paginya, aku bangun dengan kondisi ranjang yang kosong. Sehun kembali meninggalkanku seperti kemarin. Mungkin ia sudah pergi ke kampus-atau pergi mengurusi urusan lainnya?-entahlah, aku sudah tidak ingin perduli.

Jujur saja, kehidupanku sudah terlalu banyak masalah. Aku tidak ingin menjebloskan diriku dalam masalah yang lebih besar dan lebih kelam. Sudah waktunya aku tidak mencampuri urusan Sehun.

Aku segera bersiap kuliah speerti biasa. Dengan sarapan segelas air putih, aku berangkat pergi. Nafsu makanku menguap entah kemana. Ingatkan aku untuk membeli makan setelah pelajaran selesai nanti.

.

.

Yang aku tau, Sehun tidak datang ke kampus. Aku tidak menemukannya sata mata kuliah yang diajkarkan dosen itu dimulai. Alih alh Sehun, asisten Dosen kami malah menggantikan mata kuliah dengan tugas paper yang menjenuhkan. Bagus, sekarang ak harus mencar bahan bahan paper ku yang akan sangat menyita waktu. Aku sangsi bisa mengerjakannya di Lucky One bar.

Hari itu pelajaran selesai dengan jadwal mata kuliah yang padat, aku bahkan belum sempat makan seperti rencanaku sebelumnya. kaki ku lemas, mataku mulai berkunang kunang. Aku rasa berisirahat di apartemen lamaku adalah ide bagus. Semoga saja masih ada makanan layak makan dikulkas. Aku lapar.

Aku baru saja mencapai gerbang utama saat melihat sebuah mobil sport mewah terparkir melintang di depan gerbang. Sial, orang sombong mana yang berani beraninya memarkirkan mobil disini? Posisinya sedikit menutupi jalan seolah sedang mamerkan mobil limited edition itu. Awalnya, aku kira itu Junmyeon, tapi setelah melihat gadis yang tengah menyender di mobil dengan angkuhnya membuat aku mendengus malas.

Sedang apa dia disini?

"ah! Luhan! Disana kau rupanya!" Baekhyun meghampiriku setengah berlari, membuat ketukan heelsnya terdengar jelas. Ia melepaskan kacamata hitamnya sebelum menubruk diriku dan memberikan pelukan super erat. Aku belum sempat merespon karena sibuk megap megap menghirup oksigen. Sejak kapan Baekhyun sekuat ini?

"sedang apa aku disini?"

"siapa itu?" tanyaku lagi sambil melempar pandang pada sesosok lelaki yang tengah duduk dibalik kemudi.

"Chanyeol" jawab Baekhyun dengan nada riang.

"ayo. Aku ingin mengajakmu makan siang!."

Tarik kembali rasa kesalku karena disatroni tiba tiba. Untuk sekarang, keselamatan perutku lebih penting.

.

.

.

"kenalkan ini Park Chanyeol. pacarku."

Aku tidak tahan untuk tidak tersenyum geli saat Baekhyun mengatakan Chanyeol adalah kekasihnya. "hallo Chanyeol. aku Luhan."

"Chanyeol. pacar Baekhyun."Oke, pria ini sama tidak warasnya dengan Baekhyun. Menjadi wanita simpanan selama beberapa bulan bukan berarti otomatis dirimu menjadi kekeasih. Jika seperti itu, berarti aku pacar Oh Se-whoa. Tunggu dulu. Omong kosong apa itu barusan.

"jadi.. kami sudah resmi berpacaran." Kata Baekhyun malu malu. Kenyataan itu sontak membuatku tersedak

"ma-maksudmu?"

"Chanyeol dan aku memutuskan hubungan kontrak kami dan menjalani hubungan normal. Layaknya kekasih."

" secepat ini?" wow, baru sekitar dua minggu lebih dan Chanyeol bersedia mengencani Baekhyun? Hebat benar.

"lebih cepat lebih baik. aku yakin sudah jatuh cinta padanya sejak pertama bertemu. Aku tidak perduli masa lalu Baekhyun. Aku mencintainya." Sekarang Chanyeol yang menjawab sambil menatap Baekhyun dengan tatapan memuja. Aw, manis sekali. ya, yang penting kau bisa menerima dadanya yang rata-batinku.

"a-apa yang lains udah tau?"

"ya begitulah. Kyungsoo memekik kaget. aku rasa dia iri. Hahahaha, semoga saja liburan nya di Hawaii tidak terganggu karena kabar itu. Sementara Zitao sama tidak percayanya dengan Kyungsoo."

Aku pun begitu, Baek.

"tapi aku yakin mereka bahagia untukku."

"kami memang selalu mendukungmu. Tentu sja kami bahagia Baekhyun" dan sangatttt iri tentu saja. Baekhyun bisa dibilang maknae diantara kami berempat. Pemain paling muda di dunia wanita panggilan. Jam terbangnya tak setinggi Tao, aku dan Kyungsoo. Tapi sialan juga sisenyum kotak ini, dia berhasil keluar dari lingkaran setan lebih cepat dari kami.

"kau sendiri bagaimana Lu?" nah, ini pertanyaan yang paling aku malas jawab. Kondisiku dan Sehun stagnan. Apa yang mau aku bicarakan?

"begitu begitu saja."

"menyenangkan sekali kalian berpacaran. Kyungsoo sedang liburan. Tao juga sedang dimanja habis habisan dengan si bule Kenddrick. Aku penasaran apa yang akan dilakukan Oh Sehun padakau"

"maaf.. apa kau baru saja bilang Oh Sehun?" Chanyeol berceletuk, membuatku yang sedang bicara dengan Baekhyun keheranan. Aku mengangguk samar.

"kau wanita yang dibeli Oh Sehun?"

"iya.. ke-kenapa?" Chanyeol mengangguk angguk mengerti

"Oh Sehun memiliki reputasi tinggi di dunia bisnis. Kami kenal satu sama lain. Tidak terlalu dekat tapi kami beberapa kali bermain golf bersama. Yang sejauh aku tau, Oh Sheun pria tertutup. Aku nyaris mengira dia Gay karena tidak dekat dengan wanita manapun."

Hentikan anggapan kalian kalau Sehun Gay! Batinku menjerit frustasi berbarengan dengan memori kejantanan Sehun yang berdiri di depan wajahku. Bagaimana mungkin seorang gay bisa ereksi sehebat itu saat melihat wanita telanjang?

Dan jika iya, sangat disayangkan sekali penis sebesar itu hanya bisa dirasakan oleh lubang pria. Sementara aku yakin, banyak wanita yang rela mengemis ngemis untuk sekedar merasakan batang itu bergerak masuk kedalam.

Hatiku sempat mendengus remeh. "seperti dirimu!" katanya mencemooh.

"kau beruntung Luhan. Oh Sehun adalah pria paling sulit untuk ditaklukan. Aku sempat menyodorkan dia beberpa wanita untuk menghiburnya saat perjalanan bisnis kami suatu waktu. Tapi tak ada yang berhasil." Kata Chanyeol. Mungkin maksudnya ingin membuatku bangga? Tapi kenapa aku tidak merasakan apapun ya. "Sial. Aku membayar mereka mahal mahal." Chanyeol bergumam pelan.

Aku tersenyum pahit. "iya. Aku sangat beruntung."

Tidak! Bianca adams lah yang beruntung. Aku hanya kebetulan mirip dengannya.

.

.

Terima kasih untuk Chanyeol yang telah mentraktirku makan siang. Aku masih tidak percaya pasangan dengan tinggi paling kontras itu akhirnya berpacaran. Baekhyun menang banyak! Ia lah orang yang lebih tepat menyandang kata ' beruntung'

Baekhyun sempat memandangku heran dengan tatapan khawatir saat aku minta diturunkan di rumah sakit. Mungkin ia berpikir Sehun menyiksaku sampai sakit sakitan. Nyaris sih sebenarnya aku membatin saat kejadian di Burgundy room teringat jelas.

"aku hanya ingin menjenguk teman. Terima kasih untuk makan siangnya. Sampai jumpa!" kataku beralibi sambil melangkah masuk ke gedung rumah sakit.

Oke. Ini pertama kalnya aku mengasuh bos mafia. Semoga saja saat pulang dari rumah sakit, kepalaku masih terpasang sempurna di leher.

.

.

.

"Nona adams." Siwon menyambutku dengan senyum nya yang tampan. Ia mempersilahkanku masuk begitu saja. Kedatanganku sudah ditunggu.

Aku berjalan ragu ragu kearah ranjang, mencoba mencari ide apa yang harus aku lakukan. Maksudku, aku tidak tau Bianca Adams seperti apa. Bagaimana caranya aku bsia berpura pura menjadi dirinya.

"saya pikir, anda akan datang dengan Tuan Oh." Kata Siwon lagi sambil mempersilahkanku duduk didekat ranjang. Aku menggeleng pelan sambil tersenyum. "Sehun sedang sibuk. Aku yakin ia akan menyempatkan dirinya kemari."

"tuan Seokjin baru saja mampir. Ia pergi tak lama sebelum anda datang. Ah mau minum Nona?"

Sial. Harusnya aku datang lebih cepat. Setidaknya dengan ada Seokjin mungkin ia bisa menyelamatkanku dari situasi canggung ini. aku berterima kasih saat Siwon memberikanku jus jeruk segar.

"aku akan meninggalkan anda dengan Tuan Yunho. Jika anda butuh apapun, anda bisa memanggil saya diluar." Siwon pamit undur diri lalu pergi keluar kamar. Meninggalkanku dengan bos mafia yang terkapar lemah.

Aku menghela nafas panjang saat memastikan Siwon sudah berada jauh dari radar pendengaran. "selamat sore Tuan Yunho. Perkenalkan aku…"

"...aku Bianca Adams. Sudah lama sekali kita tidak bertemu." Aku tidak pernah sebingung ini berkenalan dengan seseorang.

"kau pasti bosan ya? Baiklah. Aku akan membacakan berita terkini." Kataku sambil duduk disebuah kursi besar dekat ranjang. Mengambil ponselku dan browsing beberapa berita yang sedang hangat akhir akhir ini.

"hmm kau suka berita apa? Apakah harus kubacakan soal politik?" kataku sambil men-scroll kebawah, memilah milah topik yang cocok untuk dibicarakan (satu arah). Ingat. Satu arah, karena Tuan Yunho tidak menjawab sedikitpun.

"…ah tampaknya berita politik sedang tidak bagus saat ini. kau butuh berita ringan yang menyenangkan. Ah! Bagaimana kalau ini."

"group boyband EXO akan menggelar konser terbaru mereka bulan depan."

"kau tau EXO?" kataku bersemangat sambil menoleh ke arah Tuan Ynho.

"lagu lagu mereka bagus. Sekali kali kau harus mendengarnya." Kataku lagi. anggap saja tuan Yunho menyahut.

.

.

.

"Nona Adams. Sudah waktunya makan malam. Ada yang permintaan Khusus untuk makan malam anda kali ini Nona?" Siwon masuk kembali, aku sedikit gelagapan karena menyetel lagu EXO dari ponsel untuk aku perdengarkan pada Tuan Yunho. Buru buru aku mematikan lagu itu. Takut jika Siwon aku menendang bokongku karena bersikap lancang.

"ah.. aku-"

Kata kataku berhenti begitu saja saat mendapati sosok yang kukenal masuk kedalam kamar.

"Sehun?"

Siwon yang menyadari arah pandangku segera memutar tubuhnya dan membungkuk hormat pada sang pewaris tunggal organisasi mafia itu.

"tuan Oh."

"kami baru saja akan menyiapkan makan malam. Akan aku siapkan untuk kalian berdua."

"tidak perlu. Aku ingin menjemput Bianca pulang. Dia akan kembali ke rumah sakit besok sore." Kata Sehun yang diiyakan penuh kepatuhan oleh Siwon.

"ayo, mari kita pulang." Sehun mengulurkan tangannya, aku mengerjap ngerjapkan mataku beberapa kali. Masih sedikit kikuk dengan akting sebagai Bianca ini. ah, kau memang tidak berbakat menjadi actress.

"aku pulang dulu, paman. Sampai jumpa besok." Kataku sambil membungkuk pada Tuan Yunho. Lalu berpamitan pergi. Sehun merangkulku sampai akhirnya kami sudah cukup jauh dari kamar tersebut. Ia kembali menarik lengannya dan memasukan kedalam saku.

"ayah." Kata Sehun pelan. Aku menoleh kearahnya. Dia sedang bermonolog atau mengajakku bicara?

"Bianca memanggil Tuan Yunho dengan sebutan ayah." Katanya. Ohhh. Ya bagaimana? Aku kan tidak tau.

"kau sendiri?"

"Tuan Yunho. terkadang aku memanggilnya abeoji."

Aku mendengus. "sepertinya Bianca lebih sopan pada ayahmu ketimbang dirimu sendiri."

"Bianca lebih dekat dengan abeoji. Aku sibuk dengan urusan bisnis dan…" kata kata Sehun menggantung. Ia berdehem sebelum emlanjutkan omongannya lagi.

"…bisnis yang lain. Mengetahui ayahmu adalah pimpinan tertinggi sindikat gelap terbesar di Asia Timur saat umur 18 tahun bukanlah hal yang mudah." Mungkin, membeberkan kenyataan tersbeut adalah pilihan sulit bagi Sehun. Aku bisa mengerti. Pria itu tertutup. Bisa jadi ia hanya tidak siap berbagi rahasia nya denganku.

Lagipula, memangnya aku siapa sih? Tiba tiba aku merasa tidak enak karena sudah terlalu ikut campur

.

.

"kau ingin makan apa?" Sehun bertanya pelan saat kami sudah berada dijalan pulang.

"Aku rasa malam ini aku tidak ingin makan banyak. Bisakah kita makan dirumah? Aku bisa membuatkan pasta, atau bulgogi kalau kau mau. Aku sudah makan siang banyak seklai dengan Chanyeol dan Baekhyun."

"Baekhyun?"

"ia temanku. Wanita yang dibeli Chanyeol. Kau kenal dengan dia kan?"

"ah.. keluarga Park. Tentu saja. dia keluarga paling kaya di Korea nomor dua."

.

.

Aku dan Sehun sampai di apartemen, kami berdua langsung menuju kamar. Tidak, bukan ingin melakukan itu. Aku hanya menaruh tas lalu bersiap memasak makan malam.

"kau mandi duluan saja. aku akan menyiapkan makan malam." Kataku sambil beranjak keluar. Baru selangkah, Sehun yang berdiri tidak jauh dari pintu menahan lenganku ku. Tanpa suara, ia menutup pintu dengan tangan lainnya yang bebas.

"ada apa denganmu Luhan?" Sehun bertanya dengan nada dingin sedingin malam itu.

"tidak ada apa apa. Memangnya kenapa?"

"kau bersikap aneh." Sehun melipat tangannya sambil menghujaniku dengan tatapan yang membuatku merasa berdosa. Tepat seperti seorang ayah yang menghukum anaknya,

"aku tidak papa. Sudahlah, aku ingin menyiapkan makan malam." Aku melangkah lagi tapi Sehun lagi lagi menahanku.

"I hate a liar."

Aku menghela nafas frustasi. "okay okay!"

"aku hanya bersikap normal, oke? Aku minta maaf karena mencari tahu lebih dalam soal mu. Aku hanya muak dengan sikap mu yang membuat jantungku seperti roller coaster! Kau menggodaku, tapi lalu kau meninggalkanku! Seperti kemarin. kau bertingkah akan meniduriku-meskipun dengan kelainan sexualmu-tapi ternyata tidak."

Aku mendongak, menatap Sehun tepat dimatanya. Memberikan tatapan setajam yang aku bisa. "aku hanya minta satu hal padamu. Jangan memulai sesuatu yang tidak kau inginkan. Jangan mulai sesuatu yang tidak akan kau selesaikan. Jangan mengasihani kebutuhanku." Aku membiarkan diriku menatapnya lebih lama beberapa detik. Menekankan bahwa penuturanku barusan adalah hal serius. Tapi Sehun masih menatapku dengan tatapan datar andalannya. Merasa hal ini hanya sia sia, aku kembali melangkah.

Tapi Sehun mencengkram kedua lenganku tiba tiba. Kemudian, Sehun menciumku begitu saja. Begitu menuntut dengan lumatannya yang mendominasi. Tangannya ia bawa kerahangku untuk memperdalam ciuman kami, aku bisa merasakan hidung mancungnya menempel sempurna pada pipiku saat ia memiringkan kepalanya. Lidah tak bertulang sehun melesak masuk kedalam mulutku dengan paksa, mengabsen setiap baris gigi seolah memastikan tak ada satupun yang tertinggal. Pernahkah kukatakan betapa hebat ciuman sehun? Tidak ada tetesan saliva yang jatuh. Tidak ada air liur yang membasahi dagu dan bibirku. Ciumannya tidak basah dan tidak amatir. Aku membuka sedikit mataku saat melihat mata Sehun terpejam penuh nikmat. Bulu matanya menggelitik kelopak mata, memberikan sensasi lugu atas tindakannya yangmembuat tubuhku memanas. Awalnya aku kaget, tapi godaan akan nafsu yang tersimpan dalam diriku memutuskan untuk menyerah dan menikmati setiap hal yang Sehun lakukan padaku.

Sebuah lenguhan lolos dari mulutku saat Sehun menurunkan pagutannya pada perpotongan leherku dan memberikan kissmark disana. Ia menjilat penuh nikmat seolah leherku adalah makanan terlezat dari surga, kakiku lemas seperti jelly dan dengan mudah Sehun menidurkan tubuh kami diatas ranjang. Mengkukuhkan badanku dengan tindihannya yang posesif.

Ia kembali pada bibirku, lumatannya semakin panas sehingga membuat suara decakan menggema dikamar. Aku tidak mau kalah, aku melepaskan pagutan itu sepihak dan menciumi telinga sehun. Menghembuskan nafas sensual padanya sebelum menggigit telinganya. Sehun menggeram. Belum lagi tanganku yang menjambak pelan rambut halus nya saat Sehun menenggelamkan kepalanya pada dadaku, menjilatnya dibelahan payudara, membuatku merasa basah diselatan sana. Hanya seperskian detik Sehun memundurkan badannya untuk membuka kaus yang ia kenakan. Aku belum sempat bergerak saat Sehun dengan tanggapnya merobek bajuku.

Iya, merobek.

Setelah berhasil membuat bajuku rusak dan melepaskannya entah kemana, Sehun menyentakku sampai aku tertelungkup sempurna, ia menciumi belakang leher sampai pnggung, membeirkan kissmark diluka luka ku yang tidak akan hilang selama berhari hari. Seolah meminta maaf telah menyababkan bekas luka kemerahan itu ada disana

Ia sampai di tali bra hitam ber branded yang ia belikan padaku waktu lalu. Sehun mengigit kaitannya sampai terlepas. Sementara kedua tangannya sibuk meremas bokong kenyalku. Begitu menakjubkan bagaimana seorang Sehun bisa menanggalkan pakaian ku dengan cara yang tidak biasa. Aku terkesiap saat merasakan tali braku mengendur, ditambah saat rokku dilepas begitu saja.

Keadaanku sekarang hanya memakai g-string warna hitam sementara Sehun masih memakai celana jeansnya. Ugh ini tidak adil.

Aku membalikan badanku dan mendudukan diri, menarik Sehun dengan penuh nafsu. Sehun yang berdiri di ujung ranjang, menatapku penuh arti sementara aku mencoba membuka resletingnya dengan tatapan menggoda.

Jangan lupakan, bibir merahku yang membentuk smirk menantang. Belum sempat tanganku berhaisl, Sehun sudah mendorongku dengan kasar hingga aku terlentang kembali.

"wait for it, Ms Luhan." Kata Sehun dengan nafas menderu sambil menciumi dadaku. Mengulum, menjilat, mengigit putting si kembar seolah ia adlah bayi besar. Sementara stau tangannya yang bebas meremas penuh nafsu seolah ia tidak ingin terlepas barang sedetik pun.

Aku mendesah, bergerak gerak gelisah. Ditambah kulit kami yang tidak terbalut benang apapun saling bersentuhan. Aku bisa merasakan tubuh kekar atletisnya, tanganku ku bawa ke perut sixpack Sehun dan mengusapnya pelan.

Aku semakin menurunkan jemariku menuju kejantanannaya, menyelinap masuk sampai aku merasakan kain boxer Sehun yang halus. Aku masuk lagi sampai aku merasakan underwear Calvin Klein yang suka ia pakai. Dadaku berdegub kencang saat akhirnya meraskaan penis menegang Sehun dibalik sana.

Penuh

Besar

Tegang

Satu tanganku bahkan tak cukup untuk menggenggam penuh.

Sehun menggeram saat genggamanku mengerat dan mengocok batang kebanggaannya. Sial, celana sempitnya sedikit menyusahkanku.

Sehun lagi lagi bangkit berdiri begitu saja, melepaskan tautan tanganku pada si Mr P yang kutunggu kedatangannya. Ia melepaskan seluruh pakaian yang masih tertempel menyebalkan menutupi Mr P.

Suaraku tercekat saat melihat kejantanannya yang berdiri mengacung sempurna. Demi tuhan, penis Sehun memang semakin membesar atau aku saja yang lupa ukurannya?

Sehun tertawa remeh saat melihat mataku membulat sempurna. Wajahku memanas. Oh tidak, jangan memerah. "Lu, kau wanita jalang, kau tidak tersipu malu saat melihat penis dengan luar biasa besar!". Sebagian diriku bermonolog

"tapi itu terlalu besar! Gila!" sebagian dari diriku yang lain menimpali. Ah aku setuju dengannya. Wtf, makan apa si Sehun ini?

Sehun membaringkan tubuhnya disampingku lalu menariku keatasnya dalam posisi terbalik: 69

"do it!" titahnya sambil merobek (lagi) g-stringku.

Kami sudah sepenuhnya naked sekarang.

Aku menunduk pada kejantanan Sehun yang mengacung didepan wajah, dengan perlahan aku memasukan Mr P kedalam mulutku. Ini terlalu besar, belum sepenuhnya masuk, ujung penis Sehun sudah menabrak kerongkonganku.

Pikiranku semakin tidak fokus saat aku merasakan Sehun menjilat dan melesakan lidahnya pada liang kenikmatan. Membuatku merinding. Mendesah penuh kepasrahan saat titik nikmat dalam diriku disapa oleh lidah basahnya. Sehun menyentak pinggulnya, membuat Mr P semakin masuk kedalam mulutku.

Aku yang sempat terbuai, kembali pada pekerjaanku tadi. Mengulum menjilat, menghisap. Bahkan aku menyapa kedua bola kembar Sehun dibawah sana. Menjilatnya perlahan sampai terus naik keatas, ke pucuk Mr P. lalu kembali mengulumnya.

Segala kata yang menjabarkan sebuah kenikmatan, tak mampu menggambarkan apa yang aku rasakan sekarang.

.

.

.

30 menit sudah kami melakukan foreplay panas, aku sempat merasakan sesuatu keluar dari diriku yang kemduian dijilat oleh Sehun. Sementara pria itu belum juga mencapai klimaksnya.

Sehun menidurkanku dengan posisi terlentang kembali. Sementara badanku sudah kehilangan energy yang tak sedikit. Kuberi tahu ya, bagi wanita, mencapai klimaks itu tidak semudah yang kau kira.

Jujur saja nih, selama meladeni para pelanggan, aku jarang sekali mencapai klimaks. Jadi, bukan sesuatu yang tidak normal saat seorang wanita keluar, ia merasa badannya lemas. Jadi jika kau menemukan seorang wanita yang bisa keluar terus tanpa henti. Itu bohong teman. Kenyataannya, Klimaks tidak semudah itu.

Dan apa tadi barusan? Aku klimaks hanya karena licking? Entah aku yang payah, atau lidah Sehun memang sehebat dewa. Aku masih tidak habis pikir bagaimana Sehun bisa smenakjubkan itu dalam Licking.

Sehun bangkit lalu berjalan ke nakas. Ia membuka laci dan megambil sesuatu yang aku tau apa itu.

"I don't usually wear caps, but we need to play safe." Kata pria itu dengan nadanya yang.. err sexy? Sehun memuka bungkusan tersebut dan memakai kondom pada kejantanannya. Aku bertaruh itu adalah kondom beurukuran besar.-dan bahkan tidak bisa menutup sempurna kejantannanya-astaga.

Sehun naik keatas ranjang lagi. Ia menarik kedua kakiku dan menaruhnya diatas pundaknya. Dadaku berdesir saat dengan perlahan ia memasukan kejantanannya dalam diriku.

Pelan pelan seka-OUCH!

Astaga! Demi tuhan!

Fuck!

"hhh.. hhh" nafasku memburu saat Penis sehun masuk seutuhnya dalam lubangku. Ukurannya yang besar dan panjang membuatnya dengan mudah menyentuh titik terdalam tanpa harus menghentak masuk. Membuaiku dengan sentuhan gairah yang meluap luap.

Gila, bagaimana saat ia menggenjot nanti?

Sehun menatapku dengan tatapan mata sayu, sama seperti sorot mataku sempat menyunggingkan smirk andalannya sambil berkata dengan nada yang bisa mmebuat bulu kudukmu berdiri.

"welcome to the real sex, honey."

Dan setelah kalimat itu terucap, Sehun menerjang hole ku tanpa ampun.

"aarghhhh" desahanku tak bisa kutahan lagi. Ini akan menjadi malam yang sempurna. Melampiaskan nafsu yang sudah lama membuncah.

.

.

.

"enggh"

"hhh"

"arghhh"

"nggg.."

Desahanku dan geraman Sehun bersahut sahutan,dibawah sana, Sehun sibuk menusukku dengan kecepatan gila gilaan. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku bukan perawan. Tapi kenapa having sex dengan Sehun seolah memberikan sensasi ia sedang merenggut virginku? Seolah ia baru saja merobek selaput daraku?

Penisnya yang besar bergesekkan dengan dinding lubangku, sementara pucuk nya mengenai titik sempurna kenikmatan yang menggodaku untuk melepaskan madu lagi. Ia tepat emngenai g-spot bahkan saat baru saja melesak masuk.

Nafasku memburu, tubuhku melengkung sempurna, dadaku membusung, menampilkan payudaraku yang kembali megencang. Rambutku berantakan dan beberapa helainya tercetak didahiku karena keringat.

Aku menatap Sehun yang membobol lubangku penuh nafsu, matanya terpejam penuh nikmat. Sesekali ia menggeram dan mencengkram pinggulku agar penisnya semakin terjepit dan masuk lebih dalam.

"Oh fuck!" aku meracau tidak jelas saat rasa memabukkan itu membuat kesadaranku menurun. Lubangku basah, basah sekali. Ada sensasi menggelitik di perutku serta rasa aneh menyenangkan dibagian terdalam diriku saat Sehun berkali kali menuburk G-spotku tanpa ampun.

Kami berganti posisi, dalam hitungan detik, aku sudah menunduk dengan Sehun yang bergerak gerak dibelakang.

Doggy style.

Headboard ranjang berantuk atuk pada dinding, menemani bunyi daging menabrak daging yang menggema. Fap fap fap

Plak! Jangan lupa spanking yang dari tadi Sehun lakukan.

Penis besar Sehun seolah mencapai perutku saat posisi ini kami lakukan dengan kecepatan gila. Aku sendiri sudah keluar 2 kali. Tapi Sehun? ia bahkan belum terlihat lelah.

Peluh peluhku berjatuhan, badan kami lengket karena keringat. Yang aku kagumi selain ukuran Sehun adalah endurance-nya. Pria itu berstamina luar biasa. Aku bahkan tidak akan heran jika Sehun kuat menggenjotku sampai besok pagi. Sehun adalah perwujudan dewa sex yang sempurna.

.

.

.

Terhitung dua jam lebih Sehun membobolku tanpa ampun. Kami sudah berganti posisi (lagi) missionaris dengan aku yang memeluk Sehun. Rangkulan tanganku sudah mulai mengendur dan mataku memutih karena lelah.

Nafasku juga tersengal karena sibuk merasakan kenikmatan sialan ini dengan stamina ku yang tak segila Sehun. aku lemas, lututku bergetar sementara Sehun masih asik dalam dunia nya. Uh, belum lagi ciuman panas yang suka Ia daratkan pada bibir, leher, dan boobsku.

Pria gila!

"whaddup babe?" Sehun bertanya meledek saat melihatku yang hampir tumbang, aku menatap Sehun sayu. Pria itu tampak menggairahkan dengan rambutnya yang basah karena keringat. Dadanya mengkilap sementara bibirnya merah

Aku baru saja ingin menjawab sampai sensasi aneh mulai menerjangku lagi. oh astaga. Bukan. Ini bukan klimaks seperti biasa.

Aku menatap Sehun dengan pandangan panik, berusah bergerak melepaskan tautan intim kami tapi Sehun menahan. Ia menyunggingkan senyum penuh arti, seolah mengerti apa yang terjadi pada diriku. Alih alih berhenti, ia semakin bergerak liar. Duh, aku memuja sekali gerakan pinggulnya itu.

"Se-sheun. Please Stop!" aku memohon, tidak pernah aku memohon berhenti. Tapi keadaan sekarang ini gawat. Sehun tidak menggubris omonganku dan semakin membuatku mendesah tidak karuan.

"Its okay. You can squirt" setelah beberapa tusukan, sebuah gelombang kenikmatan menerpaku, membuat tubuhku seolah remuk, luluh lantah bagiakan menabrak batu karang. Sesuatu dalam diriku mengalir deras, bersamaan dengan geraman penuh kepuasan saat Sehun juga mencapai klimaksnya. Aku bisa merasakan penis sehun berdenyut kala lelaki itu menyemprotkan spermanya.

Sementara cairan klimaksku masih terus mengalir deras dari lubangku. Membasahi seprai dan paha Sehun. Tubuhku bagikan tak bertulang, aku jatuh terkulai lemas. Badanku runtuh, tapi sebuah kelegaan maha besar merayap di dadaku, seperti seornag pelari yang berhasil menyentuh garis finis.

Seperti seorang burung yang terbang tinggi.

Seperti sbeuah tunas yang akhirnya mekar dengan sempurna.

Inilah nikmat sesungguhnya. Yang baru kali ini aku rasakan.

.

.

.

Sehun melepas kondomnya lalu mengambil tisu basah. Ia membersihkan kejantanannya dan juga lubangku yang basah dengan cairan sex kami.

Aku terlalu lelah sampai untuk membuka mata saja susah. Yang bisa aku rasakan hanyalah Sehun yang menggendongku ala bridal style ke ruang tamu. Menidurkan ku disofa. Ia lalu merebahkan dirinya dibelakangku sambil menyelimuti kami dengan selimut yang ia ambil dari laundry menyapu hidungku saat kain tebal itu menutupi tubuh telanjang kami.

Sehun mengusap rambutku yang berkeringat, lalu memelukku dari belakang. Sofa ini besar, tapi tetap saja cukup sempit untuk berdua. Namun aku tidak keberatan berbagi tempat dengan Sehun. tidur diatasnya pun aku rela.

"Luhan?" Sehun memanggilku dengan suara tenangnya.

"ng?" hanya sebuah gumaman yang bisa kukatakan. Aku terlalu lelah. "pergilah dengan Monica besok. Menemui dokter Kang."

"hm?"

"dia akan memberimu obat. Aku tidak ingin menggunakan kondom lagi."

"..ok"

"karena mulai sekarang, aku tidak akan lagi menahan diri padamu." hanya kalimat itu lah yang terakhir kudengar sampai kemudian kami jatuh tertidur. Malam itu, adalah tidurku yang paling lelap.

ooo

Aku berangkat lebih dulu karena Sehun memiliki jadwal mengajar nanti siang. Kelas pagi bukanlah hal yang menyenangkan sebenarnya. Tapi aku harus tetap datang jika mau lulus cepat dan membenahi masa depanku yang suram.

Aku merutukki diri saat memilih sepatu heels sebagai alas kaki pagi ini. Harusnya tadi aku pakai sneakers saja. Kenapa? Kenyataan bahwa menghabiskan semalam penuh kegiatan panas dengan Sehun , membuat badanku sedikt nyeri. Ah ralat, tidak sedikit. Benar benar nyeri. Oh Lord, apa yang ia lakukan pada tubuhku.

Belum lagi selangkanganku yang masih pegal karena mengangkang kemarin. Sepatu heels hanya akan membuat jalanku tampak seperti badut taman keseleo.

Tapi persetan dengan itu semua. Bitch, its Christian loubutin. Siapa sih wanita yang berani menolak pesonanya?

Mari lupakan soal Heels. Aku baru saja menyelesaikan mata kuliah pertamaku dan segera menuju ke laboratorium di gedung yang cukup sepi. Kelas memang masih dimulai tiga puluh menit lagi tapi aku mau sampai lebih dulu. Menghabiskan waktu sendiri dan merokok, terdengar oke.

Suara heelsku mengggema di lorong yang sepi. Aku baru saja merogoh tasku untuk mengambil sekotak rokok sampai tiba tiba seseorang menarikku paksa ke dalam kamar mandi lelaki yang jarang dipakai.

Aku berontak, tapi orang itu berdiri dibelakang sambil membekap mulutku. Mana aku bisa lihat!?

Apa ini Seulgi dan antek anteknya? Tidak. Mereka lebih suka menyerang terang terangan. Lalu… apa Junmyeon? Ah, tidak mungkin, pria itu tidak setinggi orang ini. Kau bisa tau karena kepalaku menabrak dadanya. Tinggi Junmyeon dan aku tidak begitu jauh.

Lalu who the fuck is this guy?!

"LEPASKAN!" Aku membentak saat kami berdua sudah masuk kedalam kamar mandi, tangannya yang menutup mulutku terlepas, rengkuhannya pun juga. membuatku berhasil untuk memutar tubuh dan menatap siapa orang sialan yang semena mena menarikku.

"hey Luhan. Sudah lama kita tidak bertemu." Pria itu berkata dengan sorot mata menelenjangiku.

Duh, dia sepertinya familiar. Sosok pria tinggi, putih, sepintas seperti bule dengan rahang tegas dan rambut berwarna blonde tengah berdiri di depanku.

Dia.. astaga! Dia yang menyerangku di acara White Mask. Sontak aku melangkah mundur, tapi ia lebih cepat.

Si pria kurang ajar ini menarikku lalu mendorongku masuk kedalam sebuah bilik.

"kau tidak boleh pergi. Urusan kita belum selesai, Nona" sahutnya dengan sebuah seringai. Aku baru saja ingin berteriak meminta tolong saat ia dengan brutalnya membungkam mulutku dengan mulutnya. Menciumiku dengan panas sementara tanganku ia kunci sedemikian rupa.

Sehun… aku Mohon…

Selamatkan aku.

.

.

.

TBC

A/N:

Seungil Chukkae hamnida Sehun oppa! Kupersembahkan ff abal ini untuk para hunhan shipper dalam rangka merayakan ulang tahun Sehun oppa. Aku juga update di hari ulang tahun Luhan, (kalau respon kalian positif)

Terima kasih udah baca, maaf mengecewakan karena gaada adegan BDSM nya. (next sex scene akan lebih 'sesuatu' hihihi)

Ohiya, bagi seluru EXO L indo, ayo download app AMINO dan join EXO L INDONESIA AMINO. Disana ada aku juga loh –emang lo siapa moz? Wkwk- tapi kita bisa ngobrol ngobrol seru, tuker berita uptodate soal EXO. Atau mau nagih update ff ke aku? Hahaha. Intinya kita bisa ngobrol bareng disana.

Aku tunggu kalian disana ya. :*

Jangan lupa reviewnya.

Gomawo!

-moza:*