Sexy Lu.
Main Cast:Luhan(GS), Sehun, Kris
Pairing: Hunhan, Krishan, slight Chanbaek&Kaisoo
Rated: M
Warning: typos, cerita aneh, mature content
GS, DLDR.
enjoy
.
.
Chapter 9
Kepalaku berputar, memikirkan bagaimana cara lepas dari cengkraman pria brengsek ini. Mulutku terkatup rapat, tidak bisa berteriak meminta tolong karena pemuda ini membungkamnya dengan ciuman panas yang menjijikan. Dadaku berdegub kencang, bukan hanya karena kekurangan oksigen tapi karena kepanikan yang melanda hebat.
"ARGGH!"
Pemuda itu akhirnya berteriak, melepaskan mulutnya dan pegangannya begitu aku berhasil menginjak ujung kakinya dengan heels ku yang runcing. Aku mendorong pria itu dengan kekuatan ku yang tersisa lalu segera pergi dari sana.
"aku akan menemukanmu!" teriakannya terdengar dari depan pintu toilet saat aku berlari sepanjang lorong, menimbulkan bunyi ketukan yang menggema. Tarik kembali rasa sesalku memilih memakai heels pagi ini. Nyatanya, Christian Loubutin berhasil menyelamatkanku sekarang.
.
.
Meskipun masih Shock, aku memutuskan untuk tetap mengikuti kelas selanjutnya. Sebisa mungkin aku mengusir bayangan tidak mengenakan tadi di benakku. Siapa pria itu? kenapa dia bisa ada disini? Dan.. bagaimana dia tau aku kuliah disini? Tapi semua rasa penasaranku terhenti saat tidak lama seorang dosen masuk keruangan dan memulai pelajaran.
Jujur saja, sepanjang pelajaran tidak ada satupun hal yang dibicarakan dosen itu masuk kedalam otakku. Mengerti saja tidak!. Tapi sesuatu berhasil menarik perhatianku saat pintu kelas terbuka. Kala itu, kelas baru saja berjalan tiga puluh menit. Terlalu dini untuk menyudahi pelajaran.
"ah. Anak anak. Tolong perhatiannya. Kita kedatangan mahasiswa pindahan baru." Suara dosen Lee membuat kepalaku reflek mendongak. Aku mengikuti arah pandang mahasiswa lain yang menatap ke arah pintu dan melihat seorang pria jangkung sedang berjalan menghampiri dosen Lee
Mataku terbelalak lebar, nyaris keluar dari tempatnya begitu aku menyadari siapa mahasiswa baru yang disebut dosen Lee. Itu pria sialan yang menarikku tadi ke kamar mandi.
"anak anak, perkenalkan Ini Kris. Pindahan dari Amerika. Mohon maklum jika dia tidak begitu mengerti budaya kita."
Aku bersumpah pria brengsek bernama Kris itu menyempatkan diri melihatku. Melemparkan senyum penuh arti yang membuatku semakin ketakutan. Jika mahasiswi lain malah terkesiap kagum atas ketampanannya, justru aku malah ingin menyambit mukanya dengan proyektor. Sialan!
Kris dipersilahkan duduk oleh dosen Lee. Aku benar benar merutuki diriku saat memilih bangku paling belakang-yang sepi-hingga si pria mesum itu akhirnya memutuskan untuk duduk disampingku.
Aku berusaha tidak terpancing oleh keberadaannya, bahkan saat dosen Lee sudah memulai pelajaran kembali. Aku memilih untuk kembali menenggelamkan kepalaku pada buku yang ada diatas meja.
"sudah kubilang kan, aku akan menemukanmu."
Dari ujung mataku, aku bisa mleihat dia tersenyum penuh kemenangan.
.
.
Aku buru buru pergi keluar kelas dengan langkah terburu. Tidak biasanya aku langsung ngeluyur keluar begitu dosen Lee menutup kelasnya dengan salam. Aku terbiasa keluar paling terakhir, menikmati situasi kelas yang sepi dan membenarkan make up ku. Tapi keadaan sekarang sedang kacau! Aku harus menghindari Kris. Berduaan dengannya dikelas sepi bukanlah hal bagus.
Ponselku bergetar. Menandakan sebuah notifikasi pesan masuk
Monica:
aku sudah berada di luar. Porsche warna putih
.
Oke. Aku segera kesana
Dengan menyempatkan menoleh kebelakang-memastikan Kris tidak mengikutiku-aku segera melangkah keluar kampus.
OOO
Bruk!
"astaga Lu. Tidak perlu sekencang itu." Monica terlonjak saat aku menutup pintu mobilnya kencang sekali.
"ma-maaf."
Gadis itu terkekeh pelan.
"ada apa? Kau terlihat seperti dikejar hantu" Monica bertanya saat kami suah meluncur kejalan raya.
"huh?"
"yeah. Dari cara kau jalan ke mobilku. Kau seperti orang ketakutan." Terlihat sekali kah?
"uhmm. Tidak apa apa" aku berbohong. Tidak mau membicarakan soal masalah Kris. Monica tampaknya tida puas dengan jawabanku, tapi dia mengurungkan niat untuk bertanya lagi. Dia hanya mengangguk angguk mengerti.
Aku menyenderkan kepalaku lalu mengalihkan pandangan ke jalanan di depan.
Kris. Ada urusan apa dia denganku?
.
.
Aku sampai disebuah rumah sakit. Bertemu dengan dokter Kang dan mengambil obat kontrasepsi yang disiapkan dokter cantik itu. Yang aku tebak, dokter Kang tampaknya sahabat dekat Monica dari cara mereka mengobrol santai dan akhirnya memberikanku barang yang dibutuhkan.
Aku juga menjalani beberapa tes untuk memastikan kondisi sel telurku dan berapa dosis yang aman untuk aku minum. Aku baru paham maksud Sehun tidak ingin menggunakan kondom lagi. Obat itu bagaikan penyelamat disetiap kegiatan Sex kita nantinya.
Membayangkan sex dengan Sehun mau tak mau membuat pipiku menghangat. Astaga, sejak kapan aku jadi suka tersipu begini?
.
.
"kau tidak apa apa aku tinggal?" Monica bertanya dari dalam mobil saat kami sampai di Rumah Sakit dimana Tuan Yunho dirawat. Sudah jadi jadwalku setiap sore untuk menjenguk ayah Sehun. Aku mengangguk
"good girl. Sehun akan menjemputmu nanti."
"oke. Thanks Monica."
"kalau begitu, aku pergi dulu ya Luhan. Sampai bertemu lagi." kata Monica, menutup kaca mobilnya lalu pergi. Saat memastian Porsche itu sudah berbelok keluar Rumah Sakit, aku segera masuk kedalam dan menuju bangsal dimana tuan Yunho dirawat
.
.
.
"selamat sore Tu-maksudku, ayah." Aku menyapa sambil membungkukan badanku disamping ranjang tuan Yunho. Ada perasaan aneh yang menjalar didadaku saat memanggil pria itu dengan sebutan ayah. Aku.. jadi rindu ayahku.
Okay, fokus!
"apa kabarmu?" aku bertanya seolah Tuan Yunho akan menyahut."apa Siwon menjagamu dengan baik?" kataku dengan sebuah senyum canda kearah Siwon yang berdiri di ujung ruangan. Pria itu tersenyum simpul. Tidak lama, dia kemudian berpamitan untuk keluar kamar. Membiarkan diriku berdua dengan tuan Yunho seperti biasa
"hari ini, banyak hal terjadi di kampusku. Ayah tidak akan percaya apa yang baru saja kulewati." Kataku sambil berjalan dan mendudukan diri di bangku tempat aku biasa duduk. Aku terdiam sebentar lalu menoleh pada tuan Yunho yang masih tak bergerak seinci pun. Hanya suara alat montor detak jantung yang terdengar menyelimuti ruangan. Apa sih yang aku pikirkan? Bercerita pada pasien yang bahkan mendengar saja tidak bisa.
"tapi sudahlah, itu tidak penting. Bagaimana jika aku membacakan sebuah cerita yang bagus? Kita perlu cerita lucu untuk menghibur diri dari hari yang buruk, kan?" terlebih untukku,
Aku mengeluarkan ponsel, mencari cerita yang bagus untuk aku bacakan. Setidaknya, kegiatan ini bisa membuatku seolah sedang berbicara dengan ayahku sendiri. Sesaat, aku lupa pada pria brengsek bernama Kris,
.
.
.
"Bianca?" itu suara Sehun. Dia sudah muncul tepat jam tujuh malam. Aku mendongak dan mendapatinya sedang melihat kearahku. Aku mengangguk mengerti.
"Ayah, aku pulang dulu ya. Besok aku akan kembali lagi. Sampai bertemu besok." Kataku dengan senyum terbaik sambil membungkukkan badan. Biasanya, setelah itu, aku dan Sehun akan segera pergi. Tapi kali ini berbeda. Begitu aku sudah menghampiri Sehun dan berdiri di sampingnya, pria itu malah berjalan mendekati ranjang. Aku memutar tubuhku dan melihat kearah Sehun yang sudah berdiri disamping tuan Yunho.
"Aboeji. Aku pulang dulu" katanya.
"cepatlah sembuh." Lanjut Sehun sambil mengusap pelan punggung tangan Tuan Yunho yang terdapat jarum infus tersemat disana. Aku bisa menangkap nada lembut dari penuturan Sheun. Entah kenapa, hatiku menghangat melihat itu.
.
.
"kau sudah mendapatkan obatnya?" Sehun bertanya padaku saat kami sudah berjalan di koridor Rumah Sakit. Tidak ada rangkulan, tidak bergandengan tangan. Hanya berjalan berdampingan bahkan tidak saling menatap satu sama lain saat bicara. Rasanya, Sehun yang lembut seperti tadi seolah tidak pernah ada
"sudah."
"ingat takaran yang harus kau minum?"
"tentu saja. Memangnya kenapa?"
"kau sudah makan?" tanya Sehun lagi, menolak menjawab pertanyaanku. Aku menggeleng.
"baiklah kita makan dulu."
.
.
Kami mampir disebuah restoran dekat Rumah Sakit. Aku hanya memesan satu porsi makanan tapi Sehun malah memesankan makanan lain untukku. Dia sendiri hanya menatapku sambil meminum segelas wine. Saat aku tanya kenapa dia memesankanku makanan lebih dia hanya menjawab "kau harus makan banyak."
Disaat aku tanya lagi alasannya, dia malah tersenyum miring dan tidak menjawab apa apa. Demi tuhan, Sehun yang misterius sangat tidak enak diajak makan bersama. Dari pada membuang buang nafasku pada orang yang enggan berbicara, lebih baik aku cepat cepat menghabiskan makan malamku saja.
.
"minum obatmu." Itu kalimat pertama yang keluar dari mulut Sehun setelah aku menyelesaikan makan malam
"huh?"
"cepat minum obatmu Luhan." Sehun berujar dengan rasa kesabaran yang menipis. Aku memilih untuk menurut. Bersamaan dengan itu, Sehun meminta bill kami, membayarnya lalu mengajakku pergi ke restoran dengan terburu.
OOO
Bug
Sehun mendorong tubuhku kedinding tepat setelah dia menutup pintu apartemen. Aku terkejut saat dia sudah memagut bibirku dengan menggebu bahkan saat aku belum melepaskan sepatu dan coat yang aku pakai. Genggaman ku terlepas hingga tas ku jatuh dilantai. Oh no.. My prada~
Saat ciuman terlepas, aku menyempatkan diri untuk menghirup udara sebanyak banyaknya. Sehun melepas ciuman itu hanya untuk menggendongku dan membawaku ke kamar. Dia menutup pintu kamar dengan kakinya lalu merebahkanku sedikit kasar diatas ranjang.
"Se-"
"shut up!" Sehun memotong omonganku lalu kembali memagut bibirku penuh nafsu. Lidahnya melesak masuk, bertarung dengan lidahku. Aku menggitgit bibir bawahnya, membuat Sehun mengerang. Gerakan pria itu cepat, dia menyusuri leherku dengan kecupan kecupan panas sampai akhirnya tiba di belahan dadaku.
Aku tidak tau apa yang terjadi pada Sehun, tapi dia bernafsu sekali. Dia langsung membuka seluruh pakaianku dengan kasar. Melemparnya ke sembarang arah lalu melucuti pakaiannya sendiri. Saat itulah aku mengerti bahwa Sehun sudah sangat horny. Penisnya menegang keras.
Dia naik keatasku dan menciumiku sambil sibuk merems payudaraku seperti biasa. Aku memejamkan mata menikmati setiap sentuhan yang diberikan Sehun pada tubuhku. Sensasi panas yang membuat jantungku seolah ingin meloncat keluar.
Beberapa menit kemudian, Sehun melepas pagutannya, lalu mengambil sesuatu dalam nakas.
Borgol.
Aku diam.
Memperahtikan Sehun dengan seksama yang mulai naik kembali keatas kasur.
"hun?"
Dia tidak menjawab. Sehun mengambil kedua tanganku lalu memborgolnya ke headboard kami. Mengunci agar tidak bisa bergerak.
"you are mine, Luhan." Dan dengan suara berat penuh gairah, Sehun kembali menghujainu dengan ciuman. Membuatku mendesah hebat saat foreplay kami dimulai.
Tiga puluh menit kemudian, Sehun mengangkang-kan kakiku lalu dengan penuh nafsu, dia menyatukan diri kami. Hanya desahan nikmat, geraman nafsu, dan bunyi borgol bergerak gerak saat Sehun membobolku yang bisa menjelaskan betapa panasnya malam ini.
Dan setelah dua jam lebih kami having sex, aku meneriakan namanya begitu sesuatu dalam diriku dan Sehun keluar membasahi tautan intim kami.
.
.
Pagi ini, Sehun berangkat lebih dulu. Dia memiliki jadwal mengajar jam delapan pagi sementara kelasku baru di mulai jam sepuluh lewat tiga puluh. Jika biasanya aku bangun dalam keadaan meja makan kosong, tapi hari ini berbeda. Dulu, Sehun hanya akan memberikan aku nomor telfon restoran untuk memesan makanan. Tapi pagi ini, aku menemukan sarapan diatas meja lengkap dengan sebuah note.
"makanlah. Aku tidak ingin kau terlalu lelah"
Aku tidak bisa menahan sebuah senyumanku saat membaca note itu. Sehun manis sekali.
Astaga, aku tersipu lagi!
Entah apa yang merasuki ku, setelah makan pagi, aku malah menyiapkan nasi goreng Kimchi dan menaruhnya ke sebuah tempat bekal. Aku berencana untuk memberikan itu pada Sehun nanti. Semoga saja dia suka.
Ah.. lagi lagi aku tersenyum.
.
.
Cuaca hari ini tampaknya tidak bersahabat. Sudah dua puluh menit aku menunggu di halte bus, tapi bus yang aku tunggu tidak datang juga. Apalagi, sekarang langit sudah mulai mendung dan hujan mulai turun.
Bukannya mengkhawatirkan diriku, aku malah lebih mencemaskan nasi goreng kimchi yang tersimpan rapih di dalam paper bag yang aku genggam. Kalau nanti dingin, pasti tidak enak dan Sehun tidak akan suka.
Astaga.. kenapa aku masih sempat memikrikannya sampai sekarang?
Lamunanku soal nasi goreng Kimchi buyar saat mobil sport berwaarna kuning-entah mereknya apa, sepertinya lamborgini-berhenti di depanku. Sesaat, aku pikir itu hanya pengemudi yang ingin menjemput salah seorang dari kami yang duduk di halte bus. Tapi begitu melihat tatapan orang lain yang sama herannya, aku rasa, pengemudi itu tidak ingin menjemput orang.
Tidak lama, kaca kemudi bergerak turun, menampilkan seorang pria bersurai pirang dengan senyum menyebalkan "hei cantik"
"butuh tumpangan?" katanya lagi. Kris. Si brengsek itu berkata tepat kearahku.
"tidak" aku menyahut ketus. Orang orang disekitarku tampaknya mulai tertarik untuk mendengar obrolan kami-atau mencibir sifat sombongku yang menolak diberi tumpangan oleh mobil mahal. Aku bersumpah, gadis yang duduk tepat disampingku bahkan sempat mengira Kris sedang berbicara padanya. Oh dear, tingkah mu itu mengingatkanku pada Irene saja.
"bus akan terlambat, ku dengar jalan yang dilewati tergenang. Dia pasti sampai di halte satu jam lagi." Kris melaporkan berita seolah itu akan membuatku langsung melompat kedalam mobilnya., Tapi aku masih bergeming. Memalingkan pandangan, malah.
"ayo. Kau bisa terlambat masuk kelas." Katanya lagi. Ibu ibu disudut bangku mulai menatapku penuh minat sambil tersenyum lebar. Mungkin pemandangan ini lebih mirip adegan drama drama Korea yang biasa dia tonton.
"aku akan naik taksi saja."
"terserah. Tapi memangnya kau bisa menemukan taksi kosong di jam sibuk seperti ini?" benar juga. taksi yang dari itadi lewat penuh semua. Apalagi dalam guyuran hujan speerti ini. Ditambah, aku juga sempat melihat seorang pria yang berdiri didekat halte, mencoba menghentikan taksi dari tadi. Tapi belum dapat juga sampai akhirnya ia memutuskan untuk berteduh di kedai kopi dekat sini.
"ayolah, aku tidak akan nakal." Ibu ibu dan gadis menahan teriakan mereka begitu Kris mengucap kata nakal sambil mengedipkan mata. 'ommooo' 'aigooo' kata para gadis lengkap dengan senyum lebar.
Huh. Aku yang digoda, tapi kenapa malah mereka yang tersipu
"apa kau ingin aku keluar dan menyeretmu?" nada Kris sekarang berubah menjadi sungguh sungguh. Aku melirik pria itu yang masih memandangi ku dengan tatapan tidak main main.
"aku sih tidak ada masalah." Kata Kris lalu bersiap untuk turun dari mobil. Reflek, aku langsung bereaksi.
"ti-tidak perlu.!" Para gadis tadi sekarang memusatkan pandangannya kearahku. Dengan kikuk aku berdiri lalu masuk ekdalam mobil Kris. Pria itu tersenyum bahagia sekali. Aku bukannya perempuan murahan yang bisa dengan mduah menumpang pada mobil mahal. Aku juga tidak menantang diri dengan masuk kedalam mobil Kris. Aku hanya tidak ingin orang orang itu mencuri dengar lebih jauh. Apalagi, Kris memang sangat nekat. Bisa dipastikan,akan terjadi adegan drama lebih lanjut jika pemuda ini benar benar keluar dan menyeretku ke mobilnya.
Aku menempelkan tubuhku pada pintu mobil. Membuat jarak sejauh jauhnya dari manusia tiang ini. Kris mendengus saat melihatku mengkerut didekat pintu."tenanglah Luhan. Aku tidak akan melakukannya dimobil. Milikku terlalu panjang. Pasti akan sulit melakukannya ditempat sempit." reflek aku menoleh cepat cepat kearahnya dengan tatapan horror. Astaga! Apa yang dia rencanakan!
Melihat responku, Kris malah tertawa terbahak bahak. Mengalahkan suara musik yang keluar dari radio."maksudku, kakiku yang terlalu panjang!"
Oh.. aku pikir…
"pervert!" kata Kris sambil menyentil dahiku. " but I like it." Lanjutnya saat pandangannya kembali terfokus pada jalan.
"darimana kau tau aku berkuliah disini?"
"ah. Gampang~"
"Sahabat tercintamu Zitao yang memberi tahunya."
WHAT! "Tao?!" tunggu. Aku tidak salah dengar, kan?
"bagaimana mungkin kau kenal dengannya?!" semburku tidak percaya. Kontras dengan sikapku yang kaget luar biasa, Kris masih mneyetir dengan tenang. Bahkan sesekali bersenandung mengikuti lagu.
"kebetulan dia gadis yang dibeli kakakku di white mask. Saat bertemu, aku tanya saja apa dia mengenalmu atau tidak. Dan seperti dewi fortuna berpihak padaku, ternyata dia kenal kau. Tak sulit mengorek informasi pada Tao yang sedang mabuk."
Fuck! ingatkan aku untuk menyuruh Zitao menghandle alcoholnya lebih baik. Atau sekalian saja tidak usah minum lagi! Akan aku jambak rambutnya saat bertemu nanti! Sialan.
"I know everything about you Luhan." Entah perasaanku saja, atau memang kata kata Kris barusan membuatku sedikit tidak nyaman.
.
.
Aku tidak pernah sebahagia ini saat melihat gerbang kampusku. Begitu mobil Kris masuk kedalam area kampus, aku sudah bersiap untuk meloncat keluar sebelum Kris sempat melakukan apa apa. Tapi tangannya menahanku.
"tumpangan ini tidak gratis asal kau tahu!" kata Kris dengan senyum brengseknya itu.
"apa yang kau mau!"
"hmm. Tidak banyak. Aku hanya ingin kau tidur denganku. Aku akan membayar berapapun yang kau mau!."
"go to hell!" aku mengumpat tepat di depan mukanya. Kris geleng geleng kepala dengan kekehan yang semakin membuatku ingin meninju wajahnya.
"Lu, aku pria yang ambisius. Aku akan mengejar apapun yang aku mau. Jadi kemanapun kau berlari. Aku pasti akan mendapatkanmu!"
"enyah kau! Brengsek!" aku melepaskan genggaman Kris lalu turun dari mobil dan berjalan secepat mungkin. Tidak perlu repot repot berterima kasih pada manusia gila sepertinya.
"Luhan!"
Aku mengabaikan panggilan Kris dibelakang. Aku mempercepat jalanku saat mendengar derap langkah Kris yang mendekat.
"ayolah sayang!" Kris meraih lenganku lagi tapi dengan mudah aku lepaskan. Para mahasiswa dan mahasiswi yang berlau lalang sesekali mencuri lihat kearah kami. Ada yang melihat dengan tatapan penasaran, ada yang mendengus jijik-yeah, pasti mereka menganggap aku sudah tidur dengan Kris- ada juga yang merasa iri. Duh, apa sih bagusnya pria mesum ini?
"jangan buat aku menggunakan cara kasar." Katanya lagi .
"omong kosong!" sejujurnuya aku takut, tapi lebih baik berpura pura berani kalau tidak dia akan menindasku lebih jauh.
Sret..
Tiba tiba saja, Kris meraih pinggangku dengan rengkuhan posesif lalu menarikku hingga menempel sempurna pada tubuhnya. Begitu dekat sampai aku yakin parfum maskulinnya juga akan tercium dari badanku "jangan menantangku. Kau tau aku bisa melakukannya" Kris berkata dengan nada serius tanpa keraguan dan sorot mata lapar yang membuatku merinding.
Kris merendahkan tubuhnya lalu berbisik di telingaku. "iya kan?" belum sempat aku merespon apa apa, sebuah suara familiar terdengar dari arah lain.
"Xi Luhan?" Oh Sehun. Berdiri tak jauh dariku dengan tatapan setajam pisau yang menusuk hingga tualng belulang. Sorot matanya datar tapi entah kenapa sangat mengerikan. Ia sempat melirik Kris sepersekian detik sebelum akhirnya menatapku lagi.
"ttarawa (ikut aku)" kata Sehun dengan nada begitu dingin yang belum pernah aku dengar sebelumnya
.
.
.
.
.
TBC
A/N
Happy Lulu dayyyy!
Selamat ulang tahun gege sayang!
Hmm. Pendek banget ya? Iya aku juga ngerasa begitu.
Aku sengaja tetep niatin update pas ulang tahun Luhan ge walaupun sebenernya agak kurang semangat. Makanya feelnya kurang dapet dan jadinya pendek banget ceritanya.
Aku mau terima kasih untuk semua readers yang sudah mereview.
Dengan berat hati aku memutuskan untuk menghiatuskan Sexy Lu dulu. Yah, engga hiatus juga sih. Tapi apa yah, aku ga akan terlalu bela bela in update. Aku bakal update lagi saat udah ada feel lagi untuk lanjutin cerita ini.
Kenapa? Apa aku buntu ceritanya mau dikemanain?
Engga kok. Kerangkanya sudah jadi. Dari awal sampai akhir sudah aku buat mau 'digimanain' tapi banyak banget (pake banget) silent readers di cerita ini. aku engga memuja muja review kok. Engga maksa, nodong, atau nagih. Itu hak kalian untuk memberikan apresiasi untuk para author yang meluangkan waktu disela kesibukan mereka. Toh mungkin memang ceritaku ga sebagus itu untuk bisa dapet review.
So.. gapapa guysss ;D beneran deh. Tapi ya aku minta maaf, aku ga janji bakal update ini cepet. Karena jujur aja kadang banyak kendala untuk nulis dan review kalian itu bener bener nyemangatin aku buat ngetik. Bahkan sampai ada yang PM. Itu aku merasa dihargai. Eh tapi pas udah update kayak masa bodo gitu yaaa aku bingung._.
Intinya, terima kasih sudah meluangkan waktu dan mendukung Sexy Lu sampai saat ini. aku bakal lanjutin lagi kok. Tapi ga bisa janji update kapan.
Untuk yang kemarin nanya amino ku, usernamenya : mozamore
Dan buat reader yang kemaren minta pin bbm atau wa untuk nanya nanya ff, maaf banget aku ga publish lewat profile. Kalau kamu mau, bisa lewat amino EXO L INA. Atau, PM aku dan aku akan kasih lewat situ. Sayangnya kamu commentnya sebagai (guest) aku gabisa PM kamu jadinya ._.
Duh kepanjangan. Lol
Yaudah, sampai ketemu lagi ya. Gomawo semuanya.
Moza :*
