Special for Kak Yeol61_ine yang selalu menggebu gebu nagih update FF ini, Semangat ya kak ine~ we heart you!. Yesi, temen curhat meskipun kaga nyambung sarannya LOL Ester yang hobinya sabunan sambil nyanyi 'terus berenang terus berenang~' dan Amal yang sedang rindu setengah mati sama Kris
And of course for my loyal readers and reviewers
Sexy Lu.
Main Cast:Luhan(GS), Sehun, Kris
Pairing: Hunhan, Krishan, slight Chanbaek&Kaisoo
Rated: M
Warning: typos, cerita aneh, mature content
GS, DLDR.
enjoy
.
.
Chapter 11
Seolah lupa akan keberadaan Sehun, aku segera menghampiri ibuku dan memeluknya dengan erat. Wanita itu tampak lebih sehat dari terakhir aku lihat, hal itu aku rasakan dari badan ibu yang sedikit lebih berisi.
"Xiao Lu.. Ibu sangat merindukan mu." Ibu mengusap punggungku dengan lembut. Saat aku merasakan air mata ingin menetes dari sudut mataku, aku segera melepaskan pelukan itu. Menangis ditempat umum sama sekali pantangan bagiku.
"Bagaimana Ibu tahu aku disini?" Aku bertanya. Meskipun pelukan kami sudah terlepas, tangan kami masih bertautan. Alih alih menjawab, Ibu hanya tersenyum penuh arti sambil menunjuk dengan sorot pandangannya kearah sosok di belakangku.
Sebelum aku menoleh, Sehun sudah berdiri tepat disampingku dengan sebuah senyum yang jarang sekali aku lihat.
"Selamat Sore Mrs Xi." Sehun menyapa ibuku dengan sopan. Senyum manis nya itu masih terpampang disana. Ini momen yang sangat langka, asal kalian tahu.
"Selamat Sore Sehun, ah… aku harap kalian belum makan. Aku sudah menyiapkan makanan khusus kalian berdua."
Aku menatap keduanya dengan tatapan tidak mengerti-sekaligus kaget-bagaimana mereka bisa slaing kenal? aku merasa menjadi yang paling bodoh disini.
"Ah.. Luhan, begini, beberapa hari yang lalu temanmu ini datang ke China dan mengatakan ingin memberikan kejutan ulang tahun untukmu. Dia lah yang meminta Ibu untuk jangan menelfonmu dulu hari ini. Apa kah kau terkejut?" jelas Ibu yang menangkap tatapan kebingunganku.
"Yeah. Sangat terkejut." aku berucap dengan nada penuh penekanan dibagian 'terkejut' sementara kedua mataku menatap Sehun dengan pandangan seribu arti.
"Aku tidak sangka kalian bisa berkomplot seperti ini." kataku kemudian. Ibu hanya tertawa pelan sambil melempar pandang kearah Sehun yang… juga ikut tertawa.
Whoa. Ada apa dengan pria itu hari in?
"Yasudah, ayo kita pulang" Aku menahan tangan Ibu yang sudah ingin menyeret ku pergi. Mataku bergerak gerak cepat. "tu-tunggu dulu." kataku panik, aku menyempatkan melirik sekilas kearah Sehun yang sedang keheranan sebelum kembali menatap Ibu
"Max?" bisikku takut takut. Aku tidak mengerti kenapa Ibu bisa sangat mudah mengajak kami pergi kerumah? apa dia lupa soal Max? pria itu benar benar gila! Dialah satu satu nya yang menjadi penghalangku untuk kembali kerumah. Aku tidak bisa membayangkan kegaduhan apa yang akan terjadi begitu Max bertemu denganku.
Ditambah, ada Sehun.
Tapi Ibu malah tersneyum lembut sambil balas menggenggam tanganku.
"ah.. soal Max, kau tenang sajaLuhan"
Apa? dahi ku berkerut bingung.
"Pria itu sebenarnya sudah pergi beberapa hari. Ibu juga heran kenapa disuatu pagi, orang itu tiba tiba pergi dan tidak kembali. Ibu saja bingung apa dia masih hidup atau tidak." kata Ibu menjelaskan. Raut heran nya tampak jelas diwajah nya yang sudah menua.
Tapi, yang semakin curiga adalah… bagaimana semua ini sangat kebetulan? maksudku kebetulan sekali Max tidak ada saat aku datang?
Entah kenapa, aku malah menoleh kearah Sehun yang tampaknya sedang berpura pura bodoh-atau berpura pura tidak mengerti. Tapi sayang sekali, terbiasa tinggal bersama Sehun membuat aku sedikit tahu beberapa kebiasannya
Termasuk saat pria itu sedang menyembunyikan sesuatu fakta yang dia ketahui. Hey, mata tidak pernah berbohong kawan!
Aku menatap Sehun dengan raut polos yang dibuat buat.
"Hmm.. mencurigakan sekali, bukan? Sehun, bagaimana mungkin orang bisa tiba tiba menghilang seperti itu?" tanyaku sambil melipat kedua tangan. Sehun berdehem sebelum menjawab pertanyaanku. Sebuah isyarat yang menunjukan dirinya tengah membangun pertahanan diri
"Hm. mungkin dia hanya sedang ada urusan." sahut Sehun sekenanya. Aku masih ingin sekali mencari tau lebih banyak dari Sehun, sampai akhirnya suara Ibu menginterpsi kami.
"Ah… itu tidak penting. Sekarang, ayo kita isi perut kelaparan kalian."
.
.
.
.
Aku tercengang saat mendapati mobil limousine mewah terparkir di depan kami. Ibu-yang aku kira tadinya sedang berhalusinasi-dengan santainya berjalan dan masuk kedalam mobil itu. Diikuti aku dan Sehun. Jika dilihat dari raut wajah, mungkin hanya aku yang paling keheranan disini.
Sementara Sehun tampa biasa saja-yeah, karena dia jug sudah terbiasa bergelimang harta-dan Ibu yang.. astaga, Ibu tidak salah masuk mobil kan?
Oh! atau jangan jangan…
Aku menarik lengan Ibu sambil berbisik ditelinganya, tidak ingin Sehun mendengar meskipun pria itu duduk cukup jauh dari kami.
"Bagaimana Ibu memiliki mobil ini? apa uang yang aku berikan waktu itu Ibu gunakan untuk mobil? tidak apa apa sih sebenarnya, hanya saja…"
"Bukan Luhan." Ibu langsung menyanggah kalimatku. Dia menepuk nepuk tanganku dengan lembut sambil tersenyum. Membuat garis matanya terlihat sangat jelas "Ibu masih menyimpan sisa uang darimu. Ibu menggunakan nya dengan hati hati."
"lalu?"
Ibu menolehkan pandangannya pada Sehun yang tampaknya tidak minat untuk menguping. Sedari masuk mobil, ia hanya mengeluarkan ponselnya dan membaca sesuatu entah apa.
"Sehun yang menyiapkan ini semua. Ibu juga kaget saat mereka menjemput Ibu didepan rumah. Katanya, ini protokol dari Tuan Oh." saat mendengar namanya disebut, Sehun mau tidak mau mendongak dan menatap lawan bicaranya.
"Terima kasih banyak ya Sehun. Ini benar benar sangat berlebihan." kata Ibu benar benar tidak enak hati. Aku mengenali ibuku. Bukan artinya karena dia menerima ini semua, bukan juga kerna semata mata ingin numpang merasakan fasilitas mewah. Atau karena ibu ingin memanfaatkan situasi. aku tau Ibuku seperti apa.
Dan aku berharap Sehun tidak menilai Ibu sebelah mata.
"Tidak masalah Mrs Xi. Ini bukan apa apa." tapi ketika Sehun berkata hal tersebut dengan senyum tulus, entah kenapa aku merasa tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.
Mataku dan Sehun tidak sengaja bertemu beberapa detik. Dan tanpa sadar, sudut bibirku tertarik membentuk senyuman.
.
.
.
"Kau baik baik saja?" Tanya Sehun saat aku hanya membatu di depan rumah. Kami sudah tiba di komplek tempat tinggalku. Rumahku memang tidak mengenaskan, tidak reyot seperti yang kalian bayangkan-yah meskipun cat rumahku sudah memudar disana sini-karena ini adalah rumah yang aku tempati sejak aku kecil. Sejak ayahku masih hidup dan kami masih berkecukupan.
Tapi, entah kenapa semua kenangan dirumah itu seolah melesak masuk kebenakku begitu saja. Terlalu banyak sampai aku terpaku pada tempatku dan hanya bisa memperhatikan bangunan dengan cat pucat itu.
"Aku hanya… sangat rindu." aku bergumam pelan.
Ibu yang turun lebih dulu, segera membuka pagar rumah dan membuka pintu untuk kami berdua.
"Selamat datang kembali di rumah. Duduklah Sehun. Maaf jika berantakan."kata Ibu. Sehun mengangguk kecil lalu mendudukan dirinya disebuah sofa ruang keluarga. Sementara aku, malah tampak seperti tamu karena terus mengedarkan pandangan keruangan tersebut.
Ruangan bercat kuning gading dengan lukisan dan sofa yang sedikit kumal. Beberapa meja kayu kecil berhiaskan pigura yang berdiri diatasnya. Aku sempat terenyuh saat mendapati masih ada fotoku disana. Lalu ada retakan di dinding yang cukup terlihat. Ah, aku ingat, itu tercipta karena ulah Max melempar bangku hingga membentur dinding.
Jika dilihat lihat, suasana rumah tidak begitu buruk. Ini semua berkat ibuku yang berhasil menyulapnya.
"aku akan membantu ibu untuk menyiapkan makanan." kataku pelan lalu segera pamit menemani Ibu di dapur. Jika kau terus berlama lama disini, kenangan itu bisa mengambil alih seluruh pikiranku.
.
"Bu, biar aku bantu."
Aku mencoba untuk meraih beberapa sayur dan daging yang sedang Ibu keluarkan dari kulkas tapi Ibu mengelak.
"Tidak perlu, Luhan. Kau pasti lelah."
Aku tersenyum."Tidak apa apa. Aku senang sekali bisa kembali kerumah Bu." tanpa meminta persetujuan Ibu, aku segera mengambil pisau dan memotong motong sayuran yang sudah dicuci sementara Ibu sibuk menyiapkan daging. Dalam hati aku bersyukur Ibu akhirnya bisa membeli daging lagi. Dulu, Ibu selalu mengirit makanan dengan makan Tahu Putih dan Sayur hampir setiap hari
"Omong omong… bagaimana kalian berkenalan?" Ibu membuka percakapan kami. Tangan kami berdua sibuk dengan alat dan bahan makanan untuk makan malam. Gerakan tanganku yang sedang memotong lobak tiba tiba memelan.
Astaga, aku harus jawab apa?
"Ah.. kami kenal di… uhm.. disebuah acara teman." maksudku disini adalah White Mask. Tapi tidak mungkin kan aku mengatakan itu pada Ibu? bisa bisa jika dia tahu apa itu White Mask, Ibu akan kejang kejang terkena serangan jantung.
"Ibu kira kalian bertemu kampus?"Ibu berceletuk. Meskipun suaranya terdengar tenang, dan ia maish tampak santai dengan kegiatannya, hal itu sukses membuatku semakin kebingungan.
"be-begitu kah?"
"yeah. Itu yang dia katakan pada ibu."
Aku mengedikkan bahuku"well, aku sudah lupa. Karena hal itu sudah cukup lama." hanya itu alibi yang terbersit di benakku sekarang. Gerakan tangan Ibu terhenti dan ia mendekatkan diri padaku.
"Lu, mungkin ini terdengar tidak sopan. Tapi Ibu hanya ingin tahu sesuatu..." katanya sambil berbisik, secara alamiah, aku mencondongkan tubuhku kearah ibu untuk menajamkan pendengaranku.
"Apa pekerjaan keluarga Sehun? rasanya tidak mungkin pria semuda dirinya sudah memiliki fasilitas fasilitas mewah." Ibu bertanya keheranan. kau menarik tubuhku dan menatap ibu hingga kami berhadapan sekarang. Raut Ibu sedikit gelisah. Ibu hanya tidak terbiasa dengan fasilitas ini. Aku tanpa sadar menggigit bibir bawahku.
Apa aku harus terus membohongi Ibu? astaga, tiba tiba aku merasa sangat durhaka sekarang ini.
"Ah.. hm.. keluarga nya berbisnis bu."
Well, tidak sepenuhnya berbohong kan? Sehun memang memiliki bisnis.
"Di bidang apa?"
"Jasa."tandasku. Hanya di kamus seorang Luhan, sindikat mafia bisa disebutkan bisnis jasa~
Yah, memangnya aku punya pilihan? aku tidak tahu bisnis Sehun yang lain bergerak dibidang apa.
.
.
.
Akhirnya kegiatan masak pun selesai. Karena jam menunjukan belum masuk waktu makan malam, akhirnya kami bertiga hanya duduk diruang TV sambil menonton TV dan memakan buah. Aku jadi teringat kebiasaan Ibu yang selalu menyiapkan buah sebelum makan. Hal ini untuk membantu pencernaan mu setelah makan nnati.
"Jadi, coba ceritakan Ibu lebih jauh. Bagaimana di Korea? lalu, kabar Xiao Tao bagaimana?"
"Semua baik baik saja Bu. Aku dan Tao sudah jarang bertemu karena anak itu tampaknya sedang sibuk."
"Apa kau masih bekerja Luhan?" ah, lagi lagi pertanyaan yang membuatku kebingungan. Bisakah aku merayakan ulang tahunku tanpa sederet pertanyaan sulit? Terlebih dari Ibu?
"Uhm.. yeah.. Tentu saja. Kenapa bu?"
"Tidak apa apa. Bos mu sudah dengan baik hati meminjamkan uang banyak. Tiga juta Yuan bukan nominal sedikit. Jadi Ibu harap kau bekerja dengan giat. Jangan sampai mngecewakan dirinya."
Entah kenapa kau malah reflek melirik Sehun yang menatapku seolah bertanya 'maksudnya?' Pria itu masih diam, sepertinya ingin meminta penjelasan. Aku kembali menoleh kearah Ibu yang sedang mengaduk cangkir teh nya.
"Ah.. aku sangat bekerja keras Bu." kataku. Lagi lagi, aku membeirkan penekanan di bagian kata 'keras'
Oh, dear.. memuaskan Oh Sehun dan segala kebutuhannya di ranjang itu termasuk kerja keras, asal kalian tahu.
"Tapi jangan lupa, Kuliah mu juga harus kau selesaikan ya?"
"yes mom~"
"Kalau Sehun sendiri, apa kesibukanmu di Korea?" aku menoleh kearah Sehun yang dari tadi hanya menyimak pembicaraan kami. Pria itu tampak tidak canggung atau kikuk sedikit pun. Aura tenangnya terpancar. Namun, tidak adalagi sorot mata dingin yang kejam. Meskipun, pria itu terkadang masih memasang raut stoic andalannya.
"Aku merupakan dosen disebuah Universitas."
"Apa itu Universitas yang sama dengan Luhan?" mata Ibu berbinar, menatap Sehun penuh harap. Tapi sang lawan bicara hanya menggeleng pelan sambil tersenyum simpul
"Tidak Mrs Xi."
Ibu mengangguk angguk mengerti. Ia lalu menatap kami berdua bergantian dengan senyum yang merekah.
"aku sennag sekali Luhan ada yang menjaga di sana. Terlebih sampai repot repot memberikan semua ini padanya. Dari kecil, Luhan tidak begitu banyak memiliki teman."
"Dia anak yang tertutup."
"Benarkah?" ada nada tidak percaya-atau meledek-dari suara Sehun. Aku melempar tatapan sinis kearahnya.
"Hahaha, iya Sehun. Yah.. mungkin beberapa tahun kemudian banyak hal berubah. Membuat Luhan menjadi pribadi yang sedikit nakal. Jadi aku minta maaf jika dia sering menyusahkan teman temannya di Korea."
"Aku setuju Mrs Xi. "
Sehun melihat ke arahku. Tepat kedalam dua mataku "dia memang agak nakal." katanya dengan sebuah sorot mata yang menyiratkan sesuatu. Sorot mata yang selalu dia berikan setiap malam sebelum kami tidur. Yeah, bukan tidur dalam arti harfiah tentu saja.
Ah… aku tahu sekali apa maksudnya. Entah kenapa, aku malah menjadi kikuk.
"Sekali lagi, terima kasih ya.. sudah menjaga Luhan."
Dan saat melihat Ibu dan Sehun bisa bertukar senyum seperti sekarang, entah kenapa hatiku merasa begitu damai.
.
.
.
.
Jam makan malam akhirnya tiba juga. Kami sudah duduk melingkar dimeja makan. Entah bagaimana, makan malam itu mengalir begitu saja. Penuh kehangatan dan sangat kekeluargaan. Aku bahkan sempat lupa bahwa Sehun adalah orang asing.
Hal itu disebabkan oleh obrolan Ibu dan Sehun yang sangat dekat, bahkan tampak tidak dibuat buat sama sekali. Apalagi, ketika Ibu sudah selesai menyuapiku segumpal mi-tradisi orang China saat ulang tahun-ia mulai menceritakan masa lalu ku yang membuat malu.
"Saat itu, Luhan bahkan sampai tercebur di kolam ikan." kata ibu sambil tertawa, Sehun sedang memotong dagingnya namun pria itu tetap memperhatikan cerita Ibu. Dan apa harus kah aku ceritakan lagi? Sehun masih saja tersenyum!
Dia ini tidak kesurupan kan?
"Apakah kau masih ingat bagaimana kau panik sekali saat ikan koi masuk kedalam bajumu?" Ibu bertanya dengan suara tawa tertahan sambil menoleh keraah ku. Mau tidak mau, aku juga ikut terkekeh mesikpun topik yang Ibu angkat benar benar tidak lucu.
"Ah.. tentu saja. sensasi menggelitik menyebalkan itu masih terekam jelas dibenakku."
"Hahaha. Kau menjerit jerit ketakutan. Lucu sekali. Ibu sampai ikut panik melihatmu seperti itu"
Tentu saja aku takut, kenangan lucu itu kembali terproyeksi di benakku. Kala itu, keluarga kami sedang berlibur. Aku yang masih berumur delapan tahun sibuk mengejar domba yang lepas dari sebuah peternakan. Saking sibuknya berlari, aku sampai terjungkan dan masuk kekolam ikan Koi dekat situ.
Pada sa-
"Ah, Sehun, mau tambah ayamnya?" pertnayaan Ibu berhasil membuyarkan kenanganku. Ibu sedang meraih piring diatas meja dan menawarkan potongan ayam ke piring Sehun
"Tentu, Bu." kalimat itu terucap begitu saja. Kami bertiga menyadari hal tersebut. Sehun yang merasa tidak sopan buru buru berdehem dan menegapkan kembali posisi duduknya
"Ma-maaf" kata Sehun, sekilas ia sempat melirik kearahku yang mesih terbengong dengan kejadian barusan. Tapi, aku tahu Ibuku seperti apa.
Maka, saat Ibu kemudian dengan senyum tulusnya menaruh potongan ayam kepiring Sehun, aku sudah tidak heran lagi.
"Tidak apa apa. Kau boleh memanggilku Ibu. Aku akan sangat senang sekali." Lanjut Ibu. Sebuah usapan pelan ia berikan dibahu Sehun. Kebiasaan yang selau Ibu berikan kepada anaknya.
"Terima kasih."
Lagi lagi, aku tersenyum melihat ini semua.
.
.
.
Makan malam itu berlalu dengan sangat lancar. Tak terasa hari sudah mulai gelap dan aku harus kembali ke Korea.
"Sudah larut malam, aku harus pulang Ibu" kataku sambil membereskan piring piring kotor diatas meja.
"Ah sayang sekali. Ibu masih rindu sekali padamu. Kau yakin tidak mau tinggal lebih lama?"
"Aku juga bu. Ta-"
"Jika kau mau, kau bisa mneginap disini Luhan." Sehun memontong ucapanku yang nyaris keluar. Aku menatap Ibu dan Sehun secara bergantian.
"Apa kau mau menginap disini?" Ibu bertanya lagi. Sekedar untuk memastikan. Ada sorot mata penuh harap diwajah Ibu, sementara wajah Sehun terlalu datar untuk bisa aku baca. Apa dia benar benar memperbolehkan aku untuk menginap?
Kami tidak berbicara soal ini sebelumnya. Apalagi, besok aku masih ada kuliah.
"Ah.. Tapi bagaimana denganmu Sehun?"
"aku akan pulang lebih dulu. Esok pagi aku akan menjemputmu lagi." Sehun baru saja ingin bersiap bangkit saat Ibu menahan kedua bahunya untuk tetap duduk.
"Tidak." Ibu berkata tegas.
"Sehun, kau juga menginaplah bersama kami disini? Kau bisa memakai kamar Luhan."
Mataku terbelalak. Oh Astaga, aku tidak pernah memiliki tamu lelaki yang menginap dirumahku. Apalagi tidur diamarku. Aku rasa Ibu benar benar sudah jatuh cinta pada Sehun.
"Ah aku tidak mau merepotkan" Sehun menolak sopan tapi Ibu malah menggeleng.
"Ibu memaksa kau untuk menginap."
Sehun menatapku, meminta pendapat. Apa ini? sekarang dia berlagak meminta izin padaku? sementara jika di Korea, dia tidak pernah meminta izin-atau membiarkanku bicara-lebih dulu. Apalagi saat dia akan menerjangku dan-whoa. Oke aku akan menghentikan ocehanku sampai sini.
Tersipu didepan Sehun dan Ibu bukan lah hal bagus.
"Hm.. baiklah" kata Sehun kemudian saat aku mengedikkan kepala ku singkat dengan senyum yang tersungging. Sebuah bentuk bujukkan-atau persetujuan?-bahwa ia bisa menggunakan kamarku. Ibu tersenyum bahagiaaaa sekali. Seolah Sehun adalah anak lelaki nya yang tak pernah ia miliki.
"Kalau begitu, sebaiknya aku membeli baju ganti. Aku tidak membawa sehelai baju pun kesini." kata Sehun sambil bangkit dari kursinya
"Kau perlu aku temani?" tanyaku. Kalimat itu terlontar begitu saja saat melihat Sehun yang bersiap pergi.
Sehun menggeleng
"Tidak perlu. Kau disini saja. Menikmati waktu dengan Ibumu."
Alhasil.. aku hanya mengantar Sehun sampai depan pagar.
"Kau ingin menitip sesuatu?" katanya sebelum masuk kedalam mobil limousine yang terparkir di depan
"Tidak."
"Baiklah"
Ada sebuah jeda yang canggung diantara kami saat aku dan Sehun saling pandang. Tak lama kemudian , pria itu masuk kedalam mobil dan melaju pergi
.
.
.
.
Setelah Sehun pergi, aku kembali ke kamarku. Berniat untuk membereskan nya sebelum Sehun menempati untuk malam ini. Aku membuka pintu kamar dengan perlahan. Saat aku menyalakan lampu kamar itu, lagi lagi kenangan yang teronggok disana seolah kembali masuk dalam benakku begitu saja.
Begitu banyak hingga kepalaku pening . Begitu nyata hingga aku seolah bisa melihat nya dengan jelas. Suasana kamar dengan aroma khas vanilla membuat kamarku seperti tidak pernah kutinggalkan selama bertahun tahun. Seakan selama ini aku masih tetap berada disini.
Dan seakan kejadian Max yang ingin memperkosaku, tidak pernah terjadi.
.
Kakiku perlahan masuk semakin dalam, menyentuh kasurku dengan penuh rindu. Seprai itu masih bersih. Tampaknya, Ibu selalu mengganti sepraiku tiap hari
Aku mendudukan diriku di atas kasur sambil menatap segala pajangan yang ada disana. Lemari, buku buku pelajaranku danfotoku bersama ayah. Aku tergerak untuk meraih foto itu. Mengusapnya penuh rindu.
"Banyak hal sudah berubah ya, Lu?"
"Tidak terasa dulu kau masih sekecil ini." Suara Ibu disampingku terdengar dekat seklai. aku bahkan tidak sadar Ibu sudah masuk ekdalam kamar drai tdai.
"Aku merindukan kehidupan kita yang dulu Bu."
Ibu merangkulku, sekarang kami berdua tengah sibuk memandang foto yang sama. Foto ayah yang selalu kami rindukan kehadirannya.
"Tidak ada gunanya untuk meratapi hidup yang lalu Luhan. Kau sudah berumur dua puluh satu tahun sekarang. Waktunya untuk memikirkan masa depanmu." kata Ibu kemudian.
"Ibu rasa Sehun orang yang baik. Kau yakin dia hanya temanmu saja?" pertanyaan ini sontak membuatku menoleh kearah Ibu dengan mata mengerjap bingung
"W-what? Ibu mengira dia kekasihku?" Entah apa yang terajdi padaku, jantungku malah berdegub kencang. Takut akan memecahkan pigura fotoku dan ayah, akhirnya aku mengembalikannya ketempat semula. Jujur saja, pertanyaan Ibu membuat aku mengkhayalkan yang tidak tidak. Efeknya aku jadi salah tingkah sekarang. Ibu yang menyadari hal itu malah tersenyum meledek
"Astaga.. kau sudah dewasa Luhan, kenapa harus tersipu seperti itu?"
"be-benarkah?" tanpa sadar aku menyentuh pipiku sendiri yang sudah menghangat.
"dengar." Ibu meraih kedua tanganku lalu membuatku menatapnya penuh penuh. "Dari cara Sehun memandangmu, Ibu merasa tatapan nya memiliki seribu arti. Bukan sekedar tatapan seorang teman."
Ah Bu.. itu hanya tatapan kelaparan.
"Jadi, Jika dia memintamu untuk menjadi kekasihnya, Ibu akan setuju. Bukan karena fasilitas yang ia miliki, tetapi bagaimana ini memperlakukanmu Luhan."
Astaga, Ibu benar benar berhalusinasi sekarang. Mana mungkin aku menjadi kekasih Oh Sehun? menyebutnya saja aku merasa janggal. Apalagi jika aku benar benar….
"Mana ada orang sekedar teman yang mau melakukan ini semua?" kata Ibu kemudian sebelum akhirnya menyudahi obrolan kami –yang hanya aku respon dengan kerjapan mata-sekarang. Ibu kemudian keluar dari kamar ku, seperti nya mengambil seprai baru.
Aku menghembuskan nafasku dalam dalam.
Oh Ibu.. Seandainya kau tahu bahwa Sehun memang bukan seroang teman.
.
.
.
.
.
Suara detik jam menggema dikamar kami, aku yang tidur berdua dikamar Ibu masih terjaga sementara Ibuku sudah terlelap dengan dengkuran halus. Aku memiringkan tubuhku, menatap pintu kamar yang berada tak jauh didepan.
Aku jadi penasaran, Apa yang Sehun lakukan? Apa pria itu bisa tidur?
Merasa kerongkonganku kering, aku memutuskan untuk turun kedapur dan mengambil air. Tapi perhatian ku teralih ketika mataku menangkap sosok Sehun yang tengah menelfon dipekarangan belakang rumah dari balik jendela dapur
.
"Kau belum tidur?" sapaku sambil mengahampiri Sehun. Pria itu menoleh singkat kearahku
"Belum." kemudian ia mengatakan sesuatu di telfon sebelum akhirnya menutup panggilan.
"Aku sedang menelfon Siwon." kata Sehun smabil memasukan kembali ponsel kesakunya. Sebenarnya, Sehun jarang sekali memberi tahu-atau menjelaskan-apa yang sedang dia lakukan. Jadi, ini hal baru sebenarnya.
"Ada apa? apa ayah baik baik saja?"
"Yeah. Aku hanya ingin memastiakn keadaan Abeoji. Siwon bilang semuanya biak baik saja." kata Sehun kemudian. Sekarang dia menghampiriku dan kami duduk di teras belakang.
"Kau pasti kesulitan tidur dikamar reyot. Mungkin ini bisa membantumu." aku menyerahkan teh chamomile yang tadi aku buat untuknya.
"Thanks."
.
.
Tidak pernah terbayangkan oleh ku sebelumnya, bahwa aku akan kembali kerumah. Duduk di krusi teras belakang dengan hamparan taman yang rumputnya tak lagi rapih. Beberapa gundukan tanah terlihat tak berumbut tetapi sebagian lain malah agak berantakan dengan ilalang yang tinggi. Ibu mungkin tidak punya waktu untuk membenahi halaman ini. Tapi, itu tidak apa apa, lagipula, seperti ini saja sudah cukup.
"Maaf jika Ibuku bersikap berlebihan. Dia memang seperti itu." aku berujar saat Sehun sedang menyuruput Teh hangat nya.
"Tidak apa apa Lu."
"Ibumu menyenangkan." katanya lagi. Awalnya, aku merasa itu bukanlah ungkapan tulus. Mana mungkin pria berhati dingin seperti Sehun bisa mengucapkan hal sepert itu. Tapi lagi lagi, mata tidak bisa berbohong. Dengan sorot matanya yang sekarang, ditambah dengan sebuah senyum kecil yang terbentuk di wajah tegas Sehun, aku semakin yakin bahwa pria ini sedang tidak mengada ngada.
Keheningan kembali menyelimuti kami. Hanya terdengar suara ringkikkan jangkrik dimalam hari. Tiba tiba, ada sebuah hal yang terbersit di benakku.
"Apakah… kau yang membuat Max menghilang?" kataku. Raut wajah Sehun yang tadinya tenang, berubah menjadi dingin kembali. Menjadi Sehun yang biasa aku kenal.
"Apa jawaban yang ingin kau dengar?"
"Aku hanya ingin kau menjawab saja."
"Jujur atau bohong?"
"Aishhh. Tentu saja jujur Sehun."
Sehun mendengus remeh "Max tidak menghilang." ia kembali menyeruput tehnya, membuatku kebingungan dengan kalimat menggantungnya barusan.
"Itu tergantung dirimu. Aku bisa benar benar mengenyahkan nya jika kau mau." kata Sehun lagi dengan sebuah kedikkan bahu. Menunjukkan hal itu bukanlah masalah besar.
Aku sempat tergiur dengan penawaran Sehun, tapi aku tetap lah Luhan. Meskipun aku gadis yang hina, yang berlumur dosa dan tidak pantas memikirkan sebuah moralitas, tapi aku tidak setega itu untuk benar benar melenyapkan seseorang. Aku hanya wanita panggilan. Bukan pembunuh. Aku juga tidak tahu, apakah dengan membunuh Max menjadi jawaban yang paling baik. Untuk sekarang, aku tidak ingin membahas lebih lanjut soal Max.
Saat menyadari bahwa moment ini sangat jarang-dimana Sehun duduk tenang dan kami bsia mengobrol banyak hal-ada sesuatu yang membuatku penasaran.
Ada sesuatu hal lebih penting yang ingin aku tahu "Sehun…"
"Tenang saja. Aku tidak akan membunuhnya jika kau tidak meminta." Sehun menandas omonganku seolah dia kira aku ingin menimpali soal pembahasan sebelum ini.
"Bukan.. bukan soal itu"
Sehun menoleh kearahku dengan sebuah kernyitan di dahinya. "lalu?"
"Kenapa… kenapa kau melakukan ini?" Sehun tidak langsung menjawab. Dia masih asik menatapku dan aku pun begitu. Seolah dengan sorot mata saja, dia bisa menjawab segala pertanyaan yang sudah terakumulasi diotakku sekarang ini. Seolah kata kata tidak dibutuhkan lagi.
Tapi, ketika dia menyadari bahwa aku memberikan pandangan 'menunggu' pria itu kemudian menghela nafasnya.
"Anggap saja sebagai hadiah ulang tahunmu" katanya santai. Ia kembali menatap ke pekaranagn didepan
"Aku ingin kau merasa nyaman saat kembali kerumah dan berkumpul bersama Ibumu."
Ada rasa hangat saat mendengar kalimat itu. Meskipun Sehun tidak menatapku langsung, tapi- entah kenapa-kalimat barusan membuat sesuatu dalam diriku merasa nyaman. Hal itu membuat sebuah senyum terbentuk diwajahku tanpa sadar
"xie xie." kataku dengan mata yang aku rasa sepertinya berkaca kaca. Sehun hanya menarik sudut bibirnya.
Hening lagi diantara kami. Namun,aku menikmatinya. Tidak lagi merasa kesal seperti dulu, saat Sehun bersikap seperti patung dan aku hanya bisa memandanginya dengan pikiran penuh tanya. Sekarang, aku menikmatinya. Meskipun, kami hanya sibuk dengan pikiran masing masing. Sekarang, aku menyukai waktuku bersama Sehun. Meskipun pria itu hanya diam sementara aku terus memperhatikannya.
"Sebaiknya kau masuk. Udara semakin dingin." kata Sehun sambil meminum teh nya hingga habis.
Sebelum Sehun sempat berdiri, aku sudang bangkit lebih dulu dari kursiku.
Entah apa yang merasukiku malam itu, alih alih berjalan masuk kerumah, aku malah berdiri didepan Sehun yang masih terduduk. Ia menatapku tanpa ekspresi. Di detik kemudian, aku menundukkan diri hingga wajahku dengan Sehun sejajar. Hingga aku bisa menatap lekat lekat kedua bola mata coklatnya.
Aku mengecup bibir Sehun. Hanya kecupan panjang tanpa lumatan. Kecupan yang terasa sangat intim. Setelah aku menarik wajahku, kami masih saling pandang beberapa inci. Aku mendapati Sorot mata Sehun sedang menatapku dengan tatapan tak terbaca."Good Night Sehun." kataku pelan, lalu kembali masuk ke rumah.
Malam itu, aku bermimpi indah sekali.
.
.
ooo
.
.
Besok paginya, aku sudah bangun pagi pagi. Aku Segera mencuci muka dan menggosok gigi lalu melesat secepat kilat kearah dapur. Ibu sampai terheren heran saat mendapatiku sudah sibuk menyiapkan sarapan di pagi buta.
Tak berapa lama, Sehun muncul didekat tangga, pria itu tampaknya sudah mandi dengan kaus baru yang kemarin dia beli. Ah, Sehun memang tipikal morning person.
"selamat pagi~" Aku menyapa Sehun sambil menaruh beberapa ptong roti diatas meja. Sehun menatapku keheranan. Mungkin baru sekarang dia melihat seorang Luhan dengan rambut dikuncir asal dan kaus rumahan butut yang sudah sibuk berseliweran di ruang makan.
Aku kembali kearah dapur untuk -dengan semangatnya- mengambil sosis dan scramble egg. Jujur saja, aku lebih bisa memasak English breakfast ketimbang menu sarapan yang biasa Ibuku buat.
Bahan bahannya teralalu rumit.
"Ayo duduklah Sehun, Ibu akan menyiapkan teh hangat untukmu." kata Ibu sambil mempersiapkan Sehun duduk disebuah kursi. Aku tidak bisa mendangar percakapan mereka, tapi aku bisa merasakan Sehun menatap heran kearahku.
.
.
"Apa kau suka makanannya?" aku bertanya dengan antusias pada Sehun yang sedang mengunyah dalam diam di depanku. Kunyahannya memelan dengan sebelah alis terangkat
"Apa kau yang membuat ini?"
Aku mengangguk cepat cepat "bagaiamana? kau suka?"
"Apa… rasanya memang seaneh ini?"
Setelah kalimat itu, aku menendang tulang kering Sehun dari balik meja. Sehun hanya memplototiku sementara Ibu tertawa melihatnya.
.
.
.
.
Meskipun masih saja enggan untuk pulang ke Korea, setidak nya aku sudah cukup puas untuk bisa menginap dirumah. Lagi pula, aku harus tetap masuk Kuliah besok. Hari ini saja aku sudah bolos beberapa mata pelajaran penting.
Saat diperjalanan, aku menyenderkan kepalaku ke jendela mobil, mentatap jalanan diluar yang sangat familiar untukku. Seperti ketika aku pernah jatuh dari sepedah di sebuah turunan dekat rumah. Hal itu malah semakin membuatku tidak ingin kembali ke Korea-tapi juga tidak ingin menetap di Beijing dalam situasi sekarang.
Yang aku inginkan adalah kembali ke masa lalu, dimana Ayahku masih hidup.
"Kita bisa kembali lagi ke Beijing kapanpun kau mau Lu." kata Sehun disampingku. Ia sedang sibuk mengecek sesuatu dari tabletnya-yang entah dia bawa darimana. Aku menoleh, menatap wajah sibuknya, rahang Sehun terlihat sangat tegas jika pria itu sedang sibuk membaca.
"Terima kasih Sehun."
Aku membenarkan posisi dudukku agar lebih tegap
"Ini kado yang sangat hebat! aku benar benar sangat senang"
"Kupikir kau masih ingin meminta kado lain."
"Aku tidak sematrealistis itu!"
Sehun melirikku dengan tatapan selidik. Tablet yang dari tadi sibuk ia genggam sudah ia taruh kembali didalam tas-yang lagi lagi aku tidak tahu darimana
"Yakin? benar benar tidak ada apapun lagi yang kau inginkan?" kata nya. Sebenarnya dia benar benar bertanya pada ku atau tidak? Nada nya datar sekali. Ah, sorot matanya itu sudah kembali menjadi dingin seperti biasa.
Tapi aku hanya mendengus sambil melipat tanganku.
"Well, jika aku bisa mendapatkan Hermes Himalayan Crocodile Birkin, pasti akan sangat sempurna!" kataku bercanda. Sehun tidak merespon apapun.
Aku jadi rindu Sehun yang hangat seperti kemarin.
Tapi aku memutuskan untuk tidak begitu mengambil pusing. Maksudku, apasih yang bisa kuharapkan dari Sehun? Hello~ Oh Sehun? Manusia paling dingin seantero jagat raya?
Oke, aku berlebihan untuk hal yang terakhir.
"Omong omong, kau sudah tahu hari ulang tahunku. Bagaimana dengan ulang tahunmu?"
Niat hati, aku ingin membalas kebaikannya kemarin. Seperti memberikan surpise kecil kecilan di hari ulang tahunnya. Tapi ketika Sehun menjawab pertanyaanku, aku malah meringis.
"Ulang tahunku jatuh pada 7 hari sebelum hari ulang tahunmu."
"Lebih tepatnya saat aku mendapati kau digendong oleh Kris Wu. Sungguh kado yang sempurna." Sehun memberikan tatapan menohoknya ketika kalimat terakhir diucapkan. Aku jadi merasa bersalah karena sudah bertanya
Dan lebih parah lagi,merasa bersalah karena tidak tahu.
.
.
Setelah sampai di bandara, Sehun malah sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang pria itu lakukan, aku hanya sempat mencuri dengar sekali saat Sehun dengan tegasnya mengatakan "Ya. Pastikan barangnya sudah siap saat kami tiba di Korea" aku sempat bergidik. Apa Sehun sedang melakukan transaksi illegal sekarang?
Apakah dia benar benar sedang menjadi mafia saat ini?! Saat bersamaku?!
"Kau kenapa?" Sehun bertanya heran saat mendapati mukaku yang tiba tiba pucat. Aku menggeleng senormal mungkin. Tapi karena gerakan kepalaku yang terlalu cepat, alhasil tingkahku jauh dari kata normal. Sehun meneikan sebelah alisnya. Merasa curiga.
Aku berdehem, membuka lagi percakapan kami saat kami masuk kedalam mobil menuju Private Jet yang terparkir cukup jauh di landasan terbang
"Soal makanan tadi.. apa benar benar tidak enak?"
"Apa aku terlihat bebrohong?" lagi lagi dia memberikan tatapan menyebalkan yang membuatku gatal untuk menamparnya.
"Ck. Tadinya jika kau suka, aku akan memasakkan sarapan untukmu setiap pagi."
"Tapi karena kau tidak suka.. yaa sudah~"
"Buatkan saja" Sehun berujar dingin. Dia tidak memandangku saat bicara, melainkan –pura pura-sibuk dengan ponsel di genggamannya. "Aku akan membelikan setumpuk buku resep makanan agar kemampuanmu membaik. Kalau perlu, akan aku datangkan chef langsung ke apartemen untuk mengajarimu." kata Sehun dengan nada dingin dan tegasnya seperti biasa.
Huh. Dasar tukang perintah!
.
.
.
Seingatku, ulang tahunku sudah lewat kemarin. Tapi kejutan dari Sehun tampaknya belum selesai juga. Ketika kami sudah tiba di Bandara Incheon, aku dan Sehun masuk kedalam mobil. Disana ada sebuah kotak dengan pita emas.
"Untukmu" Sehun hanya berujar singkat saat aku menatapnya penuh tanya. Pria itu bahkan lebih tertarik dengan ponselnya, seolah box yang dengan anehnya berada di dalam mobil kami bukan hal besar.
Aku membuka kotak itu dan langsung memekik senang di detik kemudian. Tanpa sadar aku bahkan menubruk Sehun untuk memberikan pelukan singkat. Pria itu hanya terdiam tanpa merespon pelukanku. Ketika aku mengucapkan terima kasih-berjuta juta kali- Sehun hanya mendengus santai dengan smirknya.
Mataku yang masih berbinar binar kembali menatap kotak itu, senyumku merekah.
Astaga.. Sehun benar benar membelikanku Hermes Himalayan Crocodile Birkin! Tas dengan harga ratusan ribu dollar!
Bahkan secepat ini?!
.
.
.
Dan tampaknya, hal hal yang menyenangkan itu belum selesai begitu saja. Mobil kami berhenti di hotel Seokjin. Aku turun dari mobil, mengikuti Sehun yang terlihat santai memasuki lift di lobby, menuju sebuah kamar. Disana, sudah tersedia beberapa keperluanku yang lain, seperti baju ganti dan semacamnya.
Aku tidak bertanya apapun, karena bukankah sudah jelas alasan dia mengajakku ke Hotel? tapi ternyata bukan hanya itu alasan Sehun membawaku kesini. Karena pada pukul 10 malam, aku dan Sehun menuju Lounge di Rooftop dengan gaun yang sudah disiapkan oleh Sehun sebelumnya. Disana aku merayakan ulang tahunku dengan berpesta bersama Sehun, Seokjin dan Monica. Jika biasanya aku merayakan nya di club murahan bersama teman temanku, sekarang aku bersama orang orang terpandang di Lounge termahal di Gangnam.
Aku tidak melupakan sahabat sahabatku, kok. Tenang saja. Aku akan mengajak mereka kesini suatu , lagipula mereka juga pasti bisa kemari dengan pria pria mereka.
Jadi, Untuk sekarang, biarkan lah mereka menikmati waktunya dengan pasangan mereka masing masing.
Begitu juga dengan diriku.
.
.
Jam dua pagi, Sehun sudah menarikku kembali ke kamar hotel. Kami berakhir diatas ranjang dengan kegiatan panas yang kalian sudah tahu apa itu. Aku memberikan seks paling hebat sebagai bentuk terima kasih.
Malam itu, aku benar benar terus mendesah namanya tanpa henti
Malam itu, keringat bercucuran di tubuh kami.
Dan malam itu, aku benar benar bahagia.
.
.
ooo
.
.
Dua hari bersama Sehun benar benar sebuah kebahagian bagiku. Mungkin kalian menganggap, aku dan Sehun sangat dekat. Tinggal di apartemen yang sama selama berbulan bulan. Tapi kalian salah. Sehun hanya akan intim denganku ketika hal tersebut menyangkut urusan ranjang. Kami hanya melakukan kontak fisik dengan alasan kebutuhan. Bukan hal hal roman atau layaknya sepasang kekasih pada umumnya.
Tidak ada pelukan, ciuman, kecupan bahkan mengobrol banyak hal. Kau tahu, seperti untuk saling mengenal?
Tidak. Kami tidak seperti itu. Hubungan kami murni sebagai partner sex semata. Setelah kegiatan seks kami selesai, Sehun akan bersikap seperti orang asing. Seolah aku dan Sehun tidak pernah memiliki hubungan apapun. Dia hanya akan memeluk pinggangku lalu terlelap. Ingat, memeluk yang aku maksud hanya melampirkan tangan besarnya di pinggangku. Bukan menarikku kedalam dekapan hangat seperti para pasangan lakukan.
Jadi aku mohon kalian jangan salah kaprah dengan hubunganku dan Sehun. Kami hanya dekat di ranjang. Nothing Romance
Dan mengingat dua hari belakangan ini aku menghabiskan waktuku bersama Sehun. Aku merasa senang. Karena saat di Korea, kami jarang memiliki waktu berdua seperti itu. Aku akan pulang kuliah lebih dulu. Kita hanya akan bertemu di rumah sakit atau larut malam setelah aku pulang kerja. Di kampus pun kami hanya akan bertemu jika memiliki jadwal kelas bersama.
Intinya, pergi ke Beijing bersama Sehun. Bahkan bertemu dengan ibuku, benar benar seperti angin sejuk di situasi 'kering' ku bersama Sehun.
Tapi sayangnya, setelah aku masuk kuliah esok harinya, semua kembali menyebalkan sperti biasa.
.
.
Saat itu, aku sedang berjalan di koridor untuk menuju kelas selanjutnya. Aku bersenandung pelan, efek dari rasa senang yang belum luntur sejak kemarin. Tapi mood ku langsung berubah ketika sebuah suara menginterupsi dengan rangkulan tanpa permisi di bahuku.
"Yaampun Luhan.. aku benar merindukanmu!" kata Kris dengan wajah sedih di buat buat. Aku langsung melepaskan rengkuhannya dengan kasar secepat mungkin.
"Kau benar benar merusak pagiku!"
"Aku menunggumu di depan apartemen tapi kau tidak ada. Kau dimana?" Pria itu terus mensejajarkan langkahku yang selalu berusaha menjauh darinya.
"Menginap ditempat Sehun."
Muak dengan tingkah laku brengseknya, aku menghentikan langkahku lalu berbalik dan tepat berhadapan dengan nya. Aku mendongakkan kepalaku, menatap mata coklatnya yang tersirat penuh nafsu.
"Dengar ya pria dagu panjang. Aku sudah dibeli! Sudah ada hak miliknya! Jadi sebaiknya, kau pergi saja dan cari wanita lain!" aku berkata penuh ketegasan dan seberani mungkin. Sementara Kris masih mengerjapkan mata, aku segera berbalik dan beranjak pergi. Tapi sayang, reaksi otaknya tidak selamban yang aku pikir. Pria itu dengan sigap menahan lenganku.
"Wait a minute darling."
Aku melepaskan pegangan tangannya lalu kembali mendongak dengan rahang tegas. Aku harus belajar dari Kyungsoo untuk bersikap galak, nanti. Karena sepertinya yang ini kurang mempan untuk Kris.
"Aku akan bertanya padamu sekali lagi. Sekaliii saja." kata Kris sambil mengangkat satu jari telunjuknya. Memberikan kode 'sekali' dengan sebuah raut sok baik yang memuakkan. "Ini benar benar terakhir. Karena aku tidak akan bersikap manis lagi."
"Apa kau mau tidur denganku?" kata Kris sambil menatapku dengan sorot mata polos yang dibuat buat. Kau tahu, seperti sedang meledek. Aku masih cukup waras untuk tidak menghajarnya di kampus sekarang ini. Terlebih dengan banyaknya anak kampus yang melihat. Sudah pasti mereka akan lebih membela Kris.
Tuhan… seandainnya saja tidak ada CCTV disini
"Tidak." aku menjawab dengan nada tak terbantahkan. Lalu kembali berbalik dan segera pergi. Tapi sialnya, lagi lagi pria itu tidak menyerah
"Astaga!" dengan kakinya yang jenjang, Kris bisa menyusulku dengan mudah. Kini pria itu dengan kurang ajarnya menghalangi langkahku. "Setidaknya pikirkanlah dulu!" katanya.
"Tidak perlu! Aku tidak mau! Dan tidak akan pernah mau!"
Kris mendengus , ia memberikanku tatapan penuh intimidasi.
"Xi Luhan. Aku bertanya padamu dengan cara baik baik. Jangan sampai kau menyesal."
Aku menarik salah satu sudut bibirku hingga membentuk smirk menyebalkan seperti milik Sehun. "maaf.. kau membuatku benar benar jijik. Jadi, kurasa jawabannya sudah jelas. Enyahlah dari hadapanku." aku melipat tanganku, bentuk pencerminan bahwa aku tidak merasa tersudutkan sama sekali. Kemudian aku segera menubruk tubuhnya dengan sekuat mungkin sambil berlalu.
Tapi Kris-yang notabene nya adalah pria gila-malah tertawa dibelakangku dengan suaranya yang keras. Dia berhasil mencuri perhatian para mahasiswa disekitar situ.
"Luhan Luhan Luhan~~"
"Kau benar benar dalam bahaya!" ia mulai berteriak ketika jarak langkahku semakin menjauh dari nya. Tapi aku tak perduli.
"I don't care. Dumbass!" aku balas berteriak tanpa menoleh. Sebelum aku berbelok di lorong, aku mengangkat tanganku dan memberikan Kris 'salam' jari tengah.
Dan aku yakin dia melihatnya.
.
.
.
.
Aku tidak menyangka, bahwa di bumi ini masih terdapat orang kaya dengan otak minim seperti Kris. Aku pikir, ucapanku tadi pagi sudah cukup membuatnya mengerti. Tapi ketika aku menemukan Kris di bar tempatku bekerja, membuatku benar benar mempertanyakan kewarasannya sekarang.
Malam itu, aku dipanggil oleh Mr JB dan dia mengatakan bahwa ada seorang pelanggan yang ingin bertemu denganku. Aku pikir, pelanggan itu hanya pak tua yang ingin aku tuangkan minumnya atau ingin memberiku tip secara khusus, tapi begitu aku mendapati pria jangkung berwambut pirang sedang duduk di meja tersebut dengan beberapa antek anteknya, aku hanya bisa menggeleng tak percaya.
"Kau lagi?!" aku menyembur nya dengan suara yang sedikit teredam dengan musik bar. Kris yang sedang minum vodka hanya melihatku dengan sebelah alis terangkat.
"Aku tidak akan membuang waktumu. Aku hanya ingin berbicara sebentar." katanya sambil menaruh gelas itu kembali diatas meja.
"Duduklah." Kris menunjuk kursi yang ia maksud dengan dagu panjangnya itu. Aku melirik kearah Mr JB yang sedang berdiri tak jauh dari kami. Sibuk berbicara dengan seorang tamu penting.
"Kebetulan aku cukup kenal dengan Bosmu itu." sahut Kris seolah mengerti apa maksud gelagatku.
"Duduk."
Aku memilih untuk menuruti pria ini. Aku sedang tidak ingin berdebat dengan bertengkar di tempat kerja. Hal ini hanya akan membuat situasi semakin buruk dan aku tida ingin membuat Mr JB semakin kecewa padaku. Ditambah, tatapan bengis antek antek Kris yang mengerubungi kami sedikit membuatku bergidik
Kris kemudian memberikanku-atau dalam kasus sebenarnya, melemparkanku- sebuah map.
"Apa ini?"
"Buka saja."
Awalnya aku ragu ragu, tapi dengan sorot mata Kris yang menatapku datar dengan tatapan 'kau akan menyesal jika tidak membuka' akhirnya aku menurut
Lampu bar yang berpendar memang membuatku sulit untuk mencerna berkas yang ada di map itu. Tapi aku masih dengan mudah mengenali foto foto yang terlampir disana. Foto ibu ku yang seolah diambil dari jepretan profesional kamera tersembunyi. Mataku terbelalak begitu saja.
"Aku tau segalanya soal mu Luhan. Ibumu, Ayah tirrimu, orang orang yang memiliki piutang denganmu. Pokoknya, segala sesuatu soal hidupmu, aku tahu Luhan."
Sontak kalimat Kris barusan membuatku mendongak cepat cepat. Dadaku berdegub cepat, bulu kudukku berdiri saking panik nya.
"Termasuk bahwa Ibumu, Nyonya Xi Yuan tidak mengetahui bahwa anak gadis semata wayangnya, Xi Luhan adalah pelacur."
Aku bungkam. Entah apa yang harus aku jawab. Otakku masih macet untuk sekedar memahami kenapa Kris bisa memiliki foto foto Ibu? Bagaimana pria bajingan ini bisa mengetahui tentang Ibuku? Kemudian, Kris mengedikkan bahu santai sambil berkata "Bagaimana ya jika dia mengetahui itu semua." ia mengambil gelas vodkanya lagi lalu mulai ber-akting terkejut.
"Astaga, anakku yang polos ternyata gadis murahan."
"Dan astaga uang yang aku pakai selama ini adalah uang haram." Kris kemudian tertawa tawa. Merasa geli sendiri dengan aktingnya yang menjijikan.
Wajahnya benar benar membuatku ingin membunuhnya. Tak kusadari, tanganku bergetar menahan emosi, dadaku naik turun sementara tatapan mataku aku lemparkan setajam mungkin Kearah pria keparat didepanku.
"Apa maumu?" desisku tajam.
"Bukankah sudah cukup jelas?" Kris menaikan sebelah alisnya dengan sebuah smirk kemenangan.
"Tidur lah denganku Luhan. Itu hal yang sepele bukan? Apalagi untuk wanita panggilan sepertimu." Kris mendengus remeh ketika ia menyelesaikan kalimat terakhirnya.
"Aku tdak mau."
Kris berdecak lalu memicingkan matanya kearahku "Kau ini benar benar keras kepala atau memang tolol ya?" ia menggelengkan kembali kepalanya lalu tertawa dingin "Baiklah, aku akan menjelaskan padamu secara detail."
Dia mnearuh gelas Vodkanya lalu menatapku seksama. Seperti seorang guru yang sedang menjelaskan pelajaran pada murid TK yang sulit mengerti.
"Jika kau mau tidur denganku, aku tidak akan menyentuh Ibumu sedikitpun. Tapi jika kau menolak…." Kris menggantungkan kalimatnya, ia menyeringai padaku yang mau tak mau membuatku semakin ketakutan.
"…aku akan dengan berbaik hati mengunjunginya. Meminum teh dan makan manisan bersamanya. Lalu, 'ah, Bibi Xi, kau pasti senang sekali memiliki banyak uang? kau tahu, Luhan memang wanita pangilan yang handal' dan.. wah kau bisa lihat sendiri kan reaksinya bagaimana?"
Aku mendengus keras keras
"Aku tidak akan mem-"
"Dan jika kau masih naif untuk berfikir kalau-siapanama pacarmu?-ah, Oh Sehun? ya, Oh Sehun! Jika kau berfikir Oh Sehun bisa menyelamatkan ibumu, kau salah besar sayang.!" Kris memotong ucapanku begitu saja dan mulai kembali berceloteh dengan ringan.
"Setahuku, Ibumu sedang berada sendirian dirumah, dan aku dengan baik hatinya, mengirim orang untuk menjaga nya." aku memicingkan mata ku tidak mengerti, tapi ketika Kris menjentikkan jari, seorang pesuruhnya mendekatiku dan memperlihatkan sebuh tablet. Itu bukan hanya sekedar tablet. Melainkan alat pantau yang sudah tersambung kerumahku. Aku bahkan bisa melihat rumahku dari CCTV yang terhubung kesana. Aku juga bisa melihat banyak nya orang orang dengan pakaian serba hitam sedang berada di titik titik tersebar di sekitar rumahku.
Mataku berkaca kaca, jantungku seolah mencelos dalam sekali.
"Jika kau memberi tahu siapapun, tepat didetik berikutnya kau akan menjadi anak yatim piatu. Bahkan sebelum Oh Sehun sempat bergerak" Kris berkata dingin. Disaat itu, emosiku tak bisa terbendung lagi.
"BRENGSEK! KAU GILA!" aku melemparkan Tablet itu kearahnya yang dengan sigap ditepis oleh pria sialan itu.
"DASAR KEPARAT! KAU TIDAK BISA MELAKUKAN INI PADAKU!" aku meraung raung, dan bangkit dari kursiku untuk mengahajarnya yang sekarang sedang terkekeh penuh kebahagiaan. Sontak kedua tanganku terkunci oleh pesuruh Kris yang langsung memegangiku. Aku meornta ronta, ingin sekali menendang wajahnya
"KAU MANUSIA PALING MENJIJIKAN!"
"LUHAN!" suara Mr JB terdengar disampingku, pria itu sudah berdiri didepanku untuk menghalau serangan serangan yang akan aku lancarkan pada salah satu tamu keparatnya ini.
Kris bangkit dari kursinya lalu berjalan kearahku yang masih meronta dengan emosi memburu. Mataku menatapnya nyalang dengan keinginan membunuh yang amat tinggi.
Dia memasukkan kedua tangannya ke saku, kemudian menundukkan dirinya untuk membisikkanku sesuatu.
"Aku beri kau waktu 7 hari. Temui aku lagi disini. Jika kau tidak memberikanku jawaban, itu sama saja dengan kau sedang merencanakan sesuatu. Dan itu berarti…"
Kris menarik tubuhnya lagi. Ia membuat symbol pistol dari jarinya lalu mengarahkan ke pelipisnya
"Bang!" Kris berseru dengan sebuah wink meledek dan seringai buas.
Lalu, pria itu berlalu melewatiku.
Setelah bodyguard Kris melepas tanganku, tanpa berbicara sepatah kata apapun aku segera melesat pergi menuju kamar mandi. Mengabaikan Mr JB yang memanggil manggil namaku dengan khawatir.
Aku nyaris menubruk salah stau pengunjung wanita saat menghambur masuk kedalam kamar mandi. Ketukan heelsku terdengar nyaring di ruangan berkeramik itu. Aku masuk kedalam bilik paling pojok dan menangis tersedu sedu dalam keheningan.
Untuk pertama kalinya, aku benar benar merasa sangat ketakutan.
.
.
.
.
.
TBC
A/N
hehe.
sebenarnya mau update kamarin tapi draftnya ga bisa dimasukin. Huft. Belom jodoh kali ya?
Dan untuk yang kecewa karena ga ada penggambaran eksplisit adegan ena ena disini, aku minta maaf. Karena adegan bed scene TIDAK akan muncul di setiap chapter. Hanya beberapa chap yang menurutku perlu. Kenapa?
duh, kawan.. aku membuat FF Rated M, bukan FF porno ^^ jadi aku harap kalian juga bisa menikmati jalan ceritanya juga, terlepas dari bed scene ku yang abal. Maaf kalo chap ini membosankan
well.. kutunggu reviewnya. Terima kasih sudah baca FF nista ini.
saranghae!
-Moza:*
