Sexy Lu.

Main Cast:Luhan(GS), Sehun, Kris

Pairing: Hunhan, Krishan, slight Chanbaek&Kaisoo

Rated: M

Warning: typos, cerita aneh, mature content

GS, DLDR.

enjoy

.

.

Chapter 12

Entah sudah berapa kali Mr JB bertanya padaku apa yang terjadi. Dan sebanyak itu pula aku hanya akan termenung tanpa menjawab pertanyaannya-atau sesekali hanya menggeleng lemah-membuat Mr JB akhirnya menghela nafas panjang dan menyuruhku untuk pulang.

Tidak pernah, sedetik pun dalam hidupku, aku merasakan sebuah kebingungan yang begitu kalut. Bahkan, saat aku memutuskan untuk pergi dari China dan menjadi wanita panggilan, aku menerima dan mengambil keputusan itu dengan ikhlas meskipun jauh dilubuk hatiku, aku tidak pernah menginginkan ini.

Kedatangan Kris ke bar-atau kedalam hidupku-nyatanya menjadi turning point yang tak terbaca dari hidup yang kujalani. Mungkin, kalau dipikirkan lagi, persyaratan Kris bukanlah hal yang sulit. Maksudku, dia hanya ingin meminta tidur denganku, dan kebetulan aku adalah wanita panggilan. Bukankah memang itu tugasku? memuaskan lelaki hidung belang diatas anjang?

Lalu kenapa sekarang aku bisa menjadi begitu menolak mentah mentah tawarannya? ini mudah sekali bukan?. Toh aku hanya perlu mengangkang dan mendesahkan namanya.

Tapi….

Kenyataannya, ini semua tidak semudah itu. Jika saja, hal ini terjadi saat aku dan Sehun belum bertemu, maka tanpa pikir panjang aku akan mengatakan iya. Namun saat ini, aku adalah Milik Sehun. Dan dengan tegas Sehun mengatakan bahwa aku tidak boleh dekat dengan lelaki manapun.

Lalu, bagaimana nanti jika Sehun tahu bahwa aku tidur dengan Kris? dia pasti akan marah besar.

Aku tidak mau Sehun marah.

Dan.. jujur saja, ada sebuah alasan lain yang terasa ganjil dihatiku. Alasan penolakanku terhadap Kris bukanlah semata mata Karena Sehun . Bukan karena aku takut padanya. Melainkan aku perduli pada perasaan pria itu. Perduli pada perasaannya terhadapku.

Aku hanya tidak ingin Sehun memandangku buruk. Aku perduli dan menganggap penting apa yang dia pikirkan tentangku.

Apakah… ini berarti aku menyukai Sehun?

Jika iya.. maka aku sudah melanggar semua aturannya

.

.

.

Aku duduk diatas ranjang. Dalam kegelapan aku memeluk lututku erat sekali. kepalaku tertunduk dan mataku lupa berkedip. Semua pertanyaan dan pikiran berputar cepat dibenakku. Aku harus bagaimana? apa ibu baik baik saja? apa kah aku harus berbicara pada Sehun?

ceklek

Suara pintu kamar yang terbuka membuatku mendongak menatap siluet seorang pria yang baru masuk. Tidak lama, Sehun menyalakan lampu kamar kami dan saat itu juga kau bisa melihat wajah tampannya yang terlihat kelelahan.

"Kau baru pulang?"

"Ya. Ada pertemuan dadakan tadi. Kau sudah makan?" Sehun bertanya sambil melepaskan ikatan dasi yang yang mencekat. Dari penampilan Sehun sekarang, aku bisa yakin pertemuan yang dia maksud tadi pastilah pertemuan penting bisnis gelap nya.

Aku mengangguk pelan sebagai jawaban.

"Apa kau ingin aku buatkan kopi?"

"Tidak perlu. Aku hanya ingin mandi dan segera tidur. Kau juga sebaiknya tidur Luhan. Aku tidak ingin kau terlambat datang kelas besok pagi." setelah itu, Sehun masuk kedalam kamar mandi dan hal yang bisa kudengar selanjutnya adalah bunyi pancuran air.

Malam itu, aku tidak bisa tidur sama sekali.

.

.

.

~ooo~

.

.

.

Hari ini, aku dan Sehun pergi ke Kampus bersama. Pertama, karena pagi ini aku memiliki jadwal kelas dengan Sehun dan ditambah hujan sedang turun deras diluar. Mungkin Sehun tidak tega jika membiarkanku naik bus sendirian.

Setelah menyelesaikan sarapan pancake dan secangkir kopi, aku dan Sehun menuju basement tempat mobil sedan Sehun berada. Tidak ada kata kata yang keluar dari mulut kami. Hening seperti biasa. Namun sebenarnya, banyak sekali yang ingin aku bicarakan pada Sehun.

Terutama soal kedatangan Kris kemarin malam.

.

.

.

.

Hanya suara music di radio yang melantun dimobil selama perjalanan. Sehun fokus dengan jalanan di depan sementara pikiranku terbang kemana mana. Disuatu sisi, aku ingin sekali mengatakan pada Sehun soal masalah yang aku alami. Tapi… ada hal yang membuatku takut. Sejauh yang aku kenal, Kris adalah pria yang sangat nekat. Aku tidak bisa menjamin dia tidak akan tahu bahwa aku membocorkan masalah ini dan meminta bantuan pada Sehun. Bagaimana jika dia tahu dan Ibu dibunuh olehnya?

Oh tidak, jangan Ibu. Jangan ibuku. Hanya dia yang aku miliki di dunia ini.

Tanpa sadar, pikiran pikrian ku ini membuat aku semakin gelisah. Jantungku terus terusan berdetak cepat dan rasanya pikiranku sangat berkabut. Aku hanya memiliki waktu enam hari. Lalu apa yang harus aku lakukan?

Aku menghela nafasku dalam dalam, sekedar untuk menenangkan degub jantungku meskipun itu sebenarnya percuma.

"Uhm.. Sehun?"

"Ya?"

Aku meremas tanganku diam diam

"Soal Max… apa.. dia masih bersama mu?"

Sehun terdiam beberapa detik. Aku menoleh kearahnya takut takut sementara pria albino itu hanya melirik sekilas lalu kembali ke jalanan di depan. Ia berdehem sekalis ebelum menjawab pertanyaanku.

"Ya. dia Aman bersama orang orangku. Kenapa? kau ingin dia dikembalikan atau dienyahkan?"

Aku menolehkan pandangan ku ke depan lagi.

"Aku.. belum tahu." kataku pelan.

Entah apakah sebuah hal baik atau buruk jika Max kembali kerumah. Maksudku, sekarang Ibu sedang dijaga ketat oleh orang orang Kris. Dan Jika tiba tiba mereka mendapati Max kembali kerumah, mereka akan berfikrian bahwa ini adalah ulah Sehun. Bahwa aku sudah meminta menyelamatkan ibu darinya. Tapi kalau Max tidak kembali, aku merasa lebih takut jika ibu sendirian dirumah. Setidaknya, meskipun Max adalah pria bajingan, dia tetap akan melawan ketika diserang. Dan aku harap dia akan melindungi ibu.

Tuhan, kenapa semua begitu rumit?

Setelah berfikir panjang-cukup lama hingga aku dan Sehun hampir tiba di Kampus-akhrnya aku memutuskan untuk membicarakan ini pada Sehun. Dia pasti memiliki solusi bukan?

"Sehun?"

"Ya?"

Aku menoleh dan menatap lurus lurus kearahnya meskipun pria itu tidak membalas tatapanku.

"Aku ingin bicara." kataku mantap.

"Go ahead."

"A-"

Belum sempat bicara, sebuah nada dering ponsel terdengar. Suara itu berasal dari arah Sehun, sontak pria itu langsung merogoh sakunya dan menempelkan ponsel tersbeut ke telinganya.

Aku tidak bermaksud ingin tahu, tapi karena kami hanya berdua di mobil, mau tak mau aku bisa mnedengar percakapan Sehun pada penelfon diseberang sana.

"Begitukah?" ada nada tidak percaya dari suara Sehun yang terdengar sedikit kaget. Pria it umelirik sekilas kearahku , lalu kembali memusatkan perhatiannya ke depan.

"…."

"Itu kabar bagus. Coba cari tahu kembali dan kabari aku secepatnya." Kata Sehun lalu kemudian menutup panggilannya. Dari intonasi yang keluar dari mulut Sehun, aku yakin sekali pria itu sedang berbicara dengan bawahannya.

Aku masih betah menatap Sehun, sekedar untuk memastikan apakah aku bisa melanjutkan omonganku. Tapi si pria albino hanya memasukan kembali ponsel itu ke sakunya dengan terburu. Gelagat Sehun sedikit berbeda. Seperti orang yang sedang excited akan sesuatu tapi juga merasa awas.

Sekitar tiga detik kemudian, gerbang utama dan gedung gedung besar kampusku terlihat, Sehun menoleh kearahku sambil berkata.

"Sorry Lu. Bisa kita tunda sampai nanti malam?"

Ada perasaan sedikit kecewa dan menggaantung yang ganjil dihatiku, namun akhirnya aku memilih untuk mengangguk

"Tentu saja."

Dan mobil kami kemudian masuk kedalam area kampus. Menuju parkiran belakang tempat Sehun biasa memarkirkan mobilnya.

Pagi ini, aku memulai hariku dengan setengah jiwa yang melayang.

.

.

.

.

Ada yang aneh dengan hari ini. Keanehan itu bukan hanya terjadi padaku, namun juga pada Kris dan Sehun. Untuk Kris, hari ini sikapnya tidak menyebalkan seperti biasa. Tidak memanggilku dengan rayauan rayuan menjijikan yang biasa dia teriakan. Pria itu bersikap sangat tenang. Dia bahkan bertingkah seolah seperti tidak mengenalku. Contohnya saat aku dikelas Sehun, pria itu duduk jauuuh sekali dari kursiku. Sesekali aku memperhatikannya tapi pria itu sibuk dengan diktat besar yang ada diatas meja. Tampak sangat serius dengan Kuliah Sehun.

Sesaat aku kira dia seperti itu karena takut pada Sehun. Maksudnya, seperti sedang menjaga sikap. Tapi anggapan itu tampaknya kurang tepat. Karena saat kami berada di kelas elanjutnya-mata kuliah Professor Kang-aku tidak sengaja menubruk Kris hingga buku yang kubawa jatuh dan berceceran dilantai.

Alih alih menggodaku, Kris malah membantuku memungut buku buku itu dan pergi dalam diam. Tapi aku tidak bisa berharap banyak dulu untuk saat ini. Karena, gelagat Kris yang menjadi 'aneh' seperti itu, justru membuatku semakin takut padanya. Suatu kali, aku sempat memergokinya yang sedang menatapku diujung lorong, sebuah sorot mata tajam penuh makna dia lemparkan kearahku. Dan aku bisa melihat jelas sebuah senyum dingin yang jahat terukir di wajahnya. Sebuah ekspresi inplisit bahwa dia masih mengawasiku.

Sementara Sehun, Pria itu tampak tidak fokus dengan hari ini., meskipun kelas berjalan dengan lancar, tapi dosen muda itu tampak tenggelam dengan pikirannya sendiri. Aura nya sangat berbeda, dan aku menyadari sekali itu.

Yang aku belum ketahui adalah, apa kah hal ini pertanda baik atau bukan.

.

.

.

Berbicara dengan Sehun adalah suatu hal yang gampang gampang sulit. Terkadang, dia bisa menjadi orang yang cukup responsive saat diajak bicara. Namun, di saat lain, dia bisa menjadi perwujudan patung manusia yang sempurna. Sudah pernah kubilang bukan? bahwa aku dan Sehun tidak begitu dekat kecuali diatas ranjang.

Saat dihari biasa saja sudah sulit mengajaknya bicara, apalagi saat ini, ditengah mood nya yang sedang tak terbaca

Tapi.. aku tidak punya waktu banyak. Aku harus membicarakan ini sekarang.

Sore itu aku kembali ke apartemen setelah makan siang bersama dengan Sehun di sbeuah restoran di bilangan Gangnam. Selama makan siang tadi, baik aku dan Sehun hanya diam. Sehun dengan pikirannya dan aku juga dengan pikiranku. Sekarang, disaat kami sudah berdua, saat situasi sudah kondusif, aku malah lebih tergerak untuk menanyakan apa yang terjadi padanya, ketimbang membicarakan urusanku.

"Hun, you okay?" aku bertanya pelan saat kami sudah masuk ke kamar. Sehun yang tengah berdiri memunggungiku, menoleh sekilas dan menghentikan kegiatannya melepas kancing kemeja-bersiap untuk mengganti baju.

Sehun masih diam beberapa detik, matanya melihat raut wajah keheranan ku dengan seksama. Ia berdehem, lalu kembali melanjutkan kegiatannya, mencoba untuk senormal mungkin meskipun dia tahu, bahwa aku menyadari tingkah lakunya yang aneh sejak tadi.

"aku akan pergi ke Milan." katanya sambil bergegas membuka kancing baju.

Aku masih diam, menunggu Sehun melanjutkan kalimatnya. "Aku berangkat malam ini." Sehun melepaskan kemejanya dan melempar asal kain putih bermerek itu ke keranjang pakaian kotor.

Aku mengerjap tak mengerti.

"Ini soal Bianca." lanjutnya lagi sambil melepas kaus dalam ber-branded calvin klein dan melemparkan nya lagi ke keranjang yang sama.

"Apa?" entah aku yang salah dengar karena suara Sehun yang teredam tadi atau aku benar benar baru saja mendengar nama Bianca

Sehun menatapku lekat lekat, bahkan pemandangan tubuh topless nya yang seksi tidak bisa mengalihkan nama Bianca yang tertangkap pendengaranku barusan.

Lagi lagi Sehun menghela nafasnya.

Pria itu berkacak pinggang dengan kedua tangannya, dan menatapku serius. "Aku akan terbang ke Milan malam ini. Entah kapan aku akan kembali. Anak buahku mendapat informasi bahwa Bianca sedang berada di Milan sekarang. Dan aku akan kesana."

"Apakah… kau benar benar harus pergi?" aku bertanya pelan. Raut wajah Sehun berubah seperti tidak suka. Aku buru buru meralat kalimatku lagi.

"Maksudku, tidak bisakah anak buahmu saja yang menjemputnya?"

Sinar mata Sehun kembali dingin, entah kenapa itu membuatku seolah sedang berbicara dengan orang asing. Hebat sekali pria itu bisa membuat suasana secanggung ini hanya dengan sorot matanya.

"Apapun yang berhubungan dengan Bianca, haruslah aku sendiri yang mengurusnya. Aku yang akan langsung menemuinya." Sehun berkata tegas. Ia pun segera berbalik dan menuju kamar mandi.

Hal itu pun membuatku sadar bahwa aku memang bukan apa apa untuk Sehun. Ck, bodoh sekali. Bagaimana aku bisa begitu tolol hingga berharap Sehun akan membantuku?.

Memangnya kau siapa Luhan?

Sepertinya.. aku memang tidak mempunyai pilihan.

.

.

.

~ooo~

.

.

.

Tak terasa, waktuku sudah habis. Malam ini aku harus memberikan jawabanku pada Kris.

Dengan keputusan bulat, aku segera pergi ke Bar tempat aku bekerja, saat itu memang bukan shift tugas ku. Tapi seorang bajingan tengah menunggu ku disana

Tak begitu sulit mencari Kris di bar, pria itu tampak mencolok dengan tubuh tingginya. Sementara di Kanan Kiri nya terlihat dua orang Yeoja malam yang bertingkah genit pada Kris. Tak jauh dari sofa tempat Kris duduk, aku bisa melihat para BodyGuard nya.

"Hey, Baby~ aku pikir kau tidak akan datang~" Kata Kris dengan nada manja yang menjijikan. Sementara aku hanya melempar pandangan datar tak minat pada orang itu. Kris memberikan kode agar pelacur pelacur tadi pergi. Keduanya tampak tak senang, terbukti dari tatapan sinis mereka bergitu melewatiku. Cih, kalau saja mereka tau bahwa aku tak sudi sama sekali pada Pria bangsat ini.

"Aku hanya berjaga jaga kalau ternyata kau tidak mau melayaniku." Jelas Kris, seolah aku cemburu pada kelakukannya barusan. Tapi tetap, aku hanya diam.

"Ah, duduklah Luhan. Akan aku pesankan minuman untukmu" Kris mempersilahkan dengan santai seolah kedatanganku kemari hanya untuk bertemu dengan teman lama.

"Aku menyutujui tawaranmu." Kataku mantap tanpa bergeming sedikit pun. Gerakan Kris yang bersiap memanggil pelayanpun terhenti. Ia menatapku dengan hati hati.

"…Maksudmu?" sudut Bibirnya terangkat membentuk Senyum menyebalkan.

Aku menghela nafasku dalam dalam.

"Aku mau tidur denganmu."

Kataku dengan segala kesanggupan yang ku punya.

"Tolong bebaskan Ibuku."

Kris hanya tersenyum menakutkan.

.

.

.

.

Tanpa basa basi, Kris langsung menyeretku keluar dari Bar menuju Mobilnya yang terparkir. Aku hanya bisa terhuyung mengikuti langkahnya. "yak! pelan pelan!"

"Diamlah Luhan. Kau tak tau betapa aku sangat menginginkan ini."

"Lepaskan dulu Ibuku!"

Kris menghentikan langkahnya dan menatapku dengan kilat mata penuh nafsu.

"Tenang saja, aku bukan Pria yang ingkar janji. Tapi kau akan mendapatkan yang kau mau setelah aku mendapatkan apa yang aku mau." Kris mengukir Smirk andalannya.

Sial. Tentu saja ia menginginkan tidur denganku dulu.

.

.

.

.

Kris membawaku ke hotel JW Marriott di Seocho-gu Seoul, selama di perjalanan, Kris hanya fokus menyetir dengan kecepatan gila. Namun, aku bisa merasakan auranya yang 'lapar'.

Seolah sudah memeprsiapkan segalanya, Kris segera menarikku menujur lift di area lobby yang membawa kami ke lantai 5. Di lorong hotel yang mewah itu, genggaman Kris menguat bahkan aku bisa mendengarnya menggeram. Aku Melirik sekilas kearah selangkangannya dan mendapati sebuah gundukan yang terpampang disana.

He's hard already.

Dan aku tau, aku tidak akan selamat dari semenjak pintu kamar dibuka.

.

.

Kris tidak membiarkanku untuk berjalan, segera setelah pintu ditutup oleh kakinya, dia mendorongku ke dinding dan menciumiku dengan brutal. Tangannya menggerayangi tubuhku, deru nafasnya panas, membuat bulu halus di tubuhku berdiri. bibir Kris tebal dan penuh, mudah sekali mendominasi bibir mungilku dalam pagutan panas kami.

Dia mengigit bibir bawahku dengan kesal saat aku tak kunjung merespon ciumannya. Aku bisa meraskan darah dalam air liur kami karena itu. Dan mau tak mau, aku membalas ciuman itu sebelum Kris menegurku dengan cara lain.

Pagutan itu adalah ciuman panas yang liar, wanita manapun pasti akan mengerang penuh nikmat untuk terus minta disnetuh. Belum lagi, tangan Kris yang sudah menelusup masuk kedalam celanaku sementara yang satu lagi terangkul sempurna dibahuku. Menjaga agar bibir kami terus bisa memagut.

Tapi, yang aku rasakan adalah sebuah kehampaan. Otakku sibuk dengan hal lain dan ini sama sekali tidak aku nikmati. Bahkan rasanya lebih buruk draipada tidur dengan pelangganku.

Rasanya lebih kotor dan lebih menjijikan.

Bahkan saat kecupan Kris turun ke leherku,aku hanya bisa menggigit bibir bawahku dengan mata terpejam. Menahan rasa pedih yang tiba tiba menyeruak.

"Come on dear, I know you are the best." Kris berkata sambil melucuti pakaiannya dengan terburu. Aku hanya menatap si keparat itu dengan tatapan tajam yang ku bisa.

"What? don't gimme that look honey." Kris tertawa remeh sambil melepas bajuku dengan terburu. Pria itu kemudian menundukkan dirinya diatasku dan berbisik penuh makna. "Jika kau tidak menikmatinya, maka ini akan menjadi lebih menakutkan."

Kris mengelus paha dalamku. "Relax.." kata Kris.

Dan ia pun memulai permainan nya.

.

.

.

Saat aku merasakan kejantanan Kris yang melesak lesak masuk kedalam diriku, yang terbayang hanyalah wajah Sehun. Sebisa mungkin, aku berusaha memvisualisasikan diri Kris sebagai Sehun. Berusaha mengalihkan perhatian ku atas sentuhan Kris seperti sentuhan Sehun.

Namun, bagaimanapun aku berusaha, Kris tetaplah bukan Sehun. Aku benar benar berada disini. Dibawah rengkuhannya. Tanpa mengenakan busana apapun, dan dengan penis yang yang terus membobol lubangku.

Aku benci saat ini. Benci dimana aku mendesah karena perlakuannya. Bagaimanapun aku berusaha menahan, sensasi fisik yang Kris berikan tetap saja membuat ku merasakan nikmat yang salah.

"Come on baby"

"Oh shit Luhan, you are so tight"

Disaat desahan panas kami semakin bersahut sahutan. Aku pun meraih orgasme ku yang akan sangat ku benci

.

.

.

.

.

Tubuhku lemas. Seolah hanya daging tanpa tulang. Setengah nyawaku melayang entah kemana. Ini bukan lah dikarenakan oleh kegiatanku dan Kris barusan. Bukan karena kelelahan fisik melainkan mentally exhausted dan rasa pasrah yang sudah menelan tubuhku. Disaat Kris sedang membasuh dirinya dikamar mandi, aku memutuskan untuk mengenakan pakaianku secepat kilat, membereskan barang barangku dan segera pergi dari sana.

Pergi dari kamar hotel setelah ditiduri. Persis seperti perempuan kotor tanpa harga diri. Karena memang begitulah aku sekarang.

Aku berusaha menahan air mataku, bersikap senormal mungkin dan sesekali merapihkan rambutku yang sedikit berantakan. Aku tidak mau menarik perhatian orang orang.

Tapi, persetan! untuk apa aku perduli pada pendapat orang?! toh, aku saja tak perduli dengan tubuhku yang masih kotor. Aku berharap parfurmku bisa menutup bau khas sperma Kris yang ia tumpahkan di perutku tadi.

But, really. Jikapun aku mandi, itu tidak akan meluluh kan kekotoran yang sebenarnya ada dalam diriku. Mau bagaimanapun juga, aku memang sudah begini. Dan jauh lebih hina dari sebelumnya

Kakiku gemetar, entah karena udara dingin atau kelelahan. Tapi aku yakin itu karena seluruh tubuhku seolah terguncang, menahan desak tangis yang nyaris meledak kapan saja. Rasanya aku ingin berlari kerumah, dan memeluk Ibuku sekuat tenaga, meminta maaf karena telah menyeretnya dalam situasi rumit ini.

Seandainya saja Ibu tidak memiliki anak seperti ku. Seandainya saja, Ibu bisa mempunyai anak yang membanggakan. Anak lelaki yang bisa menjaganya. Pasti semuanya tidak akan seperti ini.

Semua pikiran pikiran itu entah darimana, mengambil alih otakku, aku membiarkan kakiku berjalan tanpah arah tujuan, membiarkan diriku tersesat ditengah kota malam hari. Situasi ini entah kenapa malah mengingatkanku pada kejadian dimalam Sehun menolongku waktu itu.

Aku mendengus. Menampik sedikit harapan saat hatiku dengan tak tahu malu berharap akan ada sebuah mobil hitam yang berhenti didekatku, lalu ketika kaca mobil diturunkan, aku akan melihat Sehun yang membawaku. Menyelamatkanku.

Mengingat Sehun setelah having sex dengan Kris malah memperparah perasaan ku sekarang ini. Entah kenapa kepalaku terasa pening dan mataku mulai mengabur. Aku menunduk.

Aku berusaha memfokuskan mataku pada jalanan meskipun yang terlihat hanyalah kaki kaki pejalan kaki yang semakin lama semakin buram dimataku

dan ketika aku merasakan tubuhku nyaris ambruk menyentuh jalan, sebuah pekikan dan papahan menyangga ku.

"Luhan!" suara itu terdengar jelas namun perlahan terdengar sangat jauh, dengan kekuatan ku yang tersisa, aku mencoba mendongak. Melihat dengan susah payah seorang wanita yang aku kenal siapa.

"Mo-Monica?"

Di detik kemudian, aku tidak ingat apa apa lagi.

.

.

.

~ooo~

.

.

.

Silau lampu yang menganggu, serta bau khas yang asing membuatku perlahan mengerjap membuka mataku. pemandangan kamar berwarna putih terpampang jelas. Butuh sekitar beberapa menit untuk diriku mencerna kejadian yang baru saja terjadi. Baru saja aku ingin mengedarkan pandangan, sebuah suara berhasil membuatku menolak.

"Kau baik baik saja?" Monica berkata sambil bangkit dari kursi tak jauh dari ranjangku.

Tunggu dulu.

Ranjang?

"Aku berada dimana?" aku balik bertanya sambil mendudukkan diri diatas ranjang. Pertanyaan klasik, meskipun aku sepertinya tau dimana aku sekarang berada

"Rumah sakit." jawab Monica singkat. Raut wajahnya yang cantik tampak khawatir dan… entahlah. Ada ekspresi yang tak terbaca disana.

"Apa yang terjadi?"

Wanita itu mengerjap beberapa kali, ia menggigit bibir bawahnya, seolah sedang mencari kalimat yang tepat. Setelah menghela nafas, Monica kemudian menatapku serius sekali.

"Lu..?" ada yang aneh dengan nada bicaranya. Hal itu berhasil membangunkan insting awas ku.

"Apa Sehun sudah mengetahui hal ini?" alih laih menjawab, Monica malah memberikan pertanyaan yang sama sekali tidak aku mengerti. Yang ku tahu, hal ini pasti bukanlah hal yang baik.

"Mengetahui… apa?" tanyaku dengan kernyitan dahi.

"Kalau.. kau hamil." katanya

Aku rasa aku tidak berada dirumah sakit sekarang. Melainkan sedang tertidur di kamar hotel bersama Kris. Karena aku yakin ini hanyalah sebuah mimpi. Mimpi yang sangat buruk.

.

.

.

"Kau sedang hamil Luhan. Menurut dokter, usia kandunganmu baru menginjak beberapa minggu." ingin sekali aku terus meyakinkan diri bahwa aku memang sedang bermimpi. Bahwa apa yang monica katakan ini tidak nyata. Tapi rasa pusing dikepalaku serta perut yang keram membuatku mau tak mau menyadari bahwa ini nyata. Ini real. Semua yang Monica katakan adalah benar.

"Tapi sayangnya, kau mengalami pendarahan. Kami terpaksa harus menggugurkan kandunganmu." jelasnya lagi. Otakku serasa macet untuk hanya sekedar merespon.

Oh tuhan, omong kosong apa lagi ini?

"A-apa? hamil?"

Menyadari responku yang tak tahu apa apa, Raut wajah Monica berubah. Wanita itu tampak kaget dengan perasaan khawatir yang kentara.

"Kau tidak tahu kau hamil?"

Aku menggelang pelan, sementara Monica masih betah memandangku dengan ekspresi yang sama.

"Apa yang… membuatku keguguran?"

Monica menghela nafasnya sambil menarik kursi didekat ranjang agar ia bisa duduk disamping ku.

"Rahim mu lemah, kau kelelahan, stress"

"Aku tidak tahu apa yang kau lakukan malam malam di pinggir jalan sendirian. Untung saja aku menemukanmu. Aku berniat untuk mendatangi pesta temanku didekat sana. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi padamu Luhan." Monica menguliahiku dengan serentetan kata dan tatapan menuntut, meminta penjelasan.

Tetapi aku hanya tertunduk, enggan untuk menatap wajahnya. Tanpa sadar jemariku meremas selimut yang membalut tubuh. Sekedar untuk berusaha menenangkan diri, takut kalau aku akan kembali pingsan karena kabar mengejutkan yang baru saja kudengar.

Aku bisa merasakan Monica sedang memperhatikanku dengan seksama. hening beberapa menit diantara kami. Tak ada satupun yang berniat untuk membuka suara. Karena sepertinya,kata kata apapun sekarang ini tetap saja akan terdengar buruk di telingaku.

"Aku akan memberi tahu Sehun soal ini." kata Monica mantap sambil bangun dari kurisnya. Sontak aku mendongak dan menatapnya dengan mata membulat.

"Apa?!"

"Dia harus tahu kondisimu Luhan. Ini masalah serius." aura Monica berubah, wanita itu bukanlah wanita hangat dan ramah seperti biasa. Tetapi lebih seperti soerang kakak yang sangat protektif.

"Tapi aku baik baik saja." aku mencicit. Lebih tepatnya berbohong.

"Tapi kalian baru saja kehilangan anak kalian!" Monica mendesis dengan mata menyipit tak percaya.

"Aku a-" sesaat sebelum wanita itu membalikkan tubuhnya untuk bersiap pergi, sesegera mungkin aku menahan tangan Monica hingga ia terhenti dan kembali menoleh kearahku. Wajahnya yang serius perlahan melunak begitu melihat raut ku yang kurasa sangat menyedihkan.

Mataku yang sayu mulai berkaca kaca, bibirku gemetar hingga aku harus menggigitnya agar lelehan air mata tidak kembali menetes.

"Monica aku mohon." aku berkata lirih. Pegangan tanganku pada pergelangan tangan Monica mengendur hingga jatuh lunglai begitu saja. Aku kembali tertunduk.

"Setidaknya biar aku yang akan memberi tahu soal ini nanti padanya." kataku pelan.

Butuh waktu beberapa detik sampai akhirnya Monica menyutujui permintaanku. Namun akhirnya, wanita itu mengangguk singkat dengan tatapan khwatir dan kembali duduk disamping ranjangku.

Kami kembali terbalut dalam keheningan.

Monica terus menatapku didalam keheningan ini. Sebuah tatapan yang sangat ganjil.

.

.

.

.

Aku menghabiskan waktuku di apartemen Sehun sendirian selama beberapa hari setelah kepulangan dari Rumah Sakit. Setidaknya, aku bisa sedikit lega karena Kris si bajingan itu sudah memenuhi janjinya. Tidak ada lagi orang orang yang mengancam ibuku. Tidak ada lagi orang orang keparat yang memantau disekitar Rumahku.

Tapi, kenyataan bahwa aku telah hamil dan keguguran begitu saja membuat hariku tampaknya tak lebih baik. Aku mengunci diriku dari kehidupanku biasanya. Bahkan aku tidak pergi kuliah selama beberapa hari terakhir ini. Mr JB dengan baiknya masih memperbolehkanku cuti, meskipun aku hanya anak buah merepotkan yang tak tau diri.

Sudah berpuluh puluh panggilan masuk tertera di Ponselku. Tao, Baekhyun dan Kyungsoo tak henti hentinya bertanya mengenai kabarku. Awalnya aku berfikir, dengan menjawab sekenanya, mereka akan berhenti membanjiri ponselku. tapi nyatanya tidak, mereka semakin menjadi jadi hingga akhirnya memaksaku untuk keluar rumah dan menemui mereka. Alhasil, aku kembali merangkak kedalam aktifitas keseharianku seperti biasa, termasuk pergi kuliah.

.

.

.

.

Pagi ini, aku memutuskan untuk mencoba melanjutkan kembali hidupku, setidaknya, mencoba berpura pura bahwa semua baik baik saja. Tapi aku lupa satu hal.

Kris bajingan itu masih tetap menjadi mahasiswa di kampus.

Ketika sebuah tangan dengan kurang ajarnya menarikku ke sebuah lorong yang sepi, aku tau hari hari menyedihkanku belum sepenuhnya berakhir.

"What The Fuck! Kau Lagi?!" Aku menjerit seraya mencoba melepaskan tubuhnya yang sedang menhimpitku. Kedua tangannya mencengkram kuat bahuku sementara tatapan matanya yang tajam menghujaniku dengan sorot mata otoriter yang kuat

"Lu, aku mohon, jadilah milikku!" katanya. Terdengar menuntut namun aku bisa merasakan getaran di suara Kris. Seolah lelaki itu sedang menahan sesuatu entah apa. Bisa kutebak dengan mudah, dia pasti sedang menahan diri untuk tidak menerkamku.

"Tidak. Aku tidak mau!" aku meronta namun tubuhnya yang jauh lebih besar dariku bisa mengunciku kembali dengan mudah. Pria itu bahkan menghentakku ke dinding lebih keras, aku bersumpah punggungku terasa ngilu saat menabrak dinding dingin itu

"Lu, please. You drive me crazy!"

Aku mendorong tubuhnya sekuat tenaga hingga pria itu terhuyung beberapa langkah. Dengan berani, aku menatap Kris dengan tatapan senyalang mungkin. Amarah ku sudah memuncak, hal ini sudah sangat berlebihan.

"Apa lagi yang kau mau draiku Kris! Persetujuan awal kita sudah ku tepati! Aku sudah menurut untuk tidur denganmu. Lalu segalanya selesai! Tapi apa yang kau lakukan sekarang ini?!" nafasku memburu, mataku memanas namun aku mencoba sebisa mungkin untuk menahan agar tidak menangis. Setidaknya, tidak di depan Kris.

Namun, sorot mata Kris perlahan menghangat, ia menundukkan dirinya beberapa inci agar bisa menatapku lurus lurus.

"Lu… aku tidak akan menggunakan cara kotor lagi. Awalnya aku berfikir bahwa aku hanya terobsesi padamu. Aku hanya merasa penasaran untuk tidur denganmu Lu. Tapi ternyata…"

"Aku jatuh hati padamu, aku akan terima meskipun kau adalah wanita panggilan. Jadilah milikku Luhan!"

"Jatuh hati padaku?" aku membeo tak percaya, mataku memicing tidak mengerti. Kegilaan apa yang kudengar barusan?

"A-aku juga tidak mengerti." kata Kris sambil mengusap wajahnya dengan kasar

"Tapi semenjak kejadian malam itu aku selalu terbayang bayang dirimu Luhan. Aku terus ingin bersama mu, tidur denganmu, mendengar desahanmu dan menyentuh dirimu." Kris kembali menjadi Kris sebelumnya, menggebu gebu dan penuh dengan nafsu. Pria itu lagi lagi mencengkram bahu ku dan menyudutkan ku.

"Lepaskan!" Cengkraman Kris semakin menguat, matanya mulai berkabut dan aku bisa melihat selangkangannya yang menegang

"Kris!"

"Ayolah Lu" suara Kris berubah menjadi sebuah geraman penuh nafsu, dan ketika ia melesakkan kepalanya begitu saja ke leherku, aku tau pria ini tidak akan berhenti. Sekuat apapun aku meornta, Kris bisa menahannya dengan mudah. Dia seolah tidak perduli dimana kita sedang berada.

Dan dia tidak akan berhenti

"Aah.." aku memekik saat sebuah Kissmark tercipta sempurna di leherku. kissmark yang terlihat kontras dengan kulitku yang putih. Sebelum pria keparat ini berhasil melanjutkan kegiatannya, aku menginjak kakinya sekuat mungkin hingga pria melepaskanku dan terhuyung ke belakang

"..Kris!"

"Sampai kapanpun aku tidak akan mau menjadi milikmu!" aku terengah engah, mataku yang tadi berkaca kaca nyaris menitikkan air mata. Saat aku merasa pandanganku mengabur, pipiku yang basah, dan rasa emosi yang membuatku lelah, disitu lah aku kehilangan pertahanan diriku.

"Kau… adalah pria yang membuat hidupku hancur. Karena dirimu aku kehilangan anakku, aku membencimu!" Kalimat itu sukses terlontar begitu saja. Raut wajah Kris seketika datar, sorot matanya bingung.

"Apa yang kau katakan barusan?" tanya Kris.

"Ya, Kris. aku Hamil dan itu anak Sehun. Kau mengerti kan, seserius apa hubungan kami? jadi aku mohon padamu, pergi dan jangan ganggu hidupku lagi!"

Tanpa basa basi, aku segera berlari meninggalkan Kris di lorong itu. Kris masih bergeming, tidak ada suaranya yang memanggil namaku atau langkah kaki yang mencoba mengejar. Dan aku tidak berniat sama sekali untuk menolehkan kepala ke belakang.

Yang aku tau, aku segera kembali pulang dan menyendiri. Lagi.

.

.

.

~ooo~

.

.

.

hari itu sudah malam, aku merasa lemas karena belum makan seharian. Setelah mandi dan menggunakan kaus turtle neck yang cukup nyaman, aku memutuskan untuk menyiapkan makan malam. Ya, aku tetap memakai Turtle Neck meskipun sedang sendirian dirumah. Aku tidak ingin melihat pantulan diriku di Cermin cermin apartemen Sehun dengan kissmark menjijikan itu.

Saat aku sedang sibuk menyiapkan makanan, tiba tiba suara pintu apartemen terbuka dan aku nyaris terlonjak begitu melihat Sehun berdiri disana.

"Sehun?" Kataku dengan mata terbelalak. Astaga, kenapa dari sekian hari, harus saat ini ia kembali ke Korea?!

"Aku kira kau dirumah sakit." Kata Sehun santai sambil melepas coat dan sepatunya, lalu meneganakan sandal rumah.

"Hari ini aku terlambat pulang karena ada kelas pengganti." Kataku berbohong. "Kau ingin mandi dulu? Aku akan menyiapkan makan malam." Lanjutku lagi sebelum Sehun menyadari ada yang janggal.

"Oke. Lets take a shower together" Katanya sambil bersiap mengajakku ke Kamar. Tapi langkah kaki Sehun terhenti saat aku menggeleng pelan.

"Hun.."

"Aku sedang datang bulan." lagi lagi sebuah kebohongan. Sehun menatapku lekat lekat, namun aku mencoba untuk senormal mungkin

Beberapa detik kemudian, lelaki itu hanya mengedikkan kepalanya samar dan segera pergi mandi.

.

.

.

Makan malam yang Hening bukanlah suatu hal yang bagus. Jika begitu, Sehun bisa menangkap aneh gelagatku. Dia bisa menebak dengan mudah raut wajahku yang sedang sibuk memikirkan hal lain. Dan dia akan terus mengintrogasiku hingga aku jujur.

Mengatakan bahwa aku tidur dengan Kris? oh tidak kawan, itu sama saja dengan bunuh diri.

"Jadi.. bagaimana acara perjalananmu ke Milan?" Tanyaku sambil membuka percakapan saat makan malam. Hanya ini satu satunya cara agar kecanggunganku tidak terlihat oleh Sehun.

"Wrong Call. Bianca memang berda disana. Tapi itu sudah lebih dari dua minggu sebelum aku datang. Dan jejaknya menghilang lagi."

Aku mengangguk angguk, mencoba mencari topik lain sebisa mungkin.

"Kau tampak tak nyaman. Ada yang ingin kau ceritakan?" Tanya Sehun. Hal itu sukses membuat gerakan tanganku diatas piring tiba tiba terhenti dengan tidak wajar.

"Ah… soal itu…"

"Makanlah dulu. Mungkin setelah makan kau bisa lebih rileks."

"Arraseo."

Kemudian, nafsu makan ku hilang begitu saja.

.

.

.

.

Aku dan Sehun memutuskan untuk minum kopi di Ruang Tengah. Pria itu tampak sedang mengecek ponselnya sementara aku hanya bisa menunggu.

"So, ada apa denganmu Luhan?" Katanya sambil memasukan ponsel nya kembali

"Apa kau sakit?" Lanjutnya lagi.

Aku menggeleng cepat cepat

"Tidak."

"Lalu?"

Shit, lidahku tiba tiba kelu. Aku tidak tahu harus berbicara dari mana.

"Ada yang aneh darimu Luhan." kata Sehun pelan, namun terdengar berbahaya. Aku menoleh pada Sehun yang sudah merapatkan tubuhnya kearahku. Mataku reflek terbelalak. Merasa kan sebuah ancaman yang mendekat.

"Kau tidak pernah menggunaakan turtle neck."

Aku gelagapan

"Ah.. aku hanya kedinginan."

Namun Sehun lebih pintar dariku, Pria itu dengan gesit menurunkan kerah kaus turtle neck ku bahkan sebelum sempat aku cegah.

"Se-"

"Cukup." Tandasnya.

Aura diantara kami tiba tiba menjadi sangat dingin dan sunyi. Kengerian yang dulu pernah aku rasakan kembali menghampiri. Sehun yang tadinya duduk di dekatku, memundurkan dirinya beberapa inci, namun tatapan wajahnya ia arahkan lurus lurus kearahku.

Pria itu menusuku dengan sorot matanya yang tampak sangat kelam.

"Aku mengerti bahwa kau memang seorang wanita panggilan. Tapi aku salah mengira kalau kau adalah gadis yang baik." Sehun berkata dengan kalimat dingin yang mutlak.

"Aku kira, omongan yang kau ucapkan malam itu, soal betapa menyedihkannya menjadi wanita panggilan adalah kejujuran. Karena jujur saja Luhan, aku tidak memandangmu serendah itu jika kau ingin tau. Aku tidak pernah menganggapmu sebagai pemuas."

"Di hari pertama aku melihatmu, kau adalah Mahasiswi yang membuatku penasaran, ditambah dengan parasmu yang mirip dengan Bianca. Tidak pernah sedetikpun aku menganggap mu sehina itu. Itu juga salah satu alasankenap aaku tidak ingin menyentuhmu. Aku tidak mau memanfaatkanmu lebih jauh-karena seperti yang kau tahu-aku tidak akan menahan diriku lagi jika kita melakukan seks."

Aku hanya bisa terdiam, Kalimat yang dilontarkan Sehun dengan nada dinginnya malah membuat perasaanku semakin tak karuan. Haruskah aku senang? sedih? Marah?

Yang aku tahu aku sangat menyesal. Sangat teramat menyesal. Aku sendiri tidak paham mengapa sekarang mataku kembali berkaca kaca. Perasaanku seolah takut akan kehilangan yang aku sendiri saja tidak tahu apa itu.

"Aku pikir, aku bisa mempercayaimu Luhan. Oleh sebab itu aku membiarkanmu masuk dalam hidupku, mengetahui soal Seokjin, Monica, Bianca, sampai ayahku sendiri. Aku menyiapkan kejutan ulangtahun untukmu, bertemu dengan Mrs Xi dan mengatur pertemuan kalian. Aku bahkan harus menyekap Max agar kau merasa nyaman ketika kembali kerumah."

"Semua itu memang bukan hal sulit bagiku. Tapi apakah kau tahu, aku harus membatalkan rentetan pertemuan penting dengan Siwon dan petinggi sindikat lain, hingga akhirnya bisnis Ayahku hampir terancam? aku melakukan itu hanya agar bisa menemanimu ke Beijing."

"Untuk apa aku rela melakukan hal seperti itu demi Kau? Kau bahkan bukan kekasihku."

Entah kenapa, kalimat terakhir Sehun menohokku hingga inti tubuhku. Menusuk tepat dijantung dan hatiku. Mengapa kenyataan bisa begitu sangat menyakitkan?

"itu karena aku percaya padamu. Kau menjaga ayahku dan aku ingin kau merasakan hal yang sama ketika bertemu dengan keluargamu. maka dari itu, aku menjaga ibumu."

"Tapi apa yang aku lihat Luhan?"

Air mataku menetes begitu saja, Mulutku seolah terkatup rapat. Ditambah Sehun tampak tak memberikan kesempatan untukku bicara. Lagipula, aku sendiri pun tak tahu harus menyangkal apa.

"Aku bukan pria yang akan terus memberikan kesempatan, yang akan terus memaafkan kesalahan yang sama berulang ulang."

"Aku hanya meminta 3 hal darimu. Dan salah satunya adalah jangan pernah dekat dengan lelaki manapun. Lalu inikah yang kau lakukan? Disaat aku tidak ada? disaat seluruh hidupmu adalah milikku?"

Rasa penyesalan telah menelan ku, mengurungku hingga aku tidak bisa keluar. Air mata yang tadinya menetes kini terus menerus berjatuhan, aku bisa merasakan bajuku basah Karena itu.

"Biar kutebak, ini pasti Kris. benar kan?"

"Se-"

"Apa yang ia tawarkan padamu? Apa uang dariku tidak cukup? Aku bahkan memberikan tiga kali lipat dari yang kau butuhkan!" Tandas Sehun, tak menginginkanku untuk berbicara sedikit pun

"Ternyata, aku salah telah mempercayaimu."

Aku menatap matanya dengan lirih.

"Karena kau memanglah hanya seorang pelacur."

Oh tuhan…

.

.

.

"Sudah cukup bagiku. Bereskan semua barangmu dan pergi sebelum aku kembali esok hari. Tenang saja, aku tidak akan meminta uangku kembali. Aku hanya ingin kau pergi karena aku tidak mau melihat dirimu lagi. Mulai sekarang, aku memutuskan kontrak kita. Dan Mulai sekarang kau hanya orang asing."

Sehun bangkit begitu saja dan pergi menghilang dibalik pintu. Tidak ada bentakkan, namun semua kalimat Sehun benar benar menghancurkan diriku. Atmosfer apartemen Sehun bahkan tetap mencekam meskipun pria itu tak lagi disana. Seolah ia meninggalkan semua kemarahannya disana. Menyergapku hingga aku sesak.

Aku menangis tersedu sedu.

Aku bingung, Aku lelah, Aku merasa kehilangan

Malam itu, untuk pertama kalinya, rasanya ingin mati saja.

.

.

.

.

.

TBC

A/N:

Heheeeee maaf ya aku gantungin lama banget. Sejujurnya ini udah mau di update 2 minggu sebelum puasa :") Iya iya, aku tau, dimana mana kalo hamil baru beberapa minggu itu belom termasuk keguguran. Tapi yaudahlah yaaa kepentingan cerita :")

Udah pada lupa ya jalan ceritanya? Maaf banget bikin kalian nunggu lama, dan maaf banget juga kalau ga sesuai seperti yang diharapkan. Aku bakal memperbaiki lagi cara penulisanku. hehe

Thankyou buat yang udah nunggu *ketcup satu satu*

Mulai sekarang aku bakal Update cerita lagi kayak biasanya. Ditunggu ya reviewnyaaa~

Untuk Kai ne ku dan yesi tercintah, makasih banget loh udah selalu nagih ini FF nyaris tiap hari. Meskipun ga pernah review di FFN, tapi selalu ya, menyemangatiku dengan cara nya yang sangat HQQ. ku sayang kalian muah:*

(mohon maafkan Typo nya. ku tak edit lagi soalnya huhuhu)

saranghae!

-Moza:*