Sexy Lu.

Main Cast:Luhan(GS), Sehun, Kris

Pairing: Hunhan, Krishan, slight Chanbaek&Kaisoo

Rated: M

Warning: typos, cerita aneh, mature content

GS, DLDR.

enjoy

.

.

Chapter 13

Disaat itu, aku bahkan tidak bisa menangis lagi. Sudah 20 menit Sehun pergi meninggalkan apartemen, namun suasana diruangan ini masih sama dinginnya seperti tadi. Kalimat Sehun terus terputar dibenakku dan itu hanya membuat hatiku semakin sesak.

Sejujurnya, aku tidak menyangka Sehun menilaiku seperti itu. Tidak memandangku sebagai wanita murahan meskipun aku memang wanita murahan. Rasa terkejut dan senang atas itu tiba tiba menguap dalam waktu sepersekian detik. Karena aku tahu, hal tersebut tidak penting lagi sekarang. Semua persepsi Sehun padaku, sudah berubah sekarang.

Aku tak lain hanyalah sebuah sampah.

.

.

~ooo~

.

.

Setelah menghela nafasku panjang panjang, akhirnya aku bangkit dari Sofa dan melangkahkan kaki ku dengan berat ke kamar. Bagaimanapun juga aku harus segera pergi dari sini. Aku tidak mau menjadi wanita murahan tak tahu diri yang masih menetap di apartemen mantan pemiliknya. Toh aku sudah diusir. Lalu untuk apa aku berlama lama disini. Jika Sehun tiba tiba kembali, ia akan makin jijik saja denganku.

Mengepak barang bukanlah hal mudah sebenarnya, apalagi barang yang aku miliki sekarang bisa dibilang cukup banyak. Tapi saat ini aku tidak merasa kesulitan karena aku tidak akan membawa seonggok barang pun pemberian dari Sehun. Segala pakaian, sepatu, Tas hingga perhiasan mahal yang Sehun belikan Untukku beberapa waktu lalu, kusimpan rapat rapat di walking closet milik kami—atau sekarang menjadi milik Sehun-.

Tak banyak barang yang bisa aku bawa. Kecuali, jika saja semua kenangan bisa aku bawa pergi.. tentu aku akan membawa semuanya.

Aku mengedarkan pandanganku untuk terakhir kalinya di apartemen mewah itu, sekedar mengucapkan selamat tinggal. Terkesan berlebihan memang, tapi kau hanya tak tahu bagaimana rasanya.

.

.

.

.

.

Ketukan heels ku terdengar dilantai marmer apartemen itu, menemani setiap langkah menuju lantai Lobby. Hari ini sudah cukup larut, aku tidak begitu yakin ada taxi yang terparkir di depan apartemen. Wanita di meja Front Desk malam itu melihat ku dengan tatapan heran kearahku. Yeah, memangnya apa yang sedang dilakukan seorang gadis sendirian, ditengah malam begini sambil menggeret geret koper. Mengejar pesawat kah? aku tidak yakin ada pesawat yang masih beroperasi tengah malam begini.

Aku memutar otakku, aku bisa saja kembali ke apartemen lama ku malam ini, tapi hati kecilku menolak. Untuk sekali saja, aku tidak ingin sendirian. Batinku terguncang dan tubuhku lemas. Kepalaku pening dan aku merasa keningku sedikit berkeringat. Aku menahan perasaan yang siap meledak, dan menangis tersedu sedu di lobby bukanlah hal yang baik sekarang.

Aku benar benar sedang membutuhkan temanku saat ini. Tak salah 'kan, jika aku menjadi teman yang manja dan merepotkan mereka? setidaknya untuk kali ini.

Aku mengeluarkan ponselku dari dalam sling bag yang ku pakai, dengan cepat jemariku bergerak gerak diatas layarnya, mencari kontak sebuah nama

"BAEKHYUN"

Kemudian, aku menelfon pelacur pendek kesayanganku itu. Baekhyun adalah pilihan terbaik saat ini. Aku tidak mungkin menemui Zitao karena Pria nya adalah kakak kandung dari si bajingan Kris. Aku yakin satu juta persen, bahwa Kris akan lebih mudah menerkamku jika aku berada di dekat Zitao dan Kenndrick. Lalu Kyungsoo? Terakhir ku tau, dia sedang liburan bersama kekasihnya di Luar Negeri. So, Baekhyun is the best option. Atau.. bisa dibilang, ia satu satunya pilihan yang ku punya sekarang.

Nada sambung terdengar dari sebrang sana. Sudah bermenit menit waktu terlewati tapi Baekhyun tidak juga mengangkat telfonnya. Tidak bisa kusalahkan juga, Si pendek itu pasti sedang terlelap sekarang—atau sedang mendesah hebat. Nyaris saja aku menyerah, tapi tiba tiba panggilanku akhirnya diangkat dan suara Baekhyun yang setengah mendesah langsung menyapa indra pendengaranku.

"Hmmh.. Hallo?"

Tanpa sadar aku memutar bola mataku begitu desahannya terdengar sangat menjijikan.

"Baek.. apa kah kau masih bangun?"

"Hmh.. yeah. Bisa dibilang. Ada apa Luhan?"

"Bolehkah.. aku menginap ditempatmu?"

Pertanyaanku tak langsung dijawab oleh Baekhyun, alh alih menyahut, aku hanya bisa mendengar suara suara kecil Baekhyun dan Chanyeol yang tak bisa ku tangkap apa itu. Ah.. mengapa aku lupa.. Baekhyun tentu tinggal bersama Chanyeol sekarang, bukan apartemen sempit yang biasa ia sewa diujung gang.

Baru saja aku membuka mulut untuk membatalkan niatku sebelumnya, Baekhyun kembali berbicara.

"Tentu saja Luhan. Tapi aku sedang berada ditempat Chanyeol sekarang. Kau boleh menginap disini. Chanyeol juga tidak keberatan."

Ada perasaan tidak enak saat aku menyadari bahwa aku baru saja merepotkan orang asing karena masalahku.

"Lu? Kau dsiana? tenanglah, its okay. Aku malah senang jika kau menemani ku disini. Kau sedang berada dimana? Nanti akan aku jemput."

"Tidak. Tidak perlu. Kirimkan saja alamatmu dan aku akan kesana."

"Okay. Hati hati dijalan Luhan."

.

.

.

.

Taksi yang aku tumpangi akhirnya berhenti disebuah mansion besar di district elit di pusat kota Seoul. Suasana Mansion berwarna putih gading itu tampak sepi, mungkin kebanyakan orang di dalam sana sudah tertidur lelap. Hanya penjaga di dekat gerbang yang masih terjaga. Tampaknya, Chanyeol sudah menginformasikan pada pria baya itu bahwa aku akan datang, karena didetik kemudian, sang penjaga hanya meminta ID card ku kemudian mempersilahkanku masuk

"Anda sudah ditunggu oleh Tuan Muda Chanyeol." Sahutnya.

Ketika aku memauski pintu gerbang utama Mansion, suasana rumah tampak remang, dan tiba tiba saja sebuah suara melengking dari lantai dua, beserta derap langkah kaki yang berlari menuruni anak tangga membuat jantungku hampir copot.

"Luhan~~" Sembur Baekhyun lalu memelukku erat sekali. Perlu kuakui bahwa gadis ini sungguh berlebihan. Tingkahnya seolah aku baru kembali dari perang saja.

"Ah akhirnya aku tidak akan kesepian lagi dirumah ini." katanya sumringah sambil melepaskan tautan kami. Derap langkah lain pun terdengar diikuti oleh sosok Chanyeol yang sedang berbalut Jubah tidurnya yang berbahan satin kemilauan.

"Kau masih kesepian juga Baek? Padahal sudah kutemani tiap malam." celetuk Chanyeol, Baekhyun hanya mengembungkan pipinya, memberikan ekspresi lucu andalannya.

"Maaf mengganggu mu Malam Malam begini Chanyeol." Kataku ketika Chanyeol sudah berada didepanku sekarang dan Baekhyun dengan otomatis langsung memeluk lengannya dengan manja.

"Hahaha, tenang saja Luhan. Kau bisa tinggal sesuka yang kau mau. Aku bahkan senang Jika Baekhyun ada yang menemani disini. Karena kadang, you know. Aku harus pergi untuk business trip." Chanyeol berujar dengan senyum ramah, benar benar kontras dengan pribadi Sehun yang dingin.

"Tapi.. apakah Sehun-sshi memperbolehkan kau menginap disini?"

Argh.. Sehun lagi. Pertanyaan Chanyeol barusan sukses membuatku kembali terngiang kalimat Sehun beberapa jam lalu. Kalimat yang hanya akan membuat dadaku panas. Aku hanya bisa memberikan senyum terbaikku dan bersikap senormal mungkin.

"Soal itu… tenang saja Chanyeol.. Sehun baik baik saja. Aku jamin kau tidak akan terkena kesulitan apapun jika aku menginap disini. Lagi pula, aku hanya menumpang untuk beberapa hari."

Chanyeol mengangguk angguk mengerti

"Baiklah."

Kemudian, dengan sekali tepukan tangan, entah dari mana dua orang maid muncul dan menghampiri kami.

"Tolong bawakan barang Nona Xi ke kamarnya di kamar tamu yang paling besar."

"Baik tuan Muda."

Lalu, kedua wanita berseragam maid itu pun segera membawa koperku ke lantai 2.

"Ayo Luhan.. aku ingin bertanya banyak padamu. Ayo kita ke kamarmu sekarang, dan kau harus menceritakan semuanya!" Sembur Baekhyun ketika para maid tadi baru saja berjalan 3 langkah dari hadapan kami.

Chanyeol dengan sigap meraih tangan Baekhyun dan menggenggamnya dengan mesra sebelum anak itu meloncat dengan antusias kearahku dan menggiringku ke lantai dua untuk dihujani dengan rentetan kalimat introgasi.

"Slow down there baby. Luhan kan baru sampai, dan ini juga sudah larut. Biarkan dia beristirahat. Silahkan jejali ocehanmu pada Luhan esok pagi." Kata Chanyeol mengingatkan.

Ah, Saved by Chanyeol. Ingatkan aku untuk berterima kasih padanya nanti.

"Neee." Sahut Baekhyun patuh meskipun ada raut tidak terima diwajahnya.

"Yasudah Luhan. Selamat beristirahat ya! jaljayo~" Kata Baekhyun, kemudian, Ia dan Chanyeol pun segera kembali ke kamar mereka, dengan sebuah rangkulan mesra

"Good night." aku menyahut singkat

Dalam beberapa menit, aku masih betah memandangi interaksi Chanyeol dan BAekhyun yang hangat. Interaksi sebagai sepasang kekasih sebenarnya.

Mereka tampak sangat bahagia.

.

.

Tak mau semakin lama berdiam diri dalam kegelapan rumah, aku segera beranjak ke kamar yang dipilihkan Chanyeol untukku. Kamar dengan ukuran besar yang didominasi dengan warna soft yang menenangkan. Aku melihat Koperku sudah tersimpan rapih disudut ruangan.

Ruangan ini indah.. tapi tetap saja terasa asing. Bahkan jujur saja, aku tidak bisa lagi membedakan mana asing mana bukan. Hidupku sudah terbiasa dengan Sehun, dan apapun yang tidak ada Sehun didalamnya, bagiku itu hanyalah tempat asing.

Dan aku tidak menyukai itu.

Harus aku akui, disetiap nama Sehun yang aku sebut dalam batinku, wajah pria itu dengan kurang ajarnya akn selalu hadir dalam benakku. Sehun yang tersenyum. Sehun yang datar. Sehun yang dingin. Bahkan Sehun yang sedang menggagahiku., semua terekam jelas dan itu membuatku lelah.

Aku hanya bisa membaringkan tubuhku diatas ranjang dengan mata terpejam. Aku memiringkan tubuhku, sekedar mencari posisi yang nyaman.

Dan ketika wajah Sehun kembali tampak nyata dalam mataku…

Setetes air mata kemudian jatuh..

Diikuti tetesan lain yang bergulir tanpa henti. Tak bisa kucegah.

Isakan isakan yang terucap, sebisa mungkin aku tahan. Tanganku terkepal kuat, meremas ujung bantal yang sekarang semakin basah.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku menangis sehebat ini

Untuk seorang Pria.

.

.

.

~ooo~

.

.

.

"Jadi apa yang terjadi?" Baekhyun langsung menjejali telingaku dengan pertanyaan esok paginya. Pagi ini, aku Baekhyun Chanyeol sedang duduk bersama dimeja makan, menikmati sarapan kita. Aku melihat sekilas kearah Baekhyun yang sedang menatapku antusias dan jujur saja itu agak menyeramkan. Sementara Chanyeol tampaknya tak begitu tertarik dengan pembicaraan ini, ia hanya berkutat dengan roti panggangnya.

Aku menjilat bibirku sekali, kemudian mengambil beberapa potong sosis keatas piring, sekedar untuk bertingkah normal di depan Baekhyun.

"Sehun.. hanya sedang pergi ke luar negeri, ia ada urusan. Aku merasa bosan sendiri di apartemen, jadi aku pikir… akan menyenangkan jika menghabiskan waktu bersama temanku. Apalagi kita kan sudah cukup jarang bertemu."

Baekhyun memicingkan matanya dengan tatapan superior menyebalkan. Ini adalah gerak gerik dimana Baekhyun tidak puas dengan jawaban yang ia terima. Sialan, kenapa ia membuatku merasa terintimidasi seperti ini.

"By the way, apa kau perlu kendaraan untuk ke kampus. Aku memiliki beberapa Mobil yang bisa kau pakai." Suara berat Chanyeol menginterupsi kegiatan saling pandangku dengan Baekhyun. Dengan bibir yang manyun, Gadis itu kemudian melanjutkan sarapannya sementara aku menoleh kearah Chanyeol

"Tidak perlu Chanyeol-ah, terima kasih atas tawaranmu. Tapi aku bisa pergi naik Bus."

Hening. Baekhyun memanfaatkan situasi ini untuk melirikku penuh arti, kemudian mengalihkan pandangannya kearah Chanyeol.

"Yeobo.. Sebaiknya kau berangkat. Bukankah kau ada pertemuan dengan Ayahmu di Jepang?" katanya sambil mengusap bahu Chanyeol dengan lembut. Cih, semenjak kapan gadis cerewet itu bersikap manis seperti ini.

"Kau benar, sebaiknya aku pergi sekarang." Kata Chanyeol kemudian menyudahi sarapannya.

"Aku tinggal dulu ya. Beritahu Butler ku, Donghae jika kalian membutuhkan sesuatu."

Chanyeol Bangkit dari kursi dan mencium bibir Baekhyun dengan mesra sebagai pamitan.

"Have a safe flight." kataku sebelum akhirnya Chanyeol benar benar beranjak pergi dan menghliang dari ruang makan.

Ketika aku berniat untuk melanjutkan sarapanku, aku mendapati Baekhyun sedang duduk didepanku dengan sorot mata penuh selidik.

.

.

.

"Kau pasti berbohong!" Sembur Baekhyun keras kepala

"Mwo?"

"Cepat katakan padaku, apa yangterjadi dengan kalian? Ada apa dengan kau dan Sehun?!"

"Omong kosong apa yang kau bicarakan. Aku baik baik saja. Hentikan tatapan mengerikanmu itu! cebol!"

Baekhyun mendengus dan dengan cantiknya ia melipat kedua tangannya lalu menelanjangiku dengan sorot mata menyebalkannya itu.

"Hei jalang, aku berteman denganmu sudah dari lama sekali. Aku bisa tahu apa kau memang benar benar tidak ada masalah, atau sedang pura pura tidak ada masalah. Sebaiknya kau beri tahu atau aku mencari tahu sendiri!" Ancam Baekhyun, hal itu akhirnya berhasil membuat kedua bola mataku terbelalak. Ia berhasil memaksaku untuk mengikuti sesi introgasinya.

"Kau gila!"

"Geureh! Sekarang beri tau apa yang terjadi!" Titah Baekhyun layaknya Kaisar. Duh, seharusnya aku tahu kalau anak ini benar benar keras kepala. Ia tidak akan melepaskanku begitu saja sampai ia berhasil mendapatkan informasi yang ia mau.

Aku berdecak frustasi sebelum akhirnya menyerah dan menjawab.

"Aku dan Sehun sudah putus! ma-maksudku kontrak kita sudah selesai! ia memutuskan dengan sepihak kontrak kami! lalu dia mengusirku dari apartemen, dan dia tidak ingin bertemu denganku lagi! sekarang aku harus bagaimana?! Ia dosenku! dosen pembimbingku! otomatis aku harus terus terusan melihat wajah dingin menyebalkannya setiap hari! Lalu bagaimana? aku harus keluar dari kampus, Begitu?!"

Baekhyun mengerjap ngerjapkan matanya

"A-apa?"

"You heard me." Sahutku sambil menenggak jus jeruk dengan kesal. Baek membuka lalu mengatupkan mulutnya berkali kali. ia kemudian berdehem dan kembali memandangku lekat lekat

"Apa yang kau lakukan sampai dia marah sebegitu besarnya dengan dirimu?" Baekhyun bertanya pelan. Tapi aku tidak bisa menemukan jawaban yang pas untuk itu. Aku masih belum siap menceritakan pada siapapun soal ini.

Baekhyun yang menyadari perubahan suasana hatiku akhirnya menyerah, ia tak lagi menatapku dengan tatapan mengerikan seperti tadi.

"Maaf." Katanya pelan. Baekhyun lalu bangkit dari kursinya dan menghampiriku. Lengan kurusnya mengalung sempurna di bahuku, Baek yang kini berdiri disamping, kemudian menarikku kedalam rengkuhannya.

"Sabar lah Luhan.. kau.. sudah tahu, bahwa hal seperti ini sudah wajar bagi kita. Bagi pelacur seperti kita, untuk dibuang begitu saja, itu merupakan hal yang biasa. Maaf jika aku terkesan ikut campur. Seharusnya aku tahu bahwa hal ini bisa saja terjadi. Bahkan hal itu juga bisa terjadi kepadaku." Katanya sambil mengusap pelan bahuku, bermaksud mencoba menenangkan. Aku mendengar baik baik ucapan Baekhyun. Dia benar. Tak sepatutnya aku merasa sedih seperti ini. Bukankah aku suah terbiasa di buang begitu saja? Bukankah memang begini nasib kami? Dipakai lalu ditinggalkan sesukanya.

Tapi… kenapa Sehun terasa begitu berbeda dengan pria lain? Kenapa amarah Sehun tampak berarti bagiku? Padahal, dia hanyalah pelanggan. Yang membayarku dengan harga tinggi dan mempersilahkanku untuk sedikit masuk kedalam hidupnya.

Kenapa?

"Tinggalah disini sampai kau merasa lebih baik. Dan jika kau kebingungan apakah kau harus tetap kuliah atau tidak-" Baekhyun menjeda ucapannya untuk melepaskan rengkuhan kami, gadis itu berkacak pinggang dengan aura bossy yang kental

"-tentu saja kau harus kuliah, bodoh! Jangan bersikap kekanakan seperti ini Luhan. Kau membiayai kuliahmu mati matian. Jangan sampai hanya karena si bedebah itu mendepakmu dari hidupnya, kau juga harus putus kuliah! Ingat tujuan utama hidupmu." Lanjut Baekhyun, tak lupa sambil memukul keningku dengan sendok

"Jika dia merasa jengah dengan kehadiranmu, dia saja yang berhenti mengajar di kampusmu! Uangnya kan banyak!"

Aku mendesis protes sambil mengusap keningku. Tapi jika dipikir pikir, ucapan Baekhyun tidak salah. Untuk apa aku mengalah dan meninggalkan kampusku? Aku menjajakan diriku di negeri ini untuk bisa kuliah.

"Kau benar Baek. Terima kasih banyak. Kalau begitu, aku siap siap berangkat kuliah dulu ya."

"Hwaiting!"

"Ah iya, jangan beri tahu Tao atau Kyungsoo soal ini."

"Wae?"

"Nanti saja. Aku yang akan memberi tahu mereka."

Dan ketika Baekhyun mengangguk Setuju, akupun bangkit dan segera bersiap menuju kampus. Sepertinya, banyak hal yang akan berubah mulai saat ini.

.

.

.

.

Mungkin Tuhan sedang mencintaiku hari ini, Setelah aku mengecek kembali jadwalku, tidak ada kelas dengan Sehun untuk hari itu, dan aku juga tidak melihat Kris dimanapun. Yeah.. mungkin hari ini aku bisa kembali menjadi Luhan yang normal. Luhan dulu, yang belum mengenali Sehun dan kerumitan hidupnya.

Lu-

Srettt

Kegiatan berbicara dalam hatiku terganggu oleh seseorang yang menarikku tiba tiba, memutar tubuhku agar bisa menatapnya dengan sempurna. Sementara kedua tangannya mencengkram lenganku keras keras seolah tidak akan membiarkan ku untuk bergerak seinci pun.

Aku menatap orang tersebut, dan lagi lagi Itu Kris.

Fuck. Baru saja aku senang tidak melihat Batang hidung Kris seharian ini. Tapi si brengsek itu sekarang dengan ajaibnya muncul di hadapanku.

"Ka-"

"Jika aku berhasil mencurimu dari Sehun, mau kah kau menjadi Milikku Luhan?" Kris berujar dengan aura tegas yang dominan dari matanya. Pupil mata pria itu membesar dan ia bahkan tidak berkedip. Suara berat khasnya berhasil membuat bulu kudukku merinding. Sementara cengkramannya tidak mengendur sedikit pun.

Aku mengernyitkan dahiku.

"Huh?"

"Jadilah milikku. Hiduplah denganku Lu."

Bukannya langsung menjawab, aku hanya menampilkan raut lelahku. Sampai kapan orang ini terus mengejarku. Harus bagaimana lagi supaya dia pergi? apa dia tidak mengerti arti penolakkan?. Aku tertawa pelan penuh sarkastik. Kemudian, dengan dagu terangkat, aku menatapnya tanpa takut.

"Kau benar benar merupakan pria yang tidak punya otak! Berapa kali harus kusebutkan padamu.. aku tidak mau. Kau lah yang membuatku menderita Kris. Bagaimana mungkin aku hidup dengan orang yang menghancurkan hidupku?" desisku tajam. Kris hanya menyunggingkan Smirk andalan di wajah blasterannya itu,

"Really?" katanya sambil melepas cengkramannya perlahan hingga sekarang aku terbebas. Tapi nada janggal Kris barusan malah membuatku bergeming. Aku mengernyitkan dahiku tidak mengerti.

"Benarkah aku lah orang yang membuatmu hidup menderita?" Tanya Kris dengan sebelah alis terangkat. Sekarang, giliran ia yang menyoroti ku dengan tatapan menantang

"Pikirkan baik baik Luhan. Benarkah aku yang membuat hidupmu serumit ini? atau Oh Sehun?"

"Jangan bawa bawa Sehun dalam masalah ini." Sahutku reflek ketika nama Sehun kembali dikait kaitkan dalam hidupku.

"Kenapa?"

Aku hanya membuang pandanganku, enggan untuk menjawab ataupun melihat Kris.

Kris menghela nafasnya sekali sebelum melanjutkan kalimatnya.

"Pikirkan lah Luhan. Jika memang kau pikir aku hanyalah benalu dalam hidupmu, jika kau memilih hidup dengan Sehun… apakah kau bahagia? dengan pria itu?"

Aku benci mengakui bahwa kalimat Kris berhasil tertanam di benakku.

"Jika tidak… kau tau kepada siapa kau harus pergi." lanjutnya lagi, lalu tanpa bicara sepatah kata apapun, Kris berbalik dan meninggalkanku di lorong gedung yang sepi.

Mau tak mau, aku harus mengakui, bahwa kerumitan hidupku, belum selesai sampai sini.

Dan sekarang, semua poros itu berada di pria bernama Kris Wu.

.

.

.

Semenjak kejadian malam itu, dimana aku bertemu Monica dan masuk rumah sakit. Semenjak ia mengetahui bahwa aku keguguran anak Sehun, Gadis bule itu selalu mengirimiku pesan singkat untuk menjaga kesehatan. Ia sekarang lebih terlihat seperti ibu kedua ku.

"Luhan.. Apa kau sudah bicara pada Sehun soal keguguranmu?"

Sebuah pesan Line masuk kedalam ponselku. Aku menimbang nimbang jawabanku sebelum akhirnya mengetik.

"Ehm.. belum. susah sekali mencari waktu yang tepat."

"Astaga! Apa perlu aku yang mengatakan pada Sehun? Tidak kan. Kau harus memberi tahunya Luhan. Dia berhak tahu."

"Iya…"

"Baiklah, hari ini aku harus terbang ke Paris dan menetap disana selama dua minggu. Sepulangnya aku dari Paris, ayo kita bicara bersama dengan Sehun. Aku akan membantumu."

"Aku tidak menerima penolakan." Potong Monica bahkan sebelum aku sempat mengetik jawaban apapun.

Ternyata, semua ini makin rumit saja.

.

.

.

.

.

Sudah sekitar dua jam aku duduk disebuah café dekat kampus. Saat ini, langit sudah gelap. DIdepanku, terlihat sebuah asbak yang penuh dengan putung rokok yang aku hisap dari beberapa jam tadi. Pikiran ku kacau, dan aku membutuhkan asupan nikotin yang banyak. Meskipun itu tidak bisa menyelesaikan masalahku, setidaknya aku bisa merasa sedikit lebih tenang.

Aku mencoba untuk bernegosiasi dengan diirku sendiri. Menampar diriku dengan kenyataan bahwa apapun yang berhubungan dengan Sehun, adalah masa lalu. Tidak seharusnya aku tetap berhubungan dengan Sehun dan teman temannya. Sudah sepatutnya aku menghilang dari hidup mereka.

Lalu, semua anggapan itu bermuara pada satu nama : Tuan Yunho

Bagaimanapun juga, Tuan Yunho adalah tanggung jawabku, tapi aku yakin Sehun tidak main main dengan titahnya. Ia benar benar tidak mau ada urusan apapun denganku.

Lalu bagaimana dengan tugasku untuk Tuan Yunho?Jika diingat ingat, beberapa terakhir ini aku absen menjenguk tuan Yunho karena beberapa masalah. Jadi sepertinya, lebih baik aku pergi ke rumah sakit sekarang.

Jika aku ditolak disana…

…. Setidaknya biarkan aku mengucapkan selamat tinggal lebih dulu.

.

.

.

.

.

.

Akhirnya, Satu jam kemudian aku sudah berada di Rumah sakit, tepatnya di bangsal tempat dimana Tuan Yunho di rawat, seperti biasa, pengamanan ketat sudah menungguku. Tapi, ada yang aneh dengan malam itu. Bahkan, aku tidak bisa melewati penjagaan pertama. Para Bodyguard melarangku untuk lewat.

Sebelum aku sempat bertanya, Siwon sudah muncul dari belakang Bodyguard dan ia melangkah dengan begitu tenangnya kearah kami.

"Nona Adams" Siwon menyapaku dengan raut tegas khasnya.

"Siwon"

Pria itu masih bergeming, dan Bodyguard yang menutup jalanku belum juga beranjak. Aku pikir, Siwon menghampiriku untuk memberikan akses masuk.

"Apakah aku tidak boleh lewat? Aku ingin menjenguk Ayah. Maaf jika beberapa hari terakhir ini aku belum sempat kemari. Ada beberapa urusan yang harus diselesaikan."

Siwon tersenyum simpul. "Tidak apa Nona Adams, aku yakin Nona memiliki jadwal yang padat. Tapi mengenai izin Nona untuk lewat, aku tidak bisa memberikannya. Tuan Oh Sehun sudah memberi perintah kami agar Nona tidak perlu lagi menjenguk Tuan Besar." Jelas Siwon begitu tenang, sejujurnya, aku merasakan jantungku mencelos kecewa. Meskipun, aku tau hal ini pasti akan terjadi juga

"Begitu kah? tapi.. tidak bisakah aku bertemu dengan Ayah sebentar saja? untuk yang terakhir kali?"

Siwon terdiam, terlihat menimbang nimbang permohonanku.

"Setidaknya biarkan aku berpamitan dengannya."

Pria itu menatapku lekat lekat, tapi aku tidak menunjukan ekspresi ragu.

"Anda memiliki waktu 10 menit." Kata Siwon akhirnya

"Terima kasih banyak."

Begitu para bodyguard mempersilahkan aku untuk lewat, sesegara mungkin aku menuju kamar Tuan Yunho. Ini bunuh diri, aku harus menyelesaikan keperluan ku secepat mungkin sebelum Sehun tahu.

.

.

.

.

Aku membuka pintu kamar Tuan Yunho, pemandangan nya masih sama seperti biasa, kecuali selimut yang ia Pakai. Sudah berganti dengan selimut warna coklat tua yang hangat. Bunga yang biasanya aku taruh di dalam vas bunga dan aku ganti setiap harinya terlihat sedikit layu karena lama tak kuurus. Sementara Tuan Yunho, masih terlelap dalam kondisinya, dengan berbagai selang yang tersambung di tubuhnya.

"Selamat Malam Ayah…" Sapa ku. Siwon, cukup mengerti untuk keluar ruangan dan memberikan waktu privasi bagiku. Kamar itu hening, hanya terdengar suara suara dari mesin yang berada disekitar Ranjang.

"Maaf aku sudah jarang sekali menjenguk mu akhir akhir ini." kataku sambil duduk disamping Tuan Yunho, melihat wajah tuanya yang tampak tak berdaya. Siapa sangka kalau pria ini adalah bos Mafia?

"Apa ayah baik baik saja? apa perawat disini membacakan berita berita terbaru atau cerita lucu? atau apakah mereka juga bermain tebak tebakkan dengan Ayah?"

"Apa mereka menjagamu dengan baik?" Aku menggenggam tangan Tuan Yunho dan mengusapnya lembut, entah kenapa, mengetahui hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan Tuan Yunho, membuat hatiku terasa sesak.

"Aku minta maaf jika aku jarang memiliki waktu untukmu. Karena tampaknya, aku saja tidak becus untuk mengurusi hidupku. Untuk menjaga diriku."

"Bagaimana mungkin, mereka mempecayakan ayah pada orang sepertiku? Aku terlalu kacau."

"Ah.. aku lupa. Aku melakukan ini kan, hanya untuk menjadi boneka"

Aku tertawa remeh, mengingat kembali apa yang ku alami akhir akhir ini. Begitu tak berdayanya diriku. Lalu bagaimana mungkin aku bisa menjaga seorang pimpinan besar seperti Tuan Yunho? Ah. Aku lupa. Ini semua juga karena kebetulan. Kebetulan yang janggal bahwa paras ku mirip si nona sempurna Bianca Adams.

"Tapi… jika aku boleh berkata jujur padamu, Aku menikmati setiap waktu menjenguk Ayah. Meskipun aku terus berbicara sendiri. Meskipun aku tau Ayah tidak paham sedikitpun apa yang aku katakan.. Tapi aku menikmatinya Ayah"

Aku menjeda kalimatku saat aku mulai merasakan mataku berkaca kaca. Pikiranku kembali berlabuh ke beberapa tahun silam. Dimana hidupku masih baik baik saja.

"Karena pada saat itu.. aku merasa bahwa aku juga mempunyai sosok seorang Ayah. Karena pada saat itu.. aku merasa menjadi gadis yang memiliki hidup normal."

"Karena saat itu, aku teringat sebersit kenangan indah hidupku, yang sangat usang. Nyaris terlupakan."

"Kenangan memiliki seorang Ayah."

Setetes air mataku jatuh dan membasahi punggung tangan Tuan Yunho tanpa bisa aku cegah.

"Tapi… aku juga harus sadar diri bahwa realita kehidupanku tidak seperti itu. Sangat jauh berbeda. Dan itulah yang membuatku tersadar."

"Aku tidak akan membicarakan tentang hidupku lebih lanjut."

Aku tersenyum getir sambil menghapus air mataku dengan punggung tangan.

"Tidak ada hal baik ataupun menarik yang bisa kuceritakan."

Aku menghabiskan waktuku beberapa menit untuk memandang Tuan Yunho selama mungkin. Memastikan wajahnya terus terekam dalam benakku, hingga sampai nanti, aku tidak akan melupakannya meskipun ia tidak pernah menyadari keberadaanku.

Sepuluh menit berlalu, dengan sebuah helaan nafas panjang, akhirnya aku memutuskan untuk menyudahinya.

"Ayah.. aku pamit. Maafkan aku.. untuk semua kesalahanku yang… bahkan tak sanggup aku sebutkan. Untuk semua ini. Semua hal kepalsuan ini. Tapi aku benar benar perduli padamu."

"Cepatlah Sembuh Ayah. Aku yakin Bianca akan kembali padamu dan Sehun suatau saat nanti. Dan jika itu trejadi… percayalah kau tidak akan pernah tau apapun tentangku."

Lalu setelah itu, aku mencium kening Tuan Yunho untuk pertama dan terakhir kalinya. Tak perduli dengan kenyataan bahwa aku tidak pantas melakukan itu. Aku hanyalah budak anaknya, dan aku hanya orang rendahan. Tapi di detik ini, aku hanya ingin memiliki memori dengan Tuan Yunho seperti seorang anak pada ayahnya. Meskipun harus berkedok sebagai Bianca. Meskipun hanya beberapa menit.

Untuk ku, itu cukup.

"Selamat tinggal."

Kataku akhirnya dan segera beranjak pergi menuju Pintu kamar.

.

.

.

Di detik aku membuka pintu, aku tak sengaja menubruk seseorang. Kepalaku yang tertunduk membuat aku tidak menyadari bahwa ada sosok orang lain yang berdiri tepat dihadapan ku. Tinggi kami yang berbeda membuat keningku menubruk dagunya. Aku bisa melihat jakun pria itu. dalam beberapa detik. Kami terdiam.

Wangi parfum yang familiar membuatku menyadari siapa pria ini. Oh Sehun.

Akhirnya, Aku mundur selangkah dan menatap Siwon dari balik bahu Sehun

"Terima kasih atas waktu nya, Siwon. Aku permisi. Selamat malam." Kataku kemudian, lalu pergi dari hadapan Sehun, bahkan tanpa melihat wajahnya.

Disetiap langkahku menuju keluar Rumah Sakit,

Aku merasakan sebuah lubang besar yang menganga

Dalam hatiku.

Dan hidupku.

.

.

.

~ooo~

.

.

.

AuthorPov

Baru beberapa detik putra tunggal Tuan Yunho itu sampai di rumah sakit. Ia berjalan dengan terburu ke ruangan tempat sang Appa dirawat. Saat itu, Siwon baru saja ingin menyampaikan bahwa Luhan sedang berada di dalam. Tapi Sehun hanya mengangkat Sebelah tangannya, gelagat meminta Siwon untuk menutup mulutnya. Pria itu sedang lelah dan tak tertarik untuk mendengar celotehan apapun

Ia kemari hanya ingin menjenguk sang ayah lalu segera pergi minum untuk menenangkan pikirannya.

Tapi, apa yang ia temukan dibalik pintu berhasil membut jantungnya melewatkan satu deguban. Aneh sekali. Dia sudah sering berhubungan intim dengan Luhan, tapi mengapa bertubrukan dengan Luhan saat ini malah membuat jantungnya terasa aneh.

Aroma Shampoo yang Luhan pakai, memiliki wangi yang berbeda. Shampoo yang berbeda dari yang biasa ia pakai di Apartemen Sehun. Dan itu semakin menyadarkan Sehun bahwa memang Luhan sudah berpisah dengannya.

Pakaian yang Luhan pakai pun, tak lagi barang barang yang ia berikan.

Kening itu menempel sempurna pada Dagunya, jika saja Heels yang Luhan pakai lebih tinggi Seinci, Maka Sehun bisa mencium kening wanita itu. Baik Sehun dan Luhan membatu ditempat. Untuk Kali ini, Sehun mengalah, membiarkan Luhan mengambil alih situasi.

Dan ketika Luhan melengos pergi dari hadapannya, bahkan tanpa repot repot untuk melihatnya. Ada rasa ganjil yang tak menyenangkan di dada Sehun.

Tapi Laki laki itu, hanya bisa mengabaikan hal tersebut dan segera masuk ke dalam kamar.

Sehun menghampiri sang ayah yang terbaring lemah diatas kasur, ia bisa melihat sebuah tetesan air mata yang setengah mengering dipunggung tangan sang ayah. Sehun yakin sekali, Luhan baru saja menangis disini.

Dengan helaan nafas frustasi, Sehun mengusap rambutnya dengan kasar lalu terduduk di sebuah kursi disamping Ranjang

"Abeoji… apa yang harus aku lakukan?" ujarnya, teredam dari balik telapak tangan yang menutup wajahnya. Sehun hanya merasa bingung dan lelah disaat yang sama. Luhan adalah pilihan utama. Harapan satu satunya. Bianca tampak semakin jauh dan Sang ayah tak menunjukan tanda tanda akan sembuh. Sehun hanya tidak siap melanjutkan tahta organisasi hitam ini sendirian. Sehun hanya merindukan Bianca. Sehun hanya ingin ayahnya sembuh.. dan meskipun Sehun tak menyadarinya, ia hanya kehilangan sosok Luhan. Sehun merasa kecewa.

Kecewa akan apa? Apakah ia kecewa hanya semata mata karena Investasi besar 3 juta yuan?

Kecewa karena Luhan melanggar aturan nya?

Atau kecewa karena Sehun cemburu..

Apapun itu, Baik Sehun dan Luhan masih belum memahami perasaan mereka masing masing. Dan disaat si tuan muda sibuk dengan pikirannya, Ia tidak menyadari bahwa jemari tuan Yunho bergerak pelan. Sebelum akhirnya kembali diam.

.

.

.

.

.

.

Langit sudah gelap sekali malam itu, Sehun memutuskan untuk pergi dari Rumah Sakit. Entah kembali ke Apartemennya, atau mencari wanita untuk melampiaskan emosinya, atau minum minum dengan sepupu brengseknya, Seokjin. Entahlah, ia hanya ingin pergi.

Sehun sedang berjalan menuju Mobilnya yang ia parkir di belakang gedung, namun langkahnya perlahan terhenti ketika melihat seorang pria dengan santainya bersender di kap mobil sport mahal berwarna kuning sambil melipat kedua tangannya.

Pria itu menatap Sehun dengan sebuah senyum penuh arti. Bahkan dalam kegelapan malam seperti ini, Sehun dengan mudah bisa mengenali siapa sosok pria itu.

Kris Wu

"Selamat malam Sehun-ssaem" Kris berujar santai, lengkap dengan lambaian tangannya. Sehun yang tadinya sedang berjalan dengan kedua tangan yang ia masukan kedalam saku celana, merasa tak perlu untuk membalas lambaian si pembuat onar ini.

"Seang apa kau disini?" Tanya Sehun dengan ekspresi datarnya.

"Aku ingin berbicara denganmu. Bisa kah aku eminta waktu 10 menit?"

"Simpan celotehanmu untuk kelas besok. Aku tidak memiliki waktu untuk menguliahimu saat ini." Sahut Sehun lalu kembali melangkahkan kakinya, mencoba mengaibakan mahasiswa sinting satu ini.

"Ini Soal Luhan."

Sehun tetap tak perduli, pria itu masih terus berjalan. Ia bahkan sudah menekan tombol kunci mobilnya. Dalam beberapa langkah lagi, ia hanya tinggal masuk kedalam mobil dan menggilas Kris gila ini.

"Berapa angka yang harus kubayarkan padamu? Apa 5 juta yuan cukup?" Tapi sialnya, Kalimat Kris tadi berhasil membuat langkah Sehun terhenti begitu saja. Pria itu berbalik badan, menatap Kris yang sekarang sedang berjalan mendekat kearahnya. Masih dengan lagak sombongnya yang menyebalkan.

Sekarang, jarak mereka tidak jauh. Kedua lelaki itu saling berhadapan di bawah lampu, di sebuah parkiran terpencil saat malam hari.

"Aku ingin membeli Luhan darimu." Kata Kris, Sehun hanya bisa mengernyitkan dahinya, tanda tak paham kemana arah pembicaraan Kris.

"Aku serius. Aku hanya ingin bertanggung jawab atas kehamilan Luhan."Jelas Kris enteng, namun hal itu membuat Sehun seperti tertohok. Semua spekulasi nya, semakin kuat ketika mendengar penjelasan Kris barusan.

Tanpa sadar, tangannya terkepal erat dari balik saku celana, matanya memicing tajam, dan auranya kembali dingin. Kris menyadari hal itu, namun ia tidak akan melangkah mundur. Terlebih di situasi ini.

Dengan berani, Kris maju selangkah, memberikan raut paling brengsek dan intimidasi yang ia bisa

"Jadi. berapa yang harus aku bayar padamu, Sehun-ssaem?"

Baik Sehun dan Kris, sadar betul… bahwa situasi ini, bisa menjadi awal dari sebuah 'perang'.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

A/N:

yeahhh. Finally update juga. Yah… maaf deh ya mengecewakan as olweys. Ini kubuat ngebut. btw, aku mau infoin kalo aku udah ada kun wattpad : mojamoy

Bakal ada cerita baru disana, nanti juga cerita disini bakal diboyong kesana. Bisa jadi nanti aku up lebih dulu di wattpad. atau FFN. tergantung mood. wkwkwkkw

ohya.. butuh QnA ga sih? banyak bgt yg nanyain soal Sehun or Bianca. Kalo kalian mau nanya2 soal Sexy Lu, selama ga merubah jalan cerita, aku bakal jawab kok. Jadi tinggal tanya aja di review atau DM ya. next chap aku jwb2in. #BerasaArtisAjeLuMoj #wkwkwkwk

Next update:

Between love and Sorrow (draft udah ready tinggal edit doang)

Thankyou yg udah setia nunggu Sexy Lu, jangan dibaca aja kk kk chantiiiq. review nya jan lupa yaaa

gomawo!

-Moza:*