Sexy Lu.
Main Cast:Luhan(GS), Sehun, Kris
Pairing: Hunhan, Krishan, slight Chanbaek&Kaisoo
Rated: M
Warning: typos, cerita aneh, mature content
GS, DLDR.
enjoy
.
.
Chapter 14
Entah keputusan untuk bertemu dengan Tuan Yunho merupakan langkah yang bijak atau bukan. Ah! persetan dengan langkah bijak. Sejak kapan makhluk hina seperti ku mengenal sesuatu yang berhubungan dengan norma, khususnya kebijaksanaan?
Aku pergi kesana untuk Tuan Yunho. Jadi seharusnya kejadian dimana Sehun secara terang terangan memergokiku disana tidak akan memberikan efek appaun. Tapi sialnya, dari segala rentetan kejadian tadi. Momen dimana aku tak sengaja nyaris menabrak Sehun lah yang paling sering terputar di benakku kini.
Perasaan tidak rela dan janggal kembali menguasai batinku. Aku benar benar tidak ingin Sehun marah atau benci atas sesuatu hal yang tidak aku lakukan. Maksudku, tidak sepenuhnya aku lakukan. Aku memang tidur dengan Kris tapi itu bukan keinginanku. Aku memang jalang tapi aku tidak serendah itu. Penilaian Sehun atas diriku saat ini bagaikan harga mahal. Sesuatu yang lebih dari sekedar penting.
Andai saja ia tau kebenarannya
Andai saja Sehun mempersilahkanku setidaknya untuk menjelaskan sedikit tentang apa yang terjadi
Andai saja…
Ah sudahlah. Toh jikapun itu terjadi tidak akan mengubah apapun. Sehun akan tetap marah. Pria itu tidak mentolerir alasan apapun. Kenyataan yang mutlak adalah aku sudah tidur dengan Kris. Dan apapun alasan dibalik dosa besar ku itu, hanya omong kosong bagi Sehun.
Sekarang yang perlu aku lakukan, adalah kembali menata hidupku.
.
.
.
.
.
.
Ketika aku kembali ke mansion Park malam itu, Baekhyun belum tidur dikamarnya. Aku menemukan wanita itu tengah mondar mandir diruang tengah dengan balutan baju tidur berwarna peach
"Aku Pulang."
Mendengar suaraku Baekhyun langsung menoleh dan menghampiri ku dengan raut wajah khawatir yang berlebihan. Mata sipitnya membulat dan nafasnya terengah. Baekhyun lebih mirip seperti seorang ibu yang tengah menunggui anak perawannya pulang kerumah.
"Astaga Luhan, darimana saja kau!" Oke, ia benar benar seperti seorang ibu sekarang.
"Aku ada urusan Baekhyun. Maaf membuatmu khawatir." Kataku sambil menaruh tasku dengan asal di sebuah meja dekat situ. Baekhyun masih setia mengekoriku bahkan ketika aku berjalan ke pantry untuk mengambil segelas air.
"Lain kali, pastikan ponselmu bisa dihubungi. Yatuhan, aku pikir kau bertemu Sehun dan di Bunuh olehnya!" Gerakan tanganku yang tengah menuang air terhenti tanpa bisa kucegah. Kalimat Baekhyun tiba tiba mengingatkanku lagi soal kejadian tadi dirumah sakit. Mengingatkanku lagi dengan wangi parfum maskulin Sehun yang masih menempel diujung hidungku.
"What? Kau benar benar baru bertemu dengannya?" Tanya Baekhyun penuh selidik ketika responku terlihat mencurigakan baginya.
Aku menghela nafas "Dia tidak akan membunuhku." Sahutku ambigu. Tak menjawab pertanyaan Baekhyun dengan jelas. Sebelum wanita itu semakin membombardirku dengan pertanyaannya, aku segera menuju kamar sambil menenggak habis air putih yang dari tadi kubawa.
.
.
.
"Luhan. lets be serious here." Baekhyun menerobos masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
"Aku kurang serius apanya?" tanyaku retorik. Sementara si gadis Byun itu tengah duduk diatas ranjangku dan memandangku lekat lekat, aku mencoba untuk menghindari tatapannya dengan menyibukan diri untuk bersiap mandi.
"Mungkin aku dan Chanyeol akan pergi ke Jepang beberapa hari. Kau harus ikut dengan kami. Itu bagus untuk memulihkan hatimu yang kacau." Baekhyun menjelaskannya dengan nada memelan. Terdengar seperti sedang membujuk.
"Tidak bisa, Minggu ini aku Ujian Akhir Semester Baek."
"Kita akan menyesuaikannya dengan jadwal kuliahmu. Ketika kau sudah menyelesaikan ujian, dan mendapatkan libur. Kita akan berangkat ke Jepang."
Ada keheningan ketika aku tidak bisa menjawab sepatah kata apapun dari permintaan Baekhyun barusan. Yang terdengar hanyalah bunyi sepatu jatuh ketika aku baru saja melepaskan sepatu yang kukenakan dan melemparnya asal ke rak disudut kamar.
"Ayolah. Tidak akan lama Luhan. Aku memaksa."
Aku menghela nafasku panjang panjang lalu memutar tubuhku kearah Baekhyun. Mendapati wanita bermata sipit dan tubuh mungil yang tengah duduk diatas ranjang itu sedang menatapku penuh harap.
"Baiklah." Kataku akhirnya. Baekhyun menghembuskan nafas lega. Ia lalu bangkit dan menghampiriku, lalu menarikku dalam pelukan hangatnya.
"Semua akan baik baik saja. Percaya padaku." Katanya tulus
Oh Baek, aku harap pun juga begitu.
.
.
~ooo~
.
.
Mungkin aku harus sedikit bersyukur bahwa sekarang ini, kampusku tengah dalam masa Ujian Akhir. Itu artinya, aku tidak akan menemukan Sehun saat ia mengajar dikelas. Atau saat aku mendiskusikan nilai akademikku. Kemungkinan untuk bertemu Sehun adalah jika pria itu menjadi pengawas dalam ujian kami. Tapi aku yakin pria itu tidak akan muncul dalam ruangan kelas dan menjadi pengawas umum karena kebetulan, kampusku memiliki tim pengawas Khusus ketika ujian akhir.
Untuk pertama kalinya, aku bersyukur pada kampusku atas kehadiran mereka. Setidaknya untuk saat ini, pengawas killer jauh lebih baik dari seorang Oh Sehun yang akan berdiri dan memandangiku selama ujian berlangsung.
Siang itu, aula fakultas tampak lebih ramai dari hari hari umumnya. Entahlah, mungkin karena hari ini hari pertama ujian dan semua kelas dilaksanakan serentak. Para yeoja dan Namja sibuk dengan obrolan masing masing. Para kutu buku kembali menenggelamkan kepala mereka ke dalam buku buku tebal. Sementara mahasiswa normal yang lain terlihat kusut dan bersiap pergi untuk mencari udara segar atau sekedar minum minum. Menenangkan diri dari ujian di hari pertama yang sulit luar biasa.
Sementara aku, lebih memilih untuk sekedar pulang dan istirahat. Aku tidak pernah menyukai tinggal lama lama di kampus.
Tapi, baru saja aku ingin pergi, sebuah mobil sport memasuki lobby aula fakultas dengan arogannya. Berhenti tepat dihadapanku. Bahkan sebelum kaca mobil diturunkan, memperlihatkan pria dibalik kemudi, aku sudah tau siapa pemilik mobil ini.
Kris. Sumber dari malapetaka hidupku.
"Get in the car." Katanya santai sambil mengedikkan kepalanya.
"Enyahlah Kris." sahutku tak perduli, bersiap untuk pergi dari sana.
"Get. in. the. car. jangan membuatku memaksamu Luhan." Suara Kris yang penuh penekanan dan intonasi yang tegas serta aura yang menyeramkan menghentikan langkahku begitu saja. Pria itu menatapku lurus lurus, tak ada gelagat bercanda atau menggertak dari raut wajahnya. Wajah ini wajah serius yang selalu ia tunjukan untuk mendesakku.
Sialan!
Aku melihat kearah sekelilingku. Aula masih sangat ramai dan banyak sekali mahasiswa disini. Terlebih mereka sedang memperhatikanku dengan tatapan jijik seperti biasa. Aku yakin sekali kris akan melakukan hal nekat. Menjadi tontonan serta bahan pergunjingan di minggu Ujian bukanlah hal yang bagus.
Universitas ini tengah mengawasiku dengan ketat. Akan lebih baik aku tidak menjadi pusat perhatian sampai pergantian semester nanti.
Aku menggigit bibirku. Aku benar benar benci disaat aku tidak memiliki pilihan seperti ini.
"Ill count to three. jika kau masih memaksa, jangan salahkan aku kau akan menjadi bahan tontonan." Kalimat Kris membuyarkan pikiranku. Dan sebelum Pria itu mulai menghitung—terlebih, sebelum pria itu melakukan hal nekat—aku segera masuk kedalam mobilnya.
.
.
.
"Mau apalagi Kris. Aku sudah lelah." Aku berujar malas ketika Kris sedang menyetir mobilnya menjauh dari lingkungan Kampus. pria itu mengambil rute berlawanan dengan arah menuju aprtemen reyotku. Aku yakin sekali ia ingin membawaku ke tempat lain, alih alih mengantarku pulang
"Aku ingin berbicara denganmu. Sebentar saja." Sahut Kris dengan intonasi datar selagi ia memacu kecepatan mobilnya secepat kilat
Setelah itu, tidak ada lagi kalimat yang terucap diantara kami.
.
.
.
Mobil Kris terpakir di area Sungai Han. tanpa berbasa basi, lelaki yang tengah mengenakan kemeja flannel berwarna merah gelap dan celana jeans serta sepatu kets mahal itu segera turun dari mobilnya. Meninggalkan aku sendirian di dalam mobil dengan kening berkerut bingung. Ia lalu berjalan menjauh dari mobil
Jika saja aku dalam mode penyelamatan diri, sekarang ini aku pasti segera turun dari mobil dan pergi secara diam diam. Kembali ke apartemen dengan segala sumpah serapah untik manusia tiang ini.
Tapi, sesuatu dalam diriku menuntut sebuah penjelasan. Mengapa Kris begitu gencar dan tak tahu malu untuk terus mengejarku serta mengusik hidupku. Aku butuh penjelasan dosa apa yang kubuat padanya hingga ia membuatku seperti hidup dalam siksaan seperti ini.
Terlebih lagi, sekarang poros utama masalahku berada padanya. Dan kita tidak bisa terus kabur dari masalah bukan? aku harus menghadapi masalah ini dan mencari jalan keluarnya.
Lalu,kenyataan bahwa Kris adalah tipe orang yang akan semakin nekat jika kau terus menghilang atau terus bermain petak umpet dengannya, membuatku semakin yakin, kalau aku memang harus menghadapinya.
Aku hanya ingin semua ini berakhir.
dan semua hal itu hanya bisa diselesaikan. Tidak dengan cara menghindar.
.
.
.
Setelah sibuk dengan asumsi dan pikiranku, aku segera turun dari mobil dan berjalan mendekatinya. Semilir angin membuat rambut pria itu yang berwarna blonde tertiup halus. garis wajahnya terlihat tegas dengan tatapan menatap lurus kearah sungai han disiang hari.
Kami masih diam, berdampingan, namun sibuk dengan pikiran masing masing.
"Im Sorry." Suara berat Kris terdengar rendah, namun masih jelas terdengar.
Aku diam. Merasa belum perlu untuk menyahut apapun.
"soal.. keguguranmu. Jika memang benar itu karena aku. aku mnta maaf Luhan. I really do." Kris berkata dengan nada sungguh sungguh. Meskipun aku tidak menatap nya, aku bisa merasakan sorot mata pria itu sedang tertuju padaku.
"aku mungkin pria gila yang sangat terobsesi dengan keinginannya, tapi aku tetaplah pria yang waras Luhan. aku mungkin brengsek tapi aku bukan pria yang seperti itu. Jika aku tau saat itu kau sedang hamil, mungkin…"
Kalimat menggantung Kris menggodaku untuk sekedar menoleh. Kami kembali larut dalam tatapan yang saling bertemu. Aku tidak menemukan setitik pun kebohongan di mata Kris. Pria itu memang selalu jujur.
Mungkin? Apakah jika Kris tau aku sedang hamil, dia tidak akan…
"… mungkin akan ada kesepakatan lain." Kata Kris kemudian, tak menemukan kalimat yang lebih pantas untuk menggambarkan apa yang sebenarnya ada dalam pikiran pria itu. Mungkin kalimat itu adalah statement paling aman untuk saat ini. Karena dia juga tidak bisa menjamin, jika ia tau Aku sedang hamil saat itu, apakah ia akan tetap meniduri ku atau tidak.
Aku mendengus lalu kembali melemparkan pandanganku kedepan. tak puas dengan ucapan itu sebenarnya. Aku sedikit berharap Pria itu mengatakan bahwa ia tidak akan mengancamku dengan hal sinting jika ia tau aku sedang mengandung. but, hello. Its kris. seorang bajingan yang egois. Apa yang bisa kuharapkan darinya?
"intinya aku tidak melakukan itu dengan sengaja. maksudku, membuatmu keguguran bukanlah niatku. dan aku meminta maaf atas itu." Kata kris pada Akhirnya. Kemudian ia kembali menatap Sungai Han di depan kami.
"Kau tahu, Kris. Ini terdengar sangat aneh bagiku."
Kali ini Kris yang tak bergeming.
"kau seperti seseorang yang memiliki alter ego. kau bisa bersikap seperti orang yang berbeda. sekarang kau meminta maaf dan jujur saja itu terlihat sangat tulus dimataku. tapi nanti, kau akan mengulangi lagi kesalahanmu dengan terus menggangguku dan membuatku serasa hidup dalam neraka."
Aku menghirup nafasku dalam dalam. menahan emosiku yang bisa kapan saja meletup lalu malayangkan sebuah tinju ke wajahnya. Tapi aku tidak bisa mencari mati sekarang.
Aku menatap Kris dengan tatapan tajam ku, mencoba menekankan padanya bahwa apa yang aku katakan adalah hal serius tanpa penawaran.
"jika kau sangat perduli padaku. kau tau apa yang aku mau Kris. Berhenti menggangguku."
Kris menatap wajahku seksama. Netra matanya yang berwarna coklat khas orang Barat bergerak gerak. Lalu, di detik kemudian, pria itu menyunggingkan senyum miring khas nya.
"tak bisa kah kau pahami Luhan, aku menginginkanmu. Segala hal brengsek yang aku lakukan itu demi dirimu. demi sebuah kesempatan. Karena kau tak pernah memberikanku kesempatan. you never let me in. Jika saja kau memberikan aku ruang dihatimu. Sedikit saja…"
"you'll be surprised."
"Aku bukan orang kasar yang membabi buta dalam melakukan hal hal gila seperti mengirimkan orang untuk mengintai ibumu. Jika saja kau tidak bersikap kurang ajar padaku, mungkin hal itu tidak akan terjadi."
Apa yang dia katakan barusan? Jadi menurut dia ini semua karena aku yang bersikap kurang ajar padanya? harusnya si tolol ini paham bahwa aku seperti itu karena ulahnya yang sangat menjijikan!
belum sempat aku menyemprot Kris dengan pembelaan pembelaanku, Kris sudah kembali berbicara dengan santainya.
"Satu hal yang harus kau pahami tentang diriku, Luhan. Aku adalah pria yang responsive. aku mengambil tindakan dan memperlakukan orang lain tergantung dengan bagaimana orang itu memperlakukanku. cukup ikuti apa perintahku, kemauanku. dan semua baik baik saja."
Mataku memicing penuh emosi. Iblis ini! Apakah dia sudah bertindak layaknya tuhan sehingga semua orang harus menuruti titahnya?!
Sadar akan raut wajahku dan auraku yang berubah, Kris mencoba kembali menenangkan atmosfer diantara kami meskipun ia tau, hal tersebut sia sia.
"Aku tidak mau merusak suasana. Aku kesini untuk meminta maaf. itu saja." katanya sambil mengedikkan bahu lalu memasukan kedua tangannya kedalam saku celana. Seolah apa yang baru kita bicarakan bukanlah hal besar.
Aku memanfaatkan situasi ini untuk keuntunganku sendiri. Aku melemparkannya sebuah senyum menantang kearahnya
"Dan aku akan memaaafkanmu jika kau tidak mengganggu Kris. How about that?" kataku sambil melipat tanganku.
Kris menaikan sebelah alis tebalnya, sama sekali tidak terlihat terintimadasi sekarang ini. Pria itu malah terkekeh pelan. sangat percaya diri.
"Kau membutuhkanku Luhan. berhenti bersikap kau bisa melewati ini sendirian. Sebenarnya untuk apa kau bersikap seperti ini? demi pria mu si Oh Sehun itu? tsk. Seolah dia benar benar perduli padamu saja. Dia bahkan tidak berhak atas dirimu lagi. youre not his girl. Not anymore"
aku terhenyak ditempatku berdiri. bahkan aku tak berhasil menutupi keterkejutan ku. Darimana Kris bisa tau semua hal ini?
"Bagaimana kau tahu?" aku berkata pelan, nyaris seperti sebuah bisikkan.
"Tidak penting bagaimana aku tau. Tapi jika kau bukan milik sehun lagi, dan ia memberikanmu kepadaku. Itu artinya kau sudah menjadi milliku."
"…Apa maksudmu?" Rasa kecewaku atas apa yang kudengar, seolah membuatku serasa ditelan bumi begitu saja.
Flashback
Author P.O.V
Sehun bisa dikatakan sebagai manusia yang pandai menyembunyikan atau mengkamuflase perasaan dan emosinya. Ekspresi pria itu bisa dikontrol dengan mudah oleh dirinya sendiri. Maka ketika Kris mengajukan hal provokatif terhadapnya saat ini, Sehun menanggapinya dengan tak minat. Meskipun kepalan tangannya semakin lama semakin erat.
Apa yang Kris ucapkan saat ini, sebenarnya tidak membuat Sehun kaget. Pria itu memang terobsesi dengan Luhan dan tak tahu malu akan hal itu. Sehun—meskipun masih sangat tidak terima—sudah mengetahui tentang perselingkuhan Luhan dan Kris, tetap saja tak habis pikir bahwa pria itu berani meniduri wanitanya sampai berbadan dua.
Kebencian Sehun akan dua orang itu semakin menjadi. Mereka dengan tak tahu diri sudah berani mencoreng wajahnya. Menganggapnya sepele dengan bermain dibelakang Sehun.
Maka saat itu, Sehun memandang Luhan tak lain sebagai sampah, sama seperti Kris. Dan ketika Kris meminta Sehun untuk menyerahkan Luhan, penerus utama sindikat mafia itu merasa tak ada gunanya untuk memperdebatkan seonggok wanita panggilan yang sama kotornya dengan pria yang tengah berdiri menghadapnya kini.
Sampah harus bersama dengan sampah.
"Jika kau memang begitu menginginkannya. Ambil saja. Dia tak pantas berada dalam hidupku" Sahut Sehun santai lalu segera masuk kedalam mobilnya dan pergi melewati Kris begitu saja.
Jika saja situasi tak seburuk ini, mungkin masih ada tempat di hati Sehun yang ingin mempertahankan Luhan dan menjaga Luhan dari Kris. tapi ketika kalimat itu terucap, Ketika dengan tenangnya Kris seolah mengatakan dia menghamili Luhan, disaat itulah Sehun menutup hidupnya rapat rapat untuk wanita bermata rusa itu.
dan demi tuhan, Ia ingin sekali membunuh Kris.
sementara Kris? Ia tersenyum penuh kemenangan, sambil menatap mobil Sehun yang semakin lama semakin menjauh.
flashback End.
"Yang hanya perlu kau tahu adalah… bahwa aku sudah meminta izin pada Sehun dan bahkan berniat untuk membelimu. Tapi lelaki itu memberikanmu padaku secara Cuma Cuma. Jadi… Kau tau kan apa maksudku."
"Kau berbohong."
"oh come on. Pria sepertiku pantang untuk berbohong."
Aku tertunduk, menatap ujung sepatu ku dan siluet bayanganku yang tergambar dari sorot sinar matahari. Aku… tidak menyangka bahwa Sehun akan begitu mudahnya memindah tangankan aku layaknya barang. Aku memang budaknya. Tapi haruskan aku digilir seperti ini? bahkan digilir pada pria yang sangat ia benci?
rasanya menangis saja sudah tidak bisa. kekecewaan ini membuat tenaga ku menguap seketika.
"Begini saja Luhan. Tujuanku kemari hanya untuk meminta maaf padamu. Aku tidak mau membuat imageku semakin buruk di matamu."
Kris mendekat kearahku selangkah.
"Aku tidak akan mendekatimu secara agresif tapi percayalah… Im on my move. Perlahan lahan, tanpa kau sadari, kau jatuh kedalam pelukanku. Dan kau tak bisa lari dari itu." Pria itu meraih daguku dan mengangkat wajahku dengan jemarinya yang panjang. Matanya mencari bola mataku yang sedari tadi tidak fokus karena pikiran pikiranku tentang Sehun.
"look at me" Katanya. Memaksaku untuk membalas tatapan dua bola mata kecoklatan itu.
"Lupakan soal Sehun. yang ada hanyalah Kris. Kris Alexander Wu."
.
.
.
Pembicaraan Ku dengan Kris berlalu begitu saja. tidak ada kontak fisik yang membuatku ingin menendang selangkangannya. tidak ada cengkraman paksaan dilenganku. atau ancaman lainnya. Setelah pembicaraan kami selesai, Kris mengantarku pulang. tentu saja aku memintanya untuk menurunkanku disebuah halte bus. Karena aku tidak mau ia mengetahui bahwa aku sedang tinggal ditempat Chanyeol.
Awalnya Kris merasa enggan, tapi akhirnya ia setuju juga karena tak ingin berdebat panjang denganku hari itu.
Dan ucapan ucapan Kris terus terngiang dibenakku selama beberapa hari. Jika memang Sehun telah memberikanku pada Kris. artinya, aku sudah menjadi milik pria itu untuk beberapa bulan sampai masa kepemilikanku berakhir.
tuhan.. tak bisakah aku hidup dengan tenang?
.
.
~ooo~
.
.
"Hey Beautiful. ada rencana pergi hari ini?" Seperti biasa, setelah Ujian Akhir Semester selesai, Kris dengan ajaibnya akan muncul di depan kelas, atau di aula fakultas, atau bahkan di pintu gerbang masuk. untuk kasus sekarang ini, Kris muncul di lobby utama kampus dan bersiap untuk menyeretku pergi.
"tidak. aku hanya ingin pulang." kataku sambil lalu
"Aku antar."
"tidak."
"Aku antar."
aku memutar bola mataku, sadar bahwa menolak Kris memang tidak ada gunanya.
"Cepatlah." kataku sambil berjalan lebih dulu kearah Parkiran tempat Kris biasa menaruh mobilnya.
.
.
Karena situasi saat ini yang menyebabkan Kris selalu membuntutiku dan mengantarku pulang, aku memutuskan untuk kembali ke apartemenku beberapa hari sampai ujian Selesai. Baekhyun menolak tegas keinginanku itu. Ia mengatakan bahwa aku akan lebih aman jika pulang ke rumah Park. tapi jika Kris tau dimana aku tinggal sekarang, maka hal akan semakin rumit. aku tidak mau menyeret Chanyeol dan Baekhyun dalam pusara masalah baru.
Maka ketika si cerewet Byun mati matian menolak, dan aku lebih mati matian lagi untuk tetap pada keinginanku. Akhirnya ia menyerah. tepat setelah Ujian Selesai, Baekhyun sendiri yang akan menjemputku di Kampus.
Dan akhirnya, disinilah aku. DI apartemen lamaku dengan Kris yang juga ikut ikutan mengantar sampai kamar.
"Kau ada rencana pergi saat liburan nanti?" katanya sambil membuka sepatu dan menaruhnya di rak dekat pintu.
"yeah.. maybe."
"pergi kemana?"
"bukan urusanmu." kataku sambil lalu dan menaruh tasku disebuah sofa kemudian segera menuju ke pantry untuk mengambil air.
"Aku ingin mengajakmu pergi ke California. Kau tertarik?" Kris berujar sambil setengah teriak karena kini aku dan dia sedang berada di ruangan yang berjauhan.
"tidak."
"oh ayolah." Kata Kris sambil menuju kearah kamar mandi. Dia selalu buang air kecil setelah mengantarku pulang
"Aku tidak mau Kris." kataku lagi, dengan nada tegas dan intonasi yang jelas. memastikan Kris bisa mendengarku dari balik pintu kamar mandi.
Suara pintu kamar mandi terbuka, Kris lalu muncul dari sana dan berjalan kearah pantry
"Its just holliday. I wont touch you. anggap saja sebagai permintaan maafku."
"Aku sudah ada janji dengan temanku." Kris menatapku dengan sorot mata menyelidik. ah, aku tidak pernah suka berdebat dengannya.
"maybe next time." Kataku asal sambil mengedikkan bahuku. Untuk saat ini aku harus bisa membuat Kris mengalah.
Pria itu berpikir sebentar, lalu mengangguk samar.
"Alrite. Next time will do."
Tak banyak hal yang kami bicarakan lagi. Kris kemudian bersiap pergi setelah mengambil sebuah apel dari kulkas ku yang tak terisi banyak.
Sesaat sebelum ia membuka pintu dan pergi, Kris memutar badannya dan menoleh kearahku.
"Lu, Mungkin butuh waktu untukmu, tapi aku ingin kau tahu bahwa I'm ready to take care of you. Beri tahu aku jika kau membutuhkan apapun. Biaya hidupmu tanggung jawab ku sekarang." kata Kris sambil mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama dan buku cek yang bisa aku tulis dengan nominal berapapun yang kumau.
"Untuk sekarang aku hanya membutuhkan istirahat." kataku datar. sama sekali tidak tertarik dengan apa yang Kris tawarkan. tapi pria itu tetap saja menaruh kartu nama dan buku cek tersebut di meja dekat situ
"Sampai jumpa." katanya seraya menutup pintu apartemen.
tak butuh waktu lama. aku menyambar kartu nama dan buku cek tadi. lalu menyobek nyobeknya hingga berakhir di tempat sampah.
.
.
~ooo~
.
.
Kehidupanku selanjutnya berjalan dengan pola yang sama. Aku pergi kuliah, lalu Kris akan mengantarku pulang, membelikanku berbagai makanan untuk kulkasku yang mengenaskan. lalu kembali pergi setelahnya. Malamnya, aku kembali bekerja di bar tempat Mr JB. Bosku sudah terlalu baik padaku. dan aku harus menebusnya dengan bekerja lebih giat.
Tak lupa juga Monica yang membanjiri pesan Line ku untuk terus mengingatkanku menjaga kesahatan. atau apakah aku sudah berbicara dengan Sehun soal keguguranku. tapi lagi lagi aku terus menghindar untuk menjawab karena saat ini aku tak tau bagaimana menjelaskan situasi sekarang.
Sementara Sehun? aku tak melihatnya beberapa hari itu dikampus.
aku sangat bersyukur. namun juga merindukan sosoknya.
.
.
Tak terasa dua minggu berlalu begitu saja. Hari ini adalah hari terakhir Ujian Akhir dan Baekhyun sudah rajin mengirimiku message bahwa ia akan menjemputku nanti. Bisa dikatakan aku merasa kepergianku ke Jepang tidak akan memberikan efek Signifikan.
aku sudah terbiasa tanpa kehadiran Sehun—atau setidaknya aku pikir begitu. Karena ketika aku berbelok disebuah koridor untuk menuju kelas dimana ujianku dilaksanakan, Aku mendapati Sehun tengah berbicara berdua dengan Irene. sangat dekat. Bahkan aku melihat Irene berlagak genit dengan mengibaskan rambutnya sesekali, lengkap dengan senyuman yang ia pakai untuk menggoda pria pria.
dan Sehun tersenyum tipis. terlalu tipis untuk bisa dideteksi. tapi aku tahu, pria itu merespon. tak sedatar dan sedingin jika bersamaku.
saat itu aku merasa jantungku mencelos. Perasaan tak suka, kesal, marah, tiba tiba kembali hinggap di hatiku. dan saat itu aku tau, aku belum sepenuhnya melupakan Sehun.
.
.
.
Setelah ujian selesai—yang kulewati dengan fokus terpecah akibar Sehun-irene tadi—aku segera bergegas pergi dari kelas dan melesat secepat mungkin menuju lobby dimana Baekhyun sudah menjemputku.
Sebuah mobil range rover berwarna hitam memberi klakson kearahku. tak lama kaca mobil terbuka dan Baekhyun memberikan isyarat agar aku cepat masuk kedalam.
"Aku sudah membawa barang barangmu. lagipula kebutuhan kita sudah disediakan di Jepang. Jadi sekarang kita langsung pergi ke Aiport." Kata Baekhyun santai selagi sang supir membawa mobil kami menyusuri jalan, menuju gerbang utama
"pasporku?"
"calm down my dear." Sahut Baekhyun sambil mengeluarkan pasporku dari tas lalu memberikan nya padaku.
Aku menghirup nafasku dalam dalam sebelum akhirnya menoleh sekilas ke kaca spion tengah yang merefklesikan pantulan Gedung kampusku yang perlahan semakin menjauh.
Mungkin pergi ke Jepang dengan Baekhyun sampai waktu yang tak ditentukan adalah hal terbaik untuk saat ini.
.
.
~ooo~
.
.
Author Pov
Suasana tenang Sehun di apartemennya terganggu ketika pintunya menjeblak terbuka begitu saja. Ketukan suara heels ditambah bunyi koper yang sedang digeret, setidaknya memberikan Sehun petunjuk siapa tamu yang seenaknya masuk begitu saja. Seharusnya Sehun sudah tahu jawabannya, karena yang memiliki kode akses apartemennya hanyalah dia, Luhan dan Monica—itupun karena wanita itu meminta dengan paksa. Berhubungan kemungkinan bahwa itu adalah Luhan sangat tidak mungkin, maka pastilah calon sepupu iparnya ini yang mengusik waktu tenangnya sore itu.
"Hello Mr stiff." Monica menyapa sambil melepas coatnya dan menaruh asal outerwear ber branded itu di pegangan sofa milik Sehun. lalu menghampiri pria tersebut yang tengah duduk disofa yang sama dan memberikannya pelukan singkat.
"Kau baru saja landing di Korea dan sudah menyatroni apartemenku?" Cibir Sehun yang saat itu tengah menonton acara TV—yang tak benar benar ia tonton.
Monica mengibaskan tangannya santai sambil berjalan kearah pantry dan membuka kulkas besar disana. mencari sesuatu untuk meredakan rasa hausnya.
"Aku tak akan lama. Seokjin juga sudah menungguku dirumahnya." Lanjut wanita itu. tak terlihat lelah meskipun baru saja menempuh penerbangan berjam jam
Setelah menemukan minuman yang ia cari—sekaleng bir—Monica kemudian membuka kaleng itu sambil menghampiri Sehun dan duduk di salah satu sofa nya.
"Aku kemari karena merindukan Luhan. sudah berhari hari dia tidak membalas pesanku dan bahkan nomornya tidak aktif. Dimana dia?" Ujarnya setelah menenggak beberapa teguk. Menaruh kaleng tersebut, lalu duduk bersandar dengan kaki terlipat seraya menatap setiap sudut ruangan, mencari keberadaan Luhan.
Mendengar nama Luhan disebut, Sehun hanya menjawab sekenanya
"Pergi."
"Pergi kemana? Kapan akan kembali?"
Pria itu memang belum memberi tahu siapapun tentang kasus Luhan dengan dirinya. entah karena ia merasa tak perlu, atau memang kesibukan masing masing menghalangi atau sama lain untuk tetap berkomunikasi. Tapi bagi Sehun, Seharusnya hal in tidak akan berbuntut panjang bukan? maksudnya, Ia hanya mengusir seorang gadis yang melakukan kesalahan fatal. Ditambah gadis itu tidak memiliki hubungan khusus apapun dengannya. Jadi, seharusnya ini akan baik baik saja.
"I Dunno" Kata Sehun sambil mengangkat kedua bahunya. merasa tak berminat untuk sekedar melanjutkan percakapan ini.
"Tidak tahu apanya? kau tidak tau dia pergi kemana atau tidak tau kapan dia akan kembali?"
"dua duanya."
Kening Monica berkerut dengan perasaan tidak enak yang perlahan menjalari setiap jengkal tubuhnya. Kepanikan dan kekhawatiran tergambar jelas diwajah wanita itu, membuat Sehun yang memandangnya merasa bingung.
"what's that mean?" Tanya Monica seraya menegakkan duduknya, nadanya awas, sorot matanya tertuju penuh kearah Sehun
"Aku mengusir Luhan sekitar dua minggu yang lalu. Wanita itu dengan beraninya melanggar aturan yang kubuat."
Kedua bola mata Monica membulat sempurna, bahunya merosot, wajahnya terkejut bukan main.
"… kau.. apa?"
"Mengusirnya. Memutuskan apapun hubungan tak jelas yang kita lalui belakangan ini. Dia bukan lagi wanita bayaranku. Aku tak mau tau apapun tentangnya."
Butuh beberapa detik bagi Monica untuk memproses kalimat Sehun barusan. Setelah perkataan itu terproses dalam otaknya, sebuah makian keluar dari mulutnya begitu saja.
"You dickhead!"
Kernyitan di dahi Sehun semakin dalam.
"huh?"
"Kenapa kau sangat tolol!" Hardik Monica dengan suara melengking dan emosi yang meluap luap. melihat reaksi Monica yang berlebihan seperti ini, sang tuan rumah menegaskan suaranya
"why the hell you're so freaking out? Dia pantas untuk diusir!"
Monica tertunduk, matanya bergerak gerak cepat,berfikir kemungkinan terburuk apa yang bisa terjadi sekarang ini. Bimbang apa kah ia harus mengatakan kebenarannya sekarang? ataukah menunggu Luhan? Bagaimana mungkin Luhan tak menceritakan ini kepadanya?
Apa yang sebenarnya terjadi diantara kedua orang ini.
Sementara dalam keheningan tersebut, Sehun memperhatikan Monica setajam elang. Respon wanita itu terasa terlalu berlebihan dan sangat janggal. Sehun tau bagaimana sifat Monica dan wanita itu tidak akan marah hanya untuk masalah sepele.
Insting nya menangkap jelas bahwa pastilah ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Monica sekarang ini. Sesuatu yang berhubungan dengan Luhan dan dirinya.
"Monica.. What Happened Actually?" Sehun bertanya dengan nada dingin dan tegas, meminta penjelasan. Menuntut dan tak terbantahkan.
"Oh Sehun." Kata Monica sambil menghirup nafasnya dalam dalam. Kemudian menatap Sehun lurus lurus dengan sorot mata tajam tak kalah serius.
"Luhan hamil. Ia mengandung anak mu."
"dan disaat kau mengusirnya, ia baru saja mengalami keguguran."
Untuk pertama kali dalam hidup seorang Oh Sehun, pria itu merasakan bagai diterjang ombak yang meluluh lantahkan hidupnya seketika.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
A/N:
Hey maaf ya aku updatenya lama dan ga memuaskan. Aku lagi kena writer block jadi untuk menggambarkan sesuatu itu susah banget nulisnya. padahal ide dan kerangkanya udah kelar.
jadi kalo chap ini kurang ngefeel.. dan berantakan maapkan aku :")
Next Up first Snow, Dan old ffku yang lama. sama btw, aku mau nanya deh. Untuk One Shot. kalian lebih suka kalo one shot nya dibikin satu cerita atau dikumpulin jadi satu kayak "EXO ONE SHOT" "ONE SHOT COLLECTION" gitu?
but anyway, thanks for reading. Sabar ya qaqa, 7 chap lagi baru kelar ini ff :") semoga tetap setia menemani Luhan dalam mengarungi hidup ini wkwk.
Ku tunggu reviewnya
gomawo! :*
-Moza
