PS: Chap ini bakal banyak Author POV nya, terus balik lagi ke Luhan Pov, terus Author lagi. Maaf jika membingungkan. Happy reading!

Sexy Lu.

Main Cast:Luhan(GS), Sehun, Kris

Pairing: Hunhan, Krishan, slight Chanbaek&Kaisoo

Rated: M

Warning: typos, cerita aneh, mature content

GS, DLDR.

enjoy

.

.

Chapter 15

Author POV

"Tidak mungkin. kau salah besar" Kata Sehun menolak mentah mentah informasi yang baru saja Monica jejalkan kepadanya. Pria berkulit putih itu menggelengkan kepalanya cepat. Namun dia tidak bisa membohongi dirinya bahwa ada sedikit bagian dalam hatinya yang terguncang ketika hal itu diucapkan.

Bagaimana jika Luhan memang benar benar hamil anaknya?

"Luhan bukan hamil anakku. Tapi itu anak Kris." Sehun mengulang. lebih teruntuk kepada dirinya sendiri. Dahi Monica mengernyit bingung.

"Kris?"

"pemuda psikopat yang terus menempelinya sejak aku membeli Luhan di acara White Mask."

Monica melipat kedua tangannya dan menegapkan duduknya

"dan darimana kah alasan statement mu itu, tuan oh Sehun?" ujar Monica dengan penekanan intonasi disetiap kata yang terlontar, sekedar untuk mencoba mengintimadasi Sehun yang ia rasa bertingkah sangat tolol sekarang ini.

Sehun memutar bola matanya jengah. Jujur saja, ia tidak memiliki waktu sedikitpun untuk meladeni sikap Monica yang terlihat terlalu mendikte.

"Kris sendiri yang mengatakannya padaku. lalu aku melihat hickey di leher Luhan. Aku ingat betul kapan aku menjamah tubuhnya, dan aku tau persis bahwa hickey itu bukan karena aku." Sehun berkata setenang mungkin, mencoba berlagak tidak perduli. Tapi seantero dunia—khususnya Monica—bisa mendeteksi emosi dan rasa cemburu di nada kalimatnya

Gadis bule itu terdiam beberapa saat, ia mencoba berfikir logis karena di detik ini, diantara mereka berdua, hanya dia yang bisa berfikir. Sehun? Terlalu sibuk dengan emosinya sendiri.

"Sehun…" Monica memanggil Sehun dengan sebuah helaan nafas. Ingin sekali ia menembak otak adik sepupu pacarnya ini agar bisa berfikir sedikit lebih rasional.

" kita sudah sama sama dewasa dan mengerti bagaimana cara sex bekerja. apakah hanya sebuah kissmark bisa membuktikan bahwa Luhan sudah tidur dengan Kris sampai ia hamil. Dan jika dipikir pikir, Luhan selalu dalam pengawasanmu, bagaimana mungkin ia tidur dengan orang lain?"

Sekarang, giliran Sehun yang terdiam sebentar, mencerna omongan Monica yang terdengar masuk akal.

"Aku meninggalkannya ke Milan saat mencari Bianca, bisa saja ia melakukannya saat aku tidak ada."

"KENAPA KAU BODOH SEKALI!"

"Jika luhan melakukannya ketika kau berada di luar negeri—yang berarti itu hanya beberapa waktu yang lalu—berarti di 'baru' akan hamil sekarang ini. Bukannya sudah hamil. Rentang waktunya tidak cocok Sehun. ringkasnya, Ia sudah dibuahi sebelum kau pergi meninggalkannya!" Sembur Monica. gagal sudah keinginannya untuk menahan diri pada pria di depannya ini.

Sementara Sehun yang memang selalu menunjukan ekspresi datar hanya bisa menaikan sebelah alisnya tak mengerti.

"kau sendiri yang mengatakan bahwa orang yang bernama Kris ini adalah psikopat yang terus saja mengikuti luhan. lalu kau percaya pada omongannya? bisa saja ia sengaja melakukan ini. bisa saja ia menjebak Luhan. bisa saja ia memanfaatkan keadaan sekarang!"

"pertanyaanku adalah, apakah Luhan sudah mengaku soal dia yang tengah hamil anak Kris? apakah dia mengatakan bahwa dia hamil dan itu anak Kris?"

"kau selalu saja mengambil keputusan terlalu cepat. Kenapa kau tidak memastikan dulu dari Luhan?" Monica membombardir Sehun dengan pertanyaan pertanyaannya. Gadis itu bahkan tidak memberikan jeda barang sedetikpun untuk Sehun membuka mulut. Segala pertannyaan yang terlontar dari mulutnya seolah dijejalkan kedalam otak Sehun, terus masuk kedalam bagian kecil otaknya yang selalu berpikir logis. Akhirnya, Sehun tidak bisa mengelak dengan asumsi asuminya –yang menurut Monica terdengar sangat bodoh-.

Pria itu menyerah dengan perkataan Monica. Tidak ada gunanya untuk mengelak sekarang.

"Kau sendiri kenapa baru mengatakannya padaku sekarang?" Sehun bertanya pelan. Ia bangun dari kursinya dan berjalan menjauh dari Sofa. Sebagian jiwanya terbang melayang entah kemana. Kenyataan ini terasa menohok dirinya dan menghisap separuh alam sadarnya.

"Karena aku tidak punya hak untuk itu, you moron! aku menunggu untuk Luhan mengatakannya secara langsung!"

Sehun terdiam. Manik matanya bergerak gerak cepat. Dirinya membatu ditempatnya.

Monica yang menyadari bahwa Sehun "masih mencoba" untuk mencerna hal ini, akhrnya bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri Sehun. Ia mengusap bahu Sehun yang tegang.

"Sehun, kita berdua tau, diantara semua gadis yang kau temui, Luhan memiliki pribadi yang berbeda. ada sesuatu dalam dirinya yang…"

"entahlah.. tak seburuk 'pekerjaannya'. Aku yakin Luhan akan berkata jujur kepadamu."

Kedua bola mata Sehun saling bertemu dengan mata Monica yang menyiratkan sebuah permohonan. Permohonan agar Sehun bertindak benar.

Untuk kali ini saja.

Akhirnya, tanpa berpikir Panjang lagi, Sehun segera merogoh ponsel yang ada di saku jins nya. Kemudian dengan nomor panggilan cepat, ia menghubungi seseorang yang ia percaya untuk urusan semacam ini.

"Sungmin" Panggil Sehun pada seseorang diseberang sana.

"Ya Tuan Muda Oh"

"cepat cari tau keberadaan Luhan sekarang. atur pertemuanku dengannya."

Sehun tidak tau, diseberang sana Sungmin mengerutkan dahinya bingung. Selama ini ia memang bertugas untuk mencari orang orang tertentu yang Sehun inginkan. Tapi semua itu selalu berhubungan dengan Bianca. Lalu kenapa tiba tiba ia ingin bertemu Luhan sekarang ini? Bukankah pencarian Bianca selalu menjadi utama baginya?

Namun Sehun tetaplah atasannya. Apa yang Sehun inginkan adalah titah yang harus dipenuhi. Maka dari itu, Sungmin lebih memilih untuk menurut saja

"Baik tuan" Sahutnya. Lalu panggilan pun diputus oleh si Tuan muda.

Tepat setelah panggilan itu diputus, Monica meraih tas nya.

"you better fix this up." Ucapnya serius, lalu segera pergi dari apartemen Sehun tanpa berpamitan.

Meninggalkan Sehun dalam keheningan kalut yang menyelubunginya.

.

.

.

~ooo~

.

.

.

LUHAN POV

Aku masih tidak mengerti apakah kepergian ke Jepang ini perlu. Awalnya aku percaya bahwa hal ini bisa membantuku untuk melupakan sejenak masalah yang aku alami di Korea. Tapi jika dipikir pikir lagi, ini tidak ada gunanya. Sekembalinya aku ke Korea, masalah itu akan tetap datang padaku. Bayangan tentang keguguranku dan amarah Sehun akan tetap bersarang dalam benakku. Belum lagi keberadaan Kris yang selalu muncul dimana mana

Tapi, melihat Baekhyun yang terus saja memaksaku—dan akhirnya berhasil—untuk datang ke Jepang, sebaiknya aku mencoba kesempatan ini. Semoga saja tidak ada masalah lagi.

Sore itu kami berada di sebuah griya tawang mewah yang disiapkan oleh Chanyeol. Aku sedang melihat lihat apartemen mewah itu. Baekhyun tengah terkagum dengan pemandangan kota Jepang dari jendela besar apartemen kami. Sementara Chanyeol tampak sibuk mengarahkan para orang suruhan nya yang tengah mondar mandir di tempat kami dengan beberapa barang bawaan.

"Jadi, kira kira, kau ingin kemana dulu Lu?" Tanya Baekhyun semangat dengan senyum sumringah.

"hmm entahlah. terserah kau saja" kataku. Karena jujur saja, aku tidak tau tempat apapun di Jepang.

"ah.. kemana ya tempat yang seru untuk pergi berdua"

"pasti jika ada Kyungsoo dan Zitao semua akan lebih seru. Kita bisa berlibur bersama. Sayang sekali mereka sedang sibuk." Kata Baekhyun bermonolog. Untuk pertama kali, aku tidak ingin Kyungsoo dan Zitao ikut. Jika ada masalah yang muncul, maka semakin banyak saja orang yang aku libatkan disini.

Aku hanya menanggapi omongan Baekhyun dengan senyum samar.

"Pilihlah tempat yang kau suka, aku akan meminta Ken untuk menjaga kalian nanti." Kata Chanyeol ketika ia selesai dengan kesibukannya mengatur-atur orang bawahannya tadi. Aku mulai terbiasa dengan kebiasaan bossy para orang kaya disekitarku.

"Tidak perlu Chanyeol, aku tidak akan membuat kekasihmu terluka. Tenang saja."

"Ini bukan untukku saja. tapi juga untuk mu bodoh!" Celetuk Baekhyun dengan matanya yang membulat. Aku mengerjap bingung.

"memangnya aku kenapa?" Tanya ku tak paham. Baekhyun dan Chanyeol saling pandang beberapa detik dan ini semakin membuatku curiga.

"sudah.. jangan banyak bertanya." Kata Baekhyun tak berminat untuk memperpanjang urusan ini. Ia kemudian menarik ku pergi dan mengajak untuk beristirahat dikamar sebelum Ken menjemput kami.

Aku menoleh sepintas Kearah Chanyeol yang memberikanku senyum simpul. Seolah berkata "sudah turuti saja."

Tapi, yang membuatku semakin bingung adalah, gelagat Chanyeol yang begitu awas dari saat kita baru saja sampai di jepang.

Apakah Chanyeol tahu bahwa Sehun bukan lah sembaran orang?

.

.

.

~ooo~

.

.

.

Author POV

Sehun tidak hanya menyuruh Sungmin untuk mencari keberadaan Luhan, tapi pria itu juga meminta lokasi keberadaan orang lain. Orang yang membuat masalah ini muncul. Ketika Sehun sudah mendapatkan informasi tersebut. Tanpa pikir Panjang ia langsung memacu mobilnya menuju sebuah club mewah yang tak asing baginya.

Sesampainya di tempat itu mata Sehun meneliti satu persatu meja yang ada disana.

Tak membutuhkan waktu lama, ia pun mendapati orang yang sedang ia cari tengah duduk dengan beberapa yeoja malam yang mengapitnya.

Dengan langkah mantap, Sehun menghampiri meja itu. Matanya memicing tajam bagaikan singa yang mengintai mangsanya.

Pria itu, Kris. Yang tengah tertawa tawa Bersama yeoja malam, awalnya tidak menyadari keberadaan Sehun. Tapi begitu Sehun sudah sampai tepat dihadapannya, Tawa Kris berubah menjadi senyum sumringah. Beberapa bodyguard Kris melangkah maju, Bersiaga jika tamu tak diundang ini mencelakai tuannya.

"hai Sehun-saem. Tumben sekali aku melihatmu disini. apa kau kemari karena berubah pikiran untuk melepaskan Luhan secara Cuma Cuma? jadi, berapa yang harus aku bayar?" Kata Kris sambil menjentikkan jarinya. Meminta salah satu suruhannya mengantarkan dompet pria itu.

"Simpan cek mu." Sehun berujar dingin.

"Aku kemari ingin menanyakan satu hal padamu."

Sebelah alis Kris terangkat dengan senyum miring yang membuat dirinya tampak seperti orang brengsek yang mencari mati.

Sadar dengan arah pembicaraan ini, Kris meminta para Yeoja malam yang mengelilinginya untuk pergi. Sehun adalah tamu terhormat. Sudah sempantasnya ia memberikan waktu privasi, bukan?

"Duduklah" Kata Kris, mengedikkan kepalanya kearah bangku kosong didepannya.

Tapi Sehun tetap berdiri angkuh dihdapannya dan langsung melontarkan pertanyaan yang menjadi alasannya kemari. "apakah kau menghamili Luhan?"

Kris sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya tertawa remeh. Kemudian, pria berambut blonde itu menyenderkan tubuhnya sambil melipat kedua tangannya

"hmmm harus aku jawab seperti apa ya. tapi yang jelas, aku sudah meniduri gadismu. jadi, kau pikir saja sendiri." Jawab Kris dengan nada mencemooh yang sangat kentara. Tangan Sehun terkepal erat, rahangnya mengeras dan aura membunuhnya berhasil membuat para bodyguard yang ada disana semakin waspada.

"aku akan membuat ini mudah, katakan saja sejujurnya, Jika tidak aku akan meledakkan kepalamu." Ucapnya datar dengan penekanan serius disetiap kata katanya. Kris mendengus. Pria itu memajukan tubuhnya sementara raut wajahnya berubah serius. "kau pikir aku takut?"

"you better be."

Kris memutar bola matanya. "ah, sangat membosankan berbicara denganmu. baiklah, akan aku jelaskan agar pembicaraan tidak berguna ini cepat selesai."

"aku meminta Luhan untuk tidur denganku jika ia ingin ibunya selamat. hahaha, kau tau Sehun-saem. kau tidak menjaga gadis mu dengan rapih. bagaimana mungkin kau kecolongan untuk hal sesepele itu. kau tidak melihat celah disana. jadi, aku dengan mudah mengambil nyonya Xi dalam genggamanku, dalam pantauanku. dan dengan hal itu, aku bisa mudah mendapatkan apa yang aku mau." Kris berkata santai, ia bahkan meraih gelas wine nya dan memutar mutarnya perlahan.

"rencana hebatku berjalan dengan lancar. Luhan yang sangat mencintai ibunya itu akhirnya setuju untuk tidur denganku. disaat kau pergi. entah pergi kemana, mungkin mencari vagina lain yang ingin kau gagahi. selama kau sibuk dengan urusanmu, aku sedang sibuk menikmati desahan luhan dibawahku."

Jantung Sehun seolah luluh kelantai. Nafasnya berhembus panas dan tubuhnya sedikit terguncang. Amarah pria itu sudah berada pada puncaknya.

"semua usahaku benar benar membuahkan hasil yang sepadan. Luhan yang terus saja menolakku, akhirnya jatuh pada rengkuhanku, Sehun saem."

"hanya saja, yang aku tak tau, saat aku meniduri gadismu, and I fucked her so hard.." Kris memberikan jeda pada kalimatnya untuk menatap Sehun dan menyerengai penuh kepuasan

"… aku tidak tau jika ia sedang dalam kondisi hamil dan kandungannya lemah. jadi maaf jika kegiatan panasku membunuh calon janin yang ada di dalam rahimnya, ya~."

Semua perkataan Kris membuat Sehun membatu pada tempatnya. Kris bisa menyadari bahwa raut wajah Sehun memucat dan itu adalah pemandangan yang indah baginya. Merasa belum puas, ia kembali meledek ketololan Sehun lebih jauh.

"Tapi," Kata Kris sambil meletakkan kembali gelas wine nya dan memberikan tatapan polos yang semakin membuat Sehun ingin membunuhnya.

"itu bukan masalah bagimu kan, karena kau tidak perduli dengan Luhan. jikapun Luhan masih hamil sekarang, aku akan tetap mengejarnya dan bertanggung jawab atas anaknya. karena jujur saja, having sex dengan gadis mu itu membuatku jatuh cinta. bukan hanya karena gairah, tapi karena aku mencintainya."

"tidak seperti dirimu." Kalimat terakhir Kris berhasil membangunkan sisi buas Sehun yang sedari tadi ia tahan. Dengan hitungan sepersekian detik, Sehun meraih pistol dibalik jaketnya dan mengarahkannya lurus lurus ke kepala Kris.

Reflek, bodyguard Kris yang daritadi mengerubungi mereka, ikut mengeluarkan pistol dan mengarahkannya kearah Sehun. Beberapa pengunjung bar yang berada disekitar mereka, menyadari bahwa ini bisa menjadi situasi yang berbahaya. Mereka kemudian berlarian menyingkir dan pergi darisana.

Sementara Kris hanya tertawa terbahak bahak.

"aku tidak menyangka kau sebodoh ini Sehun-ssaem. Kau mendatangi kendang singa dan berharap bisa membunuhnya? Ckck."

"Don't underestimate me, little Kid, kau tak tau berhadapan dengan siapa"

Belum sempat Sehun melancarkan niatnya untuk membunuh setiap orang yang ada di tempat ini, tiba tiba sebuah derap langkah dan suara seorang pria terdengar dekat sekali dari mereka.

"Party's Over." Seokjin muncul dengan santai. Tangannya ia masukan ke saku celana sementara dibelakangnya berjejer para bodyguard yang juga mengarahkan pistol ke setiap orang suruhan Kris. Kris yang tadinya tertawa berubah tegang. Ia sadar posisinya tersudut sekarang ini.

"Aku tidak tau apa masalah kalian, tapi aku sedang tidak ingin ada keributan di club ku malam ini. So, aku beri kau 10 detik dan enyah dari sini." Kata Seokjin pada Kris.

Kris mendengus. Ia tidak suka diperlakukan seperti ini, tapi dia juga tidak bodoh untuk tetap tinggal dan membahayakan dirinya. Pria itu akhirnya memutuskan untuk pergi

"karma is a bitch, isn't it?" Kata Kris dengan senyum sarkas sambil berdiri dari bangkunya.

"I'll coming for you. and I will hunt you down. I will killing you slowly and painfully. sampai tak ada satupun keluargamu yang mengenali jasadmu—itupun jika masih ada keluargamu yang kubiarkan tersisa." Kata Sehun bengis ketika pria itu berdiri tepat hanya beberapa inci di depannya.

"ill be waiting for that." Sahut Kris tak takut, lalu melewati Sehun dan pergi dari sana.

Beberapa detik setelah Kris pergi, Sehun membalikkan tubuhnya kearah Seokjin.

"Sebaiknya kau bisa memberikan satu alas an masuk akal kenapa kau mengacaukan malam ku. Atau aku bunuh kau disini."

"ikut aku." Sahut Seokjin tak kalah kesal. Pria itu membalikkan badannya dan beranjak dari sana. Bodyguard Seokjin tak bergerak sampai Sehun mengikuti tuannya.

.

.

.

~ooo~

.

.

.

Saat itu, Chanyeol sedang sibuk dengan beberap berkas di genggamannya. Anak sulung dari keluarga Park itu baru saja menyelesaikan pertemuan bisnis dengan keluarganya dan berniat untuk kembali membaca berkas penting. Namun ketika salah satu orang kepercayaannya masuk kedalam ruangan tersebut, konsentrasi Chanyeol terpecah

"Tuan Muda?" kata Pria berkebangsaan Amerika yang sedang menghadap patuh.

"yes Matthew" Chanyeol menyahut tanpa mengalihkan perhatiannya pada berkas yang daritadi ia baca.

"saya ingin melaporkan sesuatu tuan." Kata Matthew terlihat ragu. Mendengar hal tersebut, Chanyeol memutuskan untuk menghentikan kegiatan membacanya dan menatap Matthew serius.

"kami mendeteksi ada orang yang sedang melacak keberadaan kita di Jepang." Lanjut Matthew sambil menyerahkan sebuah i-pad yang berisi informasi pola digital tentang system keamanan mereka yang sedang coba diterobos

Dahi Chanyeol berkerut bingung. "hm.. ini tidak pernah terjadi sebelumnya." Kepalanya berputar cepat dan mencari tau kemungkinan kemungkinan yang menyebabkan hal ini.

"apa ini dari pesaing bisnis keluargaku?"

"tidak tuan muda, aku tidak pernah melihat pola se agresif ini sebelumnya."

"kau sudah menghubungi Brian?" Chanyeol bertanya lagi. Brian adalah kepala keamanan dibagian system digital modern. Segala hal tentang arsip keluarga mereka, lokasi mereka yang terdeteksi dalam GPS dan semacamnya menjadi tanggung jawab Brian. Seharusnya, ia lah yang paling sadar akan hal ini

"sudah tuan."

"lalu apa yang tim keamanannya katakan soal ini?"

"mereka masih berusaha keras untuk terus menutup akses digital mengenai Informasi tentang keberadaan anda bertiga disini. kami juga sudah menginformasikan agar keamanan dilapangan di perketat. tapi…" Matthew menggantungkan kalimatnya. Hal itu berhasil membuat Chanyeol semakin gugup.

"tapi apa?"

"Mohon maaf sebelumnya tuan Chanyeol, tapi keamanan keluarga anda berbasis keamanan eksklusif yang biasa diberikan pada pebisnis tinggi dunia, sementara metode yang digunakan oleh orang ini, menunjukan sifat yang berbeda."

"maksudmu?"

"kemungkinan besar, kita berhadapan dengan sebuah organisasi mafia profesional. Bukan dari lembaga keamanan resmi seperti yang anda gunakan. Dengan kata lain, kita memiliki lawan yang karakternya jauh berbeda."

"mafia? siapa? Matthew, kau adalah kepala keamanan utama keluargaku, kau tau betul musuh bisnis keluargaku, dan kau tau betul bagaimana mereka mencoba menjatuhkan kita bukan, Tak ada satupun dari mereka yang berani mengambil resiko dengan mafia kelas tertinggi seperti ini. We are not in Italy." Chanyeol berujar kesal. Ia melempar i-pad yang ia pegang keatas meja begitu saja. Baginya ini adalah hal konyol. Dia tidak pernah berurusan dengan orang orang "dunia hitam" seperti ini. Sejauh yang ia tau, musuh keluarganya hanyalah para pebisnis picik. Ia tidak pernah melewati batas dengan mencari perhitungan dengan mereka.

"itulah yang saya herankan tuan, tapi yang saya tau, ini bukan berasal dari Italia. Ini dari Asia tuan. dan pasar bisnis anda berada di Amerika, yang berarti… objektif mereka bukanlah berhubungan dengan bisnis anda. ini juga didukung oleh tidak ada keamanan berkas perusahaan yang mereka dobrak. besar kemungkinan, ini semua mengarah kepada…"

"kepada apa?"

"nona Baekhyun atau… nona Luhan tuan."

Chanyeol mendengar baik baik ucapan Matthew barusan. Ia mengetuk ngetukan jarinya diatas meja, berfikir keras tentang objek yang sepatutnya dicurigai dari dulu.

Apakah Baekhyun dan teman temannya sedang dalam masalah jauh sebelum Chanyeol bertemu mereka? Atau ini adalah masalah baru?

"perketat penjagaan mereka berdua, dan hubungi tim bodyguard temanku, Jongin. aku ingin tahu apakah ia mengalami hal yang serupa."

"segera Tuan muda."

"satu lagi, Matthew."

"cari tau tentang keluarga pebisnis Oh Sehun."

Matthew mengerutkan dahinya bingung. Selama ia mengabdi pada keluarga Park, tak pernah sekalipun ia diminta untuk melakukan pengintaian pada keluarga Oh.

"ada apa tuan? kita tidak pernah memiliki hubungan keluarga besar Oh."

"lakukan saja. firasatku mengatakan jika ini memang tertuju untuk Luhan, makan sumbernya pasti dari pria bernama Oh Sehun." Kata Chanyeol. Matthew pun menunduk patuh dan pergi darisana.

Jika benar ini bersumber dari Oh Sehun, maka ia tidak sepatutnya bersantai selama Luhan berada dalam teritorinya.

Satu hal yang ia tau, keluarga Oh adalah keluarga yang berpengaruh. Tak menutup kemungkinan mereka adalah dalang dibalik semua ini.

Tapi… apakah keluarga Oh menyewa mafia hanya untuk mengendus keberadaan Luhan..

Atau memang mereka adalah mafia itu sendiri?

.

.

.

~ooo~

.

.

.

Kris dan Kendrick tumbuh dengan dunia yang berbeda. Satu kesamaan yang mereka miliki adalah nafsu sexual yang tinggi terhadap wanita. Jarang sekali Kendrick akan ikut campur atas masalah adiknya, begitu pula sebaliknya.

Itulah yang membuat Kris bingung ketika ia dipanggil menghadap Kendrick di kediamannya. Dan mendapati sang kakak tengah mengamuk untuk hal sepele.

"Kekacauan apalagi yang kau buat Kris Wu!" Bentak Kendrick. Pria itu sedang hilir mudik dengan raut wajah penuh emosi. Lalu ada Zitao yang duduk diantara mereka, terlihat sangat khawatir dan takut akan sikap Kendrick yang emosi seperti ini. Sementara Kris, sumber alasan atas masalah ini sedang duduk santai disofa tanpa perasaan bersalah sama sekali.

"nothing." Ujarnya sambil mengedikkan bahu.

"jangan bodoh. aku tau kau hampir meledakkan sebuah club di Korea. apa yang kau lakukan!"

"aku diserang dan kau malah menyalahkanku? ayolah brother, kau tidak sekolot itu."

Kendrick lalu mengambil sebuah map yang daritadi ia simpan dan melemparnya kepangkuan Kris

"jelaskan apa ini!"

"entahlah, aku tidak tertarik untuk membuka laporan."

"kau menyuruh anak buah untuk pergi ke Beijing, melakukan pengintaian pada seorang wanita, lalu apa? kau mencoba memberikan perintah untuk mencari seorang Gadis? beruntung aku mengetahuinya dan langsung aku batalkan saat itu juga"

Wajah Kris berubah saat itu juga. Emosinya tersulut begitu mendengar sang kakak menggagalkan rencananya.

"WHY THE FUCK DID YOU DO THAT?!. ITU ANAK BUAHKU DAN AKU BEBAS UNTUK MENYURUH APAPUN PADA MEREKA."

"kau lupa mereka digaji dari uang di rekeningku, adik kecil."

Kris berdecih. Ia masih tidak terima dengan perlukan sang kakak yang seenaknya.

"Kris, kau lupa, kita bukan lah orang yang berkecimpung di dunia gelap seperti ini. anak buah yang diberikan oleh mom and dad adalah proteksi untuk kita, mungkin kau lupa bahwa kau terlahir di keluarga politikus terkenal. not some kind of bad ass who love to berserk around. kita punya reputasi yang harus kita jaga!"

Kris mendengus jijik dan menatap Kendrick dengan raut tak percaya "sejak kapan kau perduli pada reputasi?"

"listen up, aku tak perduli jika kau menghamburkan uang untuk meniduri model papan atas atau melakukan kenakalan gilamu, tapi jika kau sudah menyeret nyeret keluarga kita untuk terlibat pada permainan dengan orang orang gelap, dan apalagi itu hanya untuk urusan sepele, maka aku sendiri yang akan membunuhmu."

"This is out of our league, Kris." Kendrick lalu mengusap wajahnya kasar dan segera meninggalkan ruang keluarga. Jika ia semakin lama menatap adik sialannya itu, ia takut akan kehilangan kesabaran lalu membakar Kris hidup hidup. Brengsek, dasar pembuat onar.

Hanya tersisa dua orang dalam ruangan itu. Kris dan Zitao yang masih saja terlihat panik. Sedari tadi bahkan ia hanya bisa meremas tangannya. Zitao memandang Kris yang sedang duduk tertunduk. Gadis itu lalu menghampirinya dan berlutut di hadapan Kris agar ia bisa menatap wajah pria itu.

"aku mohon padamu, jangan ganggu temanku, akan aku lakukan padamu, aku mohon." Zitao memohon dengan mata berkaca kaca. Ia tidak yakin ini akan berhasil, tapi setidaknya ia mencoba. Zitao memiliki beban moral disini. Ia lah yang mengajak Luhan ke acara white mask. Jika saja Luhan tidak pernah kesana, maka Luhan tidak akan pernah bertemu dengan Kris dan semua ini tidak akan terjadi.

Kris memandang Zitao lurus lurus tanpa ekspresi "kau hanya pelacur kakakku, kau tidak berhak memohon padaku nona."

Zitao baru saja ingin kembali memohon tapi ia urungkan ketika bodyguard Kendrick menghampiri nya

"Nona Huang, anda ditunggu Tuan besar Wu di mobil sekarang."

Zitao menghembuskan nafasnya dan bangkit. Meninggalkan Kris sendirian.

Dalam hati, ia tidak henti hentinya meminta maaf pada Luhan dan berdoa pada Tuhan agar temannya itu selamat.

.

.

.

~ooo~

.

.

.

"KENAPA KAU MENCEGAHKU UNTUK MEMBUNUH KEPARAT ITU!"

Pranggggg

Suara vas pecah terdengar diruangan besar tersebut. Di detik Sehun tiba di kediaman Seokjin, pemuda putih itu terus saja mengamuk sambil menghancurkan setiap barang di dekatnya. Ia sudah ingin menusuk Seokjin sekarang ini, tapi untung saja akal sehatnya masih bekerja.

"you are completely out of control, Sehun." Kata Seokjin mencoba tetap tenang di sofanya sambil memandangi sepupunya yang sibuk menghancurkan perabotan rumah bernilai ratusan ribu dollar. Seharusnya ia yang marah disini. Apakah Sehun tidak menyadari, club yang ia sambangi tadi adalah miliknya? Milik Seokjin, bukan milik Sehun. Lalu dengan kurang ajarnya ia ingin mengobrak abrik club mahal itu. Beruntung orang Seokjin menyadari keberadaan Sehun dan melaporkan hal itu pada dirinya.

Jika tidak, semua akan berakhir Panjang.

"why, apa karena sudah lama tak aktif dalam dunia hitam ini, kau semakin lemah hanya untuk membunuh seseorang?"

"jaga bicaramu." Cukup sudah, anak ini harus mengendalikan emosinya.

"duduk dan dengarkan aku." Sehun menolak kalimat itu. Namun saat ia mendapati sorot mata Seokjin yang serius, rasanya ia tidak memiliki pilihan lain. Smeoga saja sepupunya ini memiliki alasan logis, jika tidak Sehun akan benar benar meledakkan rumahnya sekarang.

"Sehun, kau tau keluarga kita sedang dalam vacuum of power. Jika kursi tertinggi organisasi hitam ini belum ditempati kembali, kita tak sekuat dulu. kau tau sendiri selama ayahmu masih sakit, dan kau menolak untuk menggantikan ayahmu, maka akan sangat mudah kita rubuh. apa kau lupa diluar sana banyak yang mengincar keluarga kita! bertindak lah dengan cerdas!"

"tapi keparat itu sudah bermain main dengan ku, Seokjin. Dan kau tau sendiri aku tidak pernah membiarkan siapapun yang menggangguku tetap hidup."

"I know. tapi orang yang kau bunuh bukan sembarang orang, dan keadaan kita sedang genting mengingat paman Yunho belum juga sembuh. perkiraan waktu kita meleset Sehun."

"kalau begitu, biarkan aku naik! biarkan aku menduduki kursi ayah dan akan aku tunjukan kembali bahwa keluarga kita tetap yang terkuat se Asia." Sehun menyahut tanpa berfikir lebih dulu. Dan Seokjin menyadarinya.

"pemikiran dangkal."

"apapun yang kau rencanakan berdasarkan emosi tidak akan berjalan lancar. kau hanya akan menghancurkan organisasi kita dalam waktu hitungan hari."

Sehun berdecak emosi. Kenapa Seokjin bersikap menyebalkan sekali hari ini.

"ayolah, kau tau omonganku ada benarnya. kau tidak pernah ingin untuk memimpin hal ini. kau kejam tapi kau tidak pernah suka untuk terlibat dalam hal rumit. jadi, jika kau ingin menghancurkan Kris, pakailah tak tik yang lain."

"And what do you suggest?"

Seokjin mengambil kaleng beer yang ada di depannya, membuka penutupnya dengan santai lalu melanjutkan kembali omongannya.

"sekarang kita berkamuflase sebagai businessman, maka kita hancurkan secara bisnis. keluarga Kris memiliki background politik. seperti yang kau tau, politik dan bisnis merupakan dua hal berbeda yang saling berkaitan."

"sabotase saja ekonomi negaranya, kita memiliki kekuatan yang cukup untuk melakukan itu. biarkan situasi politik ekonomi Negara yang menjadi tanggung jawab keluarga Kris mengalami kegagalan yang signifikan."

"anggap itu sebagai pemantik, jika mereka masih tetap saja bodoh, sisanya aku serahkan padamu. kau bebas melakukan apapun." Tutup Seokjin sambil menenggak beer nya banyak banyak. Ia butuh minuman ini agar lebih rileks. Jika tidak, bisa bisa ia tersulut emosi karena sikap kurang ajar sepupunya.

Sehun menimbang nimbang omongan Seokjin. Ya.. dia ada benarnya. Ide ini tidak buruk.

"Oke. dan jika strategi mu gagal, akan aku habisi seluruh keluarganya, hingga garis keturunan keluarga Wu tidak ada lagi." Kata Sehun dengan kilat mata kelam penuh kebencian.

Seokjin mengedikkan bahunya. "as you were."

.

.

.

~ooo~

.

.

.

Luhan POV

Sebenarnya aku bukan lah orang yang suka menguping. Aku bukan tipe perempuan seperti itu. Namun kadang kala, kita tidak sengaja mendengar sesuatu bukan? Kau tidak bisaa berpura pura tidak mendengar. Di dalam beberapa situasi, kau akan menutup kupingmu dan pergi, tapi ada situasi yang membuatmu tetap ditempat dan mencari tau apa yang sedang kau dengar.

Aku akan memilih pilihan pertama. Tapi saat ini, aku memilih pillihan kedua.

Malam ini aku terbangun karena haus dan bermaksud untuk mengambil minuman di pantry. Tapi ketika aku baru saja ingin membuka pintu kamarku, aku mendengar suara Baekhyun yang sedang bicara dengan Chanyeol diruang tengah. Berada tepat di depan kamarku.

Sepertinya Chanyeol baru saja pulang dan Baekhyun sudah mencegatnya diruang keluarga.

"yeollie, kau terlihat pusing, ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"

"tidak sayang. aku baik baik saja."

"kau tidak pandai berbohong. katakan padaku. apakah kini mulai menyembunyikan sesuatu dariku hm?"

Aku bermaksud untuk kembali ke tempat tidurku dan membiarkan mereka menyelesaikan obrolannya. Aku akan keluar ketika Baekhyun dan Chanyeol sudah pergi ke kamar mereka. Rasanya akan sangat canggung jika tiba tiba aku muncul diantara mereka.

Namun, langkahku terhenti saat suara Chanyeol kembali terdengar.

"ini soal Luhan."

Tanpa sadar, aku kembali mendekat kearah pintu dan menempelkan telingaku disana. Sebisa mungkin tak menimbulkan suara yang membuat Baekhyun dan Chanyeol menyadari bahwa aku sedang menguping pembicaraan mereka kini. Kamarku sangat hening.

Dan yang terdengar sekarang hanyalah suara Chanyeol, Baekhyun dan degub jantungku yang tak beraturan.

"ada apa?" itu suara Baekhyun, terdengar sedikit panik.

Chanyeol menghela nafasnya. Dan jika aku tidak salah, keduanya baru saja duduk disofa sekarang. Aku bisa mendengarkan derit suara dari sofa kulit itu.

"Sepertinya ada orang yang berusaha untuk mencari tau keberadaan kita."

"siapa?"

"dugaan utamaku adalah Oh Sehun, pria yang membeli Luhan. aku baru saja mendapatkan kabar bahwa…"

"keluarga Sehun memang memiliki otoritas untuk tindakan se agresif ini."

Mataku terbelalak lebar. Huh? Sehun? Mau apalagi dia? Apa yang sedang ia lakukan sekarang?!

"apa maksudmu?"

"intinya, oh sehun adalah orang yang bisa mendapatkan hal yang ia mau dengan cara apapun."

"apakah kita dalam bahaya?" Suara Baekhyun berubah ketakutan. Aku berharap sekali Chanyeol akan berkata bahwa mereka akan baik baik saja. Namun, harapan ku pupus ketika suara Chanyeol menyahut dan terdengar sedikit ragu.

"aku tidak tahu."

"kau harus membuat dia aman. berjanjilah padaku." Kata Baekhyun mantap. Cukup sudah. Aku tidak bisa membiarkan teman temanku dalam bahaya seperti ini. Belum sempat chanyeol menjawab, aku sudah membuka pintu kamarku secepat kilat.

"a-" ucapan Chanyeol terhenti, Baik Baekhyun maupun Chanyeol menoleh ke arahku dengan raut terkejut.

"Lu-luhan. kau belum tidur?"

"apakah benar yang kau ucapkan tadi?" aku bertanya tepat pada intinya. Keduanya—terlebih Chanyeol—tampak kebingungan menjawab pertanyaanku. Sesekali ia menjilat bibirnya dan melempar pandang kearah Baekhyun. Entahlah, mungkin ia tak enak hati untuk mengatakannya.

"hm.. eh.."

"Biarkan ia menemuiku." Potongku mantap. Hal itu memancing reaksi Baekhyun yang langsung berdiri dari duduknya dan memandangku dengan mata membulat marah

"apa?! kau mau menemui pria yang membuangmu? lagipula dengan cara nya yang seperti ini aku takut ia akan melakukan hal yang berbahaya padamu Luhan!."

"percayalah, aku yakin Sehun tidak akan menyakitiku."

Hm.. sejujurnya aku tidak yakin. Tapi kalimat itu terlontar begitu saja.

"aku mohon."

"biarkan ia menemuiku."

Ya. Biarkan ia menemuiku. Biarkan ia membunuhku jika perlu. Tapi tidak akan aku biarkan ia menyakiti kalian.

Chanyeol dan Baekhyun lagi lagi saling pandang, lalu menatapku khawatir. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah tetap mantap pada keinginanku.

Jangan membiarkan celah untuk Chanyeol dan Baekhyun menolaknya

.

.

.

~ooo~

.

.

.

AUTHOR POV

Hari itu tiba, hari dimana Luhan akan dipertemukan kembali dengan Sehun dalam suasana privasi. Setelah malam itu, chanyeol dan Baekhyun butuh dua hari lamanya untuk memutuskan. Apakah mereka akan mengabulkan keinginan Luhan, atau terus saja bermain petak umpet dengan Sehun.

Akhirnya, setelah terus saja memohon pada Chanyeol. Pria itu menyerah. Ia mengontak pihak Sehun dan mengatur sebuah pertemuan dengan Luhan disebuah lokasi yang ditentukan.

Saat Sehun mendapatkan kabar tersebut dari Sungmin, ia tidak dapat menutupi ketergesaannya dan segera terbang ke Jepang. Sepanjang perjalanan, Sehun terus merenung. Segala rentetan peristiwa yang terjadi sebelumnya, terputar dalam benaknya.

Bagaimana ia menghardik Luhan

Bagaimana ia mengusir Luhan dimalam Hari

Bagaimana Ia membuang Luhan begitu saja

Hal hal itu—untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir—membuat mata Sehun berkaca kaca.

"Luhan."

Entah sudah berapa kali, ia membatinkan nama ibu dari anaknya itu.

.

.

.

Sehun tiba disebuah apartemen yang dijanjikan oleh pihak Chanyeol. Pria itu mengatakan, jika Sehun ingin bertemu dengan Luhan, maka ia harus datang tanpa pengawalan dan harus tiba ditempat yang sudah di pilihkan.

Chanyeol tidak ingin mengambil resiko. Pria itu menyewa sebuah apartemen lain alih alih tempat yang ia tinggali sekarang. Karena jika hal ini berjalan buruk, Keberadaan Baekhyun harus tetap menjadi rahasia. Keselamatan gadis itu adalah hal utama.

Chanyeol pun menolak Baekhyun untuk ikut ke tempat dimana Sehun akan menemui Luhan. Cukup Chanyeol dan tim nya yang mengurus hal ini. Disaat Luhan sudah siap di ruangan apartemen itu. Chanyeol dan timnya menyebar di beberapa titik. Mengawasi dari CCTV di dalam unit apartemen.

Luhan, melirik CCTV tersebut dan tersenyum setenang mungkin. Ini benar benar membuatnya semakin tidak enak hati. Seharusnya Chanyeol tidak usah terlalu menjaganya seperti ini. Luhan berpikir Ia hanyalah wanita kotor, tak sepantasnya mendapat perlakuan sebaik ini.

Segala pemikiran itu buyar saat pintu utama terbuka, dan Luhan bisa melihat seorang pria berambut hitam, dengan tatapan sekelam langit malam. Rambut nya terlihat sedikit acak dengan penampilan bak aristocrat muda. Sungguh berbeda dengan kenyataan bahwa ia adalah penerus tahta keluarga mafia.

Oh Sehun. Tengah berdiri dengan tatapan lurus kearah Luhan. Ia menghampiri Luhan yang duduk disofa dengan langkah perlahan. Ekspresinya tidak terbaca

"selamat pagi, Sehun ssaem." Luhan berujar sambil bangkit dari sofa dan membungkuk sopan. Sejujurnya hal itu terdengar bodoh sekarang ini. Sebuah sapaan tak berarti. Tapi Luhan merasa sangat canggung dan hal yang terbersit diotaknya hanyal menyapa Sehun. Setidaknya lebih baik daripada terus berlarut dalam keheningan.

"apa kabarmu?" Katanya lagi. Tanpa Luhan sadari Sehun sudah berdiri tepat di depannya. Dekat sekali.

"apa kau akan menyambutku dengan basa basi?" Sehun akhirnya bersuara. Matanya sendu. Dan sebenarnya ia tidak menyukai sapaan formal Luhan dan panggilan ssaem untuknya. Terdengar semakin membuat Sehun terlihat orang asing dimata Luhan. Sehun benci itu. Namun bagaimana lagi? Ia sadar bahwa inilah yang ia minta. Bahwa ialah yang meminta Luhan tidak mengenalinya lagi. Dan itu semakin membuat sehun menyesal.

Ya, menyesal. Sebuah perasaan yang langka dirasakan oleh orang sekelas Oh Sehun.

Luhan menghela nafasnya, ia Lelah. Nyaris ingin menangis dan pasrah. Lalu loncat dari Gedung ini untuk mengakhiri kekacauan. Ia bersumpah, Jika Sehun memperkeruh keadaan, ia akan melakukan hal itu

"apa yang kau inginkan sehun? bukankah aku sudah menuruti keinginanmu? kenapa kau malah membuat teman temanku dalam bahaya?"

"bahaya? omong kosong macam apa itu. aku hanya mencari keberadaanmu Luhan." Kata Sehun kesal. Tidak habis pikir bagaimana Luhan bisa melihat dirinya sebejat itu. Katakanlah ia bejat, tapi tidak bisakah ia melihat Sehun dalam sisi yang lain sedikit saja? Apa ia lupa segala hal yang Sehun lakukan untuknya?

"untuk apa lagi? mau apa kau disini?" Luhan bertanya ketus. Sungguh dia tidak perduli lagi jika Sehun naik pitam dan membunuhnya disini.

Sehun sadar bahwa wanita dihadapannya ini sedang emosi. Ia tidak bisa melawan batu dengan batu. Api dengan api. Keras dengan keras. Ia harus menjadi pihak yang mengalah saat ini. Dan memang seharusnya begitu sejak dulu.

"aku ingin menjemputmu pulang." Kata Sehun lembut, hal itu membuat Luhan tertunduk lesu.

"aku tidak punya." Luhan berbisik

"aku tidak punya rumah untuk pulang." Lanjutnya lagi.

Tanpa pikir Panjang, Sehun mendekat selangkah kearah Luhan, ia meraih dagu Luhan dan mengangkat wajah Luhan dengan jarinya yang kokoh hingga keduanya saling tatap. Ia bisa melihat raut Luhan yang terluka.

"kau punya." jawab Sehun

"dan itu bersamaku"

Sebelum Luhan bisa merespon, Sehun meraih tubuh Luhan kedalam pelukannya dan memeluk wanita itu erat sekali. Seolah jika tidak, Luhan akan menghilang. Jika tidak, Sehun akan mati. Ia memeluk Luhan bagaikan Luhan adalah satu satunya alasan ia untuk hidup

Sehun menenggelamkan wajahnya pada perpotongan leher Luhan dan menghirup aroma khas luhan sampai paru parunya terasa penuh.

Luhan masih bergeming, ia tidak membalas pelukan Sehun, namun tidak juga berusaha untuk melepaskan dirinya.

"Maafkan aku." Bisik Sehun dengan nada bergetar.

"Aku mohon maafkan aku, Lu. Pulanglah dan kita mulai semua dari awal."

Luhan bisa merasakan, lehernya basah.

Daan saat ia bisa merasakan tubuh Sehun yang bergetar dengan air mata yang terus menetes di Lehernya, wanita itu membalas pelukan erat Sehun, dan menangis tersedu sedu. Melepaskan semua rasa sakit yang ia tahan selama ini.

.

.

.

.

.

.

TBC

a/n:

HAIIIII. Maapkan ya gengseu, aku telat update. HBD SEHUN. HBD LUHANNN. HAPPY HUNHAN MONTHHH. #telatwoi

Iya aku sadar kok ini bulannya hunhan. Sebenrnya mau up 3 story Hunhan sekaligus. Ini, That Boss, sama satu oneshot khusus hunhan. Tapi gimana ya. Aku ada deadline besok. Jadi abis up ini aku mau ngerjain tugas kantorku. Kalo masih sanggup, aku up lagi heuhe.

Oh ya, sebelumnya aku mau jawab salah satu review yang bilang cerita ini konfliknya makin berat trs jarang update (hehe), jadinya males bacanya. Well, tbh, sebenernya konflik ini ga seberat yang kalian pikir sih, ini Cuma soal cerita pasaran tentang cinta segitiga. Eh segiempat deng.

Mohon maaf kalo updatenya lama dan jadinya males baca, aku manusia biasa yang ga sempurna. Kalo kalian pada request konfliknya di bikin ringan, juju raja aku ga bisa, karena aku udah bikin kerangkanya sampe akhir, kalo aku ubah, bisa ngubah semua alur ceritanya. So, kuharap kalian mengerti yah :")

Anyway, aku juga mau info kalo aku udah ga on di wattpad lagi. Hmm kenapa ya, karena aku bingung megang ffn sama wattpad sekaligus. Jadi aku focus di ffn jha. Hehe

Dan one more thing (duh elah bacot bat km moz), aku tau aku upnya lama bgt, itu karena aku juga sibuk kerja, jadi butuh mood yang cukup buat nulis. Aku akan sangat senang update cepet kalo kalian juga kasih feedback yang bagus. Ga susah kok. Ga harus bayar. Cukup review aja. Tapi aku harap sih reviewnya bukan setelah berminggu minggu kalian baca dan nagih nagih update. Tapi juga kasih feedback soal chap yang lagi kalian baca biar aku bisa bikin chap berikutnya lebih baik lagi.

But still. Aku juga say thankzzz a lot buat yang selama ini support, PM aku, kasih review yang lucuk lucuk. Hehe srsly, I love u guyyyzz and I will try my best buat makin bagus lagi.

Ya itu sih intinya, ini udah Panjang bet note nya. Bisa bisa kalah sama cerita nya wkkwkw

Thanks for reading my lup lup, maaf kalau kurang memuaskan

Jangan lupa reviewnya. Gomawo!

-moza :*